Pembelajaran Terpadu


PEMBELAJARAN TERPADU

Pembelajaran terpadu sebagai suatu konsep dapat dikatakan sebagai pendekatan belajar mengajar yang melibatkan beberapa bidang studi untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada anak. Bila diterapkan pembelajaran terpadu ini secara terencana maka para siswa akan memperoleh manfaat yang berguna bagi pembelajaran selanjutnya. Karena dalam pembelajaran terpadu anak akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari itu melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang sudah mereka pahami. Kecenderungan pembelajaran terpadu diyakini sebagai pendekatan yang berorientasi pada praktek pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak

Sebagai suatu model proses belajar-mengajar, Pembelajaran terpadu dapat dikatakan sebagai pendekatan pembelajaran yang melibatkan berbagai bidang studi yang terdapat di sekolah dasar untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada anak. Karena siswa akan secara langsung mencoba mencari dan memahami konsep-konsep yang terdapat dalam berbagai bidang studi dalam kegiatan pembelajaran. Karenanya karateristik pembelajaran terpadu dikatakan bercirikan pada pemusatan kegiatan yang tertuju kepada anak (child centered) dan  telah disesuaikan dengan kebutuhan perkembangan anak (Developmentally Approviate Practice). Disamping itu pembelajaran terpadu memberikan pengalaman langsung kepada anak, karena dalam pembelajarannya lebih menekankan pada pembentukan pemahaman dan kebermaknaan akan konsep-konsep setiap mata pelajaran dalam kegiatan belajar-mengajar. Dalam pelaksanaannya pembelajaran terpadu lebih memperhatikan kegiatan proses daripada hasil semata, sehingga siswa betul-betul memahami dan mengerti akan konsep-konsep yang didapat melalui orientasi pembelajaran yang diarahkan kepada pencapaian efek pengiring dan efek instruksional, penyajian konsep dari berbagai mata pelajaran dalam satu pembelajaran, yang kesemuanya ini dirangkum sebelumnya untuk mendapatkan keterkaitan antar mata pelajaran sehingga terangkumlah muatan pendekatan dalam pembelajaran yang sarat dengan keterkaitan intern maupun antar mata pelajaran. Dan pada akhirnya pembelajaran terpadu akan dapat berkembang sesuai dengan minat dan kebutuhan anak.

Landasan Pembelajaran Terpadu

Pembelajaran terpadu yang berpusat pada anak dan disesuaikan dengan kebutuhan perkembangan anak yang didasarkan pada filsafat progresifvisme yang menegaskan bahwa pendekatan yang tepat digunakan dalam pembelajaran anak sekolah dasar adalah pendekatan yang berpusat pada siswa (child centred), dimana pelaksanaannya lebih menekankan pada aktivitas, kreativitas dalam belajar mengajar secara alamiah dan melalui pengalaman secaral langsung yang di alami oleh seorang anak. Teori konstruktivisme dan perkembangan kognitif yang di kemukakan oleh piaget yang mengatakan bahwa setiap orang harus aktif menyusun pengetahuannya sendiri dan perubahan tingkah laku yang terjadi dalam proses perkembangan dalam hubungannya dengan lingkungan. Pengalaman adalah kunci dari belajar yang bermakan melalui organisasi dan adaptasi. Dan juga teori psikologi gestalt, yang lebih meningkatkan pegertian, pertanyaan kembali dan pengkajian terhadap proses berpikir anak, persepsi anak sangat penting untuk diperhatikan dalam kegiatan pembelajaran. Teori Pembelajaran penggunaan pembeljaran terpdu sebagai model pembelajaran yang berguna untuk membuat siswa lebih mudah melihat pola hubungan antar konsep, melibatkan siswa dalam proses pengambilan keputusan, mendorong siswa untuk mengembangkan kemampuan bekerjasama. Membantu siswa menghilangkan rasa cemas dalam belajar.

 

Kendala dan Manfaat Pembelajaran Terpadu

Pendekatan pembelajaran terpadu dapat dipandang sebagai upaya untuk memperbaiki kualitas mutu pendidikan di tingkat sekolah dasar, terutama dalam rangka mengimbangi gejala penjejalan kurikulum yang sering terjadi dalam proses pembelajaran di sekolah dasar. Pembelajaran terpadu dapat dilihat sebagai pembelajaran yang beranjak dari suatu tema tertentu sebagai pusat perhatian yang digunakan untuk memahami gejala-gejala dan konsep lain, baik yang berasal dari bidang studi yang bersangkutan maupun dari bidang studi lainnya, karena lebih menekankan keterlibatan anak dalam belajar, membuat anak secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran dan pembuatan keputusan. Namun hal itu tetaplah  menemui suatu kendala dalam pelaksanaannya. Kurikulum dan GBPP yang sangat rapi ditata serta dipilah berdasarkan cakupan-cakupan batas bidang studi. Hal ini menimbulkan masalah pada penyesuaian pola penerapan dan hasil pembelajaran terpadu apabila dikaitkan dengan kurikulum yang belaku sekarang ini. Intinya untuk melaksanakan pembelajaran terpadu di SD tanpa meninggalkan tuntutan kurikulum. Tersedia peluang dalam penyajian pokok-pokok bahasan dalam satu semester yang dapat dilakukan secara tidak berurutan. Maksudnya urutan pokok bahasan yang tercantum dalam satu semester tidak harus diikuti tepat seperti itu. Tetapi boleh disajikan secara acak dengan ketentuan tidak ada pokok bahasan yang dihilangkan. Hal ini akan menimbulkan permasalahan  dalam penjadwalan pembelajaran akibatnya pembelajaran akan menjadi terpisah-pisah secara kaku. Di samping itu guru yang kurang berpengalaman menyelenggarakan PT menjadikan kurang optimalnya hasil yang dicapai dalam pelaksanaan pembelajaran, bahkan membuat pembelajaran terpadu menjadi gagal untuk dilaksanakan, keterbatasan atau kurangnya fasilitas dan sumber belajar yang bervariasi yang menunjang pelaksanaan pembelajaran. Pada hal ini penting karena pembelajaran terpadu menuntut anak untuk dapat mengolah potensi diri secara langsung melalui pasilitas sumber belajar untuk mendapatkan informasi. Jika dilihat dari penilaian pembelajaran terpadu lebih berorientasi pada hasil yang diukur dengan tes. Adanya sistem formalisasi persekolahan modern yang didasarkan atas pembagian sistem kerja (spesialisasi) yang ada dalam masyarakat. Meyebabkan setiap mata pelajaran ditangani oleh guru yang memiliki kompetensi dalam mata pelajaran itu, sehingga akan cenderung muncul anggapan bahwa guru pengajar tidak memahami materi yang diajarkan siswa.

Apabila PT diterapkan secara terencana, para siswa akan memperoleh manfaat yang betul-betul berguna bagi pembelajaran selanjutnya. Siswa akan mendapat kesempatan untuk menggunakan keterampilannya yang dikembangakan untuk menghubungkan berbagai bidang studi yang mencerminkan dunia nyata di sekeliling dan  untuk mengembangkan pengetahuan serta keterampilan anak secara bertahap, terhubung dan mengurangi sejumlah konsep dalam beberapa bidang studi yang berbeda, dengan harapan anak akan belajar dengan lebih baik dan bermakna. Melalui pembelajaran terpadu akan dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk memecahkan masalah dan mendorong kebiasaan siswa untuk berfikir secara kreatif dengan menggunakan keterampilan dalam situasi nyata sesuai dengan lingkungan di sekitar mereka, hal ini dikarenakan adanya sejumlah materi antarmata pelajaran yang tumpang tindih. Oleh karena itu pembelajaran terpadu bermanfaat untuk mempelajari ketumpangtindihan itu secara utuh dan bermakna. Pembelajaran terpadu dikatakan dapat meningkatkan daya ingat anak tentang materi yang dipelajari dalam proses belajar-mengajar karena siswa dihadapkan pada konsep yang sama salam situai yang bervariasi dan melalui berbagai cara. Dalam hal ini pembelajaran terpadu juga merupakan media untuk melakukan trasper belajar yang terjadi secara lebih terbuka hal ini dikarenakan pengkondisian kegiatan belajar mengajar telah dikondisikan sebelumnya dengan situasi kehidupan nyata mereka sehari-hari.

 

Cara Melaksanakan Pembelajaran Terpadu

Dalam pelaksanaanya, ada beberapa faktor yang mempengaruhi cara guru melaksanakan PT. Hal ini mengakibatkan adanya keberanekaragaman bentuk pelaksanaanya. Ragam ini ditentukan oleh : sifat materi yang dipadukan, cara memadukan materi, perncanaan pemaduan, waktu pelaksanaan, dan unsur pemicu pemaduan.

Jika dilihat dari sifat materi yang dipadukan ada dua macam bentuk impelementasi pembelajaran terpadu yakni pembelajaran terpadu intra mata pelajaran  dan antar mata pelajaran. Pembelajaran terpadu intra mata pelajaran yaitu pembelajaran yang memadukan beberapa konsep/tema/sub tema/pokok bahasan dalam suatu bidang studi. Misalkan saja dalam pembelajaran bidang studi bahasa bisa memadukan keterampilan menyimak, berbicaran, mendengar, menulis, maupun membaca. Sedangkan pembelajaran terpadu antar mata pelajaran yaitu pembelajaran yang memadukan konsep, pokok bahasan/tema, maupun sub tema dalam satu bidang studi dengan bidang studi yang lainnya. Misalnya saja pada bidang studi IPS dengan IPA, bisa juga dengan Matematika, Bahasa Indonesia atau yang lainnya.

Pelaksanaan pemaduan materi di dalam pembelajaran terpadu  terkadang masih memperlihatkan secara tegas batas-batas antar mata pelajaran, kadang-kadang batas antar mata pelajaran sangat samar, hampir seperti tidak ada sekat yang membatasinya. Dalam prakteknya, jika suatu tema telah ditetapkan, maka guru bersama siswa mengkaji tema tersebut dari sudut pandang masing-masing mata pelajaran. Berdasarkan tema tersebut, guru bersama siswa menentukan unsur-unsur mata pelajaran yang bisa dipelajari tanpa harus ada tumpang tindih dengan mata pelajaran lain. Jika suatu tema telah ditetapkan, siswa diajak mempelajari aspek lainnya dari tema yang telah ditetapkan, misalnya saja “Air” siswa diajak mempelajari aspek IPA, IPS, Bahasa Indonesia maupun Matematika dari air tanpa memperhatikan keterkaitan antara IPA, IPS, Bahasa Indonesia, maupun Matematika. Sementara itu, bisa juga terjadi pembelajaran yang mengakibatkan siswa harus memadukan secara utuh beberapa atau bahkan semua bidang studi. Siswa tidak hanya dituntut untuk mengetahui aspek dari masing-masing bidang studi, melainkan harus mengorganisasikannya sedemikian rupa menjadi satu kesatuan yang utuh. Hal ini terjadi dalam pembelajaran proyek.

Proses perencanaan pembelajaran terpadu ada yang dibuat dengan perencanaan yang matang dan ada juga yang terjadi secara spontan. Guru dapat merancang sejak awal pembelajaran terpadu, dengan memilih konsep-konsep yang akan dikondisikan dalam aktivitas untuk mencapai keterpaduan. Guru dapat memilih tema-tema yang akan dijadikan jembatan untuk memadukan satu mata pelajaran atau beberapa mata pelajaran baik itu mata pelajaran yang sama maupun mata pelajaran yang berbeda, tetapi mata pelajaran itu haruslah memiliki hubugan untuk dapat dipadukan. Karena itu pembuatan peta konsep perlu diadakan oleh guru untuk menemukan konsep-konsep yang terkait atau tumpang tindih.

Namun ada kalanya guru tidak merencanakan secara matang keterpaduan antara satu konsep dengan konsep yang lain, satu pokok bahasan dengan pokok bahasan lainnya. Dalam proses belajar-mengajar guru dapat mengaitkan materi lain dengan materi yang sedang diajarkannya, sehingga memungkinkan guru untuk melaksanakan pembelajaran terpadu spontan.

Pembelajaran terpdu dapat dilaksanakan dalam waktu tertentu yakni apabila materi yang diajarkan cocok untuk dilaksanakan secara penuh dalam satu hari. Ada pula yang melaksanakannya secara periodik. Pembelajaran terpadu yang dilaksanakan pada waktu tertentu dikatakan bersifat temporer, disini pelaksanan pembelajaran tidak mengikuti jadwal yang teratur, pembelajarannya dilaksanakan tanpa kepastian waktu. Pembelajaran yang demikian sangat bersifat situasional. Selain itu pembelajarn terpadu dapat dirancang secara periodik, misalkan setiap akhir pekan, setiap akhir semester, dan lain sebagainya.

Dalam usaha memunculkan ide untuk melaksanakan pembelajaran terpadu seorang guru dapat memulainya dari penganalisisan kurikulum untuk menentukan konsep-konsep yang saling tumpang tindih. Kemudian dilanjutkan dengan membuat peta konsep, menentukan tema. Setelah itu, berdasarkan hasil analisis ini guru menyusun program pembelajaran terpadu di kelasnya. Guru dapat pula melaksanakan pembelejaran dengan cara menetapkan tema terlebih dahulu. Berdasarkan tema tersebut ditentukan kegiatan belajar-mengajar yang memadukan mata pelajaran yang terkait.

 

Model dan Tahapan Pembelajaran terpadu

Ada tiga model PT yang diharapkan dapat dilaksanakan di sekolah dasar yaitu: model keterhubungan (connected), dan keterpaduan (integreted), Jaring Laba-laba (webbed). Model Keterhubungan (Connected) adalah model pembelajaran yang secara sengaja dirancang untuk satu mata pelajaran dengan menghubungkan berbagai konsep-konsep, misalnya seorang guru akan mengajarkan tentang konsep pasar, konsep uang, dan konsep kobutuhan hidup yang ada dalam bidang studi IPS dikelas tiga semester akhir dengan menugaskan siswa untuk mencatat keperluan rumah selama satu minggu. Dari kegiatan ini siswa akan mengetahui kebutuhan dalam rumah dibeli dengan uang, dan tempat untuk mendapatkannya adalah di pasar.

Model Keterpaduan (Integreted) adalah pembelajaran yang dirancang untuk memadukan antar mata pelajaran. Model dibuat dengan cara menggabungkan  beberapa bidang studi dengan cara menetapkan dan menemukan konsep yang saling tumpang tindih di dalam beberapa bidang studi. Namun dalam hal ini keterkaitan mata pelajaran yang dipadukan terkesan tidak tampak.

Model Jaring Laba-laba (Webbed) adalah model pembelajaran yang memadukan lebih dari satu mata pelajaran, tentunya setiap mata pelajaran itu tidak semuannya dapat dipadukan hanya mata pelajaran yang memiliki konsep yang berhubungan yang dapat dipadukan. Pemaduan ini dimulai dari pemilihan tema untuk ditetapkan dan memilih tujuan pembelajaran khusus, agar tujuan pembelajara tidak lagi menunjukkan ciri dari berbagai mata pelajaran, melainkan berbagai mata pelajaran yang dikemas menjadi satu. Ciri utama pembelajaran ini adalah terjadinya curah pendapat yang dilakukan oleh siswa selama kegiatan pembelajaran dan juga adanya kontrak belajar sebagai panduan siswa untuk mengerjakan tugas belajar yang dirancang oleh guru. Guru disini haruslah berperan aktif untuk menyediakan alat bantu yang ditentukan berdasarkan tema. Dengan alat bantu inilah guru berusaha membimbing siswa memunculkan sub-sub tema yang telah direncanakan. Siswa diberikan kesempatan untuk memilih sub tema mana yang menjadi minat mereka untuk mereka kaji dalam kegiatan pembelajaran.

Dan setiap model ini akan melalui tahap dalam proses pembelajaran yang berbeda sesuai dengan model pembelajarannya masing. Tahapan tersebut dikemas mulai dari tahap pembuatan persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap kulminasi. Setiap tahapan ini memiliki tujuan tersendiri dalam menunjang keberhasilan peroses pembelajaran terpadu. Apa bila tahapan ini di buat dengan baik dan ditunjang oleh wawasan guru yang cukup. Maka pembelajaran terpadu yang dibuat pastilah dapat berhasil dilakukan. Tahapan tersebut dapat digambarkan dalam tabel sebagai berikut :

Model PT Perencanaa Pelaksanaan Kulminasi
Keterhubungan(connected) -    Peta konsep satu mata pelajaran-    Menetapkan konsep-konsep yang berhubungan

-    Rancangan aktivitas

-    Pelaksanaan tugas-    Analisis hasil pelaksanaan tugas

-    Penyusunan laporan

-    Penyajian laporan-    Evaluasi
Ketepaduan(Integreted) -    Peta konsep berbagai mata pelajaran-    Konsep-konsep berhubungan

-    Rancangan aktivitas

-    Pelaksanaan tugas-    Analisis hasil pelaksanaan tugas

-    Penyusunan Laporan

-    Penyajian laporan-    Evaluasi
Jaring Laba-laba(webbed) -    Penjajangan tema-    Penetapa tema

-    Pengembangan subtema

-    Penetapan kegiatan /kontrak belajar

-    Pengumpulan informasi-    Pengolahan informasi

-    Penyusunan laporan

-    Penyajian informasi-    Evaluasi

 

Dari tabel tahapan diatas, marilah kita lihat model rencana pembelajaran setiap model pembelajarannya tepadu berikut ini :

Pembelajaran Terpadu model keterhubungan (connected) atau intra mata pelajaran dan pembelajaran terpadu dengan model keterhubungan (integreted)

Identitas materi

Tema           :                                                         Mata pelajaran   :

Kelas/smtr   :                                                         Waktu               :

Pertemuan   :                                                         Tanggal             :

Tahap Perencanaan

1.      Tujuan Pembelajaran Khusus. Hal ini ditetapkan secara terperinci sesuai dengan tujuan khusus yang ingin dicapai dari keterhubungan konsep yang akan dikaji. Apabila model pembelajaran terpadu antarmata pelajaran setiap mata pelajaran dituliskan tujuannya secara jelas

2.      Alat-alat Bantu

Langkah Kegiatan Belajar (Pra-KBM)

a.   Menetapkan Konsep-konsep yang hendak diketahui siswa. Dalam hal ini peran guru untuk mengkondisikan kelas dengan mengajak siswa melakukan diskusi mengenai jalinan konsep (peta konsep) yang ada dalam satu mata pelajaran tersebut.

b.   Menetapkan pertanyaan kunci (inti materi) yang harus dicari jawaban dalam kegiatan belajar. Ini dapat dilakukan dalam kegiatan diskusi saat menjelaskan keterhubungan konsep yang akan dikaji.

c.   Latar belakang kajian materi. Pengetahuan dan hasil pengamatan siswa perlu di ketahui dalam pemilihan materi.

d.   Menuntun siswa membuat rancangan aktivitas belajar. Guru disini memberikan bimbingan atau acuan kepada setiap kelompok belajar tertentu atau perorangan, agar setiap anak dapat aktif dalam kegiatan pemelajaran dan mengarahkan siswa dalam kegiatan pembelajaran.

Tahap Pelaksanaan

1.      Pengelolaan kelas. Siswa dituntut melakukan aktivitas sesuai dengan rancangan aktivitas yang dibuat.

2.      Kegiatan belajar. Siswa melakukan aktivitas belajarnya sesui dengan minat dan tugas masing-masing kelompok, menganilisis hasil pelaksanaan tugas, dan menyusun laporan. Peran guru sebagai nara sumber fasilitator, motivator harus dilaksanakan. Disamping itu guru juga melakukan kegiatan penilaian proses (asessmen) dengan berpedoman pada lembar obsevasi yang telah dibuat.

Tahap Evaluasi

1.   Evaluasi proses. Yang dinilai adalah tingkah laku siswa bagaimana kesungguhan siswa dalam melaksanakan kegiatan, keaktifan dalam bekerja, kreativitas dalam bekerja, dll. Guru disini haruslah menyiapkan lembaran observasi.

2.   Evaluasi hasil. Akhir dari apa yang dicapai siswa dalam pelajaran, guru memberikan penilaian atas hasil belajar yang diperoleh siswa baik secara kelompok maupun individu.

 

Pembelajaran terpadu model jaring laba-laba (Webbed) atau antarmata pelajaran

Identitas materi.

Sama dengan diatas

Tahap Perencanaan

1.      Tujuan Pembelajaran Khusus. Tujuan pembelajaran khusus disini tidak lagi menunjukkan ciri mata pelajaran tertentu seperti pada connected dan integreted.

2.      Alat-alat Bantu

Langkah Kegiatan Belajar (Pra-KBM)

a.   Guru mengarahkan siswa untuk menemukan tema pembelajaran yang diharapkan muncul. Dapat dilakukan dengan menggunakan alat bantu yang ada. Disini dibutuhkan kesepakatan tema pembelajaran yang akan dilaksanakan

b.   Bercurah pendapat dengan siswa untuk mengembangkan tema menjadi subtema-subtema yang akan dikaji dalam kegiatan belajar. Sub-sub tema yang akan muncul ini digambarkan terlebih dahulu, guru berusaha memunculkan subtema yang telah direncanakan dengan subtema inilah terbentuknya kelompok belajar.

c.   Guru mengelompokkan siswa sesuai pada minat belajarnya. Guru bisa melakukan negosiasi dengan cara memotivasi siswa pada kelompok belajar tertentu bila jumlah anggota kelompok belajar tidak seimbang.

d.   Kelompok belajar membuat kontrak kerja. Sebagai rancangan rencana yang akan dikerjakan oleh siswa. Tujuan belajar yang dirumuskan oleh siswa minimal sama dengan tujuan yang diharapkan guru sesuai dengan perencanaan, apabila terdapat tujuan lain yang dirumuskan siswa ini merupakan dampak pengiring yang diharapkan muncul dalam pembelajaran terpadu. Informasi yang diharapkan dapat dicari apakah melalui sumber belajar yang berupa buku, melakukan observasi, maupun percobaan. Atau pun dengan cara yang lainnya.

Tahap Pelaksanaan

1.      Pengelolaan kelas. Siswa melakukan kegiatan belajar dengan cara yang telah dibuat dalam kontrak kerja.

2.      Kegiatan belajar. Dalam kegiatan belajar ini guru hampir sama fugsinya dengan kegiatan pada model integreted dan connected yaitu sebagai fasilitator, motivator harus tetep dilaksanakan. Disamping itu guru juga melakukan kegiatan penilaian proses (asessmen) dengan berpedoman pada lembar obsevasi yang telah dibuat.

Tahap Evaluasi

Tahapan penilaiannya sama dengan ketentuan pada penilaian integreted dan connected. Tetapi guru haruslah melakukan penilaian secara terperinci untuk mendapatkan nilai secara adil.

2.   Simulator Terbaik menurut persi sendiri

Menurut saya simulator yang terbaik adalah Citrariani karena dalam pelaksanaan pembelajaran citra terlihat tidak kaku, dia telah menyiapkan alat bantu yang dipergunakan untuk membantu dalam proses pembelajaran. Dalam pelaksanaan pembelajaran ia memulai dengan menyebutkan tujuan pembelajaran khusus yang akan dipelajari siswa selama kegiatan pembelajaran. Kemudian ia mencoba memunculkan tema central atau tema pokok melalui pertanyaan dan arahan dari media-media yang telah di tempel di depan kelas. Kemudian dari tema central itu ia mengajak siswanya untuk bercurah pendapat dengan membimbing siswa untuk menentukan sub-sub tema yang telah disiapkan untuk di pelajari sesuai dengan perencanaan awal. Setelah tema sentral dan sub tema yang akan dipelajari ditemukan ia mengajak siswa untuk mengerjakan tugas dalam LKS yang telah disiapkan sebelumnya sesuai perencanaan yang dibuat, tentunya dengan tema pokok perdagangan dan ia membagi siswa menjadi beberapa kelompok untuk melakukan kegiatan sesuai perencanaan yang telah dibuatnya. Setelah selesai mengerjakan lembaran tugas siswa diajak melakukan tanya jawab untuk mengetahui hasil dari jawaban siswa. Pada akhir kegiatan citra mengajak siswa menyimpulkan hasil kegiatan selama itu, dan memberikan tugas kepada siswa yang berupa pekerjaan rumah untuk mencari informasi yang berkaitan dengan perdagangan.

 

Kelemahan pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan

Dalam melaksanakan pembelajaran citra kurang menunjukkan keterampilan bertanya untuk mengarahkan siswa untuk mencoba memunculkan sub tema dari pembelajaran, ia langsung menuliskan subtema yang dikemukankan siswa saat tema yang disebutkan oleh siswa sama dengan perencanaan tema sebelumnya. Pada hal ada tema lain yang disebutkan oleh siswa selain perencanaan yang telah dibuat. Dan dalam kegiatannya ia kurang menekankan dalam kontrak kerja padahal kontrak kerja penting untuk memberikan gambaran kepada siswa tentang apa-apa saja yang harus dilakukan oleh siswa untuk mengerjakan tugas yang diberikan. Namun kontrak kerja muncul saat menjelang akhir pemelajaran untuk mencari informasi yang dicatat dan dikumpulkan pada pertemuan berikutnya.

Kelebihannya

Dalam pelaksanaan pembelajaran ia tidak terlihat gugup sehingga ia mampu mengkondisikan siswanya dengan baik dan mampu mengarahkan siswanya untuk memberikan pendapat-pendapatnya. Dari segi kesiapan media ia sudah menyiapkan berbagai media seperti : contoh grafik, tabel, gambar perdagangan di pasar, gambar kegiatan ekspor dan impor barang, wacana perdagangan untuk informasi lembar kerja siswa. Kecermatan dalam melihat jawaban dari siswa, saat jawaban siswa ada yang kurang tepat ia memberikan kesempatan kepada kelompok lain untuk memperbaiki hasil jawaban dari kelompok itu.

 

3. Repleksi Diri.

Jika dilihat dari penguasaan materi pelajaran ini saya rasa, saya masih jauh dari baik. Siapapun menginginkan mendapat nilai yang sempurna, tetapi apakah saya pantas mendapatkan nilai katakanlah A. Jika kemampuan dan keterampilan menjadi seorang guru yang saya kuasai saat ini masih belum cukup baik. Saya sadari saya masih butuh belajar lagi untuk menjadi seorang guru yang mampu memberikan pengalaman dan pengetahuan yang dapat berguna bagi anak didik yang akan saya ajar nantinnya. Saya masih dikatagorikan pemula dalam dunia perguruan masih banyak yang perlu saya pelajari untuk menjadi seorang guru. Sedikitnya pengalaman saat ini saya harap bisa saya sempurnakan di masa-masa yang akan datang. Apabila saya memenuhi persyaratan untuk mendapat nilai baik menurut Bapak selaku dosen pembimbing mata kuliah ini ya itulah nilai dari bapak untuk saya. Tapi saya berterimakasih kepada Bapak karena telah membimbing dan memberikan pengalaman kepada saya selama ini.

4. Penutup

Kesimpulan

Dari apa yang telah saya paparkan diatas dapat saya simpulkan bahwa, dalam pembelajaran terpadu siswalah yang seharusnya berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran secara langsung untuk mendapatkan pemahaman dalam memecahkan suatu masalah. Penentuan tema-tema yang dipadukan  dalalm pembelajarna terpadu yang dirancang oleh Guru dan Siswa hendaknya dikaji terlebih dahulu dan disesuaikan dengan tingkat atau jenjang siswa agar sesuai jenjang perkembangan anak di sekolah dasar dan juga dengan tuntutan kurikulum yang berlaku saat ini. Guru sebagai motivator, dinamisator, dan fasilitator berperan erat dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran terpadu di sekolah dasar.

 

Saran

Dalam melaksanakan pembelajaran terpadu seorang guru haruslah memiliki pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman yang cukup agar pelaksanaan pembelajaran terpadu dapat terarah dan memperikan sesuatu yang bermanfaat bagi siswa untuk melanjutkan kejejang yang lebih tinggi. Dan juga hendaknya memperhatikan subyek didiknya untuk kelas berapa pembelajaran terpadu itu dilaksanakan agar siswa tidak merasa terbebani dengan materi pelajaran. Usahakan siswa menemukan secara langsung pemahaman-pemahaman dari permasalahan-permasalahan yang dikaji dalam kegiatan pembelajaran.

untuk lebih lengkap silahkan download file disini

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: