Tes Keterampilan Berbahasa


Tes Keterampilan Berbahasa

Tes keterampilan berbahasa dapat dibedakan menjadi 4 jenis, yaitu : tes menyimak, tes berbicara, tes membaca, dan tes menulis. Keempat jenis tes keterampilan berbahasa tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.

 

1.   Tes Menyimak

Menyimak dapat diartikan sebagai kemampuan memahami pesan yang disampaikan melalui bahasa lisan. Kemampuan menyimak tidak hanya dipengaruhi oleh faktor kompetensi linguistik dan kompetensi komunitatif saja. Kennedy (1981) mengemukakan adanya 3 kelompok faktor yang saling berhubungan yang mempengaruhi kemampuan menyimak dalam bahasa kedua yaitu :

1.   Faktor Linguistik, yang dimaksudkan dapat berupa :

-     Panjang kalimat, hasil penelitian menunjukkan bahwa kalimat yang panjang lebih sulit dipahami dibandingkan dengan kalimat yang pendek.

-     Kecepatan penyampaian pesan, semakin cepat penyampaian suatu pesan semakin sulit untuk dipahami.

2.   Faktor Konteks dapat berupa sifat ujaran yang disimak, faktor nonverbal yang menyertai ujaran, dan faktor gangguan yang terdapat dalam ujaran.

3.   Faktor Diri Pendengaran dapat berupa kecepatan penggunaan kaidah dalam konteks hal ini memiliki andil yang besar terhadap kemampuan menyimak seseorang, kapasitas memori yang dimiliki pendengar, dan perhatian pendengar terhadap apa yang disimaknya.

 

Teknik tes yang digunakan untuk mengukur kemampuan menyimak

Pemilihan dan penggunaan tes menyimak seharusnya mempertimbangkan faktor linguistik, faktor konteks, dan faktor pendengar.

Menurut Carrot (1980: 15) menyatakan bahwa tes yang baik akan menunjukan adanya keseimbangan dalam 4 hal yaitu relevansinya dengan keadaan testi dan kemampuan yang diukur, keberhasilan penerimaan isi dan formatnya, ada kesepadanan antara skor yang diperoleh dari waktu dan kelompok yang berbeda, dan keekonomisan. Sedangkan menurut Oller (1979:262) mengemukakan teknik dikte sebagai tes kemampuan menyimak. yang bertujuan untuk menentukan kemampuan anak dalam memahami bahasa yang digunakan dalam pembelajaran, untuk keperluan penempatan, dan untuk mengukur tingkat pemahaman wacana tertentu. Namun ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi tingkat kesulitan dalam dikte meliputi : tingkat kesulitan tes, kecakapan presentasi, panjang/jarak antara perhentian, tingkat gangguan, jumlah persentasi, dialek.

 

 

2.   Tes Interaksi Lisan (Oral Interaction Test)

Tes Interaksi Lisan merupakan tes campuran antara tes menyimak dan berbicara. Fokus penilaian dalam tes interaksi lisan tidak pada aspek pengucapan, kelancaran, susunan kata dan kosa kata tetapi pada aspek efektivitas dan ketepatan komunikasi. Skala penilaian seharusnya mendasarkan dari pada faktor kewacanaan dan ciri komunikasi yang didasarkan pada : ukuran kemampuan, kekomplekan, rentangan, ketepatan, kefleksibelan, kecermatan, kemandiriaan, pengulangan dan keraguan.

Kegiatan dalam pengetesan tes interaksi lisan dapat dipilah menjadi 3 tahap yaitu :

1.          Tahap pemanasan dimaksudkan untuk menciptakan hubungan yang akrab

2.          Kegiatan utama dimaksudkan untuk melakukan penilaian terhadap kompetensi lisan yang dimiliki testi

3.          Tahap penutup dimaksudkan untuk memberikan penilaian akhir.

 

3.   Tes berbicara

Merupakan tes berbahasa untuk mengukur kemampuan testi dalam berkomunikasi dengan bahasa lisan. Tes yang dapat digunakan untuk mengukur kemampuan berbicara  adalah sebagai berikut:

1.      Tes kemampuan berbicara berdasarkan gambar

Bentuk tes ini di sajikan dengan memberikan rangsangan berupa perangkat gambar yang merupakan satu rangakaian cerita, dan testi diminta untuk menjawab pertanyaan sehubungan dengan rangkaian gambar atau menceritakan rangakaian gambar.

2.      Wawancara

Dipakai untuk mengukur kemampuan testi menggunakan bahasa dalam berkomunikasi. tes ini bisa dipakai apabila testi memiliki kemampuan berbahasa yang cukup mewadahi.

3.      Bercerita

Kemampuan berbicara yang berbentuk berbicara dapat dilakukan dengan cara meminta testi untuk mengungkapkan sesuatu (pengalamannya atau topik tertentu).

4.      Diskusi

Tes ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan testi menyampaikan pendapat, mempertahankan pendapat, serta menanggapi ide atau pikiran yang disampaikan oleh peserta diskusi yang lain secara kritis.

5.      Ujian terstruktur

Dapat dilakukan dengan cara membaca kutipan, mengubah kalimat, dan membuat kalimat. Dengan tujuan untuk menguji kemampuan testi dalam menggunakan bahasa lisan.

 

Penilaian Kemampuan Berbicara

Penilaian kemampuan berbicara dapat dilakukan secara aspektual yaitu penilaian kemampuan oleh aspek-aspek tertentu yang bersifat diskrit. penilaian komperhensif merupakan penilaian yang difokuskan pada keseluruhan kemampuan berbicara secara menyeluruh, tidak dipotong-potong.

4.   Tes Membaca

Membaca merupakan proses pengolahan bacaan secara kritis-kreatif dengan tujuan memperoleh pemahaman secara menyeluruh tentang suatu bacaan, serta penilaian terhadap keadaan, nilai dan dampak bacaan. Dari hal tersebut dapat diartikan bahwa tes kemampuan membaca dapat diartikan sebagai alat untuk mengukur kemampuan testi dalam menggali informasi yang terdapat dalam teks.

 

Beberapa jenis tes yang dapat digunakan untuk mengukur kemampuan membaca:

1.      Tes cloze yang dapat dimanfaatkan untuk penilaian tingkat keterbacaan dan tingkat kesulitan teks, penilaian kemampuan membaca pemahaman, menelaah kendala-kendala yang ada dalam teks, penilaian kelancaran berbahasa dan penilaian efektifitas pengajaran.

2.      Menceritakan kembali dapat dimanfaatkan untuk mengukur kemampuan pemahaman.

3.      Tes meringkas digunakan untuk mengukur kemampuan testi yang bersifat global.

4.      Tes subjektif merupakan tes jawaban yang berupa tes uraian yang penyekorannya dilakukan dengan mempertimbangkan benar atau salahnya uraian yang diberikan testi.

5.      Tes objektif merupakan tes yang cara pemeriksaan dapat dilakukan secara objektif yang dilakukan dengan cara mencocokkan kunci jawaban dengan hasil pekerjaan testi.

Tes membaca dimaksudkan untuk mengukur kemampuan testi dalam memahami suatu bacaan. Faktor yang dimaksud meliputi: tingkat kesulitan bacaan, panjang-pendeknya bacaan, isi teks bacaan, dan bentuk/model wacana.

Taksonomi dalam Tes Membaca

Ada dua jenis taksonomi yang dapat digunakan dalam tes membaca yaitu:

1.      Taksonomi Bloom

Bloom membedakan adanya 3 ranah yaitu: ranah kognitif, ranah psikomotor dan afektif. Ranah kognitif dapat dibedakan menjadi 6 tingkatan yaitu

1.      Ingatan, menuntut testi untuk menyebutkan kembali fakta, difinisi, atau konsep yang terkandung dalam wacana.

2.      Pemahaman, menuntut testi untuk dapat memahami wacana yang dibacanya, isi bacaan, mencari hubungan antrhal, hubungan sebab-akibat, dan perbedaan.

3.      Penerapan, menuntut testi untuk dapat menerapkan pemahamanya pada situasi atau hal lain yang berkaitan atau penerapan dari suatu konsep, ide, pengertian, atau pikiran dalam teks bacaan

4.      Analisis, menuntut testi untuk menganalisis informasi yang terdapat dalam wacana, mengenali, mengidentifikasi, serta membedakan pesan dengan informasi.

5.      Sintesis, menuntut testi untuk dapat mengembangkan kemampuan berpikir seccara kritis, dan kreatif, kemampuan penalaran, kemampuan mengubungkan berbagai fakta atau konsep, serta menarik generalisasi

6.      Evaluasi, menuntut testi untuk dapat memberikan penilaian terhadap wacana yang dibacanya, baik dari segi isi atau permasalahannya.

 

2.      Taksonomi Barret

Barret membedakan adanya 5 kelompok intelektual dalam kegiatan membaca pemahaman yaitu:

    1. Pemahaman literal yaitu kemampuan mengenal tau mengingat sesuatu/fakta.
    2. Penataan kembali (reorganisation) yakni kemampuan menganalisis, menata ide-ide dan informasi yang diungkapkan secara eksplisit dalam bacaan.
    3. Pemahaman inferensial yaitu kemampuan menggunakan ide atau informasi yang secara eksplisit tertuang dalam bacaan beserta dengan intuisi dan pengalaman pribadi yang dimilikinya sebagai dasar untuk memecahkan permasalahan.
    4. Pemahaman evaluatif yakni kemampuan untuk memastikan dan menilai kualitas, ketelitian, kepergunaan ide-ide yang terdapat dalam wacana.
    5. Apresiasi yakni kemampuan menerapkan kepekaan emosional dan estetika yang dimilikinya dalam merespon bentuk, gaya, struktur, serta teknik pemaparan ide dalam bacaan.

 

5.   Tes Menulis

Manulis diartikan sebagai aktivitas pengekspresian ide, gagasan, pikiran atau perasaan ke dalam lambang-lambang kebahasaan  Kemampuan menulis yang merupakan keterampilan berbahasa produktif lisan melibatkan kemampuan : penggunaan ejaan, penggunaan kosa kata, penggunaan kalimat, penggunaan jenis komposisi, penentuan ide, pengolahan ide, pengorganisasian ide. Kesemua inilah yang diukur dalam kemampuan menulis.

 

Bentuk Tes Menulis

Secara umum, bentuk tes yang digunakan dalam tes menulis dapat berupa tes objektif dengan berbagai variasinya (untuk tingkat ingatan dan pemahaman) dan tes sujektif dengan berbagai variasinya (untuk tingkat penerapan ke atas).

Ragam bentuk tes subjektif yang digunakan dalam tes menulis dapat dipaparkan sebagai berikut.

a.       Tes menulis berdasarkan rangsangan visual

Bentuk tes menulis berdasarkan rangsangan visual dilakukan dengan cara disajikan gambar atau film yang membentuk rangkaian cerita, dan testi diminta untuk membuat karangan berdasarkan gambar atau film yang telah diberikan.

b.      Tes menulis berdasarkan rangsangan suara

Bentuk tes ini dilaksanakan dengan cara disajikan suara yang dapat berbentuk ceramah, diskusi atau tanya jawab, baik yang berupa rekaman suara maupan langsung.

c.       Tes menulis dengan rangsangan buku

Bentuk tes ini dilakukan dengan cara menyajikan teks bacaan, dan testi diminta untuk membuat karangan berdasarkan teks yang telah dibacanya. Bentuk tugas yang harus dikerjakan testi dapat berupa membuat ringkasan/rangkuman, membentuk resensi, atau membuat kritik.

d.      Tes menulis laporan

Bentuk tes ini dilakukan dengan cara meminta testi untuk membuat laporan kegiatan yang pernah dilakukan (mengikuti khotbah jum’ah, mengikuti seminar/diskusi, mengikuti Darmawisata, atau kegiatan perkemahan) atau kegiatan penelitian sederhana yang telah dilakukan.

e.       Tes menulis surat

Bentuk tes ini dilakukan dengan cara : testi diminta untuk menulis sebuah surat.

f.       Tes menulis berdasarkan tema tertentu

Bentuk tes ini dilakukan dengan cara : disajikan sebuah atau beberapa topik dan testi diminta untuk membuat suatu karangan berdasarkan topik yang telah ditentukan.

g.      Tes menulis karangan bebas

Tes ini dilaksanakan dengan cara meminta testi untuk membuat karangan dengan tema dan sifat karangan yang ditentukan sendiri oleh testi (peserta tes).

 

Beberapa contoh penentuan aspek dan pembobotannya dapat disajikan Sebagai berikut :

Contoh 1

Aspek yang dinilai                                                      Skor maksimal

1.          Isi gagasan yang dikemukakan                                   30

2.          Organisasi isi                                                               25

3.          Struktur tatabahasa                                                     20

4.          Gaya : pilihan struktur dan diksi                                 15

5.          Ejaan dan tanda baca                                                  10

 

Jumlah                                                                               100

 

Contoh 2

Aspek yang dinilai                  Skor maksimal

1.     Judul                               BS         B         S          K

2.     Gagasan                          BS         B         S          K

3.     Organisasi gagasan

-     kesatuan

-     kepaduan

-     kelogisan

4.     Penggunaan struktur       BS         B         S          K

5.     Pemilihan diksi                BS         B         S          K

6.     Ejaan dan tanda baca      BS         B         S          K

 

BS   =    baik sekali dengan skor 4

B     =    baik dengan skor 3

S      =    sedang dengan skor 2

K     =    kurang dengan skor 1

 

Pengaruh Pengetahuan dan Jenis Tugas dalam Tes Keterampilan Menulis

Kemampuan menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang melibatkan aspek penggunaan bahasa dan pengolahan isi. Masalah yang berkembang sehubungan dengan kegiatan menulis adalah pengetahuan dasar terhadap performansi atau kemampuan menulis.

Menulis Sebagai Proses

Menulis merupakan aktivitas pengekspresian ide, gagasan, pikiran atau perasaan dalam lambang kebahasaan. Kegiatan ini melibatkan aspek penggunaan tanda baca dan ejaan, penggunaan diksi dan kosakata, penataan kalimat, pengembangan paragraph, pengolahan gagasan serta pengembangan model karangan. Murray (1978) mendeskripsikan menulis Sebagai proses penemuan dan penggalian ide-ide untuk dikespresikan, dan proses ini dipengaruhi oleh pengetahuan dasar yang dimilikinya.

6.   Tes Kosa Kata

Istilah kosa kata dapat diartikan sebagai semua kata yang terdapat dalam suatu bahasa, kekayaan kata yang dimiliki seseorang dalam suatu bahasa, kata-kata yang dipakai dalam suatu bidang tertentu, daftar kata yang disusun dalam kamus beserta penjelasannya

Bahan Tes Kosa Kata

Persoalan yang banyak dihadapi guru dalam menyusun tes kosa kata terletak pada pemilihan bahan atau pemilihan kosa kata mana yang akan diteskan. Secara umum dapat dinyatakan bahwa bahan tes kosa kata adalah semua kosa kata yang terdapat dalam suatu bahasa, baik yang digunakan dalam keterampilan reseptif maupun produktif. Secara khusus pemilihan bahan tes kosa kata perlu mempertimbangkan faktor tingkat dan jenis sekolah tingkat kesulitan kosa kata aktif dan pasif, serta kosa kata umum / khusus / ungkapan.

 

Faktor-faktor pemilihan bahan tes kosa kata akan dapat memenuhi harapan, dalam arti sesuai dengan keperluan.

1.      Kondisi testi

Faktor pertama yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan bahan tes kosa kata adalah untuk siapa tes kosa kata itu disusun. Dengan diketahuinya untuk siapa tes kosa kata disusun, akan diketahui dengan pasti kosa kata yang akan diteskan. Jika pemilihan dan penentuan kosa kata disarkan pada buku pelajaran yang digunakan, ada berapa faktor yang perlu dipertimbangakan antara lain :

1.   Belum tentu semua jenis sekolah memiliki buku pelajaran yang secara khusus disusun untuk sekolah yang bersangkutan.

2.      Mendasarkan diri pada buku pelajaran semata berarti membatasi pengetahuan siswa pada buku tersebut, padahal kosa kata yang digunakan jauh lebih banyak dibandingakan yang terdapat dalam buku pelajaran.

3.      Penilaian kosa kata dalam buku-buku pelajaran belum tentu sesuai dengan tingkat kognitif siswa yang didasarkan pada penelitian yang mantap.

 

2.   Tingkat kesulitan kosa kata

Penilaian kosa kata yang akan diteskan hendaknya juga mempertimbgangakn tingkat kesulitannya, dalam arti terlalu mudah atau terlalu sulit. Salah satu pertimbangan yang dapat dipakai adalah tingkat kekerapan/keseringan pemakaian kosa kata, semakin sering dipakai suatu kosa kata dapat dipandang mudah dan sebaliknya semakin jarang dipakai suatu kosa kata dianggap sulit.

 

3.   Kosa kata aktif dan pasif

Kosa kata aktif dimaksud adalah kosa kata yang dipakai dalam keterampilan produktif (untuk berbicara dan menulis), sedangkan untuk kosa kata pasif merupakan kosa kata yang digunakan dalam keterampilan reseptif ( menyimak dan membaca ).

 

4.   Kosa kata umum, khusus, dan ungkapan

Kosa kata umum adalah kosa kata yang dipakai dalam semua bidang, kosa kata khusus merupakan kosa kata yang hanya dipakai dalam bidang-bidang tertentu, dan ungkapan atau istilah merupakan kosa kata yang memiliki makna tertentu dalam bidang tertentu.

 

Ragam Tes Kosa Kata

a.           Tes kosa kata tingkat ingatan menuntut testi untuk mengingat kembali makna kata, sinonim/antonym/hiponim/polisemi suatu kata.

b.          Tes kosa kata tingkat pemahaman menuntut testi untuk dapat memahami makan, pengertian, serta masud suatu kata/istilah/ungkapan

c.           Tes kosa kata tingakat penerapan menuntut testi untuk dapat memilih dan menerapkan kata-kata, istilah atau ungkapan tertentu dalam suatu wacana secara tepat atau mempergunakannya dalam wacana.

d.          Tes kosa kata tingkat analisis menutut testi untuk menganalisis, baik terhadap kosa kata yang diujikan maupun terhadap wacana yang menjadi konteksnya.

 

7.   Tes Struktur

Tes struktur dapat diartikan sebagai tes kebahasaan yang difungsikan untuk mengukur kemampuan testi dalam memahami dan menggunakan kalimat.

Ragam Bentuk Tes Struktur

Secara umum bentuk tes yang digunakan dalam tes struktur tatabahasa berupa tes bentuk subjektif dan bentuk objektif. Secara teprinci tes yang digunakan dalam tes struktur tatabahasa dapat dikemukakan seperti berikut :

1.          Melengkapi kalimat dengan kata atau kelompok kata yang tersedia. Misalnya ada sebuah pernyataan yang belum lengkap karena sepatah kata atau lebih dihilangkan, selanjutnya pernyataan itu diikuti dengan beberapa kata atau kelompok kata Sebagai pilihan. Tugas testi memilih kata atau kelompok kata yang tepat, sehingga pernyataan tersebut menjadi lengkap.

2.          Memilih kalimat dalam bentuk ini disajikan beberapa kalimat, dan testi diminta untuk memilih satu di antaranya ( yang benar atau yang salah ).

3.          Menyusun kembali kalimat yang kacau susunannya. Jenis ini biasanya dipakai untuk menguji hal-hal yang berkaitan dengan urutan kata dalam kalimat. Penyusunan soal dilakukan dengan cara kata-kata ditempatkan pada urutan yang tidak sebenarnya, dan testi diminta untuk memilih beberapa kemungkinan jawaban yang benar.

UNTUK LEBIH LENGKAP DAN JELAS DOWNLOAD FILE DISINI

About these ads

One response to “Tes Keterampilan Berbahasa

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: