Arsip Kategori: MAKALAH

Definisi dan Metode Ekonomi


Definisi dan Metode Ekonomi

Ilmu ekonomi merupakan cabang ilmu sosial yang mempelajari berbagai perilaku pelaku ekonomi terhadap keputusan-keputusan ekonomi yang dibuat. Ilmu ini diperlukan sebagai kerangka berpikir untuk dapat melakukan pilihan terhadap berbagai sumber daya yang terbatas untuk memenuhi kebutuhan manusia yang tidak terbatas.

Adapun tiga masalah pokok dalam perekonomian, yaitu

1.      Jenis barang dan jasa apa yang akan diproduksi?

2.      Bagaimana menghasilkan barang dan jasa tersebut?

3.      Untuk siapa barang dan jasa tersebut dihasilkan?

Ekonomi positif adalah pendekatan ekonomi yang mempelajari berbagai pelaku dan proses bekerjanya aktivitas ekonomi, tanpa menggunakan suatu pandangan subjektif untuk mengyatakan bahwa sesuatu itu baik atau jelek dari sudut pandang ekonomi. Ekonomi positif di bagi menjadi dua, yaitu ekonomi deskriptif dan ekonomi teori.

Sedangkan ekonomi normatif adalah pendekatan ekonomi dalam mempelajari perilaku ekonomi yang terjadi, dengan mencoba memberikan penilaian baik atau buruk berdasarkan pertimbangan subjektif.

Berkaitan dengan sistem ekonomi, ada tiga bentuk sistem ekonomi yang dikenal di dunia ini, yaitu:

1.      Sistem ekonomi pasar (Laissez-Faire Economy), merupakan sistem ekonomi yang berbasis pada kebebasan individu dan perusahaan dalam menentukan berbagai kegiatan ekonomi, seperti konsumsi dan produksi. Perekonomian akan menentukan titik keseimbangan dengan mengandalkan kemampuan pada sistem harga, yaitu tarik menarik antara permintaan dan penawaran. Keseimbangan harga serta jumlah barang dan jasa dalam perekonomian dibimbing oleh sesuatu yang tidak kelihatan (invisible hand).

2.      Sistem ekonomi terpusat (sistem ekonomi sosialis) atau disebut Command Economy, yaitu sistem ekonomi dimana pemerintah membuat semua kebijakan menyangkut produksi, distribusi, dan konsumsi. Dengan kata lain, dalam sistem ekonomi sosial yang murni, pemerintah mengatur semua aspek kegiatan ekonomi.

3.      Sistem ekonomi campuran yaitu gabungan dari sistem ekonomi pasar dan sistem ekonomi terpusat. Dalam sistem ekonomi campuran, kebebasan individu dan perusahaan dalam menentukan kegiatan ekonomi masih diakui, tetapi pemerintah ikut campur dalam perekonomian sebagai stabilisator ekonomi dengan memberlakukan berbagai kebijakan fiskal dan moneter.


PENGERTIAN KONSERVASI


PENGERTIAN KONSERVASI

Konservasi itu sendiri merupakan berasal dari kata Conservation yang terdiri atas kata con (together) dan servare (keep/save) yang memiliki pengertian mengenai upaya memelihara apa yang kita punya (keep/save what you have), namun secara bijaksana (wise use). Ide ini dikemukakan oleh Theodore Roosevelt (1902) yang merupakan orang Amerika pertama yang mengemukakan tentang konsep konservasi. Konservasi dalam pengertian sekarang, sering diterjemahkan sebagai the wise use of nature resource (pemanfaatan sumberdaya alam secara bijaksana).

Konservasi juga dapat dipandang dari segi ekonomi dan ekologi dimana konservasi dari segi ekonomi berarti mencoba mengalokasikan sumberdaya alam untuk sekarang, sedangkan dari segi ekologi, konservasi merupakan alokasi sumberdaya alam untuk sekarang dan masa yang akan datang.

Apabila merujuk pada pengertiannya, konservasi didefinisikan dalam beberapa batasan, sebagai berikut :

1.      Konservasi adalah menggunakan sumberdaya alam untuk memenuhi keperluan manusia dalam jumlah yang besar dalam waktu yang lama (American Dictionary).

2.      Konservasi adalah alokasi sumberdaya alam antar waktu (generasi) yang optimal secara sosial (Randall, 1982).

3.      Konservasi merupakan manajemen udara, air, tanah, mineral ke organisme hidup termasuk manusia sehingga dapat dicapai kualitas kehidupan manusia yang meningkat termasuk dalam kegiatan manajemen adalah survai, penelitian, administrasi, preservasi, pendidikan, pemanfaatan dan latihan (IUCN, 1968).

4.      Konservasi adalah manajemen penggunaan biosfer oleh manusia sehingga dapat memberikan atau memenuhi keuntungan yang besar dan dapat diperbaharui untuk generasi-generasi yang akan datang (WCS, 1980).

 

 

 

 

 

Di Asia Timur, konservasi sumberdaya alam hayati (KSDAH) dimulai saat Raja Asoka (252 SM) memerintah, dimana pada saat itu diumumkan bahwa perlu dilakukan perlindungan terhadap binatang liar, ikan dan hutan.  Sedangkan di Inggris, Raja William I (1804 M) pada saat itu telah memerintahkan para pembantunya untuk mempersiapkan sebuah buku berjudul Doomsday Book yang berisi inventarisasi dari sumberdaya alam milik kerajaan.

Kebijakan kedua raja tersebut dapat disimpulkan sebagai suatu bentuk konservasi sumberdaya alam hayati pada masa tersebut dimana Raja Asoka melakukan konservasi untuk kegiatan pengawetan, sedangkan Raja William I melakukan pengelolaan sumberdaya alam hayati atas dasar adanya data yang akurat.  Namun dari sejarah tersebut, dapat dilihat bahwa bahkan sejak jaman dahulu, konsep konservasi telah ada dan diperkenalkan kepada manusia meskipun konsep konservasi tersebut masih bersifat konservatif dan eksklusif (kerajaan). Konsep tersebut adalah konsep kuno konservasi yang merupakan cikal bakal dari konsep modern konservasi dimana konsep modern konservasi menekankan pada upaya memelihara dan memanfaatkan sumberdaya alam secara bijaksana.

 

Sedangkan menurut Rijksen (1981), konservasi merupakan suatu bentuk evolusi kultural dimana pada saat dulu, upaya konservasi lebih buruk daripada saat sekarang.

Secara keseluruhan, Konservasi Sumberdaya Alam Hayati (KSDAH) adalah pengelolaan sumberdaya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragamannya.

Di Indonesia, kegiatan konservasi seharusnya dilaksanakan secara bersama oleh pemerintah dan masyarakat, mencakup masayarakat umum, swasta, lembaga swadaya masayarakat, perguruan tinggi, serta pihak-pihak lainnya.  Sedangkan strategi konservasi nasional telah dirumuskan ke dalam tiga hal berikut taktik pelaksanaannya, yaitu :

1.      Perlindungan sistem penyangga kehidupan (PSPK)

a.   Penetapan wilayah PSPK.

b.   Penetapan pola dasar pembinaan program PSPK.

c.   Pengaturan cara pemanfaatan wilayah PSPK.

d.   Penertiban penggunaan dan pengelolaan tanah dalam wilayah PSPK.

e.   Penertiban maksimal pengusahaan di perairan dalam wilayah PSPK.

2.      Pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya

a.   Pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya

b.   Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa (in-situ dan eks-situ konservasi).

3.      Pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya.

  1. Pemanfaatan kondisi lingkungan kawasan pelestarian alam.
  2. Pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar (dalam bentuk : pengkajian, penelitian dan pengembangan, penangkaran, perdagangan, perburuan, peragaan, pertukaran, budidaya).

laporan PPL REAL


LAPORAN PPL REAL

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.    Latar Belakang
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di era-globalisasi seperti saat ini, memberikan tuntutan yang besar di dalam dunia pendidikan untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas dan mampu memenuhi perkembangan jaman.
Menilik dari faktor-faktor yang mempunyai pengaruh besar di dalam bidang pendidikan yaitu proses belajar mengajar khususnya di sekolah dasar, maka dapat dilihat bahwa guru merupakan komponen atau faktor yang sangat penting disamping faktor lainnya, yaitu metode pengajaran, sarana dan prasarana pembelajaran, kurikulum, serta materi pembelajaran. Berdasarkan hal tersebut maka diambilah tindakan untuk peningkatan kinerja calon guru khususnya guru sekolah dasar. Mahasiswa calon guru diberikan kesempatan untuk mengasah potensi dirinya dalam program pengalaman lapangan.
Program Pengalaman Lapangan (PPL) adalah suatu program yang dirancang dalam pendidikan prajabatan guru, untuk melatih para mahasiswa calon guru agar menguasai kemampuan keguruan secara utuh dan terintegrasi untuk menilai kemampuan mahasiswa dalam menerapkan ilmu yang didapat di bangku perkuliahan sehingga dapat melahirkan guru-guru yang profesional dan siap pakai serta handal dalam melaksanakan tugasnya.
Program Pengalaman Lapangan (PPL) Real diharapkan dapat menjadi sarana untuk menambah wawasan para mahasiswa calon guru untuk lebih mengenal karakter anak yang satu dengan yang lainnya. Selain tugas mengajar juga diberikan tugas untuk mengerjakan administrasi yang sangat erat kaitannya dengan tugas guru kelas. Kegiatan-kegiatan itu diselenggarakan secara bertahap dan terpadu serta dalam bentuk orientasi lapangan, pelatihan terbimbing dan pelatihan mandiri yang terjadwalkan secara sistematis di bawah bimbingan dari dosen pembibing dan guru pamong yang memenuhi syarat. Sehingga nantinya calon-calon guru dapat mendidik anak didiknya untuk dapat menghadapi kemajuan dalam dunia pendidikan yang semakin berkembang.

1.2.    Tujuan
Adapun tujuan dari diselenggarakannya program pengalaman lapangan secara nyata adalah sebagai berikut :
1.    Tujuan Umum PPL-Real
Tujuan umum PPL-Real adalah untuk melatih mahasiswa calon guru memiliki kemampuan memperagakan kinerja dalam situasi nyata dalam kegiatan mengajar maupun tugas-tugas keguruan lainnya.
2.    Tujuan Khusus PPL-Real
Tujuan khusus PPL-Real adalah agar mahasiswa calon guru dapat menimba dan menyerap pengalaman secara langsung dan cermat tentang hal-hal sebagai berikut :
a.    Lingkungan fisik, administrasi, akademik, dan sosial-psikologis sekolah.
b.    Penguasaan berbagai keterampilan dasar mengajar.
c.    Penerapan berbagai keterampilan dasar mengajar.
d.    Pengembangan aspek pribadi dan sosial di lingkungan sekolah.
e.    Pengembangan kompetensi pembelajaran bidang studi yang menjdi spesialisasinya.

1.3.    Manfaat
Manfaat yang dapat dipetik dalam melaksanakan PPL-Real adalah sebagai berikut :
1.    Pengalaman selama mengikuti PPL-Real dapat digunakan sebagai modal dasar dalam mengembangkan profesionalitas sebagai seorang guru kelak dilapangan.
2.    Pengalaman selama mengikuti PPL-Real akan sangat bermakna bagi calon guru pada saat mengemban tugas nyata di suatu sekolah.
3.    Berbagai pengalaman yang berhasil diserap dalam PPL-Real secara langsung dan tidak langsung akan bermakna bagi lulusan dalam mengemban tugas-tugas non-keguruan di masyarakat.

BAB II
GAMBARAN SINGKAT
MADRASAH IBTIDAIYAH NEGERI SINGARAJA

Berdasarkan penjadwalan yang telah ditetapkan oleh lembaga hal ini LPPl Undiksha, bahwa mahasiswa semester VIII S1 Jurusan PGSD Fakultas Ilmu Pendidikan Undiksha untuk mengikuti PPL, yang dilaksanakan tanggal 1 Pebruari sampai dengan 1 Mei 2010 pada Sekolah Dasar (SD) yang telah ditentukan yaitu Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Singaraga.
Adapun kegiatan berdasarkan Peroram kerja setelah di  Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Singaraga terdapat pada Tabel 2.1

Tabel 2.1 Perogram kerja PPL-Real MIN Singaraja
NO.    PROGRAM    WAKTU    TEMPAT (NARA SUMBER)
I    KEGIATAN OBESRVASI ORIENTASI
1    Menyusun dan Legalisasi Program Kegiatan PPL    1-6 Pebruari 2010    GP, DP, Kepsek
2    Mengamati Fasilitas Sekolah, Keadaan Guru/Pegawai, Siswa, dll.    1-6 Pebruari 2010    Kepsek/Petugas Yang Bersangkutan
3    Mengamati Fasilitas Pendukung Pembelajaran (Ruang Kelas, Perpustakaan, Media Yang Ada di Lapangan)    4-6 Pebruari 2010    GP, Pengawas Perpustakaan, Kepsek, dll.
4    Mengenal dan Berlatih Membuat Program Tahunan, Semester, Persiapan Mengajar dan Administrasi Kegiatan Lain    5-11 Pebruari 2010    Gp, TU
5    Mengobservasi Guru Model Yang Ditindak Lanjuti Dengan Tanya Jawab    8-13 Pebruari 2010    GP, Guru Model
6    Persiapan Mengikuti Latihan Mengajar Terbimbing    13-16  Pebruari 2010    GP
II    KEGIATAN MENGAJAR
1    Pelatihan Mengajar Terbimbing    17-31 Maret 2010    GP dan DP
2    Pelatihan Mengajar Mandiri    1-30 April 2010    GP dan DP
III    KEGIATAN NO-MENGAJAR
1    Mengenal Administrasi Sekolah (Kesiswaan, Kepegawaian, Keuangan, dan Perlengkapan)    2 Pebruari-23Maret 2010    Kepsek, Petugas Yang Relevan
2    Mengenal Pengelolaan Sekolah Secara Umum    2 Pebruari-23Maret 2010    Kepsek, Petugas Yang Ditunjuk
3    Mengenal Pengelolaan LAB, Perpustakaan, Ruang Praktikum    3 Pebruari-20 Maret 2010    Peng. LAB, Perpustakaan, R. Praktikum
4    Mengenal Pengelolaan Bimbingan Belajar dan Penanganan Anak Bermasalah    3 Pebruari-23 Maret 2010    Petugas BK, DP, GP, Kepsek
5    Mengenal Pengelolaan OSIS dan Disiplin Siswa    3 Pebruari-23 Maret 2010    Pembina OSIS, GP
IV    MENYUSUN LAPORAN PPL-REAL
1    Persiapan, Pengumpulan Data, Analisis Data, dan Penyusunan    29 Maret- 17 April 2010    GP, DP, dan Kepsek
2    Konsultasi Draf Lapoan Dengan DP. GP dan Penjilidan serta Penggandaan    17 April -1 mei 2010    GP, DP
3    Penyerahan Laporan Kepada GP dan DP.    24 April-8 Mei 2010    GP, DP
V    MASA UJIAN PPL    26-30 April 2010    GP, DP dan Kepsek
VI    MASA PERPISAHAN    1 Mei 2010    GP, DP, Kepsek, LPPL

Sebelum terjun langsung ke kelas mahasiswa PPL mengadakan observasi selama satu minggu. Tujuan observasi salah satunya untuk mencari pengalaman latihan mengajar dan latihan keguruan lainnya. Dalam observasi yang dilakukan adalah pengamatan tentang Madrasah Ibtidaiyah Negeri Singaraja yaitu: 1) obsevasi lingkungan fisik, 2) observasi lingkungan sekolah, 3) kegiatan mengajar, dan 4) kegiatan no-mengajar.

2.1 Struktur Organisasi
Setiap organisasi selalu  memiliki struktur organisasi. Adapun struktur organisasi yang ada di Madrasah Ibtidaiyah Negeri MIN Singaraja dapat dilihat dalam Gambar bagan 2.1

Gambar 2.1 Bagan Struktur Organisasi MIN Singaraja

2.2 Lingkungan Fisik dan Lingkungan Sekolah

a.  Sejarah singkat Madrasah Ibtidaiyah Negeri Singaraja
Madrasah Ibtidaiyah Negeri Singaraja merupakan sekolah setingkat sekolah dasar bercirikan Islam(Depag 1995). Madrasah Ibtidaiyah Negeri Singaraja bernaung di bawah Departemen Agama dan Departemen Pendidikan Nasional.
Madrasah Ibtidaiyah Negeri Singaraja telah brdiri pada tahun 1942 dengan nama “Sekolah Arab” yang bertempat di jalan Dipenogoro dengan jumlah siswa kurang lebih 15 orang siswa di atas tanah seluas 1500m2. Kemudian sekitar tahun 1942 nama “Sekolah Arab” diganti dengan nama “Sundari Goku(swasta)” dengan jumlah orang sekitar 200 siswa. Sekitar tahun 1942-1952 sekolah Sundari Goku(swasta) berubah lagi namanya menjadi “Madrasah Al-Ijtihad Al-Islamiyah” / “Madrasah Pendidikan Islam”.
Tahun 1954 oleh pemerintah sekolah ini di nonaktifkan selama satu tahun. Penduduk Muslim sangat berkeinginan untuk memiliki sekolah yang bercirikan islam. Hal ini terbukti dangan usaha masyarakat untuk mengaktifkan kembali sekolah ini pada tahun 1955. Setelah diaktifkan kembali sekolah ini memiliki nama baru yaitu “Sekolah Rakyat Islam (SRI)” bertempat di jalan Patimura. Sekitar tahun 1955-1962 Sekolah Rakyat Islam berubah lagi namanya menjadi “Sekolah Dasar Islam (SDI)” dan kemudian menjadi “Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah(MII)” bertempat di jalan Dewi SartikaNo 5b Singaraja.
Perjalanan “Madarsah Ibitdaiyah Islamiyah” sangat fenomenal, terjadi perubahan yang cukup signifikan sehingga eksistensi “Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah” sedemikian dikenal dan langsung dapat dirasakan oleh masyarakat. Melihat perkembangan tersebut, akhirnya Departemen Agama (Depag) Jakarta meminta kepada Yayasan Pendidikan Islam pada saat itu untuk membantu pelaksanaan pembelajaran yang kondusif sebagai mana mestinya layaknya sekolah umum. Menyadari akan pengelolaan pendidikan yang begitu memajukan pendidikan, maka oleh Yayasan diserahkanlah Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah (Mil) kepada pemerintah. Maka sejak 25 November 1995 status “Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah” berubah statusnya dari swasta menjadi negeri yaitu Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Singaraja sampai sekarang.

b.  Lingkungan Fisik Sekolah.
1.  Nama Sekolah    :     Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Singaraja
2.  Alamat    :    Jln. Dewi Sartika Utara No 5b Singaraja
3.    Status Sekolah    :     Negeri
4.    Luas Tanah    :    15 are (10 kelas)
5.    Jumlah Ruang Kelas    :     10 Kelas
6.    Ukuran Kelas    :     56 m2
7.    Bangunan lain yang ada beserta luasnya
a.    Perpustakaan    :     56  m2
b.    Kantor Kepala Sekolah     :     4  m2
c.    Kantor guru    :     49  m2
d.    Masjid    :    144  m2
e.     Kantin    :    28  m2
f.    Toilet    :    4  m2
g.    Rumah Penjaga Sekolah     :    14  m2
h.    Ruang UKS    :    14  m2
i.     Ruang Tata Usaha    :    21  m2
j.     Gudang    :    14  m2
8.  Lapangan Olah Raga
Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Singaraja belum memiliki lapangan olah raga secara khusus tetapi halaman sekolah merangkap menjadi lapangan olahraga yaitu lapangan bulu tangkis dan lapangan basket.

c.  Keadaan Lingkungan Sekolah
Keadaan lingkungan Madrashah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Singaraja cukup bersih dan nyaman. Semua ini berkat partisipasi seluruh warga sekolah, baik siswa yang selalu melaksanakan kegiatan piket kelas dengan rutin maupun guru yang setiap hari mengkoordinir siswa dalam melaksanakan pembersihan di lingkungan sekolah.
Dilihat dari lokasi Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Singaraja mempunyai lokasi yang sangat strategis, yaitu dekat dengan jalan umum sehingga mudah dijangkau oleh kendaraan umum.Walaupun berdekatan dengan jalan raya, tetapi sedikitpun anak-anak tidak merasa terganggu dalam mengikuti pembelajaran. Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Singaraja dikelilingi oleh batas-batas sebagai berikut.
1.    Di sebelah utara    :     Jalan dan Permukiman penduduk
2.    Di sebelah barat    :     Kuburan Cina
3.    Di sebelah selatan    :     Kuburan Islam
4.    Di sebelah timur    :     Jalan dan Rumah Penduduk
Denah lingkungan Madrashah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Singaraja

Gambar 2.2  Denah Sekolah MIN Singaraja
d.   Fasilitas sekolah
Dalam  melaksanakan proses belajar mengajar  hendaknya  selalu diimbangi dengan fasilitas yang memadai.  Adapun jenis fasilitas yang mendukung proses belajar mengajar di Madrashah Ibtidaiyah  Negeri (MIN) Singaraja adalah sebagai berikut
1.  Ruang Kepala Sekolah
Kepala Madrashah Ibtidatyah Negeri (MEN) Singaraja dalam melaksanakan tugasnya mempunyai tempat khusus berupa ruang Kepala Madrasah adapun inventaris yang ada pada ruang kepala sekolah adalah sebagai berikut.

Tabel 2.3: Inventaris Ruang Kepala Sekolah.
NO.    Jenis Barang    Jumlah    Kondisi
1    Kursi + meja Kepala Sekolah    1    Baik
2    Kursi + meja tamu    1    Baik
3    Almari    1    Baik
4    Data Statistik    1    Baik
5    Komputer    1    Baik
6    Gambar Presiden dan Wkil Pesiden    1    Baik
7    Gambaf Burung Garuda    1    Baik
8    Telepon    1    Baik

2.  Ruang Guru
Ruang Guru Madrashah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Singaraja merupakan  tempat bagi guru-guru utuk mengerjakan tugas-tugas administrasi keguruan. Fasilitas yang ada dalam ruangan ini digunakan sebagai sarana penunjang untuk melakukan segala rutinitas sekolah antara lain meja, kursi, papan pengumuman, tata tertib guru, jadwal piket guru, dan jadwal pelajaran. Adapun perlengkapan lainnya berupa lukisan ataupun gambar-gambar yang dijadikan sebagai hiasan ruangan dan ornamen untuk menciptakan suasana kesejukan dan ketenangan bagi guru-guru dalam bekerja.
3.  Ruang Kelas
Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Singaraja memiliki 10 ruang Kelas. Ruang kelas I dan II digabung dan digunakan bergiliran. Fasilitas setiap ruangan dari kelas I dan VI hampir sama. Hanya saja untuk ruang kelas IIA, IVB dan VB dilengkapi dengan kipas angin karena ruangan ini merangkap sebagai aula. Fasilitas penunjang masing-masing kelas adalah sebagai berikut
.
Tabel 2.2: Fasilitas Ruang Guru dan Penunjang PBM
Jenis Barang    Jumlah
Meja + kursi siswa    Sejumlah siswa
Meja dan kursi guru    1
Taplak dan vas bunga    1
Papan    1
Penghapus    1
Papan absen siswa    1
Almri    1
Hiasan dinding    1
Jadwaipiket    1
Jadwal pelajaran    1
Tata tertib    1
Gambar Presiden dan Wakil Presiden    1
Gambar Burung Garuda                       1
Alat Kebersihan                                   1
Jam dinding    1

4.  Ruang Tata Usaha
Ruang tata usaha, adalah ruangan tersendiri yang dilengkapi beberapa fasilitas guna membantu kelancaran administrasi sekolah baik mengenai laporan atau data-data sekolah. Adapun fasilitas- fasilitas yang ada di ruang tata usaha adalah sebagai berikut.

Tabel 2.4:  Inventaris Ruang Tata Usaha
No.    Jenis Barang    Jumlah    Kondisi
1.    Kursi + meja    6/7    Baik
2.    Komputer    3    Baik
3.    Almari    6    Baik
4.    Rak buku    1    Baik
5.    Mesin ketik    1    Baik
6.    Jam dinding    1    Baik
7.    Papan    struktur    organisasi    MIN
Singaraja    1    Baik
8.    Papan program kerja tahunan Kepala
MIN Singaraja    1
Baik
9.    Papan daftar unit kepangkatan guru
tetap dan pegawai MIN Singaraja    1    Baik
10.    Papan statistik keadaan guru MIN
Singaraja    1    Baik
11.    Sofa + meja tamu    7/1    Baik
12.    Dispenser    1    Baik

5.  Perpustakaan Sekolah.
Madrashah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Singaraja sudah  memiliki ruang yang khusus untuk perpustakaan. Perpsutakaan ini dikelola oleh petugas  khusus. Adapun fasilitas perpustakaan tersebut adalah sebagai berikut.

Tabel 2.3 : Fasiliatas Perpustakaan
No.    Jenis barang    Jumlah    Kondisi
1.    Kursi dan meja    7    Baik
2.    Almari    6    Baik
3.    Rak Buku    8    Baik
4.    Kipas angin    1    Baik
5.    Alat peraga IPS    20 set    Baik
6.    Alat paraga IPA    14    Baik
7.    Alat peraga matematika    6    Baik
8.    Tongkat pramuka    20    Baik
9.    BukuIPS    255    Baik
10.    Buku IPA                 396    Baik
11.    Buku Bahasa Indonesia    357    Baik
12.    Buku Matematika       531    Baik
13.    Buku Pkn       180    Baik
14.    Buku Cerita    885    Baik
15.    Buku  Agama    1440    Baik
16.    Buku  Referensi    738    Baik
17.    Gambar Presidan dan Wakil Presiden    1    Baik
18.    Gambar Burung Garuda    1    Baik

6.  Ruang UKS
Madrashah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Singaraja memiliki ruang UKS yang tersendiri meskipun sangat sederhana dan berukuran kecil. Ruang UKS digunakan untuk menangani anak yang mempunyai masalah kesehatan ataupun yang sewaktu-waktu sakit di sekolah. Fasilitas yang terdapat di ruang UKS antara lain tempat tidur pasien dan obat-obatan P3K.

e.   Keadaan Lingkungan Sosial Sekolah
1.   Keadaan guru
Jumlah tenaga pendidikan yang ada di MIN Singaraja adalah 25 orang yang dipimpin oleh 1 orang Kepala Sekolah, 11 orang guru tetap, 2 orang honor TU, 10 orang guru honorer, 1 orang pegawai tetap TU dan 1 tenaga honor penjaga sekolah. Pembagian tugas dirancang oleh Waka Kurikulum, selanjutnya jika sudah mendapatkan persetujuan dari Kepala Sekolah, maka diadakan pembagian tugas guru. Pembagian tugas pegawai dirancang oleh bagian tata usaha dan selanjutnya meminta persetujuan dari Kepala Sekolah. Apabila telah mendapat persetujuan, kemudian diadakan pembagian tugas kepada para pegawai. Guru-guru MIN Singaraja memiliki beban mengajar 8-30 jam pelajaran perminggu. Selain mengajar seorang guru juga memiliki tugas sebagai piket, wali kelas dan sebagai koordinator ekstrakurikuler. Pembagian tugas guru dan pegawai (terlampir).
2  Keadaan  siswa
Keadaan siswa di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Singaraja cukup banyak, dimana dari keseluruhan jumlah siswa yang ada, rata-rata tiap kelas terdiri dari 30 orang. siswa. Jumlah   keseluruhan   siswa   MIN   Singaraja   tahun   ajaran 2009/2010 adalah 364 siswa dengan perincian sebagai berikut.

Tabel 05. Jumlah siswa MIN Singaraja Tahun Ajaran 2009/2010
No.    Kelas    L    P    Jumlah
1.    IA    16    12    28
2.    IB    19    9    28
3.    IIA    11    21    32
4.    IIB    17    15    32
5.    IIIA    16    17    33
6.    IIIB    18    14    32
7.    IVA    14    12    26
8.    IVB    14    13    27
9.    VA    17    16    33
10.    VB    21    13    34
11.    VIA    11    17    28
12.    VIB    17    14    31
Jumlah    191    173    364

3.   Kegiatan Ekstrakurikuler
Kegiatan ekstrakurikuler yang ada di MIN Singaraja terbilang masih sangat sedikit, hal ini dikarenakan kurangnya minat siswa yang belum optimal. Kegiatan ekstrakurikuler yang diprogramkan oleh sekolah dilaksanakan pada sore hari yaitu hari sabtu. Pramuka merupakan kegiatan wajib diikuti oleh seluruh siswa khususnya kelas IV dan V. Kegiatan ini langsung dibina oleh 4 (empat) orang guru sekolah yaitu: Bapak Muhammad Zakaria, S.Pd.I., Bapak Taufiqur Rahman, A.Ma.Pd., Ibu Shapiyah,A.Ma.Pd., dan Ibu Ismilah Dwiyanti, S.Pd. Kegiatan ekstrakurikuler lainnya yaitu ekstra voli dibina oleh Bapak Taufiqur Rahman, A.Ma.Pd., dan ekstra foot sall dibina oleh Bapak Almawardhi, A.Ma. Kegiatan ekstrakurikuler yang diadakan oleh sekolah tidak dikenakan biaya, hal ini dibantu oleh dana BOS sehingga antusias siswa untuk menambah wawasan dan pengalaman yang sebanyak-banyaknya dapat terakomodasi.
4.   Interaksi sosial.
•    Hubungan Kepala sekolah dengan Staf
Hubungan kepala sekolah dengan staf di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Singaraja terjalin sangat baik dan penuh keakraban karena adanya rasa kebersamaan.
•    Hubungan guru dengan guru
Hubungan guru di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Singaraja terlihat saling menjalin hubungan dengan baik, adanya rasa kebersamaan, kekeluargaan, kerjasamaan, dan juga terlihat sering bercanda (humoris) antar sesama guru yang dapat  terlihat dari keseharian para guru.
•    Hubungan guru dengan siswa
Di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Singaraja interaksi guru dengan siswa juga terlihat akrab dan sikap siswa terhadap guru cukup sopan dan menghormati kedudukan seorang guru. Begitu juga sikap guru terhadap siswa, guru-guru disini sangat ramah dan bersedia memberikan nasehat apabila ada siswa yang melanggar tata tertib sekolah. Selain itu, kalau siswa bertemu dengan gurunya selalu memberi salam (salim) selayaknya hubungan antara orang tua dengan anak di rumah.
•    Hubungan antara siswa
Hubungan antar sesama siswa di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Singaraja terjalin dengan baik. Keakraban tercipta di antara para siswa yang terlihat dalam keseharian mereka terutama pada saat mereka istirahat. Selain itu juga terjalin rasa kekeluargaan dan kerjasama yang baik, hal ini dapat dilihat pada saat mereka bersama-sama melaksanakan tugas sekolah yaitu pada saat melaksanakan pembersihan.
•    Hubungan antar semua personal
Hubungan antar personal di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Singaraja berjalan dengan baik, saling menghormati, kerjasama dan rasa kebersamaan selalu mewarnai situasi di Madrasah ini.

2.3  Kesan-kesan Penulis
Kesan-kesan penulis yang dapat disampikan dari hasil pengamatan penulis antara lain:
1.    Tata ruang, kebersihan dan kerindangan sekolah sudah sangat baik. Kebersihan sekolah tetap terjaga dengan baik melalui pembagian piket perkelas yang melaksanakan tugasnya dengan baik.
2.    Kelengkapan sarana-prasarana yang ada di MIN Singaraja bisa dikatakan belum cukup memadai, terbukti dari masih kurangnya alat peraga untuk beberapa mata pelajaran seperti: alat peraga untuk bidang studi IPA, Matematika.
3.    Berdasarkan perimbangan jumlah siswa dan guru pada MIN Singarajasudah seimbang. Setiap kelas ditangani oleh seorang wali kelas.
4.    Disiplin siswa dan guru sangat baik terbukti dari tidak banyaknya terjadi pelanggaran-pelanggaran terjadi, siswa dan guru tiba dan pulang sesuai dengan waktu yang dijadwalkan. Dan siswa sangat menaati seluruh tata tertib yang ada dan telah ditetapkan.
5.    Suasana belajar-mengajar yang berhasil diciptakan guru sangat baik karena perhatian siswa terhadap materi yang diberikan guru cukup baik dan interaksi siswa guru sangat baik. Serta beberapa kiat-kiat yang dikembangkan guru dalam mengelola pembelajaran ada dengan melibatkan siswa secara langsung dalam pembelajaran.

BAB III
HASIL PPL DAN PEMBAHASAN

3.1    Hasil PPL
Pelaksanaan kegiatan PPl-Real Di MIN Singaraja ini berpedoman pada jadwal kegiatan yang telah ditentukan.  Adapun yang menjadi fokus kegiatan PPL-Real diantaranya adalah pelaksanaan kegiatan Pembelajaran dan kegiatan non pembelajaran selama melaksanakan PPL-Real di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Singaraja adalah sebagai berikut:

3.1.1 Kegiatan Pembelajaran .
a. Observasi dan Orientasi
Pelaksanaan observasi dan orientasi dilaksanakan selama dua minggu awal setelah penyerahan mahasiswa kepada sekolah. Selama masa observasi dan orientasi  ini, penulis mengamati dan  mengenal keadaan sekolah, baik keadaan fisik, seperti sarana dan fasilitas sekolah, maupun  keadaan non fisik sekolah, seperti hubungan sosial yang terjalin di sekolah.
b.   Observasi Guru Model
Selain melakukan pengamatan terhadap lingkungan fisik, lingkungan non-fisik, administrasi kelas dan  lingkungan sosial. Penulis juga dituntut untuk mengamati cara mengajar dan mengelola kelas dari Guru-guru pengajar di MIN Singaraja. Beberapa Guru model yang sempat di amati yaitu sebagai berikut :
a)    Hasrini, A.Ma
Mata Pelajaran     : IPA
Hari/Tanggal        : 8 Pebruari 2010
Kelas        : V B
Waktu        : 2 x 35 menit
b)    Ismilah Dwiyanti, S.Pd
Mata Pelajaran    : IPA
Hari/Tanggal    : 9 Pebruari  2010
Kelas    : III B
Waktu     : 2 x 30 menit
c)    Amelia Hidayanti, A.Ma.Pd
Mata Pelajaran    : Bahasa Indonesia
Hari/Tanggal    : 12 Pebruari 2010
Kelas     : II B
Waktu    : 3 x 35 menit
Dari hasil pengamatan terhadap guru model yang telah dilakukan, penulis memperoleh beberapa gambaran nyata terhadap situasi belajar-mengajar yang sesungguhnya, adapun hasil pengamatan penulis yaitu sebagai berikut:
I.    Membuka Pelajaran
Pada saat masuk kelas, guru memberikan salam kepada siswa, kemudian guru mengecek kehadiran siswa sambil mencatat tabungan siswa, setelah itu guru melakukan apersepsi. Ada dengan cara bernyanyi, mengingatkan siswa pada pelajaran sebelumnya. Kesesuaian cara membuka pelajaran ini sesuai dengan materi pelajaran yang diajarkan. Kegiatan ini berlangsung  selama ± 10 menit. Waktu tersebut sangat cukup untuk memberikan gambaran terhadap materi yang akan diajarkan. Siswa pun memperhatikan dengan cukup baik apa yang dipaparkan oleh guru, walaupun ada beberapa siswa yang kurang memperhatikan. Hal itu cepat ditindak lanjuti oleh guru pengajar dengan memberi bimbingan, sehingga situasi kelas kembali dapat dikuasai oleh guru.
II.     Inti Pelajaran
Cara guru menyajikan materi pokok pembelajaran yaitu dengan menjelaskan materi pelajaran, kemudian mengaitkannya dengan keadaan sehari-hari yang diketahui oleh siswa. Dalam proses pembelajaran guru juga sering melakukan tanya-jawab dan memberikan kesempatan menjawab kepada hampir seluruh siswa dan guru juga memberikan kesempatan`bertanya kepada siswa yang belum mengerti dengan penjelasan guru. Apabila ada siswa yang belum mengerti tentang materi pelajaran yang dijelaskan. Guru akan memberikan bimbingan dan menjelaskan bagian materi yang tidak dipahaminya serta memberikan contoh-contoh yang akan memudahkan siswa untuk memahami materi tersebut. Dalam pelaksanaan pembelajaran guru pun sering melakukan canda-tawa untuk mengkondisikan siswa, apabila ada siswa yang tidak memperhatikan guru akan bertindak dengan menegur siswa tersebut serta memberikan nasehat, jika tetap mengulang lagi maka anak tersebut kan diberikan hukuman berupa tugas untuk dikerjakan. Tahap ini berlangsung selama ± 45 menit.
III.      Menutup Pelajaran
Saat mengakhiri pelajaran guru bersama siswa menyimpulkan materi pelajaran kemudian guru melakukan evaluasi untuk nilai hasil belajar siswa. Sebelum mengakhiri pelajaran, guru biasanya memberikan tindak lanjut berupa tugas di rumah atau PR. Kegiatan ini berlangsung selama 15 menit.
c.  Mengajar Terbimbing dan Mandiri
Pada tahap mengajar terbimbing mahasiswa diberi kesempatan melakukan konsultasi dan masih terbimbing oleh guru pamong mulai dari pengambilan bahan, merencanakan kegiatan pembelajaran sampai pada kegiatan mengajar di kelas. Pada tahap ini mahasiswa dipersyaratkan memiliki 12 rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) untuk dapat melanjutkan ke tahap mengajar mandiri.
Adapun materi pembelajaran yang pernah dilatihkan pada saat latihan mengajar terbimbing terdapat pada Tabel 3.1

Tabel 3.1 Daftar Latihan Mengajar Terbimbing
Urutan kegiatan    Hari/Tanggal    Kelas/    Mata Pelajaran    Materi Pembelajaran
1    Kamis/ 18 Pebruari 2010    VA    IPA    Jenis-jenis Tanah
2    Sabtu/ 20 Pebruari 2010    VA    IPA    Struktur Bumi
3    Selasa/ 23 Pebruari 2010    IIIA    Tematik    Keliling persegi dan persegi panjang
4
Senin/ 1 Maret  2010    IIIA    PKn    Harga diri
5    Rabu/ 3 Maret  2010    IVA    Bahasa Indonesia    Membaca Pantun
6    Jum`at/ 5 Maret  2010    VB    Matematika    Bangun Ruang
7    Sabtu/6  Maret  2010    IA    Tematik    Alamat Rumah
8    Senin/8  Maret  2010    VB    IPS    Tokoh-Tokoh Proklamasi kemerdekaan
9    Kamis/11  Maret  2010    IVB    IPS    Alat Komunikasi dan transportasi
10    Senin/13  Maret  2010    IVB    Matematika    Penjumlahan dan penguranga pecahan tidak sama penyebut
11    Kamis/18  Maret  2010    IIA    Tematik    Perkalian dan pembagian
12    Sabtu/620 Maret  2010    VA    IPA    Perubahan penampakan alam

Tahap latihan mengajar mandiri ini dilakukan setelah mahasiswa menyelesaikan praktek mengajar terbimbing sebanyak 12 kali latihan mengajar. Setelah ini secara mandiri mahasiswa diberikan kesempatan sendiri untuk membuat persiapan mengajar (RPP) tanpa diawasi oleh guru pamong. Adapun mata pelajaran yang pernah diajarkan pada saat latihan mengajar mandiri di MIN Singaraja yaitu:

Tabel 3.2 Daftar Latihan Mengajar Mandiri
Urutan kegiatan    Hari/Tanggal    Kelas    Mata Pelajaran    Materi Pembelajaran
1    Selasa/6 April 2010    VB    Bahasa Indonesia    Menulis Laporan
2    Jumat/9 April 2010    IV B    PKn    Kebudayaan Indonesia
3    Sabtu/10 April 2010    IV A    IPA / SAINS    Energi Panas dan Bunyi
4    Sabtu/10 April 2010    IV B    Matematika    Pencerminan
5    Senin/12 April 2010    VA    IPS    Menghargai tokoh kemerdekaan Indonesia
6    Rabu/14 April 2010    V B    Matematika    Permasalahan yang berkaitan dengan bangun datar dan ruang
7    Kamis/15 April 2010    IIIB    Tematik    Pengelolaan Uang
8    Sabtu/107April 2010    IV B    Matematika    Angka Romawi

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang menganai pelaksanaan PPL Mandiri yang telah dilaksanakan diantaranya terlampir

3.1.2   Dalam Kegiatan Non-Mengajar
Selain melakukan latihan mengajar, penulis juga melakukan kegiatan di luar mengajar seperti:
1.    Mengawasi Kegiatan Pembersihan
Setiap hari sebelum melakukan doa bersama, murid-murid selalu melakukan pembersihan di dalam kelas. Untuk itu mahasiswa PPL selalu mengawasi siswa dalam melakukan pembersihan di kelas masing-masing. Adapun jadwal piket mahasiswa harian (Terlampir 3.1).
2.    Membimbing Kegiatan Ekstrakurikuler
Adapun kegiatan ekstrakurikuler yang dilaksanakan di MIN Singaraja adalah sebagai berikut :
a.    Kegiatan ekstra pramuka dilaksanakan setiap hari Minggu pagi, siswa yang mengikuti kegiatan ini mulai dari kelas III sampai dengan kelas V, yang dibina oleh guru-guru dari MIN Singaraja. Kegiatan ini langsung dibina oleh 4 (empat) orang guru sekolah yaitu: Bapak Muhammad Zakaria, S.Pd.I., Bapak Taufiqur Rahman, A.Ma.Pd., Ibu Shapiyah,A.Ma.Pd., dan Ibu Ismilah Dwiyanti, S.Pd.
b.    Kegiatan ekstra Voli, kegiatan ini dilaksanakan pada hari Jumat sore sebagai pengembangan diri bagi siswa yang tertarik mengikutinya. Kegiatan ekstra voli ini dibina oleh Bapak Taufiqur Rahman, A.Ma.Pd., dan dibantu oleh mahasiswa.
c.    Kegiatan ekstra foot sall, kegiatan ini dilaksanakan pada hari Jumat sore sebagai pengembangan diri bagi siswa yang tertarik mengikutinya. Kegiatan foot sall dibina oleh Bapak Almawardhi, A.Ma. dibantu oleh mahasiswa PPL.
3.    Mengerjakan Administrasi Sekolah atau Kelas
Sebagai calon guru, mahasiswa juga dituntut untuk mampu mengerjakan administrasi sekolah. Oleh karena itu, mahasiswa praiktikum diwajibkan mengenal lebih rinci tentang administrasi kesiswaan, seperti: mengisi daftar kelas, menulis daftar nilai, mengisi buku stanbuk. Membuat surat tugas guru, mengetik rencana tahunan, bulanan, mingguan, dan harian sekolah.
4.    Menggantikan Tugas Guru Pamong jika Berhalangan
Selama penulis melaksanakan PPL di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Singaraja, penulis pernah menggantikan guru pamong, karena guru pamong sedang berhalangan atau sibuk. Penulis sangat senang mendapat tugas mengantikan guru pamong dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas sehingga penulis dapat lebih mengenal karakteristik anak SD.
5.    Membantu Pelaksanaan Kegiatan Sekolah Lainnya
Ada beberapa kegiatan yang telah dilaksanakan selama PPL di  MIN Singaraja, antara lain:
a.    Mengikuti Upacara Bendera
Upacara bendera dilaksanakan setiap hari senin pukul 07.30 Wita. Diikuti oleh seluruh keluarga besar MIN Singaraja berserta mahasiswa PPL.
b.    Mengikuti kegiatan SKJ setiap hari jumat bersama seluruh siswa dan staf sekolah MIN Singaraja.
c.    Melatih siswa kelas 3 dan 4 untuk membaca puisi dalam rangka lomba yang dilaksanakan sekolah dalam mengisi kegiatan tengah semester genap.
6.    Melakukan Bimbingan Terhadap Anak Yang Bermasalah
Sebagai seorang guru selain melaksanakan kegiatan mengajar di dalam maupun di luar kelas, guru juga haruslah memperhatikan setiap permasalahan yang dialami siswanya. Pemberian bimbingan merupakan proses membantu siswa/individu untuk mencapai perkembangan yang optimal. Prilaku bermasalah merupakan persoalan yang harus mendapat perhatian guru. Jika dibiarkan anak akan mengalami kesulitan belajar, lambat mencerna pelajaran, menjadi anak yang nakal, dan susah diatur.
Sebagai contoh siswa yang pernah dibimbing selama kegiatn PPL-Real di MIN Singaraja yaitu:
a.    Siswa Yang Bermasalah
Nama     :    Fatur Rahman
Kelas    :    VB
Agama    :    Islam
Jenis Kelamin    :    Laki-laki
Umur     :    11 Tahun
Seorang anak laki-laki yang duduk di kelas V ini, dalam kesehariannya di sekolah baik di kelas maupun di luar kelas maupun di luar kelas berkelakuan sangat nakal dan usil. Pada saat menerima pelajaran, anak ini tidak mau diam, ia sering melihat ke arah temannya yang duduk di meja lain. Apalagi saat guru menjelaskan ia ikut berbicara dan tidak mau memperhatikan  penjelasan guru.
b.    Indentifikasi Masalah
Setelah ditelusuri ternyata ada beberapa faktor yang mempengaruhi kelakuan anak itu diantaranya: ia kurang mendapat perhatian dari keluarganya, karena kesibukan orang tua dan pergaulan yang kurang baik. Selain itu anak ini tak terlalu memiliki minat belajar.
c.    Rencana Tindakan dan Alternatif Pemecahannya
Adapun alternagif pemecahan yang diambil adalah melakukan pendekatan dengan anak itu, serta memberi nasehat-nasehat agar anak itu tidak berprilaku seperti itu. Selain itu juga memberikan bimbingan dan perhatian yang khusus dengan menjadikan dia sebagai pusat perhatian, di dekati dan diajak berbincang-bincang tentang hal yang disukainya dan mendengarkan ceritanya. Di dalam kelas anak ini diberikan kesempatan yang lebih untuk menjawab pertanyaan, diminta menolong menghapus papan tulis, sehingga selalu ada komunikasi dan seolah-olah dia berguna bagi teman-temannya.
Sesuai alternatif pemecahan yang dirumuskan, maka tindakan yang harus dilakukan adalah mendekati anak tersebut dan menasehatinya bahwa dia tidak boleh berbuat seperti itu, menjadikan anak itu koordinator kelas, dalam proses belajar-mengajar anak itu sering diberikan kesempatan bertanya dan menjawab pertanyaan yang tujuannya untuk membangkitkan kepercayaan dirinya.
Dalam membimbing anak, tidak semata-mata hanya dilakukan oleh guru di sekolah, karena meskipun di sekolah seorang guru sudah memberikan bimbingan, nasehat dan pengarahan kepada seluruh siswa tetang hal-hal yang baik. Namun dalam hal ini peran aktif orang tua, keluarga, dan masyarakat di lingkungannya sangat dibutuhkan, karena hal tersebut sangat berpengaruh bagi perkembangan karakter anak.

3.2 Pembahasan
Berdasarkan hasil observasi, wawancara dan data dokumentasi maka dibawah ini dapat dilakukan pembahasan sebagi berikut:

3.2.1  Dalam Kegiatan Pembelajaran
1.    Dalam Menyiapkan Pelajaran
Segi positif dalam menyiapkan pelajaran adalah dapat mengetahui lebih dahulu materi yang akan diajarkan, dapat menentukan metode dan media yang sesuai dengan materi, dan penggunaan teknik serta evaluasi yang sesuai dengan adanya konsultasi RPP dengan guru pamong atau guru pada bidang studi terkait sebelum melaksanakan pembelajaran dapat menumbuhkan rasa percaya diri mahasiswa dalam mengajar.
Segi negatif dalam menyiapkan pembelajaran adalah kurangnya waktu untuk memantapkan materi ajar, yang disebabkan oleh penyiapan bahan ajar, alat peraga, membuat RPP, dan konsultasi dengan guru pamong atau guru bidang studi yang cukup menyita waktu.
Ternyata dengan menggunakan media yang berasal dari lingkungan lebih kongkrit dan sangat menarik bagi siswa misalnya.
2.    Dalam Mengajar
Segi positif dalam pelaksanaan mengajar adalah dapat melatih diri dalam menerapkan ilmu yang didapat pada saat perkuliahan secara langsung kepada siswa, dapat mengetahui masalah pembelajaran secara nyata dengan siswa SD, dan mengetahui tugas-tugas administrasi guru kelas dan tugas-tugas lainnya, serta dapat berinteraksi secara langsung dengan anak didik, karena itu calon guru dapat mengetahui karakter dari anak-anak di sekolah dasar.
Segi negatif yaitu perbedaan tingkat kemampuan siswa membuat mahasiswa calon guru yang kadang-kadang kesulitan mengajar secara klasikal sehingga harus ada perhatian khusus kepada siswa, ada yang lambat dengan memerlukan waktu yang cukup lama. Selain itu apabila penulis mengajar tanpa ditemani guru pamong atau guru bidang studi, pengelolaan kelas terasa sulit dilakukan.
Kesulitan untuk memperoleh buku sember yaitu sumber siswa yang disusun dengan materi yang berbasis lingkungan dimana sekolah itu berada selama ini guru hanya menggunakan buku penunjang pembelajaran yang disusun berdasrkan kondisi lingkungan yang asing bagi siswa sekolah tersebut misalnya buku penunjang yang diterbitkan di surabaya, jakarta, malang dan lain-lain sehingga buku-buku tersebut dapat dimanfaatkan sebagai penunjang dalma pembelajaran. Apabila kita telah memiliki buku sumber yang berbasis lingkungan maka pelaksanaan pembelajaran akan lebih menarik dan bermakna.
3.    Dalam Melakukan Hubungan Sosial di Sekolah
Segi positif dalam melakukan hubungan sosial di sekolah mitra adalah terciptanya rasa kekeluargaan antar mahasiswa PPL dengan seluruh siswa, guru-guru, kepala sekolah, dan petugas administrasi. Sehingga saat adanya permasalahan-permasalahan yang terkait dengan pelaksanaan kegiatan PPL-Real. Seluruh jajaran sekolah dapat membantu memberikan bimbingan dan bantuan sehingga semua permasalahan dapat terselesaikan dengan baik.
Dari segi negatif, hubungan yang terlalu akrab antar siswa dengan mahasiswa PPL terkadang membawa dampak negatif, tingkah laku beberapa siswa yang melewati batas kewajaran, siswa tersebut menjadi tidak bisa membedakan antara situasi formal pada saat mengajar dengan situasi di luar kelas.

3.2.2  Dalam Kegiatan Non-Mengajar
Beberapa hasil yang didapat dari kegiatan non-mengajar selama melakukan kegiatan PPL-Real. Dapat ditinjau dari dua segi yaitu dari segi positif dan segi negatifnya, yang dapat disebutkan sebagai berikut:
Dari segi positif dalam melatih gerak jalan, mahasiswa dapat menularkan pengalaman yang pelaksanaan baris-berbaris kepada siswa, dan menciptakan suasana yang akrab dengan siswa. Dalam kegiatan ekstra pramuka mahasiswa dapat memberikan bekal kemandirian kepada siswa. Dalam kegiatan upacara bendera, siswa diberikan pengalaman sebagai perangkat upacara.
Segi negatif yaitu terhadap siswa yang mengalami kesulitan belajar, karena keterbatasan kemampuan mahasiswa calon guru merasa kewalahan untuk membimbing siswa tersebut.

3.2.3 Tindak Lanjut/Perbaikan
Berdasarkan dengan adanya pengalaman-pengalaman dan latihan mengajar di atas, mahasiswa calon guru telah melakukan beberapa tindak lanjut atau perbaikan terhadap hal-hal yang berdampak negatif. Adapun tindakan atau perbaikan yang calon guru laksanakan adalah sebagai berikut :
a.    Dalam Persiapan Mengajar
Pengambilan bahan ajar dalam persiapan mengajar dapat dilakukan beberapa hari sebelum mengajar. Konsultasi RPP dilaksanakan minimal dua hari sebelum kegiatan mengajar, sehingga waktu yang digunakan untuk memantapkan materi yang akan diajarkan menjadi lebih banyak.
b.    Dalam Mengajar
Untuk mendorong minat siswa untuk belajar dan agar siswa mudah mengerti penjelasan dari guru, mahasiswa praktikan dapat mengaitkan materi pelajaran dengan kondisi lingkungan yang ada di sekitar sekolah, pembuatan media-media pembelajaran yang menarik bagi siswa. Dan juga mengisi pelaksanaan pembelajaran dengan humor-humor yang dapat membangkitkan gairah belajar siswa. Dalam mengatasi permasalahan pengerjaan administrasi kelas mahasiswa praktikan meminta penjelasan dan bimbingan dari guru pamong atau guru bidang studi.
c.    Dalam Hubugan Sosial
Langkah mengatasi siswa yang tidak menghormati gurunya pada saat mengajar adalah dengan memperlakukan semua siswa sama, tidak membeda-bedakan siswa yang satu dengan yang lainnya. Memberikan beberapa nasehat dan teguran-teguran yang sifatnya membangun.
d.    Dalam Kegiatan Non-Mengajar
Untuk mengatasi siswa yang megalami kesulitan belajar dengan memberikan bimbingan belajar secara khusus yaitu dengan memberikan latihan di dalam kelas. Dalam mengatasi kesulitan yang ditemui mahasiswa calon guru selalu meminta bantuan dan bimbingan dari guru pamong maupun guru bidang studi lainnya.

3.3 Temuan Yang Bermakna
Adapun temuan bermakna yang penulis alami dan dapatkan selama kegiatan PPL-Real adalah :
1.    Keterbukaan,  kedekatan guru,  dan  perhatian yang penuh kasih sayang sangat berpengaruh  terhadap pembelajaran. Situasi yang  penuh suasana kekeluargaan antara guru dan siswa membuat kondisi belajar sangat nyaman.
2.    Peran aktif siswa dalam segala upaya pengembangan diri masing-masing individu sangat memberikan kesan yang sangat baik dalam pelaksanaan pembelajaran.
3.    Pembelajaran inovatif guna mencapai hasil yang maksimal sudah mulai diterapkan dalam proses pembelajaran di  MIN Singaraja.
4.    Pelaksanaan pembelajaran yang dilaksanakan dengan suasana yang kondusif memberikan dampak yang sangat baik dalam tujuan pencapaian belajar siswa.
5.    Jalinan hubungan sosial yang terjalin dengan baik memberikan kesan yang sangat menyenangkan, sehingga jarak antara pendidik dengan peserta didik tak lagi menjadi masalah yang utama.

BAB IV
PENUTUP
4.1.    Simpulan
PPL-Real ini salahsatu kegiatan untuk utu makan dapat disimpulkan
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah  penulis  paparkan pada laporan ini,   maka dapat disimpulkan bahwa:
1.    PPL-Real memberikan banyak manfaat pengalaman bagi calon guru sebagai bekal  berharga untuk nantinya diaplikasikan secara nyata pada saat menjadi guru.
2.    Tugas seorang guru ternyata sangat  komplek. Tidak hanya mengajar saja melainkan ada banyak kegiatan non-mengajar lain yang harus dikuasai seorang guru agar  mampu tampil profesional dan berhasil dalam  mendidik siswa.

4.2.    Saran-saran
Dengan melihat program-program yang telah dilaksanakan di  MIN Singaraja,  serta melihat situasi dan kondisi yang  berkembang maka, penulis menyarankan:
1.    Bagi seluruh warga sekolah agar  mempertahankan prestasi dan kinerja demi mencapai mutu pendidikan yang optimal.
2.    Rasa kekeluargaan yang tinggi yang telah tercipta hendaknya dapat dipertahankan.
3.    Kegiatan ekstrakurikuler hendaknya dapat dikembangkan sehingga mampu  menyalurkan  minat, bakat, serta kreatifitas siswa secara lebih optimal, misalnya ditambah  dengan ekstra kurikuler dibidang  olah raga, seperti basket, voly, dll.
4.    Bagi  lembaga mahasiswa ke lapangan karena kenyataan di lapangan sedikit berbeda dengan teori yang diberikan di bangku kuliah.
5.    Untuk LPPL, koordinasi antara LPPL dengan sekolah mitra perlu ditingkatkan  sehingga program PPL dapat berjalan sesuai dengan tata cara pelaksanaan PPL yang berlaku.

DAFTAR PUSTAKA

LPPL. (2007). Buku Petunjuk Pelaksanaan PPL. Singaraja: UNDIKSHA Negeri Singaraja

Sarna, Kt, Dkk. (2005). Petunjuk Praktis PPL-Rea.l Singaraja: IKIP Negeri Singaraja,UNDIKSHA Singaraja.

Tim penyusun. (2006), Pedoman Studi Undiksha Negeri Singaraja. Edisi FIP Singaraja. Singaraja: UNDIKSHA Negeri Singaraja.

 

Untuk lebih lengkapnyadan jelas silahkan download di sini


LAPORAN PPL AWAL


LAPORAN PPL AWAL
1.1 Latar BelakangHakekat PPL-Awal ialah sebagai program pengenalan lapangan atau lingkungan lebih awal merupakan serangkaian kegiatan yang memungkinkan mahasiswa mengenal lingkungan fisik dan non-fisik sekolah (aspek administratif, akademik, dan social dalam kehidupan sekolah) yang harus dipahami dan didalami secara dini sebagai calon guru.

Sebagai calon Guru yang profesional, tidak cukup hanya berbekal ilmu di bangku kuliah saja, tapi harus mengetahui dan mengalami sendiri tentang hal-hal yang sebenarnya menjadi tugas seorang guru. Sehingga dengan melaksanakan program PPL-Awal bermanfaat bagi pengembangan mahasiswa sebagai calon guru yang professional. Melalui program PPL-Awal mahasiswa dapat memperoleh bekal pengalaman langsung di lapangan tentang berbagai aspek yang terkait dengan pengembangan diri sebagai calon guru yang professional. Temuan dan pengalaman tersebut dapat dijadikan acuan dalam diskusi dengan mahasiswa lain dan dosen pada matakuliah terkait. PPL-Awal merupakan ajang penyerapan pengalaman pertama dari rangkaian PPL bertahap terpadu sebelum mengikuti pengajaran Mikro dan PPL-Real.

PPL-Awal juga bermanfaat untuk mahasiswa yang akan melaksanakan PPL real, mahasiswa khusus dibidang pendidikan harus terlebih dahulu  melaksanakan PPL-Awal karena pembentukan sikap profesional keguruan tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. Pengenalan lapangan lebih awal dapat dilakukan melalui kegiatan seperti melaksanakan tugas-tugas tertentu separti ke sekolah untuk melakukan observasi kegiatan pembelajaran di kelas.

Sehingga kegiatan PPL-Awal ini merupakan sarana bagi Mahasiswa calon guru untuk berlatih agar mengenal secara cermat lingkungan fisik, administratif, akademik, sosial-psikologis sekolah dan sistem pengelolaan yang dikembangkan, serta memiliki kemampuan penerapan kinerja di dalam situasi sebenarnya baik dalam kegiatan mengajar maupun tugas-tugas keguruan lainnya sesuai tuntutan standar pendidikan nasional / lembaga. Dapat disimpulkan bahwa keberadaan dari program pengalaman lapangan yang dilaksanakan oleh mahasiswa calon guru sangat bermanfaat sehingga nantinya dapat mencetak sumber daya manusia yang berkualitas.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis menentukan permasalahan dalam penulisan laporan ini yaitu sebagai berikut :

1.      Bagaimana keadaan fisik sekolah sarana dan prasarana sekolah/kelas serta penataannya ?

2.      Bagaimana situasi dan kondisi lingkungan sekolah ?

3.      Bagaimana Perangkat administrasi sekolah/kelas SD Negeri 3 Pohsanten.

4.      Apa program ekstra dan ko-kurikuler yang dikembangkan sekolah SD Negeri 3 Pohsanten ?

5.      Bagaimana kehidupan sosial budaya berserta tata- tertib sekolah ?

6.      Bagaimana sikap dan pola tingkah laku siswa di dalam dan diluar kelas ?

7.      Bagaimana persiapan dan pelaksanaan proses belajar mengajar yang berlangsung sehari-hari ?

1.3  Tujuan

Adapun tujuan dari kegiatan orientasi pengembangan pengalaman lapangan awal (PPL-Awal), berdasarkan buku “Petunjuk Praktis Pelaksanaan PPL-Awal” yang dikeluarkan oleh Lembaga Pengembangan Pengalaman Lapangan (LPPL) UNDIKSHA Singaraja. Secara umum tujuan PPL-Awal ialah untuk mengkondisikan mahasiswa sebagai calon guru dengan seluruh perikehidupan sekolah secara nyata. Secara khusus PPL-Awal bertujuan agar mahasiswa dapat mengetahui dan memahami secara langsung dan cermat tentang beberapa hal yaitu :

1.      Keadaan fisik sekolah sarana dan prasarana sekolah/kelas serta penataannya.

2.      Situasi dan kondisi lingkungan sekolah.

3.      Perangkat administrasi sekolah/kelas.

4.      Program ekstra dan ko-kurikuler yang dikembangkan sekolah.

5.      Kehidupan sosial budaya sekolah berserta tata tertibnya.

6.      Sikap dan pola tingkah laku siswa di dalam dan diluar kelas.

7.      Persiapan dan pelaksanaan proses belajar mengajar yang berlangsung sehari-hari.

BAB II

KEGIATAN YANG DILAKUKAN SELAMA ORIENTASI

2.1  Kegiatan yang Dirancang

Dalam melaksanakan kegiatan observasi di SD Negeri 3 Pohsanten penulis membuat Rancangan kegiatan yang akan dilaksanakan selama mengikuti Pengembangan Pengalaman Lapangan lebih awal (PPL-Awal) dari tanggal 23 Juli sampai tanggal 4 Agustus 2007. Dengan rancangan kegiatan yang direncanakan adalah sebagai berikut :

NO WAKTU KEGIATAN NARA SUMBER KETERANGAN
1 19 – 21Juli 2007 -   Menjajagi dan menetapkan sekolah latihan Kepala sekolah Datang langsung dengan membawa surat pengantar
2 22 – 23Juli 2007 1.  Mulai Kegiatan PPL-A dengan kepala sekolah dan perkenalan dengan GP2.  Meyerahkan surat-surat dan instrumen PPL-A

3.  Mengkonsultasikan program kerja

4.  Melakukan observasi / orientasi awal

- Kepala sekolah beserta jajarannya- Guru pembimbing Tempat Sekolah latihan
3 25 -  28Juli 2007 1.  Mengenali lingkungan fisik dan non fisik sekolah2.  Mengobservasi dan mengenal pola tingkah laku siswa di kelas / luar kelas

3.  Mengenal kehidupan Sosial budaya sekolah

4.  Mengenal Program kegiatan ekstra dan kokurikuler sekolah

- Kepala sekolah beserta jajarannya- Guru pembimbing

- Siswa

Mengacu pada panduan instrumen dan kondisi di lapangan
4 30  Juli – 4 Agustus 2007 Mengenal Kegiatan pembelajaran ajar meliputi :1.  Perencanaan/persiapan mengajar

2.  Pelaksanaannya di kelas pada saat membuka, inti dan menutup PBM

3.  Interaksi , pengelolaan kelas dalam pembelajaran

- Kepala sekolah beserta jajarannya- Guru pembimbing

- Siswa

Mengacu pada instumen dan kodisi di lapangan
5 25 Juli – 9 Agustus 2007 1.  Menyusun laporan sacara bertahap2.  mengadaan klarifikasi diskusi, pendalaman, pemahaman atas temuan di lapangan

3.  Meminta lembar evaluasi yang telah diisi guru pembimbing.

4.  menyerahkan piagam kepada kepala sekolah dan guru pembimbing, sekaligus mohon diri pada akhir kegiatan

- Kepala sekolah beserta jajarannya- Guru pembimbing - Mengacu pada format laporan- Penyerahan sertifikat dan mohon diri.

2.2 Cara Pengumpulan Data

Dalam pengumpulkan data penulis melakukan beberapa teknik dan metode untuk mengumpulkan data selama pengembangan pengalaman lapangan lebih awal (PPL-Awal) yaitu :

1.      Metode Wawancara

Yaitu penulis bertanya secara langsung kepada narasumber yang dianggap mengetahui hal-hal tentang apa yang penulis tanyakan. Melalui metode ini penulis mewawancarai beberapa narasumber yang ada di sekolah seperti Kepala Sekolah, Guru serta Siswa yang ada dilingkungan sekolah. Untuk menjawab pertanyaan yang telah dipersiapkan penulis sebelumnya.

2.    Metode Observasi

Yaitu penulis secara langsung mengamati obyek-obyek yang ada di SD  Negeri 3 Pohsanten seperti megamati tentang keadaan dan situwasi sekolah. Baik itu pola prilaku Siswa ( di dalam kelas atau di luar kelas) dan proses belajar mengajar (PBM) yang sedang berlangsung. sehingga penulis bisa memperoleh data yang sebenarnya mengenai proses belajar mengajar, maupun pola sikap tingkah laku siswa di luar kelas, di luar jam pelajaran berlangsung.

3.  Metode Diskusi

Melalui metode diskusi penulis dan guru pembimbing atau pihak lain mendiskusikan permasalahan yang ditemukan selama orientasi. Dan ikutserta atau melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan SD Negeri 3 Pohsanten.

4.  Pencatatan Dokumen

Mengumpulkan data yang diperlukan dengan cara diperoleh melalui pencatatan atau penyalinan semua arsip maupum data yang diperlukan yang ada di SD Negeri 3 Pohsanten.

BAB III

TEMUAN SELAMA ORIENTASI

3.1 Keadaan Fisik Sekolah, Sarana dan Prasarananya

Selama dalam kegiatan orientasi PPL-Awal yang penulis laksanakan di SD Negeri 3 Pohsanten. Penulis telah melakukan pengamatan tentang keadaan fisik sekolah, sarana dan prasarana sekolah tempat melakukan observasi.

Adapun hasil observasi yang dilakukan, khususnya mengenai keadaan fisik sekolah, sarana dan prasarananya. Penulis mendapatkan temuan sebagi berikut:

1.      Nama sekolah                        : SD Negeri 3 pohsan

2.      Alamat                                  : Ds. Pohsanten, Dsn. Dauh Pangkung Jangu

3.      Status sekolah                       : Negeri

4.      Luas tanah                             : 4.000 m2

5.      Jumlah ruang kelas                : 5 Ruang

6.      Ukuran ruang kelas               : 8 X 7 m2

7.      Bangunan lain yang ada        :

a.    Ruang Kepala Sekolah      : 25 m2

b.    Ruang guru                       : 56 m2

c.    Perpustakaan                     : 25 m2

d.   Kantin                               : 6 m2

e.    Padmasana                                    : 5 m2

f.     UKS                                  : 12 m2

g.    Parkir                                 : 10 m2

h.    3 Ruang WC                     : 14 m2

8.      Lapangan Olahraga

SD Negeri 3 Pohsanten tidak memiliki lapangan olahraga yang khusus, namun kegiatan olahraga dilakukan di lapangan upacara yang dapat difungsikan sebagi lapangan olahraga dan halaman sekolah. Walaupun demikian lapangan  upacara yang ada di SD Negeri 3 Pohsanten  dapat digunakan sebagai lapangan olahraga yaitu lapangan bola voli dan juga dapat dipakai sebagai lapangan bulutangkis yang difungsikan pada saat kegiatan olahraga berlangsung. Adapun ukuran lapangan upacara tersebut  ialah 130 m 2 .

9.      Fasilitas-Fasilitas Sekolah

Di SD Negeri 3 Pohsanten terdapat 5 ruang kelas dengan ukuran masing-masing adalah 8 x 7 m, yang dimana ruangan untuk kelas I dan II digabung jadi satu ruangan dan untuk kelas lainya telah memiliki ruangan kelas masing-masing. Keadaan ruangan kelas tempat belajar siswa untuk menunjang berlangsungnya Peroses belajar mengajar sangat baik. Adapun fasilitas dan kelengkapan yang ada dalam kelas berserta manfaatnya antara lain:

-   Meja dan kursi yang lengkap dengan pas bungga dan taplak meja sebagai meja guru di dalam kelas.

-   Taplak meja, vas bunga, hiasan yang ditempel di dinding bagian atas berfungsi untuk memperindah ruangan sehingga mendukung suasana belajar yang lebih baik dan nyaman.

-   Meja dan kursi siswa sebagai sarana belajar siswa atau tempat duduk siswa serta sebagai tempat belajar siswa.

-   Papan tulis, kapur dan penghapus sebagai sarana untuk menulis guru dan siswa disaat peroses belajar mengajar, seperti untuk menulis penjelasan – penjelasan dari guru, mengerjakan soal di papan yang dilakukan siswa, dan kegiatan lain yang berkaitan dengan pembelajaran.

-   Gambar Peresiden, Wakil Peresiden dan gambar Garuda Pancasila. Selain itu terdapat juga gambar pahlawan. Ini bermanfaat untuk memperkenalkan kepada siswa tentang pahlawan bangsa dan untuk menghormati lambang negara kita, dasar negara kita, presiden beserta wakil presiden, serta mengingatkan siswa akan jasa – jasa para pahlawan dalam membela bangsa dan negara.

-   Tulisan slogan – slogan berfungsi untuk memacu semangat para siswa untuk belajar maupun dalam meraih citi – cita.

-   Pelangkiran, ini berfungsi sebagai tempat sembahyang sehari-hari yang dimana siswa piket yang beragama Hindu wajib menghaturkan canangsari demi keselamatan dan lancarnya pelaksanaan proses belajar mengajar di kelas.

-   Papan absent siswa, ini berguna untuk mencatat nama-nama siswa yang tidak hadir kesekolah yang dilakukan setiap hari.

-   Daftar pelajaran, ini berguna untuk siswa agar mereka dapat mengetahui jadwal pelajaran yang akan diajarkan oleh guru.

-   Daftar regu piket, ini digunakan untuk memberitahukan nama-nama siswa yang menjadi giliran piket harian.

-   Lemari digunakan untuk tempat buku, penggaris dan alat-alat kelengkapan belajar mengajar.

-   Sapu dan alat bersih lainnya yang digunakan siswa untuk membersihkan kelas setiap hari.

10.  Perpustakaan Sekolah

Perpustakaan SD Negeri 3 Pohsanten tidak dikelola oleh petugas khusus. Perpustakaan ini dikelola oleh guru yang ditugaskan oleh kepala sekolah dan dibantu oleh siswa. Dilihat dari jumlah buku yang ada cukup memadaai untuk kegiatan pembelajaran, buku-buku yang ada tercatat 3186 eksemplar. Buku –buku ini dapat dikelompokkan menjadi IPA, IPS, Sastra, bahasa indonesia, matematika dan lain-lian. Didalam menunjang kegiatan belajar mengajar perpustakaan meminjamkan buku pada siswa secara berkelompok dan ada yang berikan secara perorangan untuk jenis buku yang jumlahnya mencukupi. Upaya sekolah untuk menambah jumlah buku perpustakaan yaitu melalui dana BOS yang diberikan oleh pemerintah dan bantuan bantun buku dari pemerintah.

Penilaian penulis tentang keberadaan fasilitas dan pemanfaatan perpustakaan dalam menunjang pembelajaran bagi siswa cukup baik. Karena perpustakaan telah meminjamkan buku-buku pelajaran kepada siswa untuk memperlancar proses belajar mengajar. Selain itu para siswa juga sangat sering datang ke perpustakaan pada jam-jam istirahat ataupun pada jam-jam kosong untuk membaca ataupun meminjam buku pelajaran. Namun jumlah buku-buku yang ada perlu ditambah agar mencukupi kebutukan siswa.

11.  Laboratorium atau Ruang Peraktek

SD Negeri 3 pohsanten sampai saat ini belum mempunyai laboratorium atau ruang peraktek, sehingga siswa dalam melakukan kegiatan peraktek dilakukan di dalam kelas ataupun diluar kelas/halaman dan bahan untuk melakukan praktek dibawa dari rumah. Sehingga kegiatan berlangsung kurang optimal.

12.  Ruang BK

Sampai saat ini SD Negeri 3 Pohsanten belum mempunyai ruang BK khusus. Sehingga jika ada siswa yang mengalami masalah akan di bimbing di ruang guru dan dibimbing oleh guru kelas mereka masing-masing. Dengan keaadaan seperti itu membuat kegiatan konseling kurang berlangsung dengan baik. Karena hal ini akan mempersulit dalam kegiatan bimbingna konseling, siswa akan ragu dalam mengungkapkan permasalahan mereka karena malu dengan guru-guru yang ada disana.

13.  Ruang Serbaguna

Untuk ruang serbaguna SD Negeri Pohsanten belum memiliki ruang serbaguna tersendiri. Karena itu dalam melakukan kegiatan seperti perpisahan dan rapat sekolah menggunakan ruang kelas sebagai tempat melaksanakannya.

14.  Ruang UKS.

SD Negeri 3 Pohsanten telah memiliki ruangan UKS secara khusus namum belum mempunyai petugas khusus dan hanya dikelola oleh guru yang ditentukan oleh kepala sekolah. Ruang UKS ini telah memiliki fasilitas-fasilitas yang memadai untuk kesehatan siswa seperti :

- Tempat tidur lengkap dengan seprai dan bantal yang digunakan untuk istirahat siswa yang dalam keadaan sakit.

- Meja dan kursi sebagai sarana pelengkap untuk meletakkan barang-barang yang dibutuhkan.

- Obat-obatan yang selalu tersedia untuk memenuhi kebutuhan siswa bila terjadi kecelakaan maupun untuk siswa yang sakit.

- Kotak P3K digunakan untuk berjaga-jaga bila ada siswa yang. menggalami kecelakaan sehingga dapat memberi bantuan secara cepat.

- Alat-alat kesehatan seperti termometer untuk menunjang dalam penggobatan.

Pendapat penulis tentang keadaan ruang UKS di SD Negeri 3 Pohsanten sudah sangat cukup baik dan segala fasilitas yang ada sudah memenuhi untuk menunjang kesehatan siswa.

15.  Ruang Kepala Sekolah.

Fasilitas yang ada di ruang kepala sekolah adalah satu set meja dan kursi untuk para temu sekolah, meja dan kursi untuk kepala sekolah, lemari yang digunakan untuk menyimpan berkas-berkas, kalender, struktur organisasi sekolah.  Semua fasilitas tersebut dikelola oleh kepala sekolah dan juga digunakan sebagai tampat pertemuan antara kepala sekolah dan tamu-tamu sekolah.

16.  Ruang guru.

Ruang Guru SD Negeri 3 Pohsanten memiliki fasilitas seperti : Meja dan kursi untu masing-masing guru sebagi tempat meletakkan segala hal yang diguna dalam mengajar oleh guru yang dikelola oleh guru masing-masing, fasilitas tersebut dimanfaatkan sebagi tempat persiapan guru mengajar dan di saat istirahat. Adapun fasilitas lain yaitu : jam dinding, dispenser, rak pirng, lemari adminstrasi untuk menaruh berkas yang berhubungan dengan administrasi, lemari untuk meyimpan ala-alat olahraga dan alat lainnya.

17.  SD Negeri 3 Pohsanten memiliki satu ruangan UKS yang dikelola oleh guru-guru  dan untuk pengelolaannya dibuat jadwal piket bagi guru-guru yang bertugas. Demikian juga untuk untuk kegiatan koperasi walau-pun tidak mempunyai ruangan khusus, petugasnya ditunjuk dari guru-guru oleh kepala sekolah melalui rapat. untuk kantin sekolah dikelola oleh guru secara bergilir sehingga dapat berjalan dengan lancar.

18.  Parahyangan / tempat ibadah

SD Negeri 3 Pohsanten  memiliki parahyangan/tempat ibadah bagi umat hindu yang sederhana yang letaknya di depan kelas I/II. Untuk tempat ibadah umat lain tidak disediakan di sekolah karena siswa SD Negeri 3 Pohsanten jarang mendapat siswa yang beragama selai  beragama Hindu, hanya ada beberapa guru yang beragama lain dan untuk melakukan ibadah  biasanya dilakukan di rumah atau tempat ibadah masing-masing.

Parahyangan/tempat ibadah tersebut sangat bermanfaat  dalam proses pendidikan siswa – siswi, dimana setiap pagi sebelum siswa-siswi melaksanakan kegiatan belajar mengajar, mereka melaksanakan persembahyangan diparahyangan atau jika tidak demikian, mereka bisa melaksanakan Trisandya bersama di lapangan upacara sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai. Selain itu, setiap purnama siswa melaksanakan persembahyangan bersama sehingga parahyangan tersebut dapat dimanfaatkan dengan baik oleh para siswa dan guru khususnya yang beragama Hindu.

19.  Pertamanan, kerindangan dan kebersihan sekolah

Pertamanan, kerindangan dan kebersihan sekolah benar-benar dijaga baik oleh warga sekolah. Untuk lebih mengoptimalkan kebersihan, dibuat tugas piket di masing-masing kelas yang bertugas menjaga kebersihan kelas, dan taman kelas masing-masing. Sehingga dengan suasana sekolah yang bersih, rapi, dan rindang dapat mendukung kegiatan belajar mengajar yang lebih kondusif dan nyaman.

3.2 Situasi dan Kondisi Lingkungan Sekolah

a.       Situasi dan kondisi lingkungan sekitar sekolah

SD Negeri 3 Pohsanten terletak di desa pohsanten dusun dauh pangkung jangu yang berada pada daerah pegunungan dengan jumlah penduduk yang ada di sekitar sekolah masih sangat sedikit. Ada-pun jenis bangunan  atau kondisi yang ada di sekitar SD Negeri 3 pohsanten yaitu :

-   Sebelah Utara          : Perumahan masyarakat

-   Sebelah Timur         : Jalan desa

-   Sebelah Selatan       : Tanah Pribadi

-   Sebelah Barat          : Perumahan dan Tanah Peribadi

b.      Kondisi Lingkungan Sekolah

Kondisi lingkungan sekolah SD Negeri 3 Pohsanten pada umumnya sudah baik, suasananya nyaman, rindang dan sejuk sehingga enak dipandang mata dan menambah ketenangan siswa dalam peroses belajar mengajar. Hal ini disebabkan oleh karena taman-taman yang ada di lingkungan sekolah tertata dengan rapi, teratur, dan indah. Dengan lingkungan seperti ini sangat baik dalam mendukung proses belajar mengajar karena menciptakan suasana yang kondusif sangat baik untuk kelangsungan peroses belajar mengajar dan juga jauh dari keramaian masyarakat. Letak sekolah ini yang agak jauh dari pusat kota dan berada di daerah pegunungan tidak menyebabkan sekolah ini sulit dicapai baik dengan kendaraan umum maupun kendaraan pribadi karena sudah ada jalan desa yang cukup baik.

c.       Gambar Denah Fisik SD Negeri 3 Pohsanten : Terlampir

3.3 Perangkat Administrasi Sekolah / Kelas.

1.      Keadaan guru dan petugas administrasi sekolah

b.      Jumlah guru yang ada di SD Negeri 3 Pohsanten berjumlah 9 orang guru. Adapun rincian status guru SD Negeri 3 Pohsanten adalah sebagai berikut : 8 orang guru tetapdan 1 guru abdi.

c.       Rasio jumlah siswa – guru di SD Negeri 3 Pohsanten sangat seimbang, karena jumlah siswa dan guru pengajar seimbang sehingga kegiatan belajar mengajar berjalan secara efektiv. Dengan rasio sebagai berikut.

- Jumlah rasio Guru – siswa = 9 orang – 84 orang.

d.      Pembagian tugas guru telah diatur oleh kepala sekolah melalui rapat yang dihadiri oleh semua guru sehingga dapat diambil keputusan yang baik dan tidak ada masalah. Sehingga memperlancar segala kegiatan yang dilakukan sekolah.

e.       Beban mengajar guru di SD Negeri 3 Pohsanten dapat Penulis  katakan baik karena dilihat setiap guru mempunnyai baban yang hampir sama. Adapun rician tugas guru dan pegawai terlihat dalam daftar guru SD Negeri 3 Pohsanten (terlampir).

f.       Bagan struktur Organisasi (terlampir)

2.      Kedaan siswa

Jumlah siswa SD Negeri 3 Pohsanten pada tahun 2007 ini adalah berjumlah 84 orang dengan rincian sebagai berikut :

KELAS KELAMIN JUMLAH
L P
I 8 8 16
II 5 5 10
III 5 8 13
IV 7 4 11
V 7 9 16
VI 10 8 18
JUMLAH 42 42 84

Untuk sistem penerimaan siswa baru SD Negeri 3 Pohsanten melakukannya dengan cara memberi tahukan kepada orangtua siswa untuk membawa foto copy akta kelahiran siswa yang akan didaftarkan, dan membawa surat tamat belajar di TK apabila anak tersebut tidak belajar di TK sebelumnya tetap dapat mendaftarkan diri di SD Negeri 3 Pohsanten. Karena untuk mendaftar sekolah dasar yang diutamakan adalah umur anak dengan ketentuan anak yang diterima adalah anak yang telah berumur diatas 6 tahun.

Kualitas akademis siswa SD Negeri 3 Pohsanten yang diterima pada setiap tahun masih kurang berkualitas, karena kebanyakan siswa baru untuk siswa kelas I tidak belajar di TK sebelumnya. Hal ini disebabkan tidak adanya TK yang dekat dengan lingkungan atau wilayah masyarakat disekitar SD Negeri 3 Pohsanten. Jadi anak hannya mengandalkan didikan orang tua meraka dirumah untuk mengenal huruf dan angka. Hal ini membuat guru harus lebih berkerja keras terutama guru kelas I karena siswa yang diajar mesih belum mengenal huruf dan angka.

Dilihat dari perimbangan jumlah kelompok siswa dari jenis kelamin dapat dilihat jumlah siswa perempuan dan siswa laki-laki memiliki jumlah yang sama yaitu  dengan perbandingan laki-laki – perempuan = 42-42.

Secara umum latar belakang sosial ekonomi siswa SD Negeri 3 Pohsanten tergolong cukup baik. Walaupun ada sebagian siswa tergolong dikalangan yang kurang mampu. Namun sekolah telah mendapat bantuan operasional siswa dari pemerintah sehingga siswa dapat terus sekolah. Untuk tabel jumlah siswa yang lebih lengkap ( Terlampir ).

Program Ekstra dan ko-kulikuler yang Dikembangkan

Kegiatan ekstrakulikuler yang diprogramkan dan dilaksanakan  di SD Negeri 3 Pohsanten adalah :

 

1.      Pramuka.

2.      Bola Voli.

3.      Bulu Tangkis.

4.      Tenis Meja.

5.          Tari

6.          Berkebun

7.          matembang

Dalam mengelola kegiatan ekstra yang diprogramkan, sekolah mengambil kebijakan dengan tidak diadakannya penyaringan secara khusus namun dilakukan dengan membebaskan anak- anak untuk memilihnya sendiri sesuai dengan minat dan bakat mereka sendiri. Untuk pembinaannya sekolah mengambil pembina dari guru-guru atau-pun dari luar secara sukarela. Dan pembiayaannya diambil dari bantuan operasional siswa dan bantuan dari daerah.

Sebaran jumlah siswa pada masing-masing kegiatan untuk setiap estra. Dapat dilihat minat siswa paling banyak adalah ekstra bola voli, karena siswa sangat senang dengan permainan tersebut. Sehingga ekstra bola voli paling banyak mendapat siswa.

Dalam pengelolaan ekstra-ekstra tersebut terdapat beberapa kendala yang dihadapi sekolah atau pembina dalam menangani atau mengelola eksra

tersebut yaitu : kendala dana, ketenagaan tempat dan masalah waktu.

Prestasi yang pernah diraih SD Negeri 3 Pohsanten adalah :

-   Juara pertama murid teladan tingkat kecamatan.

-   Juara dua bulutangkis tingkat kabupaten.

-   Juara dua bola voli tingkat kabupaten.

-   Peserta olimpiade IPA dan Matematika.

 

Kehidupan Sosial Budaya Sekolah Berserta Tata Tertibnya

SD Negeri 3 pohsanten memiliki tata tertib untuk guru dan siswa yang dijadikan pedoman, serta panutan siswa dalam bersikap dan bertingkahlaku dalam mengikuti aktivitas sekolah.

Tata tertib guru/sekolah harus dipatuhi dan dilaksanakan oleh seluruh staf guru SD Negeri 3 Pohsanten tanpa terkecuali. Sedangkan tata tertib siswa harus dipatuhi dan dilaksanakan oleh seluruh siswa SD Negeri 3 Pohsanten tanpa terkecuali. Sehingga dengan adanya dua tata tertib  tersebut kondisi dan kehidupan warga sekolah dapat berjalan dengan tertib dan teratur. Dimana tata tertib guru dan pegawai serta tata tertib sekolah terlampir.

Kesan penulis tentang hubungan sosial dilihat dari hubungan siswa-siswa, siswa-guru, dan guru-guru di SD Negeri Pohsanten adalah sebagai berikut :

-   Hubungan sosial siswa-siswa cukup baik, karena terlihat dari hubungan mereka pada saat bermain diluar kelas yang jarang sampai ada yang berkelahi, walaupun ada anak yang hanya saling bercanda dan bermain dengan temannya. Siswa juga memiliki rasa saling menghargai dan tenggang rasa yang sangat baik kepada teman maupun guru yang dapat terlihat di dalam maupun di luar kelas.

-   Hubungan siswa-guru  cukup baik yang dapat terlihat dari perilaku siswa yang hormat dan patuh kepada guru seperti mengucapkan salam kepada guru mereka. Dimana juga para guru sebagai pendidik ataupun sebagai orang tua siswa di sekolah, guru selalu dan berusaha membimbing atau membantu siswa yang mempunyai masalah baik masalah mengenai pelajaran atau diluar pelajaran.

-   Hubungan guru-guru juga cukup baik karena dapat dilihat sikap yang saling membantu dan sering bertukar pikiran jika ada kesulitan didalam belajar mengajar maupun lainnya. Dalam kehidupan di sekolah hubungan guru dengan guru terlihat sangat harmonis yang dapat dilihat dengan adanya sikat yang saling menghormati, tenggang rasa dan sikap kekeluargaan yang sangat erat diantara guru.

Dalam membina dan memelihara kultur kehidupan sekolah yang kondusip kepala sekolah melakukannya dengan menetapkan tata tertib untuk guru/sekolah serta tata tertib untuk siswa sehingga kehidupan sekolah dapat berjalan dengan tertib dan lebih kondusif. Selain itu juga dengan sering malakuakn diskusi dengan guru-guru maupun rapat agar setuasi dan kondisi kehidupan sekolah dapat berjalan dengan lancar dan terkendali. Dan juga kepala sekolah selalu menanamkan rasa saling hormat-menghormati dan rasa kekeluargaan kepada guru dan siswa.

Sikap dan Pola Tingkah Laku Siswa di Dalam dan Diluar Kelas

Kegiatan di dalam kelas

1.      Membuka dan menutup pelajaran

Setelah bel tanda masuk berbunyi siwa-siswi berbaris di halaman untuk memasuki kelas masing-masing dengan tertib dan rapi, setelah berada di ruangan siswa melakukan persembahyangan bersama-sama sesuai dengan agama dan keparcayaan masing-masing. Sebelum guru memasuki ruangan perilaku dan sikap para siswa cukup tertib dengan sudah menyiapkan alat pelajaran yang akan diperlukan dalam kegiatan belajar di atas meja masing-masing. Namun ada beberapa siswa yang bermain-main, bercerita dengan teman sebangku sehingga suasana menjadi agak ribut. Hal ini terlihat pada saat siswa sedang menunggu guru memasuki ruangan kelas.

Pada saat guru memasuki ruangan kelas, para siswa memberi salam selamat pagi atau siang secara serempak dengan dipimpin oleh ketua kelas. Pada saat guru telah berada di dalam kelas para siswa berpelilaku tenang, rapi dan tertib dengan segala alat pelajaran yang mereka perlukan di atas meja di tempat duduknya masing-masing, sebelum guru memulai pelajaran.

Sebelum memulai pelajaran guru malakuka absen kelas terlebih dahulu dan siswa menjawab setelah nama mereka disebut dan berlangsung dengan tenang walaupun ada beberapa anak yang lain-lain. Sebelum menuju pelajaran inti guru menanyakan pelajaran sebelumnya, apakah ada yang belum dimengerti dan para siswa-pun cenderung menjawab dengan mengatakan sudah mengerti walaupun sebenarnya mereka belum mengerti. Tapi ada beberapa siswa yang berani mengatakan belum mengerti dan bertanya kepada guru mengenai pelajaran yang belum dimengerti. Selain itu guru juga meminta pekerjaan rumah kepada siswa apabila ada tugas yang diberikan sebelumnya. Para siswa menyerahkan pekerjaan rumah mereka masing-masing dengan tertib disini terlihat keaktifan siswa dalam mengerjakan tugas karena seluruh siswa sudah mengerjakan tugasnya dirumah.

Saat guru memulai pelajaran siswa mulai membuka-buka buku catatan, dan buku pegangan yang dimiliki. Kemudian mereka mendengarkan dan memperhatikan penjelasan guru dipapan dengan baik dan tertib. Namun ada beberapa siswa yang tidak peduli dengan penjelasan guru didepan terutama siswa yang duduk dibelakang dan ada juga diantara mereka yang kurang antusias dalam mengikuti apa yang diajarkan oleh guru. Hal tersebut terjadi karena siswa terkadang kurang menyenangi pelajaran  maupun guru yang mengajar pelajaran tersebut. jika ada pertanyaan ataupun soal dari guru, sebagian besar siswa antusias untuk mengerjakan soal tersebut dan terkadang berebut kedepan untuk bisa mengerjakan soal yang telah diberikan kepada mereka. Apabila ada siswa yang belum mengerti dengan penjelasan guru, mereka langsung mengancungkan tangan dan bertanya. Saat guru menjelaskan terlihat siswa memperhatikan dan mencatat keterangan yang diberikan oleh guru dengan seksama.

Ketika guru mengakhiri pelajaran, siswa diyakinkan apakah ada masalah dengan pelajaran yang diberikan oleh guru dan para siswa cenderung menjawab bahwa sudah tidak ada masalah dan sudah mengerti itu dikerenakan siswa sudah tidak sabar untuk keluar. Siswa memasukakn alat-alat tulisnya dan memberi salam kepada guru sebelum guru meninggalkan kelas. Setelah guru meninggalkan kelas para siswa menyusul untuk keluar.

2.      Interaksi belajar mengajar

a.       Perilaku anak saat mengikuti pembelajaran

- Aktivitas anak merespon masalah

Selama proses belajar mengajar aktivitas anak dalam merespon masalah yang dilontarkan guru cukup baik. Para siswa sangat aktif untuk merespon masalah yang diberikan guru. Mereka dapat menanggapi masalah tersebut dengan serius dan selalu berusaha untuk menjawab dan memecahkan masalah yang diberikan guru, Siswa dapat menerima pelajaran dengan baik ada yang bertanya serta ada yang menjawab sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Namun ada beberapa anak yang terlihat pasip dalam merspon hal-hal tersebut..

- Keberanian anak bertanya dan menjawab pertanyaan

Pada saat guru memberikan kesempatan menjawab dan bertanya kepada siswa. Para siswa cukup berani untuk melakukan kesempatan tersebut seperti bertanya apabila ada  yang mereka belum mengerti tatang penjelasan guru dan menjawab pertanyaan dipapan untuk maju kedepan kelas. Respon siswa sangat baik terutama pada saat guru memberikan pertanyaan kepada siswa, hampir semua siswa mengacungkan tangan untuk menjawab pertanyaan tersebut seolah-olah mereka berebut untuk menjawabnya walaupun jawaban mereka ada yang kurang tepat. Namun ada beberapa siswa yang tidak berani bertanya maupun menjawab pertanyaan guru karena malu padahal mereka bisa untuk menjawabnya, ada juga yang tidak berani menjawab karena memang tidak bisa menjawab.

- Interaksi anak-anak, anak-guru selama PBM

Interaksi ana-anak, anak-guru selama proses belajar mengajar berlangsung cukup baik dan terjalin dengan baik. Mereka saling berkerjasama dalam menyelasaikan masalah yang diberikan oleh guru. Ini dapat terlihat dari hubungan antara siswa satu dengan yang lain mereka suka saling membantu teman yang sedang kesulitan dalam pelajaran, atau guru itu sendiri yang akan memberikan penjelasan mengenai hal yang tidak dimengerti tersebut. Adapun persaingan  dalam meraih juara kelas sangat begitu terlihat mereka tetap membantu teman yang mengalami kesulitan dalam mengertikan pelajaran. Untuk hubungan guru dengan siswa juga cukup baik, ini dapat dilihat dari antusias para siswa mendengarkan serta memperhatikan penjelasan dari guru dengan tertib. Dalam menjelaskan materi guru sudah cukup baik dengan sesekali diselingi pertanyaan dan jawaban baik dari guru maupun dari siswa itu sendiri. Guru juga pun tidak segan mengulangi penjelasan apabila siswa tidak mengerti.

- Respon anak dalam mengerjakan tugas/PR

Respon anak dalam mengerjakan tugas atau pekerjaan rumah sangat bagus hal ini dapat dilihat dari atusias para siswa yang selalu mengerjakan tugas ataupun PR dengan baik dan tepat waktu dengan cara dikerjakan sindiri maupun berkelompok. Sehingga pada saat memulai pelajaran dan guru menanyakan tentang tugas rumah (PR), siswa sudah siap menunjukkan tugas rumah yang telah mereka kerjakan kepada guru mereka. Dan diantara mereka maju ke papan  untuk mengerjakan tugas/PR yang sebelumnya sudah mereka kerjakan.

b.      Prilaku khusus pada siswa yang menggagu PBM

Pada saat proses belajar mengajar berlangsung tidak ada anak yang berperilaku khusus yang dapat mengganggu kegiatan belajar. Namun ada tigkah laku anak yang tidak baik yaitu saling berbincang-bincang dengan teman sbangku mereka. Hal ini biasanya diatasi oleh guru dengan cara memberikan pertanyaan kepada mereka atau-pun menegur mereka sehingga mereka kembali memperhatikan pelajaran yang diberikan oleh guru di depan. Walaupun ada anak yang terkadang demikian, guru berusahaa menanganinya dengan memberi nasehat atau peringatan. Namun apabila siswa tersebut masih berbuat demikian maka akan dibimbing secara khusus oleh guru kelas mereka masing-masing

c.       Fasilitas yang dimiliki siswa

Dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar hampir semua siswa sudah mempunnyai fasilitas belajar seperti buku ajar, buku catatan dan fasilitas penunjang lain yang relefan  sehingga dalam kegiatan proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan lancar dan nyaman. Selain itu guru juga mengharapkan para siswa memiliki buku penunjang lainnya selain buku yang diberikan di sekolah sehingga sumber atau refrensi dalam belajar bertambah dan dapat saling melengkapi. Apabila ada siswa yang tidak membawa kelangkapan yang memadai seperti buku ajar, bolpoin dan yang lainnya, guru mengatasinya dengan cara menyarankan kepada siswa tersebut untuk meminjam kepada temannya untuk sementara dan mengigatkannya untuk jangan lupa membawa perlengkapan belajar. Apabila siswa tersebut tidak membawa buku ajar maka guru menyarankan untuk meminjam buku kepada teman dan menggunakannya secara bersama sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan baik.

d.      Hubungan antara aktivitas anak dengan guru. meta pelajaran dan waktu penyajian

Hubungan terhadap prilaki anak antara aktivitas/ interaksi anak dengan guru penyaji, mata pelajaran yang disajikan dan waktu peyajian sangat berpengaruh. Hal ini dapat ditunjukkan dari perilaku anak yang tegang pada saat guru yang mengajar mereka agak galak dan jarang membuat selingan dalam belajar. Selain itu siswa akan cenderung tidak suka degan pelajaran yang guru tersebut ajarkan dan akan mengurangi aktivitas anak. Untuk mata pelajaran yang membutukkan kosenterasi yang agak lebih para siswa sering merasa jenuh dan bosan karena mereka sulit untuk menggikuti pelajaran namun hal ini dapat di atasi apabila guru yang mengajar mereka senang membuat selingan ataupun membuat fariasi dalam mengajar sehingga anak tidak terlalu tegang dan dapat mengikuti pelajaran. Pada saat jam-jam siang para siswa sering merasa mengantuk dan ingin cepat pulang sehingga  kurang berkosentrasi untuk belajar apalagi kalau pada jam tersebut mendapat mata pelajaran yang kurang mereka sukai atau membutukkan kosentrasi tinggi maka anak sangat terlihat kurang bersemangat untuk mengikuti pelajaran, untuk mengetasi hal ini guru mengatur jadwal pelajaran dengan cara meletakkan mata pelajaran yang membutuhkan kosentrasi tinggi di jam pertama, kedua dan untuk meta pelajaran yang anak senangi di letakkan pada jam terakhir sehingga siswa dapat belajar dengan nyaman dan lancar.

3.      Pengelolaan kelas.

Pengaturan posisi tempat duduk siswa di dalam proses belajar mengajar diatur dengan baik, siswa yang lebik pendek duduk di depan dan yang lebih tinggi duduk di belakang dengan posisi sejajar kesamping dan membujur lurus kebelakang.

Prilaku siswa jika  pengelolaan kelas dilakukan secara klasikal cenderung membuat siswa kurang tertib hanya beberapa siswa sata yang memperhatikan penjelasan guru di depan, hal ini membuat guru harus bekerja keras untuk memperhatikan para siswa sambil memberikan penjelasan. Kalau pengelolan kelas dilakukan secara kelomopok akan membuat siswa ada yang memperhatikan dan ada yang tidak memperhatikan / lai-lain selain itu juga akan membuat siswa cenderung untuk mengadalkan temannya yang lebih pintar saja. Sedangkan pengelolaan secara individual akan lebih baik sehingga prilaku siswa lebih tertib dan dapat dikendalikan oleh guru. sehingga nantinya akan dicapai tingkat pemahaman yang maksimal. Maka akan terlihat perbedaan antara individu yang satu dengan yang lain karena masing-masing individu memiliki karakteristik tersendiri.

Jika ada guru yang datang terlambat atau berhalangan hadir siswa biasanya bermain didalam kelas dan ribut ataupun keluar kelas, pergi kekentin, menggagu kelas yang sedang belajar. Untuk menghindari hal-hal tersebut guru yang berhalangan hadir sebelumnya sudah menitipkan/memberikan tugas kepada kelas tersebut, kalau-pun tidak maka guru yang lainnya yang akan memberikan tugas atau mengisi pelajaran  tersebut dengan kegiatan seperti bernyayi dan menggambar agar tidak terjadi keributan dan menggagu peroses belajar mengajar kelas yang lain.

Apa bila ada siswa yang datang terlambat, sebelumnya guru bertannya apa alasan mereka sehingga bisa datang terlambat. Dan selanjutnya memberi mereka peringatan apabila keterlambatan tersebut dilakukan lebih dari tiga kali maka guru akan mengambil tindakan dengan menghukum mereka sehingga mereka tidak berani untuk mengulangginya lagi, namun untuk yang belum sering terlambat biasanya guru hannya memperingati mereka agar tidak diulangi lagi dan menyuruh mereka untuk segera masuk kelas untuk mengikuti pelajaran.

Dalam mengerjakan tugas para siswa akan cenderung santai-santai dan bercanda bila tidak diawasi oleh guru. Ada juga yang tidak mengerjakan tugas karena hanya mengandalkan temannya yang pintar saja ada juga yang senang mengganggu temannya sehingga suasananya sedikit ribut. Jika dalam pengerjaan tugas ada guru yang mengawasi maka siswa akan berkerja dengan baik dan tertip namun ada beberapa siswa yang merasa gelisah dan bosan.

Kegiatan diluar kelas

Pada saat usai pelajaran atau tidak ada kegiatan belajar mengajar, semua siswa melakukan kegiatan diluar kelas. Ada yang berbelanja di kantin, ke perpustakaan, ada yang duduk berkelompok sambil bercakap-cakap, dan ada yang bermain di halaman sekolah. Dari pengamatan yang penulis lakukan tidak ada prilaku ekstrim yang terjadi pada siswa hanya  saja ada beberapa anak yang menggaggu temannya namun tidak sampai menimbulkan masalah.

Hubungan siswa-siswa , siswa-guru, cukup baik karena mereka saling menghormati satu sama lain. Ini terlihat dari kebersamaan mereka ke kantin dengan diselingi senda gurau tanpa ada permusuhan, ada yang ngerumpi, ada juga yang bercakap-cakap  sambil membicarakan pelajaran yang tadi mereka peroleh. Begitu juga dengan hubungan antara anak/siswa dengan guru mereka. Diwaktu jam istirahat dan tidak ada kegiatan belajar-mengajar mereka biasa bertegur sapa bahkan diselingi dengan gurauan ataupun sekedar bertanya.

Perilaku siswa di luar kelas pada saat usai pelajaran dan saat tidak ada kegiatan belajar- mengajar sudah memanfaatkan  waktu istirahat sekolah secara efesien dan efektif. Mereka memanfaatkan waktu istirahat dengan berbelanja ke kantin, pergi ke perpustakaan atau kegiatan lainnya. Karena mereka hanya diberikan istirahat dengan waktu yang hanya 15 menit. Sehingga mereka harus memanfaatkan waktu dengan baik.

Untuk penanganan Perilaku anak bermasalah didalam dan di luar kelas. Dapat dilakukan dengan memberikan bimbingan dan nasehat secara umum di kelas tersebut karena selain siswa yang bermasalah diharapkan sadar dan mengerti, siswa yang lainnya juga agar tidak mengikuti tindakan bermasalah tersebut. Ataupun dengan memberi bimbingan dan konselling secar individual oleh guru kelas mereka. Dalam menangani masalah pertama tama dilakuak oleh guru kelas mereka, jika anak yang bermasalah tersebut tidak dapat di selesaikan atau ditangani akan diserahkan kepada kepala sekolah yang akan dilanjutkan  ke orang tua siswa yang bermasalah.

Usaha sekolah untuk memotivasi siswa untuk belajar dan pengembangan karir yaitu dilakukan melalui pemberian beasiswa bagi siswa yang berprestasi. Ataupun memberikan bimbingan nasehat dan contoh-contoh nyata yang dapat meningkatkan motivasi anak dalam belajar dan pengembangan karir, serta juga dapat diberikan saat  melakukan selingan dalam pemberian mata pelajaran.

Dalam menjaga hubungan sekolah dengan orang tua siswa yaitu dengan cara mengundang orang tua siswa untuk mengembil raport. Atau pun mengadakan rapat orang tua siswa setiap ada masalah yang memerlukan persetujuan orang tua siswa. Hal tersebut sangat bermanfaat  karena tanggung jawab siswa tidak semata-mata menjadi tanggung jawab sekolah tetapi tanggung jawab bersama  sehingga hubungan tersebut harus selalu dipelihara. Namun kegiatan-kegiatan lain yang telah dilaksanakan demi menjalin hubungan yang baik antara orang tua murid dengan sekolah yaitu dengan adanya rapat komite sekolah yang di anggotai oleh orang tua murid dengan kepala sekolah dan beberapa guru terkait dan dilaksanakan sekali setiap tahun di sekolah. Bagi orang tua yang anaknya bermasalah dan dipenggil untuk datang kesekolah saat menemui guru wali kelas dan kepala sekolah dalam kesempatan itu terjalin kerjasama untuk bersama-sama membina anaknya secara itensif karena pendidikan anak tidak semata-mata menjadi tanggung jawab sekolah melainkan menjadi tanggung jawab orang tua atau keluarga, guru  sebagai orangtua di sekolah, dan lingkungan masyarakat.

Persiapan dan Pelaksanaan PBM yang Berlangsung Sehari-Hari

3.7.1    Iformasi Umum

Identitas guru sebagai nara sumber selama mengikuti kegiatan orientasi di SD Negeri 3 Pohsanten adalah :

-     Guru Model.

I.   a.  Nama                            : Suwito

b.  Mata Pelajaran             : IPA

c.  Materi Yang Diajar      : Organ tubuh manusia

d.  Kelas                            : V

e   Waktu                           : 2 x 40 menit

 

II.  a.  Nama                            : I Ketut Renen.

b.  Mata Pelajaran             : IPS

c.  Materi Yang Diajar      : Perjuangan kemerdekaan

d.  Kelas                            : VI

e   Waktu                           : 2 x 40 menit

 

III. a.  Nama                           : Sutrisno, S.Pd.

b.  Mata Pelajaran             : Matematika.

c.  Materi Yang Diajar      : Bilangan ratus ribuan

d.  Kelas                            : IV

e   Waktu                           : 2 x 40 menit

 

3.7.2    Perencenaan Pembelajaran

Dalam kaitannya dengan menyusun perencanaan pengajaran, penulis melakukan wawancara dengan beberapa narasumber untuk mengetahui cara-cara atau aturan-aturan dalam membuat perencanaan pembelajaran.

Dalam menganalisis meteri pelajaran atau mengembangkan materi nara sumber melakukannya dengan cara menganalisis materi yang sesuai dengan daya serap siswa, tuntutan kurikulum serta materi yang relevan yaitu mengacu pada buku sumber seperti buu paket ataupun buku penunjang lain yag relevan. Analisis ini dimulai dari perumusan tujuan, pemilihan metode dan pendekatan yang disesuaikan dengan kurikulum yang ada dan materi yang disajikan serta keadaan siswa dan guru bersangkutan untuk berkreasi..

Menyusun Program Tahunan, Semesteran, dan harian. Cara menyusun program tahunan, semesteran, dan harian nara sumber menysesuaikan dengan kalender pendidikan kurikulum yang berlaku dengan banyaknya materi yang diberikan, sehingga dalam menyusun program tahunan, semesteran dan harian dapat terlaksana atau berjalan dengan baik sehingga sesuai dengan apa yang telah di programkan sebelumnya dengan alokasi waktu yang efektif.

Dalam Menyusun silabus. Cara-cara yang dapat dilakukan dalam penyusunan sebuah silabus menuru nara sumber  dan buku Bahan Diskusi Pelatihan Guru Pemandu KTSP Tematik dapat melalui langkah-langkah yaitu : Yang pertama–tama harus dilakukan dalam mengembangkan silabus, adalah upaya pemahaman kompetensi–kompetensi yang diharapkan terjadi setelah berlangsungnya proses pembelajaran.  Pemahaman yang menyeluruh terhadap kompetensi ditunjukkan oleh rumusan indikator/penciri bagi kompetensi terkait. Setelah terjadi pemahaman yang komprehensif terhadap kompetensi dasar–kompetensi dasar, dalam pengembangan silabus, kompetensi–kompetensi dasar tersebut dipetakan untuk mampu merancang/mengembangkan suatu tema pembelajaran. Yang dimaksudkan sebagai jaringan tema adalah hubungan/keterkaitan antara tema dengan standar kompetensi, kompeteni dasar serta indikator–indikator. Pengembangan jaringan tema selanjutnya dikaitkan dengan alokasi waktu pembelajaran. Standar Kompetensi, kompetensi dasar, indikator–indikator berserta tema, yang terkait dalam sebuah jaringan tema adalah dasar dari penyusunan sebuah silabus. Tahapan penyusunan silabus ialah terdiri dari sekurang–kurangnya standar kompetensi, kompetensi dasar, tema, indikator, kegiatan pembelajaran, sumber/bahan/alat, dan penilaian.

Nara sumber menyusun silabus seperti tersebut di atas karena Menyusun silabus adalah kewajiban seorang guru dan menjadi ketentuan setiap semester. Dengan menyusun silabus akan memudahkan guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan lancar.

Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu atau kelompok mata pelajaran/tema yang mencakup komponen–komponen standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar. Pada dasarnya silabus direncanakan untuk menjawab pertanyaan–pertanyaan berikut.

a.   Kompetensi apa saja yang harus dicapai siswa sesuai standar kompetensi dan kompetensi dasar?

b.  Materi pokok/pembelajaran apa saja yang perlu dibahas atau dipelajari peserta didik untuk mencapai kompetensi–kompetensi itu?

c.   Indikator–indikator apa saja yang harus dirumuskan untuk mengetahui ketercapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar?

d.  Kegiatan pembelajaran apa saja yang harus diskenariokan sehingga peserta didik mampu berinteraksi dengan sumber–sumber belajar?

e.   Bagaimanakah cara mengetahui ketercapaian kompetensi berdasarkan indikator sebagai acuan dalam menentukan jenis dan aspek yang akan dinilai?

f.   Berapa lama waktu yang diperlukan untuk mencapai standar kompetensi dan kompetensi tertentu yang ditetapkan?

g.  Sumber belajar apa saja yang dapat diberdayakan untuk mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar yang ditentukan?

Silabus berfungsi sebagai pedoman perencanaan kegiatan pembelajaran riil yang secara detail dituangkan dalam salah satu komponen kurikulum yang disebut rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Secara singkat dapat dikatakan bahwa silabus adalah pedoman penyusunan RPP.

Penulis telah berusaha ikut berlatih atau terlibat dalam menyusun silabus dan hasil latihan tersebut (terlampir).

3.7.3    Pelaksanaan Pembelajaran

1.      Membuka pelajaran.

Setrategi yang digunakan yang gunakan untuk membuka pelajaran. Penulis rasa sudah cukup baik yang dimana pada awal tatapmuka guru melakukan absen siswa, kemudian memberi pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang sudah diajarkan. Sehingga siswa tidak terlalu tegang dan dapat berkosentrasi pada pelajaran inti.

Waktu yang disediakan untuk membuka  pelajar sudah relevan dengan kisaran waktu 10 sampai 15 menit. Sehingga waktu yang disediakan akan dapat dimanfaatkan dengan seefesien mungkin untuk menghindari akan terjadi pelajaran yang menunggak pada akhir  pelajaran. dan setrateginya juga sesuai dengan meteri pelajaran yang akan diajarkan Sehingga kegiatan belajar mengajar dapat terlaksana tepat dengan waktunya dan lancar.

Dalam pelaksanaan belajar mengajar guru cukup sering menggunakan alat peraga. Pengunaan alat peraga tersebut juga harus sesuai dengan materi yang di berikan untuk siswa. Keguanaan alat peraga tersebut sangat membantu guru untuk menjelaskan materi yang sulit untuk dipahami oleh siswa karena alat tersebut akan memberikan whujud yang nyata pada siswa. Sehingga siswa mudah menangkap pelajaran yang berikan. Seperti alat peraga tubuh manusia, tulang manusia, alat-alat indra dan lainnya. Selain alat-alat tersebut guru juga sering menggunakan lingkungan sekitar sekolah sebagai alat peraga maupun contoh bagi siswa.

Cara yang digunakan guru untuk menyatakan peralihan dari pembukaan menuju pelajaran inti penulis rasakan sudah cukup bagus. Karena guru menggunakan cara memberikan pertanyaan yang memancing dan menggarah pada pokok bahasan materi. Cara tersebut akan membuat siswa untuk mudah mengikuti alur pelajaran yang akan di bahas dan siswa pun akan mudah mengerti maupun memperhatikan pelajaran yang diberikan.

2.      Inti Pelajaran

I.        Cara yang digunakan guru dalam melaksanakan program pengajaran adalah sebagai berikut:

1.      Dilihat dari kesesuaian perencanaan dengan pelaksanaan pengajaran, berdasarkan atas pengamatan penulis, dalam peroses belajar mengajar guru sudah melaksanakan pengajaran yang sesuai dengan rencana pengajaran, dimana sebelum guru masuk kedalam kelas untuk mengajar terlebih dahulu guru tersebut harus  sudah membuat Rencana Pengajaran. Untuk keperluan pelaksanaan pembelajaran, seorang pendidik perlu merancang lebih rinci program pembelajaran yang dikembangkan dalam silabus. Rencana pelaksanaan pembelajaran merupakan wujud riilnya rancangan kegiatan belajar mengajar yang telah ditetapkan pada saat mengembangkan silabus. Namun ada juga guru yang mengajar tidak sesuai dengan perencanaan pengajaran,  hal tersebut karena disebabkan oleh situasi dan kondisi yang ada dikelas tidak sesuai dengan rencana pengajaran.

2.      Dalam penyampaian materi bahan ajar, guru lebih sering memakai metode demontrasi atau pun memberikan panjelasan  terlebih dahulu. Setelah para siswa sudah mengerti dan memahami materi pelajaran yang disampaikan selanjutnya guru tersebut memakai metode tanya jawab, diskusi dan dengan sesekali memberikan soal kemudian beberapa siswa disuruh untuk mengerjakannya di papan atau-pun menjalaskan di depan kelas. Sehingga dari metode tersebut dapat membuktikan tingkat pemahaman siswa atas materi yang diberikan. Selain itu juga materi bahan ajarpun sudah dapat disampaikan kepada siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran umum dan tujuan pembelajaran khusus yang sebelumnya telah ditetapkan.

3.      Dalam Pengelolaan kelas yang dilakukan oleh guru dalam proses belajar mengajar dilakukan secara klasikal dan dengan metode demontrasi. Guru menjelaskan terlebih dahulu mengenai materi pelajaran yang disampaikan. Kemudian bertanya kepada siswa, apakah ada hal yang belum jelas atau tidak dimengerti, baru akhirnya mengajukan pertanyaan dan memberikan soal kepada anak didik untuk dikerjakan dan ada diantara mereka yang mengerjakan soal tersebut di papan tulis.

4.      Usaha dan cara mengaktifkan siswa dalam pembelajaran dapat dilakukan oleh guru dengan cara mengajukan pertanyaan yang cukup sulit pada siswa sehingga siswa terpacu untuk berpikir dan mencari jawabannya, dengan memberikan soal dan menyuruh mereka untuk mengerjakan  soal tersebut di papan.

5.      Cara/strategi dalam menangani anak yang mengalami kesulitan belajar dapat dilakukan dengan mendekati dan soal-soal yang belum dimengerti siswa serta memberikan pemecahannya. Sehingga siswa yang tadinya tidak mengerti dan mengalami kesulitan dalam belajar menjadi lebih mengerti dan mudah dalam belajar belajar serta dengan memberikan cara/langkah-langkah  yang baik dalam belajar. Dan jika ada temannya yang lebih mengerti  dapat ditanyakan pada temannya itu.

6.      Cara memberikan balikan dan menghadapi pertanyaan anak adalah pertama dengan melempar pertanyaan tersebut kepada para siswa dan memeberi kesempatan untuk mencari jawaban di buku, tapi jika mereka juga tidak ada yang bisa menanggapi maka guru yang harus memberi jawaban atas pertanyaan yang sedang dibahas. Namun terkadang pertanyaa yang dibahas ditugaskan sebagai pekerjaan rumah (PR) untuk dijawab kemudian dibahas pada pertemuan berikutnya.

7.      Kiat-kiat khusus guru dalam membuat suasana belajar yang kondusif yaitu dngan cara mengkaitkan materi yang diberikan kepada siswa dengan kehidupan sehari-hari terutamanya dalam penerapannya. Sehingga para siswa menjadi antusias dalam mempelajari materi terseebut. Cara lain yaitu guru menyuruh siswa-siswa untuk mengerjakan soal-soal yang dibuku kemudian guru akan memanggil beberapa siswa untuk mengerjakan soal-soal tersebut dipapan. Guru juga dapat membuat suasana belajar yang kondusif dengan cara memberikan motivasi kepada siswa dengan memberikan tambahan nilai pada siswa yang bisa mengerjakan soal yang sebelumnya sudah ditugaskan dipapan.

8.      Cara guru dalam melaksanakan program pengajaran dilihat dari pengembangan bahan ajar yaitu sebagian besar guru selalu melakukan pengembangan bahan ajar yang ditanganinya tetapai tidak melawati batas-batas. Contohnya pada pelajaran listrik dibidang studi fisika. Materi kelistrikan ini akan dikembangkan terutama dalam penerapannya dikehidupan sehari-hari namun masih pada batas-batas tertentu disesuaikan dengan kemampuan siswa, misalnya meteri yang diberikan hanya sebatas rangkain seri dan paralel. Jadi ini membuktikan dalam pengembangan bahan ajar guru tersebut tidak lewat dari apa yang telah ditetapkan dalam silabus. Guru mengajar sudah sesuai dengan silabus dan tentang alat bentu mengajar, guru sudah memanfaatkan sarana tersebut dengan baik agar proses belajar mengajar berjalan lancar. Contohnya proses belajar mengajar menggunakan alat bantu OHP, melaksanakan praktikum dengan menggunakan alat-alat yang telah tersedia di Lab.

9.      Cara guru dalam melaksanakan program pengajaran dilihat dari pemanfaatan waktu sudah dapat terlaksana dengan baik. Secara umum program-program pengajaran direncanakan sudah dapat terlaksana tepat waktunya yaitu dengan cara memanfaatkan waktu semaksimal mungkin agar materi yang diajarkan dapat disampaikan kepada siswa tepat pada waktunyadan sesuai dengan rencana pengajaran.

10.  Cara guru dalam melaksanakan program pengajaran jika dilihat dari ketepatan antara apa yang diprogramkan dengan apa yang dilaksanakan sudah cukup baik. Disini guru harus pintar-pintar dalam membuat program pengajaran dengan memilah-milah waktu yang tepat agar apa yang diprogramkan dapat terlaksana dengan baik.

3.7.4    Menutup Pelajaran

1.          Cara guru dalam menutup pelajaran dilihat dari

-          Strategi yang digunakan. Strategi yang digunakan oleh guru dalam menutup pelajaran yaitu guru biasanya menanyakan kepada siswa apakah mereka sudah mengerti atau belum, jika mereka belum mengerti guru akan memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya kemudian guru mencoba menjelaskan kembali disesuaikan dengan waktu yang tersisa.

-          Alat evaluasi/penilaian yang dilakukan. Alat evaluasi / penilaian yang digunakan guru dalam menutup pelajaran yaitu dengan membuat soal atau mengambil soal latihan di buku paket yang sesuai dengan materi untuk mengukur kemampuan siswa tentang pemahaman mereka pada materi yang sudah dijelaskan sebelumnya.

-          Efisiensi waktu. Dalam menutup pelajaran umumnya waktu yang digunakan guru cukup efisien. Sebagian besar guru sudah menyelesaikan kegiatan belajar mengajar 3-5 menit sebelum bel pergantian atau bel istirahat berbunyi.

-          Keberhasilan siswa dalam memahami materi yang diajarkan. Guru melihat keberhasilan siswa dalam memahami materi yang disajikan dari jawaban-jawaban dari soal-soal yang diberikan. Bila sebagian besar siswa dapat mengerjakan soal dengan baik berarti materi yang disampaikan sudah dipahami oleh sebagian besar siswa segingga sudah berani dikatakan tuntas.

2.          Guru jarang melakukan revisi/memodifikasi silabus yang telah dibuat setelah pelaksanaan pembelajaran karena umumnya apa yang sudah tertera/direncanakan di dalam silabus sudah dapat dilaksanakan dengan baik, kalaupun sesekali dilakukan revisi itu disesuaikan dengan kurikulum yang berlaku, kemampuan siswa serta bagaimana proses belajar mengajar berlangsung dan materi yang disampaikan.

3.          Kesan umum penulis terhadap kegiatan belajar mengajar yang penulis amati yaitu sangat baik karena dalam pelaksanaan proses belajar mengajar dalam membuka pelajaran, kegiatan inti, dan menutup pelajaran oleh guru sudah dilaksanakan dengan baik dan sesuai dengan rencana pengajaran dan silabus. Guru sudah dapat memaparkan materi-materi yang diajarkan dengan baik dari membuka, inti dan penutup pelajaran serta didukung dengan fasilitas-fasilita penunjang sehingga siswa menjadi cepat mengerti. Sikap yang ditunjukan siswa juga sudah baik. Hal ini terlihat dari sikap mereka yang antusias dalam menghadapi pelajaran. Mereka sudah bisa menunjukan pemahaman terhadap materi yang diberikan yang ditunjukan dengan keberhasilan mereka dalam mengerjakan tugas secara individual, maupun secara kelompok. Yang membuat penulis kagum yaitu saat siswa berebut untuk mengerjakan soal di papan, itu sudah menunjukan antusias mereka dalam pemahaman materi dan telah memperlihatkan proses belajar mengajar yang berlangsung kondusif.

 

BAB IV

PENUTUP

4.1 Simpulan

Berdasarkan atas tujuan, permasalahan, temuan di lapangan, data-data dan wawancara yang dilakukan penulis  maka dapat disimpulkan bahwa SD Negeri 3 Pohsanten :

1.      Unsur fisik dan nonfisik SD Negeri 3 Pohsanten pada  umumnya sudah baik, memadai dan namun ada fasilitas yang belum dapat cukupmemadai.

2.      Berdasarkan sikap dan pola tingkah laku siswa SD Negeri 3 Pohsanten secara umum sudah baik dengan adanya tata tertib untuk guru, pegawai, dan siswa. Hubungan antar warga sekolah yang sangat baik, kultur kehidupan sekolah yang kondusif, kegiatan di dalam kelas juga sudah dapat terlaksana dengan baik, dari membuka dan menutup pelajaran, interaksi belajar mengajar dan pengelolaan kelas. perilaku siswa di luar kelas juga sudah dapat menunjukkan perilaku yang cukup baik.

3.      Dalam Proses Belajar Mengajar (PBM) sudah berjalan cukup baik. Baik dari pihak guru maupun siswa. Guru sudah dapat membuat perencanaan pembelajaran dan silabus dengan baik sehingga apa yang direncanakan sudah dapat dilaksanakan dengan baik. Pelaksanaan pembelajaran juga berlangsung dengan baik. Guru sudah dapat menyampaikan materi dengan baik sehingga siswa cepat memahami mengenai materi yang disampaikan baik dari saat pembukaan pelajaran, kegiatan inti, dan menutup pelajaran.

4.      Dengan jumlah tenaga pengajar yang cukup memadai dan dengn jumlah siswa yang tidak terlau banyak, sehingga  dalam kegiatan belajar yang  terjadi di SD Negeri 3 Pohsanten para siswa mendapat perhatian yang intensip dari guru mereka dan kegiatan belajar mengajar pun dan kegiatan belajar mengajar pun dapat berjalan dengan lancar.

 

 

 

4.2 Tindak Lanjut

Berdasarkan hasil observasi  dan data-data yang penulis peroleh  selama PPL- Awal di SD Negeri 3 Pohsanten,  maka penulis dapat mengemukakan beberapa hal yang perlu di tindak lanjutti adalah sebagai berikut:

1.       Segala hal positif yang telah dimiliki oleh SD Negeri 3 Pohsanten agar tetap dipertahankan dan ditingkatkan. Seperti kedisiplinan dilingkungan SD Negeri 3 Pohsanten agar dipertahankan dan lebih ditingkatkan baik kedisiplinan guru, pagawai maupun siswa.

2.      Perpustakaan di sekolah belum sesuai dengan tujuan perpustakaan yang baik. Untuk itu perlu ditingkatkan. Agar dapat membantu kegiatan belajar mengajar. Dengan melakukan menambah jumlah buku yang tersedia sehingga cukup untuk memenuhi keperluan siswa.

3.      Dalam pemanfaatan sarana dan prasarana/fasilitas yang telah tersedia agar dapat digunakan dengan baik atau maxsimal dan ditingkatkan keberadaanya. Mungkin dengan cara menambah ruang praktek/lab sehingga jika siswa mengadakan praktek, maka siswa harus melakukannya di kelas, ini mengakibatkan hasil yang dicapai tidak optimal.

4.      Cara mengajar guru agar dipertahankan dan lebih ditingkatkan sehingga dapat menciptakan Proses Belajar Mengajar (PBM) yang kondusif. Dan prestasi yang telah diperoleh siswa, guru maupun sekolah agar dapat tetap dipertahankan kalau perlu ditingkatkan, Baik dibidang akademik amapuan nonakademik. Para siswa hendaknya meningkatkan cara belajar agar menjadi lebih baik. Untuk meningkatkan kreativitas proses belajar mengajar.

 

DAFTAR PUSTAKA

Sarna, Ketut dkk. 2005. Buku Petunjuk Pelaksanaan Program Pengalaman Lapangan (PPL). LPPL IKIP Negeri Singaraja (tidak diterbitkan).

Bahan Diskusi Pelatihan Guru Pemandu KTSP Tematik , Denpasar 17 s/d 21 Juli 2007.

Sarna, Ketut. 2005. Petunjuk Praktis PPL-Awal IKIP Negeri Singaraja. LPPL IKIP Negeri Singaraja (tidak diterbitkan).

 

Untuk lebih lengkapnyadan jelas silahkan download di sini

 


Pendekatan dan metode pendekatan kurikulum.


Pendekatan dan metode pendekatan kurikulum.

Pengembangan kurikulum dapat dilakukan melalui dua pendekatan yaitu : (1) pendekatan top-down the administrative model dan (2) the grass root model.

1. The administrative model

Model ini merupakan model pengembangan kurikulum yang paling lama dan paling banyak digunakan. Gagasan pengembangan kurikulum datang dari para administrator pendidikan dan menggunakan prosedur administrasi. Dengan wewenang administrasinya, membentuk suatu Komisi atau Tim Pengarah pengembangan kurikulum. Anggotanya, terdiri dari pejabat di bawahnya, para ahli pendidikan, ahli kurikulum, ahli disiplin ilmu, dan para tokoh dari dunia kerja dan perusahaan. Tugas tim ini adalah merumuskan konsep-konsep dasar, landasan-landasan, kebijaksanaan dan strategi utama dalam pengembangan kurikulum. Selanjutnya administrator membentuk Tim Kerja terdiri dari para ahli pendidikan, ahli kurikulum, ahli disiplin ilmu dari perguruan tinggi, dan guru-guru senior, yang bertugas menyusun kurikulum yang sesungguhnya yang lebih operasional menjabarkan konsep-konsep dan kebijakan dasar yang telah digariskan oleh Tim pengarah, seperti merumuskan tujuan-tujuan yang lebih operasional, memilih sekuens materi, memilih strategi pembelajaran dan evaluasi, serta menyusun pedoman-pedoman pelaksanaan kurikulum bagi guru-guru. Setelah Tim Kerja selesai melaksanakan tugasnya, hasilnya dikaji ulang oleh Tim Pengarah serta para ahli lain yang berwenang atau pejabat yang kompeten.

Setelah mendapatkan beberapa penyempurnaan dan dinilai telah cukup baik, administrator pemberi tugas menetapkan berlakunya kurikulum tersebut. Karena datangnya dari atas, maka model ini disebut juga model Top – Down. Dalam pelaksanaannya, diperlukan monitoring, pengawasan dan bimbingan. Setelah berjalan beberapa saat perlu dilakukan evaluasi.

 

2. The grass root model

Model pengembangan ini merupakan lawan dari model pertama. Inisiatif dan upaya pengembangan kurikulum, bukan datang dari atas tetapi dari bawah, yaitu guru-guru atau sekolah. Model pengembangan kurikulum yang pertama, digunakan dalam sistem pengelolaan pendidikan/kurikulum yang bersifat sentralisasi, sedangkan model grass roots akan berkembang dalam sistem pendidikan yang bersifat desentralisasi. Dalam model pengembangan yang bersifat grass roots seorang guru, sekelompok guru atau keseluruhan guru di suatu sekolah mengadakan upaya pengembangan kurikulum. Pengembangan atau penyempurnaan ini dapat berkenaan dengan suatu komponen kurikulum, satu atau beberapa bidang studi ataupun seluruh bidang studi dan seluruh komponen kurikulum. Apabila kondisinya telah memungkinkan, baik dilihat dari kemampuan guru-guru, fasilitas biaya maupun bahan-bahan kepustakaan, pengembangan kurikulum model grass root tampaknya akan lebih baik.

Hal itu didasarkan atas pertimbangan bahwa guru adalah perencana, pelaksana, dan juga penyempurna dari pengajaran di kelasnya. Dialah yang paling tahu kebutuhan kelasnya, oleh karena itu dialah yang paling kompeten menyusun kurikulum bagi kelasnya.

Pengembangan kurikulum yang bersifat grass roots, mungkin hanya berlaku untuk bidang studi tertentu atau sekolah tertentu, tetapi mungkin pula dapat digunakan untuk seluruh bidang studi pada sekolah atau daerah lain. Pengembangan kurikulum yang bersifat desentralistik dengan model grass rootsnya, memungkinkan terjadinya kompetisi dalam meningkatkan mutu dan sistem pendidikan, yang pada gilirannya akan melahirkan manusia-manusia yang lebih mandiri dan kreatif.

Terkait dengan pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, tampaknya lebih cenderung dilakukan dengan menggunakan pendekatan the grass-root model. Kendati demikian, agar pengembangan kurikulum dapat berjalan efektif tentunya harus ditopang oleh kesiapan sumber daya, terutama sumber daya manusia yang tersedia di sekolah.

Rangkuman

Pengembangan kurikulum adalah istilah yang komprehensif, didalamnya mencakup: perencanaan, penerapan dan evaluasi. Perencanaan kurikulum adalah langkah awal membangun kurikulum ketika pekerja kurikulum membuat keputusan dan mengambil tindakan untuk menghasilkan perencanaan yang akan digunakan oleh guru dan peserta didik. Penerapan Kurikulum atau biasa disebut juga implementasi kurikulum berusaha mentransfer perencanaan kurikulum ke dalam tindakan operasional. Evaluasi kurikulum merupakan tahap akhir dari pengembangan kurikulum untuk menentukan seberapa besar hasil-hasil pembelajaran, tingkat ketercapaian program-program yang telah direncanakan, dan hasil-hasil kurikulum itu sendiri. Dalam pengembangan kurikulum, tidak hanya melibatkan orang yang terkait langsung dengan dunia pendidikan saja, namun di dalamnya melibatkan banyak orang, seperti : politikus, pengusaha, orang tua peserta didik, serta unsur – unsur masyarakat lainnya yang merasa berkepentingan dengan pendidikan.Prinsip-prinsip yang akan digunakan dalam kegiatan pengembangan kurikulum pada dasarnya merupakan kaidah-kaidah atau hukum yang akan menjiwai suatu kurikulum. Dalam pengembangan kurikulum, dapat menggunakan prinsip-prinsip yang telah berkembang dalam kehidupan sehari-hari atau justru menciptakan sendiri prinsip-prinsip baru. Oleh karena itu, dalam implementasi kurikulum di suatu lembaga pendidikan sangat mungkin terjadi penggunaan prinsip-prinsip yang berbeda dengan kurikulum yang digunakan di lembaga pendidikan lainnya, sehingga akan ditemukan banyak sekali prinsip-prinsip yang digunakan dalam suatu pengembangan kurikulum. Dalam hal ini, Nana Syaodih Sukmadinata (1997) mengetengahkan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum yang dibagi ke dalam dua kelompok : (1) prinsip – prinsip umum : relevansi, fleksibilitas, kontinuitas, praktis, dan efektivitas; (2) prinsip-prinsip khusus : prinsip berkenaan dengan tujuan pendidikan, prinsip berkenaan dengan pemilihan isi pendidikan, prinsip berkenaan dengan pemilihan proses belajar mengajar, prinsip berkenaan dengan pemilihan media dan alat pelajaran, dan prinsip berkenaan dengan pemilihan kegiatan penilaian. Sedangkan Asep Herry Hernawan dkk (2002) mengemukakan lima prinsip dalam pengembangan kurikulum, yaitu :

  1. Prinsip relevansi; secara internal bahwa kurikulum memiliki relevansi di antara komponen-komponen kurikulum (tujuan, bahan, strategi, organisasi dan evaluasi). Sedangkan secara eksternal bahwa komponen-komponen tersebutmemiliki relevansi dengan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi (relevansi epistomologis), tuntutan dan potensi peserta didik (relevansi psikologis) serta tuntutan dan kebutuhan perkembangan masyarakat (relevansi sosilogis).
  2. Prinsip fleksibilitas; dalam pengembangan kurikulum mengusahakan agar yang dihasilkan memiliki sifat luwes, lentur dan fleksibel dalam pelaksanaannya, memungkinkan terjadinya penyesuaian-penyesuaian berdasarkan situasi dan kondisi tempat dan waktu yang selalu berkembang, serta kemampuan dan latar bekang peserta didik.
  3. Prinsip kontinuitas; yakni adanya kesinambungandalam kurikulum, baik secara vertikal, maupun secara horizontal. Pengalaman-pengalaman belajar yang disediakan kurikulum harus memperhatikan kesinambungan, baik yang di dalam tingkat kelas, antar jenjang pendidikan, maupun antara jenjang pendidikan dengan jenis pekerjaan.
  4. Prinsip efisiensi; yakni mengusahakan agar dalam pengembangan kurikulum dapat mendayagunakan waktu, biaya, dan sumber-sumber lain yang ada secara optimal, cermat dan tepat sehingga hasilnya memadai.
  5. Prinsip efektivitas; yakni mengusahakan agar kegiatan pengembangan kurikulum mencapai tujuan tanpa kegiatan yang mubazir, baik secara kualitas maupun kuantitas.

Landasan Pengembangan kurikulum


Landasan Pengembangan kurikulum

Pengembangan kurikulum adalah istilah yang komprehensif, didalamnya mencakup: perencanaan, penerapan dan evaluasi. Perencanaan kurikulum adalah langkah awal membangun kurikulum ketika pekerja kurikulum membuat keputusan dan mengambil tindakan untuk menghasilkan perencanaan yang akan digunakan oleh guru dan peserta didik. Penerapan Kurikulum atau biasa disebut juga implementasi kurikulum berusaha mentransfer perencanaan kurikulum ke dalam tindakan operasional. Evaluasi kurikulum merupakan tahap akhir dari pengembangan kurikulum untuk menentukan seberapa besar hasil-hasil pembelajaran, tingkat ketercapaian program-program yang telah direncanakan, dan hasil-hasil kurikulum itu sendiri. Dalam pengembangan kurikulum, tidak hanya melibatkan orang yang terkait langsung dengan dunia pendidikan saja, namun di dalamnya melibatkan banyak orang, seperti : politikus, pengusaha, orang tua peserta didik, serta unsur – unsur masyarakat lainnya yang merasa berkepentingan dengan pendidikan.

Prinsip-prinsip yang akan digunakan dalam kegiatan pengembangan kurikulum pada dasarnya merupakan kaidah-kaidah atau hukum yang akan menjiwai suatu kurikulum. Dalam pengembangan kurikulum, dapat menggunakan prinsip-prinsip yang telah berkembang dalam kehidupan sehari-hari atau justru menciptakan sendiri prinsip-prinsip baru. Oleh karena itu, dalam implementasi kurikulum di suatu lembaga pendidikan sangat mungkin terjadi penggunaan prinsip-prinsip yang berbeda dengan kurikulum yang digunakan di lembaga pendidikan lainnya, sehingga akan ditemukan banyak sekali prinsip-prinsip yang digunakan dalam suatu pengembangan kurikulum. Dalam hal ini, Nana Syaodih Sukmadinata (1997) mengetengahkan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum yang dibagi ke dalam dua kelompok : (1) prinsip – prinsip umum : relevansi, fleksibilitas, kontinuitas, praktis, dan efektivitas; (2) prinsip-prinsip khusus : prinsip berkenaan dengan tujuan pendidikan, prinsip berkenaan dengan pemilihan isi pendidikan, prinsip berkenaan dengan pemilihan proses belajar mengajar, prinsip berkenaan dengan pemilihan media dan alat pelajaran, dan prinsip berkenaan dengan pemilihan kegiatan penilaian. Sedangkan Asep Herry Hernawan dkk (2002) mengemukakan lima prinsip dalam pengembangan kurikulum, yaitu :

  1. Prinsip relevansi; secara internal bahwa kurikulum memiliki relevansi di antara komponen-komponen kurikulum (tujuan, bahan, strategi, organisasi dan evaluasi). Sedangkan secara eksternal bahwa komponen-komponen tersebutmemiliki relevansi dengan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi (relevansi epistomologis), tuntutan dan potensi peserta didik (relevansi psikologis) serta tuntutan dan kebutuhan perkembangan masyarakat (relevansi sosilogis).
  2. Prinsip fleksibilitas; dalam pengembangan kurikulum mengusahakan agar yang dihasilkan memiliki sifat luwes, lentur dan fleksibel dalam pelaksanaannya, memungkinkan terjadinya penyesuaian-penyesuaian berdasarkan situasi dan kondisi tempat dan waktu yang selalu berkembang, serta kemampuan dan latar bekang peserta didik.
  3. Prinsip kontinuitas; yakni adanya kesinambungandalam kurikulum, baik secara vertikal, maupun secara horizontal. Pengalaman-pengalaman belajar yang disediakan kurikulum harus memperhatikan kesinambungan, baik yang di dalam tingkat kelas, antar jenjang pendidikan, maupun antara jenjang pendidikan dengan jenis pekerjaan.
  4. Prinsip efisiensi; yakni mengusahakan agar dalam pengembangan kurikulum dapat mendayagunakan waktu, biaya, dan sumber-sumber lain yang ada secara optimal, cermat dan tepat sehingga hasilnya memadai.
  5. Prinsip efektivitas; yakni mengusahakan agar kegiatan pengembangan kurikulum mencapai tujuan tanpa kegiatan yang mubazir, baik secara kualitas maupun kuantitas.

Terkait dengan pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, terdapat sejumlah prinsip-prinsip yang harus dipenuhi, yaitu :

  1. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya. Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut pengembangan kompetensi peserta didik disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik serta tuntutan lingkungan.
  2. Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman karakteristik peserta didik, kondisi daerah, dan jenjang serta jenis pendidikan, tanpa membedakan agama, suku, budaya dan adat istiadat, serta status sosial ekonomi dan gender. Kurikulum meliputi substansi komponen muatan wajib kurikulum, muatan lokal, dan pengembangan diri secara terpadu, serta disusun dalam keterkaitan dan kesinambungan yang bermakna dan tepat antarsubstansi.
  3. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan, teknologi dan seni berkembang secara dinamis, dan oleh karena itu semangat dan isi kurikulum mendorong peserta didik untuk mengikuti dan memanfaatkan secara tepat perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
  4. Relevan dengan kebutuhan kehidupan. Pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan kehidupan, termasuk di dalamnya kehidupan kemasyarakatan, dunia usaha dan dunia kerja. Oleh karena itu, pengembangan keterampilan pribadi, keterampilan berpikir, keterampilan sosial, keterampilan akademik, dan keterampilan vokasional merupakan keniscayaan.
  5. Menyeluruh dan berkesinambungan. Substansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi, bidang kajian keilmuan dan mata pelajaran yang direncanakan dan disajikan secara berkesinambungan antarsemua jenjang pendidikan.
  6. Belajar sepanjang hayat. Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Kurikulum mencerminkan keterkaitan antara unsur-unsur pendidikan formal, nonformal dan informal, dengan memperhatikan kondisi dan tuntutan lingkungan yang selalu berkembang serta arah pengembangan manusia seutuhnya.
  7. Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah. Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan nasional dan kepentingan daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kepentingan nasional dan kepentingan daerah harus saling mengisi dan memberdayakan sejalan dengan motto Bhineka Tunggal Ika dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pemenuhan prinsip-prinsip di atas itulah yang membedakan antara penerapan satu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dengan kurikulum sebelumnya, yang justru tampaknya sering kali terabaikan. Karena prinsip-prinsip itu boleh dikatakan sebagai ruh atau jiwanya kurikulum

Dalam mensikapi suatu perubahan kurikulum, banyak orang lebih terfokus hanya pada pemenuhan struktur kurikulum sebagai jasad dari kurikulum . Padahal jauh lebih penting adalah perubahan kutural (perilaku) guna memenuhi prinsip-prinsip khusus yang terkandung dalam pengembangan kurikulum.

Nana Syaodih Sukmadinata (1997) mengemukakan empat landasan utama dalam pengembangan kurikulum, yaitu: (1) filosofis; (2) psikologis; (3) sosial-budaya; dan (4) ilmu pengetahuan dan teknologi. Tapi sebelum uraian tentang landasan pengembangan kurikulum dari Nana Syaodih Sukmadinata kita lihat faktor-faktor pengembangan kurikulum .

1.      FILOSOFI merupakan konseptual dan ideal

2.      PSIKOLOGIS rencana belajar untuk pengalaman

3.      SOSIAL BUDAYA dalam hal ini masyarakat (siswa, keluarga, masyarakat umum) merupakan sesuatu yang nyata

4.      ILMU DAN TEKNOLOGI arahnya bahwa pendidikan tidak hanya untuk sekarang tetapi untuk masa depan

Menurut Hansiswany Kamarga dalam Landasan Dan Prinsip Pengembangan Kurikulum

Landasan Filosofis

Filsafat memegang peranan penting dalam pengembangan kuikulum. Sama halnya seperti dalam Filsafat Pendidikan, kita dikenalkan pada berbagai aliran filsafat, seperti : perenialisme, essensialisme, eksistesialisme, progresivisme, dan rekonstruktivisme. Dalam pengembangan kurikulum berlandaskan pada aliran-aliran filsafat tertentu, sehingga akan mewarnai terhadap konsep dan implementasi kurikulum yang dikembangkan.

Hubungan Antara Filsafat Dengan Filsafat Pendidikan

Donald Butler (1957), filsafat memberikan arah & metodologi terhadap praktek pendidikan; praktek pendidikan memberikan bahan bagi pertimbangan filsafat

  • Brubacher (1950), mengemukakan 4 pandangan tentang hubungan ini :
  • Filsafat merupakan dasar utama dalam filsafat pendidikan
  • Filsafat merupakan bunga, bukan akar pendidikan
  • Filsafat pendidikan berdiri sendiri sebagai disiplin yang mungkin memberi keuntungan dari kontak dengan filsafat, tetapi kontak tersebut tidak penting
  • Filsafat dan teori pendidikan menjadi satu
  • John Dewey, filsafat dan filsafat pendidikan adalah sama, seperti pendidikan sama dengan kehidupan

Dengan merujuk kepada pemikiran Ella Yulaelawati (2003), di bawah ini diuraikan tentang isi dari-dari masing-masing aliran filsafat, kaitannya dengan pengembangan kurikulum.

Perenialisme lebih menekankan pada keabadian, keidealan, kebenaran dan keindahan dari pada warisan budaya dan dampak sosial tertentu. Pengetahuan dianggap lebih penting dan kurang memperhatikan kegiatan sehari-hari. Pendidikan yang menganut faham ini menekankan pada kebenaran absolut , kebenaran universal yang tidak terikat pada tempat dan waktu. Aliran ini lebih berorientasi ke masa lalu.

Essensialisme menekankan pentingnya pewarisan budaya dan pemberian pengetahuan dan keterampilan pada peserta didik agar dapat menjadi anggota masyarakat yang berguna. Matematika, sains dan mata pelajaran lainnya dianggap sebagai dasar-dasar substansi kurikulum yang berharga untuk hidup di masyarakat. Sama halnya dengan perenialisme, essesialisme juga lebih berorientasi pada masa lalu.

Eksistensialisme menekankan pada individu sebagai sumber pengetahuan tentang hidup dan makna. Untuk memahami kehidupan seseorang mesti memahami dirinya sendiri. Aliran ini mempertanyakan : bagaimana saya hidup di dunia ? Apa pengalaman itu ?

Progresivisme menekankan pada pentingnya melayani perbedaan individual, berpusat pada peserta didik, variasi pengalaman belajar dan proses. Progresivisme merupakan landasan bagi pengembangan belajar peserta didik aktif.

Rekonstruktivisme merupakan elaborasi lanjut dari aliran progresivisme. Pada rekonstruktivisme, peradaban manusia masa depan sangat ditekankan. Di samping menekankan tentang perbedaan individual seperti pada progresivisme, rekonstruktivisme lebih jauh menekankan tentang pemecahan masalah, berfikir kritis dan sejenisnya. Aliran ini akan mempertanyakan untuk apa berfikir kritis, memecahkan masalah, dan melakukan sesuatu ? Penganut aliran ini menekankan pada hasil belajar dari pada proses.

Aliran Filsafat Perenialisme, Essensialisme, Eksistensialisme merupakan aliran filsafat yang mendasari terhadap pengembangan Model Kurikulum Subjek-Akademis. Sedangkan, filsafat progresivisme memberikan dasar bagi pengembangan Model Kurikulum Pendidikan Pribadi. Sementara, filsafat rekonstruktivisme banyak diterapkan dalam pengembangan Model Kurikulum Interaksional.

Masing-masing aliran filsafat pasti memiliki kelemahan dan keunggulan tersendiri. Oleh karena itu, dalam praktek pengembangan kurikulum, penerapan aliran filsafat cenderung dilakukan secara eklektif untuk lebih mengkompromikan dan mengakomodasikan berbagai kepentingan yang terkait dengan pendidikan.

Landasan Psikologis

Nana Syaodih Sukmadinata (1997) mengemukakan bahwa minimal terdapat dua bidang psikologi yang mendasari pengembangan kurikulum yaitu (1) psikologi perkembangan dan (2) psikologi belajar. Psikologi perkembangan merupakan ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu berkenaan dengan perkembangannya. Dalam psikologi perkembangan dikaji tentang hakekat perkembangan, pentahapan perkembangan, aspek-aspek perkembangan, tugas-tugas perkembangan individu, serta hal-hal lainnya yang berhubungan perkembangan individu, yang semuanya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dan mendasari pengembangan kurikulum. Psikologi belajar merupakan ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam konteks belajar. Psikologi belajar mengkaji tentang hakekat belajar dan teori-teori belajar, serta berbagai aspek perilaku individu lainnya dalam belajar, yang semuanya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan sekaligus mendasari pengembangan kurikulum.

Masih berkenaan dengan landasan psikologis, Ella Yulaelawati memaparkan teori-teori psikologi yang mendasari Kurikulum Berbasis Kompetensi. Dengan mengutip pemikiran Spencer, Ella Yulaelawati mengemukakan pengertian kompetensi bahwa kompetensi merupakan “karakteristik mendasar dari seseorang yang merupakan hubungan kausal dengan referensi kriteria yang efektif dan atau penampilan yang terbaik dalam pekerjaan pada suatu situasi“.

Selanjutnya, dikemukakan pula tentang 5 tipe kompetensi, yaitu :

  • motif; sesuatu yang dimiliki seseorang untuk berfikir secara konsisten atau keinginan untuk melakukan suatu aksi.
  • bawaan; yaitu karakteristik fisik yang merespons secara konsisten berbagai situasi atau informasi.
  • konsep diri; yaitu tingkah laku, nilai atau image seseorang;
  • pengetahuan; yaitu informasi khusus yang dimiliki seseorang; dan
  • keterampilan; yaitu kemampuan melakukan tugas secara fisik maupun mental.

Keterampilan dan pengetahuan cenderung lebih tampak pada permukaan ciri-ciri seseorang, sedangkan konsep diri, bawaan dan motif lebih tersembunyi dan lebih mendalam serta merupakan pusat kepribadian seseorang. Kompetensi permukaan (pengetahuan dan keterampilan) lebih mudah dikembangkan. Pelatihan merupakan hal tepat untuk menjamin kemampuan ini. Sebaliknya, kompetensi bawaan dan motif jauh lebih sulit untuk dikenali dan dikembangkan.

Landasan Sosial-Budaya

Kurikulum dapat dipandang sebagai suatu rancangan pendidikan. Sebagai suatu rancangan, kurikulum menentukan pelaksanaan dan hasil pendidikan. Kita maklumi bahwa pendidikan merupakan usaha mempersiapkan peserta didik untuk terjun ke lingkungan masyarakat. Pendidikan bukan hanya untuk pendidikan semata, namun memberikan bekal pengetahuan, keterampilan serta nilai-nilai untuk hidup, bekerja dan mencapai perkembangan lebih lanjut di masyarakat. Peserta didik berasal dari masyarakat, mendapatkan pendidikan baik formal maupun informal dalam lingkungan masyarakat dan diarahkan bagi kehidupan masyarakat pula. Kehidupan masyarakat, dengan segala karakteristik dan kekayaan budayanya menjadi landasan dan sekaligus acuan bagi pendidikan. Dengan pendidikan, kita mengharapkan melalui pendidikan dapat lebih mengerti dan mampu membangun kehidupan masyakatnya. Oleh karena itu, tujuan, isi, maupun proses pendidikan harus disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi, karakteristik, kekayaan dan perkembangan yang ada di masyakarakat. Karena setiap lingkungan masyarakat masing-masing memiliki sistem-sosial budaya tersendiri yang mengatur pola kehidupan dan pola hubungan antar anggota masyarakat. Salah satu aspek penting dalam sistem sosial budaya adalah tatanan nilai-nilai yang mengatur cara berkehidupan dan berperilaku para warga masyarakat. Nilai-nilai tersebut dapat bersumber dari agama, budaya, politik atau segi-segi kehidupan lainnya

Israel Scheffer (Nana Syaodih Sukamdinata, 1997) mengemukakan bahwa melalui pendidikan manusia mengenal peradaban masa lalu, turut serta dalam peradaban sekarang dan membuat peradaban masa yang akan datang.

Landasan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Pada awalnya, ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki manusia masih relatif sederhana, namun sejak abad pertengahan mengalami perkembangan yang pesat. Berbagai penemuan teori-teori baru terus berlangsung hingga saat ini dan dipastikan kedepannya akan terus semakin berkembang. Dalam abad pengetahuan sekarang ini, diperlukan masyarakat yang berpengetahuan dengan standar mutu yang tinggi. Sifat pengetahuan dan keterampilan yang harus dikuasai masyarakat sangat beragam dan canggih, sehingga diperlukan kurikulum yang disertai dengan kemampuan meta-kognisi dan kompetensi untuk berfikir dan belajar bagaimana belajar (learning to learn) dalam mengakses, memilih dan menilai pengetahuan, serta mengatasi siatuasi yang ambigu dan antisipatif terhadap ketidakpastian karena berbagai penemuan teknologi baru terus berkembang. Perkembangan dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, terutama dalam bidang transportasi dan komunikasi telah mampu merubah tatanan kehidupan manusia. Oleh karena itu, kurikulum seyogyanya arahnya bersifat tidak hanya untuk sekarang tetapi untuk masa depan dapat mengakomodir dan mengantisipasi laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga peserta didik dapat mengimbangi dan sekaligus mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kepentingan bersama, kepnetingan sendiri dan kelangsungan hidup manusia.


PERANAN GURU DALAM ADMINISTRASI SEKOLAH


PERANAN GURU DALAM ADMINISTRASI SEKOLAH

Guru merupakan salah satu komponen dalam sistem pendidikan yang memiliki peran yang sangat besar dalam pencapaian tujuan pendidikan. Peran guru bukanlah hanya sekedar menyampaikan ilmu pengetahuan kepada peserta didik. Namun jika dilihat secara luas dalam teori dan praksis pendidikan, guru juga berperan sebagai administrator pendidikan. Menurut Oteng Sutrisna (1986), (dalam Abin Syamsudin DAN Nandang Budiman, 2005 : 2.5), administrasi adalah suatu kegiatan atau usaha untuk membantu melayani, mengarahkan, atau mengatur semua kegiatan dalam mencapai suatu tujuan. Administrasi pendidikan adalah segenap proses pengerahan pendelegasian segala sesuatu baik personal, spiritual, maupun material yang bersangkuta paut dengan pencapaian tujuan pendidikan.

Jika seorang guru mampu melaksanakan segala tugasnya dalam pendidikan, dapat dikatakan guru tersebut mampu memenuhi tuntutan profesionalisme seorang guru. Profesionalisme yang dimaksud disini adalah sikap profesional. Orang yang profesional memiliki sikap-sikap yang berbeda dengan orang yang tidak profesional meskipun dalam pekerjaan yang sama atau berada dalam satu ruang kerja (Sudarwan Danim, 2002 : 23)

Berikut ini akan dijelaskan kegiatan administrasi pendidikan di sekolah menengah yang harus dipahami oleh seorang guru.

A.  Administrasi Kurikulum

Kurikulum dalam suatu sistem pendidikan merupakan komponen yang teramat penting. Dikatakan demikian karena kurikulum merupakan panutan dalam penyelenggaraan proses belajar -mengajar di sekolah. Kurikulum sekolah menengah merupakan seperangkat pengalaman belajar yang dirancang untuk siswa sekolah menengah dalam usaha mencapai tujuan pendidikan. Mengingat bahwa sekolah menengah merupakan lembaga pendidikan yang bertanggung jawab dalam memberikan kemampuan siswa untuk melanjutkan kejenjang pendidikan yang lebih tinggi, kurikulum ini harus dipahami secara intensif oleh semua personel, terutama oleh kepala sekolah dan guru.

Kurikulum dapat diartikan secara sempit atau luas. Dalam pengertian secara sempit kurikulum diartikan sebagai sejumlah mata pelajaran yang diberikan di sekolah, sedangkan dalam pengertian luas kurikulum adalah semua pengalaman belajar yang diberikan sekolah kepada siswa, selama mereka mengikuti pendidikan di sekolah itu. Undang-undang nomor 2 tahun 1989 mengartikan kurikulum sebagai seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar-mengajar.

Menurut Koyan (2007 : 4), semua kurikulum dirancang untuk membantu peserta didik memperoleh sejumlah kompetensi penting. Kurikulum dapat dipandang sebagai suatu lingkungan yang terdiri atas kondisi fisik, kondisi sosial, dan kondisi intelektual. Bahkan pandangan yang lebih luas, kurikulum mencakup perilaku pimpinan dan para pendidik sebagai acuan dalam berperilaku.

Menurut Ralph Tyler (1949), (dalam Nasution, 1989 : 6), pengembangna kurikulum ditentukan oleh empat faktor atau asas utama yaitu :

1.       Aspek filosofis yaitu falsafah bangsa, masyarakat, sekolah dan guru-guru.

2.       Aspek sosiologis yaitu harapan dan kebutuhan masyarakat (orang tua, kebudayaan masyarakat, pemerintah, agama, ekonomi dan sebagainya).

3.       Aspek psikologis yaitu hakikat anak antara lain taraf perkembangan fisik, mental, psikologis, emosional, sosial serta cara anak belajar.

4.       Bahan pelajaran yaitu hakikat pengetahuan atau disiplin ilmu.

Oemar Hamalik (2004) juga menyampaikan terdapat faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam penyusunan suatu kurikulum :

1.       Tujuan pendidikan nasional.

2.       Tahap perkembangna peserta didik.

3.       Kesesuaian dengan lingkungan.

4.       Kebutuhan pengembangan nasional.

5.       Perkembangna ilmu pengetahuan dan teknologi serta kesenian.

6.       Kesesuaian dengan jenis dan jenjang satuan pendidikan.

Perencanaan dalam pengembangan kurikulum sekolah menengah sebagian besar telah dilaksanakan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan di tingkat Pusat yang meliputi kegiatan sebagai berikut :

1.   Penyusunan kurikulum dan kelengkapan pedomannya yang terdiri atas :

a.   Ketentuan-ketentuan Pokok

b.   Garis-garis Besar Program Pengajaran.

c.   Pedoman Pelaksanaan Kurikulum

2.   Pedoman-pedoman Teknis Pelaksanaan Kurikulum Lainnya,antara lain : pedoman penyusunan dan kalender pendidikan, pedoman penyusunan program pengajaran, pedoman penyusunan satuan acara pengajaran, pembagian tugas guru, penyusunan jadwal pelajaran.

Didalam pelaksanaan kurikulum tugas guru adalah mengkaji kurikulum tersebut melalui kegiatan perseorangan atau kelompok. Dengan demikian guru dan kepala sekolah memahami kurikulum tersebut sebelum dilaksanakan. Perencanaan dan pengembangan kurikulum di sekolah antara lain (a) penyusunan kalender pendidikan untuk tingkat sekolah berdasarkan kalender pendidikan yang telah disusun pada tingkat kanwil, dan (b) penyusunan jadwal pelajaran untuk sekolah. Dalam penyusunan jadwal perlu diperhatikan bahwa : mata pelajaran yang dianggap berat banyak memerlukan tenaga berpikir hendaknya diberikan pagi hari disaat siswa masih segar, kegiatan belajar-mengajar hendaknya tidak mengganggu kelas lain yang berdekatan.

Tujuan Institusional Sekolah Menengah

Tujuan institusional pendidikan suatu sekolah dijabarkan dari tujuan pendidikan nasional. Struktur program kurikulum sekolah menengah merupakan kerangka umum program-program pengajaran yang diberikan pada setiap jenis dan tingkat sekolah menengah. Struktur program Kurikulum Sekolah Menengah Umum tahun 1984, misalnya memuat : (a) program inti dan (b) program khusus.

a)      Program Inti

Didalam menjalankan program inti di SMU, misalnya disebutkan bahwa susunan program inti terdiri dari 15 jenis matapelajaran yang masing-masing mempunyai jumlah bobot yang berbeda, sesuai dengan fungsinya dalam mencapai tujuan pendidikan nasional. Bobot ini berkisar antara 4-18 jam pelajaran. Isi pelajaran dicantumkam dalam GBPP yang terdiri atas materi esensial dan materi yang dirancang guru untuk pengayaan.

b)      Program Khusus

Program khusus terdiri dari program A dan program B. Program A terdiri dari A1 (Fisika), A2 (Biologi), A3 (Ilmu Sosial), dan A4 (Pengetahuan Budaya). Program A ini dimulai pada semester ketiga. Program B dikembangkan untuk mempersiapkan siswa terjun ke masyarakat. Matapelajaran dalam program B terdiri dari matapelajaran yang berfungsi sebagai dasar untuk mengembangkan lebih lanjut kemampuan kejuruan dan matapelajaran kejuruannya sendiri.

Meskipun setiap kali kurikulum berubah, tetapi komponen-komponenya kurang lebih sama saja. Guru harus secara seksama mempelajari GBPP, petunjuk pelaksanaan kurikulum, menimbang mana yang dapat dan tidak dapat dilaksanakan karena keadaan tertentu, dan memilih yang mana yang terbaik untuk tujuan pendidikan dan untuk kepentingan siswa.

Penjabaran dan Penambahan Bahan Kajian Mata Pelajaran

Seperti disebutkan baik dalam UU no 2 tahun 1989 maupun PP no. 29 Tahun 1990 (pasal 15) bahwa matapelajaran atau kajian dalam matapelajaran dapt ditambah oleh sekolah untuk memperkaya pelajaran tersebut dengan catatan tidak bertentangan dan mengurangi kurikulum yang telah ditetapkan secara nasional. Pemerkayaan bahan kajian ini dapat dilakukan pada berbagai tingkat.

1)      Dilakukan Oleh Guru Bidang Studi

Guru merupakan orang yang paling mengetahui apakah materi pelajaran itu cukup untuk kepentingan siswa maupun kepentingan masyarakat. Pengetahuan guru ini diperoleh dengan mengikuti perkembangan bidang studi yang diajarkan melalui kegiatan interaksi kolegial seperti seminar, rapat kerja dan sebagainya.

2)      Dilakukan Oleh Kelompok Guru Sejenis

Kelompok guru yang mengajar mata pelajaran yang sama baik dari sekolah itu sendiri maupun dari luar sekolah sebaiknya sering melakukan pertemuan untuk saling belajar tentang mata pelajaran yang diajarkan.

3)      Dilakukan Guru Bersama Kepala Sekolah

Kepala sekolah dapat memberikan dorongan dan kemudahan kepada guru unyuk mengembangkan mata pelajaran yang diajarkan misalnya melengkapi perpustakaan, mendorong guru untuk melakukan penelitian, memberikan kesempatan guru untuk mengambil inisiatif dalam mengembangkan mata pelajaran tersebut atau memberikan kesempatan kepada guru untuk mengikuti program peningkatan mutu.

4)      Dilakukan Oleh Pengawas

Pengawas merupakan orang yang diharapkan mengetahui tentang sampai seberapa jauh keluasan dan kedalaman mata pelajaran yang diajarkan di sekolah dan melakukan penilaian apakah hal tersebut sudah memadai atau perlu diperluas dan diperdalam lagi.

5)      Dilakukan oleh Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK)

Fungsi LPTK bukan hanya sekedar menghasilkan tenaga guru, tetapi juga menghasilkan temuan-temuan penelitian dalam usaha memperbaiki kinerja system pendidikan dalam segala aspeknya. Oleh karena itu LPTK lebih banyak mempunyai kesempatan untuk mendapatkan informasi tentang perkembangan mata pelajaran sebagai akibat perkembangan ilmu, disamping temuan-temuan dalam bidang perkembangan kebutuhan masyarakat akan isi pendidikan.

Pelaksanaan kurikulum

a. Penyusunan dan Pengembangan Satuan Pengajaran

Satuan pengajaran (SP) adalah suatu bentuk persiapan mengajar secara mendetail per pokok bahasan yang disusun secara sistematik berdasarkan Garis-garis besar Program Pengajaran yang telah ada untuk suatu mata pelajaran tertentu.

Pengembangan SP dimulai dari pengembangan pengajaran dalam satuan semester.

v  Pengertian Penyusunan Program Pengajaran Semester

Program pengajaran semester adalah rencana belajar-mengajar yang akan dilaksanakan selama satu semester dalam tahun ajaran tertentu. Program pengajaran ini merupakan pengembangan lebih lanjut dari GBPP masing-masing bidang studi.

v  Tujuan Penyusunan Program Pengajaran Semester

Tujuan penyusunan program pengajaran semester ini adalah :

a)      Menjabarkan bahan pengajaran yang akan disajikan guru dalam proses belajar-mengajar.

b)      Mengarahkan tugas yang harus ditempuh oleh guru agar pengajaran dapat terlaksana secara bertahap dengan tepat.

v  Fungsi Program Pengajaran Semester

Fungsi program pengajaran semester adalah :

a)      Sebagai pedoman penyelenggaraan pengajaran selama satu semester.

b)      Sebagai bahan dan pembinaan guru yang dilakukan oleh kepala sekolah dan atau pengawas sekolah.

v  Langkah-lagkah Penyusunan Program Pengajaran Semester

Langkah-langkah yang dilakukan dalam melaksanakan penyusunan program pengajaran semester itu adalah sebagai berikut :

a)      Pengelompokan bahan pengajaran yang tercantum dalam Garis-garis Besar Program Pengajaran menjadi beberapa satuan bahasan. Setiap satuan bahasan sebaiknya terdiri dari bahan pengajaran yang relevan.

b)      Menghitung banyaknya satuan bahasan yang terdapat selama satu semester.

c)      Menghitung banyaknya minggu efektif sekolah selama satu semester dengan melihat kalender pendidikan sekolah yang bersangkutan.

d)     Mengalokasikan waktu yang dibutuhkan untuk setiap satuan bahasan sesuai dengan hari efektif sekolah.

e)      Mengatur pelaksanaan belajar-mengajar sesuai banyaknya minggu efektif sekolah yang tersedia berdasarkan kalender pendidikan.

b. Prosedur Penyusunan Satuan Pengajaran

Langkah-langkah yang ditempuh untuk membuat SP berdasarkan pada pokok-pokok bahasan yang telah disebutkan dalam GBPP adalah :

1)      Mengisi identitas mata pelajaran.

2)      Menjabarkan tujuan pokok bahasan (tujuan instruksional umum) menjadi   ujuan instruksional khusus (TIK) yang lebih rinci.

3)      Menjabarkan materi pengajaran dari pokok bahasan atau sub-pokok bahasan sesuai dengan TIK

4)      Mengalokasikan waktu pengajaran.

5)      Menetapkan langkah-langkah penyampaian secara lebih rinci.

6)      Menetapkan prosedur memperoleh balikan, baik balikan formatif melalui monitoring atau balikan sumatif melalui tes bagian itu.

c. Pengembangan Satuan Pengajaran

Karena perkembangan ilmu dan peningkatan kemampuan guru serta perubahan kebutuhan siswa, maka SP yang sudah dibuat sudah digunakan untuk mengajar perlu dikembangkan lebih lanjut.

d. Penggunaan Satuan Pengajaran Bukan Buatan guru Sendiri

Dalam hal SP tidak dibuat sendiri oleh guru (dibeli atau dicopy dari SP yang dibuat teman atau orang lain) guru perlu melakukan hal-hal sebagai berikut :

1)      Melihat kembali GBPP dan mencocokkan kesesuaian komponen-komponen dalan SP dengan komponen-komponen dalam GBPP.

2)      Jika hal tersebut telah dilakukan dan tidak ada penyimpangan yang telah berarti maka langkah selanjutnya adalah mencocokkan keajegan (konsistensi) antara : (1) tujuan umum dengan tujuan instruksional khusus, (2) tujuan instruksional khusus dengamn bahan, metode dan teknik evaluasi serta sumber belajar.

3)      Melakukan p[ertimbangan (judgment) apakah satuan pelajaran itu dapat dilaksanakan dikelas sejauh berhubungan dengan kemampuan awal siswa, fasilitas yang tersedia dan factor pendukung lainnya.

4)      Jika butir 3 belum memadai, maka guru harus melakukan penyesuaian terhadap SP tersebut sehingga realistic dan dapat dilaksanakan.

e. Pelaksanaan Proses Belajar- Mengajar

Aspek administrasi dari pelaksanan proses belajar-mengajar adalah pengalokasian dan pengaturan sumber-sumber yang ada di sekolah untuk memungkinkan proses belajar-mengajar itu dapat dilakukan guru dengan seefektif mungkin. Didalam melaksanakan proses belajar-mengajar guru harus selalu waspada terhadap gangguan yang mungkin terjadi karena kesalahan perencanaan fasilitas serta sumber lain yang mendukung proses belajar-mengajar tersebut.

f. Pengaturan Ruang Belajar

Untuk terciptanya suasana belajar yang aktif perlu diperhatikan pengaturan ruang belajar dan perabot sekolah. Dalam pengaturan ruang belajar hendaknya diperhatikan hal-hal sebagai berikut : (1) bentuk dan luas ruangan kelas, (2) bentuk serta ukuran bangku atau kursi dan meja siswa, (3) jumlah siswa pada tingkat kelas yang bersangkutan, (4) jumlah siswa pada tiap-tiap kelas, (5) jumlah kelompok dalam kelas, (6) jumlah siswa dalam kelompok, (7) kegiatan belajar-mengajar yang dilakukan.

g. Kegiatan Kokurikuler dan Ekstrakurikuler

Ada tiga macam kegiatan kurikuler, yaitu kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler.

1)      Kegiatan kokurikuler

Kegiatan kokurikuler adalah kegiatan yang erat kaitannya dengan pemerkayaan mata pelajaran. Kegiatan ini dilakukan diluar jam pelajaran yang ditetapkan didalam struktur program, dan dimaksudkan agar siswa dapat lebih mendalami dan memahami apa yangtelah dipelajari dalam kegiatan intrakurikuler. Untuk pelaksanaan kokurikuler ada beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain :

a)      Harus jelas hubungan antara pokok bahasan atau sub pokok bahasan yang diajarkan dengan tugas yang diberikan.

b)      Tugas yang diberikan tidak menjadi beban yang berlebihan bagi siswa, baik untuk beban fisik maupun psikis, karena diluar jangkauan dan kemampuan siswa itu.

c)      Pengadministrasian tugas yang diberikan kepada siswa harus tertib, termasuk penilaian dan pemantuan.

d)     Penilaian terhadap hasil tuga siswa secara perorangan diperhitungkan sebagai bahan dalam perhitungan nilai raport semester.

2)      Kegiatan Ekstrakurikuler

Kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan di luar jam pelajaran biasa (intrakurikuler) tidak terkait dengan pelajaran di sekolah. Sementara definisi kegiatan ekstrakurikuler menurut Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan adalah kegiatan yang dilakukan di luar jam pelajaran tatap muka, dilaksanakan di sekolah atau di luar sekolah agar lebih memperkaya dan memperluas wawasan pengetahuan dan kemmpuan yang telah dipelajari dari berbagai mata pelajaran dalam kurikulum (B. Suryosubroto, 2002 : 271). Kegiatan ini dimaksudkan agar menambah pengetahuan siswa, menambah keterampilan, mengenal hubungan antara berbagai mata pelajaran, menyalurkan bakat, minat, menunjang pencapaian tujuan intrakurikuler. Dalam melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler banyak hal yang harus diperhatikan, diantaranya adalah : (a) materi kegiatan hendaknya dapt memberi manfaat bagi penguasaan bahan ajar bagi siswa, (b) sejauh mungkin tidak terlalu membebani siswa, (c) memanfaatkan fotensi lingkungan, alam, lingkungan budaya, (d) tidak mengganggu tuga pokok siswa juga guru.

B. Suryosubroto (2002 : 274) juga menyampaikan jenis-jenis kegiatan ekstrakurikuler yang dapat dilaksanakan di sekolah antara lain :

a)      Lomba Karya Ilmiah Pengetahuan Remaja (LKIPR).

b)      Pramuka.

c)      PMR / UKS.

d)     Koperasi sekolah.

e)      Olahraga prestasi.

f)       Kesenian tradisional / modern.

g)      Cinta alam dan lingkungan hidup.

h)      Peringatan hari-hari besar.

i)        Jurnalistik.

j)        PKS.

Evaluasi Hasil Belajar dan Program Pengajaran

1)       Evaluasi Hasil Belajar

Evaluasi hasil belajar merupakan suatu kegiatan ynag dilakukan guna memberikan berbagai informasi secara berkesinambungan dan menyeluruh tentang proses dab hasil belajar yang telah dicapai siswa. Sementara menurut Oemar Hamalik (2005 : 159) evaluasi hasil belajar adalah keseluruhan kegiatan pengukuran (pengumpulan data dan informasi), pengolahan, penafsiran dan pertimbangan untuk membuat keputusan tentang timngkat hasil belajar yang dicapai oleh siswa setelah melakukan kegiatan belajar dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Hasil belajar menunjuk pada prestasi belajar, sedangkan prestasi belajar itu merupakan indikator adanya dan derajat perubahan tingkah laku siswa.

2)       Evaluasi Progra Pengajaran

Evaluasi program merupakan suatu rangkaian kegiatan yang dilakukan dengan sengaja untuk melihat tingkat keberhasilan program, serta factor-faktor yang mendukung atau menghambat keberhasilan tersebut. Tingkat kebeerhasilan itu diukur dengan membandingkan hasil dengan target yang dirumuskan dalam rencana.

B.  Administrasi Kesiswaan

Administrasi kesiswaan merupakan proses pengurusan segala hal yang berkaitan dengan siswa disuatu sekolah mulai dari perencanaan siswa baru, pembinaan selama siswa berada di sekolah, sampai siswa menamatkan pendidikannya melalui penciptaan suasana yang kondusif terhadap berlangsungnya PBM.

Menurut Sutisna (1991 :46), (dalam Mohammat Syaifuddin, 2007 : 2.38) tugas kepala sekolah dalam administrasi siswa adalah menyeleksi siswa baru, menyelengarakan pembelajaran, mengontrol kehadiran siswa, melakukan uji kompetensi akademik / kejuruan, melaksanakan bimbingan karier serta penelusuran lulusan. Kepala sekolah harus menyadari bahwa kepuasan peserta didik dan orang tuanya serta masyarakat, merupakan indikator keberhasilan sekolah.

C.  Administarsi Sarana dan Prasarana

Prasarana dan sarana pendidikan adalah semua benda yang bergerak maupun tidak bergerak, yang diperlukan untuk menunjang penyelenggaraanbelajar-mengajar baik secara langsung maupu tidak langsung. Administarasi prasarana dan sarana pendidikan merupakan keseluruhan perencanaan pengadaaan, pendayagunaan dan pengawasan prasarana peralatan yang digunakan untuk menunjang pendidikan agara tujuan pendidikan yang telah ditetapkan dapat dicapai.

Salah satu contoh sarana dan prasarana pendidikan yang langsung digunakan dalam pembelajaran adalah media pembelajaran. Media pembelajaran adalan segala macam sarana yang dapat dipergunakan untuk menyampaikan pesan pembelajaran guna menopang pencapaian hasil belajar (Sudarma dan Parmiti, 2007 : 5)

Kebijakan pemerinta tentang pengelolaan sarana dan prasarana sekolah tertuang di dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 45 ayat (1) yaitu ”setiap satuan pendidikan formal dan onoformal menyediakan sarana dan prasarana yang memenuhi keperluan pendidikan sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan potensi fisik, kecerdasan intelektual, sosial, emosional dan kejiwaan peserta didik (Mohammad Syaifuddin, 2007 : 2.36).

D.  Administarsi personal

Pembahasan administrasi personal dibatasi dan difokuskan kepada pembahasan guru sekolah menengah sebagai pegawai negeri. Seorang calon guru bisa menjadi seorang pegawai negeri jika telah melalui rekrutmen guru. Menurut Ibrahim Bafadal, 2006 : 21) rekrutmen merupakan satu aktivitas manajemen yang mengupayakan didapatkannya seorang atau lebih calon pegawai yang betul-betul potensial untuk menduduki posisi tertentu atau melaksanakan tugas tertentu di sebuah lembaga.

Pegawai negeri adalah mereka yang setelah memenuhi syarat-syarat yang ditentukan dalam perundang-undangan yang berlaku, diangkat oleh pejabat yang berwenang dan diserahi tugas dalam suatu jabatan negeri atau disertai tugas Negara lainnya yang ditetapkan berdasrkan suatu perundng-undangan yang berlaku.

Status of teacher” merupakan sebuah dokumen penting yang dihasilkan oleh ILO dan UNESKO tahun 1966 sebagai satu pengakuan secara global bahwa guru sebagai profesi, meskipun dalam kenyatannya belunterwujud secara signifikan (Zainal Aqib dan Elman Rohmanto, 2007 : 146).

Guru wajib memiliki :

1.      Kualifikasi akademik sarjana atau diploma empat (S1 atau D-IV).

2.      Kompetensi paedagogik, kepribadian, sosial dan profesional.

3.      Sertifikat pendidik.

4.      Sehat jasmani dan rohani.

5.      Kemampuan mewujudkan tujuan pendidikan nasional (Zainal Aqib dan Elman Rohmanto, 2007 : 151)

Selain itu, dalam UU guru dan Dosen (pasal 1 ayat 1) dinyatakan bahwa : ”guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini, jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah (Zainal Aqib dan Elman Rohmanto, 2007 : 145).

E.  Administrasi keuangan sekolah menengah

Penanggung jawab biaya pendidikan adalah kepala sekolah namun demikian, guru diharapkan ikut berperan dalam administrasi biaya ini meskipun menambah beban mereka, juga memberikan kesempatan untuk ikut serta mengarahkan pembiyaan itu untuk perbaikan proses belajar mengajar.

Administrasi keuangan meliputi kegiatan perencanaan, penggunaan, pencatatan data, pelaporan dan pertanggung jawaban dana yang dialokasikan untuk penyelenggaraan sekolah. Tujuan administrasi ini adalah untuk mewujudkan suatu tertib administrasi keuangan, sehingga pengurusannya dapat dipertanggung jawaban sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Dalam administrasi keuangan ada pemisahan tugas dan fungsi antara otoritor, ordonator dan bendaharawan. Otoritor adalah pejabat yang diberi wewnang untuk mengambil tindakan yang mengakibatkan penerimaan atau pengeluaran uang. Ordonator adalah pejabat yang berwewenang melakukan pengujian dan memerintahkan pembayaran atas segala tindakan yang dilakukan berdasarkan otorisasi yang ditetapkan. Berndaharawan adalah pejabat yang berwenang melakukan penerimaan, penyimpanan dan pengeluaran uang atau surat-surat berharga lainnya yang dapat dinilai dengan uang dan diwajibkan membuat perhitungan dan pertanggung jawaban.

Kepala sekolah menengah sebagai pimpinan suatu kerja berfungsi sebagai otorisator untuk memerintahkan pembayaran. Bendaharawan sekolah menengah ditugasi untuk melakukan fungsi ordonator dalam menguji hak atas pembayaran, kepala sekolah tidak boleh menjadi bendaharawan karena melakukan pengawasan dalam penggunaan dana.

Keuangan sekolah menengah dapat diperoleh dari dana anggaran penerimaan dan belanja Negara (APBN), bantuan (kalau ada) dari anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD), serta bantuan masyarakat. Dana APBN terdiri dari dana rutin dan dana pengunaan. Dana APBD dapat berasal dari pemerintah tingkat I dan Tingkat II. Dana dari masyarakat diperoleh dari dana yang dikumpulkan oleh badan pembantuan penyelanggaraan pendidikan (BP3), serta bantuan masyarakat lainnya. UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 pasal 49 ayat (1) menyatakan bahwa ” dana pendidikan selain gaji pendidik dan biaya pendidikan kedinasan dialokasikan minimal 20% dari Anggaran Pendapatan dan belanja Negara (APBN) pada sektor pendidikan dan minimal 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), (Mohammad Syaifuddin, 2007 : 2.37).

F.   Adminstrasi Hubungan sekolah dengan masyarakat (Husemas)

Sekoah berada di tengah-tengah masyarakat dan dapat dikatakan berfungsi sebagai pisau bermata dua. Pisau yang pertama adalah menjaga kelstarian nilai-nilai positif yang ada dalam masyarakat, agar pewarisan nilai-nilai masyarakat itu berlangsung dengan baitk. Mata pisau yang kedua adalah sebagai lembaga yang dapat mendorong perubahan nilai dan tradisi itu sesuai dengan kemajuan dan tutuan kehidupan serta pembangunan. Kedua fungsi ini seolah-olah bertentangan, namun sebenarnya keduanya dilakukan dalam waktu bersama. Oleh karena fungsinya yang kontriversi ini diperlukan saling pemahaman antara sekolah dan masyarakat. Salah satu kompetensi yang harus dimiliki guru adalah kompetensi sosial . Kompetensi sosial dalam kegiatan belajar ini berkaitan erat dengan kemampuan guru dalam berkomunikasi dengan masyarakat di sekitar sekolah dan masyarakat tempat guru hidup, sehinga peranan dan cara guru berkomunikasi di masyarakat diharapkan memiliki karakteristik tersendiri yang sedikit banyak berbeda dengan orang lain yang bukan guru (H. Djam`an Satori, dkk, 2003 : 2.12)

Husemas adalah suatu proses komunikasi antara sekolah dengan masyarakat untuk meningkatkan pengertian masyarakat tentang kebutuhan serta kegiatan pendidikan serta mendorong minat dan kerjasama untuk masyarakat dalam peningkatan dan pengembangan sekolah. Kindred, Bagin and Gallagber (1976), mendefinisikan husemas ini sebagi usha koperatif untuk menjaga mengembangkan saluran informasi dua arah yang efisien serta saling pengertian atara sekolah, persoalan sekolah dengan masyarakat.

Definisi di atas mengandung beberapa elemen penting, sebagai berikut :

1.      Adanya kepetingan yang sama antara sekolah dan masyarakat. Masyarakat memerlukan sekolah untuk menjamin bahwa anak-anak sebagai generasi penerus akan dapat hidup lebih baik, demikian pula sekolah.

2.      Untuk memenuhi masyarakat itu. Masyarakat perlu berperan serta dalam pengembangan sekolah: yang dimaksud dengan peranserta dalam kehidupan masyarakat tentang hal-hal yang terjadi disekolah, serta sebagai membangun dalam usaha perbaikan sekolah

3.      Untuk meningkatkan peran serta itu diperlukan kerjasa yang baik melalui komunikasi dua arah yang efisien.

Tujuan utama yang ingin dicapai dengan mengembangan kegiatan husemas adalah :

1.      Peningkatan pemahaman masyarakat tentang tujuan serta sasaran yang ingin direalisasikan sekolah.

2.      Peningkatan pemahaman sekolah tentang keadaan serta aspirasi masyarakat tersebut terhadap sekolah

3.      Peningkatan usaha orang tua siswa dan guru-guru dalam memenuhi kebutuhan siswa, meningkatkan kuantitas serta kualitas bantuan orang tua siswa dalam kegiatan pendidikan sekolah

4.      Peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya peranserta mereka dalam memajukan pendidikan di sekolah dalam era pengembangan.

5.      Terpeliharanya kepercayaan masyarakat terhadap sekolah serta apa yang dilakuakn sekolah

6.      Pertanggung jawaban sekolah atas harapan yang dibebankan masyarakat kepada sekolah

7.      Dukungan serta bantuan dari masyarakat dalam memperoleh sumber-sumber yang diperlukan untuk meneruskan dan meningkatkan program sekolah.

Prinsip-prinsip Hubungan Sekolah Masyarakat

a.       Prinsip otoritas, yaitu bahwa husemas harus dilakuakna oleh orang yang mempunyai otoritas,

b.      Kesederhanaan, Bahwa program-program hubungan sekolah masyarakat harus sederhana dan jelas.

c.       Sensitivitas, bahwa dalam menangani masalah-masalah yang berhubungan dengan masyarakat, sekolah harus sensitive terhadap kebutuhan serta harapan masyarakat.

d.      Kejujuran, bahwa apa yang disampaikan kepada masyarakat haruslah sesuatu apa adanya dan disampaikan secara jujur. Sekali sekolah memberikan informasi yang tidak benar, kepercayaan masyarakat terhadap sekolah akan menurut dan akibatnya sekolah tidak lagi mudah untuk membangun kepercayaan itu kembali

e.       Ketepatan, bahwa apa yang disampaikan sekolah kepada masyarakat harus tepat baik dilihat dari segi isi, waktu, media yang digunakan serta tujuan yang akan dicapai. Pemilihan waktu yang kurang tepat dapat mengakibbatkan kegagalan dari program tersebut.

Penyelenggaran kegiatan administrasi hubungan sekolah-masyarakat

a.       Proses penyelenggaran hubungan sekolah masyarakat

1.      Perencnan program

Prencanan program hubungan sekolah masyarakat harus memperhatikan dana yang terjadi, ciri masyarakat , daerah jangkauan, sarana atau media dan teknik yang akan digunakan dalam mengadakan hubungan dengan masyarakat. Kalau perencanaan tidak memperhatikan hal-hal di atas dikawatirkan kegiatan tersebut tidak akan mancapai sarana yang diinginkan.

2.      Pengorganisasian

Pada dasarnya semua komponen sekolah adalah pelaksanaan hubungan sekolah masyarakat. Oleh karena itu tugas-tugas mereka perlu dipahami dan ditata, sehingga penyelenggaraan Husemas dapat berjalan efektif dan efisien.

3.      Pelaksanaan

Dana pelaksanaan hubungan sekolah masyarakat perlu diperhatikan koordinasi antara berbagai bagian dan kegiatan dan di dalam penggunaannya perlu ada sinkronisasi.

Peranan guru dalam hubungan sekolah masyarakat

Guru merupakan kunci penting dalam kegiatan husemas di sekolah menengah. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan guru dalam kegiatan husemas itu, yaitu :

a.       Membantu sekolah dalam melaksanakan teknik-teknik husemas.

b.      Membuat dirinya lebih baik lagi dalam bermasyarakat.

c.       Dalam melaksanakan semua itu guru harus melaksanakan kode etiknya (kode etik guru)

G.  Administrasi Layanan Khusus

Proses belajar mengajar memerlukan dukungan fasilitas yang tidak secara langsung dipergunakan di kelas. Fasiliats yang dimaksud antara lain adalah : Pusat sumber belajar, usaha kesehatan sekolah dan kafetaria sekolah.

Pusat sumber belajar

Pusat sumber belajar (PSB) adalah unit keiatan yang mempunyai fungsi untuk memproduksi mengadakan, menyimpan serta melayani bahan pengajaran sesuai dengan kebutuhan pelaksanaan proses belajar mengajar di kelas atau pelaksanaan pendidikan di sekolah pada umumnya pusat belajar dirancang untuk membantu pelaksanaan pendidikan di sekolah oleh karena itu pesat sumber belajar harus diadminitrsikan secara professional. Pusat sumber belajar sekolah dibeli dari dana yang tersedia, diberi oleh masyarakat (BP3) atau pun diberi oleh pemerintah

Menurut Mulyani A. Nurhadi (1983) (dalam B. Suryosubroto, 2002 : 205),  perpustakaan sekolah adalah suatu unit kerja yang merupakan bagian integral dari lembaga pendidikan sekolah, yang berupa tempat menyimpan koleksi bahan pustaka yang dikelola dan diatur secara sitematis dengan cara tertentu untuk digunakan oleh siswa dan guru sebagai sumber informasi, dalam rangka menunjang program belajar mengajar di sekolah.

Berdasarkan pengertian tersebut, adapun ciri atau unsur pokok yang ada dalam perpustakaan yaitu :

1.      Tempat mengumpulkan, menyimpan dan memelihara koleksi bahan pustaka.

2.      Koleksi bahan pustaka yaitu dikelola dan diatur secara sistematis dengan cara tertentu.

3.      Untuk digunakan secara kontinyu oleh guru dan murid sebagai sumber informasi.

4.      Merupakan suatu unit kerja.

Mulyani A. Nurhadi (1983) (dalam B. Suryosubroto, 2002 : 206) menjelaskan bahwa dalam hubungannya dengan keseluruhan proses pendidikan di sekolah, perpustakaan berperan sebagai instalasi atau sebagai sarana pendidikan yang bersifat teknis edukatif, bersama-sama dengan unsur-unsur lainnya ikut menentukan terjadinya proses pendidikan.  Layanan perpustakaan bertujuan untuk membantu meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah dengan cara memberikan kesempatan untuk menumbuhkan sikap senang membaca dalam mengembangkan bakat siswa. Untuk mencapai kal tersebut perpustakaan harus dikembangkan sehingga mampu menarik perhatian siswa yang pada gilirannya dapat mendorong mereka untuk menggunakan perpustakaan sekolahnya.

Hak semua guru sekolah menengah harus terlibat langsung dalam administrasi perpustakaan sekolah. S. Nasution (1989), mengemukakan antara lain

a.       Memperkenalkan buku-buku kepada para siswa dan guru-guru

b.      Memilih buku-buku dan bahan pustaka lainnya yang akan digunakan untuk menambah koleksi perpustakaan sekolah.

c.       Mempromosi untuk perpustakaan, baik untuk pemakaian, muapun untuk pembinaan.

d.      Mengetahui jenis dan menguasai criteria umum yang menentukan baik buruknya suatu koliksi

e.       Mengusahakan agar siswa aktif membantu perkembangan perpustakaan.

Kafetaria warung kantin sekolah

Kantin sekolah tidak harus diadministrasikan oleh sekolah, tetapi dapat diadministrasikan oleh peribadi di luar sekolah atau oleh dharma wanita sekolah. Namun kantin sekolah ini tidak boleh terlepas dari perhatian kepala sekolah. Kepala sekolah harus memikirkan atau mengupayakan agar kehadiran kantin itu mempunyai sumbangan positif dalam proses belajar anak di sekolah.

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam administrsi kantin itu adalah :

a.       Administrasi kantin sekolah harus menjaga kesehatan masakan-maskan yang dijajakan kepada siswa

b.      Kebersihan tempat juga harus menjadi pertimbangan utama. Karena kebersihan diharapkan dapat menjauhkan penyebar penyakit

c.       Makanan-makanan yang disajikan hendaknya makanan yang bergizi tinggi

d.      Harga makanan hendaknya dapat dijangkau atau sesuai dengan kondisi ekonomi siswa.

e.       Usahakan agar kantin tidak memberikan kesempatan siswa untuk berlama-lama atau nongkrong karena akan memunculkan perilaku-perilaku negative

DAFTAR PUSTAKA

Aqib, Zainal dan Elham Rohmanto. 2007. Membangun Profesionalisme Guru dan Pengawas Sekolah. Bandung : Yrama Widya

Bafadal, Ibrahim. 2006. Peningkatan Profesionalisme Guru Sekolah Dasar. Jakarta : Bumi Aksara

Danim, Sudarwan. 2002. Inovasi Pendidikan. Bandung : CV Pustaka Setia

Hamalik, Oemar. 2004. Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara

Hamalik, Oemar. 2005. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta : Bumi Aksara

Koyan. 2007. Telaah Kurikulum (Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ). Singaraja : FIP UNDIKSHA

Nasution, S. 1989. Kurikulum dan Pengajaran. Jakarta : Bumi Aksara

Satori, H. Djam`an, dkk. 2003. Profesi Keguruan 1. Pusat Penerbitan Universitas Terbuka

Soetjipto dan Rafiis Kosasi. 1994. Profesi Keguruan. Jakarta : Depdikbud

Sudarma dan Parmiti. 2007. Media Pembelajaran S1 PGSD . Singaraja : UNDIKSHA

Syaifuddin, Mohammad, dkk . 2007. Manajemen Berbasis Sekolah. Jakarta : Depdikbud

Syamsudin, Abin dan Nandang Budiman. 2005. Profesi Keguruan 2. Pusat Penerbitan Universitas Terbuka

DOWNLOAD FILE DISI NI


KONSERVASI


KONSERVASI

Konservasi itu sendiri merupakan berasal dari kata Conservation yang terdiri atas kata con (together) dan servare (keep/save) yang memiliki pengertian mengenai upaya memelihara apa yang kita punya (keep/save what you have), namun secara bijaksana (wise use). Ide ini dikemukakan oleh Theodore Roosevelt (1902) yang merupakan orang Amerika pertama yang mengemukakan tentang konsep konservasi. Konservasi dalam pengertian sekarang, sering diterjemahkan sebagai the wise use of nature resource (pemanfaatan sumberdaya alam secara bijaksana).

Konservasi juga dapat dipandang dari segi ekonomi dan ekologi dimana konservasi dari segi ekonomi berarti mencoba mengalokasikan sumberdaya alam untuk sekarang, sedangkan dari segi ekologi, konservasi merupakan alokasi sumberdaya alam untuk sekarang dan masa yang akan datang.

Apabila merujuk pada pengertiannya, konservasi didefinisikan dalam beberapa batasan, sebagai berikut :

1.      Konservasi adalah menggunakan sumberdaya alam untuk memenuhi keperluan manusia dalam jumlah yang besar dalam waktu yang lama (American Dictionary).

2.      Konservasi adalah alokasi sumberdaya alam antar waktu (generasi) yang optimal secara sosial (Randall, 1982).

3.      Konservasi merupakan manajemen udara, air, tanah, mineral ke organisme hidup termasuk manusia sehingga dapat dicapai kualitas kehidupan manusia yang meningkat termasuk dalam kegiatan manajemen adalah survai, penelitian, administrasi, preservasi, pendidikan, pemanfaatan dan latihan (IUCN, 1968).

4.      Konservasi adalah manajemen penggunaan biosfer oleh manusia sehingga dapat memberikan atau memenuhi keuntungan yang besar dan dapat diperbaharui untuk generasi-generasi yang akan datang (WCS, 1980).

Di Asia Timur, konservasi sumberdaya alam hayati (KSDAH) dimulai saat Raja Asoka (252 SM) memerintah, dimana pada saat itu diumumkan bahwa perlu dilakukan perlindungan terhadap binatang liar, ikan dan hutan.  Sedangkan di Inggris, Raja William I (1804 M) pada saat itu telah memerintahkan para pembantunya untuk mempersiapkan sebuah buku berjudul Doomsday Book yang berisi inventarisasi dari sumberdaya alam milik kerajaan.

Kebijakan kedua raja tersebut dapat disimpulkan sebagai suatu bentuk konservasi sumberdaya alam hayati pada masa tersebut dimana Raja Asoka melakukan konservasi untuk kegiatan pengawetan, sedangkan Raja William I melakukan pengelolaan sumberdaya alam hayati atas dasar adanya data yang akurat.  Namun dari sejarah tersebut, dapat dilihat bahwa bahkan sejak jaman dahulu, konsep konservasi telah ada dan diperkenalkan kepada manusia meskipun konsep konservasi tersebut masih bersifat konservatif dan eksklusif (kerajaan). Konsep tersebut adalah konsep kuno konservasi yang merupakan cikal bakal dari konsep modern konservasi dimana konsep modern konservasi menekankan pada upaya memelihara dan memanfaatkan sumberdaya alam secara bijaksana.

Sedangkan menurut Rijksen (1981), konservasi merupakan suatu bentuk evolusi kultural dimana pada saat dulu, upaya konservasi lebih buruk daripada saat sekarang.

Secara keseluruhan, Konservasi Sumberdaya Alam Hayati (KSDAH) adalah pengelolaan sumberdaya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragamannya.

Di Indonesia, kegiatan konservasi seharusnya dilaksanakan secara bersama oleh pemerintah dan masyarakat, mencakup masayarakat umum, swasta, lembaga swadaya masayarakat, perguruan tinggi, serta pihak-pihak lainnya.  Sedangkan strategi konservasi nasional telah dirumuskan ke dalam tiga hal berikut taktik pelaksanaannya, yaitu :

1.      Perlindungan sistem penyangga kehidupan (PSPK)

a.   Penetapan wilayah PSPK.

b.   Penetapan pola dasar pembinaan program PSPK.

c.   Pengaturan cara pemanfaatan wilayah PSPK.

d.   Penertiban penggunaan dan pengelolaan tanah dalam wilayah PSPK.

e.   Penertiban maksimal pengusahaan di perairan dalam wilayah PSPK.

2.      Pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya

a.   Pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya

b.   Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa (in-situ dan eks-situ konservasi).

3.      Pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya.

  1. Pemanfaatan kondisi lingkungan kawasan pelestarian alam.
  2. Pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar (dalam bentuk : pengkajian, penelitian dan pengembangan, penangkaran, perdagangan, perburuan, peragaan, pertukaran, budidaya).

Murid Tuna Cakap Belajar


Murid Tuna Cakap Belajar

Pengertian tentang murid tuna cakap belajar nampaknya cenderung belum memasyarakat, karena istilah yang sudah lazim digunakan dalam pendidikan di Indonesia adalah murid yang mengalami kesulitan belajar dengan subutan anak “berkesulitan belajar”. Secara esensial kedua istilah tersebut dapat di katakan “Identik”. Meskipun jika di lihat dari faktor yang menimbulkan ketunacakapan belajar cenderung labih bersifat internal (faktor yang berasal dari dalam diri anak). Tuna cakap belajar sebagai terjemahan dan learning di sabilities. Keragaman istilah ini di sebabkan oleh sudut pandang ahli yang berbeda-beda, seperti di kemukankan berikut ini :

a.       Kelompok ahli pendidikan menyebutnya dengan istilah “Educationally Handicapped”. Di gunakan istilah ini karena murid-muirid di tinjau mengalami kesulitan dalam mengikuti proses pendidikan, sehingga memerlukan layanan pendidikan khusus sesuai dengan bentuk dan derajat kesulitannya.layanan ini tidak hanya berkaitan dengan kesulitan yang di hadapinya tetapi juga dalam strategi atau pendekatan bantuannya (Hallan dan Kauffman, 1991).

b.      Bidang medis menyebutnya dengan Brain Injured, minimal Brain Dyshfuncion, alasannya karena dari hasil deteksi secara medis anak-anak tuna cakap belajar mengalami penyimpangan dalam perkembangan otaknya, yang diakibatkan adanya masalah pada saat persalinan atau memang sejak lahir mengalami penyimpangn.

c.       Kelompok ahli Psiko Linguistik menggunakan istilah language disorders karena anak-anak tuna cakap belajar cenderung mengalami bangguan meliiputi ekspresif  yaitu kemampuan menangkap ide atau menangkap perasaan orang lain yaitu disampaikan secara lisan.

Di bawah ini di kemukakan beberapa definisi tentang learning disabilities yang dikemukakan oleh para ahli. Samuel Kirk (1971). Mengemukakakn definisi learning disabilities adalah murid yang tidak digolongkan kepada katergori di bawah normal (keluarbiasaan), namun mereka yang mengalami kelemahan dalam berbicara perceptual-motorik (berbahasa), persepsi visual dan auditorium. Canadian Associatiaon for children and adults with learning disabilities (1981), menjelasakan pergertian tentang murid berkesulitan berlajar yaitu merekan yang tidak mampu mengikuti pelajaran di sekolah meskipun kecerdasannya termasuk normal sedikit di atas normal, atau sedikit di bawah normal. Keadaan ini sebagai akibat disfungsi minimal otak yang terjadi karena penyimpangan perkembanngan otak yang dapat berwujud dalam berbagai kombinasi gejala gangguan, seperti : gangguan persepsi, pembentukan konsip, bahasan, ingatan, control perhatian atau gangguan motori. Keadaan ini tidak disebabkan oleh ganguan prima pada penglihatan, pendengaran, cacat motorik atau ganguan emosional, retardasi mental, atau akibat lingkungan (cartwringht, dkk, 1984).

Kesulitan belajar lebih di definisikan sebagai gangguan perceptual, konseptual, memori, maupun ekspresif di dalam proses belajar. Dan uraian di atas dapat di katakana bahwa kesulitan belajar atau learning disabilities merupakan istilah generik yang merujuk kepada keragaman di mana gangguan tersebut di wujudkan dalam kesulitan-kesulitan yang signifikan yang dapat menimbulkan gangguan proses belajar.

 

Jenis-Jenis Tuna-Cakap Belajar

1. Minimal Brain Dysfunction

Minimal Brain Dysfunction adalah ketidak berfungsian minimal otak digunkan untuk merujuk suatu kondisi gangguan syaraf minimal pada murid. Ketak berfungsian ini bisa termani frestasi dalam berbagai kombinasi kesulitan seperti : persepsi, konseptualisasi, bahasa, memori pengendalaian perhatian, impulse (dorongan) atau fungsi motorik.

 

Beberapa symptom spesefik dari ketakberfungsian otak minimal ialah :

1.   Kelemahan Dalam Persepsi dan Pembentukan Konsep

2.   Gangguan Berbicara dan Komunikasi

3.   Gangguan Fungsi Motorik

4.   Prestasi dan Penyesuaian Akademik

5.   Karakteristik Emosional

6. Gangguan Proses Berfikir

1. Aphasia

Aphasia merujuk kepada suatu kondisi dimana anak gagal menguasai ucapan-ucapan bahasa yang bermakna pada usia 3.0 tahun-an. Ketak cakapan bicara ini dapat dijelaskan karena faktor ketulian, ketebelakangan mental, gangguan bicara, atau faktor lingkungan.

Secara garisa besar simpton aphasia digolongkan ke dalam 3 karakteristik utama berikut ini:

1.      Receptive aphasia

a.       Tidak dapat memahami apa yang terjadi dalam gambar

b.      Tidak daapt memahami apa yang ia baca

2.      Expressive aphasia

a.   Jarang bicara di kelas

b.      Kesulitan dalam melakukan peniruan

c.       Banyak pembicaraan yang tidka sejalan dengan ide

d.      Jarang menampilkan gesture (gerak tangan)

e.       Ketakcakapan menggambar dan menulis

1.      Inner aphasia

a.       Tidak mampu melakukan asosiasi, menyebabkan sulit berpikir abstrak

b.      Memberikan respon yang tak layank atas panggilan/sahutan

c.       Lamban merespon.

2. Dyslexia

Dyslexia, ketakcakapan membaca adalah jenis lain gangguan belajar. Istilah ini digunakan di dalam dunia medis tetapi saat ini digunkan dalam dunia pendidikan dalam mengidentifikasi anak-anak berkecerdasan normal yang mengalami kesulitan berkompetisi dengan temannya di sekolah. Symptom umum yang sering ditampilkan anak dysfexia ialah :

a.       Kelemahan Orientasi kanan-kiri

b.      Kecendrungan membaca kata bergerak mundur, seperti “dia” dibaca “aid”

c.       Kelemahan keterampilan jari

d.      Kesulitan dalam berhitung, kesalahan hitung

e.       Kelemahan memori otak

f.       Kelemahan memori visual tidak mampu memvisualkan kembali objek kata, atau huruf

g.      Dalam membaca keras tidak mampu menkonversikan symbol visual dalam symbol auditif yang sejalan dengan bunyi kata secara benar yang diucapkan tidak sesuai dengan apa yang dilihatnya.

3. Kelemahan Perseptual atau Perseptual-Motorik

Kelemahan perseptual dan perseptual-motorik sebenarnya merujuk kepada masalah yang sama. Persepsi ini membedakan stimulasi sensoris yang pada gilirannya harus diorganisasikan ke dalam pola-pola yang bermakna

1. Karakteristik Murid Tuna Cakap Belajar

Karakteristik tuna cakap belajar yang ditemukan pada murid kecendrungan menunjukkan kesulitan dalam hal-hal berikut :

 

 

a. Aspek Kognitif

Yaitu murid yang menunjukkan karakteristik kesulitan dalam masalah-masalah khusus, seperti : kemampuan membaca, menulis mendengarkan, berpikir dan matematis

Kasus kesulitan membaca (dyslexia) yang sering ditemukan di sekolah merupakan contoh klasik kurang berfungsinya aspek kognitif anak yang mengalami tuna cakap belajar. Kasus-kasus ini membuktikan bahwa anak tuna cakap belajar memiliki kemempuan kognitif yang normal, akan tetapi kemempuan tersebut tidak berfungsi secara optimal sehingga terjadi keterbelakangan akademik (academic retardation), yakni terjadinya kesenjangan antara apa yang mestinya dilakukan dengan apa yang dicapainya secara nyata.

 

b. Aspek Bahasa

Yaitu murid yang menunjukkan karakteristik kesulitan dalam mengekspresikan diri, baik secara lisan (verbal) maupun tertulis. Dengan kata lain murid yang mengalami tuna cakap belajar dalam aspek bahasa,cenderung mengalami kesulitan dalam menerima dan memahami bahasa (bahasa reseptif ) serta dalam mengekpresikan diri secara verbal (bahasa ekspresif).

c. Aspek motorik

Masalah motorik murupakan salah satu masalah yang dikaitkan dengan murid tuna cakap belajar yang behubungan dengan keulitan dalam keterampilan motorik-perseptual (perceptual-motorproblem) yang deperlukan untuk mengembangakan keterampilan meniru rancangan atau pola, kemampuan ini diperlukan untuk menggambar, menulis menggunakan gunting, serta sangat diperlukan koordinasi yang baik antara tangan dan mata, yang dalam banyak hal koordinasi tersebut kurang dimanfaatkan murid yang mengalami tuna cakap belajar.

d. Aspek Sosial dan Emosi

Dua karakteristik yang sering diangkat sebagai karakteistik social-emosional murid tuna cakap belajar ialah kelabilan emosional dan keimpulsif-an. Kelebihan emosi onal ditunjukkan sering berubahnya suasana hati dan temperamen yang menyebabkan lemahnya pengendalaia terhadap dorongan-dororangan.

 

2. Identivikasi Ketuna-Cakapan Belajar

Prosedur didentifikasi dan metode pengajaran yang digunakan untuk murid yang mengalami tuna cakap belajar, memiliki prinsip-prinsip dengan evaluasi yang perlu dipahami para guru. Prinsip-prinsip dasar tersebut sebagai berikut :

a.           Tes atau teknik evaluasi lain harus diberikan dalam bahasan anak dapat dipahami oleh anak.

b.          Tidak ada prosedur tunggal yang bisa digunakan untuk menentukan program pendidikan yang layak bagi anak berkesulitan belajar.

c.           Evaluasi harus dilakukan oleh rim dari berbagai disiplin, setidak-tidaknya terdiri atas seorang guru atau ahli yang lain yang mengetahui masalah berkesulitan.

 

Berikut merupakan prosedur lain yang diperlukan dalam menilai seorang murid yang diduga memiliki tuna cakap belajar yang khusus (kantor pendidikan Amerika, 1977).

a.           Penambahan anggota tim. Setiap tim berasal dari berbagai disiplin harus meliputi (1) guru tetap, dan (2) seseorang ahli yang melakukan ujian diagnostik (ahli psikologi dan guru ahli remedial)

b.          Kreteria untuk menentukan ketunacakapan belajar yang khusus.

 

1.   Seorang anak dikatakan mengalami tuna cakap belajar jika murid tidak mampu mencapai prestasi sesuai usia dan tingkat kecakapan dalam satu atau lebih bidang :

a.   Ekspresi lisan

b.   Mendengarkan pemahaman

c.   Ekspresi tulisan

d.   Keterampilan membaca dasar

e.   Membaca pemahaman

f.    Perhitungan matemaris

g.   Berpikir matematis

 

2.   Seorang murid tidak diidentifikasikan mengalami tuna cakap belajar jika kesenjangan antara kecakapan dengan prestasi disebabkan oleh :

a.   Hambatan visual, pendengaran, atau motorik

b.   Keterbelakangan mental

c.   Gangguan emosional

d.   Keterberutungan lingkungan, kultur, atau ekonomis

c.           Observasi

a.   Guru melakukan pengamatan terhadap kegiatan belajar murid di kelas

b.   Mengamati murid dalam suatu lingkungan yang cocok bagi murid sesuai dengan usianya.

d.          Laporan Tulis

1.      Tim mempersiapkan laporan tertulis hasil evaluasi

2.      Dalam laporan itu harus meliputi laporan berikut :

a.     Tuna cakap belajar khusus apa yag dialami murid

b.     Dasar yang digunakan untuk menentukan jenis ketuna cakapan

c.     Prilaku-prilaku yang relevan yang tercatat selama dilakukannya pengamatan

d.     Hubungan antara perilaku tersebut dengan keberfungsian belajar murid

e.     Temuan-temuan medis yang relevan dengan pendidikan

f.      Kesenjangan antara prestasi dan kecakapan yang tak dapat diatasi tanpa pendidikan dan layanan khusus.

 

3. Faktor-Faktor Yang Menimbulkan Ketuna-Cakapan Belajar

Jerome Rosner  (1993) melihat bahwa hal-hal yang paling umum, yang secara langsung berkaitan dengan masalah kesulitan khususnya dalam ketunacakapan belajar murid di tingkat sekolah dasar ialah keterlambatan dalam perkembangan ketermpilan perseptual dan kecakapan berbahasa.

Selanjutnya, kephart (1967) mengelompokkan penyebab ketuna cakapan belajar kedalam katagori utama yaitu :

 

a. Kerusakan Otak

Kerusakan otak berarti terjadinya kerusakan syaraf seperti dalam satu kasus encephalitis, meningitis, toksik. Kondisi seperti ini dapat menimbulkan gangguan fungsi otak yang diperlukan untuk prosis belajar pada anak remaja. Pada anak yang mengalami minimal brain dysfunction pada saat lahir akan menjadi masalah besar pada saat anak mengalami proses belajar.

 

b. Faktor Gangguan Emosional

Gangguan emosional terjadi karena adanya trauma emosional yang berkepanjangan sehingga menggangu hubungan fungsional sistem urat syaraf

c. Faktor “Pengalaman”

Faktor pengalaman mencakup faktor-faktor seperti kesenjangan perkembangan dengan kemiskinan pengalaman lingkungannya. Kondisi seperti ini biasanya dialami oleh anak yang terbatas memperoleh rangsangan lingkungan yang layak atau tidak memperoleh kesempatan menangani peralatan atau mainan tertentu, kesempatan seperti ini dapat mempermudah anak dalam mengembangkan keterampilan manipulatif dalam penggunaan alat tulis seperti pensil atau bollpoint.

Biasanya kemiskinan pengalaman ini berkaitan erat dengan konisi sosial ekonomi orang tua, sehingga seringkali juga berkaitan erat dengan masalah kekurangan gizi yang pada akhirnya dapat menggamggu perkembangan dan keberfungsian otak.

Dalam perspektif yang lebih luas, faktor yang menimbulkan tuna cakap belajar pada murid dapat di gambarkan seperti berikut :

 

1

 

Penyebab asal

 

 

 

4

 

Keragaman Gaya Belajar

Fisiologis                                                                         Psikologi

Visual vs Auditif

Kinstetik vs Auditif/Visual

Perbal vs Performan

Bahasa vs Nonbahasa

Aktif vs Lemah

Kooperatif vs Menghindar

Kombinasi vs Berbagai Gaya

Hasil

Bagan di atas menelusuri tahapan dalam tuna cakap belajar yang diklasifikasikan ke dalam empat tahapan yaitu melai dari penyebab sampai hasil. Penjelasannya dapat diuraikan  sebagai berikut :

Tahapan 1 menunjukkan penyebab asli, baik yang terjadi pada saat kelahiran (baru lahir) maupun setelah lahir (diperoleh). Hasil tahapan 1 ini terwujud dalam

Tahapan 2 yang cenderung berupa kerusakan otak, ketidak seimbangan kimiawi hambatan emosional kesenjangan kematangan, dan kemiskinan pengalaman yang dapat menimbulkan kesulitan dalam persepsi pembentukan konsep, memori dan proses lainnya.

Tahapan 3 kesulitan-kesulitan yang terjadi pada tahapan ke 3 menghasilakan berbagai gaya belajar sebagaimana tampak pada tahapan 4 jika dilihat dari proses tersebut, maka ketunacakapan belajar dapat disebabkan oleh faktor ganda, faktor pada tahapan 2 lebih banyak menyangkut aspek medis, biologis, atau sosiologis sehingga bidangmedis lebih banyak terlibat dalam penanganan masalah ini. Sedangkan pada tahapan ke 3 akan lebih banyak melibarkan ahli psikologi dan pada tahapan 4 akan banyak melibatkan guru dan alhli pendidikan. Gaya belajar tahapan ke 4 merupakan hal yang baru tetapi merupakan dimensi yang sangat penting dalam memahami ketunacakapan belajar murid.

Sebagai contoh, seorang murid yang mempunyai gaya belajar audirif tentu tidak akan efektif mencerna informasi yang disajikan melalui rangsangan visual. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kekeliruan dalam gaya penyajian dapat menimbulkan kelambanan atau kegagalan yang dialaminya dalam belajar pada saat ini. Oleh karena itu guru, seyognya memahami benar faktor-faktor yang dapat menimbulkan kesulitan pada muridnya, terlebih pada murid yang mengalami tuna cakap belajar.

 

 

4. Teknik Membantu Anak Tuna Cakap Belajar dan Pencegahannya

Cartwright (1984), mengemukakan secara rinci tentang cara mengajar murid yang mengalami tuna cakap belajar adalah sebagai berikut :

 

a. Bagi murid yang memiliki masalah pendengaran dan penglihatan

1.      Guru duduk seperti murid di depan kelas

2.      Membeikan tugas kelompok dengan dibantu oleh temannya untuk memberikan penjelasan tentang petunjuk bagi semua tugas yang diberikan

3.      Guru memberikan petunjuk secara tertulis dan lisan untuk semua tugas yang diberikan

 

b. Bagi murid yang memiliki masalah pendengaran

1.      Menggunakan alat-alat visual, seperti : peta, slide, gambar-gambardan garfik pada saat proses pembelajaran

2.      Merangkum materi pokok dari setiap mata pelajaran di akhir proses pembelajaran.

3.      Memberikan rancangan tertulis bagi setiap pokok bahasan pelajaran

4.      Membantu murid untuk mengingat pelajaran dengan teknik mnemonic (teknik untuk memperkuat daya ingat terhadap pelajaran yang telah diberikan.)

5.      Menggunakan tape recorder pada saat guru sedang mengajar (menjelaskan)

 

c. Bagi murid yang mengalami masalah visual (penglihatan) dan motorik (gerak)

a.       Menggunakan bahan-bahan bacaan yang sesuai dengan tingkat kelas murid.

b.      Memberikan kesempatan kepada murid untuk merekam penjelasan guru, diskusi, dan petunjuk, dari pada harus mencatatnya.

c.       Memberikan tugas-tugas secara tertullis yang sederhanan

d.      Mencoba meberikan tes lisan

e.       Memberikan tes tulisan yang beragam, seperti menjodohkan, pilihan ganda, salah benar, dan isian singkat.

f.       Mamberikan tugas-tugas yang bervariasi dengan melalui model, diagram, tape recorder, slide dan penyajian secara terurut.

g.      Mamberikan rancangan tertulis tentang tugas membaca secara singkat

 

Cara menilai (Megevaluasi) Murid Tuan Cakap Belajar

Cartwrint (1984) mengemukakan pula secara rinci tentang cara menilai murid tuna cakap belajar sebagai berikut :

a.       Menyusun ilustrasi dari setiap pokok basasan yang diteskan

b.      Mempersiapkan glosari atau kata-kata khusus dan definisi dari setiap konsep yang diajarkan

c.       Membuat kartun atau gambar yang menjelaskan tentang gagasan dari setiap pokok bahasan/sub pokok bahasan

d.      Membuat rangkaian gambar yang berhubungan dengan gagasan yang beragam dalam setiap sub pokok bahasan

e.       Membuat majalah dinding

f.       Menulis atau merekam berita mengenai suatu hal yang berkaitan dengan pelajaran

g.      Mewawancarai seseorang yang memahami topic-topik pelajaran

h.      Mampelajari informasi baru dari jurnal, yang sesuai dengan materi pelajaran

i.        Mempersiapkan proposal penelitian

j.        Mempersiapkan slide, filmstrip, atau penyajian bideotape bagi kelompok

 

Ada dua dasar layanan bimbingan yang dapat dikembangakan secara terpadu dengan proses pembelajaran dalam upaya membantu tuna cakap belajar Jerome Rosner (1993) menggolongkan pola tersebut dalam layanan Remediasi, Konpensasai dan Prevensi.

a.       Layanan remediasi terfokus kepada upaya menyembuhkan, mengurangi atau jika mungkin menghilangkan kesulitan . layanan ini dipersiapkan untuk mengatasi kekurangan dalam keterampilan perseptual dan berbahasa sehingga remediasi ini mengubah dan memperbaiki keterampilan murid sehingga dia dapat belajar dan kondisi normal dan tidak perlu menyiapkan kondisi sekolah khusus.

 

b.      Layanan konpensasi yaitu mangaembangkan komisi pembelajaran khusus luar kondisi yang normal atau baku yang memungkinkan murid memperoleh kemajuan yang memuaskan dalam keadaan kekurang terampilan perceptual dan bahasa. Layanan yang bersifat kompensasi ini hendaknya memperhatikan patokan atau rambu-rambu berikut :

1.      Fahami dan pastikan bahwa murid memiliki pengetahuan faktual yang diperlukan dalam mempelajari bahan ajaran

2.      Batasi jumlah informasi baru kepada hal-hal yang tercantum pada bahan atau unit ajaran dan sampaikan sedikit demi sedikit

3.      Sajikan informasi secara jelas tenteng apa yang harus murid pelajari

4.      Nyatakan secara eksplisit bahwa informasi yang diajarkan berkaitan dengan informasi yang telah dimiliki murid

5.      jika murid sudah mampu menguasai unit-unit kecil perkenalkan dia kepada unit-unit yang lebih besar

6.      Siapkan pengalaman ulang untuk memperkuat informasi baru dalam ingatan murid

 

Selanjutnya Jerome Rosner (1993), mengemukakakn petunjuk pengambilan keputusan dalam melakukan treatment sebagai berikut:

Pertama, mengidentifikasi kasus utama tentang ketunacakapan belajar yang secara signifikan mengganggu perkembangan kemempuan pokok belajara murid. Yang termasuk dalam kemampuan pokok belajar murid yaitu:

1.      Keterampilan-keterampilan perseptual, yang dapat diidentifikasi melalui system “coding” bentuk bacaan, tulisan, ejaan, dan hitungan

2.      Bahasa, yang berkaitan dengan upaya murid dalam memperoleh informasi.

 

Kedua, mengidentifikasi dan menilai kemampuan pokok belajar murid baik dalam hal keterampilan perceptual maupun bahasa

 

Ketiga, memberikan remedisi terhadap kelemahan-kelemahan melalui proses pembelajaran.

 

Tiga faktor yang perlu diperhatikan dalalm mengambil keputusan (faktor-faktor prognosik) untuk melakukan treatment, yaitu :

1.      Kasus yang mungkin terjadi baik menyangkut aspek kelemahan bahasa atau keterampilan perseptual

2.      Usia murid dan kelemahan dalamprestasi belajarnya di sekolah

3.      Tersedianya sumber-sumber emosi, fisik, waktu, dan energi yang diperlukan dalam program remedial.

 

c. Prevensi

Langkah pertama dalam prevensi adalah mengidentifikasi murid sebelum dia mengalami kesulitan atau ketunacakapan belajar di sekolah.

Langkah ini dilaksanakan melalui tes atau pemeriksaan terhadap aspek-aspek pribadi murid yaitu sebagai berikut :

1.      Kesehatan

Mengetahui kesehatan murid perlu keterangan dari dokter ahli anak (pediatrician) yang menjelaskan tentang kondisi kesehatan murid.

2.      Perkembangan

Perkembangan murid perlu dipahami itu menyengkut aspek-aspek sosial, bahasa, motor dan tingkah laku adaptif.

 

3.      Penglihatan dan Pendengaran

Untuk mengetahui kondisi penglihatan dan pendengaran murid dapat diperoleh keterangan dari dokter ahli telinga (THT)

 

4.      Keterampilan dan Perseptual

Untuk mengetahui keterampilan perseptual ini dapat melalui pemeriksaan di samping dari ahli mata juga melalui tes psikologis tentang keterampilan perceptual, penglihatan, dan pendengaran.

 

5.      Usia Pra Sekolah

Banyak anak yang masuk sekolah sebelum usia lima tahun, mereka perlu dipilih secara hati-hati apakah akan mengalami resiko atau tidak.

 

6.      Usia Masuk TK

Menurut aturan anak-anak tidak boleh masuk TK sebelum usia lima tahun. Nyatanya ditemukan anak yang belum berusia lima tahun sudah menampilkan perkembangan yang baik dalam perilaku sosial, bahasa, dan penyesuaian dirinya. Namun anak seperti itu relative masih sangat sedikit.

BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan maka dapat disimpulakan bahwa ketunacakapan belajar pada murid dapat mempengaruhi proses belajar. Kekeliruan dalam gaya penyajian dapat menimbulkan kelambanan atau kegagalan yang dialaminya dalam belajar. Oleh karena itu guru, seyognya memahami benar faktor-faktor yang dapat menimbulkan kesulitan pada muridnya, terlebih pada murid yang mengalami tuna cakap belajar. Mereka memerlukan layanan dan metode secara khusus sesuai bentuk dan tingkat kesulitannya serta cara pemecahannya melalui strategi atau bantuan yang tepat agar mereka dapat mengikuti pembelajaran dengan baik, sesuai tujuan Pendidikan Nasional.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Bush, Wilma Jo & Waugh, Kenneth W. (1976) Diagnosing Learning Disability, Ohio : Charles E. Merril Pub. Co.

Cartwright, Philip G.et. all. (1984), Educating Special Learners Wadswonth, California : Inc. Belmont.

Hallahan, P. Daniel dan Kauffman M. James, (1991) Exceptional Children Introduction to Special Education, 4 th, N.Y : Englewood Cliffs, Prenticehall, Inc.

Permanaria Somad, (1995) Bimbingan Belajar Membaca Bagi Siswa Berkesulitan Membaca. Tesis Program Pascasarjana, Tidak Diterbitkan.

Rosner, Jerome, (1993) Helping Childern Overcome Learning Defficulties, New York : Wolker and Company.

Sunaryo K & Nyoman Dantes, (1996) Landasan-landasan Pendidikan Di Sekolah Dasar, Jakarta : Proyek Pengembangan PGSD, Depdikbud.

Sutjihati Somantri, T, (1995) Masalah-masalah Psikologi Anak Luar Biasa, Depdikbud, Dikti.

 


Sejarah Terbentuknya Uang


Sejarah Terbentuknya Uang

Pada jaman dahulu sebelum masyarakat mengenal uang, orang-orang jika memerlukan suatu barang tertentu mereka akan menukarkan barang yang mereka miliki dengan barang yang mereka butuhkan hal ini disebut dengan istilah “barter”. Misalkan saja seorang petani yang ingin makan ikan laut yang menukarkan hasil panennya dengan ikan laut yang dihasilkan oleh para nelayan dari melaut. Namun pertukaran tersebut akan terjadi jika nelayan juga membutuhkan hasil pertanian petani yang dapat berupa padi/beras, buah-buahan, sayur-sayuran. Namun cara barter tersebut menimbulkan banyak kesulitan.menentukan harga suatu barang. Misalnya, ada sesorang yang memerlukan garam dan seseorang lagi memiliki sayuran-sayuran. Pemilik sayuran tersebut tidak mau menukarkan seikat sayurnya dengan sekantong kecil garam, meskipun ia sangat membutuhkan garam, karena pemilik sayur berpendapat bahwa nilai seikat sayur tidak sama dengan nilai sekantong kecil garam.

 

Untuk itu selanjutnya orang-orang mulai membuat alat tukar yang berupa barang-barang berharga, misalnya saja gigi binatang, kerangm manik-manik, kulit binatang dan logam. Alat tukar ini disebut uang barang, tapai uang barang ini haruslah diterima oleh masyarakat umum, terdapat dalam jumlah langka (sedikit), barang itu sangat disukai, mungkin karena khasiatnya, bentuknya, atau kegunaanya. Namun hal ini dikatakan kurang baik karena uang barang itu sulit dibawa jika ingin membeli sesuatu di daerah lain. Dan akhirnya, manusia membuat alat tukar baru berupa uang. agar sesuatu itu bisa diterima menjadi uang diperlukan beberapa syarat-syarat yaitu : diterima semua anak, nilainya tidak mengalami perubahan, jumlahnya mencukupi kebutuhan, mudah dibawa, tidak lekas rusak, dan terdiri atas berbagai nilai satuan.

 

Sekarang ini di negara kita telah mengenal adanya uang yang terbuat dari kertas dan logam atau yang disebut dengan uang kartal atau uang nyata. Disamping uang kartal ada juga uang giral atau uang tidak nyata, uang ini berbentuk surat-surat berharga yang dikeluarkan oleh lembaga keuangan, seperti bank, misalnya cek, wesel, depodito dan giro. Di negara kita yang bertugas merancang dan mencetak uang dilakukan Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (Perem Peruri). Pemerintah menunjuk Bank Indonesia sebagai pengawas peredaran uang di Indonesia. Setiap uang yang diedarkan memiliki nilai nominal yaitu nilai uang menurut angka yang tertera pada uang tersebut. Misalnya angka 1.000 pada bagian pojok kiri atas dan kanan bawah uang pecahan Rp. 1.000,00. Selain itu, uang juga memiliki nilai intrinsik, yang artinya nilai uang menurut bahan pembuatnya. Misalnya nilai uang intrisik uang logam lima ratusan lebih tinggi daripada uang kertas lima ratusan. Sebab, bahan untuk membuat uang logam lima ratusan lebih mahal daripada bahan untuk membuat uang kertas lima ratusan.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: