LAPORAN PPL AWAL


LAPORAN PPL AWAL
1.1 Latar BelakangHakekat PPL-Awal ialah sebagai program pengenalan lapangan atau lingkungan lebih awal merupakan serangkaian kegiatan yang memungkinkan mahasiswa mengenal lingkungan fisik dan non-fisik sekolah (aspek administratif, akademik, dan social dalam kehidupan sekolah) yang harus dipahami dan didalami secara dini sebagai calon guru.

Sebagai calon Guru yang profesional, tidak cukup hanya berbekal ilmu di bangku kuliah saja, tapi harus mengetahui dan mengalami sendiri tentang hal-hal yang sebenarnya menjadi tugas seorang guru. Sehingga dengan melaksanakan program PPL-Awal bermanfaat bagi pengembangan mahasiswa sebagai calon guru yang professional. Melalui program PPL-Awal mahasiswa dapat memperoleh bekal pengalaman langsung di lapangan tentang berbagai aspek yang terkait dengan pengembangan diri sebagai calon guru yang professional. Temuan dan pengalaman tersebut dapat dijadikan acuan dalam diskusi dengan mahasiswa lain dan dosen pada matakuliah terkait. PPL-Awal merupakan ajang penyerapan pengalaman pertama dari rangkaian PPL bertahap terpadu sebelum mengikuti pengajaran Mikro dan PPL-Real.

PPL-Awal juga bermanfaat untuk mahasiswa yang akan melaksanakan PPL real, mahasiswa khusus dibidang pendidikan harus terlebih dahulu  melaksanakan PPL-Awal karena pembentukan sikap profesional keguruan tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. Pengenalan lapangan lebih awal dapat dilakukan melalui kegiatan seperti melaksanakan tugas-tugas tertentu separti ke sekolah untuk melakukan observasi kegiatan pembelajaran di kelas.

Sehingga kegiatan PPL-Awal ini merupakan sarana bagi Mahasiswa calon guru untuk berlatih agar mengenal secara cermat lingkungan fisik, administratif, akademik, sosial-psikologis sekolah dan sistem pengelolaan yang dikembangkan, serta memiliki kemampuan penerapan kinerja di dalam situasi sebenarnya baik dalam kegiatan mengajar maupun tugas-tugas keguruan lainnya sesuai tuntutan standar pendidikan nasional / lembaga. Dapat disimpulkan bahwa keberadaan dari program pengalaman lapangan yang dilaksanakan oleh mahasiswa calon guru sangat bermanfaat sehingga nantinya dapat mencetak sumber daya manusia yang berkualitas.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis menentukan permasalahan dalam penulisan laporan ini yaitu sebagai berikut :

1.      Bagaimana keadaan fisik sekolah sarana dan prasarana sekolah/kelas serta penataannya ?

2.      Bagaimana situasi dan kondisi lingkungan sekolah ?

3.      Bagaimana Perangkat administrasi sekolah/kelas SD Negeri 3 Pohsanten.

4.      Apa program ekstra dan ko-kurikuler yang dikembangkan sekolah SD Negeri 3 Pohsanten ?

5.      Bagaimana kehidupan sosial budaya berserta tata- tertib sekolah ?

6.      Bagaimana sikap dan pola tingkah laku siswa di dalam dan diluar kelas ?

7.      Bagaimana persiapan dan pelaksanaan proses belajar mengajar yang berlangsung sehari-hari ?

1.3  Tujuan

Adapun tujuan dari kegiatan orientasi pengembangan pengalaman lapangan awal (PPL-Awal), berdasarkan buku “Petunjuk Praktis Pelaksanaan PPL-Awal” yang dikeluarkan oleh Lembaga Pengembangan Pengalaman Lapangan (LPPL) UNDIKSHA Singaraja. Secara umum tujuan PPL-Awal ialah untuk mengkondisikan mahasiswa sebagai calon guru dengan seluruh perikehidupan sekolah secara nyata. Secara khusus PPL-Awal bertujuan agar mahasiswa dapat mengetahui dan memahami secara langsung dan cermat tentang beberapa hal yaitu :

1.      Keadaan fisik sekolah sarana dan prasarana sekolah/kelas serta penataannya.

2.      Situasi dan kondisi lingkungan sekolah.

3.      Perangkat administrasi sekolah/kelas.

4.      Program ekstra dan ko-kurikuler yang dikembangkan sekolah.

5.      Kehidupan sosial budaya sekolah berserta tata tertibnya.

6.      Sikap dan pola tingkah laku siswa di dalam dan diluar kelas.

7.      Persiapan dan pelaksanaan proses belajar mengajar yang berlangsung sehari-hari.

BAB II

KEGIATAN YANG DILAKUKAN SELAMA ORIENTASI

2.1  Kegiatan yang Dirancang

Dalam melaksanakan kegiatan observasi di SD Negeri 3 Pohsanten penulis membuat Rancangan kegiatan yang akan dilaksanakan selama mengikuti Pengembangan Pengalaman Lapangan lebih awal (PPL-Awal) dari tanggal 23 Juli sampai tanggal 4 Agustus 2007. Dengan rancangan kegiatan yang direncanakan adalah sebagai berikut :

NO WAKTU KEGIATAN NARA SUMBER KETERANGAN
1 19 – 21Juli 2007 -   Menjajagi dan menetapkan sekolah latihan Kepala sekolah Datang langsung dengan membawa surat pengantar
2 22 – 23Juli 2007 1.  Mulai Kegiatan PPL-A dengan kepala sekolah dan perkenalan dengan GP2.  Meyerahkan surat-surat dan instrumen PPL-A

3.  Mengkonsultasikan program kerja

4.  Melakukan observasi / orientasi awal

- Kepala sekolah beserta jajarannya- Guru pembimbing Tempat Sekolah latihan
3 25 -  28Juli 2007 1.  Mengenali lingkungan fisik dan non fisik sekolah2.  Mengobservasi dan mengenal pola tingkah laku siswa di kelas / luar kelas

3.  Mengenal kehidupan Sosial budaya sekolah

4.  Mengenal Program kegiatan ekstra dan kokurikuler sekolah

- Kepala sekolah beserta jajarannya- Guru pembimbing

- Siswa

Mengacu pada panduan instrumen dan kondisi di lapangan
4 30  Juli – 4 Agustus 2007 Mengenal Kegiatan pembelajaran ajar meliputi :1.  Perencanaan/persiapan mengajar

2.  Pelaksanaannya di kelas pada saat membuka, inti dan menutup PBM

3.  Interaksi , pengelolaan kelas dalam pembelajaran

- Kepala sekolah beserta jajarannya- Guru pembimbing

- Siswa

Mengacu pada instumen dan kodisi di lapangan
5 25 Juli – 9 Agustus 2007 1.  Menyusun laporan sacara bertahap2.  mengadaan klarifikasi diskusi, pendalaman, pemahaman atas temuan di lapangan

3.  Meminta lembar evaluasi yang telah diisi guru pembimbing.

4.  menyerahkan piagam kepada kepala sekolah dan guru pembimbing, sekaligus mohon diri pada akhir kegiatan

- Kepala sekolah beserta jajarannya- Guru pembimbing - Mengacu pada format laporan- Penyerahan sertifikat dan mohon diri.

2.2 Cara Pengumpulan Data

Dalam pengumpulkan data penulis melakukan beberapa teknik dan metode untuk mengumpulkan data selama pengembangan pengalaman lapangan lebih awal (PPL-Awal) yaitu :

1.      Metode Wawancara

Yaitu penulis bertanya secara langsung kepada narasumber yang dianggap mengetahui hal-hal tentang apa yang penulis tanyakan. Melalui metode ini penulis mewawancarai beberapa narasumber yang ada di sekolah seperti Kepala Sekolah, Guru serta Siswa yang ada dilingkungan sekolah. Untuk menjawab pertanyaan yang telah dipersiapkan penulis sebelumnya.

2.    Metode Observasi

Yaitu penulis secara langsung mengamati obyek-obyek yang ada di SD  Negeri 3 Pohsanten seperti megamati tentang keadaan dan situwasi sekolah. Baik itu pola prilaku Siswa ( di dalam kelas atau di luar kelas) dan proses belajar mengajar (PBM) yang sedang berlangsung. sehingga penulis bisa memperoleh data yang sebenarnya mengenai proses belajar mengajar, maupun pola sikap tingkah laku siswa di luar kelas, di luar jam pelajaran berlangsung.

3.  Metode Diskusi

Melalui metode diskusi penulis dan guru pembimbing atau pihak lain mendiskusikan permasalahan yang ditemukan selama orientasi. Dan ikutserta atau melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan SD Negeri 3 Pohsanten.

4.  Pencatatan Dokumen

Mengumpulkan data yang diperlukan dengan cara diperoleh melalui pencatatan atau penyalinan semua arsip maupum data yang diperlukan yang ada di SD Negeri 3 Pohsanten.

BAB III

TEMUAN SELAMA ORIENTASI

3.1 Keadaan Fisik Sekolah, Sarana dan Prasarananya

Selama dalam kegiatan orientasi PPL-Awal yang penulis laksanakan di SD Negeri 3 Pohsanten. Penulis telah melakukan pengamatan tentang keadaan fisik sekolah, sarana dan prasarana sekolah tempat melakukan observasi.

Adapun hasil observasi yang dilakukan, khususnya mengenai keadaan fisik sekolah, sarana dan prasarananya. Penulis mendapatkan temuan sebagi berikut:

1.      Nama sekolah                        : SD Negeri 3 pohsan

2.      Alamat                                  : Ds. Pohsanten, Dsn. Dauh Pangkung Jangu

3.      Status sekolah                       : Negeri

4.      Luas tanah                             : 4.000 m2

5.      Jumlah ruang kelas                : 5 Ruang

6.      Ukuran ruang kelas               : 8 X 7 m2

7.      Bangunan lain yang ada        :

a.    Ruang Kepala Sekolah      : 25 m2

b.    Ruang guru                       : 56 m2

c.    Perpustakaan                     : 25 m2

d.   Kantin                               : 6 m2

e.    Padmasana                                    : 5 m2

f.     UKS                                  : 12 m2

g.    Parkir                                 : 10 m2

h.    3 Ruang WC                     : 14 m2

8.      Lapangan Olahraga

SD Negeri 3 Pohsanten tidak memiliki lapangan olahraga yang khusus, namun kegiatan olahraga dilakukan di lapangan upacara yang dapat difungsikan sebagi lapangan olahraga dan halaman sekolah. Walaupun demikian lapangan  upacara yang ada di SD Negeri 3 Pohsanten  dapat digunakan sebagai lapangan olahraga yaitu lapangan bola voli dan juga dapat dipakai sebagai lapangan bulutangkis yang difungsikan pada saat kegiatan olahraga berlangsung. Adapun ukuran lapangan upacara tersebut  ialah 130 m 2 .

9.      Fasilitas-Fasilitas Sekolah

Di SD Negeri 3 Pohsanten terdapat 5 ruang kelas dengan ukuran masing-masing adalah 8 x 7 m, yang dimana ruangan untuk kelas I dan II digabung jadi satu ruangan dan untuk kelas lainya telah memiliki ruangan kelas masing-masing. Keadaan ruangan kelas tempat belajar siswa untuk menunjang berlangsungnya Peroses belajar mengajar sangat baik. Adapun fasilitas dan kelengkapan yang ada dalam kelas berserta manfaatnya antara lain:

-   Meja dan kursi yang lengkap dengan pas bungga dan taplak meja sebagai meja guru di dalam kelas.

-   Taplak meja, vas bunga, hiasan yang ditempel di dinding bagian atas berfungsi untuk memperindah ruangan sehingga mendukung suasana belajar yang lebih baik dan nyaman.

-   Meja dan kursi siswa sebagai sarana belajar siswa atau tempat duduk siswa serta sebagai tempat belajar siswa.

-   Papan tulis, kapur dan penghapus sebagai sarana untuk menulis guru dan siswa disaat peroses belajar mengajar, seperti untuk menulis penjelasan – penjelasan dari guru, mengerjakan soal di papan yang dilakukan siswa, dan kegiatan lain yang berkaitan dengan pembelajaran.

-   Gambar Peresiden, Wakil Peresiden dan gambar Garuda Pancasila. Selain itu terdapat juga gambar pahlawan. Ini bermanfaat untuk memperkenalkan kepada siswa tentang pahlawan bangsa dan untuk menghormati lambang negara kita, dasar negara kita, presiden beserta wakil presiden, serta mengingatkan siswa akan jasa – jasa para pahlawan dalam membela bangsa dan negara.

-   Tulisan slogan – slogan berfungsi untuk memacu semangat para siswa untuk belajar maupun dalam meraih citi – cita.

-   Pelangkiran, ini berfungsi sebagai tempat sembahyang sehari-hari yang dimana siswa piket yang beragama Hindu wajib menghaturkan canangsari demi keselamatan dan lancarnya pelaksanaan proses belajar mengajar di kelas.

-   Papan absent siswa, ini berguna untuk mencatat nama-nama siswa yang tidak hadir kesekolah yang dilakukan setiap hari.

-   Daftar pelajaran, ini berguna untuk siswa agar mereka dapat mengetahui jadwal pelajaran yang akan diajarkan oleh guru.

-   Daftar regu piket, ini digunakan untuk memberitahukan nama-nama siswa yang menjadi giliran piket harian.

-   Lemari digunakan untuk tempat buku, penggaris dan alat-alat kelengkapan belajar mengajar.

-   Sapu dan alat bersih lainnya yang digunakan siswa untuk membersihkan kelas setiap hari.

10.  Perpustakaan Sekolah

Perpustakaan SD Negeri 3 Pohsanten tidak dikelola oleh petugas khusus. Perpustakaan ini dikelola oleh guru yang ditugaskan oleh kepala sekolah dan dibantu oleh siswa. Dilihat dari jumlah buku yang ada cukup memadaai untuk kegiatan pembelajaran, buku-buku yang ada tercatat 3186 eksemplar. Buku –buku ini dapat dikelompokkan menjadi IPA, IPS, Sastra, bahasa indonesia, matematika dan lain-lian. Didalam menunjang kegiatan belajar mengajar perpustakaan meminjamkan buku pada siswa secara berkelompok dan ada yang berikan secara perorangan untuk jenis buku yang jumlahnya mencukupi. Upaya sekolah untuk menambah jumlah buku perpustakaan yaitu melalui dana BOS yang diberikan oleh pemerintah dan bantuan bantun buku dari pemerintah.

Penilaian penulis tentang keberadaan fasilitas dan pemanfaatan perpustakaan dalam menunjang pembelajaran bagi siswa cukup baik. Karena perpustakaan telah meminjamkan buku-buku pelajaran kepada siswa untuk memperlancar proses belajar mengajar. Selain itu para siswa juga sangat sering datang ke perpustakaan pada jam-jam istirahat ataupun pada jam-jam kosong untuk membaca ataupun meminjam buku pelajaran. Namun jumlah buku-buku yang ada perlu ditambah agar mencukupi kebutukan siswa.

11.  Laboratorium atau Ruang Peraktek

SD Negeri 3 pohsanten sampai saat ini belum mempunyai laboratorium atau ruang peraktek, sehingga siswa dalam melakukan kegiatan peraktek dilakukan di dalam kelas ataupun diluar kelas/halaman dan bahan untuk melakukan praktek dibawa dari rumah. Sehingga kegiatan berlangsung kurang optimal.

12.  Ruang BK

Sampai saat ini SD Negeri 3 Pohsanten belum mempunyai ruang BK khusus. Sehingga jika ada siswa yang mengalami masalah akan di bimbing di ruang guru dan dibimbing oleh guru kelas mereka masing-masing. Dengan keaadaan seperti itu membuat kegiatan konseling kurang berlangsung dengan baik. Karena hal ini akan mempersulit dalam kegiatan bimbingna konseling, siswa akan ragu dalam mengungkapkan permasalahan mereka karena malu dengan guru-guru yang ada disana.

13.  Ruang Serbaguna

Untuk ruang serbaguna SD Negeri Pohsanten belum memiliki ruang serbaguna tersendiri. Karena itu dalam melakukan kegiatan seperti perpisahan dan rapat sekolah menggunakan ruang kelas sebagai tempat melaksanakannya.

14.  Ruang UKS.

SD Negeri 3 Pohsanten telah memiliki ruangan UKS secara khusus namum belum mempunyai petugas khusus dan hanya dikelola oleh guru yang ditentukan oleh kepala sekolah. Ruang UKS ini telah memiliki fasilitas-fasilitas yang memadai untuk kesehatan siswa seperti :

- Tempat tidur lengkap dengan seprai dan bantal yang digunakan untuk istirahat siswa yang dalam keadaan sakit.

- Meja dan kursi sebagai sarana pelengkap untuk meletakkan barang-barang yang dibutuhkan.

- Obat-obatan yang selalu tersedia untuk memenuhi kebutuhan siswa bila terjadi kecelakaan maupun untuk siswa yang sakit.

- Kotak P3K digunakan untuk berjaga-jaga bila ada siswa yang. menggalami kecelakaan sehingga dapat memberi bantuan secara cepat.

- Alat-alat kesehatan seperti termometer untuk menunjang dalam penggobatan.

Pendapat penulis tentang keadaan ruang UKS di SD Negeri 3 Pohsanten sudah sangat cukup baik dan segala fasilitas yang ada sudah memenuhi untuk menunjang kesehatan siswa.

15.  Ruang Kepala Sekolah.

Fasilitas yang ada di ruang kepala sekolah adalah satu set meja dan kursi untuk para temu sekolah, meja dan kursi untuk kepala sekolah, lemari yang digunakan untuk menyimpan berkas-berkas, kalender, struktur organisasi sekolah.  Semua fasilitas tersebut dikelola oleh kepala sekolah dan juga digunakan sebagai tampat pertemuan antara kepala sekolah dan tamu-tamu sekolah.

16.  Ruang guru.

Ruang Guru SD Negeri 3 Pohsanten memiliki fasilitas seperti : Meja dan kursi untu masing-masing guru sebagi tempat meletakkan segala hal yang diguna dalam mengajar oleh guru yang dikelola oleh guru masing-masing, fasilitas tersebut dimanfaatkan sebagi tempat persiapan guru mengajar dan di saat istirahat. Adapun fasilitas lain yaitu : jam dinding, dispenser, rak pirng, lemari adminstrasi untuk menaruh berkas yang berhubungan dengan administrasi, lemari untuk meyimpan ala-alat olahraga dan alat lainnya.

17.  SD Negeri 3 Pohsanten memiliki satu ruangan UKS yang dikelola oleh guru-guru  dan untuk pengelolaannya dibuat jadwal piket bagi guru-guru yang bertugas. Demikian juga untuk untuk kegiatan koperasi walau-pun tidak mempunyai ruangan khusus, petugasnya ditunjuk dari guru-guru oleh kepala sekolah melalui rapat. untuk kantin sekolah dikelola oleh guru secara bergilir sehingga dapat berjalan dengan lancar.

18.  Parahyangan / tempat ibadah

SD Negeri 3 Pohsanten  memiliki parahyangan/tempat ibadah bagi umat hindu yang sederhana yang letaknya di depan kelas I/II. Untuk tempat ibadah umat lain tidak disediakan di sekolah karena siswa SD Negeri 3 Pohsanten jarang mendapat siswa yang beragama selai  beragama Hindu, hanya ada beberapa guru yang beragama lain dan untuk melakukan ibadah  biasanya dilakukan di rumah atau tempat ibadah masing-masing.

Parahyangan/tempat ibadah tersebut sangat bermanfaat  dalam proses pendidikan siswa – siswi, dimana setiap pagi sebelum siswa-siswi melaksanakan kegiatan belajar mengajar, mereka melaksanakan persembahyangan diparahyangan atau jika tidak demikian, mereka bisa melaksanakan Trisandya bersama di lapangan upacara sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai. Selain itu, setiap purnama siswa melaksanakan persembahyangan bersama sehingga parahyangan tersebut dapat dimanfaatkan dengan baik oleh para siswa dan guru khususnya yang beragama Hindu.

19.  Pertamanan, kerindangan dan kebersihan sekolah

Pertamanan, kerindangan dan kebersihan sekolah benar-benar dijaga baik oleh warga sekolah. Untuk lebih mengoptimalkan kebersihan, dibuat tugas piket di masing-masing kelas yang bertugas menjaga kebersihan kelas, dan taman kelas masing-masing. Sehingga dengan suasana sekolah yang bersih, rapi, dan rindang dapat mendukung kegiatan belajar mengajar yang lebih kondusif dan nyaman.

3.2 Situasi dan Kondisi Lingkungan Sekolah

a.       Situasi dan kondisi lingkungan sekitar sekolah

SD Negeri 3 Pohsanten terletak di desa pohsanten dusun dauh pangkung jangu yang berada pada daerah pegunungan dengan jumlah penduduk yang ada di sekitar sekolah masih sangat sedikit. Ada-pun jenis bangunan  atau kondisi yang ada di sekitar SD Negeri 3 pohsanten yaitu :

-   Sebelah Utara          : Perumahan masyarakat

-   Sebelah Timur         : Jalan desa

-   Sebelah Selatan       : Tanah Pribadi

-   Sebelah Barat          : Perumahan dan Tanah Peribadi

b.      Kondisi Lingkungan Sekolah

Kondisi lingkungan sekolah SD Negeri 3 Pohsanten pada umumnya sudah baik, suasananya nyaman, rindang dan sejuk sehingga enak dipandang mata dan menambah ketenangan siswa dalam peroses belajar mengajar. Hal ini disebabkan oleh karena taman-taman yang ada di lingkungan sekolah tertata dengan rapi, teratur, dan indah. Dengan lingkungan seperti ini sangat baik dalam mendukung proses belajar mengajar karena menciptakan suasana yang kondusif sangat baik untuk kelangsungan peroses belajar mengajar dan juga jauh dari keramaian masyarakat. Letak sekolah ini yang agak jauh dari pusat kota dan berada di daerah pegunungan tidak menyebabkan sekolah ini sulit dicapai baik dengan kendaraan umum maupun kendaraan pribadi karena sudah ada jalan desa yang cukup baik.

c.       Gambar Denah Fisik SD Negeri 3 Pohsanten : Terlampir

3.3 Perangkat Administrasi Sekolah / Kelas.

1.      Keadaan guru dan petugas administrasi sekolah

b.      Jumlah guru yang ada di SD Negeri 3 Pohsanten berjumlah 9 orang guru. Adapun rincian status guru SD Negeri 3 Pohsanten adalah sebagai berikut : 8 orang guru tetapdan 1 guru abdi.

c.       Rasio jumlah siswa – guru di SD Negeri 3 Pohsanten sangat seimbang, karena jumlah siswa dan guru pengajar seimbang sehingga kegiatan belajar mengajar berjalan secara efektiv. Dengan rasio sebagai berikut.

- Jumlah rasio Guru – siswa = 9 orang – 84 orang.

d.      Pembagian tugas guru telah diatur oleh kepala sekolah melalui rapat yang dihadiri oleh semua guru sehingga dapat diambil keputusan yang baik dan tidak ada masalah. Sehingga memperlancar segala kegiatan yang dilakukan sekolah.

e.       Beban mengajar guru di SD Negeri 3 Pohsanten dapat Penulis  katakan baik karena dilihat setiap guru mempunnyai baban yang hampir sama. Adapun rician tugas guru dan pegawai terlihat dalam daftar guru SD Negeri 3 Pohsanten (terlampir).

f.       Bagan struktur Organisasi (terlampir)

2.      Kedaan siswa

Jumlah siswa SD Negeri 3 Pohsanten pada tahun 2007 ini adalah berjumlah 84 orang dengan rincian sebagai berikut :

KELAS KELAMIN JUMLAH
L P
I 8 8 16
II 5 5 10
III 5 8 13
IV 7 4 11
V 7 9 16
VI 10 8 18
JUMLAH 42 42 84

Untuk sistem penerimaan siswa baru SD Negeri 3 Pohsanten melakukannya dengan cara memberi tahukan kepada orangtua siswa untuk membawa foto copy akta kelahiran siswa yang akan didaftarkan, dan membawa surat tamat belajar di TK apabila anak tersebut tidak belajar di TK sebelumnya tetap dapat mendaftarkan diri di SD Negeri 3 Pohsanten. Karena untuk mendaftar sekolah dasar yang diutamakan adalah umur anak dengan ketentuan anak yang diterima adalah anak yang telah berumur diatas 6 tahun.

Kualitas akademis siswa SD Negeri 3 Pohsanten yang diterima pada setiap tahun masih kurang berkualitas, karena kebanyakan siswa baru untuk siswa kelas I tidak belajar di TK sebelumnya. Hal ini disebabkan tidak adanya TK yang dekat dengan lingkungan atau wilayah masyarakat disekitar SD Negeri 3 Pohsanten. Jadi anak hannya mengandalkan didikan orang tua meraka dirumah untuk mengenal huruf dan angka. Hal ini membuat guru harus lebih berkerja keras terutama guru kelas I karena siswa yang diajar mesih belum mengenal huruf dan angka.

Dilihat dari perimbangan jumlah kelompok siswa dari jenis kelamin dapat dilihat jumlah siswa perempuan dan siswa laki-laki memiliki jumlah yang sama yaitu  dengan perbandingan laki-laki – perempuan = 42-42.

Secara umum latar belakang sosial ekonomi siswa SD Negeri 3 Pohsanten tergolong cukup baik. Walaupun ada sebagian siswa tergolong dikalangan yang kurang mampu. Namun sekolah telah mendapat bantuan operasional siswa dari pemerintah sehingga siswa dapat terus sekolah. Untuk tabel jumlah siswa yang lebih lengkap ( Terlampir ).

Program Ekstra dan ko-kulikuler yang Dikembangkan

Kegiatan ekstrakulikuler yang diprogramkan dan dilaksanakan  di SD Negeri 3 Pohsanten adalah :

 

1.      Pramuka.

2.      Bola Voli.

3.      Bulu Tangkis.

4.      Tenis Meja.

5.          Tari

6.          Berkebun

7.          matembang

Dalam mengelola kegiatan ekstra yang diprogramkan, sekolah mengambil kebijakan dengan tidak diadakannya penyaringan secara khusus namun dilakukan dengan membebaskan anak- anak untuk memilihnya sendiri sesuai dengan minat dan bakat mereka sendiri. Untuk pembinaannya sekolah mengambil pembina dari guru-guru atau-pun dari luar secara sukarela. Dan pembiayaannya diambil dari bantuan operasional siswa dan bantuan dari daerah.

Sebaran jumlah siswa pada masing-masing kegiatan untuk setiap estra. Dapat dilihat minat siswa paling banyak adalah ekstra bola voli, karena siswa sangat senang dengan permainan tersebut. Sehingga ekstra bola voli paling banyak mendapat siswa.

Dalam pengelolaan ekstra-ekstra tersebut terdapat beberapa kendala yang dihadapi sekolah atau pembina dalam menangani atau mengelola eksra

tersebut yaitu : kendala dana, ketenagaan tempat dan masalah waktu.

Prestasi yang pernah diraih SD Negeri 3 Pohsanten adalah :

-   Juara pertama murid teladan tingkat kecamatan.

-   Juara dua bulutangkis tingkat kabupaten.

-   Juara dua bola voli tingkat kabupaten.

-   Peserta olimpiade IPA dan Matematika.

 

Kehidupan Sosial Budaya Sekolah Berserta Tata Tertibnya

SD Negeri 3 pohsanten memiliki tata tertib untuk guru dan siswa yang dijadikan pedoman, serta panutan siswa dalam bersikap dan bertingkahlaku dalam mengikuti aktivitas sekolah.

Tata tertib guru/sekolah harus dipatuhi dan dilaksanakan oleh seluruh staf guru SD Negeri 3 Pohsanten tanpa terkecuali. Sedangkan tata tertib siswa harus dipatuhi dan dilaksanakan oleh seluruh siswa SD Negeri 3 Pohsanten tanpa terkecuali. Sehingga dengan adanya dua tata tertib  tersebut kondisi dan kehidupan warga sekolah dapat berjalan dengan tertib dan teratur. Dimana tata tertib guru dan pegawai serta tata tertib sekolah terlampir.

Kesan penulis tentang hubungan sosial dilihat dari hubungan siswa-siswa, siswa-guru, dan guru-guru di SD Negeri Pohsanten adalah sebagai berikut :

-   Hubungan sosial siswa-siswa cukup baik, karena terlihat dari hubungan mereka pada saat bermain diluar kelas yang jarang sampai ada yang berkelahi, walaupun ada anak yang hanya saling bercanda dan bermain dengan temannya. Siswa juga memiliki rasa saling menghargai dan tenggang rasa yang sangat baik kepada teman maupun guru yang dapat terlihat di dalam maupun di luar kelas.

-   Hubungan siswa-guru  cukup baik yang dapat terlihat dari perilaku siswa yang hormat dan patuh kepada guru seperti mengucapkan salam kepada guru mereka. Dimana juga para guru sebagai pendidik ataupun sebagai orang tua siswa di sekolah, guru selalu dan berusaha membimbing atau membantu siswa yang mempunyai masalah baik masalah mengenai pelajaran atau diluar pelajaran.

-   Hubungan guru-guru juga cukup baik karena dapat dilihat sikap yang saling membantu dan sering bertukar pikiran jika ada kesulitan didalam belajar mengajar maupun lainnya. Dalam kehidupan di sekolah hubungan guru dengan guru terlihat sangat harmonis yang dapat dilihat dengan adanya sikat yang saling menghormati, tenggang rasa dan sikap kekeluargaan yang sangat erat diantara guru.

Dalam membina dan memelihara kultur kehidupan sekolah yang kondusip kepala sekolah melakukannya dengan menetapkan tata tertib untuk guru/sekolah serta tata tertib untuk siswa sehingga kehidupan sekolah dapat berjalan dengan tertib dan lebih kondusif. Selain itu juga dengan sering malakuakn diskusi dengan guru-guru maupun rapat agar setuasi dan kondisi kehidupan sekolah dapat berjalan dengan lancar dan terkendali. Dan juga kepala sekolah selalu menanamkan rasa saling hormat-menghormati dan rasa kekeluargaan kepada guru dan siswa.

Sikap dan Pola Tingkah Laku Siswa di Dalam dan Diluar Kelas

Kegiatan di dalam kelas

1.      Membuka dan menutup pelajaran

Setelah bel tanda masuk berbunyi siwa-siswi berbaris di halaman untuk memasuki kelas masing-masing dengan tertib dan rapi, setelah berada di ruangan siswa melakukan persembahyangan bersama-sama sesuai dengan agama dan keparcayaan masing-masing. Sebelum guru memasuki ruangan perilaku dan sikap para siswa cukup tertib dengan sudah menyiapkan alat pelajaran yang akan diperlukan dalam kegiatan belajar di atas meja masing-masing. Namun ada beberapa siswa yang bermain-main, bercerita dengan teman sebangku sehingga suasana menjadi agak ribut. Hal ini terlihat pada saat siswa sedang menunggu guru memasuki ruangan kelas.

Pada saat guru memasuki ruangan kelas, para siswa memberi salam selamat pagi atau siang secara serempak dengan dipimpin oleh ketua kelas. Pada saat guru telah berada di dalam kelas para siswa berpelilaku tenang, rapi dan tertib dengan segala alat pelajaran yang mereka perlukan di atas meja di tempat duduknya masing-masing, sebelum guru memulai pelajaran.

Sebelum memulai pelajaran guru malakuka absen kelas terlebih dahulu dan siswa menjawab setelah nama mereka disebut dan berlangsung dengan tenang walaupun ada beberapa anak yang lain-lain. Sebelum menuju pelajaran inti guru menanyakan pelajaran sebelumnya, apakah ada yang belum dimengerti dan para siswa-pun cenderung menjawab dengan mengatakan sudah mengerti walaupun sebenarnya mereka belum mengerti. Tapi ada beberapa siswa yang berani mengatakan belum mengerti dan bertanya kepada guru mengenai pelajaran yang belum dimengerti. Selain itu guru juga meminta pekerjaan rumah kepada siswa apabila ada tugas yang diberikan sebelumnya. Para siswa menyerahkan pekerjaan rumah mereka masing-masing dengan tertib disini terlihat keaktifan siswa dalam mengerjakan tugas karena seluruh siswa sudah mengerjakan tugasnya dirumah.

Saat guru memulai pelajaran siswa mulai membuka-buka buku catatan, dan buku pegangan yang dimiliki. Kemudian mereka mendengarkan dan memperhatikan penjelasan guru dipapan dengan baik dan tertib. Namun ada beberapa siswa yang tidak peduli dengan penjelasan guru didepan terutama siswa yang duduk dibelakang dan ada juga diantara mereka yang kurang antusias dalam mengikuti apa yang diajarkan oleh guru. Hal tersebut terjadi karena siswa terkadang kurang menyenangi pelajaran  maupun guru yang mengajar pelajaran tersebut. jika ada pertanyaan ataupun soal dari guru, sebagian besar siswa antusias untuk mengerjakan soal tersebut dan terkadang berebut kedepan untuk bisa mengerjakan soal yang telah diberikan kepada mereka. Apabila ada siswa yang belum mengerti dengan penjelasan guru, mereka langsung mengancungkan tangan dan bertanya. Saat guru menjelaskan terlihat siswa memperhatikan dan mencatat keterangan yang diberikan oleh guru dengan seksama.

Ketika guru mengakhiri pelajaran, siswa diyakinkan apakah ada masalah dengan pelajaran yang diberikan oleh guru dan para siswa cenderung menjawab bahwa sudah tidak ada masalah dan sudah mengerti itu dikerenakan siswa sudah tidak sabar untuk keluar. Siswa memasukakn alat-alat tulisnya dan memberi salam kepada guru sebelum guru meninggalkan kelas. Setelah guru meninggalkan kelas para siswa menyusul untuk keluar.

2.      Interaksi belajar mengajar

a.       Perilaku anak saat mengikuti pembelajaran

- Aktivitas anak merespon masalah

Selama proses belajar mengajar aktivitas anak dalam merespon masalah yang dilontarkan guru cukup baik. Para siswa sangat aktif untuk merespon masalah yang diberikan guru. Mereka dapat menanggapi masalah tersebut dengan serius dan selalu berusaha untuk menjawab dan memecahkan masalah yang diberikan guru, Siswa dapat menerima pelajaran dengan baik ada yang bertanya serta ada yang menjawab sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Namun ada beberapa anak yang terlihat pasip dalam merspon hal-hal tersebut..

- Keberanian anak bertanya dan menjawab pertanyaan

Pada saat guru memberikan kesempatan menjawab dan bertanya kepada siswa. Para siswa cukup berani untuk melakukan kesempatan tersebut seperti bertanya apabila ada  yang mereka belum mengerti tatang penjelasan guru dan menjawab pertanyaan dipapan untuk maju kedepan kelas. Respon siswa sangat baik terutama pada saat guru memberikan pertanyaan kepada siswa, hampir semua siswa mengacungkan tangan untuk menjawab pertanyaan tersebut seolah-olah mereka berebut untuk menjawabnya walaupun jawaban mereka ada yang kurang tepat. Namun ada beberapa siswa yang tidak berani bertanya maupun menjawab pertanyaan guru karena malu padahal mereka bisa untuk menjawabnya, ada juga yang tidak berani menjawab karena memang tidak bisa menjawab.

- Interaksi anak-anak, anak-guru selama PBM

Interaksi ana-anak, anak-guru selama proses belajar mengajar berlangsung cukup baik dan terjalin dengan baik. Mereka saling berkerjasama dalam menyelasaikan masalah yang diberikan oleh guru. Ini dapat terlihat dari hubungan antara siswa satu dengan yang lain mereka suka saling membantu teman yang sedang kesulitan dalam pelajaran, atau guru itu sendiri yang akan memberikan penjelasan mengenai hal yang tidak dimengerti tersebut. Adapun persaingan  dalam meraih juara kelas sangat begitu terlihat mereka tetap membantu teman yang mengalami kesulitan dalam mengertikan pelajaran. Untuk hubungan guru dengan siswa juga cukup baik, ini dapat dilihat dari antusias para siswa mendengarkan serta memperhatikan penjelasan dari guru dengan tertib. Dalam menjelaskan materi guru sudah cukup baik dengan sesekali diselingi pertanyaan dan jawaban baik dari guru maupun dari siswa itu sendiri. Guru juga pun tidak segan mengulangi penjelasan apabila siswa tidak mengerti.

- Respon anak dalam mengerjakan tugas/PR

Respon anak dalam mengerjakan tugas atau pekerjaan rumah sangat bagus hal ini dapat dilihat dari atusias para siswa yang selalu mengerjakan tugas ataupun PR dengan baik dan tepat waktu dengan cara dikerjakan sindiri maupun berkelompok. Sehingga pada saat memulai pelajaran dan guru menanyakan tentang tugas rumah (PR), siswa sudah siap menunjukkan tugas rumah yang telah mereka kerjakan kepada guru mereka. Dan diantara mereka maju ke papan  untuk mengerjakan tugas/PR yang sebelumnya sudah mereka kerjakan.

b.      Prilaku khusus pada siswa yang menggagu PBM

Pada saat proses belajar mengajar berlangsung tidak ada anak yang berperilaku khusus yang dapat mengganggu kegiatan belajar. Namun ada tigkah laku anak yang tidak baik yaitu saling berbincang-bincang dengan teman sbangku mereka. Hal ini biasanya diatasi oleh guru dengan cara memberikan pertanyaan kepada mereka atau-pun menegur mereka sehingga mereka kembali memperhatikan pelajaran yang diberikan oleh guru di depan. Walaupun ada anak yang terkadang demikian, guru berusahaa menanganinya dengan memberi nasehat atau peringatan. Namun apabila siswa tersebut masih berbuat demikian maka akan dibimbing secara khusus oleh guru kelas mereka masing-masing

c.       Fasilitas yang dimiliki siswa

Dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar hampir semua siswa sudah mempunnyai fasilitas belajar seperti buku ajar, buku catatan dan fasilitas penunjang lain yang relefan  sehingga dalam kegiatan proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan lancar dan nyaman. Selain itu guru juga mengharapkan para siswa memiliki buku penunjang lainnya selain buku yang diberikan di sekolah sehingga sumber atau refrensi dalam belajar bertambah dan dapat saling melengkapi. Apabila ada siswa yang tidak membawa kelangkapan yang memadai seperti buku ajar, bolpoin dan yang lainnya, guru mengatasinya dengan cara menyarankan kepada siswa tersebut untuk meminjam kepada temannya untuk sementara dan mengigatkannya untuk jangan lupa membawa perlengkapan belajar. Apabila siswa tersebut tidak membawa buku ajar maka guru menyarankan untuk meminjam buku kepada teman dan menggunakannya secara bersama sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan baik.

d.      Hubungan antara aktivitas anak dengan guru. meta pelajaran dan waktu penyajian

Hubungan terhadap prilaki anak antara aktivitas/ interaksi anak dengan guru penyaji, mata pelajaran yang disajikan dan waktu peyajian sangat berpengaruh. Hal ini dapat ditunjukkan dari perilaku anak yang tegang pada saat guru yang mengajar mereka agak galak dan jarang membuat selingan dalam belajar. Selain itu siswa akan cenderung tidak suka degan pelajaran yang guru tersebut ajarkan dan akan mengurangi aktivitas anak. Untuk mata pelajaran yang membutukkan kosenterasi yang agak lebih para siswa sering merasa jenuh dan bosan karena mereka sulit untuk menggikuti pelajaran namun hal ini dapat di atasi apabila guru yang mengajar mereka senang membuat selingan ataupun membuat fariasi dalam mengajar sehingga anak tidak terlalu tegang dan dapat mengikuti pelajaran. Pada saat jam-jam siang para siswa sering merasa mengantuk dan ingin cepat pulang sehingga  kurang berkosentrasi untuk belajar apalagi kalau pada jam tersebut mendapat mata pelajaran yang kurang mereka sukai atau membutukkan kosentrasi tinggi maka anak sangat terlihat kurang bersemangat untuk mengikuti pelajaran, untuk mengetasi hal ini guru mengatur jadwal pelajaran dengan cara meletakkan mata pelajaran yang membutuhkan kosentrasi tinggi di jam pertama, kedua dan untuk meta pelajaran yang anak senangi di letakkan pada jam terakhir sehingga siswa dapat belajar dengan nyaman dan lancar.

3.      Pengelolaan kelas.

Pengaturan posisi tempat duduk siswa di dalam proses belajar mengajar diatur dengan baik, siswa yang lebik pendek duduk di depan dan yang lebih tinggi duduk di belakang dengan posisi sejajar kesamping dan membujur lurus kebelakang.

Prilaku siswa jika  pengelolaan kelas dilakukan secara klasikal cenderung membuat siswa kurang tertib hanya beberapa siswa sata yang memperhatikan penjelasan guru di depan, hal ini membuat guru harus bekerja keras untuk memperhatikan para siswa sambil memberikan penjelasan. Kalau pengelolan kelas dilakukan secara kelomopok akan membuat siswa ada yang memperhatikan dan ada yang tidak memperhatikan / lai-lain selain itu juga akan membuat siswa cenderung untuk mengadalkan temannya yang lebih pintar saja. Sedangkan pengelolaan secara individual akan lebih baik sehingga prilaku siswa lebih tertib dan dapat dikendalikan oleh guru. sehingga nantinya akan dicapai tingkat pemahaman yang maksimal. Maka akan terlihat perbedaan antara individu yang satu dengan yang lain karena masing-masing individu memiliki karakteristik tersendiri.

Jika ada guru yang datang terlambat atau berhalangan hadir siswa biasanya bermain didalam kelas dan ribut ataupun keluar kelas, pergi kekentin, menggagu kelas yang sedang belajar. Untuk menghindari hal-hal tersebut guru yang berhalangan hadir sebelumnya sudah menitipkan/memberikan tugas kepada kelas tersebut, kalau-pun tidak maka guru yang lainnya yang akan memberikan tugas atau mengisi pelajaran  tersebut dengan kegiatan seperti bernyayi dan menggambar agar tidak terjadi keributan dan menggagu peroses belajar mengajar kelas yang lain.

Apa bila ada siswa yang datang terlambat, sebelumnya guru bertannya apa alasan mereka sehingga bisa datang terlambat. Dan selanjutnya memberi mereka peringatan apabila keterlambatan tersebut dilakukan lebih dari tiga kali maka guru akan mengambil tindakan dengan menghukum mereka sehingga mereka tidak berani untuk mengulangginya lagi, namun untuk yang belum sering terlambat biasanya guru hannya memperingati mereka agar tidak diulangi lagi dan menyuruh mereka untuk segera masuk kelas untuk mengikuti pelajaran.

Dalam mengerjakan tugas para siswa akan cenderung santai-santai dan bercanda bila tidak diawasi oleh guru. Ada juga yang tidak mengerjakan tugas karena hanya mengandalkan temannya yang pintar saja ada juga yang senang mengganggu temannya sehingga suasananya sedikit ribut. Jika dalam pengerjaan tugas ada guru yang mengawasi maka siswa akan berkerja dengan baik dan tertip namun ada beberapa siswa yang merasa gelisah dan bosan.

Kegiatan diluar kelas

Pada saat usai pelajaran atau tidak ada kegiatan belajar mengajar, semua siswa melakukan kegiatan diluar kelas. Ada yang berbelanja di kantin, ke perpustakaan, ada yang duduk berkelompok sambil bercakap-cakap, dan ada yang bermain di halaman sekolah. Dari pengamatan yang penulis lakukan tidak ada prilaku ekstrim yang terjadi pada siswa hanya  saja ada beberapa anak yang menggaggu temannya namun tidak sampai menimbulkan masalah.

Hubungan siswa-siswa , siswa-guru, cukup baik karena mereka saling menghormati satu sama lain. Ini terlihat dari kebersamaan mereka ke kantin dengan diselingi senda gurau tanpa ada permusuhan, ada yang ngerumpi, ada juga yang bercakap-cakap  sambil membicarakan pelajaran yang tadi mereka peroleh. Begitu juga dengan hubungan antara anak/siswa dengan guru mereka. Diwaktu jam istirahat dan tidak ada kegiatan belajar-mengajar mereka biasa bertegur sapa bahkan diselingi dengan gurauan ataupun sekedar bertanya.

Perilaku siswa di luar kelas pada saat usai pelajaran dan saat tidak ada kegiatan belajar- mengajar sudah memanfaatkan  waktu istirahat sekolah secara efesien dan efektif. Mereka memanfaatkan waktu istirahat dengan berbelanja ke kantin, pergi ke perpustakaan atau kegiatan lainnya. Karena mereka hanya diberikan istirahat dengan waktu yang hanya 15 menit. Sehingga mereka harus memanfaatkan waktu dengan baik.

Untuk penanganan Perilaku anak bermasalah didalam dan di luar kelas. Dapat dilakukan dengan memberikan bimbingan dan nasehat secara umum di kelas tersebut karena selain siswa yang bermasalah diharapkan sadar dan mengerti, siswa yang lainnya juga agar tidak mengikuti tindakan bermasalah tersebut. Ataupun dengan memberi bimbingan dan konselling secar individual oleh guru kelas mereka. Dalam menangani masalah pertama tama dilakuak oleh guru kelas mereka, jika anak yang bermasalah tersebut tidak dapat di selesaikan atau ditangani akan diserahkan kepada kepala sekolah yang akan dilanjutkan  ke orang tua siswa yang bermasalah.

Usaha sekolah untuk memotivasi siswa untuk belajar dan pengembangan karir yaitu dilakukan melalui pemberian beasiswa bagi siswa yang berprestasi. Ataupun memberikan bimbingan nasehat dan contoh-contoh nyata yang dapat meningkatkan motivasi anak dalam belajar dan pengembangan karir, serta juga dapat diberikan saat  melakukan selingan dalam pemberian mata pelajaran.

Dalam menjaga hubungan sekolah dengan orang tua siswa yaitu dengan cara mengundang orang tua siswa untuk mengembil raport. Atau pun mengadakan rapat orang tua siswa setiap ada masalah yang memerlukan persetujuan orang tua siswa. Hal tersebut sangat bermanfaat  karena tanggung jawab siswa tidak semata-mata menjadi tanggung jawab sekolah tetapi tanggung jawab bersama  sehingga hubungan tersebut harus selalu dipelihara. Namun kegiatan-kegiatan lain yang telah dilaksanakan demi menjalin hubungan yang baik antara orang tua murid dengan sekolah yaitu dengan adanya rapat komite sekolah yang di anggotai oleh orang tua murid dengan kepala sekolah dan beberapa guru terkait dan dilaksanakan sekali setiap tahun di sekolah. Bagi orang tua yang anaknya bermasalah dan dipenggil untuk datang kesekolah saat menemui guru wali kelas dan kepala sekolah dalam kesempatan itu terjalin kerjasama untuk bersama-sama membina anaknya secara itensif karena pendidikan anak tidak semata-mata menjadi tanggung jawab sekolah melainkan menjadi tanggung jawab orang tua atau keluarga, guru  sebagai orangtua di sekolah, dan lingkungan masyarakat.

Persiapan dan Pelaksanaan PBM yang Berlangsung Sehari-Hari

3.7.1    Iformasi Umum

Identitas guru sebagai nara sumber selama mengikuti kegiatan orientasi di SD Negeri 3 Pohsanten adalah :

-     Guru Model.

I.   a.  Nama                            : Suwito

b.  Mata Pelajaran             : IPA

c.  Materi Yang Diajar      : Organ tubuh manusia

d.  Kelas                            : V

e   Waktu                           : 2 x 40 menit

 

II.  a.  Nama                            : I Ketut Renen.

b.  Mata Pelajaran             : IPS

c.  Materi Yang Diajar      : Perjuangan kemerdekaan

d.  Kelas                            : VI

e   Waktu                           : 2 x 40 menit

 

III. a.  Nama                           : Sutrisno, S.Pd.

b.  Mata Pelajaran             : Matematika.

c.  Materi Yang Diajar      : Bilangan ratus ribuan

d.  Kelas                            : IV

e   Waktu                           : 2 x 40 menit

 

3.7.2    Perencenaan Pembelajaran

Dalam kaitannya dengan menyusun perencanaan pengajaran, penulis melakukan wawancara dengan beberapa narasumber untuk mengetahui cara-cara atau aturan-aturan dalam membuat perencanaan pembelajaran.

Dalam menganalisis meteri pelajaran atau mengembangkan materi nara sumber melakukannya dengan cara menganalisis materi yang sesuai dengan daya serap siswa, tuntutan kurikulum serta materi yang relevan yaitu mengacu pada buku sumber seperti buu paket ataupun buku penunjang lain yag relevan. Analisis ini dimulai dari perumusan tujuan, pemilihan metode dan pendekatan yang disesuaikan dengan kurikulum yang ada dan materi yang disajikan serta keadaan siswa dan guru bersangkutan untuk berkreasi..

Menyusun Program Tahunan, Semesteran, dan harian. Cara menyusun program tahunan, semesteran, dan harian nara sumber menysesuaikan dengan kalender pendidikan kurikulum yang berlaku dengan banyaknya materi yang diberikan, sehingga dalam menyusun program tahunan, semesteran dan harian dapat terlaksana atau berjalan dengan baik sehingga sesuai dengan apa yang telah di programkan sebelumnya dengan alokasi waktu yang efektif.

Dalam Menyusun silabus. Cara-cara yang dapat dilakukan dalam penyusunan sebuah silabus menuru nara sumber  dan buku Bahan Diskusi Pelatihan Guru Pemandu KTSP Tematik dapat melalui langkah-langkah yaitu : Yang pertama–tama harus dilakukan dalam mengembangkan silabus, adalah upaya pemahaman kompetensi–kompetensi yang diharapkan terjadi setelah berlangsungnya proses pembelajaran.  Pemahaman yang menyeluruh terhadap kompetensi ditunjukkan oleh rumusan indikator/penciri bagi kompetensi terkait. Setelah terjadi pemahaman yang komprehensif terhadap kompetensi dasar–kompetensi dasar, dalam pengembangan silabus, kompetensi–kompetensi dasar tersebut dipetakan untuk mampu merancang/mengembangkan suatu tema pembelajaran. Yang dimaksudkan sebagai jaringan tema adalah hubungan/keterkaitan antara tema dengan standar kompetensi, kompeteni dasar serta indikator–indikator. Pengembangan jaringan tema selanjutnya dikaitkan dengan alokasi waktu pembelajaran. Standar Kompetensi, kompetensi dasar, indikator–indikator berserta tema, yang terkait dalam sebuah jaringan tema adalah dasar dari penyusunan sebuah silabus. Tahapan penyusunan silabus ialah terdiri dari sekurang–kurangnya standar kompetensi, kompetensi dasar, tema, indikator, kegiatan pembelajaran, sumber/bahan/alat, dan penilaian.

Nara sumber menyusun silabus seperti tersebut di atas karena Menyusun silabus adalah kewajiban seorang guru dan menjadi ketentuan setiap semester. Dengan menyusun silabus akan memudahkan guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan lancar.

Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu atau kelompok mata pelajaran/tema yang mencakup komponen–komponen standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar. Pada dasarnya silabus direncanakan untuk menjawab pertanyaan–pertanyaan berikut.

a.   Kompetensi apa saja yang harus dicapai siswa sesuai standar kompetensi dan kompetensi dasar?

b.  Materi pokok/pembelajaran apa saja yang perlu dibahas atau dipelajari peserta didik untuk mencapai kompetensi–kompetensi itu?

c.   Indikator–indikator apa saja yang harus dirumuskan untuk mengetahui ketercapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar?

d.  Kegiatan pembelajaran apa saja yang harus diskenariokan sehingga peserta didik mampu berinteraksi dengan sumber–sumber belajar?

e.   Bagaimanakah cara mengetahui ketercapaian kompetensi berdasarkan indikator sebagai acuan dalam menentukan jenis dan aspek yang akan dinilai?

f.   Berapa lama waktu yang diperlukan untuk mencapai standar kompetensi dan kompetensi tertentu yang ditetapkan?

g.  Sumber belajar apa saja yang dapat diberdayakan untuk mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar yang ditentukan?

Silabus berfungsi sebagai pedoman perencanaan kegiatan pembelajaran riil yang secara detail dituangkan dalam salah satu komponen kurikulum yang disebut rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Secara singkat dapat dikatakan bahwa silabus adalah pedoman penyusunan RPP.

Penulis telah berusaha ikut berlatih atau terlibat dalam menyusun silabus dan hasil latihan tersebut (terlampir).

3.7.3    Pelaksanaan Pembelajaran

1.      Membuka pelajaran.

Setrategi yang digunakan yang gunakan untuk membuka pelajaran. Penulis rasa sudah cukup baik yang dimana pada awal tatapmuka guru melakukan absen siswa, kemudian memberi pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang sudah diajarkan. Sehingga siswa tidak terlalu tegang dan dapat berkosentrasi pada pelajaran inti.

Waktu yang disediakan untuk membuka  pelajar sudah relevan dengan kisaran waktu 10 sampai 15 menit. Sehingga waktu yang disediakan akan dapat dimanfaatkan dengan seefesien mungkin untuk menghindari akan terjadi pelajaran yang menunggak pada akhir  pelajaran. dan setrateginya juga sesuai dengan meteri pelajaran yang akan diajarkan Sehingga kegiatan belajar mengajar dapat terlaksana tepat dengan waktunya dan lancar.

Dalam pelaksanaan belajar mengajar guru cukup sering menggunakan alat peraga. Pengunaan alat peraga tersebut juga harus sesuai dengan materi yang di berikan untuk siswa. Keguanaan alat peraga tersebut sangat membantu guru untuk menjelaskan materi yang sulit untuk dipahami oleh siswa karena alat tersebut akan memberikan whujud yang nyata pada siswa. Sehingga siswa mudah menangkap pelajaran yang berikan. Seperti alat peraga tubuh manusia, tulang manusia, alat-alat indra dan lainnya. Selain alat-alat tersebut guru juga sering menggunakan lingkungan sekitar sekolah sebagai alat peraga maupun contoh bagi siswa.

Cara yang digunakan guru untuk menyatakan peralihan dari pembukaan menuju pelajaran inti penulis rasakan sudah cukup bagus. Karena guru menggunakan cara memberikan pertanyaan yang memancing dan menggarah pada pokok bahasan materi. Cara tersebut akan membuat siswa untuk mudah mengikuti alur pelajaran yang akan di bahas dan siswa pun akan mudah mengerti maupun memperhatikan pelajaran yang diberikan.

2.      Inti Pelajaran

I.        Cara yang digunakan guru dalam melaksanakan program pengajaran adalah sebagai berikut:

1.      Dilihat dari kesesuaian perencanaan dengan pelaksanaan pengajaran, berdasarkan atas pengamatan penulis, dalam peroses belajar mengajar guru sudah melaksanakan pengajaran yang sesuai dengan rencana pengajaran, dimana sebelum guru masuk kedalam kelas untuk mengajar terlebih dahulu guru tersebut harus  sudah membuat Rencana Pengajaran. Untuk keperluan pelaksanaan pembelajaran, seorang pendidik perlu merancang lebih rinci program pembelajaran yang dikembangkan dalam silabus. Rencana pelaksanaan pembelajaran merupakan wujud riilnya rancangan kegiatan belajar mengajar yang telah ditetapkan pada saat mengembangkan silabus. Namun ada juga guru yang mengajar tidak sesuai dengan perencanaan pengajaran,  hal tersebut karena disebabkan oleh situasi dan kondisi yang ada dikelas tidak sesuai dengan rencana pengajaran.

2.      Dalam penyampaian materi bahan ajar, guru lebih sering memakai metode demontrasi atau pun memberikan panjelasan  terlebih dahulu. Setelah para siswa sudah mengerti dan memahami materi pelajaran yang disampaikan selanjutnya guru tersebut memakai metode tanya jawab, diskusi dan dengan sesekali memberikan soal kemudian beberapa siswa disuruh untuk mengerjakannya di papan atau-pun menjalaskan di depan kelas. Sehingga dari metode tersebut dapat membuktikan tingkat pemahaman siswa atas materi yang diberikan. Selain itu juga materi bahan ajarpun sudah dapat disampaikan kepada siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran umum dan tujuan pembelajaran khusus yang sebelumnya telah ditetapkan.

3.      Dalam Pengelolaan kelas yang dilakukan oleh guru dalam proses belajar mengajar dilakukan secara klasikal dan dengan metode demontrasi. Guru menjelaskan terlebih dahulu mengenai materi pelajaran yang disampaikan. Kemudian bertanya kepada siswa, apakah ada hal yang belum jelas atau tidak dimengerti, baru akhirnya mengajukan pertanyaan dan memberikan soal kepada anak didik untuk dikerjakan dan ada diantara mereka yang mengerjakan soal tersebut di papan tulis.

4.      Usaha dan cara mengaktifkan siswa dalam pembelajaran dapat dilakukan oleh guru dengan cara mengajukan pertanyaan yang cukup sulit pada siswa sehingga siswa terpacu untuk berpikir dan mencari jawabannya, dengan memberikan soal dan menyuruh mereka untuk mengerjakan  soal tersebut di papan.

5.      Cara/strategi dalam menangani anak yang mengalami kesulitan belajar dapat dilakukan dengan mendekati dan soal-soal yang belum dimengerti siswa serta memberikan pemecahannya. Sehingga siswa yang tadinya tidak mengerti dan mengalami kesulitan dalam belajar menjadi lebih mengerti dan mudah dalam belajar belajar serta dengan memberikan cara/langkah-langkah  yang baik dalam belajar. Dan jika ada temannya yang lebih mengerti  dapat ditanyakan pada temannya itu.

6.      Cara memberikan balikan dan menghadapi pertanyaan anak adalah pertama dengan melempar pertanyaan tersebut kepada para siswa dan memeberi kesempatan untuk mencari jawaban di buku, tapi jika mereka juga tidak ada yang bisa menanggapi maka guru yang harus memberi jawaban atas pertanyaan yang sedang dibahas. Namun terkadang pertanyaa yang dibahas ditugaskan sebagai pekerjaan rumah (PR) untuk dijawab kemudian dibahas pada pertemuan berikutnya.

7.      Kiat-kiat khusus guru dalam membuat suasana belajar yang kondusif yaitu dngan cara mengkaitkan materi yang diberikan kepada siswa dengan kehidupan sehari-hari terutamanya dalam penerapannya. Sehingga para siswa menjadi antusias dalam mempelajari materi terseebut. Cara lain yaitu guru menyuruh siswa-siswa untuk mengerjakan soal-soal yang dibuku kemudian guru akan memanggil beberapa siswa untuk mengerjakan soal-soal tersebut dipapan. Guru juga dapat membuat suasana belajar yang kondusif dengan cara memberikan motivasi kepada siswa dengan memberikan tambahan nilai pada siswa yang bisa mengerjakan soal yang sebelumnya sudah ditugaskan dipapan.

8.      Cara guru dalam melaksanakan program pengajaran dilihat dari pengembangan bahan ajar yaitu sebagian besar guru selalu melakukan pengembangan bahan ajar yang ditanganinya tetapai tidak melawati batas-batas. Contohnya pada pelajaran listrik dibidang studi fisika. Materi kelistrikan ini akan dikembangkan terutama dalam penerapannya dikehidupan sehari-hari namun masih pada batas-batas tertentu disesuaikan dengan kemampuan siswa, misalnya meteri yang diberikan hanya sebatas rangkain seri dan paralel. Jadi ini membuktikan dalam pengembangan bahan ajar guru tersebut tidak lewat dari apa yang telah ditetapkan dalam silabus. Guru mengajar sudah sesuai dengan silabus dan tentang alat bentu mengajar, guru sudah memanfaatkan sarana tersebut dengan baik agar proses belajar mengajar berjalan lancar. Contohnya proses belajar mengajar menggunakan alat bantu OHP, melaksanakan praktikum dengan menggunakan alat-alat yang telah tersedia di Lab.

9.      Cara guru dalam melaksanakan program pengajaran dilihat dari pemanfaatan waktu sudah dapat terlaksana dengan baik. Secara umum program-program pengajaran direncanakan sudah dapat terlaksana tepat waktunya yaitu dengan cara memanfaatkan waktu semaksimal mungkin agar materi yang diajarkan dapat disampaikan kepada siswa tepat pada waktunyadan sesuai dengan rencana pengajaran.

10.  Cara guru dalam melaksanakan program pengajaran jika dilihat dari ketepatan antara apa yang diprogramkan dengan apa yang dilaksanakan sudah cukup baik. Disini guru harus pintar-pintar dalam membuat program pengajaran dengan memilah-milah waktu yang tepat agar apa yang diprogramkan dapat terlaksana dengan baik.

3.7.4    Menutup Pelajaran

1.          Cara guru dalam menutup pelajaran dilihat dari

-          Strategi yang digunakan. Strategi yang digunakan oleh guru dalam menutup pelajaran yaitu guru biasanya menanyakan kepada siswa apakah mereka sudah mengerti atau belum, jika mereka belum mengerti guru akan memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya kemudian guru mencoba menjelaskan kembali disesuaikan dengan waktu yang tersisa.

-          Alat evaluasi/penilaian yang dilakukan. Alat evaluasi / penilaian yang digunakan guru dalam menutup pelajaran yaitu dengan membuat soal atau mengambil soal latihan di buku paket yang sesuai dengan materi untuk mengukur kemampuan siswa tentang pemahaman mereka pada materi yang sudah dijelaskan sebelumnya.

-          Efisiensi waktu. Dalam menutup pelajaran umumnya waktu yang digunakan guru cukup efisien. Sebagian besar guru sudah menyelesaikan kegiatan belajar mengajar 3-5 menit sebelum bel pergantian atau bel istirahat berbunyi.

-          Keberhasilan siswa dalam memahami materi yang diajarkan. Guru melihat keberhasilan siswa dalam memahami materi yang disajikan dari jawaban-jawaban dari soal-soal yang diberikan. Bila sebagian besar siswa dapat mengerjakan soal dengan baik berarti materi yang disampaikan sudah dipahami oleh sebagian besar siswa segingga sudah berani dikatakan tuntas.

2.          Guru jarang melakukan revisi/memodifikasi silabus yang telah dibuat setelah pelaksanaan pembelajaran karena umumnya apa yang sudah tertera/direncanakan di dalam silabus sudah dapat dilaksanakan dengan baik, kalaupun sesekali dilakukan revisi itu disesuaikan dengan kurikulum yang berlaku, kemampuan siswa serta bagaimana proses belajar mengajar berlangsung dan materi yang disampaikan.

3.          Kesan umum penulis terhadap kegiatan belajar mengajar yang penulis amati yaitu sangat baik karena dalam pelaksanaan proses belajar mengajar dalam membuka pelajaran, kegiatan inti, dan menutup pelajaran oleh guru sudah dilaksanakan dengan baik dan sesuai dengan rencana pengajaran dan silabus. Guru sudah dapat memaparkan materi-materi yang diajarkan dengan baik dari membuka, inti dan penutup pelajaran serta didukung dengan fasilitas-fasilita penunjang sehingga siswa menjadi cepat mengerti. Sikap yang ditunjukan siswa juga sudah baik. Hal ini terlihat dari sikap mereka yang antusias dalam menghadapi pelajaran. Mereka sudah bisa menunjukan pemahaman terhadap materi yang diberikan yang ditunjukan dengan keberhasilan mereka dalam mengerjakan tugas secara individual, maupun secara kelompok. Yang membuat penulis kagum yaitu saat siswa berebut untuk mengerjakan soal di papan, itu sudah menunjukan antusias mereka dalam pemahaman materi dan telah memperlihatkan proses belajar mengajar yang berlangsung kondusif.

 

BAB IV

PENUTUP

4.1 Simpulan

Berdasarkan atas tujuan, permasalahan, temuan di lapangan, data-data dan wawancara yang dilakukan penulis  maka dapat disimpulkan bahwa SD Negeri 3 Pohsanten :

1.      Unsur fisik dan nonfisik SD Negeri 3 Pohsanten pada  umumnya sudah baik, memadai dan namun ada fasilitas yang belum dapat cukupmemadai.

2.      Berdasarkan sikap dan pola tingkah laku siswa SD Negeri 3 Pohsanten secara umum sudah baik dengan adanya tata tertib untuk guru, pegawai, dan siswa. Hubungan antar warga sekolah yang sangat baik, kultur kehidupan sekolah yang kondusif, kegiatan di dalam kelas juga sudah dapat terlaksana dengan baik, dari membuka dan menutup pelajaran, interaksi belajar mengajar dan pengelolaan kelas. perilaku siswa di luar kelas juga sudah dapat menunjukkan perilaku yang cukup baik.

3.      Dalam Proses Belajar Mengajar (PBM) sudah berjalan cukup baik. Baik dari pihak guru maupun siswa. Guru sudah dapat membuat perencanaan pembelajaran dan silabus dengan baik sehingga apa yang direncanakan sudah dapat dilaksanakan dengan baik. Pelaksanaan pembelajaran juga berlangsung dengan baik. Guru sudah dapat menyampaikan materi dengan baik sehingga siswa cepat memahami mengenai materi yang disampaikan baik dari saat pembukaan pelajaran, kegiatan inti, dan menutup pelajaran.

4.      Dengan jumlah tenaga pengajar yang cukup memadai dan dengn jumlah siswa yang tidak terlau banyak, sehingga  dalam kegiatan belajar yang  terjadi di SD Negeri 3 Pohsanten para siswa mendapat perhatian yang intensip dari guru mereka dan kegiatan belajar mengajar pun dan kegiatan belajar mengajar pun dapat berjalan dengan lancar.

 

 

 

4.2 Tindak Lanjut

Berdasarkan hasil observasi  dan data-data yang penulis peroleh  selama PPL- Awal di SD Negeri 3 Pohsanten,  maka penulis dapat mengemukakan beberapa hal yang perlu di tindak lanjutti adalah sebagai berikut:

1.       Segala hal positif yang telah dimiliki oleh SD Negeri 3 Pohsanten agar tetap dipertahankan dan ditingkatkan. Seperti kedisiplinan dilingkungan SD Negeri 3 Pohsanten agar dipertahankan dan lebih ditingkatkan baik kedisiplinan guru, pagawai maupun siswa.

2.      Perpustakaan di sekolah belum sesuai dengan tujuan perpustakaan yang baik. Untuk itu perlu ditingkatkan. Agar dapat membantu kegiatan belajar mengajar. Dengan melakukan menambah jumlah buku yang tersedia sehingga cukup untuk memenuhi keperluan siswa.

3.      Dalam pemanfaatan sarana dan prasarana/fasilitas yang telah tersedia agar dapat digunakan dengan baik atau maxsimal dan ditingkatkan keberadaanya. Mungkin dengan cara menambah ruang praktek/lab sehingga jika siswa mengadakan praktek, maka siswa harus melakukannya di kelas, ini mengakibatkan hasil yang dicapai tidak optimal.

4.      Cara mengajar guru agar dipertahankan dan lebih ditingkatkan sehingga dapat menciptakan Proses Belajar Mengajar (PBM) yang kondusif. Dan prestasi yang telah diperoleh siswa, guru maupun sekolah agar dapat tetap dipertahankan kalau perlu ditingkatkan, Baik dibidang akademik amapuan nonakademik. Para siswa hendaknya meningkatkan cara belajar agar menjadi lebih baik. Untuk meningkatkan kreativitas proses belajar mengajar.

 

DAFTAR PUSTAKA

Sarna, Ketut dkk. 2005. Buku Petunjuk Pelaksanaan Program Pengalaman Lapangan (PPL). LPPL IKIP Negeri Singaraja (tidak diterbitkan).

Bahan Diskusi Pelatihan Guru Pemandu KTSP Tematik , Denpasar 17 s/d 21 Juli 2007.

Sarna, Ketut. 2005. Petunjuk Praktis PPL-Awal IKIP Negeri Singaraja. LPPL IKIP Negeri Singaraja (tidak diterbitkan).

 

Untuk lebih lengkapnyadan jelas silahkan download di sini

 

About these ads

One response to “LAPORAN PPL AWAL

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: