Monthly Archives: Februari 2011

Definisi dan Metode Ekonomi


Definisi dan Metode Ekonomi

Ilmu ekonomi merupakan cabang ilmu sosial yang mempelajari berbagai perilaku pelaku ekonomi terhadap keputusan-keputusan ekonomi yang dibuat. Ilmu ini diperlukan sebagai kerangka berpikir untuk dapat melakukan pilihan terhadap berbagai sumber daya yang terbatas untuk memenuhi kebutuhan manusia yang tidak terbatas.

Adapun tiga masalah pokok dalam perekonomian, yaitu

1.      Jenis barang dan jasa apa yang akan diproduksi?

2.      Bagaimana menghasilkan barang dan jasa tersebut?

3.      Untuk siapa barang dan jasa tersebut dihasilkan?

Ekonomi positif adalah pendekatan ekonomi yang mempelajari berbagai pelaku dan proses bekerjanya aktivitas ekonomi, tanpa menggunakan suatu pandangan subjektif untuk mengyatakan bahwa sesuatu itu baik atau jelek dari sudut pandang ekonomi. Ekonomi positif di bagi menjadi dua, yaitu ekonomi deskriptif dan ekonomi teori.

Sedangkan ekonomi normatif adalah pendekatan ekonomi dalam mempelajari perilaku ekonomi yang terjadi, dengan mencoba memberikan penilaian baik atau buruk berdasarkan pertimbangan subjektif.

Berkaitan dengan sistem ekonomi, ada tiga bentuk sistem ekonomi yang dikenal di dunia ini, yaitu:

1.      Sistem ekonomi pasar (Laissez-Faire Economy), merupakan sistem ekonomi yang berbasis pada kebebasan individu dan perusahaan dalam menentukan berbagai kegiatan ekonomi, seperti konsumsi dan produksi. Perekonomian akan menentukan titik keseimbangan dengan mengandalkan kemampuan pada sistem harga, yaitu tarik menarik antara permintaan dan penawaran. Keseimbangan harga serta jumlah barang dan jasa dalam perekonomian dibimbing oleh sesuatu yang tidak kelihatan (invisible hand).

2.      Sistem ekonomi terpusat (sistem ekonomi sosialis) atau disebut Command Economy, yaitu sistem ekonomi dimana pemerintah membuat semua kebijakan menyangkut produksi, distribusi, dan konsumsi. Dengan kata lain, dalam sistem ekonomi sosial yang murni, pemerintah mengatur semua aspek kegiatan ekonomi.

3.      Sistem ekonomi campuran yaitu gabungan dari sistem ekonomi pasar dan sistem ekonomi terpusat. Dalam sistem ekonomi campuran, kebebasan individu dan perusahaan dalam menentukan kegiatan ekonomi masih diakui, tetapi pemerintah ikut campur dalam perekonomian sebagai stabilisator ekonomi dengan memberlakukan berbagai kebijakan fiskal dan moneter.


PENGERTIAN KONSERVASI


PENGERTIAN KONSERVASI

Konservasi itu sendiri merupakan berasal dari kata Conservation yang terdiri atas kata con (together) dan servare (keep/save) yang memiliki pengertian mengenai upaya memelihara apa yang kita punya (keep/save what you have), namun secara bijaksana (wise use). Ide ini dikemukakan oleh Theodore Roosevelt (1902) yang merupakan orang Amerika pertama yang mengemukakan tentang konsep konservasi. Konservasi dalam pengertian sekarang, sering diterjemahkan sebagai the wise use of nature resource (pemanfaatan sumberdaya alam secara bijaksana).

Konservasi juga dapat dipandang dari segi ekonomi dan ekologi dimana konservasi dari segi ekonomi berarti mencoba mengalokasikan sumberdaya alam untuk sekarang, sedangkan dari segi ekologi, konservasi merupakan alokasi sumberdaya alam untuk sekarang dan masa yang akan datang.

Apabila merujuk pada pengertiannya, konservasi didefinisikan dalam beberapa batasan, sebagai berikut :

1.      Konservasi adalah menggunakan sumberdaya alam untuk memenuhi keperluan manusia dalam jumlah yang besar dalam waktu yang lama (American Dictionary).

2.      Konservasi adalah alokasi sumberdaya alam antar waktu (generasi) yang optimal secara sosial (Randall, 1982).

3.      Konservasi merupakan manajemen udara, air, tanah, mineral ke organisme hidup termasuk manusia sehingga dapat dicapai kualitas kehidupan manusia yang meningkat termasuk dalam kegiatan manajemen adalah survai, penelitian, administrasi, preservasi, pendidikan, pemanfaatan dan latihan (IUCN, 1968).

4.      Konservasi adalah manajemen penggunaan biosfer oleh manusia sehingga dapat memberikan atau memenuhi keuntungan yang besar dan dapat diperbaharui untuk generasi-generasi yang akan datang (WCS, 1980).

 

 

 

 

 

Di Asia Timur, konservasi sumberdaya alam hayati (KSDAH) dimulai saat Raja Asoka (252 SM) memerintah, dimana pada saat itu diumumkan bahwa perlu dilakukan perlindungan terhadap binatang liar, ikan dan hutan.  Sedangkan di Inggris, Raja William I (1804 M) pada saat itu telah memerintahkan para pembantunya untuk mempersiapkan sebuah buku berjudul Doomsday Book yang berisi inventarisasi dari sumberdaya alam milik kerajaan.

Kebijakan kedua raja tersebut dapat disimpulkan sebagai suatu bentuk konservasi sumberdaya alam hayati pada masa tersebut dimana Raja Asoka melakukan konservasi untuk kegiatan pengawetan, sedangkan Raja William I melakukan pengelolaan sumberdaya alam hayati atas dasar adanya data yang akurat.  Namun dari sejarah tersebut, dapat dilihat bahwa bahkan sejak jaman dahulu, konsep konservasi telah ada dan diperkenalkan kepada manusia meskipun konsep konservasi tersebut masih bersifat konservatif dan eksklusif (kerajaan). Konsep tersebut adalah konsep kuno konservasi yang merupakan cikal bakal dari konsep modern konservasi dimana konsep modern konservasi menekankan pada upaya memelihara dan memanfaatkan sumberdaya alam secara bijaksana.

 

Sedangkan menurut Rijksen (1981), konservasi merupakan suatu bentuk evolusi kultural dimana pada saat dulu, upaya konservasi lebih buruk daripada saat sekarang.

Secara keseluruhan, Konservasi Sumberdaya Alam Hayati (KSDAH) adalah pengelolaan sumberdaya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragamannya.

Di Indonesia, kegiatan konservasi seharusnya dilaksanakan secara bersama oleh pemerintah dan masyarakat, mencakup masayarakat umum, swasta, lembaga swadaya masayarakat, perguruan tinggi, serta pihak-pihak lainnya.  Sedangkan strategi konservasi nasional telah dirumuskan ke dalam tiga hal berikut taktik pelaksanaannya, yaitu :

1.      Perlindungan sistem penyangga kehidupan (PSPK)

a.   Penetapan wilayah PSPK.

b.   Penetapan pola dasar pembinaan program PSPK.

c.   Pengaturan cara pemanfaatan wilayah PSPK.

d.   Penertiban penggunaan dan pengelolaan tanah dalam wilayah PSPK.

e.   Penertiban maksimal pengusahaan di perairan dalam wilayah PSPK.

2.      Pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya

a.   Pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya

b.   Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa (in-situ dan eks-situ konservasi).

3.      Pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya.

  1. Pemanfaatan kondisi lingkungan kawasan pelestarian alam.
  2. Pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar (dalam bentuk : pengkajian, penelitian dan pengembangan, penangkaran, perdagangan, perburuan, peragaan, pertukaran, budidaya).

RPP IPA kelas V SD


Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

(RPP)

 

Nama Sekolah           :

Kelas / Semester        :   V /  I

Tema                          :   Air

Hari                            :

Tanggal                      :

Alokasi waktu            :   2 x 35 Menit

Tahap Perencanaan

A. Standar Kompetensi

1.      Memahami perubahan yang terjadi di alam dan hubungannya dengan penggunaan sumber daya alam (IPA).

 

B. Kompetensi Dasar

1.      Mendeskripsikan proses daur air dan kegiatan manusia yang dapat mempengaruhinya (IPA).

 

C. Indikator

1.      Menggambarkan proses daur air dengan menggunakan diagram atau gambar dan Mengidentifikasi kegiatan manusia yang dapat mempengaruhi daur air (IPA)

D. Alat Bantu

Buku / sumber bacaan

 

E. Langkah-langlah

Menetapkan konsep-konsep yang hendak diketahui siswa.

Pengetahuan tentang air dan pentingnya air bagi kehidupan dan perlu dijaga kebersihannya dan perlu diperhatikan kualitasnya untuk kehidupan.

Menetapkan Pertanyaan  Kunci

a)      Sebutkan manfaat air bagi kehidupan?

b)      Sebutkan kerugian-kerugian apa yang ditimbulkan dari air?

v  Langkah pembelajaran

a)      Guru memperlihatkan 1 gelas air kepada siswa

b)      Guru menyuruh siswa mengamati dan menentukan tema dari air

c)      Guru bersama dengan siswa menentukan tema-tema yang akan dipelajari berdasarkan media yang telah diberikan

d)      Membagi siswa kedalam tiga kelompok belajar

e)       Guru bersama siswa membuat kontrak kerja yang akan dikerjakan setiap kelompok

F. Tahap Pelaksanaan

Tahapan Kegiatan Kegiatan
Kegiatan Awal
  • Mengadakan tanya jawab tentang air
  • Guru memperlihatkan segelas air
Kegiatan Inti
  • Guru menjelaskan topik yang akan disampaikan
  • Guru membagi siswa dalam 3 kelompok (satu kelompok terdiri dari 9 – 10 siswa)
  • Setiap kelompok ditunjuk ketua kelompok dan sekretaris kelomok
  • Setiap kelompok diberikan urian tugas yang berbeda, kelompok, 1) membahas tentang proses daur air dengan dan Mengidentifikasi kegiatan manusia yang dapat mempengaruhi daur air (IPA), 2) Membahas / Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan volume air dalm kubus / balok dalam kehidupan sehari-hari (MATEMATIKA), 3) mambahas tentang / Menuliskan informasi yang didapat dari sebuah wacana Tentang air (BAHASA INDONESIA)
  • Guru mengamati perilaku siswa selama diskusi (keterlibatan, disiplin, kerjasama kelompok dan tanggung jawab)
  • Setelah berdiskusi setiap kelompok mempresentasikan hasil kelompok di depan kelas dan kelompok lainnya mendengarkan dan mengajukan pertanyaan.
  • Guru memberikan tambahan tentang jawaban dari setiap kelompok.
  • Siswa membuat laporan hasil diskusi dan menempelkannya di papan pajangan agar dapat dilihat oleh semua siswa
Kegiatan akhir/ enutup
  • Guru memberikan penghargaan pada kelompok yang paling baik (hasil kerja, kerjasama kelompok, keaktifan dan lainnya) dan memberikan semangat pada kelompok yang belum menunjukkan hasil yang baik.
  • Guru memberikan penjelasan tambahan tentang kekurang-lengkapan informasi yang dilaporkan oleh setiap kelompok.
  • Guru memberikan kesimpulan tentang apa yang telah dipelajari
  • Menutup pelajaran dan memberikan pesan moral bagi para siswa

 

G. Tahap kulminasi

a)      Kegiatan siswa

 

Ø  Menunjukkan hasil kerja yang telah dibuat dalam bentuk laporan

Ø  Membacakan hasil kerja yang telah dibuat di depan kelas

 

b)  Kegiatan Guru

 

Evaluasi Proses

No Nama

Siswa

Aspek Yang di Nilai Ket
Kognitif Afektif Psikomotor
           
           
           
           

Kognitif   :

Kelompok I (IPA)

Ø  Menjelaskan daur ulang air

Ø  Menjelaskan hal-hal yang mempengaruhi daur ulang air

Kelompok II (MATEMATIKA)

Ø  Menjelaskan cara menentukan volum kubus dan balok

Kelompok III (BAHASA INDONESIA)

Ø  Menyebutkan informasi yang telah dibaca dari wacana

 

Afektif     :

Ø  Kerapian

Ø  Mematuhi perintah guru

Ø  Memperhatikan penjelasan guru

 

Psikomotor  :

Ø  Memperlihatkan kedisplinan

Ø  Aktif dalam melaksanakan kegiatan

Ø  Bekerja sama dengan baik


Penerapan metode tugas dan latihan untuk meningkatkan hasil belajar IPS Bagi Siswa kelas IV semester I SD Negeri Munduk Bestala Tahun 2009/2010


A. Judul Penelitian:

Penerapan  metode tugas dan latihan untuk meningkatkan hasil belajar IPS Bagi Siswa kelas IV semester I SD Negeri Munduk Bestala Tahun  2009/2010

B. Latar Belakang Masalah

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Dalam Undang-Undang No.20 tahun 2003, Bab II pasal 3 disebutkan bahwa ;

Tujuan pendidikan nasional adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. (Undang-Undang RI No.20 tahun 2003: 3)

Berkaitan dengan tujuan pendidikan nasional tersebut di atas, maka sangatlah diperlukan peningkatan sumber daya manusia yang berkualitas tinggi. Hal ini dikarenakan kualitas sumber daya manusia  merupakan kekuatan utama dalam menggerakkan roda pembangunan. Sejalan dengan upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia dan menyiapkan peserta didik dalam sistem persekolahan, maka peserta didik perlu dibantu dalam memecahkan masalah belajar. Guru diharapkan dapat membantu siswa dalam memecahkan masalah tersebut agar tujuan pendidikan nasional dapat tercapai sesuai dengan yang diharapkan

Perhatian guru hendaknya ditujukan kepada  usaha menciptakan kondisi belajar yang kondusif, sehingga merangsang siswa untuk melakukan kegiatan belajar.

Dalam kegiatan belajar mengajar, guru merupakan salah satu komponen yang sangat berpengaruh terhadap murid, karena guru merupakan ujung tombak tercapainya tujuan pendidikan.

Tujuan pendidikan ini akan dapat tercapai dengan baik apabila metode mengajar yang dipilih dapat diterapkan dengan sungguh-sungguh dan siswa lebih mudah memahami materi pelajaran yang disajikan, siswa lebih bergairah serta senang dalam belajar. Diantara berbagai metode yang ada, peneliti memilih metode tugas dan latihan untuk digunakan dalam penelitian tindakan kelas.

Dari observasi awal peneliti, menunjukkan bahwa dewasa ini para guru Sekolah Dasar belum sepenuhnya memahami penerapan metode tugas dan latihan dengan baik. Keluhan-keluhan guru sering terlontar karena hanya masalah kekurangan waktu, sedangkan materi pelajaran masih banyak khususnya di SD Negeri Munduk Bestala tempat kami mengadakan penelitian. Hal ini akan berdampak juga terhadap  hasil belajar siswa, guru jarang memberikan tugas dan latihan karena harus dituntut untuk menghabiskan materi pelajaran. Hasil observasi menunjukan bahwa nilai pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas IV Semester I SD Negeri  Munduk Bestala rendah dengan angka rata-rata 5 (lima). Hal ini kiranya tidak perlu terjadi karena usaha yang dapat dilakukan masih terbuka lebar, salah satu caranya adalah dengan menerapkan metode tugas dan latihan dengan baik.

Pada akhirnya, peneliti berharap dengan diterapkannya metode tugas dan latihan bisa membantu meningkatkan hasil belajar siswa. Apabila  masalah tersebut telah dapat dipecahkan, diharapkan hasil belajar siswa dapat meningkat sesuai dengan harapan sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai, khususnya bagi siswa kelas IV   Semester I SD Negeri Munduk Bestala pada tahun 2009/2010.

C. Perumusan Masalah

Atas dasar latar belakang masalah tersebut, maka dapat diajukan perumusan masalah sebagai berikut :

“Apakah terdapat peningkatan hasil belajar siswa setelah diterapkan metode tugas dan latihan dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di kelas IV Semester I SD Negeri Munduk Bestala  2009/2010?”.

 

 

D. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan permasalahan yang diungkapkan, maka tujuan penelitian yang dilakukan adalah :

“Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa setelah diterapkan metode tugas dan latihan dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di kelas IV Semester I SD  Negeri Munduk Bestala”.

E. Manfaat Penelitian

Setelah diadakan penelitian, di harapkan agar hasil penelitian ini bermanfaat sebagai berikut :

a.       Bagi guru dapat termotivasi untuk mengajar, dengan cara ini proses belajar mengajar berjalan dengan baik sehingga dapat memperjelas konsep serta dapat meningkatkan professional guru

b.      Bagi siswa diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar terutama mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di kelas IV Semester I SD Negeri Munduk Bestala.

c.       Bagi Kepala Sekolah, hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sumber informasi berharga terutama dalam usaha meningkatkan hasil belajar siswa

d.      Bagi peneliti lain, hasil penelitian ini dapat dijadikan tolok ukur dalam langkah-langkah melakukan penelitian selanjutnya.

F. Kajian Pustaka

1. Metode Mengajar

  1. Pengertian Metode Mengajar

A.A. Gede Agung (1999 : 1) mengatakan “metode berasal dari kata methodos. Secara etimologis metodos berasal dari  kata metha artinya dilalui dan thodos artinya jalan. Metode adalah jalan atau cara yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan”.

Metode merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam proses belajar mengajar. Di dalam dunia pendidikan terdapat berbagai jenis metode yang dapat dimanfaatkan untuk mencapai tujuan di dalam kegiatan belajar mengajar

“Metode mengajar adalah kegiaran guru untuk mencapai tujuan tertentu” (Nasution, 1982 : 43). Dalam proses pembelajaran guru melaksanakan kegiatan yang telah direncanakan untuk mencapai tujuan yang  telah ditetapkan. Pendapat tersebut juga didukung oleh Syaiful Bahri Djamalah dan Aswan Zain (1995 : 53) yang mengatakan bahwa metode mengajar adalah ”strategi pengajaran sebagai alat untuk mencapai tujuan yang diharapkan”.

Menurut Nana Sudjana (1989 : 76) metode mengajar adalah “cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pelajaran” Guru dan siswa mengadakan hubungan pada saat pembelajaran. Hendaknya guru menggunakan cara-cara yang tepat supaya terjadi hubungan yang kondusif sehingga tujuan tercapai.

Dari beberapa pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa metode mengajar adalah suatu cara yang harus ditempuh atau dilalui di dalam menyampaikan suatu materi untuk mencapai tujuan instruksional yang telah ditetapkan. Proses belajar mengajar merupakan interaksi yang dilakukan antara guru dengan peserta didik dalam suatu situasi pendidikan atau pengajaran untuk mewujudkan tujuan yang ditetapkan. Wujud interaksi pengajaran melalui beberapa pendekatan menghendaki adanya pertimbangan yang kuat atas keunikan dan keragaman peserta didik. Seorang  guru sudah barang tentu dituntut kemampuannya untuk menggunakan berbagai metode mengajar secara bervariasi. Metode mengajar merupakan cara-cara yang ditempuh guru unuk menciptakan situasi pengajaran yang benar-benar menyenangkan dan mendukung bagi kelancaran proses belajar dan tercapainya prestasi belajar anak yang memuaskan.

  1. Jenis-Jenis Metode Mengajar

Jenis-jenis metode mengajar menurut Syaiful Bahri Jamarah dan Aswan Zain (1995 : 93) adalah 1) Metode Proyek yaitu metode pengajaran yang bertitik tolak dari suatu masalah dan dipecahkan secara keseluruhan dan bermakna, 2) metode eksprimen yaitu cara penyajian pelajaran melalui percobaan, 3) metode tugas, yaitu cara penyajian pelajaran melalui percobaan, 4) metode diskusi yaitu memberian pertanyaan problematic kepada siswa untuk dibahas dan dipecahkan bersama, 5) metode sosiodrama yang dilakukan dengan cara mendramatisasikan  tingkah laku dalam hubungannya dengan masalah sosial, 6) metode demonstrasi yaitu cara penyajian pelajaran dengan cara meragakan kepada siswa tentang suatu proses disertai penjelasan lisan, 7) metode problem solving dimana siswa mencari jalan keluar dari suatu masalah, 8) metode karyawisata dengan mengajak siswa meninjau obyek tertentu, 9) metode tanya jawab dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab, 10) metode latihan yang digunakan untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu, 11) metode ceramah yang digunakan untuk menyampaikan keterangan/informasi/uraian tentang sesuatu secara lisan.

Nana Sudjana (1987 : 76) menambahkan lagi 5 jenis metode mengajar yaitu 1) metode simulasi yang dilakukan melalui perbuatan yang bersifat pura-pura, 2) metode survai masyarakat yaitu cara memperoleh informasi dengan jalan observasi dan komunikasi langsung, 3) metode piersource person (manusia sumber) yaitu dengan mendatangkan orang luar yang mempunyai keahlian sumber, 4) metode sistem regu yaitu cara mengajar dimana sebuah kelompok siswa diajar oleh 2 orang guru atau lebih, 5) metode kerja kelompok yaitu guru memberikan tugas kepada siswa untuk dikerjakan secara berkelompok.

“Diantara sekian banyak metode mengajar yang dikenal guru, ada 10 metode mengajar yaitu “metode ceramah, Tanya jawab, diskusi, kerja kelompok pemberian tugas, demonstrasi, ekperimen, simulasi, inkuiri dan metode pengajaran unit/ pembelajaran teroadu” (Mulyani Sumantri dan Johan Permana, 1998/1999 : 134).

Dari beberapa jenis metode tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan akan dapat tercapai dengan baik sangatlah tergantung pada tepat tidaknya guru tersebut menggunakan metode pada mata pelajaran tertentu. Tujuan-tujuan pendidikan pembelajaran dan jenis mata pelajaran menentukan metode apa sebaiknya digunakan. Setiap mata pelajaran tertentu mempunyai metode tertentu sesuai dengan kekhususan mata pelajaran tersebut. Oleh sebab itu guru hendaknya dapat menentukan metode apa yang paling efisien bagi pelajarannya sehingga tujuan pengajaran tercapai secara baik

Perlu diketahui bahwa tidak ada satupun metode yang dapat dianggap lebih sempurna dari pada yang lain. Masing-masing metode memunyai keunggulan dan kekurangannya. Karena itu dalam proses pembelajaran dapat digunakan lebih dari satu metode. Dalam penelitian ini metode yang dikaji dibatasi hanya pada metode tugas dan latihan.

 

d. Metode Tugas dan Latihan

1.      Metode Tugas

Metode ini sangat cocok diberikan untuk mengimbangi bahan pelajaran yang sangat banyak  sementara waktu sedikit.

Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (1995 : 96) mengatakan bahwa “metode tugas adalah cara penyajian bahan dimana guru memberikan tugas tertentu agar bisa melakukan kegiatan belajar”. Masalah tugas yang dilakukan oleh siswa dapat dilakukan di dalam kelas, halaman sekolah di perpustakaan, di bengkel, di Laboratorium, di rumah siswa atau dimana saja asal tugas itu dapat dikerjakan.

Tugas tidak sama dengan pekerjaan rumah, tetapi jauh lebih luas dari itu. Tugas merangsang anak untuk aktif belajar baik secara individual maupun secara berkelompok

Tugas yang dapat diberikan kepada anak didik ada berbagai jenis, karena itu tugas sangat banyak macamnya, tergantung pada tujuan yang akan dicapai, seperti tugas meneliti, menyusun laporan (lisan/tulisan), tugas di laboratorium dan lain-lain. Menurut Nana Sudjana (1987 : 81) mengatakan ada beberapa langkah-langkah yang harus diikuti dalam penggunaan metode tugas yaitu :

a.       Fase Pemberian Tugas

Tugas yang diberikan kepada siswa hendaknya mempertimbang-kan

1.      Tujuan yang akan dicapai

2.      Jenis tugas yang jelas dan tepat sehingga anak mengerti apa yang ditugaskan tersebt

3.      Sesuai dengan kemampuan siswa

4.      Ada petunjuk/sumber yang dapat membantu pekerjaan siswa

5.      Sediakan waktu yang cukup untuk mengerjakan tugas tersebut

 

b.      Langkah Pelaksanaan Tugas

1.      Diberikan bimbingan/pengawasan oleh guru

2.      Diberikan dorongan sehingga anak mau bekerja

3.      Diusahakan / dikerjakan oleh siswa sendiri tidak menyuruh orang lain

4.      Dianjurkan agar siswa mencatat hasil-hasil yang ia peroleh dengan baik dan sistematik

 

c.       Mempertanggungjawabkan tugas

Hal yang harus dikerjakan adalah :

1.      Laporan siswa baik lisan/tertulis dari apad yang telah dikerjakannya

2.      Ada Tanya jawab/diskusi kelas

3.      Penilaian hasil pekerjaan siswa baik dengan tes maupun non tes atau cara lainnya.

Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (1995 : 98) mengatakan metode tugas mempunyai kelebihan dan kekurangan adalah sebagai berikut :

1.      Kelebihannya :

a.       Lebih merangsang siswa dalam melakukan aktivitas belajar individual/ kelompok

b.      Dapat mengembangkan kemandirian siswa di luar penugasan guru

c.       Dapat membina tanggung jawab dan disiplin siswa

d.      Dapat mengembangkan kreativitas siswa

2.      Kekuranganya

a.       Siswa sulit dikontrol apakah benar ia yang mengerjakan tugas ataukah orang lain

b.      Khusus untuk tugas kelompok yang aktif mengerjakan dan menyelesaian adalah anggota tertentu saja. Sedangkan anggota lainnya tidak berpartisipasi dengan baik

c.       Tidak mudah memberikan tugas yang sesuai dengan perbedaan individu siswa

d.      Sering memberikan tugas yang monoton dapat menimbulkan kebosanan siswa

Melihat kelebihan dan kekurangan dari metode tugas tersebut, bila dikaitkan dengan   hasil belajar siswa sangatlah mendukung. Dengan metode tugas akan bisa membangkitkan semangat belajar siswa, mandiri, bertanggung jawab dan penuh kreatif, hal ini akan bisa memcapai hasil belajar yang baik. Menurut Mulyani Sumantri dan Johar Permana (1998/1999 :151) mengatakan ”metode tugas mempunyai kekuatan dan keterbatasan, yaitu sebagai berikut”.

1.      Kekuatan metode tugas :

a.       Membuat peserta didik aktif belajar

b.      Merangsang peserta didik belajar lebih banyak, baik dekat dengan guru maupun pada saat jauh dari guru di dalam sekolah maupun di luar sekolah

c.       Mengembangkan kemandirian peserta didik

d.      Lebih memperdalam, memperkaya atau memperluas pandangan tentang apa yang dipelajari

e.       Membina kebiasaan peserta didik untuk mencari mengolah sendiri informasi dan komunikasi

f.       Membuat peserta didik dan bergairah belajar karena dapat dilakukan dengan bervariasi

g.      Membina tanggung jawab dan disiplin siswa

h.      Mengembangkan kreativitas peserta didik

2.      Keterbatasan metode tugas

a.       Sulit mengontrol peserta didik apakah belajar sendiri atau dikerjakan orang lain

b.      Sulit memberikan tugas yang sesuai dengan perbedaan individu peserta didik

c.       Tugas yang monoton dapat membosankan peserta didik

d.      Tugas yang banyak sering dapat membuat beban dan keluhan peserda didik

e.       Tugas kelompok dikerjakan oleh orang tertentu atau peserta didik yang rajin dan pintar.

Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan dari penggunaan metode penugasan adalah untuk merangsang anak untuk aktif belajar baik secara individual maupun kelompok

Setelah Tanya jawab atau ceramah diketahui bahan-bahan yang perlu mendapatkan penekanan dan harus dikuasai peserta didik oleh karena itu guru memberikan tugas dengan alasan agar peserta didik dapat belajar sendiri atau berkelompok mencari pengayaan atau sebagai tindak lanjut dari kegiatan sebelumnya. Metode penugasan menjadi salah satu cara penyampaian pengajaran untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban-jawaban atau tugas yang diberikan guru.

2. Metode Latihan

Metode latihan yang disebut juga metode training, merupakan suatu cara mengajar  yang baik untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu. Juga sebagai sarana untuk memelihara kebiasaan-kebiasaan yang baik. Selain itu, metode ini dapat juga digunakan untuk memperoleh suatu ketangkasan, ketepatan, kesempatan dan keterampilan.

Sebagai suatu metode yang diakui banyak mempunyai kelebihan, juga tidak dapat disangkal bahwa metode latihan mempunyai beberapa kelemahan.

Maka dari itu, guru yang ingin mempergunakan metode latihan  ini kiranya tidak salah bila memahami karakteritik metode ini

Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (1995 : 108) mengatakan kelebihan dan kekurangan metode latihan adalah sebagai berikut :

a.       Kelebihan Metode Latihan

1.      Untuk memperoleh kecakapan motoris seperti menulis, melafalkan huruf, kata-kata atau kalimat, membuat alat-alat dan terampil menggunakan alat olahraga

2.      Untuk memperoleh kecakapan mental, seperti dalam perkalian menjumlahkan, pengurangan, pembagian, tanda-tanda dll.

3.      Untuk memperoleh kecakapan dalam bentuk asosiasi yang dibuat, seperti hubungan huruf-huruf dalam ejaan, penggunaan symbol membaca peta dan sebagainya

4.      Pembentukan kebiasaan yang dilakukan dan menambah  ketepatan serta kecepatan pelaksanaan

5.      Pemanfaatan kebiasaan-kebiasaan yang tidak memerlukan konsentrasi dalam pelaksanaannya

6.      Pembentukan kebiasaan-kebiasaan membuat gerakan-gerakan yang komplek, rumit, menjadi lebih otomatis

b.      Kelemahan Metode Latihan

1.      Menghambat bakat dan inisiatif siswa karena siswa lebih banyak dibawa kepada penyesuaian dan diarahkan jauh dari pengertian

2.      Menimbulkan penyesuaian secara statis kepada lingkungan

3.      Kadang-kadang latihan yang dilaksanakan secara berulang-ulang merupakan hal yang monoton, mudah dan membosankan

4.      Membentuk kebiasaan yang kaku, karena bersifat otomatis

5.      Dapat menimbulkan verbalisme

Melihat kelebihan dan kekurangan dari metode latihan tersebut , bila dikaitkan dengan keaktifan dan hasil belajar siswa sangatlah mendukung. Dengan metode  latihan akan tertanam kebiasaan-kebiasaan yang baik pada diri siswa.

3.      Penerapan Metode Tugas dan Latihan

Penggunaan metode tugas biasanya diberikan pada saat guru selesai memberikan materi pelajaran kepada siswa, ada kalanya timbul suatu persoalan/ masalah yang tidak dapat diselesaikan dengan hanya penjelasan secara lisan melalui ceramah. Untuk itu guru perlu menggunakan metode tugas sebagai jalan keluarnya baik tugas-tugas individu maupun tugas kelompok, sehingga siswa dapat melakukan kegiatan belajar dengan baik.

2. Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial

Untuk memperjelas pemahaman tentang hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial maka akan dibahas mengenai : a. Pengertian hasil belajar ilmu pengetahuan sosial, b. Faktor-faktor yang mepengaruhi hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial, c. Ciri-ciri hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial.

a.       Pengertian Hasil Beajar ilmu Pengetahuan Sosial

Kata hasil mempunyai arti “pendapatan atau perolehan” (W.J.S Poerwadarminta. 1994 : 384). Dalam penelitian ini hasil diartikan sebagai pendapatan atau perolehan dari seseorang dengan menunjukkan kecakapan dan kemampuannya. Hasil belajar ini biasanya ditunjukkan melalui perolehan nilai, keterrampilan, prilaku dan lain sebagainya.

Ilmu Pengetahuan sosial adalah “ pelajaran yang mempelajari kehidupan sosial yang didasari pada bahan kajian geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi, tata Negara dan sejarah” (Depdikbud, 1993 : 151)

Dengan demikian hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial mengandung pengertian sebagai pendapatan atau perolehan berupa kecakapan dan kemampuan terhadap ruang lingkup pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.

b.      Ciri-ciri Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial

Dalam GBPP Ilmu Pengetahuan Sosial (1994 : 150) disebutkan ciri-ciri hasil belajar IPS sebagai berikut.

1.      Mampu mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dasar untuk kenyataan sosial yang dihadapi siswa dalam kehidupan sehari-hari memiliki kemampuan mengembangkan pemahaman tentang rasa kebangsaan.

2.      Memiliki kebanggaan sebagai bangsa Indonesia dan cinta tanah air.

Ciri-ciri belajar Ilmu Pengetahuan Sosial yang lain, secara implicit tercermin dalam tujuan khusus pengajaran Ilmu Pengetahuan Sosial yang meliputi penguasaan dan kemampuan siswa tentang berbagai hal seperti :

1.      Mampu memahami hubungan antara manusia dengan lingkungan budayanya.

2.      Mampu memahami peristiwa-peristiwa serta perubahan-perubahan yang terjadi di sekitarnya.

3.      Mampu mengenal kebutuhan-kebutuhannya serta menyadari bahwa manusia lainnya memiliki kebutuhan.

4.      Menghargai budaya masyarakat sekitarnya, bangsa an juga budaya bangsa lain.

5.      Dapat menerapkan prinsip-prinsip ekonomi yang bertalian dengan dirinya sendiri.

6.      Mempunyai tanggung jawab dalam pemeliharaan dan pengelolaan sumber daya manusia dan alam.

7.      Mampu menghargai sejarah bangsanya serta hak-haknya sebagai manusia yang hidup di suatu Negara yang merdeka (Depdikbud, 1993/1994 : 2).

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan apabila mampu menunjukkan sikap atau prilaku seperti yang diuraikan di atas, itulah hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial.

c.       Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial.

Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama, yakni faktor dari dalam diri siswa dan faktor dari luar diri siswa atau faktor lingkungan. Faktor yang datang dari diri siswa terutama kemampuan yang dimiliki siswa. Faktor kemampuan siswa besar sekali pengaruhnya terhadap hasil belajar yang dicapai. Seperti yang dikemukakan oleh Richard Clark (1981 : 12) bahwa : hasil belajar siswa disekolah 70% dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan 30% dipengaruhi oleh lingkungan”.

Adanya faktor pengaruh dari dalam diri siswa, merupakan hal yang logis dan wajar, sebab hakikat perbuatan belajar adalah perubahan tingkah laku individu yang disadarinya. Kualitas pengajaran juga sangat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa.

G. Kerangka Berpikir

Sesuai kajian pustaka yang telah diuraikan di atas, selanjutnya dapat diajukan kerangka berpikir sebagai berikut :

a.       Metode tugas dan latihan yang merupakan dua diantara sekian banyak metode yang ada sangat diperlukan dalam proses belajar mengajar Ilmu Pengetahuan Sosial untuk menghindari kekurangan waktu dalam proses belajar mengajar.

b.      Melalui metode tugas dan latihan siswa akan dapat lebih memahami suatu proses, karena siswa dirangsang untuk aktif belajar baik secara individual maupun kelompok. Dengan aktif belajar sendiri akan dapat tertanam kebiasaan-kebiasaan positif baik dalam ketangkasan, ketetapan, kesempatan dan keterampilan, sehingga berpengaruh pada peningkatan hasil belajar.

H. Hipotesis Tindakan

Jika penerapan metode tugas dan latihan dapat berjalan dengan baik, maka hasil belajar siswa dalam Ilmu Pengetahuan sosial  akan cenderung meningkat.

UNTUK LEBIH JELAS DAN LENGKAP SILAHKAN DOWNLOAD FILE DI SINI


laporan PPL REAL


LAPORAN PPL REAL

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.    Latar Belakang
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di era-globalisasi seperti saat ini, memberikan tuntutan yang besar di dalam dunia pendidikan untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas dan mampu memenuhi perkembangan jaman.
Menilik dari faktor-faktor yang mempunyai pengaruh besar di dalam bidang pendidikan yaitu proses belajar mengajar khususnya di sekolah dasar, maka dapat dilihat bahwa guru merupakan komponen atau faktor yang sangat penting disamping faktor lainnya, yaitu metode pengajaran, sarana dan prasarana pembelajaran, kurikulum, serta materi pembelajaran. Berdasarkan hal tersebut maka diambilah tindakan untuk peningkatan kinerja calon guru khususnya guru sekolah dasar. Mahasiswa calon guru diberikan kesempatan untuk mengasah potensi dirinya dalam program pengalaman lapangan.
Program Pengalaman Lapangan (PPL) adalah suatu program yang dirancang dalam pendidikan prajabatan guru, untuk melatih para mahasiswa calon guru agar menguasai kemampuan keguruan secara utuh dan terintegrasi untuk menilai kemampuan mahasiswa dalam menerapkan ilmu yang didapat di bangku perkuliahan sehingga dapat melahirkan guru-guru yang profesional dan siap pakai serta handal dalam melaksanakan tugasnya.
Program Pengalaman Lapangan (PPL) Real diharapkan dapat menjadi sarana untuk menambah wawasan para mahasiswa calon guru untuk lebih mengenal karakter anak yang satu dengan yang lainnya. Selain tugas mengajar juga diberikan tugas untuk mengerjakan administrasi yang sangat erat kaitannya dengan tugas guru kelas. Kegiatan-kegiatan itu diselenggarakan secara bertahap dan terpadu serta dalam bentuk orientasi lapangan, pelatihan terbimbing dan pelatihan mandiri yang terjadwalkan secara sistematis di bawah bimbingan dari dosen pembibing dan guru pamong yang memenuhi syarat. Sehingga nantinya calon-calon guru dapat mendidik anak didiknya untuk dapat menghadapi kemajuan dalam dunia pendidikan yang semakin berkembang.

1.2.    Tujuan
Adapun tujuan dari diselenggarakannya program pengalaman lapangan secara nyata adalah sebagai berikut :
1.    Tujuan Umum PPL-Real
Tujuan umum PPL-Real adalah untuk melatih mahasiswa calon guru memiliki kemampuan memperagakan kinerja dalam situasi nyata dalam kegiatan mengajar maupun tugas-tugas keguruan lainnya.
2.    Tujuan Khusus PPL-Real
Tujuan khusus PPL-Real adalah agar mahasiswa calon guru dapat menimba dan menyerap pengalaman secara langsung dan cermat tentang hal-hal sebagai berikut :
a.    Lingkungan fisik, administrasi, akademik, dan sosial-psikologis sekolah.
b.    Penguasaan berbagai keterampilan dasar mengajar.
c.    Penerapan berbagai keterampilan dasar mengajar.
d.    Pengembangan aspek pribadi dan sosial di lingkungan sekolah.
e.    Pengembangan kompetensi pembelajaran bidang studi yang menjdi spesialisasinya.

1.3.    Manfaat
Manfaat yang dapat dipetik dalam melaksanakan PPL-Real adalah sebagai berikut :
1.    Pengalaman selama mengikuti PPL-Real dapat digunakan sebagai modal dasar dalam mengembangkan profesionalitas sebagai seorang guru kelak dilapangan.
2.    Pengalaman selama mengikuti PPL-Real akan sangat bermakna bagi calon guru pada saat mengemban tugas nyata di suatu sekolah.
3.    Berbagai pengalaman yang berhasil diserap dalam PPL-Real secara langsung dan tidak langsung akan bermakna bagi lulusan dalam mengemban tugas-tugas non-keguruan di masyarakat.

BAB II
GAMBARAN SINGKAT
MADRASAH IBTIDAIYAH NEGERI SINGARAJA

Berdasarkan penjadwalan yang telah ditetapkan oleh lembaga hal ini LPPl Undiksha, bahwa mahasiswa semester VIII S1 Jurusan PGSD Fakultas Ilmu Pendidikan Undiksha untuk mengikuti PPL, yang dilaksanakan tanggal 1 Pebruari sampai dengan 1 Mei 2010 pada Sekolah Dasar (SD) yang telah ditentukan yaitu Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Singaraga.
Adapun kegiatan berdasarkan Peroram kerja setelah di  Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Singaraga terdapat pada Tabel 2.1

Tabel 2.1 Perogram kerja PPL-Real MIN Singaraja
NO.    PROGRAM    WAKTU    TEMPAT (NARA SUMBER)
I    KEGIATAN OBESRVASI ORIENTASI
1    Menyusun dan Legalisasi Program Kegiatan PPL    1-6 Pebruari 2010    GP, DP, Kepsek
2    Mengamati Fasilitas Sekolah, Keadaan Guru/Pegawai, Siswa, dll.    1-6 Pebruari 2010    Kepsek/Petugas Yang Bersangkutan
3    Mengamati Fasilitas Pendukung Pembelajaran (Ruang Kelas, Perpustakaan, Media Yang Ada di Lapangan)    4-6 Pebruari 2010    GP, Pengawas Perpustakaan, Kepsek, dll.
4    Mengenal dan Berlatih Membuat Program Tahunan, Semester, Persiapan Mengajar dan Administrasi Kegiatan Lain    5-11 Pebruari 2010    Gp, TU
5    Mengobservasi Guru Model Yang Ditindak Lanjuti Dengan Tanya Jawab    8-13 Pebruari 2010    GP, Guru Model
6    Persiapan Mengikuti Latihan Mengajar Terbimbing    13-16  Pebruari 2010    GP
II    KEGIATAN MENGAJAR
1    Pelatihan Mengajar Terbimbing    17-31 Maret 2010    GP dan DP
2    Pelatihan Mengajar Mandiri    1-30 April 2010    GP dan DP
III    KEGIATAN NO-MENGAJAR
1    Mengenal Administrasi Sekolah (Kesiswaan, Kepegawaian, Keuangan, dan Perlengkapan)    2 Pebruari-23Maret 2010    Kepsek, Petugas Yang Relevan
2    Mengenal Pengelolaan Sekolah Secara Umum    2 Pebruari-23Maret 2010    Kepsek, Petugas Yang Ditunjuk
3    Mengenal Pengelolaan LAB, Perpustakaan, Ruang Praktikum    3 Pebruari-20 Maret 2010    Peng. LAB, Perpustakaan, R. Praktikum
4    Mengenal Pengelolaan Bimbingan Belajar dan Penanganan Anak Bermasalah    3 Pebruari-23 Maret 2010    Petugas BK, DP, GP, Kepsek
5    Mengenal Pengelolaan OSIS dan Disiplin Siswa    3 Pebruari-23 Maret 2010    Pembina OSIS, GP
IV    MENYUSUN LAPORAN PPL-REAL
1    Persiapan, Pengumpulan Data, Analisis Data, dan Penyusunan    29 Maret- 17 April 2010    GP, DP, dan Kepsek
2    Konsultasi Draf Lapoan Dengan DP. GP dan Penjilidan serta Penggandaan    17 April -1 mei 2010    GP, DP
3    Penyerahan Laporan Kepada GP dan DP.    24 April-8 Mei 2010    GP, DP
V    MASA UJIAN PPL    26-30 April 2010    GP, DP dan Kepsek
VI    MASA PERPISAHAN    1 Mei 2010    GP, DP, Kepsek, LPPL

Sebelum terjun langsung ke kelas mahasiswa PPL mengadakan observasi selama satu minggu. Tujuan observasi salah satunya untuk mencari pengalaman latihan mengajar dan latihan keguruan lainnya. Dalam observasi yang dilakukan adalah pengamatan tentang Madrasah Ibtidaiyah Negeri Singaraja yaitu: 1) obsevasi lingkungan fisik, 2) observasi lingkungan sekolah, 3) kegiatan mengajar, dan 4) kegiatan no-mengajar.

2.1 Struktur Organisasi
Setiap organisasi selalu  memiliki struktur organisasi. Adapun struktur organisasi yang ada di Madrasah Ibtidaiyah Negeri MIN Singaraja dapat dilihat dalam Gambar bagan 2.1

Gambar 2.1 Bagan Struktur Organisasi MIN Singaraja

2.2 Lingkungan Fisik dan Lingkungan Sekolah

a.  Sejarah singkat Madrasah Ibtidaiyah Negeri Singaraja
Madrasah Ibtidaiyah Negeri Singaraja merupakan sekolah setingkat sekolah dasar bercirikan Islam(Depag 1995). Madrasah Ibtidaiyah Negeri Singaraja bernaung di bawah Departemen Agama dan Departemen Pendidikan Nasional.
Madrasah Ibtidaiyah Negeri Singaraja telah brdiri pada tahun 1942 dengan nama “Sekolah Arab” yang bertempat di jalan Dipenogoro dengan jumlah siswa kurang lebih 15 orang siswa di atas tanah seluas 1500m2. Kemudian sekitar tahun 1942 nama “Sekolah Arab” diganti dengan nama “Sundari Goku(swasta)” dengan jumlah orang sekitar 200 siswa. Sekitar tahun 1942-1952 sekolah Sundari Goku(swasta) berubah lagi namanya menjadi “Madrasah Al-Ijtihad Al-Islamiyah” / “Madrasah Pendidikan Islam”.
Tahun 1954 oleh pemerintah sekolah ini di nonaktifkan selama satu tahun. Penduduk Muslim sangat berkeinginan untuk memiliki sekolah yang bercirikan islam. Hal ini terbukti dangan usaha masyarakat untuk mengaktifkan kembali sekolah ini pada tahun 1955. Setelah diaktifkan kembali sekolah ini memiliki nama baru yaitu “Sekolah Rakyat Islam (SRI)” bertempat di jalan Patimura. Sekitar tahun 1955-1962 Sekolah Rakyat Islam berubah lagi namanya menjadi “Sekolah Dasar Islam (SDI)” dan kemudian menjadi “Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah(MII)” bertempat di jalan Dewi SartikaNo 5b Singaraja.
Perjalanan “Madarsah Ibitdaiyah Islamiyah” sangat fenomenal, terjadi perubahan yang cukup signifikan sehingga eksistensi “Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah” sedemikian dikenal dan langsung dapat dirasakan oleh masyarakat. Melihat perkembangan tersebut, akhirnya Departemen Agama (Depag) Jakarta meminta kepada Yayasan Pendidikan Islam pada saat itu untuk membantu pelaksanaan pembelajaran yang kondusif sebagai mana mestinya layaknya sekolah umum. Menyadari akan pengelolaan pendidikan yang begitu memajukan pendidikan, maka oleh Yayasan diserahkanlah Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah (Mil) kepada pemerintah. Maka sejak 25 November 1995 status “Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah” berubah statusnya dari swasta menjadi negeri yaitu Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Singaraja sampai sekarang.

b.  Lingkungan Fisik Sekolah.
1.  Nama Sekolah    :     Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Singaraja
2.  Alamat    :    Jln. Dewi Sartika Utara No 5b Singaraja
3.    Status Sekolah    :     Negeri
4.    Luas Tanah    :    15 are (10 kelas)
5.    Jumlah Ruang Kelas    :     10 Kelas
6.    Ukuran Kelas    :     56 m2
7.    Bangunan lain yang ada beserta luasnya
a.    Perpustakaan    :     56  m2
b.    Kantor Kepala Sekolah     :     4  m2
c.    Kantor guru    :     49  m2
d.    Masjid    :    144  m2
e.     Kantin    :    28  m2
f.    Toilet    :    4  m2
g.    Rumah Penjaga Sekolah     :    14  m2
h.    Ruang UKS    :    14  m2
i.     Ruang Tata Usaha    :    21  m2
j.     Gudang    :    14  m2
8.  Lapangan Olah Raga
Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Singaraja belum memiliki lapangan olah raga secara khusus tetapi halaman sekolah merangkap menjadi lapangan olahraga yaitu lapangan bulu tangkis dan lapangan basket.

c.  Keadaan Lingkungan Sekolah
Keadaan lingkungan Madrashah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Singaraja cukup bersih dan nyaman. Semua ini berkat partisipasi seluruh warga sekolah, baik siswa yang selalu melaksanakan kegiatan piket kelas dengan rutin maupun guru yang setiap hari mengkoordinir siswa dalam melaksanakan pembersihan di lingkungan sekolah.
Dilihat dari lokasi Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Singaraja mempunyai lokasi yang sangat strategis, yaitu dekat dengan jalan umum sehingga mudah dijangkau oleh kendaraan umum.Walaupun berdekatan dengan jalan raya, tetapi sedikitpun anak-anak tidak merasa terganggu dalam mengikuti pembelajaran. Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Singaraja dikelilingi oleh batas-batas sebagai berikut.
1.    Di sebelah utara    :     Jalan dan Permukiman penduduk
2.    Di sebelah barat    :     Kuburan Cina
3.    Di sebelah selatan    :     Kuburan Islam
4.    Di sebelah timur    :     Jalan dan Rumah Penduduk
Denah lingkungan Madrashah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Singaraja

Gambar 2.2  Denah Sekolah MIN Singaraja
d.   Fasilitas sekolah
Dalam  melaksanakan proses belajar mengajar  hendaknya  selalu diimbangi dengan fasilitas yang memadai.  Adapun jenis fasilitas yang mendukung proses belajar mengajar di Madrashah Ibtidaiyah  Negeri (MIN) Singaraja adalah sebagai berikut
1.  Ruang Kepala Sekolah
Kepala Madrashah Ibtidatyah Negeri (MEN) Singaraja dalam melaksanakan tugasnya mempunyai tempat khusus berupa ruang Kepala Madrasah adapun inventaris yang ada pada ruang kepala sekolah adalah sebagai berikut.

Tabel 2.3: Inventaris Ruang Kepala Sekolah.
NO.    Jenis Barang    Jumlah    Kondisi
1    Kursi + meja Kepala Sekolah    1    Baik
2    Kursi + meja tamu    1    Baik
3    Almari    1    Baik
4    Data Statistik    1    Baik
5    Komputer    1    Baik
6    Gambar Presiden dan Wkil Pesiden    1    Baik
7    Gambaf Burung Garuda    1    Baik
8    Telepon    1    Baik

2.  Ruang Guru
Ruang Guru Madrashah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Singaraja merupakan  tempat bagi guru-guru utuk mengerjakan tugas-tugas administrasi keguruan. Fasilitas yang ada dalam ruangan ini digunakan sebagai sarana penunjang untuk melakukan segala rutinitas sekolah antara lain meja, kursi, papan pengumuman, tata tertib guru, jadwal piket guru, dan jadwal pelajaran. Adapun perlengkapan lainnya berupa lukisan ataupun gambar-gambar yang dijadikan sebagai hiasan ruangan dan ornamen untuk menciptakan suasana kesejukan dan ketenangan bagi guru-guru dalam bekerja.
3.  Ruang Kelas
Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Singaraja memiliki 10 ruang Kelas. Ruang kelas I dan II digabung dan digunakan bergiliran. Fasilitas setiap ruangan dari kelas I dan VI hampir sama. Hanya saja untuk ruang kelas IIA, IVB dan VB dilengkapi dengan kipas angin karena ruangan ini merangkap sebagai aula. Fasilitas penunjang masing-masing kelas adalah sebagai berikut
.
Tabel 2.2: Fasilitas Ruang Guru dan Penunjang PBM
Jenis Barang    Jumlah
Meja + kursi siswa    Sejumlah siswa
Meja dan kursi guru    1
Taplak dan vas bunga    1
Papan    1
Penghapus    1
Papan absen siswa    1
Almri    1
Hiasan dinding    1
Jadwaipiket    1
Jadwal pelajaran    1
Tata tertib    1
Gambar Presiden dan Wakil Presiden    1
Gambar Burung Garuda                       1
Alat Kebersihan                                   1
Jam dinding    1

4.  Ruang Tata Usaha
Ruang tata usaha, adalah ruangan tersendiri yang dilengkapi beberapa fasilitas guna membantu kelancaran administrasi sekolah baik mengenai laporan atau data-data sekolah. Adapun fasilitas- fasilitas yang ada di ruang tata usaha adalah sebagai berikut.

Tabel 2.4:  Inventaris Ruang Tata Usaha
No.    Jenis Barang    Jumlah    Kondisi
1.    Kursi + meja    6/7    Baik
2.    Komputer    3    Baik
3.    Almari    6    Baik
4.    Rak buku    1    Baik
5.    Mesin ketik    1    Baik
6.    Jam dinding    1    Baik
7.    Papan    struktur    organisasi    MIN
Singaraja    1    Baik
8.    Papan program kerja tahunan Kepala
MIN Singaraja    1
Baik
9.    Papan daftar unit kepangkatan guru
tetap dan pegawai MIN Singaraja    1    Baik
10.    Papan statistik keadaan guru MIN
Singaraja    1    Baik
11.    Sofa + meja tamu    7/1    Baik
12.    Dispenser    1    Baik

5.  Perpustakaan Sekolah.
Madrashah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Singaraja sudah  memiliki ruang yang khusus untuk perpustakaan. Perpsutakaan ini dikelola oleh petugas  khusus. Adapun fasilitas perpustakaan tersebut adalah sebagai berikut.

Tabel 2.3 : Fasiliatas Perpustakaan
No.    Jenis barang    Jumlah    Kondisi
1.    Kursi dan meja    7    Baik
2.    Almari    6    Baik
3.    Rak Buku    8    Baik
4.    Kipas angin    1    Baik
5.    Alat peraga IPS    20 set    Baik
6.    Alat paraga IPA    14    Baik
7.    Alat peraga matematika    6    Baik
8.    Tongkat pramuka    20    Baik
9.    BukuIPS    255    Baik
10.    Buku IPA                 396    Baik
11.    Buku Bahasa Indonesia    357    Baik
12.    Buku Matematika       531    Baik
13.    Buku Pkn       180    Baik
14.    Buku Cerita    885    Baik
15.    Buku  Agama    1440    Baik
16.    Buku  Referensi    738    Baik
17.    Gambar Presidan dan Wakil Presiden    1    Baik
18.    Gambar Burung Garuda    1    Baik

6.  Ruang UKS
Madrashah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Singaraja memiliki ruang UKS yang tersendiri meskipun sangat sederhana dan berukuran kecil. Ruang UKS digunakan untuk menangani anak yang mempunyai masalah kesehatan ataupun yang sewaktu-waktu sakit di sekolah. Fasilitas yang terdapat di ruang UKS antara lain tempat tidur pasien dan obat-obatan P3K.

e.   Keadaan Lingkungan Sosial Sekolah
1.   Keadaan guru
Jumlah tenaga pendidikan yang ada di MIN Singaraja adalah 25 orang yang dipimpin oleh 1 orang Kepala Sekolah, 11 orang guru tetap, 2 orang honor TU, 10 orang guru honorer, 1 orang pegawai tetap TU dan 1 tenaga honor penjaga sekolah. Pembagian tugas dirancang oleh Waka Kurikulum, selanjutnya jika sudah mendapatkan persetujuan dari Kepala Sekolah, maka diadakan pembagian tugas guru. Pembagian tugas pegawai dirancang oleh bagian tata usaha dan selanjutnya meminta persetujuan dari Kepala Sekolah. Apabila telah mendapat persetujuan, kemudian diadakan pembagian tugas kepada para pegawai. Guru-guru MIN Singaraja memiliki beban mengajar 8-30 jam pelajaran perminggu. Selain mengajar seorang guru juga memiliki tugas sebagai piket, wali kelas dan sebagai koordinator ekstrakurikuler. Pembagian tugas guru dan pegawai (terlampir).
2  Keadaan  siswa
Keadaan siswa di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Singaraja cukup banyak, dimana dari keseluruhan jumlah siswa yang ada, rata-rata tiap kelas terdiri dari 30 orang. siswa. Jumlah   keseluruhan   siswa   MIN   Singaraja   tahun   ajaran 2009/2010 adalah 364 siswa dengan perincian sebagai berikut.

Tabel 05. Jumlah siswa MIN Singaraja Tahun Ajaran 2009/2010
No.    Kelas    L    P    Jumlah
1.    IA    16    12    28
2.    IB    19    9    28
3.    IIA    11    21    32
4.    IIB    17    15    32
5.    IIIA    16    17    33
6.    IIIB    18    14    32
7.    IVA    14    12    26
8.    IVB    14    13    27
9.    VA    17    16    33
10.    VB    21    13    34
11.    VIA    11    17    28
12.    VIB    17    14    31
Jumlah    191    173    364

3.   Kegiatan Ekstrakurikuler
Kegiatan ekstrakurikuler yang ada di MIN Singaraja terbilang masih sangat sedikit, hal ini dikarenakan kurangnya minat siswa yang belum optimal. Kegiatan ekstrakurikuler yang diprogramkan oleh sekolah dilaksanakan pada sore hari yaitu hari sabtu. Pramuka merupakan kegiatan wajib diikuti oleh seluruh siswa khususnya kelas IV dan V. Kegiatan ini langsung dibina oleh 4 (empat) orang guru sekolah yaitu: Bapak Muhammad Zakaria, S.Pd.I., Bapak Taufiqur Rahman, A.Ma.Pd., Ibu Shapiyah,A.Ma.Pd., dan Ibu Ismilah Dwiyanti, S.Pd. Kegiatan ekstrakurikuler lainnya yaitu ekstra voli dibina oleh Bapak Taufiqur Rahman, A.Ma.Pd., dan ekstra foot sall dibina oleh Bapak Almawardhi, A.Ma. Kegiatan ekstrakurikuler yang diadakan oleh sekolah tidak dikenakan biaya, hal ini dibantu oleh dana BOS sehingga antusias siswa untuk menambah wawasan dan pengalaman yang sebanyak-banyaknya dapat terakomodasi.
4.   Interaksi sosial.
•    Hubungan Kepala sekolah dengan Staf
Hubungan kepala sekolah dengan staf di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Singaraja terjalin sangat baik dan penuh keakraban karena adanya rasa kebersamaan.
•    Hubungan guru dengan guru
Hubungan guru di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Singaraja terlihat saling menjalin hubungan dengan baik, adanya rasa kebersamaan, kekeluargaan, kerjasamaan, dan juga terlihat sering bercanda (humoris) antar sesama guru yang dapat  terlihat dari keseharian para guru.
•    Hubungan guru dengan siswa
Di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Singaraja interaksi guru dengan siswa juga terlihat akrab dan sikap siswa terhadap guru cukup sopan dan menghormati kedudukan seorang guru. Begitu juga sikap guru terhadap siswa, guru-guru disini sangat ramah dan bersedia memberikan nasehat apabila ada siswa yang melanggar tata tertib sekolah. Selain itu, kalau siswa bertemu dengan gurunya selalu memberi salam (salim) selayaknya hubungan antara orang tua dengan anak di rumah.
•    Hubungan antara siswa
Hubungan antar sesama siswa di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Singaraja terjalin dengan baik. Keakraban tercipta di antara para siswa yang terlihat dalam keseharian mereka terutama pada saat mereka istirahat. Selain itu juga terjalin rasa kekeluargaan dan kerjasama yang baik, hal ini dapat dilihat pada saat mereka bersama-sama melaksanakan tugas sekolah yaitu pada saat melaksanakan pembersihan.
•    Hubungan antar semua personal
Hubungan antar personal di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Singaraja berjalan dengan baik, saling menghormati, kerjasama dan rasa kebersamaan selalu mewarnai situasi di Madrasah ini.

2.3  Kesan-kesan Penulis
Kesan-kesan penulis yang dapat disampikan dari hasil pengamatan penulis antara lain:
1.    Tata ruang, kebersihan dan kerindangan sekolah sudah sangat baik. Kebersihan sekolah tetap terjaga dengan baik melalui pembagian piket perkelas yang melaksanakan tugasnya dengan baik.
2.    Kelengkapan sarana-prasarana yang ada di MIN Singaraja bisa dikatakan belum cukup memadai, terbukti dari masih kurangnya alat peraga untuk beberapa mata pelajaran seperti: alat peraga untuk bidang studi IPA, Matematika.
3.    Berdasarkan perimbangan jumlah siswa dan guru pada MIN Singarajasudah seimbang. Setiap kelas ditangani oleh seorang wali kelas.
4.    Disiplin siswa dan guru sangat baik terbukti dari tidak banyaknya terjadi pelanggaran-pelanggaran terjadi, siswa dan guru tiba dan pulang sesuai dengan waktu yang dijadwalkan. Dan siswa sangat menaati seluruh tata tertib yang ada dan telah ditetapkan.
5.    Suasana belajar-mengajar yang berhasil diciptakan guru sangat baik karena perhatian siswa terhadap materi yang diberikan guru cukup baik dan interaksi siswa guru sangat baik. Serta beberapa kiat-kiat yang dikembangkan guru dalam mengelola pembelajaran ada dengan melibatkan siswa secara langsung dalam pembelajaran.

BAB III
HASIL PPL DAN PEMBAHASAN

3.1    Hasil PPL
Pelaksanaan kegiatan PPl-Real Di MIN Singaraja ini berpedoman pada jadwal kegiatan yang telah ditentukan.  Adapun yang menjadi fokus kegiatan PPL-Real diantaranya adalah pelaksanaan kegiatan Pembelajaran dan kegiatan non pembelajaran selama melaksanakan PPL-Real di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Singaraja adalah sebagai berikut:

3.1.1 Kegiatan Pembelajaran .
a. Observasi dan Orientasi
Pelaksanaan observasi dan orientasi dilaksanakan selama dua minggu awal setelah penyerahan mahasiswa kepada sekolah. Selama masa observasi dan orientasi  ini, penulis mengamati dan  mengenal keadaan sekolah, baik keadaan fisik, seperti sarana dan fasilitas sekolah, maupun  keadaan non fisik sekolah, seperti hubungan sosial yang terjalin di sekolah.
b.   Observasi Guru Model
Selain melakukan pengamatan terhadap lingkungan fisik, lingkungan non-fisik, administrasi kelas dan  lingkungan sosial. Penulis juga dituntut untuk mengamati cara mengajar dan mengelola kelas dari Guru-guru pengajar di MIN Singaraja. Beberapa Guru model yang sempat di amati yaitu sebagai berikut :
a)    Hasrini, A.Ma
Mata Pelajaran     : IPA
Hari/Tanggal        : 8 Pebruari 2010
Kelas        : V B
Waktu        : 2 x 35 menit
b)    Ismilah Dwiyanti, S.Pd
Mata Pelajaran    : IPA
Hari/Tanggal    : 9 Pebruari  2010
Kelas    : III B
Waktu     : 2 x 30 menit
c)    Amelia Hidayanti, A.Ma.Pd
Mata Pelajaran    : Bahasa Indonesia
Hari/Tanggal    : 12 Pebruari 2010
Kelas     : II B
Waktu    : 3 x 35 menit
Dari hasil pengamatan terhadap guru model yang telah dilakukan, penulis memperoleh beberapa gambaran nyata terhadap situasi belajar-mengajar yang sesungguhnya, adapun hasil pengamatan penulis yaitu sebagai berikut:
I.    Membuka Pelajaran
Pada saat masuk kelas, guru memberikan salam kepada siswa, kemudian guru mengecek kehadiran siswa sambil mencatat tabungan siswa, setelah itu guru melakukan apersepsi. Ada dengan cara bernyanyi, mengingatkan siswa pada pelajaran sebelumnya. Kesesuaian cara membuka pelajaran ini sesuai dengan materi pelajaran yang diajarkan. Kegiatan ini berlangsung  selama ± 10 menit. Waktu tersebut sangat cukup untuk memberikan gambaran terhadap materi yang akan diajarkan. Siswa pun memperhatikan dengan cukup baik apa yang dipaparkan oleh guru, walaupun ada beberapa siswa yang kurang memperhatikan. Hal itu cepat ditindak lanjuti oleh guru pengajar dengan memberi bimbingan, sehingga situasi kelas kembali dapat dikuasai oleh guru.
II.     Inti Pelajaran
Cara guru menyajikan materi pokok pembelajaran yaitu dengan menjelaskan materi pelajaran, kemudian mengaitkannya dengan keadaan sehari-hari yang diketahui oleh siswa. Dalam proses pembelajaran guru juga sering melakukan tanya-jawab dan memberikan kesempatan menjawab kepada hampir seluruh siswa dan guru juga memberikan kesempatan`bertanya kepada siswa yang belum mengerti dengan penjelasan guru. Apabila ada siswa yang belum mengerti tentang materi pelajaran yang dijelaskan. Guru akan memberikan bimbingan dan menjelaskan bagian materi yang tidak dipahaminya serta memberikan contoh-contoh yang akan memudahkan siswa untuk memahami materi tersebut. Dalam pelaksanaan pembelajaran guru pun sering melakukan canda-tawa untuk mengkondisikan siswa, apabila ada siswa yang tidak memperhatikan guru akan bertindak dengan menegur siswa tersebut serta memberikan nasehat, jika tetap mengulang lagi maka anak tersebut kan diberikan hukuman berupa tugas untuk dikerjakan. Tahap ini berlangsung selama ± 45 menit.
III.      Menutup Pelajaran
Saat mengakhiri pelajaran guru bersama siswa menyimpulkan materi pelajaran kemudian guru melakukan evaluasi untuk nilai hasil belajar siswa. Sebelum mengakhiri pelajaran, guru biasanya memberikan tindak lanjut berupa tugas di rumah atau PR. Kegiatan ini berlangsung selama 15 menit.
c.  Mengajar Terbimbing dan Mandiri
Pada tahap mengajar terbimbing mahasiswa diberi kesempatan melakukan konsultasi dan masih terbimbing oleh guru pamong mulai dari pengambilan bahan, merencanakan kegiatan pembelajaran sampai pada kegiatan mengajar di kelas. Pada tahap ini mahasiswa dipersyaratkan memiliki 12 rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) untuk dapat melanjutkan ke tahap mengajar mandiri.
Adapun materi pembelajaran yang pernah dilatihkan pada saat latihan mengajar terbimbing terdapat pada Tabel 3.1

Tabel 3.1 Daftar Latihan Mengajar Terbimbing
Urutan kegiatan    Hari/Tanggal    Kelas/    Mata Pelajaran    Materi Pembelajaran
1    Kamis/ 18 Pebruari 2010    VA    IPA    Jenis-jenis Tanah
2    Sabtu/ 20 Pebruari 2010    VA    IPA    Struktur Bumi
3    Selasa/ 23 Pebruari 2010    IIIA    Tematik    Keliling persegi dan persegi panjang
4
Senin/ 1 Maret  2010    IIIA    PKn    Harga diri
5    Rabu/ 3 Maret  2010    IVA    Bahasa Indonesia    Membaca Pantun
6    Jum`at/ 5 Maret  2010    VB    Matematika    Bangun Ruang
7    Sabtu/6  Maret  2010    IA    Tematik    Alamat Rumah
8    Senin/8  Maret  2010    VB    IPS    Tokoh-Tokoh Proklamasi kemerdekaan
9    Kamis/11  Maret  2010    IVB    IPS    Alat Komunikasi dan transportasi
10    Senin/13  Maret  2010    IVB    Matematika    Penjumlahan dan penguranga pecahan tidak sama penyebut
11    Kamis/18  Maret  2010    IIA    Tematik    Perkalian dan pembagian
12    Sabtu/620 Maret  2010    VA    IPA    Perubahan penampakan alam

Tahap latihan mengajar mandiri ini dilakukan setelah mahasiswa menyelesaikan praktek mengajar terbimbing sebanyak 12 kali latihan mengajar. Setelah ini secara mandiri mahasiswa diberikan kesempatan sendiri untuk membuat persiapan mengajar (RPP) tanpa diawasi oleh guru pamong. Adapun mata pelajaran yang pernah diajarkan pada saat latihan mengajar mandiri di MIN Singaraja yaitu:

Tabel 3.2 Daftar Latihan Mengajar Mandiri
Urutan kegiatan    Hari/Tanggal    Kelas    Mata Pelajaran    Materi Pembelajaran
1    Selasa/6 April 2010    VB    Bahasa Indonesia    Menulis Laporan
2    Jumat/9 April 2010    IV B    PKn    Kebudayaan Indonesia
3    Sabtu/10 April 2010    IV A    IPA / SAINS    Energi Panas dan Bunyi
4    Sabtu/10 April 2010    IV B    Matematika    Pencerminan
5    Senin/12 April 2010    VA    IPS    Menghargai tokoh kemerdekaan Indonesia
6    Rabu/14 April 2010    V B    Matematika    Permasalahan yang berkaitan dengan bangun datar dan ruang
7    Kamis/15 April 2010    IIIB    Tematik    Pengelolaan Uang
8    Sabtu/107April 2010    IV B    Matematika    Angka Romawi

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang menganai pelaksanaan PPL Mandiri yang telah dilaksanakan diantaranya terlampir

3.1.2   Dalam Kegiatan Non-Mengajar
Selain melakukan latihan mengajar, penulis juga melakukan kegiatan di luar mengajar seperti:
1.    Mengawasi Kegiatan Pembersihan
Setiap hari sebelum melakukan doa bersama, murid-murid selalu melakukan pembersihan di dalam kelas. Untuk itu mahasiswa PPL selalu mengawasi siswa dalam melakukan pembersihan di kelas masing-masing. Adapun jadwal piket mahasiswa harian (Terlampir 3.1).
2.    Membimbing Kegiatan Ekstrakurikuler
Adapun kegiatan ekstrakurikuler yang dilaksanakan di MIN Singaraja adalah sebagai berikut :
a.    Kegiatan ekstra pramuka dilaksanakan setiap hari Minggu pagi, siswa yang mengikuti kegiatan ini mulai dari kelas III sampai dengan kelas V, yang dibina oleh guru-guru dari MIN Singaraja. Kegiatan ini langsung dibina oleh 4 (empat) orang guru sekolah yaitu: Bapak Muhammad Zakaria, S.Pd.I., Bapak Taufiqur Rahman, A.Ma.Pd., Ibu Shapiyah,A.Ma.Pd., dan Ibu Ismilah Dwiyanti, S.Pd.
b.    Kegiatan ekstra Voli, kegiatan ini dilaksanakan pada hari Jumat sore sebagai pengembangan diri bagi siswa yang tertarik mengikutinya. Kegiatan ekstra voli ini dibina oleh Bapak Taufiqur Rahman, A.Ma.Pd., dan dibantu oleh mahasiswa.
c.    Kegiatan ekstra foot sall, kegiatan ini dilaksanakan pada hari Jumat sore sebagai pengembangan diri bagi siswa yang tertarik mengikutinya. Kegiatan foot sall dibina oleh Bapak Almawardhi, A.Ma. dibantu oleh mahasiswa PPL.
3.    Mengerjakan Administrasi Sekolah atau Kelas
Sebagai calon guru, mahasiswa juga dituntut untuk mampu mengerjakan administrasi sekolah. Oleh karena itu, mahasiswa praiktikum diwajibkan mengenal lebih rinci tentang administrasi kesiswaan, seperti: mengisi daftar kelas, menulis daftar nilai, mengisi buku stanbuk. Membuat surat tugas guru, mengetik rencana tahunan, bulanan, mingguan, dan harian sekolah.
4.    Menggantikan Tugas Guru Pamong jika Berhalangan
Selama penulis melaksanakan PPL di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Singaraja, penulis pernah menggantikan guru pamong, karena guru pamong sedang berhalangan atau sibuk. Penulis sangat senang mendapat tugas mengantikan guru pamong dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas sehingga penulis dapat lebih mengenal karakteristik anak SD.
5.    Membantu Pelaksanaan Kegiatan Sekolah Lainnya
Ada beberapa kegiatan yang telah dilaksanakan selama PPL di  MIN Singaraja, antara lain:
a.    Mengikuti Upacara Bendera
Upacara bendera dilaksanakan setiap hari senin pukul 07.30 Wita. Diikuti oleh seluruh keluarga besar MIN Singaraja berserta mahasiswa PPL.
b.    Mengikuti kegiatan SKJ setiap hari jumat bersama seluruh siswa dan staf sekolah MIN Singaraja.
c.    Melatih siswa kelas 3 dan 4 untuk membaca puisi dalam rangka lomba yang dilaksanakan sekolah dalam mengisi kegiatan tengah semester genap.
6.    Melakukan Bimbingan Terhadap Anak Yang Bermasalah
Sebagai seorang guru selain melaksanakan kegiatan mengajar di dalam maupun di luar kelas, guru juga haruslah memperhatikan setiap permasalahan yang dialami siswanya. Pemberian bimbingan merupakan proses membantu siswa/individu untuk mencapai perkembangan yang optimal. Prilaku bermasalah merupakan persoalan yang harus mendapat perhatian guru. Jika dibiarkan anak akan mengalami kesulitan belajar, lambat mencerna pelajaran, menjadi anak yang nakal, dan susah diatur.
Sebagai contoh siswa yang pernah dibimbing selama kegiatn PPL-Real di MIN Singaraja yaitu:
a.    Siswa Yang Bermasalah
Nama     :    Fatur Rahman
Kelas    :    VB
Agama    :    Islam
Jenis Kelamin    :    Laki-laki
Umur     :    11 Tahun
Seorang anak laki-laki yang duduk di kelas V ini, dalam kesehariannya di sekolah baik di kelas maupun di luar kelas maupun di luar kelas berkelakuan sangat nakal dan usil. Pada saat menerima pelajaran, anak ini tidak mau diam, ia sering melihat ke arah temannya yang duduk di meja lain. Apalagi saat guru menjelaskan ia ikut berbicara dan tidak mau memperhatikan  penjelasan guru.
b.    Indentifikasi Masalah
Setelah ditelusuri ternyata ada beberapa faktor yang mempengaruhi kelakuan anak itu diantaranya: ia kurang mendapat perhatian dari keluarganya, karena kesibukan orang tua dan pergaulan yang kurang baik. Selain itu anak ini tak terlalu memiliki minat belajar.
c.    Rencana Tindakan dan Alternatif Pemecahannya
Adapun alternagif pemecahan yang diambil adalah melakukan pendekatan dengan anak itu, serta memberi nasehat-nasehat agar anak itu tidak berprilaku seperti itu. Selain itu juga memberikan bimbingan dan perhatian yang khusus dengan menjadikan dia sebagai pusat perhatian, di dekati dan diajak berbincang-bincang tentang hal yang disukainya dan mendengarkan ceritanya. Di dalam kelas anak ini diberikan kesempatan yang lebih untuk menjawab pertanyaan, diminta menolong menghapus papan tulis, sehingga selalu ada komunikasi dan seolah-olah dia berguna bagi teman-temannya.
Sesuai alternatif pemecahan yang dirumuskan, maka tindakan yang harus dilakukan adalah mendekati anak tersebut dan menasehatinya bahwa dia tidak boleh berbuat seperti itu, menjadikan anak itu koordinator kelas, dalam proses belajar-mengajar anak itu sering diberikan kesempatan bertanya dan menjawab pertanyaan yang tujuannya untuk membangkitkan kepercayaan dirinya.
Dalam membimbing anak, tidak semata-mata hanya dilakukan oleh guru di sekolah, karena meskipun di sekolah seorang guru sudah memberikan bimbingan, nasehat dan pengarahan kepada seluruh siswa tetang hal-hal yang baik. Namun dalam hal ini peran aktif orang tua, keluarga, dan masyarakat di lingkungannya sangat dibutuhkan, karena hal tersebut sangat berpengaruh bagi perkembangan karakter anak.

3.2 Pembahasan
Berdasarkan hasil observasi, wawancara dan data dokumentasi maka dibawah ini dapat dilakukan pembahasan sebagi berikut:

3.2.1  Dalam Kegiatan Pembelajaran
1.    Dalam Menyiapkan Pelajaran
Segi positif dalam menyiapkan pelajaran adalah dapat mengetahui lebih dahulu materi yang akan diajarkan, dapat menentukan metode dan media yang sesuai dengan materi, dan penggunaan teknik serta evaluasi yang sesuai dengan adanya konsultasi RPP dengan guru pamong atau guru pada bidang studi terkait sebelum melaksanakan pembelajaran dapat menumbuhkan rasa percaya diri mahasiswa dalam mengajar.
Segi negatif dalam menyiapkan pembelajaran adalah kurangnya waktu untuk memantapkan materi ajar, yang disebabkan oleh penyiapan bahan ajar, alat peraga, membuat RPP, dan konsultasi dengan guru pamong atau guru bidang studi yang cukup menyita waktu.
Ternyata dengan menggunakan media yang berasal dari lingkungan lebih kongkrit dan sangat menarik bagi siswa misalnya.
2.    Dalam Mengajar
Segi positif dalam pelaksanaan mengajar adalah dapat melatih diri dalam menerapkan ilmu yang didapat pada saat perkuliahan secara langsung kepada siswa, dapat mengetahui masalah pembelajaran secara nyata dengan siswa SD, dan mengetahui tugas-tugas administrasi guru kelas dan tugas-tugas lainnya, serta dapat berinteraksi secara langsung dengan anak didik, karena itu calon guru dapat mengetahui karakter dari anak-anak di sekolah dasar.
Segi negatif yaitu perbedaan tingkat kemampuan siswa membuat mahasiswa calon guru yang kadang-kadang kesulitan mengajar secara klasikal sehingga harus ada perhatian khusus kepada siswa, ada yang lambat dengan memerlukan waktu yang cukup lama. Selain itu apabila penulis mengajar tanpa ditemani guru pamong atau guru bidang studi, pengelolaan kelas terasa sulit dilakukan.
Kesulitan untuk memperoleh buku sember yaitu sumber siswa yang disusun dengan materi yang berbasis lingkungan dimana sekolah itu berada selama ini guru hanya menggunakan buku penunjang pembelajaran yang disusun berdasrkan kondisi lingkungan yang asing bagi siswa sekolah tersebut misalnya buku penunjang yang diterbitkan di surabaya, jakarta, malang dan lain-lain sehingga buku-buku tersebut dapat dimanfaatkan sebagai penunjang dalma pembelajaran. Apabila kita telah memiliki buku sumber yang berbasis lingkungan maka pelaksanaan pembelajaran akan lebih menarik dan bermakna.
3.    Dalam Melakukan Hubungan Sosial di Sekolah
Segi positif dalam melakukan hubungan sosial di sekolah mitra adalah terciptanya rasa kekeluargaan antar mahasiswa PPL dengan seluruh siswa, guru-guru, kepala sekolah, dan petugas administrasi. Sehingga saat adanya permasalahan-permasalahan yang terkait dengan pelaksanaan kegiatan PPL-Real. Seluruh jajaran sekolah dapat membantu memberikan bimbingan dan bantuan sehingga semua permasalahan dapat terselesaikan dengan baik.
Dari segi negatif, hubungan yang terlalu akrab antar siswa dengan mahasiswa PPL terkadang membawa dampak negatif, tingkah laku beberapa siswa yang melewati batas kewajaran, siswa tersebut menjadi tidak bisa membedakan antara situasi formal pada saat mengajar dengan situasi di luar kelas.

3.2.2  Dalam Kegiatan Non-Mengajar
Beberapa hasil yang didapat dari kegiatan non-mengajar selama melakukan kegiatan PPL-Real. Dapat ditinjau dari dua segi yaitu dari segi positif dan segi negatifnya, yang dapat disebutkan sebagai berikut:
Dari segi positif dalam melatih gerak jalan, mahasiswa dapat menularkan pengalaman yang pelaksanaan baris-berbaris kepada siswa, dan menciptakan suasana yang akrab dengan siswa. Dalam kegiatan ekstra pramuka mahasiswa dapat memberikan bekal kemandirian kepada siswa. Dalam kegiatan upacara bendera, siswa diberikan pengalaman sebagai perangkat upacara.
Segi negatif yaitu terhadap siswa yang mengalami kesulitan belajar, karena keterbatasan kemampuan mahasiswa calon guru merasa kewalahan untuk membimbing siswa tersebut.

3.2.3 Tindak Lanjut/Perbaikan
Berdasarkan dengan adanya pengalaman-pengalaman dan latihan mengajar di atas, mahasiswa calon guru telah melakukan beberapa tindak lanjut atau perbaikan terhadap hal-hal yang berdampak negatif. Adapun tindakan atau perbaikan yang calon guru laksanakan adalah sebagai berikut :
a.    Dalam Persiapan Mengajar
Pengambilan bahan ajar dalam persiapan mengajar dapat dilakukan beberapa hari sebelum mengajar. Konsultasi RPP dilaksanakan minimal dua hari sebelum kegiatan mengajar, sehingga waktu yang digunakan untuk memantapkan materi yang akan diajarkan menjadi lebih banyak.
b.    Dalam Mengajar
Untuk mendorong minat siswa untuk belajar dan agar siswa mudah mengerti penjelasan dari guru, mahasiswa praktikan dapat mengaitkan materi pelajaran dengan kondisi lingkungan yang ada di sekitar sekolah, pembuatan media-media pembelajaran yang menarik bagi siswa. Dan juga mengisi pelaksanaan pembelajaran dengan humor-humor yang dapat membangkitkan gairah belajar siswa. Dalam mengatasi permasalahan pengerjaan administrasi kelas mahasiswa praktikan meminta penjelasan dan bimbingan dari guru pamong atau guru bidang studi.
c.    Dalam Hubugan Sosial
Langkah mengatasi siswa yang tidak menghormati gurunya pada saat mengajar adalah dengan memperlakukan semua siswa sama, tidak membeda-bedakan siswa yang satu dengan yang lainnya. Memberikan beberapa nasehat dan teguran-teguran yang sifatnya membangun.
d.    Dalam Kegiatan Non-Mengajar
Untuk mengatasi siswa yang megalami kesulitan belajar dengan memberikan bimbingan belajar secara khusus yaitu dengan memberikan latihan di dalam kelas. Dalam mengatasi kesulitan yang ditemui mahasiswa calon guru selalu meminta bantuan dan bimbingan dari guru pamong maupun guru bidang studi lainnya.

3.3 Temuan Yang Bermakna
Adapun temuan bermakna yang penulis alami dan dapatkan selama kegiatan PPL-Real adalah :
1.    Keterbukaan,  kedekatan guru,  dan  perhatian yang penuh kasih sayang sangat berpengaruh  terhadap pembelajaran. Situasi yang  penuh suasana kekeluargaan antara guru dan siswa membuat kondisi belajar sangat nyaman.
2.    Peran aktif siswa dalam segala upaya pengembangan diri masing-masing individu sangat memberikan kesan yang sangat baik dalam pelaksanaan pembelajaran.
3.    Pembelajaran inovatif guna mencapai hasil yang maksimal sudah mulai diterapkan dalam proses pembelajaran di  MIN Singaraja.
4.    Pelaksanaan pembelajaran yang dilaksanakan dengan suasana yang kondusif memberikan dampak yang sangat baik dalam tujuan pencapaian belajar siswa.
5.    Jalinan hubungan sosial yang terjalin dengan baik memberikan kesan yang sangat menyenangkan, sehingga jarak antara pendidik dengan peserta didik tak lagi menjadi masalah yang utama.

BAB IV
PENUTUP
4.1.    Simpulan
PPL-Real ini salahsatu kegiatan untuk utu makan dapat disimpulkan
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah  penulis  paparkan pada laporan ini,   maka dapat disimpulkan bahwa:
1.    PPL-Real memberikan banyak manfaat pengalaman bagi calon guru sebagai bekal  berharga untuk nantinya diaplikasikan secara nyata pada saat menjadi guru.
2.    Tugas seorang guru ternyata sangat  komplek. Tidak hanya mengajar saja melainkan ada banyak kegiatan non-mengajar lain yang harus dikuasai seorang guru agar  mampu tampil profesional dan berhasil dalam  mendidik siswa.

4.2.    Saran-saran
Dengan melihat program-program yang telah dilaksanakan di  MIN Singaraja,  serta melihat situasi dan kondisi yang  berkembang maka, penulis menyarankan:
1.    Bagi seluruh warga sekolah agar  mempertahankan prestasi dan kinerja demi mencapai mutu pendidikan yang optimal.
2.    Rasa kekeluargaan yang tinggi yang telah tercipta hendaknya dapat dipertahankan.
3.    Kegiatan ekstrakurikuler hendaknya dapat dikembangkan sehingga mampu  menyalurkan  minat, bakat, serta kreatifitas siswa secara lebih optimal, misalnya ditambah  dengan ekstra kurikuler dibidang  olah raga, seperti basket, voly, dll.
4.    Bagi  lembaga mahasiswa ke lapangan karena kenyataan di lapangan sedikit berbeda dengan teori yang diberikan di bangku kuliah.
5.    Untuk LPPL, koordinasi antara LPPL dengan sekolah mitra perlu ditingkatkan  sehingga program PPL dapat berjalan sesuai dengan tata cara pelaksanaan PPL yang berlaku.

DAFTAR PUSTAKA

LPPL. (2007). Buku Petunjuk Pelaksanaan PPL. Singaraja: UNDIKSHA Negeri Singaraja

Sarna, Kt, Dkk. (2005). Petunjuk Praktis PPL-Rea.l Singaraja: IKIP Negeri Singaraja,UNDIKSHA Singaraja.

Tim penyusun. (2006), Pedoman Studi Undiksha Negeri Singaraja. Edisi FIP Singaraja. Singaraja: UNDIKSHA Negeri Singaraja.

 

Untuk lebih lengkapnyadan jelas silahkan download di sini


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: