Model Pembelajaran Kooperatif


Model Pembelajaran Kooperatif

a.   Pengertian Pembelajaran Kooperatif

Pada abad pertama Masehi ide awal pembelajaran kooperatif muncul dari filosof yang mengemukakan bahwa dalam mengajar seseorang harus memiliki pasangan atau teman, sehingga teman tersebut dapat diajak untuk memecahkan masalah. Pembelajaran kooperatif pertama kali dirancang oleh Elliot Arison dkk, yang selanjutnya model ini dikembangkan oleh Robert Slavin. Model pembelajaran kooperatif tumbuh dari suatu tradisi pendidikan yang menekankan berfikir dan latihan, bertindak demokratis, pembelajaran aktif, saling memberi dan menerima, bekerjasama dan saling menghormati dalam perbedaan. Pembelajaran kooperatif mengacu pada pengajaran dimana siswa bekerja sama dalam kelompok kecil (4-5) yang memiliki kemampuan yang heterogen dan saling membantu satu sama lain dalam mengajar.

Nurhadi, dkk. (2004: 61) mendefinisikan bahwa “pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar dan sengaja mengembangkan interaksi yang silih asuh untuk menghindari ketersinggungan dan kesalahpahaman yang dapat menimbulkan permusuhan”. Dengan ringkas Abdurrahman dan Bintoro (dalam Nurhadi, dkk. (2004: 61) mengatakan bahwa “pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar dan sistematis mengembangkan interaksi yang silih asah, silih asih, dan silih asuh antar sesama siswa sebagai latihan hidup di dalam masyarakat nyata”.

Mohamad Nur (2005: 1) menyatakan bahwa,

Model pembelajaran kooperatif merupakan teknik-teknik kelas praktis yang dapat digunakan guru setiap hari untuk membantu siswanya belajar setiap mata pelajaran, mulai dari keterampilan-keterampilan dasar sampai pemecahan masalah yang kompleks. Dalam model pembelajaran kooperatif, siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil saling membantu belajar satu sama lainnya. Kelompok tersebut beranggotakan siswa dengan hasil belajar tinggi, rata-rata, dan rendah; laki-laki dan perempuan; siswa dengan latar belakang suku berbeda yang ada di kelas; dan siswa penyandang cacat bila ada. Kelompok beranggotakan heterogen ini tinggal bersama selama beberapa minggu, sampai mereka dapat belajar bekerja sama dengan baik sebagai sebuah tim.

Slavin (Manning & Lucking, 1991) dan Rusdi (1998) mendefinisikan bahwa,

Pembelajaran kooperatif sebagai suatu teknik pengajaran dimana siswa bekerja dalam kelompok yang anggotanya antara empat orang sampai dengan enam orang. Pembelajaran kooperatif memunculkan kerjasama antar siswa dari semua tingkatan untuk bekerjasama dalam rangka mencapai tujuan. Slavin dan Rusdi juga mengatakan bahwa dalam belajar kelompok, siswa bukan mengerjakan sesuatu sebagai suatu tim, melainkan sesuatu sebagaimana suatu tim (dalam Badra, dkk. 2005: 8).

Wina Sanjaya (2008: 242) mendefinisikan “pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran dengan menggunakan sistem pengelompokan/tim kecil, yaitu antara empat sampai enam orang yang mempunyai latar belakang kemampuan akademik, jenis kelamin, ras, atau suku yang berbeda (heterogen)”.

Pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang sangat tepat diterapkan untuk meningkatkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran dibandingkan cara pembelajaran konvesional, karena cara ini sedikit melibatkan siswa baik fisik maupun mental selama proses KBM.

Tantra dan Tengah (1999) (dalam Yogi Parta Lesmana, 2007: 15) menyebutkan bahwa,

Belajar kooperatif siswa diberi dua macam tanggung jawab yang harus mereka laksanakan. Pertama, semua siswa terlibat dalam mempelajari dan menyelesaikan materi tugas yang diberikan guru. Kedua, meyakinkan bahwa semua anggota dalam kelompok mengerti dan memahami tentang tugas yang diberikan. Dengan demikian siswa dapat meyakinkan dirinya bahwa hasil yang akan diperoleh mempunyai manfaat bagi diri mereka dan siswa lain dalam kelompok tersebut.

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerjasama dan berinteraksi di dalam kelompok kecil (4-6 orang) dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuannya sendiri (individu) dan mencapai tujuan bersama (kelompok).

  1. b. Unsur-Unsur Dasar Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif adalah suatu sistem yang di dalamnya terdapat elemen-elemen yang saling terkait. Menurut Abdurrahman & Bintoro (dalam Nurhadi, dkk. 2004: 61) ada empat unsur pokok yang harus diperhatikan oleh guru dalam pembelajaran kooperatif, yaitu:

1)      Saling ketergantungan positif

Dalam pembelajaran kooperatif guru mendorong siswa agar merasa saling membutuhkan satu dengan yang lainnya. Hubungan yang saling membutuhkan inilah yang disebut saling “ketergantungan positif”. Saling ketergantungan ini akan memberikan motivasi kepada siswa untuk meraih hasil belajar yang optimal.

2)      Interaksi tatap muka

Dalam hal ini siswa dapat saling bertatap muka sehingga dapat melakukan dialog, tidak hanya dengan guru tetapi juga dengan teman sesama. Interaksi ini akan memungkinkan para siswa dapat saling menjadi sumber belajar sehingga sumber belajar lebih bervariasi.

3)      Akuntabilitas individual

Biarpun wujud pembelajaran kooperatif dalam bentuk kelompok, tetapi penilaian tetap ditujukan untuk mengetahui penguasaan materi pelajaran secara individu. Disinilah diperlukan tanggung jawab masing-masing anggota kelompok demi kemajuan kelompoknya. Nilai kelompok yang diperoleh dalam kelompok tetap mengacu kepada nilai individual masing-masing anggota kelompok. Dalam satu kelompok akan kelihatan mana anggota kelompok yang kurang dan harus mendapat perhatian. Setiap kelompok diwajibkan melakukan evaluasi diri tentang keberhasilan belajar mereka sendiri.

4)      Keterampilan menjalin hubungan antar pribadi

Unsur ini menghendaki agar siswa dibekali dengan berbagai keterampilan sosial seperti: tenggang rasa, sikap sopan terhadap teman, mengkritik ide dan bukan mengkritik teman, berani mempertahankan pikiran logis, dan keterampilan berkomunikasi dalam kelompok merupakan proses yang bermanfaat dalam menjalin hubungan antar pribadi dan perlu ditempuh untuk memperkaya pengalaman belajar dan pembinaan mental serta emosional para siswa.

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa dalam pembelajaran kooperatif, siswa akan lebih aktif dalam proses pembelajaran karena siswa dibelajarkan dalam kelompok khususnya kelompok kooperatif. Dalam kelompok kooperatif siswa dapat berinteraksi dengan siswa yang lain tidak saja hanya dengan guru tetapi dengan teman sebaya.

Abdurrahman dan Bintoro (dalam Nurhadi, dkk. 2004: 62) mengemukakan bahwa “kelompok belajar siswa kooperatif memiliki beberapa perbedaan dari pada kelompok tradisional”. Perbedaan tersebut dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 2.1 Perbedaan kelompok Kooperatif dengan Kelompok Tradisional

Kelompok Kooperatif Kelompok Tradisional
Saling ketergantungan positif Adanya anggota yang mendominasi atau bergantung pada kelompok atau anggota lain
Akuntabilitas individual Tugas-tugas sering diborong oleh salah seorang anggota kelompok
Anggota kelompok heterogen Anggota kelompok homogen
Pimpinan kelompok dipilih secara demokratis Pimpinan kelompok sering ditentukan oleh guru
Saling membantu dan saling memberikan motivasi Kadang yang bekerja hanya satu, dua orang
Penyelesaian tugas mempertahankan hubungan interpersonal Penyelesaian tugas tanpa memperhatikan hubungan interpersonal
Keterampilan sosial dibutuhkan Tidak membutuhkan keterampilan sosial
Guru melakukan observasi dan intervensi kelompok Guru sering tidak melakukan observasi dan intervensi kelompok
Guru memperhatikan keefektifan proses kelompok belajar Guru sering tidak peduli dengan keefektifan proses

  1. c. Keunggulan atau Kelebihan Model Pembelajaran Kooperatif

Menurut pendapat Spencer Kangan (dalam Yogi Parta Lesmana, 2007: 19) dalam pembelajaran kooperatif terdapat 17 kelebihan di dalam penerapan pembelajaran kooperatif diantaranya yaitu:

1)            Prestasi akademik: dengan menerapkan kooperatif prestasi akademik siswa dapat ditingkatkan.

2)            Ethnic/hubungan ras: dengan penerapan pembelajaran kooperatif di dalam kelas dapat meningkatkan persahabatan dan peningkatan polarisasi garis ras antar siswa.

3)            Penghargaan diri: dengan pembelajaran kooperatif siswa akan dapat menerima orang lain, dimana hal ini dapat meningkatkan prestasi siswa mengarah pada peningkatan penghargtaan diri.

4)            Empati: melalui belajar kooperatif siswa lebih dapat memahami pandangan dan perasaan orang lain.

5)            Kemampuan sosial: melalui penerapan pembelajaran kooperatif, kemampuan sosial akan meningkat dalam memecahkan masalah, memimpin dan sikap menghargai sesama.

6)            Hubungan sosial: siswa dalam pembelajaran kooperatif merasa diterima dan memperhatikan sehingga menumbuhkan rasa saling menerima satu sama yang lainnya.

7)            Suasana kelas: pembelajaran dengan setting kelas kooperatif dapat menciptakan suasana kelas yang menyenangkan sehingga mendukung pada peningkatan akademik.

8)            Tanggung jawab: melalui belajar kooperatif siswa akan lebih dapat mengendalikan diri serta dapat banyak inisiatif yang dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab pada diri sendiri, sehingga mereka merasa sebagai diri sendiri bukan sebagai pesuruh.

9)            Kemampuan membedakan: dalam belajar kooperatif, siswa bekerja dalam kelompok yang memiliki kemampuan berbeda sehingga hasil dari kerja kelompok tersebut merupakan keragaman sumbangan dari tiap kelompok.

10)        Kemampuan berpikir tingkat tinggi: dengan belajar kooperatif siswa tertantang untuk berinteraksi dengan teman sejawat yang memiliki pola pikir yang berbeda, sehingga mampu mendorong tiap anggota kelompok untuk menginterprestasikan suatu pola pikir dalam memecahkan suatu masalah dengan analisis tingkat tinggi.

11)        Pertanggung jawaban individu: dalam pembelajaran kooperatif semua siswa terlibat sehingga siswa tidak ada yang merasa terabaikan, hal ini akan menumbuhkan rasa tanggung jawab pada setiap siswa.

12)        Partisipasi yang sejajar: penilaian dalam belajar kooperatif adalah secara kelompok bukan individu sehingga tidak ada yang terlewatkan (setiap siswa punya pembagian waktu yang sama).

13)        Meningkatkan partisipasi: dalam pembelajaran kooperatif memerlukan lebih banyak waktu untuk berpartisipasi dibandingkan dengan pembelajaran tradisional.

14)        Orientasi sosial: dengan kelas kooperatif siswa akan memperoleh kesempatan sama untuk sukses, dibandingkan dalam kelas tradisional kesuksesan hanya diperoleh beberapa siswa saja.

15)        Orientasi pembelajaran: dengan pembelajaran kooperatif siswa lebih sering menyatukan tujuan yang matang dan menjadi yang terbaik dalam kelompok, dibandingkan pembelajaran tradisional siswa mengerjakan tugas hanya untuk mencari nilai.

16)        Pengetahuan diri dan realisasi diri: melalui interaksi dalam kelompok siswa akan mengetahui kekurangan maupun kelebihan yang mereka miliki melalui balikan yang diberikan oleh yang lain.

17)        Kemampuan ditempat kerja: dengan pembelajaran kooperatif siswa tahu bagaimana cara bekerja dalam suatu kelompok dan saling membantu untuk mencapai tujuan yang sama, hal ini dapat sebagai bekal dikemudian hari.

  1. d. Manfaat Model Pembelajaran Kooperatif

Menurut Widiarsa (dalam Yogi Parta Lesmana, 2007: 22), ada beberapa manfaat yang akan diperoleh siswa apabila menerapkan pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut.

1)      Memperluas perspektif intelektual siswa

2)      Merangsang berpikir siswa

3)      Memberikan peluang kepada siswa untuk terlibat lebih aktif

4)      Meningkatkan interaksi dalam mencapai tujuan belajar

5)      Saling mengisi dalam memecahkan masalah

6)      Membentuk siswa untuk tidak menjadi egois.

  1. e. Jenis-Jenis Model Pembelajaran Kooperatif

Meskipun berbagai prinsif pembelajaran kooperatif tidak berubah, secara garis besarnya Slavin (dalam Yogi Parta Lesmana, 2007: 22) mengatakan bahwa ada enam model pembelajaran kooperatif yang biasa diterapkan oleh guru yaitu:

  1. Devisi Tim Siswa Berprestasi (Student Team Achievement Division)

Dalam model ini siswa belajar sebagai sebuah tim dan memberi kontribusi kepada tim lainnya untuk dapat berprestasi secara optimal. Siswa diatur berkelompok dengan kemampuan beragam dan setiap minggu diberikan soal sebagai masalah yang dipecahkan bersama.

  1. Tim Turnamen Bermain (Teams Games Tournament)

Sama seperti divisi siswa berprestasi tetapi pada minggu kedua pembelajaran mingguan diganti dengan pertandingan antara anggota dalam kelompok. Umumnya anggota kelompok ini bersifat homogen dalam kemampuan. Setiap kelompok terdiri dari 5-6 orang yang dipilih dari kelompok kemampuan beragam untuk berkompetisi serta memperoleh angka.

  1. Tim Individu Berbantu (Teams Acited Individualitation)

Pada dasarnya bentuk ini merupakan kombinasi antara belajar secara kooperatif dengan belajar secara individual. Siswa tetap dikelompokkan, tetapi siswa sesuai dengan kecepatan dan kemampuannya masing-masing. Masing-masing anggota saling membantu dan saling mengecek.

  1. Gergaji Silang (Jigsaw)

Teknik ini mengisyaratkan setiap anggota kelompok diberi tugas berbeda serta kemudian diharapkan dirinya untuk menceritakan kepada teman lainnya tentang sesuatu yang pernah dipelajarinya.

  1. Investigasi Kelompok (Group Investigation)

Sama seperti gergaji silang, hanya siswa salah satu anggota kelompok menyajikan kepada tim lainnya tentang apa yang telah dipelajari.

  1. Belajar Bersama (Learning Together)

Anggota kelompok bersifat heterogen dan menyelesaikan sebuah masalah bersama, dan bila mereka berhasil memperoleh ganjaran positif secara kelompok.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: