Arsip Bulanan: Oktober 2010

BUDIDAYA BUAH NAGA


BUDIDAYA BUAH NAGA

Apa itu buah Naga?

Sebagian kalangan menyebutnya buah ini dengan nama Buah Dewa. Hingga saat ini di butuhkan akan buah Naga Indonesia cukup besar dan bukan hanya pasar lokal saja yang ingin mencicipi kedahsyatan buah yang stu ini. Peluang Ekspor juga tidak kalah besarnya, Namun kebutuhan yang besar tersebut belum mampu di penuhi oleh produksi dalam negri asalny (Taiwan) Apalagi kondisi dalam negri Indonesia cukup sulit memenuhi peluang Pasar ini, Karena hal-hal yang berhubungan dengan iklim investasi yang cenderung lesu. Tetapi melihat segi potensi Wialyah lahan pertanian yang luas dan subur,Sangat besar kemungkinannya untuk mengembangkan tanaman jenis ini.

Tingginya permintaan buah naga ini di sebabkan oleh promosi yang menyebutnya sebagai buah meja (Sangat Menarik dan Menggiurkan bila di sajikan di meja makan) Berkhasiat mujarab untuk berbagai penyakit dan bermanfaat sebagai bahan baku di bidang industri pengolahan Makanan, Minuman, Kosmetik serta produk kesehatan. Berpedoman kepada kondisi petani yang sebagian besar kurang mampu berinvestasi di bidang ini (Mahalnya bibit dan perlengkapan yang harus di sediakan). Merupakan salah satu motivasi bagi pemilik modal untuk bekerja sama dengan kelompok Tani dalam pembudidayaan Komoditas ini. Keadan lain yang mendukung adalh tersedianya lahan yang potensial dan tenaga ahli dalam pembudidayaan jenis Tanaman ini.

 

CIRI BUAH NAGA

Buah naga (Dragon Fruit atau Hylocereus Undatus) masih termasuk komoditi langka di indonesia. Buah yang beasal dari Taiwan ini memiliki bentuk yang sangat unik dan cukup memikat untuk di lihat. Bentuk fisiknya mirip dengan buah nanas hanya saja buah ini memiliki sulur /jumbai di sekujur kulitnya dan buah ini berwarna merah jambu (Pink) dengan daging buah berbagai jenis antara lain berwarna Putih, Kuning dan Merah dengan biji kecil berwarna hitam yang sangat lembut dan lunak. Rasa buah tergantung jenis warna daging buah itu, Bila warna merah cenderung manis dan legit dengan perpaduan rasa yang sangat khas. Warna putih rasanya manisdan segar sedangkan kuning perpaduan antara ke dua warna di atas. Bentuk tanaman hampir mirip dengan pohon kaktus berupa sulur-sulur yang memanjang seperti lidah naga yang menjulur. Berat rata-rata + 600 s.d 800 Gram.

KHASIAT BUAH NAGA

  • Penyeimbang kadar gula darah.
  • Membersihkan darah.
  • Menguatkan ginajal.
  • Menyehatkan lever.
  • Perawatan kecantikan.
  • Menguatkan daya kerja otak.
  • Meningkatkan ketajaman Mata.
  • Mengurangi keluhan panas dalam dan sariawan.
  • Mensatbilkan Tekanan Darah.
  • Mengurangi Keluhan Keputihan.
  • Mengurangi Kolesterol dan mencegah Kanker usus.
  • Mencegah Sembelit dan Memperlancar Feses.

SISTEM PENANAMAN

1. Persyaratan tanam: Tidak berpengaruh terhadap kualitas tanah, Jenis apa saja dapat di lakukan penanaman. Membutuhkan penyinaran penuh. Daerah tropis cocok untuk Tanaman ini.

2. Penanaman sebaiknya di gunakan parit untuk saluran drainase di areal kebun.Dan gunakan ajir/tiang penyangga tanaman kaktus berukuran 10cm x 10cm x 150cm.Tiang penyangga ini biasa terbuat dari kayu atau beton yang di tancapkan ke tanah sedalam 50cm dengan jarak tanam 2,5 x 3cm.

3. Jarak tanam bibit yang baik adalah 2,5 x 2 meter dan tiap tiang penyangga di tanami 4 bibit tanaman,Jadi untuk 1Ha membutuhkan 2000 tiang penyangga dan 8000 bibit tanaman buah naga.

4. Pemeliharaan tanaman meliputi,Perawatan sulur tanaman agar terhindar dari luka,pengecekan rutin kondisi keasamn tanah,dll.

5. Panen tanaman akan berbunga pada umur 1,5-2 tahun dan dapat di panen saat mencapai umur 30 hari setelah bunga mekar.Tanaman buah naga akan berbuah terus menerus hingga + 10 tahun.

Sumber :http://tcplanet.blogspot.com

TAMBAHAN INFORMASI

PENDAHULUAN

Buah Naga telah lama dikenal oleh rakyat Tionghoa kuno sebagai buah yang membawa berkah. karena biasanya buah naga diletakkan diantara patung naga di altar.

Oleh karena itu orang Vietnam menyebut buah naga atau dalam bahasa Vietnam disebut dengan nama Thang Loy di Thailand diberi nama Keaw Mang Kheon, dalam istiiah Inggris diberi nama DRAGON FRUIT clan di Indonesia dikenal dengan nama BUM NAGA Sebenarnya tanaman ini bukan tanaman asil daratan Asia, tetapi merupakan tanaman ask Meksiko clan Amerika Selatan bagian utara ( Colombia ). Pada awainya buah naga ini dibawa kekawasan Indocina ( Vietnam ) oleh seorang Perancis sekitar tahun 1870. dari Guyama Amerika Selatan sebagai hiasan sebab sosoknya yang unik dan bunganya yang cantik dan berwarna putih. Baru sekitar tahun 1980 setelah dibawa ke Okinawa Jepang tanaman ini mendunia karena sangat menguntungkan. Pada tahun 1977 buah ini dibawa ke Indonesia clan berhasil disemaikan kemudian dibudidayakan. Buah naga kaya akan vitamin dan mineral dengan kandungan serat cukup banyak sehingga cocok untuk diet.

Beberapa khasiat dari DRAGON FRUIT adalah :

1. Penyeimbang kadar gula
2. Pencegah Kolesterol tinggi
3. Pencegah kanker usus

1. Persyaratan Tumbuh Tanam

Ditanam di dataran rendah, pada ketinggian 20 – 500 m diatas permukaan iaut

Kondisi tanah yang gembur, porous, banyak mengandung bahan organik clan banyak mengandung unsur hara, pH tanah 5 – 7

Air cukup tersedia, karena tanaman ini peka terhadap kekeringan dan akan membusuk bila kelebihan air Membutuhkan penyinaran cahaya matahari penuh, untuk mempercepat proses pembungaan

 

2. Persiapan Lahan

Persiapkan tiang penopang untuk tegakan tanaman, karena tanaman ini tidak mempunyai batang primer yang kokoh. Dapat menggunakan tiang dari kayu atau beton dengan ukuran 10 cm x 10 cm dengan tinggi 2 meter, yang ditancapikan ke tanah sedalam 50 cm. Ujung bagian atas dari tiang penyangga diberi besi yang berbentulk lingkaran untulk penopang dari cabang tanaman

 

Sebulan sebeium tanam, terlebi dahulu dibuatkan Wbang tanan dengan ukuran 40 x 40 x 40 cm dengan jarak tanam 2 m x 2,5 m, sehingga dalam 1 hektar terdapat sekitar 2000 lubang tanam penyangga

 

Setiap tiang/pohon penyangga itu dibuat 3 – 4 Lubang tanarn dengan jarak sekitar 30 cm dari tian penyangga.

Lubang tanam tersebut kemudian diberi pupuk kandang yang masak sebanyak 5 – 10 kg dicampur dengan tanah

3. Persiapan bibit dan penanaman

Buah naga dapat diperbanyak dengan cara :
Stek dan Biji

Umumnya ditanam dengan stek dibutuhkan bahan batang tanaman dengan panjang 25 – 30 cm yang ditanam dalam polybag dengan media tanam berupa campuran tanah, pasir clan pupuk kandang  dengan perbandingan 1 : 1 : 1.
Setelah bibit berumur ? 3 bulan bibit siap dipindah/ditanam di lahan.

4. Pemeliharaan

Pengairan
Pada tahap awal perturnbuhan pengairan dilakukan 1 – 2 hari sekali. pemberian air berlebihan akan menyebabkan terjadinya pembusukan

Pemupukan
Pernupukan tanaman diberikan pupuk kandang, dengan interval pemberian 3 bulan sekali, sebanyak   5 – 10 Kg.

Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT)
Sementara belum ditemukan adanya serangan hama clan penyakit yang potensial. Pembersilhan lahan atau pengendalian gulma dilakukan agar tidak mengganggu pertumbuhan tanaman

Pemangkasan

atang utama ( primer ) dipangkas, setelah tinggi mencapai tiang penyangga ( sekitar 2 m ), clan ditumbuhkan 2 cabang sekunder, kemudian dari masing-masing cabang sekunder dipangkas lagi clan ditumbuhkan 2cabang tersier yang berfungsi sebagai cabang produksi.

 

5. Panen

Setelah tanaman umur 1,5 – 2 tahun, mulai berbunga dan berbuah. Pemanenan pada tanaman buah naga dilakukan pada buah yang memiliki ciri – ciri warna kulit merah
mengkilap, jumbai / sisik berubah warna dari hijau menjadi kernerahan. Pemanenan dilakulkan dengan menggunakan gunting, buah dapat dipanen saat buah mencapai umur 50 hari terhitung sejak bunga mekar

 

Dalam 2 tahun pertama. setiap tiang penyangga mampu menghasilkan buah 8 s / d 10 buah naga dengan bobot sekitar antara 400 – 650 gram

Musim panen terbesar buah naga terjadi pada bulan September hingga Maret

Umur produktif tanaman buah naga ini berkisar antara 15 – 20 tahun


USAHA PERTANIAN JERUK


USAHA PERTANIAN JERUK
Jeruk merupakan salah satu jenis komoditas hortikultura yang banyak disukai masyarakat. Sebagai bahan pelengkap utama dalam penunjang gizi keluarga, rasanya segar dan banyak mengandung vitamin C dan vitamin A. Karena banyak disukai dan pemasarannya cukup baik, maka upaya pengembangan jeruk ini menjanjikan keuntungan bagi petani.Tanaman jeruk termasuk tanaman yang peka terhadap penyakit, dan daerah-daerah sentra produksi jeruk di Indonesia pernah mengalami kegoncangan dengan adanya serangan hama CVPD. Usahatani merehabilitasi jeruk ini telah dilakukan, baik secara swadaya petani maupun dengan bantuan dana stimulasi dari dana proyek.Kunci keberhasilan dalam merehabilitasi usahatani jeruk terletak pada ketetapan pemilihan bibit. Bibit yang digunakan harus bibit yang baik dan bebas penyakit yang berasal dari perbanyakan klonal tunggal.

Syarat bibit Jeruk yang baik adalah sebagai berikut:

  1. Tidak mengandung penyakit atau bebas CVPD
  2. Berasal dari penangkaran yang dikontrol oleh petugas BPSB dan entresnya dari BPMT jeruk.
  3. Pertumbuhan visualnya baik dan subur serta sehat.
  4. Berasal dari batang atas yang mempunyai produksi tinggi dan batang bawah dengan perakaran luas dan kuat.

Bibit sebagai cikal bakal tanaman sangat menentukan tingkat keberhasilan usahatni jeruk. Penggunaan bibit yang bermutu memberikan peluang untuk keberhasilan budidaya jeruk.

Kesalahan dalam pemilihan bibit, dampaknya akan terlihat setelah selang beberapa waktu. Dampaknya akan dirasakan oleh baik petani itu sendiri maupun bagi masyarakat disekitarnya yang berusaha tani jeruk. Bibit jeruk bebas penyakit yang dibudidayakan akan memberikan hasil sesuai dengan yang diinginkan jika kondisi lingkungan yang diinginkannya terpenuhi. Kondisi lingkungan yang diinginkan diperoleh dengan cara:

  • Pengaturan jarak tanam
  • Pemupukan
  • Pengairan dan Pengendalian gulma
  • Pemangkasan
  • serta Pengendalian Hama dan Penyakit

Pengaturan Jarak Tanam

Jarak tanam diatur agar cahaya cukup tersedia bagi pertumbuhan tanaman dan tidak terjadi kompetisi dalam mendapatkan cahaya matahari dan unsur hara tanaman.

Jarak tanam rapat akhir-akhir ini dianjurkan karena jeruk telah berproduksi pada umur 3-4 tahun, saat ini tajuk belum maksimum. Menjelang tajuk maksimum umur 10 thn tanaman dapat menghasilkan 5-6 X panen secara penuh. Dengan cara demikian produksinya akan lebih tinggi dan keuntungan akan lebih banyak. Jarak  tanam yang dianjurkan 5X5 m, 4X4 m, atau 4X5 m.

Pemupukan

Pemupukan sangat perlu dilakukan karena kemampuan tanah dalam menyediakan unsur hara bagi tanaman terbatas, dan pada setia periode umur tanaman jeruk banyak menguras ketersediaan hara tanah.

Jarak jeruk membutuhkan pupuk organik (pupuk kandang/kompos) dan pupuk anorganik (urea, TSP, dan KCL). Pupuk organik dibutuhkan untuk meningkatkan humus didalam tanah sehingga tanah yang padat dapat diubah menjadi remah/gembur. Sedangkan pupuk anorganik diperlukan untuk menambah unsur hara yang dibutuhkan tanaman. Dosis dan jenis pupuk yang digunakan dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel. Dosis pemupukan anjutran sementara tanaman jeruk

Umur
(th)
Pukan
(Kg/ph)
Urea
(gr/ph)
SP-36
(gr/ph)
ZK
(gr/ph)
1 20 200 25 100
2 40 400 50 200
3 60 600 75 300
4 80 800 100 400
5 100 1000 125 500
6 120 1200 150 600
7 140 1400 175 700
8 160 1600 200 800
>8 200 1800-2000 200 800


Waktu dan Cara Pemberian

Untuk tanaman yang belum berbuah, pemupukan dilakukan 2 X setahun pada awal akhir musim hujan, masing-masing 1/2 dosis yang ditentukan. Sedang untuk tanaman yang sudah berbuah pemupukan dilakukan 3 X setahun.

Pemupukan pertama dilakukan sebelum bunga muncul, sebanyak 2/5 bagian dari dosis pertahunnya. Pemupukan kedua pada saat pemasakan buah sebanyak 1/5 bagian. Sisanya diberikan pada pemupukan ketiga, beberapa saat setelah panen.

Penyiangan dan Perbaikan Drainase Kebun

Penyiangan gulma disekitar pokok tanaman dan gulma epipit yang sering menumpang pada tanaman dilakukan secara berkala. Pekerjaan ini sebaiknya dilakukan secara manual dengan sangat hati-hati. Jika terlalu dalam penyiangan gulma disekililing pokok tanaman akan merusak perakaran dan jika kurang hati-hati mengendalikan epipit, tanaman akan patah dan terluka. Bagi kebun yang sering kelebihan air perlu diatur drainase pembuangan air, agar saat musim hujan kebun tidak tergenang, kalau sering tergenang akan mengakitkan berkembangnya cendawan akar dan gulma akan lebih panjang. Sealiknya kalau kebun berada pada daerah kering perlu dibantu dengan pemberian air melalui penyiraman parit-parit atau secara penyiraman langsung.

Pemangkasan, Penjarangan Buah.

Pemangkasan dilakukan untuk membentuk pohon agar tumbuh simestris, tajuk yang tumbuh simestris dapat menangkap sinar matahari secara efisien.

Pemangkasan dilakukan sejak tanaman masih kecil agar pembentukan tajuk terarah dan terkendali, kemudian pemangkasn dilanjutkan lagi agar cabang-cabang tumbuh simetris.

Pemangkasan dilakukan untuk membuang tunas-tunas liar dan ranting-ranting yang tumbuh mengarah kedalam tajuk pohon. Disamping itu pemangkasan dimaksudkan untuk membuang ranting-ranting yang mati dan terserang penyakit, terutama sekali adanya gejala terserang CVPD.

Batasi pemangkasan untuk tujuan-tujuan tertentu saja. Pemangkasan yang tidak perlu benar janga dilakukan, karena akan melemahkan pohon. Setiap luka bekas pemangkasan sebaiknya diolesi dengan cat agar air bersama spora cendawan tidak mudah meresap kedalam tanaman.

Buah pertama sebaiknya dibuang. jika ingin memelihara sebaiknya cukup 40% saja. Pembuangan buah pertama ini dimaksudkan untuk mempersiapkan pohon agar benar-benar kuat pada musim berikutnya . Tanaman muda yang dibiarkan berbuah lebat akan menjadi lemah sehingga akan mudah terserang hama dan penyakit.

Pengendalian Hama dan Penyakit

Hama dan penyakit merupakan salah satu kendala utama dalam peningkatan produksi jeruk baik kualitas maupun kuantitas. Pengendalian terhadap serangan hama dan penyakit mutlak diperlukan untuk menekan kerusakan dan kerugian yang ditimbulkannya.

Strategi pengendalian dan pengelolaan hama dan penyakit tanaman jeruk yang tepat perlu diterapkan baik pada pembibitan dan tanaman dewasa dilapangan.

Bibit bebas penyakit yang dibudidayakan bukanlah berarti bibit yang tahan terhadap penyakit. Kondisi lingkungan dimana bibit ini dibudidayakan sangat mempengaruhi bibit ini untuk dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Untuk itu upaya pengendalian hama dan penyakit mutlak dilakukan agar bibit yang bebas penyakit ini dapat berproduksi sesuai dengan yang diharapkan.

Pengenalan hama dan penyakit serta gejala serangannya adalah sangat penting untuk menentukan strategi pengendaliannya yang tepat. Kekeliruan identifikasi jenis OPT (Organisme Pengganggu Tanaman) yang menyerang tanaman jeruk serta pengenalan gejala serangan berakit pada kekeliruan strategi pengendalian sehingga akan berdampak negatif.

Dalam melakukan identifikasi/pengenalan dan pengendalian hama dan penyakit jeruk, diharapkan petani dapat berkonsultasi dengan petugas dilapangan



RPP MATEMATIKA SD PERMENDIKNAS 41


Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

Siklus II Pertemuan I

Sekolah                  : SD Negeri 3 Pohsanten

Mata Pelajaran       : Matematika

Kelas/Semester      : IV/II

Alikasi Waktu        : 2 x 35 menit

A. Standar Kompetensi
6. Menggunakan konsep keliling dan luas bangun datar sederhana dalam pemecahan masalah.
B. Kompetensi Dasar
6.1  Menentukan keliling dan luas jajargenjang dan segitiga .
6.2 Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan keliling dan luas jajargenjang dan segitiga.
C. Indikator
1.  menemukan rumus keliling segitiga.
2.  Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan keliling segitiga.
D. Tujuan Pembelajaran
1.  Melalui kegiatan praktik siswa dapat menemukan rumus keliling ssegitiga.
2. Melalui Kegiatan praktik siswa dapat menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan keliling segitiga.
E. Materi Ajar

Keliling Segitiga
Seperti halnya pada jajargenjang, keliling segitiga dapat ditentukan dengan cara menjumlahkan sisi-sisi yang membatasi segitiga tersebut.
Segitiga pada gambar di samping dibatasi oleh sisi-sisi KL, LM, dan MK. Dengan demikian keliling segitiga KLM adalah:
Keliling = KL + LM + MK
Jika disimbulkan keliling = K, KL = a, LM =cb dan MK = c, maka rumus keliling segitiga dapat dituliskan dengan
K = a + b + c
Dari rumus keliling segitiga dapat ditentukan rumus untuk mencari panjang salah satu sisi segitiga, yaitu:
a = K – b – c
b = K – a – c
c = K – a – b

F. Metode Pembelajaran
Metode Inkuiri
G. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran

  1. 1. Kegiatan Pendahuluan

a)      Guru mengkoordinir kelas seperti: mengucapkan salam , malakukan absensi kelas dan mempersiapkan alat-alat belajar.
b)      Guru melakukan apersepsi dengan mengajak siswa untuk mengingatkan kembali tentang sifat-sifat bangun datar segitigan yaitu:
Segitiga terdiri dari 3 sudut
Segitiga terdiri dari 3 sisi
Jenis-jenis  bangn datar segitiga
c)      Siswa bersama guru menentukan materi yang akan dipelajari yaitu keliling segitiga.
2. Kegiatan Inti
Eksplorasi
a)      Guru menjelaskan metode pembelajaran yang akan diterapkan dalam pembelajaran yaitu metode inkuiri yang mengajak siswa untuk menemukan rumus keliling segitiga.
b)      Guru membagi siswa kedalam 5 kelompok yang terdiri dari 3 siswa dengan kemampuan yang heterogen.
c)      Siswa akan diberikan masalah kepada tiap-tiap kelompok yang akan mengarah siswa untuk menemukan keliling segitiga.
Elaborasi
a)      Guru memberikan masalah kepada tiap-tiap kelompok, yaitu dengan memberikan bangun datar segitiga siku-siku yang berbeda-beda setiap kelompok menyelidiki panjang sisi-sisinya dan  menentukan hubungan panjang sisi-sisinya dengan keliling segitiga.
b)      Tiap-tiap kelompok diberikan kesempatan untuk memahami masalah tersebut
c)      tiap-tiap kelompok diminta untuk mengajukan suatu tebakan awal terhadap solusi dari masalah yang diberikan.
d)     Setiap kelompok dibarahkan untuk membuat suatu rancangan penelitian untuk memecahkan masalah tersebut, misalnya:
Untuk mengukur sisi-sisi segitiga diarahkan siswa menggunakan penggaris.
Untuk mengetahui keliling segitiga, siswa diharapkan mengukur panjang semua sisinya dengan penggaris.
e)      Dengan berpedoman pada rancangan penelitian. setiap kelompok melakukan penyelidikan terhadap segitiga siku-siku yang telah diberikan. Setiap kelompok diminta untuk mencatat hasil penyelidikannya. (guru membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam kegiatan ini).
Untuk menghitung keliling segitiga siku-siku, missal siswa mengukur dengn penggaris yang bersekala cm sehingga didapat keliling x cm. (dalam kegiatan ini siswa diharapkan dapat menarik kesimpulan bahwa keliling segitiga sama dengan jumlah ketiga sisinya.
a                  c
K = a + b + c                                        b
b
f)       Guru meminta setiap kelompok untuk memaparkan hasil penyelidikannya.
Konfirmasi
a)      Guru memberikan penguatan kepada siswa setelah menjawab pertanyaan dengan cara memberi tepuk tangan atau acungan jempol.
b)      Siswa dengan bimbingan guru mempertegas jawaban dari hasil pekerjaan siswa dengan  tujuan menyamakan persepsi bahwa keliling segitiga adalah penjumlahan semua sisinya (K= a + b + c)
c)      Siswa diberikan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan mengenai materi yang belum dipahami dan ditanggapi oleh guru.
3. Kegiatan Akhir
Siswa dengan bimbingan guru merangkum materi pelajaran yang telah dipelajari seperti :

  • Rumus keliling  segitiga

K= a + b + c
a = K – b – c
b = K – a – c
c = K – a – b
Guru memberikan evaluasi untuk mengetahui pemahaman siswa
Siswa dan guru meng akhiri pelajaran
H. Sumber Belajar/Media/Alat Peraga
Buku paket matematika sekolsh dasar kelas IV
Buku penunjang matematika kelas V
Karton/kertas berpetak
Gunting
Penggaris
I. Penilaian Hasil Belajar
1. Tehnik Penilaian      : tes tertulis
2. Bentuk Penilaian     : Uraian
3. Instrumen Penilaian :
Soal:
1)      Tentukan keliling segitiga apabila diketahui sisi-sisinya, sebagai berikut:

2)      Tentukan salah satu sisi segitiga apabila kelilingnya 45 cm dan kedua sisinya 20 cm dan 13cm !
Kunci Jawaban :
1)       a. K = 4 + 12 + 5 = 21 cm
b. K = 13 + 15 + 17 = 45cm
2)      K = 13 + 20 + c
45 = 33 + c
c = 45 – 33
c = 12 cm
jadi panjang salah satu sisi segitiga adalah 12 cm


Penerapan Metode Jigsaw untuk Meningkatkan Prestasi Belajar IPA Siswa Kelas IV Sifat dan Perubahan Wujud Benda


A. JUDUL PTK :

Penerapan Metode Jigsaw untuk Meningkatkan Prestasi Belajar IPA Siswa Kelas IV Semester I Pada Pokok Bahasan  Sifat dan Perubahan Wujud Benda di SD Negeri 3 Pohsanten Tahun Pelajaran 2009/2010

B. LATAR BELAKANG

Pendidikan IPA di sekolah dasar  merupakan salah satu program pembelejaran yang diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar  menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan IPA diarahkan untuk inkuiri  dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar. (Depdiknas 2006).

Keberhasilan pembelajaran IPA ditentukan oleh bagaimana guru dalam perencanaan. Pelaksanaan dan menilai sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Pembelajaran IPA di sekolah dasar masih ditemukan berbagai masalah antara lain bahwa hasil pembelajaran IPA masih kurang baik sebagai akibat kurang baiknya sistim evaluasi dan metode pembelajaran yang monoton tidak bervariasi, membosankan yang menekankan pada mengingat dan memahami saja. Sehubungan dengan hal tersebut pembelajaran IPA Pada umumnya hanya pada pemberian pengetahuan (Kognitip) belum pada apektif dan psikomotor siswa. Kurang optimalnya pembelajaran IPA ini juga terjadi di SD Negeri 3 Pohsanten kelas IV tempat penulis melakukan penelitian.

Berdasarkan observasi dan wawancara dengan guru kelas IV SD Negeri 3 Pohsanten yaitu Sutrisno, S.Pd. , Secara umum siswa kalau ditanya yang bersifat hafalan mereka cepat sekali bisa menjawab. Tetapi kalau pertanyaan yang bersifat pemahaman dan ketrampilan siswa lama sekali menjawab bahkan tidak bisa.  Siswa tidak begitu antusias mengikuti pelajaran, hal ini bisa dilihat dari 17 siswa kelas IV SD Negeri 3 Pohsanten hanya 2 siswa yang mau berinteraksi secara aktip.  Prestasi belajar siswa dalam pelajaran IPA masih rendah. Pada tahun pelajaran 2008/2009 nilai rata-rata ulangan harian siswa untuk  pokok bahasan sifat dan perubahan wujud benda adalah 5,70.

Rendahnya prestasi belajar siswa pada pelajaran IPA untuk pokok bahasan sifat dan perubahan wujud benda dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain : a) Kurang aktifnya siswa mengikuti pelajaran, karena siswa kurang tertarik pada cara penyajian materi yang banyak berpusat pada guru yang menggunakan metode ceramah. b) Kurangnya kesempatan berinteraksi antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa, Dalam pembelajaran guru banyak memberikan penjelasan. Hal ini menyebabkan siswa kurang mendapatkan pengalaman belajar dari temannya. Kepada guru kurang berani menyampaikan, sedangkan dengan temannya belum ada pembiasaan, sehingga menyebabkan sulitnya berinteraksi. c) Kurangnya motivasi siswa dalam menyampaikan gagasan, karena guru kurang memberi penguatan kepada siswa yang berani mengungkapkan pendapatnya. d) Informasi yang disampaikan guru saat pembelajaran terlalu cepat sehingga siswa kurang bisa memaknai dan memahami. e) Kurangnnya waktu yang diberikan kepada siswa untuk berinteraksi dengan media / sumber belajar / alat peraga.

Berdasarkan faktor-faktor tersebut memberikan dampak pembelajaran IPA  menjadi kurang menarik, hal ini mempengaruhi menurunnya keaktifan siswa dalam memahami konsep IPA dalam pembelajaran dan akan berpengaruh pada prestasi belajar siswa.

Proses pembelajaran dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menuntut adanya partisipasi aktif dari seluruh siswa. Jadi, kegiatan belajar berpusat pada siswa, guru sebagai motivator dan fasilitator di dalamnya agar suasana kelas lebih hidup. Pembelajaran kooperatif terutama teknik Jigsaw dianggap cocok diterapkan dalam pendidikan di Indonesia karena sesuai dengan budaya bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi nilai gotong royong. Upaya peningkatan prestasi belajar siswa tidak terlepas dari berbagai faktor yang mempengaruhinya. Dalam hal ini, diperlukan guru kreatif yang dapat membuat pembelajaran menjadi lebih menarik dan disukai oleh peserta didik. Suasana kelas perlu direncanakan dan dibangun sedemikian rupa dengan menggunakan model pembelajaran yang tepat agar siswa dapat memperoleh kesempatan untuk berinteraksi satu sama lain sehingga pada gilirannya dapat diperoleh prestasi belajar yang optimal, (Emildadiany 2008).

Berdasarkan uraian di atas agar prestasi belajar siswa dapat meningkat maka penulis tertarik melakukan penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan menerapkan atau menerapkan metode JIGSAW dalam pembelajaran IPA pada pokok bahasan sifat dan perubahan wujud benda di kelas IV SD Negeri 3 Pohsanten. Untuk menerapkan metode JIGSAW  ini penulis meminta bantuan Guru kelas VI maupun Kepala Sekolah SD Negeri 3 Pohsanten menganalisis dan menindaklanjuti agar pembelajaran IPA menjadi lebih baik sehingga prestasi belajar siswa kelas VI semester I SD Negeri 3 pohsanten meningkat.

B . RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang maka penelitian ini dilakukan dengan rumusan masalah sebagai berikut :

  1. Apakah penerapan metode JIGSAW dapat meningkatkan prestasi belajar IPA Siswa Kelas IV semester I pada pokok bahasan  sifat dan perubahan wujud benda di SD Negeri 3 Pohsanten Tahun Pelajaran 2009/2010 ?

C.  TUJUAN PENELITIAN

Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan penelitian ini adalah:

  1. Untuk mengetahui apakah penerapan metode JIGSAW dapat meningkatkan prestasi belajar IPA Siswa Kelas IV semester I pada pokok bahasan  sifat dan perubahan wujud benda di SD Negeri 3 Pohsanten Tahun Pelajaran 2009/201

D. MANFAAT PENELITIAN

  1. Siswa

Bagi siswa, penelitain ini melatih siswa untuk berpartisipasi dan berinteraksi secara aktip dalam peroses pembelajaran baik antara siswa denang siswa maupun siswa dengan guru, dan meningkatkan prestasi belajar siswa

  1. Peneliti

Menambah wawasan dan pengetahuan dalam meningkatkan kualitas pendidikan mata pelajaran IPA Siswa Kelas IV semester I pada pokok bahasan  sifat dan perubahan wujud benda di SD Negeri 3 Pohsanten Tahun Pelajaran 2009/2010 dengan strategi pembelajaran teknik jigsaw, dan pada Sekolah Dasar pada umumnya.

  1. Guru Sekolah Dasar

Penelitian ini dapat dijadikan pedoman dalam mengajarkan dan menambah pengetahuan dan wawasan guru dalam upaya meningkatkan prestasi belajar mata pelajaran  IPA Siswa Kelas IV semester I pada pokok bahasan  sifat dan perubahan wujud benda di SD Negeri 3 Pohsanten dengan strategi pembelajaran model jigsaw.

  1. Sekolah Dasar

intuisi yang diperoleh dari hasil penelitian dapat dijadikan masukan dalam upaya meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan melalui penerapan metode Jigsaw dalam mata pelajaran IPA.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A.  PRESTASI BELAJAR

  1. 1. Pengertian Prestasi belajar

Menurut the Liang Gia ( 1989, hal. 15 ) Mengatakan bahwa: Prestasi belajar adalah hasil yang dicapai aktifitas yang menghasilkan perubahan-perubahan tingkah laku dalam individu, baik secara aktual maupun profesional “.

Sedangkan Purwodarminto ( 1987,hal. 254 ), mengatakan bahwa : “ prestasi belajar adalah suatu hasil yang dicapai atau dikerjakan siswa dalam belajar atau usaha untuk memperoleh suatu kepandaian “.

Belajar sangat erat hubungannya dengan prestasi belajar.Karena prestasi itu sendiri merupakan hasil belajar itu biasanya dinyatakan dengan nilai. Menurut Winarno Surahmad (1997 : 88) sebagai berikut: “Hasil belajar adalah hasil dimana guru melihat bentuk akhir dari pengalaman interaksi edukatif yang diperhatikan adalah menempatkan tingkah laku”. Dapat diartikan bahwa hasil belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau Perubahan diri seseorang yang dinyatakan dengan cara bertingkah laku baru berkatpengalaman baru.

Dari pengertian tersebut diatas dapat disimpulkan, bahwa prestasi belajar adalah suatu hasil belajar yang dicapai dalam aktifitas untuk mendapat suatu kepandaian atau sebuah tingkah laku yang lebih baik.

  1. 2. Faktor-faktor yang dapat mempengarui prestasi belajar

Telah dikatakan bahwa Prestasi belajar adalah suatu hal atau proses yang menimbulkan suatu perubahan tingkah laku atau kecakapan belajar sebagai suatu proses yang aktifitasnya dibebani oleh banyak sekali hal-hal yang berkaitan dengan perstasi belajar tersebut. Karena itu untuk memudahkan pembicaraan penulis akan mengklasifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar, sebagai berikut A) Faktor dari dalam individu (Fisik) a) Pusat susunan saraf tidak berkembang secara sempurna b) Panca indra tidak berfungsi atau sakit c) Kurang seimbang dalam perkembangan dan reproduksi d) Berfungsinya kelenjar tubuh membawa kelainan tingkah laku e) Cacat atau perkembangan kurang sempurna f) Penyakit menahun (Kelemahan secara mental) Seperti a)Taraf kecerdasannya atau intelegensinya kurang b) Kurang minat dan bakat, kurang usaha, kurang kreatifitas c) Kurang menguasai pelajaran d) Kebutuhan kurang terpenuhi (Kelemahan emosional) a) Suasana hati tadak tentram. b) Tedak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan c) Tercekam rasa pobia (rasa takut), benci dan antipati (Kelemahan sikap dan kebiasaan yang salah) a) Kurang minat dalam kegiatan sekolah b) Menghindari tanggung jawab c) Bersifat malas belajar dan kurang disiplin (Faktor dari luar individu) antara lain a) Lingkungan sekolah dan lingkungan sosial b) Buku sumber tidak sesuai dengan kurikulum c) Sistem pemgajaran, penilaian tidak sesuai d) Terlalu berat beban belajar  e) populasi kelas terlalu banyak f) masalah teman sebaya g) Kelemahan kondisi keluarga h) Terlalu banyak kegiatan di luar  i) keterbatasan tenaga guru j) Motifasi external kurang

 

B.  METODE  JIGSAW

1. Definisi jigsaw

Modal jigsaw adalah suatu teknik belajar kelompok yang digambarkan sebagai berikut : (a) satu kelas dibagi dalam kelompok-kelompok kecil banyaknya anggota kelompok disesuaikan dengan banyaknya masalah / problem yang ditawarkan guru. Kelompok-kelompok ini disebut dengan home group, (b) setiap anggota home group diberi problem yang berbeda-beda, tapi masing-masing home group diberi persoalan yang sama. Dengan batasan waktu tertentu masing-masing anggota menyelesaikan problem secara individu, (c) anggota home group akan berpencar dan membentuk kelompok baru yang membawa persoalan sama. Kelompok ini disebut expert group ( kelompok ahli ). Di kelompok inilah mereka berdiskusi untuk menyamakan persepsi atas jawaban mereka, dan (d) setelah selesai mereka kembali ke home group dan anggota-anggota akan mensosialisasikan hasil / jawaban dari kelompok ahli.

Teknik jigsaw merupakan salah satu strategi pembelajaran kooperatif yang dilaksanakan di sekolah-sekolah. Menurut suryanto (1999) pembelajaran kooperatif adalah salah satu jenis belajar kelompok dengan kekhususan sebagai berikut: (a) kelompok terdiri atas anggota yang heterogen, (b) ada ketergantungan positif diantara  anggota kelompok, karena masing-masing individu memiliki rasa tanggung jawab, (c) kepemimpinan dipegang bersama, (d) giri mengamati kerja kelompok dan melakukan interversi bila perlu, dan, (e) setiap anggota kelompok harus siap menyajikan hasil kerja kelompok. Dari kelima kekhususnya tersebut, juga dimiliki oleh karakteristik dari teknik jigsaw.

2. Karakteristik Pelaksanaan Teknik jigsaw
a. Tinjaun Kurikulum

Tujuan Teknik jigsaw Relevansi pada kurikulum
A Memperkaya variasi teknik 

pembelajaran

Pemilihan pendekatan/ metode, 

Media dan simber belajar hendaknya disesuaikandengan karakteristikmateri

B Memupuk rasa ketergantungan positif dalam kelompok Strategi yang melibatkan siswa aktif belajar baik secara mental, fisik ataupun sosial.
C Memberi kesempatan berlatih memahami konsep dengan teman-temannya
D Berlatih menyampaikan informasi kepada temannya Sikap kritis, terbuka dan konsisen

  1. b. Tinjauan Praktik

Secara pratek keberhasilan dan kegagalan belajar dapat dilihat dari nilai yang diperoleh siswa. Ditijau dari komponen-komponen penilaian, hampir seluruhnya diambil dari faktor kognitif siswa. Sebaiknya penerapan jigsaw bertujuan tidak hanya melatih kognitif saja, tetapi juga afektif dan psikomotor.

Menurut Ibrahim (2000) bahwa manfaat pembelajar kooperatif termasuk teknik jigsaw:(1) meningkatkan pencurahan waktu pada tugas,(2) menghargai diri menjadi lebih tinggi,(3) memperbaiki sikap terhadap metematika.(4) meperbaiki kehadiran,(5) penerimaan terhadap perbedaan individu menjadi lebih besar,(6) prilaku mengganggu lebih kecil,(7) konflik antar pribadi berkurang dan (8) meningkatkan kebaikan budi, kepekaan dan toleransi.

Untuk mengukur kemajuan belajar siswa tersebut, tampaknya pedoman penilaian untuk rapot belumdapat mencakup semua aspek secara keseluruan satu-satunya peluang untuk memasukkan nilai kemajuan belajar siswa dari hasil pengamatan teknikjigsaw adalah nilai tugas. Bila diperhatikan rumus-rumus tadi, peranan nilai tugas sangat kecil,sehingga kemajuan-kemajuan belajar yang bukan bersifat kegnitif cenderung diabaikan pada penilaian rapot.

c. Tinjauan Pengalaman

Pelaksanaan teknik jigsaw pada tahap ini sangat sukar. Tidak semua pokok bahasa dapat dengan mudah disajikan dengan menggunakan teknik ini, sebab,pokok bahasa tersebut dapat dibagi-bagi menjadi beberapa bagian yang setara, padahal materi, Matematika kebanyakan bersifat hierarki. Beberapa prilaku siswa yang menjadi pada saat prosespembelajaran antara lain:(a) motivasi belajar lebih tinggi,(b) kepedulian terhadap teman meningkat,(c) memperbaiki kehadiran,(d) berusaha sampai dapat memahami tugasnya,dan(e)sedikit demi sedikit mau membuka diri. Setelah akhir pembelajaran dilakukan ulangan,harian yang ternyata hasilnya menunjukkan nampak pada peningkatan yang signfikan jika dibanding dengan pembelajaran klasikal.

3. Tahap Pemantapan / Drill

Pada tahap ini, pelaksanaan jisaw lebih sering dilakukan karena guru lebih mudah merencanakan problem-problem (kuis). Siswa memiliki informasi selain itu, motifasi siswa cukup tinggi karena mereka akan manghadapi ulangan harian. Pelasanaan teknik jigsaw pada tahap ini siswa lebih aktif, hal ini dapat dilihat dari meningkatkan  frekuensi siswa yang berinteraksi dengan sesamaketerbukaan siswa juga semakin meningkat, misalnya ada siswa yang mengetahui bahwa dirinya salah. Meningkatnya kepercayaan dirisiswa juga ada. Hal ini terbukti dengan adanya siswa yang berani menyalahkan hasil kerja siswa lain. Suasana kerjasama betul-betul tampak saling membantu dan hasil ulangan harian terbukti ada peningkatan

Sifat dan perubahan wujud benda
D. TINJAUAN HASIL PENELITIAN TERDAHULU

Dalam penelitian ini peneliti merujuk pada penelitian yang sudah dilakukan oleh beberapa tenaga pendidikan yang menggunakan metode JIGSAW dalam perbaikan pembelajaran salah satunya adalah Martiningsih (2006) di SMA Negeri 1 Padang Panjang Kelas XI, dalam penelitian tindakan kelas tersebut disimpulkan bahwa Penggunaan metode JIGSAW akan meningkatkan minat dan motivasi belajar sehingga akan meningkatkan prestasi belajar.

E. KERANGKA BERFIKIR

Proses belajar mengajar pada bidang studi IPA merupakan transformasi pengetahuan yang memerlukan strategi khusus sehingga, proses tranformasi pengetahuan bisa berhasil dengan baik. Pembelajaran bidang studi IPA  memerlukan analisis yang lebih di bandingkan dengan bidang studi lain sehingga strategi pembelajarannya harus sesuai.

Berdasarkan logika seperti itu maka, sangatlah sesuai jika dalam pembelajaran ini menggunakan Metode JIGSAW. Yaitu sebuah metode yang merupakan bagian dari Cooperatif learning.

BAB III

PELAKSANAAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN

A.  SUBJEK PENELITIAN

Penelitian Tindakan Kelas untuk pelajaran IPA dilaksanakan pada siswa kelas IV SDN Banjarwungu 02 Kec.Tarik, Kab.Sidoarjo.

Jadwal pelaksanaan pelajaran untuk setiap mata pelajaran adalah sebagai berikut :

No Hari/Tgl Jam Waktu Siklus Pengamat
1 Selasa 

15 April 2008

I, II 07.00-08.10 I M. Hadi Sartono, S.Pd
2 Selasa 

22 April 2008

I, II 07.00-08.10 II M. Hadi Sartono, S.Pd
3 Selasa 

29 April 2008

I, II 07.00-08.10 III M. Hadi Sartono, S.Pd

 

Terlaksananya siklus 1,2 dan 3 dengan bantuan teman sejawat yang berasal dari temuan pengamat berada di kelas saat proses pembelajaran berlangsung dengan tujuan untuk mengetahui proses KBM yang telah direncanakan bersama sebelumnya.

Dengan banyak metode yang digunakan guru terlihat perubahan yang sangat baik. Adanya peningkatan dari materi pribadi siswa hingga rata-rata kelasnya.

B.  PROSEDUR PENELITIAN

Rencana perbaikan pembelajaran ini adalah penelitian tindakan kelas dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Pendekatan kualitatif digunakan untuk melihat rancangan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran, sedangkan pendekatan kuantitatif untuk melihat kemampuan siswa setelah mengikuti pembelajaran.

Rencana perbaikan pembelajaran pada laporan ini meliputi 3 siklus. Rencana perbaikan pembelajaran IPA yang dimaksud adalah penggunaan alat peraga IPA dalam meningkatkan pembelajaran tentang Energi dan Perubahannya melalui metode bervariasi. Kegiatan ini dimulai dengan menyusun skenario peningkatan pembelajaran tentang Energi dan Perubahannya melalui metode bervariasi. Adapun perencanaan langkah-langkah pembelajaran yang ditempuh sebagai berikut :

1.   Siklus I

a.   Perencanaan

Tabel 3.1. Rencana Pelaksanaan Tindakan Perbaikan.

Tahap Fokus Kegaitan Guru Kegiatan Siswa
Kegiatan awal Memotivasi siswa dan apersepsi
  1. Membuka pelajaran
  2. Mengaitkan topik dengan pengetahuan. Awal siswa dengan cara tanya-jawab
  3. Menyampaikan tujuan dan langkah-langkah pembelajaran
  4. Menyampaikan gambaran inti pembelajaran
  • Merespon apa yang disampaikan guru
  • Menjawab pertanyaan guru
  • Memperhatikan penjelasan guru
  • Memperhatikan penjelasan
Kegiatan Inti pembelaja-ran Meningkatkan kemampuan tentang energi dan perubahannya
  1. Siswa menyimak penjelasan guru tentang energi dengan alat peraga.
  2. Memberi kesempatan siswa untuk bertanya dan menjawab
  3. Secara kelompok siswa mengamati alat peraga IPA yang sesuai dengan materi dengan mengerjakan LKS.
  4. Guru membimbing siswa untuk menyamakan persepsi
  5. Secara individual siswa mengerjakan LKS
  • Memperhatikan penjelasan guru
  • Siswa bertanya dan dijawab atau direspon siswa yang lain
  • Siswa berkelompok mengerjakan LKS sambil mengamati alat peraga.
  • Secara kelompok menyampaikan hasil diskusi dan ditanggapi kelompok lain.
  • Siswa melaksanakan tugas dari guru
  • Siswa memperhatikan
Kegiatan akhir Memantapkan pemahaman siswa
  1. Mengevaluasi kemampuan siswa
  2. Menugasi siswa membuat alat peraga tiruan sesuai materi
  • Secara individu siswa mengerjakan tes formatif
  • Menilai sendiri hasil tes pemahaman-nya dengan dibimbing guru
  • Siswa membuat

b.   Pelaksanaan

Dalam tahap pelaksanaan pada siklus I sampai dengan siklus III diamati oleh seorang supervisor dan dua (2) orang pengamat sebagai mitra atau teman sejawat. Dipilihnya dua orang pengamat ini karena keduanya sama-sama melaksanakan perbaikan pembelajaran sehingga sudah saling memahami tugasnya sebagai pengamat. Selama pelaksanaan tindakan teman sejawat melakukan pengamatan mulai perencanaan, pelaksanaan awal sampai akhir pembelajaran dan hasil pembelajaran setiap siklusnya. Pengamat melakukan pencatatan dan pengamatan pada pelaksanaan tindakan, dibagi menjadi tiga tahap yakni tahap awal. Tahap inti, dan tahap akhir pembelajaran. Pencatatan dilakukan pada lembar observasi yang sudah dipersiapkan sebelumnya.

Pelaksanaan yang ditempuh dalam perbaikan pembelajaran IPA tentang Energi dan Perubahannya pada siklus I adalah sebagai berikut ini.

Kegiatan guru pada tahap awal, adalah : (1) Membuka pelajaran. (2) Mengaitkan topik dengan pengetahuan awal siswa dengan cara tanya jawab. (3) Menyampaikan tujuan dan langkah-langkah pembelajaran. (4) Menyampaikan gambaran inti pembelajaran. Adapun kegiatan siswa adalah : (1) Merespon apa yang disampaikan guru. (2) Menjawab pertanyaan guru. (3) Memperhatikan penjelasan tentang tujuan dan langkah-langkah pembelajaran yang akan diikuti. (4) Memperhatikan penjelasan gurumenyampaikan gambaran inti pembelajaran.

Tindakan guru pada kegiatan inti adalah : (1) Mendemontrasikan alat peraga sesuai dengan materi. (2) Menugasi siswa menyimak penjelasan guru tentang Energi / gaya tarikan dan dorongan dapat merubah gerak. (3) Memberi kesempatan siswa untuk bertanya dan menjawab. (4) Secara kelompok siswa mengamati alat peraga terus mengerjakan LKS. (5) Guru membimbing siswa untuk menyamakan persepsi hasil pekerjaan LKS nya. (6) Secara individual siswa menunjukkan bahwa gaya tarikan dan dorongan dapat mengubah gerak. (7) Guru menyimpulkan materi pelajaran. Sebaliknya, kegiatan siswa

Pada tahap inti adalah : (1) Siswa memperhatikan guru dalam memperagakan gerak. (2) Menyimak penjelasan guru. (3) Siswa bertanya dan dijawab atau direspon siswa yang lain. (4) Siswa berkelompok mengerjakan LKS sambil mengamati peraga IPA. (5) Secara kelompok menyampaikan hasil diskusi dan ditanggapi kelompok lain. (6) Secara individu siswa melaksanakan tugas guru. (7) Siswa memperhatikan

Tindakan guru pada kegiatan akhir adalah : (1) Mengevaluasi kemampuan siswa. (2) Menugasi siswa membuat peraga yang sederhana sesuai materi. Sebaliknya kegiatan siswa pada tahap akhir adalah : (1) Secar individu siswa mengerjakan tes formatif. (2) Dengan bimbingan guru siswa menilai sendiri hasil tes pemahamannya tentang gaya, tarikan dan gaya dorongan dapat merubah arah gerak. (3) Membuat peraga sederhana sesuai materi sebagai tindak lanjut. Penerapan metode bervariasi pada kegiatan awal tampak pada saat guru mengadakan aperpepsi dengan cara bertanya jawab mengaitkan topik dengan pengetahuan awal siswa dengan pertanyaan “Siapa yang pernah mendorong gerobak?, Siapa yang pernah menarik pohon?” Siswa nampak antusias menjawab, hanya tiga orang yang tidak menjawab. Siswa yang mengajungkan tangannya hampir semua kegiatan berikutnya guru menjelaskan tujuan dan langkah-langkah pembelajaran guru belum disampaikan dan menyampaikan gambaran inti pembelajaran. Siswa tampak memperhatikan dan antusias.

Pelaksanaan tindakan pada kegiatan inti ini waktunya kurang. Dimulai dengan memasang alat peraga. Anak sangat antusias sehingga banyak yang maju menggerombol didepan untuk mengamati sambil bertanya-tanya pada guru. Semua siswa diberi kesempatan untuk mengamati alat peraga setelah siswa kembali ke tempat duduk barulah penulis melanjutkan dengan menugasi siswa untuk menyimak penjelasan guru tentang materi. Tindakan berikutnya adalah memberi kesempatan pada siswa untuk bertanya dan menjawab pertanyaan temannya, namun sampai kurang lebih lima menit hanya dua anak yang bertanya. Sebelum guru menjawab, pertanyaan disuruh menjawab temannya yang bisa, namun hanya beberapa anak yang mau menjawabnya.

Pada saat berkelompok rmengerjakan LKS sambil mengamati alat peraga siswa tampak masih canggung bekerjasama dengan temannya. Masih malu-malu dan tidak bermusyawarah dalam mengerjakan tugas. Pada saat penyampaian hasil diskusi kelompok siswa belum berinteraksi,    belum   ada    pembagian   tugas   siapa   yang   bertugas menyampaikan hasil pengerjaan LKS, mereka saling menunjuk sehingga memakan waktu yang lama. Pada kegiatan siswa secara individual ditugasi menyebutkan pengaruh dorongan dan tarikan semakin memakan waktu yang banyak karena siswa tampak rnalu-malu untuk ke depan. Kegiatan inti diakhiri dengan menyimpulkan materi pembelajaran, di sini siswa memperhatikan.

Pelaksanaan tindakan pada kegiatan akhir, siswa secara individu mengerjakan tes formatif. Siswa tampak tergesa-gesa karena karena waktunya memang sudah habis, dan menginjak waktu istirahat. Sehingga kegiatan menilai pekerjaan sendiri belum terlaksana.

 

c.   Pengumpulan data

Keberhasilan tindakan ini berdasarkan hasil pengamatan selama pelaksanaan tindakan dan sesudah tindakan dilaksanakan. Teman sejawat mengamati perilaku guru dan siswa. Adapun aspek yang diperhati adalah keterlibatan guru dan siswa selama proses pembelajaran yang meliputi kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir. Sebagaimana yang dijelaskan di depan bahwa hasil pengamatan pada tahap kegiatan awal yang belum berhasil adalah pelaksanaan tanya jawab penjelasan langkah-langkah pembelajaran perlu disampaikan.

Pada tahap kegiatan inti indikator yang belum berhasil adalah kegiatan mendemontrasikan alat peraga kegiatan bcrtanya jawab, diskusi kelompok,    kegiatan    penyamaan    persepsi,   dan    kegiatan individual menunjuk gaya dorong dan tarik  indikator tersebut sudah terlaksana namun belum berhasil.

Untuk kegiatan akhir menilai pekerjaan sendiri dan mmebuat daftar gerak benda sebagai tindak lanjut belum terlaksana karena waktunya habis. Dari hasil diskusi ada 9  indikator yang  belum berhasil.  Sehingga dapat  dikatakan bahwa keberhasilan guru baru 4 indikator dari 13 indikator yang direncanakan atau 37%,

Adapun  keberhasilan  siswa   dalam tes formatif sebagaimana dipaparkanberikut ini.

 

Tabel 3.2. Hasil Tes Formatif Siklus I

No Nama Siswa Nilai Siklus I Kemampuan Nilai Tertinggi/ Terendah

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

Yulianah 

Aris Muhartono

Bagus Saputro

Eko Siyamkuwari S.

Eko Siyamkuwari B.

Francisca Brazillia

Ferina Aiyus Z.

Khoirotun Nisa

M. Yunus Abdi W.

M. Yacob Ariyono

Mursanti

Mia Anggraeni

Moch Nur Rochman

Nur Fardhatilla

Nur Oktaviana

Nurulia azizah

Ulfa Dwi Anggaini

Winda Priatiningsih

Dwi Wahyu R.

Sapto Agung M

6

5

2

2

7

7

8

5

5

7

9

8

9

8

4

7

7

9

7

+

+

-

-

+

-

+

+

+

+

+

-

+

+

-

+

+

+

Terendah 

Terendah

Tertinggi

Tertinggi

Jumlah 

Rata-rata

124 

6,2

 

Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa nilai rata-rata yang dicapai siswa adalah 6,2. Nilai tertinggi yang dicapai siswa adalah 9, sedangkan nilai terendah yang dicapai siswa adalah 2. Siswa yang mendapatkan nilai dibawah 6 sejumlah 7 Orang yakni 36,7%, yang mencapai nilai 6 ke atas sejumlah 63,3%.

d.   Refleksi Tindakan siklus pertama

Agar semua siswa mau menjawab pertanyaan, guru perlu memberi penguatan dan memberi saran pada siswa untuk berlatih mengungkapkan gagasannya, jika pertanyaannya salah akan dibantu memperbaikinya. Bila perlu siswa diberi kesempatan menuliskan pertanyaan sebelum dilisankan. Demikian juga penjelasan langkah-langkah pembelajaran perlu disampaikan, karena siswa akan tahu kegiatan berikutnya tanpa menunggu informasi dari guru.

Pada kegiatan inti pembelajaran ada beberapa indikator yang belum berhasil yakni: kegiatan membuat daftar gerak benda. Agar siswa   tidak ramai berbicara sendiri   guru   sebaiknya menyediakan fotokopi lembar kerja yang memuat daftar gerak benda bagi yang belum punya sehingga sebelum ditugasi siswa memperagaka, siswa bisa mengamati di tempat duduknya. Demikian juga pada saat anak diberi kesempatan bertanya dan menjawab pertanyaan temannya kurang berhasil, karena hanya beberapa anak yang mau bertanya. Agar semua siswa mau bertanya atau menjawab pertanyaan temannya karena belum terbiasa, sebaiknya diberi kesempatan untuk menuliskan pertanyaan atau jawaban pertanyaan teman. Pada saat kerja kelompok sebaiknya sebelum mulai dijelaskan perlunya kerja kelompok dan pembagian tugas dari masing-masing anggota kelompok. Saat siswa ditugasi menunjuk agar siswa siap menunjuk pada peta di papan tulis, siswa diberi kesempatan mengamati LKS yang dibagikan sebelumnya sehingga siswa tidak takut salah.

Untuk kegiatan akhir menilai sendiri hasil tes perlu dilaksanakan karena selain melatih kejujuran siswa juga akan mengurang tugas guru apabila siswa sudah terlatih.

Siklus 2

a.   Perencanaan

Berdasarkan refleksi siklus pertama dilaksanakan tindakan perbaikan pembelajaran IPA tentang pengaruh gaya dorong dan tarikan pada gerak suatu benda pada siklus II. Kegiatannya adalah sebagai berikut ini. Kegiatan guru pada tahap awal, adalah 1)  Membuka pelajaran. 2)  Mengaitkan topik dengan pengetahuan awal siswa dengan tanya jawab. 3)  Menyampaikan tujuan dan langkah-langkah pembelajaran. 4)  Menyampaikan gambaran inti pembelajaran. Adapun kegiatan awal siswa adalah: 1)  Merespon apa yang disampaikan guru. 2) Menjawab pertanyaan guru. 3)  Memperhatikan penjelasan tentang tujuan dan langkah-langkah pembelajaran yang akan diikuti. 4)  Memperhatikan penjelasan guru menyampaikan gambaran inti pembelajaran.

Tindakan perbaikan pada kegiatan inti adalah 1)  Mendemontrasikan dengan alat peraga hal gaya. 2)  Menugasi siswa menyimak penjelasan guru tentang pengaruh gaya dorong dan tarikan pada gerak benda pada alat peraga. 3)  Memberi kesempatan siswa untuk bertanya dan menjawab.4)  Secara kelompok siswa mengamati alat peraga / demontrasi guru mengerjakan LKS. 5)  Guru membimbing siswa untuk menyamakan persepsi hasil pekerjaan LKS nya. 6)  Secara individual siswa menunjukkan hasil pekerjaannya. 7)  Guru menyimpulkan materi pelajaran. Sebaliknya, kegiatan siswa pada tahap inti adalah : 1)  Siswa memperhatikan demontrasi guru dengan alat peraga. 2) Menyimak penjelasan guru. 3) Siswa bertanya dan dijawab atau direspon siswa lain. 4) Siswa berkelompok mengerjakan LKS sambil mengamati alat peraga. 5)  Secara kelompok menyampaikan hasil diskusi dan ditanggapi kelompok lain. 6) Secara individu siswa melaksanakan tugas guru. 7) Siswa memperhatikan.

Tindakan guru pada kegiatan akhir adalah : 1)  Mengevaluasi kemampuan siswa. 2)  Menugasi siswa untuk mendemontrasikan gaya dengan alat peraga. Sebaliknya kegiatan siswa pada tahap akhir adalah: 1) Secara individu siswa mengerjakan tes formatif. 2) Dengan bimbingan guru siswa menilai sendiri hasil tes pemahamannya tentang pengaruh gaya dorongan dan gaya tarikan dapat merubah gerak benda. 3) Mengerjakan LKS / tugas yang diberikan guru.

 

b.   Pelaksanaan

Penerapan metode bervariasi pada kegiatan awal tampak pada saat guru mengadakan apersepsi dengan cara bertanya jawab mengaitkan topik dengan pengetahuan awal siswa dengan pertanyaan. “Kalian tentunya masih ingat inti pembelajaran minggu lalu. Jawablah pertanyaan berikut ini, dengan cara mengacungkan tangan. Bila bola ditendang apa yang terjadi pada bola tersebut? Apa nama gerakannya? Siswa tampak berebut akan menjawab, saya, saya sambil mengacungkan tangan. Guru menunjuk siswa yang akan mengacungan tangan paling awal. Guru tampak mengamati siswa yang mengacungkan tangan lebih dahulu. Guru mengacungkan ibu jarinya ketika siswa menjawab benar, untuk penguatan, dan tampaknya memotivasi siswa untuk menjawab pertanyaan secara lisan. Kegiatan berikutnya guru menjelaskan tujuan dan langkah-langkah pembelajaran dan menyampaikan gambaran inti pembelajaran. Siswa tampak memperhatikan, terlihat dari komentar anak setelah ini diskusi untuk mengerjakan LKS, ya Bu?

Pelaksanaan tindakan pada kegiatan inti dimulai oleh guru dengan membagikan lembar LKS kepada semua siswa. Kemudian guru mendemonstrasikan alat peraga sesuai materi sambil mengatakan bahwa LKS itu nanti dikerjakan tapi perhatikan dulu alat peraga ini. Sambil mengamati ada anak yang pekerjaannya kepada temannya serta memperhatikan guru. Setelah waktu yang diberikan habis siswa disuruh memperhatikan guru menjelaskan tentang nama gerak suatu benda dan gaya dorong / tarik Tindakan berikutnya adalah memberi kesempatan pada siswa untuk bertanya dan menjawab pertanyaan temannya. Mula-mula ada lima anak yang bertanya. Guru menawarkan kepada anak lain untuk menjawabnya sebelum guru memantapkan jawaban. Guru menyarankan agar tidak khawatir salah bertanya, pertanyaan ditulis dulu di buku. Saran guru diperhatikan, hal itu terlihat ada lagi siswa yang bertanya dengan membaca dari buku. Sebelum kerja kelompok mengerjakan LKS, guru menjelaskan gunanya kerja kelompok. cara kerja kelompkok yang baik, pembagian tugas masing-masing anggota kelompok namun siswa masih malu-malu. Hal ini tampak pada saat penyampaian hasil diskusi kelompok belum ada pembagian tugas siapa yang bertugas menyampaikan hasil pengerjaan LKS, mereka masih saling menunjuk. Saat kerja kelompok mereka sudah mulai berinteraksi. Pada kegiatan siswa secara individual ditugasi menunjuk gaya dorong itu yang bagaimana, siswa sudah tampak berani. Hal ini guru menggunakan strategi pertanyaan dibacakan, siswa mengamati alat peraga yang  dipegangnya, bila sudah ketemu mengacungkan tangan. Kegiatan inti diakhiri dengan menyimpulkan materi pembelajaran, di sini siswa memperhatikan.

Pelaksanaan tindakan pada kegiatan akhir siswa secara individu mengerjakan tes formatif. Siswa tampak aktif sesuai dengan waktu yang direncanakan. Selanjutnya siswa dibimbing untuk menilai sendiri hasil tesnya. Di sini siswa ramai karena belum terbiasa dan setiap ada perbedaan jawaban meskipun maksudnya sama selalu ditanyakan kepada guru, sehingga belum tuntas dan guru masih harus memeriksa lagi. Sebagai tindak lanjut guru menugasi untuk mengerjakan LKS.

c.   pengumpulan data

Keberhasilan tindakan ini berdasarkan. hasil pengamatan selama pelaksanaan tindakan dan sesudah tindakan dilaksanakan. Teman sejawat mengamati perilaku guru dan siswa. Adapun aspek yang diamati adalah keterlibatan guru dan siswa selama proses pembelajaran yang meliputi kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir.

Berdasarkan diskusi hasil pengamatan, tindakan pada tahap kegiatan awal ini yang belum berhasil adalah penjelasan langkah-langkah pembelajaran. Penjelasan langkah-langkah pembelajaran belum disampaikan secara rinci dan jelas. Ini tampak setiap kali selesai satu langkah kegiatan siswa masih diam menunggu perintah dari guru.

Pada tahap kegiatan inti indikator yang belum berhasil adalah kegiatan bertanyajawab, baru sekitar 50% siswa yang aktif terlibat diskusi kelompok, kegiatan penyamaan persepsi.

Untuk kegiatan akhir tindakan yang belum berhasil adalah kegiatan siswa menilai pekerjaan sendiri. Dari hasil diskusi ada 5 indikator yang belum berhasil. Sehingga dapat dikatakan bahwa keberhasilan guru baru 9 indikator dari 13 indikator yang direncanakan, atau 69,2%.

Adapun keberhasilan siswa dalam tes formatif sebagaimana dipaparkan berikut ini.

Tabel 3.3. Hasil Tes Formatif Siklus II

No Nama Siswa Nilai Siklus II Kemampuan Nilai Tertinggi/ Terendah

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

Yulianah 

Aris Muhartono

Bagus Saputro

Eko Siyamkuwari S.

Eko Siyamkuwari B.

Francisca Brazillia

Ferina Aiyus Z.

Khoirotun Nisa

M. Yunus Abdi W.

M. Yacob Ariyono

Mursanti

Mia Anggraeni

Moch Nur Rochman

Nur Fardhatilla

Nur Oktaviana

Nurulia azizah

Ulfa Dwi Anggaini

Winda Priatiningsih

Dwi Wahyu R.

Sapto Agung M

7

6

4

4

7

7

8

6

7

7

9

9

9

8

6

7

8

9

9

+

+

-

-

+

-

+

+

+

+

+

-

+

+

-

+

+

+

+

Terendah 

Terendah

Terendah

Tertinggi

Tertinggi

Tertinggi

Tertinggi

Tertinggi

Jumlah 

Rata-rata

140 

7

 

Dari tabel diatas dapat dijelaskan bahwa nilai rata-rata yang dicapai siswa adalah 7. Nilai tertinggi yang dicapai siswa adalah 9, sedangkan nilai terendah yang dicapai siswa adalah 4. Siswa yang mendapatkan nilai dibawah 6 sejumlah 3 orang yakni 6,9% yang mencapai nilai 6 ke atas sejumlah 17 atau 93,1%.

 

d.   Refleksi Tindakan siklus kedua

Agar semua siswa aktif dan tidak selalu menunggu perintah guru, penjelasan langkah-langkah pembelajaran perlu disampaikan, agar siswa tahu kegiatan berikutnya tanpa menunggu informasi dari guru.

Pada kegiatan inti pembelajaran ada beberapa indikator yang belum berhasil yakni: pada saat anak diberi kesempatnn bertanya dan menjawab pertanyaan temannya. belum semua anak aktif. Agar semua aktif sebaiknya bagi anak yang sulit mengungkapkan pertanyaan secara langsung disarankan bagi yang tidak bertanya, tugasnya menjawab pertanyaan temannya. Pada saat kerja kelompok pembagian tugas dari masing-masing anggota kelompok perlu ditegaskan. Yang menjadi ketua perlu dicatat oleh guru sehingga saat melaporkan hasil tidak saling menunjuk sehingga langkah ini waktunya panjang.

Untuk kegiatan akhir menilai sendiri hasil tes perlu dilaksanakan karena selain melatih kejujuran siswa juga akan mengurangi tugas guru apabila siswa sudah terbiasa melakukannya. Waktu yang dipakai untuk tindakan siklus kedua sudah sesuai dengan rancangan tepat 70 menit.

3.  Siklus 3

a. Perencanaan

Dengan memperhatikan refleksi siklus kedua penulis melakukan tindakan perbaikan pembelajaranIPA tentang gaya dorongan dan gaya tarikan dapat merubah gerak suatu benda pada siklus ketiga. Adapun pelaksanaannya sebagaimana terurai berikut ini. Kegiatan guru pada tahap awal, adalah: 1) Membuka pelajaran. 2) Mengaitkan topik dengan pengetahuan awal siswa dengan cara tanya jawab. 3). Menyampaikan tujuan dan langkah-langkah pembelajaran. 4). Menyampaikan gambaran inti pembelajaran. Adapun kegiatan siswa adalah : 1) Merespon apa yang disampaikan guru. 2) Menjawab pertanyaan guru 3) Memperhatikan penjelasan tentang tujuan dan langkah-langkah pembelajaran yang akan diikuti. 4) Memperhatikan penjelasan guru menyampaikan gambaran inti pembelajaran.

Tindakan perbaikan pada kegiatan inti adalah: 1) memperlihatkan alat peraga yang sesuai dengan materi. 2) Menugasi siswa menyimak penjelasan guru tentang alat peraga yang akan di demontrasikan. 3)Memberi kesempatan siswa untuk bertanya dan menjawab.4) Secara kelompok siswa mengamati alat perga dengan mengerjakan LKS. 5) Guru membimbing siswa untuk rnenyamakan persepsi hasil pekerjaan LKS nya. 6) Secara individual siswa menunjukkan nama gaya dorongan dan gaya tarikan secara lisan. 7) Guru menyimpulkan materi pelajaran. Sebaliknya, kegiatan siswa pada tahap inti adalah: l)Siswa memperhatikan penjelasan guru. 2) Menyimak penjelasan guru. 3) Siswa bertanya dan dijawab atau direspon siswa yang lain. 4) Siswa berkelompok mengerjakan LKS sambil mengamati alat peraga. 5) Secara kelompok menyampaikan hasil diskusi dan ditanggapi kelompok lain. 6) Secara individu siswa melaksanakan tugas guru. 7) Siswa memperhatikan.

Tindakan guru pada kegiatan akhir    adalah :  1) Mengevaluasi kemampuan  siswa. 2)  Menugasi siswa mengerjakan LKS. Sebaliknya kegiatan siswa pada tahap akhir adalah; 1) Secara individu siswa mengerjakan tes formatif. 2) Dengan bimbingan guru siswa menilai sendiri hasil tes pemahamannya tentang gaya dorongan dan gaya tarikan 3) Mengerjakan tugas  sebagai tindak lanjut.

Penerapan metode bervariasi pada kegiatan awal tampak pada saat guru mengadakan apersepsi dengan cara bertanya jawab mengaitkan topik dengan pengetahuan awal siswa dengan pertanyaan. Guru menunjuk siswa yang mengacungkan tangan paling awal. Guru memberi penguatan dengan mengatakan bagus, pinter, sebagai penguatan Siswa tampak termotivasi dan sebagian besar aktif untuk menjawab pertanyaan. Kegiatan berikutnya guru menjelaskan tujuan dan langkah-langkah pembelajaran Penjelasan langkah-langkah ini disampaikan secara tegas dan tampak murid memahami. Menyampaikan gambaran inti pembelajaran terlaksana dengan baik.

 

b.   Pelaksanaan

Pelaksanaan tindakan pada kegiatan inti dimulai oleh guru dengan membagikan lembar LKS kepada semua siswa. Kemudian guru meragakan dengan alat peraga anak sudah tahu bahwa alat peraga yang dipegangnya sama dengan yang di ibu guru. Hal tersebut tampak, setelah menerima langsung diamati tidak ada yang mau menjawab. Setelah waktu yang diberikan habis siswa   memperhatikan guru menjelaskan gaya dengan menggunakan alat peraga. Tindakan berikutnya adalah memberi kesempatan pada siswa untuk bertanya dan menjawab pertanyaan temannya. Anak-anak tampaknya sudah    mulai    hafal    langkah-langkah   pembelajaran.    Guru    belum menawarkan,   hampir    semua    anak    mengacungkan   tangan    sambil mengucapkan “tanya Bu!, saya Bu!, saya dulu Bu!” Anak yang tidak mengacungkan tangan juga mau menjawab. Barulah guru memantapkan jawaban pertanyaan. Saran guru agar tidak khawatir salah bertanya, pertanyaan ditulis dulu di buku. Saran guru diperhatikan, hal itu terlihat siswa yang bertanya semakin banyak dan yang tidak bertanya juga mau menjawab. Sebelum kerja kelompok mengerjakan LKS, guru menjelaskan gunanya kerja kelompok, cara kerja kelompok yang baik, pembagian tugas masing-masing anggota kelompok. Namun belum semua siswa aktif dalam  diskusi. Anak yang pandai  tampak tidak sabar.  Belum ada kesadaran menyampaikan pengalaman belajar kepada temannya yang kurang. Tetapi pada saat menyampaikan hasil kerja kelompok masing-masing kelompok sudah siap  wakilnya.  Pada kegiatan  siswa secara individual ditugasi menunjuk gaya dorong dan tarikan, siswa sudah tampak berani. Hal ini guru menggunakan strategi pertanyaan dibacakan, siswa mengamati alat peraga yang    dipegangnya,    bila    sudah   ketemu mengacungkan  tangan. Kegiatan  inti diakhiri dengan  menyimpulkan materi pembelajaran, di sini siswa memperhatikan.

Pelaksanaan tindakan pada kegiatan akhir, siswa secara individu mengerjakan tes formatif. Siswa tampak aktif sesuai dengan waktu yang direncanakan. Selanjutnya siswa dibimbing untuk menilai sendiri hasil tesnya. Di sini siswa ramai karena ada yang melaporkan temannya., jawaban salah dibetulkan. Sehingga belum tuntas dan guru masih harus memeriksa lagi. Sebagai tindak lanjut guru mengumpulkan hasil pekerjaan dari anak-anak  dan belum  dikomentari,  masih akan diperiksa.

c.   Pengumpulan Data .

Keberhasilan tindakan ini berdasarkan hasil pengamatan selama pelaksanaan tindakan dan sesudah tindakan dilaksanakan.Teman sejawat mengamati perilaku guru dan siswa. Adapun aspek yang diamati adalah keterlibatan guru dan siswa selama proses pembelajaran yang meliputi kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir.

Berdasarkan diskusi    hasil pengamatan,   tindakan    pada tahap kegiatan awal ini sudah terlaksana dengan baik. Tiga indikator terlaksana, pada tahap kegiatan inti indikator yang belum berhasil adalah kegiatan diskusi kelompok dan penyamaan persepsi hasil diskusi belum terlaksana dengan baik. Untuk kegiatan akhir tindakan yang belum berhasil adalah kegiatan siswa menilai pekerjaan sendiri.

Tabel 3.4  Hasil Tes Formatif Suklus III

No Nama Siswa Nilai Siklus III Kemampuan Nilai Tertinggi/ Terendah

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

Yulianah 

Aris Muhartono

Bagus Saputro

Eko Siyamkuwari S.

Eko Siyamkuwari B.

Francisca Brazillia

Ferina Aiyus Z.

Khoirotun Nisa

M. Yunus Abdi W.

M. Yacob Ariyono

Mursanti

Mia Anggraeni

Moch Nur Rochman

Nur Fardhatilla

Nur Oktaviana

Nurulia azizah

Ulfa Dwi Anggaini

Winda Priatiningsih

Dwi Wahyu R.

Sapto Agung M

7

7

4

4

7

8

8

7

7

7

10

10

10

8

7

7

8

9

9

+

+

-

-

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

Terendah 

Terendah

Tertinggi

Tertinggi

Tertinggi

Jumlah 

Rata-rata

148 

7,4

 

Dari tabel di atas dapat djelaskan bahwa nilai nta-rata yang dicapai siswa adalah 7,4. Nilai tertinggi yang dicapai siswa adalah 10, sedangkan nilai terendah yang dicapai siswa adalah 4. Siswa yang mendapatkan nilai dibawah

6 sejumlah 3 orang yakni  6,9%, yang mencapai nilai 6 ke atas sejumlah 17 atau 93,1%. Waktu yang digunakan pada siklus ketiga ini 70 menit, dan sisa waktu yang ada digunakan siswa untuk memperbaiki pekerjaannya yang telah dibuat sebagai tindak lanjut.

d.   Refleksi Tindakan Siklus III

Dalam tahap ini penulis bersama teman sejawat guru melakukan analisis terhadap hasil-hasil yang telah dicapai, kendala dan dampak perbaikan pemebelajaran terhadap guru dan siswa pada siklus III.

Refleksi dilakukan berdasarkan data yang diperoleh penulis bersama teman sejawat guru dari : catatan-catatan hasil observasi, hasil evaluasi dalam proses dan akhir perbaikan pembelajaran. Hasil refleksi III selanjutnya penulis bersama teman sejawat gunakan sebagai dasar bagi penyusunan RPP untuk ujian PKP.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  1. A. HASIL PENELITIAN

1.   Siklus 1

Berdasarkan hasil penelitian maka didapatkan data prestasi belajar siswa Siklus I sebagai berikut :

Tabel 4.1 Prestasi Belajar siswa Siklus I

No Nama Siswa Nilai Siklus I Kemampuan Nilai Tertinggi/ Terendah

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

Yulianah 

Aris Muhartono

Bagus Saputro

Eko Siyamkuwari S.

Eko Siyamkuwari B.

Francisca Brazillia

Ferina Aiyus Z.

Khoirotun Nisa

M. Yunus Abdi W.

M. Yacob Ariyono

Mursanti

Mia Anggraeni

Moch Nur Rochman

Nur Fardhatilla

Nur Oktaviana

Nurulia azizah

Ulfa Dwi Anggaini

Winda Priatiningsih

Dwi Wahyu R.

Sapto Agung M

6

5

2

2

7

7

8

5

5

7

9

8

9

8

4

7

7

9

7

+

+

-

-

+

+

+

-

-

+

+

+

+

+

-

+

+

+

+

Terendah 

Terendah

Tertinggi

Tertinggi

Jumlah 

Rata-rata

124 

6,2

 

Dari data yang ada didapatkan bahwa nilai rata rata prestasi siswa adalah 6,2 dengan nilai tertinggi adalah  9 dan nilai terendah 2  sedangkan nilai yang  dibawah 7 adalah 6 siswa atau 30 persen. Sedangkan jumlah siswa yang mendapatkan 7 ke atas sebesar 14 siswa atau 70 %.

 

2. Siklus 2

Berdasarkan hasil penelitian maka didapatkan data prestasi belajar siswa Siklus II sebagai berikut :

Tabel 4.2 Prestasi Belajar siswa Siklus II

No Nama Siswa Nilai Siklus II Kemampuan Nilai Tertinggi/ Terendah

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

Yulianah 

Aris Muhartono

Bagus Saputro

Eko Siyamkuwari S.

Eko Siyamkuwari B.

Francisca Brazillia

Ferina Aiyus Z.

Khoirotun Nisa

M. Yunus Abdi W.

M. Yacob Ariyono

Mursanti

Mia Anggraeni

Moch Nur Rochman

Nur Fardhatilla

Nur Oktaviana

Nurulia azizah

Ulfa Dwi Anggaini

Winda Priatiningsih

Dwi Wahyu R.

Sapto Agung M

7

6

4

4

7

7

8

6

7

7

9

9

9

8

7

7

8

9

9

+

+

-

-

+

-

+

+

+

+

+

-

+

+

-

+

+

+

+

Terendah 

Terendah

Terendah

Tertinggi

Tertinggi

Tertinggi

Tertinggi

Tertinggi

Jumlah 

Rata-rata

140 

7

 

Dari data yang ada didapatkan bahwa nilai rata rata prestasi siswa adalah 7,00 dengan nilai tertinggi adalah  9 dan nilai terendah 4  sedangkan nilai yang  dibawah 7 adalah 7 siswa atau 35 persen. Sedangkan jumlah siswa yang mendapatkan 7 ke atas sebesar 14 siswa atau 65 %.

 

  1. 3. Siklus 3

Berdasarkan hasil penelitian maka didapatkan data prestasi belajar siswa Siklus II sebagai berikut :

 

Tabel 4.3 Prestasi Belajar siswa Siklus III

No Nama Siswa Nilai Siklus III Kemampuan Nilai Tertinggi/ Terendah

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

Yulianah 

Aris Muhartono

Bagus Saputro

Eko Siyamkuwari S.

Eko Siyamkuwari B.

Francisca Brazillia

Ferina Aiyus Z.

Khoirotun Nisa

M. Yunus Abdi W.

M. Yacob Ariyono

Mursanti

Mia Anggraeni

Moch Nur Rochman

Nur Fardhatilla

Nur Oktaviana

Nurulia azizah

Ulfa Dwi Anggaini

Winda Priatiningsih

Dwi Wahyu R.

Sapto Agung M

7

7

4

4

7

8

8

7

7

7

10

10

10

8

7

7

8

9

9

+

+

-

-

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

Terendah 

Terendah

Tertinggi

Tertinggi

Tertinggi

Jumlah 

Rata-rata

148 

7,4

 

Dari data yang ada didapatkan bahwa nilai rata rata prestasi siswa adalah 7,40 dengan nilai tertinggi adalah 10 dan nilai terendah 4  sedangkan nilai yang  dibawah 7 adalah 2 siswa atau 10 persen. Sedangkan jumlah siswa yang mendapatkan 7 ke atas sebesar 18 siswa atau 90 %.

UNTUK LEBIH LENGKAP DAN JELAS SILAHKAN DOWNLOAD FILE DI SINI

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


DAFTAR PUSTAKA

Kemp,Jerrold E. 1985. Proses Perancangan Pengajaran. Terjemahan oleh Asril Marjihan. 1994. Bandung : ITB.

 

Usman, Moh Uzer & Lilis Setiyawati. 1993 Upaya Optimalisasi kegiatan Belajar Mengajar. Bandung : Remaja Rosdakarya.

 

Wardani, Wihardit, Noehi Nasoetion. 2003. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Universitas Terbuka.

 

Winata putra, Udin. Dkk. 1998. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Depdikbud. Hasan, yusman Basri. 1998. Petunjuk Guru IP. Jakarta ; Depdikbud.

 

Djahiri, KA. Dan Daniel E. 1997. Petunjuk Guru Iimu Pengetahuan Sosial 3 Untuk Sd Kelas 5, Jakarta : Balai pustaka.

 

Poppy K. Dewi. Yayat Ibati, ” Tangkas Iimu pengetahuan Alam 4” Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

 

Sumantri, Mulyani, syoodiq, nana 2002 Perkembangan Peserta Didik Jakarta, Universitas terbuka.

 

Syamsudin, Abin, Budiman, Nandang, 2002 Profesi Keguruan 2, Jakarta, Universitas Terbuka.

 

Wardani, I.G.A.K Wihardi, kusmaya, nasution nochi 2002. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta, Universitar terbuka.

 

Wardani, I.G.P.K siti julaeha, M.A Pemantapan Kemampuan Profesional, Jakarta, Universitas Terbuka.

 

 


Peningkatan Aktivitas dan Prestasi Belajar Siswa Dalam Pembelajaran Matematika Pada Pokok Bahasan Bilangan Bulat Dengan Menggunakan Teknik Permainan Matematika


JUDUL SEKRIPSI :

“Peningkatan Aktivitas dan Prestasi Belajar Siswa Dalam Pembelajaran Matematika Pada Pokok Bahasan Bilangan Bulat Dengan Menggunakan Teknik Permainan Matematika Di Kelas V SD ………..”

LATAR BELAKANG :

Pendidikan di Sekolah Dasar (SD) merupakan hal yang sangat penting karena pendidikan di SD akan menjadi dasar bagi pendidikan selanjutnya. Untuk itu setiap pembeljaran yang diberikan di SD perlu diarahkan kepada pembentukan fondasi yang kokoh yaitu terbentuknya konsep dasar yang kuat pada diri siswa sehingga siswa siap untuk mempelajari materi selanjutnya. Matematika sebagai salah satu mata pelajar di SD perlu mendapatkan perhatian khusus sebab Matematika mendasari beberapa bidang ilmu lainya seperti Fisika, Biologi, Kimia, farmasi, dan Ekonomi. Mengingat sangat pentingnya Matematika baik dalam ilmu – ilmu yang lain maupun dalam kehidupan sehari-hari maka pemerintah telah menetpkan tujuan pembelajaran matematika pada jenjang pendidikan dasar yaitu : Agar siswamemiliki kemampuan yang dapat dialihgunakan melalui kegiatan Matematika, memiliki pengetahuan matematika sebagi bekal untuk melanjutkan pendidikan dijenjang berikutnya, memiliki keterampilan matematika untu dapat digunkan dalam kehidupan sehari-hari, memiliki pandangan yang cukup luas, memiliki sikap logis, kritis, cermat dan disiplin serta menghargai kegunaan matematika. (Depdikbud, 1993) Berbagai upaya telah dan dilakukan pemerintah untuk mencapai tujuan tersebut yaitu dengan melaksanakan penataran-penataran bagi para guru untuk mengikuti pendidikan lanjut dan penyempurnaan kurikulum. Tetapi untuk mewujudkan tercitapnya peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan tidaklah mudah, banyak hambatan yang dialami khusunya di dalam kegiatan pembelajaran. Hambatan-hambatan yang dialami mengakibatkan prestasi belajar siswa belum mencapai tuntutan kurikulum, terutama pada mata pelajaran Matematika (Srinivasa, 2002). Salah satu hal yang mempengaruhi prestasi belajar siswa adalah pengalaman siswa, dimana pengalaman siswa belajar Matematika sangat dipengaruhi oleh teknik yang digunakan oleh guru dalam pembelajaran. Sejalan dengan uraian di atas maka guru dituntut agar mampu menyiasati dan mencermikan keadaan tersebut sehingga dalam pembelajaran di kelas menjadi efektif. Salah satunya dengan pemilihan teknik yang sesuai dengan materi yang akan disampaikan. Berdasarkan observasi dan wawancara dengan guru Kelas V SD No…………… yaitu ……………………., terungkap bahwa aktiviatas belajar siswa sangat kurang dan prestasi belajar siswa masih rendah. Pada tahun pelajaran 2001/2002 dan 2002/2003, rata-rata nilai ulangan harian siswa untuk pokok bahasan bilangan bulat berturut-turut adalah 5.50 dan 5,70. Dari hasil ulangan yang rendah, siswa beranggapan bahwa matematika adalah pelajaran yang sulit dan akhirnya siswa tidak berminat untuk mempelajarinya. Demikian juga pembelajaran matematika yang bisa dilakukan yang biasa dilakukan oleh guru: 1. Masih konvensional yaitu dengan menjelaskan, memberi contoh, memberi soal latihan dan PR, yang semuanya hanya berupa aplikasi konsep atau rumus kedalam bilangan-bilangan serta tidak ada aplikasi dalam kehidupan sehari-hari. 2. Dalam pembelajaran Matematika di kelas siswa sering merasa tidak senang terhadap mata pelajaran matematika, karena guru dalam mengajar cenderung mendominasi kelas, yaitu tidak memberikan kesempatan bagi siswa untuk bertanya. 3. Kurang bergairahnya siswa dalam mengerjakan soal latihan yang deberikan oleh guru, karena guru kurang memperhatikan siswa yang masih berada dalam tahap operasi konkret dan tidak memanfaatkan kognitif siswa dalam usia bermain untuk kegiatan pembelajaran, sehingga siswa kelihatan jenuh terhadap mata pelajaran Matematika. 4. Masih adanya siswa yang bermain-main sendiri / sesama teman di dalam kelas saat pembelajaran berlangsung, disebabkan karena siswa SD memang sebenarnya masih dalam usia bermain. Berdasarkan uraian di atas memberikan dampak bahwa pembelajaran Matematika menjadi kurang menarik, hal ini mempengaruhi menurunnya keaktifan siswa secara mental dalam memahami konsep matematika dalam pembelajaran dan akan berpengaruh pada prestasi belajar siswa, dan mata pelajaran matematika dianggap sukar. Siswa SD yang tahap berpikirnya berbeda pada tahap operasi knkret, dalam memahami konsep matematika masih memerlukan bantuan benda-benda konkret. Salah satu karakteristik dari tahap operasi konkret yaitu, pada permulaan tahap ini egoisme mengurang. Mereka mulai bersedia bermain dengan anak-anak lain, mengijinkan anak-anak lain menggabungkan dari bermain dalam permainan pribadinya. Berdasarkan uraian di atas maka penulis akam mencoba menerapkan teknik permainan- matematika ke dalam pembelajaran. Hudoyo (1989), mengatakan bahwa prinsip dari permainan-Matematika adalah peserta didik belajar sambil bermain, belajar sambil mngobservasi, dan dimulai dari konkret ke abstrak. Siswa belajar dengan cara memanipulasi benda-benda konkret (nyata) untuk memahami suatu konsep atau keterampilan tertentu. Permainan-matematika menyebabkan tidak merasa tegang di dalam belajar Matematika. Melalui permainan-matematika, guru juga dapat membuat siswa merasa ikut ambil bagian di dalam kegiatan pembelajaran yang diprogramkan guru. Untuk itu guru dituntut menciptakan kegiatan yang menyebabkan siswa senang dan asyik dalam mempelajari matematika. Salah satu kegiatan yang membuat siswa berprilaku dan berada dalam suasana di atas adalah melalui permainan-matematika khususnya bilangan bulat. Kesempatan berkompetisi juga dapat menjadi daya tarik tersendiridalam permainan-matematika, dan ini menyebabkan siswa akan bersaing untuk menguasai konsep maupunketerampilan yang dituntut dalam permainan tersebut, dengan tujuan agar mereka dapat keluar sebagai pemenangnya. Pada tahap operasi konkret ini siswa sangat menyenangi permainan sehingga aktivitas siswa dalam pembelajaran menjadi aktif. Permainan – matematika merupakan selingan untuk memotivasi siswa yang kemampuan kognitifnya berada pada tahap operasi konkret agar dapat lebih mudah memahami pelajaran sehingga diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

SILAHKAN DOWNLOAD FILE DI SINI


Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Dalam Pembelajaran Kosakata Dengan Menggunakan Media Gambar Di Kelas IV SD


A. JUDUL PENELITIAN

Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Dalam Pembelajaran Kosakata Dengan Menggunakan Media Gambar Di Kelas IV SD Negeri 3 Pohsanten Tahun Pelajaran 2008/2009

B. LATAR BELAKANG

Pelajaran kosakata sangat memegang peranan penting dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan, pengajaran kosakata diajarkan sacara implisit artinya pengajaran kosa kata diajarkan bersama dengan wawancara yang muncul pada saat pembelajaran pada saat itu, atau tidak secara mandiri. Pengajaran kosakata diajarkan secara kontekstual dan integrative. (diknas, 2003 : 26).

Setelah diadakan wawancara dengan guru-guru yang berpengalaman mengajar Bahasa Indonesia yang diobservasi, dapat disimpulkan bahwa pada umumnya siswa kelas IV SD Negeri 3 Pohsanten tahun ajaran 2008/2009 pengusaan kosakata anak-anak sangat rendah. Nilai rata-rata siswa dalam pengusaan kosakata sebesar 54. Data in diperoleh dari hasil tes formatif pada daftar nilai dari hasil wawancara rekan-rekan guru Bahasa Indonesia terdahulu.

Rendahnya penguasaan kosakata siswa dalam Bahasa Indonesia dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain : (1) Minimnya pengetahuan siswa, (2) Rendahnya kemauan siswa terhadap bacaan. (3) Kurangnya media dalam pengajaran kosakata. (4) Rendahnya kualitas tugas-tugas siswa dan, (5) Kurang tepatnya teknik dan pendekatan yang dipergunakan oleh guru dalam proses belajar mengajar.

Di antara faktor yang telah diuraikan diatas dalam pengajaran kosakata dalam Bahasa Indonesia, penggunaan media yang kurang tepat adalah faktor paling dominan. Guru secara terus-menerus memperkenalkan kosakata secara verbal tanpa melalui konteks dan diimbangi dengan media pembelajaran. Siswa tidak pernah tertarik dengan penjelasan guru dalam peroses belajar mengajar. Guru secara monoton menjelaskan tanpa menyesuaikan dengan kondisi dan situasi siswa. Kegiatan interaksi antara siswa maupun terhadap gurusangat kurang. Oleh karena itu peningkatan penguasaan pengetahuan kosa kata siswa tidak optimal.

Untuk mengatasi hal tersebut perlu penggunaan media pembelajaran yang menyenangkan, praktis, mudah diperoleh, komunikatif, kentekstual dan sesuai dengan makna ajar. Sehingga pengajaran kosakata dengan mengunakan media pembelajaran, terbuka peluang bagi siswa untuk berinteraksi, berlatih menganalisi, dan menyimpulkan penggunaan dari pada kosakata yang dipelajari.

C. PERUMUSAN MASALAH

Mengacu pada gejala yang ditemukan di lapangan maka penelitian ini dilakukan dengan rumusan masalah sebagai berikut.

  1. Bagaimana meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran kosakata dengan menggunakan media gambar di kels IV SD Negeri 3 Pohsanten ?

D. TUJUAN PENELITIAN

Pada sub ini akan dibahas tentang tujuan penelitian secara singkat sebagai berikut :

  1. Meningkatkan hasil belajar siswa Kelas IV Semester Ganjil Sekolah Dasar Negeri 3 Pohsanten Tahun Pelajaran 2008/2009dalam pelajaran Kosakat dengan menggunakan Media Gambar

E. MANFAAT PENELITIAN

Pada sub bab ini akan diuraiakan mengenai manfaat dari hasil penelitian sebagai beriku :

  1. Bagi guru, penelitian ini dapat dijadikan pedoman dalam mengajarkan pembelajaran kosakata bahasa Indonesia untuk merancang pembelajaran kosakata yang inofatif dan sebagai suatu alaternatif dalam mengoptimalkan waktu belajar siswa sehingga pembelajaran lebih bermanfaat .
  2. Bagi siswa, penelitain ini melatih siswa untuk berpartisipasi dan berinteraksi secara aktip dalam peroses pembelajaran baik antara siswa denang siswa maupun siswa dengan guru, dan
  3. Bagi sekolah, intuisi yang diperoleh dari hasil penelitian dapat dijadikan masukan dalam upaya meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan melalui penggunaan media gambar dalam pelajaran kosakata dalam Bahasa Indonesia.

F. HIPOTESIS TINDAKAN

Melalui Media Gambar dalam pembelajaran kosakata dalam Bahasa Indonesia kelas IV semester ganjil SD Negeri 3 Pohsanten Tahun pelajaran 2008/2009 hasil belajar dapat ditingktkan.

G. KAJIAN PUSTAK

  1. 1. Pengerian Kosakata

Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, yang disebut dengan Kosakata ialah arti kata, pembendaharaan kata atau kata yang sama artinya. (W.J.S.Poerwadarminto, 1982 : 524) Imam Syafi`ie dan Imam Machfudz memberikan penjelasan tentang kosakata bahwa yang disebut dengan kosakata ialah kta-kata yang mempunnyai persamaan arti atau perbendaharan kata (1993 : 4)

Dari kedua penjelasan di atas penulis berpendapat bahwa kedua pendapat tersebut sama, hanya cara pengungkapan sedikit agak berbeda namun intinya mempunnyai pengertian yang sama.

Kosa kata terbatas ialah kosakata yang muncul dan diajarkan sesuai dengan tema teks pada pembelajaran berlangsung misalnya :

-          Bangun-bangunan umum ; rumah sakit, kantor pos, pura, gereja, masjid, pagoda dan bank.

-          Kosakata terbatas tentang nama-nama pekerjaan ; guru, dokter, soppir, dan perawat.

-          Kosakata terbatas tentang alat-alat transportasi di udara dan di air ; kapal terbang, helikopter, kapal layar, kapal mesin. (Imam Syafi`I dan Imam Machfudz : 28)

2. Pengertian Media Pembelajaran

Istilah media pembelajaran berasal dari bahasa latin yang merupakan bentuk jamak dari “medium” yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Makna umumnya adalah segala sesuatu yang dapt menyallurkan informasi dari sumber informasi kepada penerima informasi. Proses belajar mengajar pada darasnya juga merupakan proses komunikasi, sehingga media yang digunakan dalam pembelajaran disebut media pembelajaran . (Aristo Rahadi, 2003 ; 9 )

Gagne ( dalam Diknas, 2003 : 9 ) mengartikan media sebagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang mereka untuk belajar. Sanada itu, Briggs (dalam Dikans , 2003 : 9 ) mengartikan media sebagai alat untuk memberikan perangsangan bagi siswa agar terjadi proses belajar.

Jenis-jenis Media pembelajaran

Menurut Rudy Bretz ( 1971 ) (dalam Diknas, 2003 : 19 ) mengidentifikasikan jenis-jenis media pembelajaran berdasarkan 3 unsur pokok, yaitu : suara, fisual dan gerak. Berdasarkan 3 unsur tersebut, Bretz mengkelasifikasikan media pembelajaran kedalam 7 kelompok, yaitu :

  1. Media audio
  2. Media cetak
  3. Media visual diam
  4. Media visual gerak
  5. Media audio semi gerak
  6. Media semi gerak
  7. Media audia visual diam

Terkait dengan jenis-jenis media pembelajaran yang diidentifikasi menjadi 3 unsur pokok dan dikelasifikasikan menjadi 7 kelompok media pembelajaran oleh Rudy Bretz, maka oleh Berlo (1960) dal buku teks universitas terbuka (2000 : 5.4 ) media pembelajaran secara singkat diidentifikasi menjadi 3 unsur pokok yaitu : Media Visual, Media Audio, Media audio Visual

1)      Media visual yaitu :

Media yang hanya dapat dilihat dengan menggunakan indera penggelihatan. Jenis media inilah yang sering digunakan guru-guru untuk membantu isi atau materi ajaran. Media visual ini terdiri dari media yang tidak dapat diproyeksikan (non-projected visual). Media yang dapat diproyeksikan ini dapat berupa gambar diam (still pictures ) atau bergerak (motion pictures). Media visual terdiri dari 3 kelompok

  1. media visual yang tidak diproyeksikan yaitu : media visual berupa gambar diam atau mati (still Pictures ). Gambar diam atau mati adalah gambar-gambar yang disajikan secara foto gerafik misalnya gambar tentang manusia, binatang, tempat, atau obyek lainnya yang ada hubungannya dengan materi pembelajaran yang akan disajikan pa da siswa. Gambar diam ini ada yang tunggal dan ada pula yang berseri, yaitu sekumpulan gambar diam yang saling berhubungan dengan gambar yang lainnya.
  2. Media grafis yaitu  : media pandang 2 dimensi (bukan foto grafik) yang dirancang secara kuhusu untuk mengkomunikasikan pesan pembelajaran. Unsur unsur yang terdapat media grafis ini adalah gambar dan tulisan. Media ini dapat digunakan untuk menggungkapkan fakta atau gagasan melalui penggunaan kata-kata, angka serta bentuk simbul (lambang). Karakteristik daripada media grafis ini adalah sederhana, dapat menarik perhatian, murah, dan mudah disimpan atau di bawa.
  3. Media relia dan model yaitu : media yang merupakan alat bantu visual dalam pembelajaran yang berfungsi memberikan pengalaman langsung kepada para siswa. Realia merupakan model dan obyek nyata dari suatu benda, mata uang, tumbuhan, dan binatang. Model adalah media 3 dimensi yang sering digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Media ini merupakan tiruan dari beberapa obyek nyata, seperti obyek yang terlalu besar, yang terlalu jauh, terlalu kecil, dan terlalu mahal yang terlalu sulit dibawa   kedalam kelas dan yang sulit dipelajari siswa wujud aslinya.

2)      Media audio yaitu :

media yang mengandung pesan dalam bentuk aoditif (hanya dapat didengar) yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian,dan kemauan para siswa untuk mempelajari bahan ajar. Media audio melipputi : program kaset suara dan program audio .Penggunaan media audio dalam kegiatan pembelajaran pada umumnya untuk melatih keterampilan yang berhubungan dengan asfek-aspek keterampilan medengarkan.

3)      Media aodia visual ialah :

media yang merupakan kombinasi audio dengan visual atau yang biasa disebut media pandang dengar. Suara barang tentu kalau mempergunakan media ini akan semakin lengkap dan optimal penyajian bahan ajar pada siswa, selain dari itu media ini dalam batas-batas tertentu dapat menggantikan peran atau tugas guru. Dalam hal ini guru tidak selalu perperan sebagai penyaji tetapi karena penyajian materi bisa diganti oleh media, peran guru bisa beralih menjadi fasilitaor belajar yaitu memberikan kemudahan bagi para siswa untuk belajar. Contoh dari media audio visual diantaranya :program vidio atau televisi pendidikan, vidio/televisi instruksional, dan program slide suara (sound slide).

Dalam penelitian tindakan kelas (PTK) ini penelitian menggunakan media gambar yang tidak diproyeksikan (non-projected visual).dalm media visual ini penelitian menggunakan gambar-gambar yang disajikan secara fotografik yang disesuaikan dengan IPA yang disajikan.

Adapun IPA yang disajikan dalam penelitian tindakan kelas (PTK) ini yaitu IPA tentang fungsinya struktur kerangka tubuh manusia dengan kerangka beberapa macam bagian kerangka tubuh manusia dalam fungsinya.

Pemilihan media visual yang tidak diproyeksikan dalam penelitian ini karena media gambar memiliki karakteristik sederhana dan mudah diproleh dengan keunggukan/keuntungan yang dapat diperoleh dalam emnggunakan media visual (media gambar diam) antara lain :

-       Media ini dapat menerjemahkan ide/gagasan yang sifatnya abstrak menjadi realistik.

-       Banyak tersedia dalam buku-buku (termasuk buku teks), majalah, surat kabar, kalender, dan sebagainya

-       Mudah menggunkannya dan tidak memerlukan peralatan lain

-       Tidak mahal bahkan mungkin tenpa mengeluarkan biaya untuk mengadakannya, dan

-       Dapat digunakan pada setiap tahap pembelajaran dan semua pelajaran/disiplin ilmu.

3. Hasil Belajar

Menurut Aristo Rahadi (2003 : 4), yang disebut dengan hasil belajar ialah hasil dari kegiatan belajar yang berupa perubahan perilaku yang relatif permanen dalam diri orang (siswa) yang belajar. Tentu saja perubahanyang diharapkan adalah perubehan kearah positif. Jadi sebagai pertanda bahwa seseorang telah melakukan proses belajar adalah terjadinya perubahan perilaku pada diri orang(siswa) tersebut. Perubahan tersebut dapat berupa : dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bisa menjadi terampil, dan pembohong menjadi terampil.

Safari, dkk. (2004 : 80 menjelaskan bahwa yang disebut dengan hasil belajar ialah suatu hasil yang diperoleh dari hasil tes yang diproleh siswa setelah berakhirnya proses belajar mengajar. Tujuan dari hasil belajar ini bagi siswa adalah sebagai butir-butir otntik, akurat, dan konsisten. Tujuan secara umum adalah untuk memberikan penghargaan terhadap pencapaian belajar siswa dalam memperbaiki program kegiatan pembelajaran untuk meningkatkan kualitas siswa dan guru terhadap pencapaian kompetensi yang telah ditetapkan.

Sumadi Surya Subrata (1990 : 320) memberikan penjelasan tambahan bahwa yang disebut dengan hasil belajar ialah suatu hasil yang diproleh oleh siswa setelah proses belajar itu pada saat evaluasi adalah untuk mengetahui sudah sejauh mana kemajuan anak didik itu.

Dari ketiga pendapat yang telah diuraikan di atas, penulis mempergunakan 2 pendapat diatas antara lain : pendapatnya Aristo Rahadi (2003 : 4) dan Safari, Dkk. (2004 : 8). Pertimbangan penulis adalah karena kedua pendapat tersebut yang paling cocok untuk mengkaji hasil belajar siswa.

4. Strategi Pembelajaran Dengan Media Gambar

Strategi pembelajaran dalam penggunan media visual ini bertitik tolak pada azas-azas didaktik dan penerapannya yaitu ; azas peragaan. Dalam penyajian kosakata ini peneliti memeragakan dengan mempergunakan gambar-gambar, foto, lukisan-lukisan yang sesuai dengan kosakata yang disajikannya.

Azas peragaan ini dikumandangkan oleh Prof> Bruner seorang penganut psikologi kognitif (dalam Harry Sukarman, 2003 : 14) menyatakan bahwa untuk mengajarkan konsep yang abstrak harus dimulai dari tahap konkrit ke semi konkrit, kemudian baru ke abstrak.

Penulis sangat sependapat dengan teori Burner dalam mengajarkan konsp-konsep benda abstrak dalam pembelajaran kosakata dalam Bahasa Indonesia maupun pelajaran lainnya. Terutama sekali bahan-bahan ajar yang sulit diperoleh dan bahan-bahan ajar yang sulit dibawa kwdalam kelas.

5. Langkah-Langkah penggunaan Media Gambar dalam Pembelajaran kosakata

Langkah-langkah penggunaan Media Gambar (visual) dalam pembelajaran Kosakat adalah seperti berikut.

  1. Guru menunjukkan gambar-gambar secara acak yang berhubungan dengan bangunan-bangunan umum, alat-alat transportasi udara, laut, darat dan gambar-gambar yang ada hubungannya dengan pekerjaan seseorang.
  2. Para siswa disuruh menebak gambar-gambar yang diperlihatkan oleh guru,
  3. Apabila siswa tidak bisa menjawab guru memberikan penjelasan tentang gambar-gambar yang telah diperlihatkannya untuk menuntun siswa ke arah jawaban.

6. Kerangka Berfikir

Telah dijelaskan di atas bahwa kelas IV semester Ganjil SD Negeri 3 Pohsanten tahun pelajran 2008/2009 nilai penguasaan kosakata terbatas bidang : bangunan umum, alat-alat transportasi udara, laut, darat dan kosakata terbatas tentang nama-nama pekerjaan seseorang sangat rendah yaitu 54. Hal ini disebabkan karena guru tidak pernah menggunakan media pembelajaran dalam menyajikan nama-nama benda/konsep-konsep bahan ajar yang absrak. Berdasarkan teori di atas, pelajaran dengan menggunakan media gambar diduga bahwa prosesakan lebbih sistematis, integratif, kontekstual, dan komunikatif, sehingga penguasaan siswa terhadap kosakata dapat ditingkatkan.

H. METODOLOGI PENELITIAN

  1. 1. Karakteristik Subjek Penelian

Subjek penelian ini adalah semua siswa Kelas IV Semester ganjil SD Negeri 3 Pohsanten tahun Pelajaran 2008/2009. Adapun jumlah siswa yang dijadikan subyek penelian berjumlah 11 orang.

  1. 2. Rancangan Pelaksanaan penelitian

Penelian ini merupakan penelian tindakan kelas, yang dilaksanakan dalam dua siklus pembelajaran.

Adapun rincian pembelajaran yang aakan dilaksanakan dalam penelitia tindakan kelas ini berlangsung selama 2 siklus pembelajaran seperti pada tabil berikut .

Tabel. 1.  Rincian materi pembelajaran kosakata dengan penggunaan media gambar selama dua siklus pembelajaran

siklus Topik/Materi/Judul Bacaan Waktu
I
  1. Kosakata tentang bangunan umum
  2. Kosakata Alat-alat transportasi udara, laut, dan darat,
  3. Kosakata bidang pekerjaan seseorang
2 x 40 menit (2 jam) pelajaran dibagi menjadi 2 tahap ; tahap pertama dipakai untuk kegiatan tes awal (40 menit), dan tahap kedua dipergunakan untuk memberikan arahan penggunaan media visual yang akan digunakan untuk siklus II
II
  1. Kosakata tentang bangunan umum
  2. Kosakata Alat-alat transportasi udara, laut, dan darat,
  3. Kosakata bidang pekerjaan seseorang
2 x 40 menit (2 jam pelajaran dibagi menjadi 2 tahap yaitu ; tahap pertama digunakan untuk pelaksanaan digunakan untuk pelaksanaan tes ( 40 menit ) dan tahap kedua digunakan untuk pelaksanaan tes angket terhadap pembelajaran yang dilaksanakannya dan pemberian arahan terhadap siswa yang penguasaannya masih kurang dan pemberian puji terhadap siswa prestasinya sudah baik.

1) Siklus I

Tahap Perencanaan

Berdasarkan hasil refleksi awal, maka direncanakan dan selanjutnya diadakan kegiatan awal berupates awal tentang kosakata terbatas yang erat hubungannya dengan bangunan umum, ala-alat trasportasi (udara, darat, air) dan nama-nama pekerjaan seseorang, namun tidak dijelaskan terlebih dahulu, karena tes ini diberikan dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan siswa dalam penguasaan kosakata terbatas yang meiputi : bangunan umum, alat-alat trasportasi (udara, darat, air) maupun kosakata terbatas mengenai nama-nama pekerjaan seseorang. Tes ini berfungsi sebagai umpan balik untuk memotifasi keseriusan siswa dalam pelajaran bahasa Indonesia, Khususnya kosakata.

Setelah kegiatan awal selesai siswa diberikan arahan tentang pembelajaran yang akan diterapkan pada siklus berikutnya yaitu siklus II. Kegiatan awal (siklus I) ini juga berfungsi sebagai jembatan untuk menuju judulkarya tulis penelitan tindakan kelas yang diangkat oleh penulis denggan judul “Meningkatan Hasil Belajar Siswa dalam Pembelajaran Kosakata dengan Menggunakan media Gambar Siswa kelas IV di SD Negeri 3 Pohsanten tahun Pelajaran 2008/2009.

Agar tindakan tersebut belajar dengan baik dan sesuai dengan tujuan penelitian yang dirumuskan, ada beberapa komponen penting yang disiapkan oleh peneliti meliputi:

  1. Menyiapkan materi paket soal tentang kosakata terbatas yang meliputi : bangunan umum, alat-alat trasportasi (udara, darat, air) maupun kosakata terbatas mengenai nama-nama pekerjaan seseorang
  2. Menyiapkan lembar kerja siswa dan
  3. Menyiapkan lembar observasi

Tahap Pelaksanaan Tindakan

Pada siklus I ini, tindakan yang dilakukan dibagi menjadi 2 tahap. Tahap pertama memberikan tes kosakata terbatas sesuai rencana selama 40 menit (1 jam pelajaran), dan tahap kedua memberikan arahan kepada siswa mengenai pembelajaran yang akan dilaksanakan untuk siklus berikutnya (siklus II).

Model tes yang dipergunakan ialah tes menjodohkan. Jumlah item tes sebanyak 10 butir soal.

Tahap Observasi

Observasi dilaksanakan selama pelaksanaan tindakan dengan mengamati prilaku aktivitas siswa yang tampak. Pada tahap ini peneliti hasil-hasil ang diperoleh dengan memperhatikan deskriptor-deskriptor yang tampak dan dicatat pada lember obsrvasi.

Tahap Refleksi

Refleksi diberikan dengan tujuan untuk melihat hasil observasi pada siklus I. berdasarkan hasil observasi pada siklus I, siswa terlihat antusias siswa dan aktif mengikuti pembelajaran namun ada beberapa orang siswa yang kebingungan mencari jawaban secara cepat, merka kebingungan menebak gambar-gambar. Ada siswa yang berkomentar gambar-gambar yang dilihat aneh, tak pernah dilihat sama sekali. Hal ini disebabkan karena guru dalam mengajar kosakata sifatnya verbal, tidak diimbangi dengan media pembelajaran secara interaktif, komunikatif dan tematis.

Penulis mengakui bahwa tingkat penguasaan kosakata siswa masih sangat rendah. Maka dengan demikian peneliti berusaha menciptakan situasi dan kondisi yang menyenangkan.

2) Siklus II

Pelaksanan siklus II didasarkan atas refleksi siklus I. adapun tindakan yang akan dilaksanakan dalam siklusi II ini berbeda tahapannya dengan siklus I. dalam siklus II ini diadakan selama 2 x 40 menit (2 jam pelajaran), dibagi menjadi 3 tahap, yaitu : tahap pertama selama 20 dipergunakan untuk menjelaskan pembelajaran yang disajikan, 40 menit dipergunakan untuk menjawab angket respon siswa terhadap pembelajaran yang dipergunakan untuk menjawab angket respon siswa diberikan saran-saran dan pujian-pujian untuk belajar lebih baik terutama bagi siswa yang penguasaan kosakatanya yang masih rendah.

Tahap Perencanaan

Hal-hal yang perlu diisikan dalam perencanaan ini antara lain :

  1. Menyiapkan materi paket soal tentang kosakata terbatas bidang bangunan umum, alat-alat trasportasi (udara, darat, air) maupun kosakata terbatas mengenai nama-nama pekerjaan seseorang.
  2. Menyiapkan lembar kerja siswa
  3. Menyiapkan lembar observasi, dan
  4. Lembar kuesioner untuk respon siswa terhadap pembelajaran yang dilaksanakan oleh peneliti.

Tahap Tindakan

Pada siklus II ini, tindakan dilakukan selama 2 jam pelajaran, yang dibagi menjadi 3 tahap yaitu : tahap pertama selama 20 menit dipergunakan untuk menjelaskan pembelajaran yang akan disajikan, 40 menit dipergunakan untuk melaksanakan tes, dan sisa waktu sebanyak 20 menit dipergunakan untuk menjadi angket respon siswa terhadap pembelajaran yang dilaksanakan oleh peneliti. Hal-hal yang dilakukan dalam pelaksanaan tindakan ini antara lain :

  1. Membagikan bacaan dengan paket soal,
  2. Membagikan lember kerja siswa
  3. Membagikan lembar observasi , dan
  4. Mebagikan soal angket sebagai respon siswa terhadap penerapan model pembelajaran yang diterapkan oleh peneliti

Tes yang diberikan pada siklus II ini adalah dipergunakan untuk mencari ketuntasan hasil belajar siswa selama 2 siklus pembelajaran.

Tahap Observai

Pelaksanaan observasi pada siklus II ini sama seperti siklus I, yaitu ; mengadakan observasi terhadap aktivitas belajar siswa selama mengikuti kegiatan pembelajaran, baik interaksi terhadap guru dengan siswa maupun interaksi siswa dengan siswa.

Aktivitas diamati dengan mempergunakan lembar observasi.

Tahap Refleksi

Pada tahap ini peneliti mengadakan refleksi kembali terhadap tindakan yang telah dilakukan.

Pada akhir siklus II ini, peneliti memberikan angket kepada seluruh siswa kelas IV. Dalam rangka untuk mengetahui resppon dari siswa terhadap pembelajaran yang telah dilaksanakan.

3. Instrumen dan cara pengumpulan data

Data yang dikumpulkan untuk dianalisis dalam penelitian tindakan kelas ini meliputi data : (1) Data aktivitas belajar siswa, (2) data respon siswa, dan (4) data hasil belajar siswa.

Data aktivitas siswa diambil dengan mengunakan lembar observasi, berisikan deskriptor-deskriptor dalam indikator perilaku siswa yang sudah dimodifikasi yang diamati selama proses pembelajaran berlangsung adapun indikator siswa yang dimaksud adalah sebagai berikut :

1)      Antusiasme siswa dalam mengikuti pembelajaran,

2)      Aktivitas siswa dalam melaksanakan pembelajaran,

3)      Interaksi siswa dengan guru,

4)      Interaksi siswa dengan siswa, dan

5)      Aktivitas siswa dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam pelaksanaan pembelajaran.

Setiap deskriptor pada masing-masing indikator yang tampak selama observasi, dicata pada daftar obserfasi dan diberi nilai.

Data hasil belajar siswa diambil dengan mengunakan item tes menjodohkan, dengan jumlah item 10 buutir soal. Untuk  menghemat waktu dan biaya. Yes yang disusun adalah mengenai kosakata terbatas bidang ; bangunan umum, alat-alat trasportasi, dan pekerjaan seseorang.

Data respon siswa terhadap pembelajaran kosakata menggunakan media visual gambar tidak diproyeksikan. Jumlah sebanyak 10 item. Pemberian skor siswa (X) menggunakan sekala sikap tipe Likert skala 5.


1) Data Aktivitas belajar siswa

Untuk mengetahui kualitas belajar siswa dalam proses pembelajaran, maka data hasil observasi yang berupa skor diolah dengan menggunakan rumus :

(n1 x 1 ) + (n2 x 2 ) + (n3 x 3 ) + (n4 x 4 ) + (n5 x 5 )

Skor (X)      =

(banyaknya siswa) x (banyaknya item)

Keterangan :

n1            = banyaknya siswa yang mendapatkan skor ke 1 (untuk 1= 1, 2, 3, 4, 5),

Kemudian hasilnya dibandingkan dengan keriteria seperti tabel 2

Tabel. 2. Kriteria Aktivitas Belajar Siswa

Skor Kriteria
X ≥M1 + 1,5 SD1 Sangat senang
M1 + 0,5 SD1 < X ≤ M1 + 1,5 SD1 Senang
M1 - 0,5 SD1 < X ≤ M1 + 0,5 SD1 Cukup senang
M1 - 0,5 SD1 < X ≤ M1 - 0,5 SD1 Kuarang senang
X < M1 - 1,5 SD1 Sangat kurang senang

( Nurkencana, sumartana, 1992 : 100 )

Rmusan untum M1 dan SD1 adalah :

MI = ½ (Skor tertinggi ideal + Skor terendah Ideal )

SD1 = 1/6 (Skor tertinggi ideal – Skor terendah ideal )

Untuk aktivitas siswa skor tertinggi ideal adalah 5 dan terendah ideal adalah 1  Dengan demikian dapat dihitung MI dan SDI Yaitu :

MI = 1/2 (5 + 1) = 3

SDI = 1/6 (5 – 1) = 0.67

Sehingga penggolongan aktivitas diatas menjadi seperti tabel 3

Tabel. 3. Kriteria aktivitas Belajar Siswa

Skor Kriteria
X ≥ 0.67 Sangat aktif
3.335 < X ≤ 4,005 Aktif
2,665 < X ≤ 3,335 Cukup aktif
1,995 < X ≤ 2,665 Kuarang aktif
X < 1,995 Sangat kurang aktif

( Nurkencana, sumartana, 1992 : 100 )

Keriteria keberhasilan tindakan yang dilakukan dilihat dari peningkatan aktivitas belajar siswa klasikal terhadap seluruh aspek yang diamati secara menyeluruh. Dari seluruh skor mentah didalm proses pembelajaran kosakata terbatas meliputi ; bangunan umum, alat-alat trasportasi, dan pekerjaan seseorang. Media gambar diam yang tidak diproyeksikan.

Penelitian akan berhasil jika tingkataktivitas belajar siswa dalam proses belajar mengajar minimal mencapai kategoi cukup aktif.

2) Data respon siswa

Untuk data respon siswa dikumpulkan melalui angket. Angket yang digunakan dalam penelitian ini terdiri 10 item. Untuk pernyataan item positif, paling sangat setuju (SS) mendapat sekor 5, setuju (S) memperoleh sekor 4, ragu-ragu (R) mendapat sekor 3, tidak setuju memperoleh sekor 2, dan untuk respon sangat tidak setuju (STS) diberi skor 1. Sedang untuk pernyataan item negatif pemberian skornya terbalik dengan item positif. Untuk respon sangat tidak setuju (STS) mendapat sekor 5, tidak setuju memperoleh sekor 4, ragu-ragu (R) mendapat sekor 3,  setuju (S) memperoleh sekor 2, paling  sangat setuju ( SS ) mendapat sekor 1.

Pemberian skor siswa (X) menggunakan skala sikap tipe Liker 1-5 yang dihitung dengan rumus seperi yang dipaparkan di atas. Berdasarkan skor tersebut maka skor siswa dibandingkan dengan kriteria seperti tabel 4

Tabel. 3. Kriteria Aktivitas Belajar Siswa

Skor Kriteria
X ≥M1 + 1,5 SD1 Sangat senang
M1 + 0,5 SD1 < X ≤ M1 + 1,5 SD1 Senang
M1 - 0,5 SD1 < X ≤ M1 + 0,5 SD1 Cukup senang
M1 - 0,5 SD1 < X ≤ M1 - 0,5 SD1 Kuarang senang
X < M1 - 1,5 SD1 Sangat kurang senang

( Nurkencana, sumartana, 1992 : 100 )

Rmusan untum M1 dan SD1 adalah :

MI = ½ (Skor tertinggi ideal + Skor terendah Ideal )

SD1 = 1/6 (Skor tertinggi ideal – Skor terendah ideal )

Untuk aktivitas siswa skor tertinggi ideal adalah 5 dan terendah ideal adalah 1. Dengan demikian dapat dihitung MI dan SDI Yaitu :

MI = 1/2 (5 + 1) = 3

SDI = 1/6 (5 – 1) = 0.67

Sehingga penggolongan aktivitas diatas menjadi seperti tabel 3

Tabel. 3. Kriteria aktivitas Belajar Siswa

Skor Kriteria
X ≥ 0.67 Sangat aktif
3.335 < X ≤ 4,005 Aktif
2,665 < X ≤ 3,335 Cukup aktif
1,995 < X ≤ 2,665 Kuarang aktif
X < 1,995 Sangat kurang aktif

( Nurkencana, sumartana, 1992 : 100 )

Keriteria keberhasilan adalah jika respon siswa mencapai katagori senang

3) Data hasil belajar siswa

Untuk mengetahui hasil belajar siswa, hasil tes belajar dianalisis secara deskriptif, yaitu dengan menggunakan skor rata-rata hasil tes (M) dan ketuntasan klasikal (KK) dengan rumus :

∑X

M =

N

Keterangan :

M         = Skor rata-rata

∑X      = Jumlah total skor siswa

N         = Jumlah siswa

Banyak siswa yang memperoleh nilai ≥ 65

KK =                                                                           X 100%

Banyak Siswa yang ikut tes

Pedoman yang dipakai untuk menafsirkan terhadap hasil belajar siswa adalah berdasarkan kurikulum pendidikan dasar untuk sekolah dasar yaitu hasil belajar siswa telah optimal apabila rata-rata kelas dan ketentuan klasikal minimal 65 dan 85%. Selain melihat peningkatan, penurunan, dan hasil belajar tetap siswa. Dimana akan dilihat beberapa persen siswa yang mengalami peningkatan, penurunan, dan belajar siswa tetap. Dimana akan dilihat beberapa persen siswa yang mengalami penurunan hasil belajar hasil belajar dari masing-masing siklus.

DAFTAR  PUSTAKA

Aristo rahadi, 2003. Media Pembelajaran. Direktorat Tenaga kependidikan Direktorat Jendral Pendidikan dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta

H,Abu ahmadi dan widodo Supriyono. 2004. Psikologi Belajar. PT Renika .Jakarta

H, Udin. S Winata pura. 2000. Strategi Belajar Mengajar. Materi Pokok, PGSD 2201/4SKS/modul 1-12. Universitas Terbuka. Jakarta

Imam, Syafi`ie dan Imam Machfudz. 1993. Pandai Berbaha Indonesia dan Pengajaran Kosakata. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Balai Pustaka. Jakarta.

Nurkancana dan Sunartana. 1992.  Evaluasi Hasil Belajar. Surabaya Usaha Nasional

Poerwadarminta. 1982. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. PN. Balai Pustaka. Jakarta

 

SILAHKAN DOWNLOAD FILE DISINI


alat peraga bajana berhubungan


Bejana Berhubungan

Mata Pelajaran : IPA
Kelas / Semester : IV / II
Setandar Kopetensi : 6. memahami beragam sipat dan perubahan wujud benda satu berbagai cara. Penggunaan benda berdasarkan sifatnnya.
Kometensi Dasar : 6.3 menjelaskan hubungan antara sifat benda dengan kegunaannya

A. Funsi Alat :
Alat ini difungsikan untuk menunjukkan aliran air pada bejana berhubungan

B. Alat dan Bahan :
B.1 Alat
1. Gunting
2. Pisau
3. martil
4. Gergaji
5. Obeng

B.2 Bahan 2
1. Botol pelastik 2 buah ukuran 600 ml
2. selang pelastik trasparan ukuran diameter 0.5 cm panjang 1 m, 2 buah
3. Karet tutup botol terbuat dari karet sandal jepit disesuaikan dengan diameter lubang botol
4. Lem pelastik 1 buah
5. Kawat pengikat botol kira-kira 30cm
6. paku panjang 2.5 cm/ aku teriplek secukupnya
7. triplek atau papan lebar 15 cm tinggi 25 cm tebal 1 cm
8. Cat warna
9. sumba warna

C. Perinsip Kerja Alat Adalah
Alat ini terdiri dari bejana 1 dan bejana 2 perhatikan (gambar 1.6) masing-masing pada bagian ujung yang sempit dari bejana dipasang selang penghubungan. pada kedua bejana . perhatikan bejana 2 pada gambar jika ujung selang s.1 kita tutup, kemudian air dimaksukkan kedalam salah satu botol hingga penuh. Maka pada saat selang dibuka, air dalam botol akan berusaha keluar mengalir melalui selang s.1 . aliran itu terus berlangsung selama selang s.1
diarahkan kebawah tetapi jika mulut selang s.1 diletakkan sampai berada di atas permukaan air dalam bejana, maka aliran akan berhenti sesaat. Sesaat selang s.1 sama dengan permukaan air dalam bejana hal ini menujukkan bahwa hanya air dapat mengalir dengan sendirinya ( tanpa usaha luar ) dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Perinsip yang ke 2 dari alat ini yaitu perinsip aliaran air dalam bejana berhubungan peristiwa ini dapat kita tunjukkan dengan menyambungkan selang s.1 dengan s.2 air akan mengalir dari bejana 1 ke bejana 2 melalui selang penghubung.

D. Cara membuat
Persiapkan alat-alat dan bahan seperti pada gambar diatas
Langkah pembuatan
I. Langlah pertama
Ambil botol pelastik yang telah disediakan 2 buah. potong bagian dasar kedua botol tersebut dengan pisau
Gambar 1.3

I.I Langkah Kedua
buat tutup botol berlubang di tengah dengan diameter lebih besar dari pada botolnya dan tutupnya dilubangi untuk dimasuki selang tutup ini dibuat 2 buah lihat

Gambar 1.4
III. Lagkah ke tiga
Masukkan selang pada lubang tutup botol bila perlu diberi perekat atau lem agar kuat dan tidak bocor. Kemudian pasangkan pada mulu botol

VI. Langkah Ke Empat
Siapkan papan kayu ataupun teriplek dan potong sesuai ukuran

V. Langkah Ke Lima
Susun dan pasangkan alat yang telah dibuat hingga seperti gambar 1.7

F. Cara mengunakan alat.
Setelah alat selesai dirangkai bagian dan demi bagiannya baru dicoba alat tersebut
Siswa bersama guru mendemontrasikan

UNTUK LEBIH JELAS DAN LENGKAP SILAHKAN DOWLOAD FILE DI SINI


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: