Category Archives: MODEL PEMBELAJARAN

Students-Teams-Achievement- Divisions (STAD)


Students-Teams-Achievement- Divisions (STAD),

Dalam STAD siswa dikelompokan dalam tim-tim pembelajaran dengan 4-anggota, anggota tersebut campuran ditinjau dari tingkat kinerja, jenis kelamin, dan suku. Guru mempersentasikan sebuah pelajaran dan kemudian siswa bekerja didalam tim-timnya untuk memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menuntaskan pelajaran itu. Akhirnya, seluruh siswa dikenai kuis individual tentang bahan ajar tersebut, pada saat itu mereka tidak boleh saling membantu.

Skor kuis siswa dibandingkan dengan rata-rata skor mereka yang lalu, dan pon diberikan berdasarkan seberapa jauh siswa dapat menyamai atau melampaui kinerja mereka terdahulu. Poin-poin ini kemudian dijumlah untuk mendapatkan sekor tim, dan tim-tim  yang memenuhi kriteria tertentu dapat diberi sertifikat atau penghargaan lain.

STAD telah digunakan untuk setiap mata pelajaran dari kelas II sampai perguruan tinggi. STAD paling cocok untuk mengajarkan tujuan-tujuan yang terdefinisikan dengan jelas, seperti perhitungan dan penerapan matematika, penggunaan bahasa, mekanika, geografi, keterampilan membaca peta, dan konsep-konsep sains.

Ide utama di balik STAD adalah untuk memotivasi siswa saling memberi semangat dan membantu dalam menuntaskan keterampilan-keterampilan yang dipresentasikan guru. Bila siswa ingin tim mereka mendapat penghargaan tim mereka harus membantu teman satu tim dalam mempelajari bahan ajar tersebut. Mereka harus memberi semangat teman satu timnya yang melakukan yang terbaik,menyatakan norma bahwa belajar itu penting,bermanfaat,dan menyenangkan. Siswa bekerja sama setelah guru mempresentasikan pelajaran. Mereka dapat mendiskusikan perbedaan yang ada,dan saling membantu satu sama lain saat menghadapi jalan buntu. Mereka dapat mendiskusikanpendekatan-pendekatanyang dipakai untuk memecahkan masalah,atau mereka dapat saling memberikan kuis tentang materiyang sedang mereka pelajari.mereka mengajar teman timnya dan mengakseskekuatan dan kelemahan mereka untuk membantu agar mereka berhasil dalam kuis tersebut.

Meskipun siswa belajar bersama, mereka tidak boleh saling membantu dalam mengerjakan kuis. Tanggung jawab Individual ini memotivasi siswa melakukan sebuah pekerjaan tutorial dengan baik dan saling menjelaskan satu sama lain, mengingat satu-satunya cara tim tersebut berhasil jika seluruh anggota tim telah menuntaskan informasi atau ketrampilan yang sedang dipelajarinya. Semua siswa berpeluang menjadi ”Bintang” pada suatu minggu tertentu,dengan cara memperoleh skor baik diatas skor terdahulu atau dengan skor sempurna.skor sempurna selalu menghasilkan poin maksimum tidak memandang berapapun rata-rata skor terdahulu siswa.

STAD lebih merupakan sebuah metode pengorganisasian kelas umum dari pada sebuah metode komprehensif pengajaran mata pelajaran tertentu ;guru menggunakan rencana pembelajarannya sendiri dengan bahan-bahan lain. Dinegara maju, lembar kegiatan siswa dan kuis tersedia untuk hampir seluruh mata pelajaran dari kelas III-IX, namun kebanyakan guru dapat menggunakan bahannya sendiri untuk melengkapi atau mengganti sama sekali bahan-bahan yang sudah tersedia.


Pembelajaran Kooperaktif


Pengertian Pembelajaran Kooperaktif

Model pembelajaran koperatif merupakan teknik-teknik kelas peraktis yang dapat digunakan guru setiap hari untuk membentu siswanya belajar setiap mata pelajaran. Dalam model pembelajaran koperaktif, siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil saling membatu belajar satu sama lainnya. Kelompok-kelompok tersebut beranggotakan siswa dengan hasil belajar tinggi, rata-rata, dan rendah , laki-laki dan perempuan, siswa dengan latar belakang suku berbeda yang ada dikelas dan siswa penyandang cacat bila ada.
Model pembelajar koperaktif menciptakan sebuah revolusi pembelajaran di dalam kelas. Sehingga tidak ada sebuah kelas yang sunyi selama proses pembelajaran dan dapat kita ketahui bahwa pembelajaran yang terbaik di tengah-tengah percakapan di antara siswa. Dengan menciptakan suatu lingkungan kelas baru tempat siswa secara rutin dapat membantu satu sama lain guna menuntaskan bahan ajar akademiknya.
Pembelajaran tim siswa ( Student team learning ) merupakan sebuah perangkat tehnik pengajaran peraktis yang melibatkan siswa dalam kegiatan-kegiatan kopratif disekitar pembelajaran mata pelajaran sekolah ini merupakan tehnik-tenik yang dikembangkan dan diteliti di John Hopkins Universiti. Tehnik-tehnik tersebut merupakan alternatif bagi pengajaran tradisional yang dapat digunakan sebagai alat permanen bagi pengorganisasian kelas agar dapat mengajar secara efektif berbagai macam mata pelajaran pada setiap kelas mulai dari kelas 2 sekolah dasar sampai keperguruan tinggi. Model pembelajaran tim siswa bukan merupakan satu-satunya model pembelajaran koperaktif yang digunakan secara luas. Model tersebut bersama-sama dengan model pembelajaran koperaktif yang lain menerapkan ide bahwa siswa bekerja sama untuk belajar dan bertanggung jawab terhadap pembelajarn teman sekelompoknya serta bertanggung jawab atas pembelajarannya sendiri. 3 (tiga) konsep berikut ini merupakan kunci utama bagi seluruh model pembelajaran tim siswa : penghargaan tim, tanggung jawab individual, dan kesempatan yang sama untuk berhasil
1. penghargaan tim pembelajaran. Merupakan tim-tim yang dapat diberi sertivikat atau penghargaan tim –tim lainnya apabila mereka mencapai atau diatas keriteria yang diungkapkan.
2. tanggung jawab indivudaul berarti bahwa keberhasilan tim tersebut tergantung pada hasil pembelajarn individual dari seluruh anggota tim.
3. kesempatan yang sama untuk berhasil berarti bahwa siswa menyumbang kepada tim mereka dengan menyumbang kepada tim mereka dengan perbaikan tiatas kinerja meraka.

Model-Model Pembelajaran Kooperatif

Lima model pembelajar tim siswa telah dikembangkan dan diteliti secara luas. Terdapat tiga model pembelajaran kooperatif umum yang cocok untuk hampir seluruh mata pelajaran dan tingkat kelas : Students-Teams-Achievement- Divisions (STAD), Team-Games-Tournament (TGT), dan Jigsaw II. Dua yang lain merupakan kurikulum komprehensif yang dirancang untuk digunakan pada mata pelajaran tertentu pada tingkat kelas tertentu : cooperative integrative reading and compotian (CIRC) untuk pengajaran membaca dan menulis dikelas II – VIII dan Team Accelerativ Intrucstioan ( TAI) untuk matematika pada kelas III – VI. Model-model ini seluruhnya menerapkan penghargaan tim, tanggung jawab, dan kesempatan yang sama untuk berhasil, namun dilakukan dengan cara-cara berbeda.


Model Pembelajaran Kooperatif


Model Pembelajaran Kooperatif

a.   Pengertian Pembelajaran Kooperatif

Pada abad pertama Masehi ide awal pembelajaran kooperatif muncul dari filosof yang mengemukakan bahwa dalam mengajar seseorang harus memiliki pasangan atau teman, sehingga teman tersebut dapat diajak untuk memecahkan masalah. Pembelajaran kooperatif pertama kali dirancang oleh Elliot Arison dkk, yang selanjutnya model ini dikembangkan oleh Robert Slavin. Model pembelajaran kooperatif tumbuh dari suatu tradisi pendidikan yang menekankan berfikir dan latihan, bertindak demokratis, pembelajaran aktif, saling memberi dan menerima, bekerjasama dan saling menghormati dalam perbedaan. Pembelajaran kooperatif mengacu pada pengajaran dimana siswa bekerja sama dalam kelompok kecil (4-5) yang memiliki kemampuan yang heterogen dan saling membantu satu sama lain dalam mengajar.

Nurhadi, dkk. (2004: 61) mendefinisikan bahwa “pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar dan sengaja mengembangkan interaksi yang silih asuh untuk menghindari ketersinggungan dan kesalahpahaman yang dapat menimbulkan permusuhan”. Dengan ringkas Abdurrahman dan Bintoro (dalam Nurhadi, dkk. (2004: 61) mengatakan bahwa “pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar dan sistematis mengembangkan interaksi yang silih asah, silih asih, dan silih asuh antar sesama siswa sebagai latihan hidup di dalam masyarakat nyata”.

Mohamad Nur (2005: 1) menyatakan bahwa,

Model pembelajaran kooperatif merupakan teknik-teknik kelas praktis yang dapat digunakan guru setiap hari untuk membantu siswanya belajar setiap mata pelajaran, mulai dari keterampilan-keterampilan dasar sampai pemecahan masalah yang kompleks. Dalam model pembelajaran kooperatif, siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil saling membantu belajar satu sama lainnya. Kelompok tersebut beranggotakan siswa dengan hasil belajar tinggi, rata-rata, dan rendah; laki-laki dan perempuan; siswa dengan latar belakang suku berbeda yang ada di kelas; dan siswa penyandang cacat bila ada. Kelompok beranggotakan heterogen ini tinggal bersama selama beberapa minggu, sampai mereka dapat belajar bekerja sama dengan baik sebagai sebuah tim.

Slavin (Manning & Lucking, 1991) dan Rusdi (1998) mendefinisikan bahwa,

Pembelajaran kooperatif sebagai suatu teknik pengajaran dimana siswa bekerja dalam kelompok yang anggotanya antara empat orang sampai dengan enam orang. Pembelajaran kooperatif memunculkan kerjasama antar siswa dari semua tingkatan untuk bekerjasama dalam rangka mencapai tujuan. Slavin dan Rusdi juga mengatakan bahwa dalam belajar kelompok, siswa bukan mengerjakan sesuatu sebagai suatu tim, melainkan sesuatu sebagaimana suatu tim (dalam Badra, dkk. 2005: 8).

Wina Sanjaya (2008: 242) mendefinisikan “pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran dengan menggunakan sistem pengelompokan/tim kecil, yaitu antara empat sampai enam orang yang mempunyai latar belakang kemampuan akademik, jenis kelamin, ras, atau suku yang berbeda (heterogen)”.

Pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang sangat tepat diterapkan untuk meningkatkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran dibandingkan cara pembelajaran konvesional, karena cara ini sedikit melibatkan siswa baik fisik maupun mental selama proses KBM.

Tantra dan Tengah (1999) (dalam Yogi Parta Lesmana, 2007: 15) menyebutkan bahwa,

Belajar kooperatif siswa diberi dua macam tanggung jawab yang harus mereka laksanakan. Pertama, semua siswa terlibat dalam mempelajari dan menyelesaikan materi tugas yang diberikan guru. Kedua, meyakinkan bahwa semua anggota dalam kelompok mengerti dan memahami tentang tugas yang diberikan. Dengan demikian siswa dapat meyakinkan dirinya bahwa hasil yang akan diperoleh mempunyai manfaat bagi diri mereka dan siswa lain dalam kelompok tersebut.

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerjasama dan berinteraksi di dalam kelompok kecil (4-6 orang) dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuannya sendiri (individu) dan mencapai tujuan bersama (kelompok).

  1. b. Unsur-Unsur Dasar Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif adalah suatu sistem yang di dalamnya terdapat elemen-elemen yang saling terkait. Menurut Abdurrahman & Bintoro (dalam Nurhadi, dkk. 2004: 61) ada empat unsur pokok yang harus diperhatikan oleh guru dalam pembelajaran kooperatif, yaitu:

1)      Saling ketergantungan positif

Dalam pembelajaran kooperatif guru mendorong siswa agar merasa saling membutuhkan satu dengan yang lainnya. Hubungan yang saling membutuhkan inilah yang disebut saling “ketergantungan positif”. Saling ketergantungan ini akan memberikan motivasi kepada siswa untuk meraih hasil belajar yang optimal.

2)      Interaksi tatap muka

Dalam hal ini siswa dapat saling bertatap muka sehingga dapat melakukan dialog, tidak hanya dengan guru tetapi juga dengan teman sesama. Interaksi ini akan memungkinkan para siswa dapat saling menjadi sumber belajar sehingga sumber belajar lebih bervariasi.

3)      Akuntabilitas individual

Biarpun wujud pembelajaran kooperatif dalam bentuk kelompok, tetapi penilaian tetap ditujukan untuk mengetahui penguasaan materi pelajaran secara individu. Disinilah diperlukan tanggung jawab masing-masing anggota kelompok demi kemajuan kelompoknya. Nilai kelompok yang diperoleh dalam kelompok tetap mengacu kepada nilai individual masing-masing anggota kelompok. Dalam satu kelompok akan kelihatan mana anggota kelompok yang kurang dan harus mendapat perhatian. Setiap kelompok diwajibkan melakukan evaluasi diri tentang keberhasilan belajar mereka sendiri.

4)      Keterampilan menjalin hubungan antar pribadi

Unsur ini menghendaki agar siswa dibekali dengan berbagai keterampilan sosial seperti: tenggang rasa, sikap sopan terhadap teman, mengkritik ide dan bukan mengkritik teman, berani mempertahankan pikiran logis, dan keterampilan berkomunikasi dalam kelompok merupakan proses yang bermanfaat dalam menjalin hubungan antar pribadi dan perlu ditempuh untuk memperkaya pengalaman belajar dan pembinaan mental serta emosional para siswa.

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa dalam pembelajaran kooperatif, siswa akan lebih aktif dalam proses pembelajaran karena siswa dibelajarkan dalam kelompok khususnya kelompok kooperatif. Dalam kelompok kooperatif siswa dapat berinteraksi dengan siswa yang lain tidak saja hanya dengan guru tetapi dengan teman sebaya.

Abdurrahman dan Bintoro (dalam Nurhadi, dkk. 2004: 62) mengemukakan bahwa “kelompok belajar siswa kooperatif memiliki beberapa perbedaan dari pada kelompok tradisional”. Perbedaan tersebut dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 2.1 Perbedaan kelompok Kooperatif dengan Kelompok Tradisional

Kelompok Kooperatif Kelompok Tradisional
Saling ketergantungan positif Adanya anggota yang mendominasi atau bergantung pada kelompok atau anggota lain
Akuntabilitas individual Tugas-tugas sering diborong oleh salah seorang anggota kelompok
Anggota kelompok heterogen Anggota kelompok homogen
Pimpinan kelompok dipilih secara demokratis Pimpinan kelompok sering ditentukan oleh guru
Saling membantu dan saling memberikan motivasi Kadang yang bekerja hanya satu, dua orang
Penyelesaian tugas mempertahankan hubungan interpersonal Penyelesaian tugas tanpa memperhatikan hubungan interpersonal
Keterampilan sosial dibutuhkan Tidak membutuhkan keterampilan sosial
Guru melakukan observasi dan intervensi kelompok Guru sering tidak melakukan observasi dan intervensi kelompok
Guru memperhatikan keefektifan proses kelompok belajar Guru sering tidak peduli dengan keefektifan proses

  1. c. Keunggulan atau Kelebihan Model Pembelajaran Kooperatif

Menurut pendapat Spencer Kangan (dalam Yogi Parta Lesmana, 2007: 19) dalam pembelajaran kooperatif terdapat 17 kelebihan di dalam penerapan pembelajaran kooperatif diantaranya yaitu:

1)            Prestasi akademik: dengan menerapkan kooperatif prestasi akademik siswa dapat ditingkatkan.

2)            Ethnic/hubungan ras: dengan penerapan pembelajaran kooperatif di dalam kelas dapat meningkatkan persahabatan dan peningkatan polarisasi garis ras antar siswa.

3)            Penghargaan diri: dengan pembelajaran kooperatif siswa akan dapat menerima orang lain, dimana hal ini dapat meningkatkan prestasi siswa mengarah pada peningkatan penghargtaan diri.

4)            Empati: melalui belajar kooperatif siswa lebih dapat memahami pandangan dan perasaan orang lain.

5)            Kemampuan sosial: melalui penerapan pembelajaran kooperatif, kemampuan sosial akan meningkat dalam memecahkan masalah, memimpin dan sikap menghargai sesama.

6)            Hubungan sosial: siswa dalam pembelajaran kooperatif merasa diterima dan memperhatikan sehingga menumbuhkan rasa saling menerima satu sama yang lainnya.

7)            Suasana kelas: pembelajaran dengan setting kelas kooperatif dapat menciptakan suasana kelas yang menyenangkan sehingga mendukung pada peningkatan akademik.

8)            Tanggung jawab: melalui belajar kooperatif siswa akan lebih dapat mengendalikan diri serta dapat banyak inisiatif yang dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab pada diri sendiri, sehingga mereka merasa sebagai diri sendiri bukan sebagai pesuruh.

9)            Kemampuan membedakan: dalam belajar kooperatif, siswa bekerja dalam kelompok yang memiliki kemampuan berbeda sehingga hasil dari kerja kelompok tersebut merupakan keragaman sumbangan dari tiap kelompok.

10)        Kemampuan berpikir tingkat tinggi: dengan belajar kooperatif siswa tertantang untuk berinteraksi dengan teman sejawat yang memiliki pola pikir yang berbeda, sehingga mampu mendorong tiap anggota kelompok untuk menginterprestasikan suatu pola pikir dalam memecahkan suatu masalah dengan analisis tingkat tinggi.

11)        Pertanggung jawaban individu: dalam pembelajaran kooperatif semua siswa terlibat sehingga siswa tidak ada yang merasa terabaikan, hal ini akan menumbuhkan rasa tanggung jawab pada setiap siswa.

12)        Partisipasi yang sejajar: penilaian dalam belajar kooperatif adalah secara kelompok bukan individu sehingga tidak ada yang terlewatkan (setiap siswa punya pembagian waktu yang sama).

13)        Meningkatkan partisipasi: dalam pembelajaran kooperatif memerlukan lebih banyak waktu untuk berpartisipasi dibandingkan dengan pembelajaran tradisional.

14)        Orientasi sosial: dengan kelas kooperatif siswa akan memperoleh kesempatan sama untuk sukses, dibandingkan dalam kelas tradisional kesuksesan hanya diperoleh beberapa siswa saja.

15)        Orientasi pembelajaran: dengan pembelajaran kooperatif siswa lebih sering menyatukan tujuan yang matang dan menjadi yang terbaik dalam kelompok, dibandingkan pembelajaran tradisional siswa mengerjakan tugas hanya untuk mencari nilai.

16)        Pengetahuan diri dan realisasi diri: melalui interaksi dalam kelompok siswa akan mengetahui kekurangan maupun kelebihan yang mereka miliki melalui balikan yang diberikan oleh yang lain.

17)        Kemampuan ditempat kerja: dengan pembelajaran kooperatif siswa tahu bagaimana cara bekerja dalam suatu kelompok dan saling membantu untuk mencapai tujuan yang sama, hal ini dapat sebagai bekal dikemudian hari.

  1. d. Manfaat Model Pembelajaran Kooperatif

Menurut Widiarsa (dalam Yogi Parta Lesmana, 2007: 22), ada beberapa manfaat yang akan diperoleh siswa apabila menerapkan pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut.

1)      Memperluas perspektif intelektual siswa

2)      Merangsang berpikir siswa

3)      Memberikan peluang kepada siswa untuk terlibat lebih aktif

4)      Meningkatkan interaksi dalam mencapai tujuan belajar

5)      Saling mengisi dalam memecahkan masalah

6)      Membentuk siswa untuk tidak menjadi egois.

  1. e. Jenis-Jenis Model Pembelajaran Kooperatif

Meskipun berbagai prinsif pembelajaran kooperatif tidak berubah, secara garis besarnya Slavin (dalam Yogi Parta Lesmana, 2007: 22) mengatakan bahwa ada enam model pembelajaran kooperatif yang biasa diterapkan oleh guru yaitu:

  1. Devisi Tim Siswa Berprestasi (Student Team Achievement Division)

Dalam model ini siswa belajar sebagai sebuah tim dan memberi kontribusi kepada tim lainnya untuk dapat berprestasi secara optimal. Siswa diatur berkelompok dengan kemampuan beragam dan setiap minggu diberikan soal sebagai masalah yang dipecahkan bersama.

  1. Tim Turnamen Bermain (Teams Games Tournament)

Sama seperti divisi siswa berprestasi tetapi pada minggu kedua pembelajaran mingguan diganti dengan pertandingan antara anggota dalam kelompok. Umumnya anggota kelompok ini bersifat homogen dalam kemampuan. Setiap kelompok terdiri dari 5-6 orang yang dipilih dari kelompok kemampuan beragam untuk berkompetisi serta memperoleh angka.

  1. Tim Individu Berbantu (Teams Acited Individualitation)

Pada dasarnya bentuk ini merupakan kombinasi antara belajar secara kooperatif dengan belajar secara individual. Siswa tetap dikelompokkan, tetapi siswa sesuai dengan kecepatan dan kemampuannya masing-masing. Masing-masing anggota saling membantu dan saling mengecek.

  1. Gergaji Silang (Jigsaw)

Teknik ini mengisyaratkan setiap anggota kelompok diberi tugas berbeda serta kemudian diharapkan dirinya untuk menceritakan kepada teman lainnya tentang sesuatu yang pernah dipelajarinya.

  1. Investigasi Kelompok (Group Investigation)

Sama seperti gergaji silang, hanya siswa salah satu anggota kelompok menyajikan kepada tim lainnya tentang apa yang telah dipelajari.

  1. Belajar Bersama (Learning Together)

Anggota kelompok bersifat heterogen dan menyelesaikan sebuah masalah bersama, dan bila mereka berhasil memperoleh ganjaran positif secara kelompok.


Hakikat belajar, prestasi belajar dan aktivitas belajar


1. Hakikat Belajar

Menurut Hakim (2005:1) “belajar adalah suatu proses perubahan di dalam kepribadian manusia, dan perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, keterampilan, daya pikir, dan lain-lain kemampuan”.  Ahli lainnya Slameto (2003:13) menyatakan “belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.

belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu perubahan yang baru sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam suatu situasi.

Berdasarkan pengertian di atas maka dapat disintesiskan bahwa belajar adalah perubahan serta peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seseorang diberbagai bidang yang terjadi akibat melakukan interaksi terus menerus dengan lingkungannya. Jika di dalam proses belajar tidak mendapatkan peningkatan kualitas dan kuantitas kemampuan, dapat dikatakan bahwa orang tersebut mengalami kegagalan di dalam proses belajar.

2. Aktivitas Belajar

Aktivitas belajar adalah segala kegiatan yang dilaksanakan baik secara jasmani atau rohani selama proses pembelajaran. Aktivitas belajar merupakan salah satu indikator adanya keinginan siswa untuk belajar. Aktivitas belajar yang dimaksud adalah aktivitas yang mengarah pada proses belajar seperti bertanya, mengajukan pendapat, mengerjakan tugas-tugas, dapat menjawab pertanyaan guru dan bisa bekerjasama dengan siswa lain, serta tanggung jawab terhadap tugas yang diberikan.

Trinandita (dalam Yasa, 2008:1) menyatakan “hal yang paling mendasar yang dituntut dalam proses pembelajaran adalah keaktifan siswa”. Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran akan menyebabkan interaksi yang tinggi antara guru dengan siswa atau pun  siswa dengan siswa. Hal ini akan mengakibatkan suasana kelas menjadi segar dan kondusif, dimana masing-masing siswa dapat melibatkan kemampuannya semaksimal mungkin. Aktivitas belajar yang timbul dari siswa akan mengakibatkan terbentuknya pengetahuan dan keterampilan yang akan mengarah pada peningkatan prestasi.

Dimyati (dalam Adijaya, 2004:12) menyatakan “aktivitas belajar siswa selama proses pembelajaran merupakan salah satu indikator adanya keinginan siswa untuk belajar”. Siswa memiliki keaktifan apabila ditemukan ciri-ciri prilaku sebagai berikut.

1)      Antusiasme siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.

2)      Interaksi siswa dengan guru.

3)      Interaksi siswa dengan siswa.

4)      Kerjasama kelompok.

5)      Aktivitas belajar siswa dalam diskusi kelompok.

6)      Aktivitas belajar siswa dalam mengikuti pembelajaran.

7)      Aktivitas belajar siswa dalam menggunakan alat peraga.

8)      Partisipasi siswa dalam menyimpulkan materi.

Aktivitas belajar siswa merupakan kegiatan atau prilaku siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Keaktifan siswa akan menyebabkan suasana pembelajaran akan lebih hidup karena siswa mau aktif untuk belajar.

3.  Prestasi Belajar

Poerwadarminta (1987:767) menyatakan “prestasi belajar adalah hasil yang dicapai sebaik-baiknya menurut kemampuan anak pada waktu tertentu terhadap hal-hal yang dikerjakan atau dilakukan”. Jadi prestasi belajar  adalah

hasil belajar yang telah dicapai dan ditandai dengan perkembangan serta perubahan tingkah laku pada diri seseorang yang diperlukan dari belajar dengan waktu tertentu, prestasi belajar ini dapat dinyatakan dalam bentuk nilai dan hasil tes atau ujian.

Ahmadi (dalam Samier, 2008:1) menyatakan “setiap aktivitas yang dilakukan oleh seseorang tentu ada faktor – faktor yang mempengaruhinya, baik yang cenderung mendorong maupun yang menghambat”. Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa itu adalah sebagai berikut.

1)      Faktor Internal.

Faktor internal ada1ah faktor yang berasal dari dalam diri siswa. Faktor ini dapat dibagi dalam beberapa bagian, yaitu:

(a)      Faktor lntelegensi

Intelegensi ini memegang peranan yang sangat penting bagi prestasi belajar siswa. Karena tingginya peranan intelegensi dalam mencapai prestasi belajar maka guru harus memberikan perhatian yang sangat besar terhadap bidang studi yang banyak membutuhkan berpikir rasiologi untuk mata pelajaran matematika.

(b)     Faktor Minat

Minat adalah kecenderungan yang mantap dalam subjek untuk merasa tertarik pada bidang tertentu. Siswa yang kurang beminat dalam pelajaran tertentu akan menghambat dalam belajar.

(c)      Faktor Keadaan Fisik dan Psikis

Keadaan fisik menunjukkan pada tahap pertumbuhan, kesehatan jasmani, keadaan alat-alat indera dan lain sebagainya. Keadaan psikis menunjuk pada keadaan stabilitas/labilitas mental siswa, karena fisik dan psikis yang sehat sangat berpengaruh positif terhadap kegiatan pembelajaran dan sebaliknya.

2)      Faktor Eksternal

Faktor eksternal adalah faktor dari luar diri siswa yang mempengaruhi prestasi belajar. Faktor eksternal dapat dibagi rnenjadi beberapa bagian, yaitu:

(a)      Faktor Guru

Guru sebagai tenaga berpendidikan memiliki tugas menyelenggarakan kegiatan pembelajaran, membimbing, melatih, mengolah, meneliti dan mengembangkan serta memberikan penalaran teknik karena itu setiap guru harus memiliki wewenang dan kemampuan profesional, kepribadian dan kemasyarakatan.

Guru juga menunjukkan fleksibilitas yang tinggi yaitu pendekatan deduktif dan gaya memimpin kelas yang selalu disesuaikan dengan keadaan, situasi kelas yang diberi pelajaran, sehingga dapat menunjang tingkat prestasi siswa semaksimal mungkin.

(b)     Faktor Lingkungan Keluarga

Lingkungan keluarga turut mempengaruhi kemajuan hasil kerja, bahkan mungkin dapat dikatakan menjadi faktor yang sangat penting, karena sebagian besar waktu belajar dilaksanakan di rumah, keluarga kurang mendukung situasi belajar. Seperti kericuhan keluarga, kurang perhatian orang tua, kurang perlengkapan belajar akan mempengaruhi berhasil tidaknya siswa belajar.

(c)      Faktor Sumber-sumber Belajar

Sumber belajar itu dapat berupa media/alat bantu belajar serta bahan baku penunjang. Alat bantu belajar merupakan semua alat yang dapat digunakan untuk membantu siswa dalam melakukan perbuatan belajar. Maka pelajaran akan lebih menarik, menjadi konkret, mudah dipahami, hemat waktu dan tenaga serta hasil yang lebih bermakna.


Metode Inkuiri Dalam Pembelajaran Matematika


Metode Inkuiri Dalam Matematika

Sebagai suatu metode pembelajaran dari sekian banyak metode pembelajaran yang ada, inkuiri menempatkan guru sebagai fasilitator, guru membimbing siswa jika diperlukan. Dalam metode ini, siswa didorong untuk berpikir sendiri, menganalisis sendiri, sehingga dapat menemukan perinsip umum berdasarkan bahan atau data yang telah disediakan oleh guru. Sampai seberapa jauh siswa dibimbing, tergantung pada kemampuannya dan materi yang sedang dipelajari.

Dharma (2008:11) menyatakan bahwa “dengan metode inkuiri, siswa dihadapkan kepada situasi untuk menyelidiki secara bebas dan menarik kesimpulan. Terkaan, intuisi, dan mencoba-coba (trial and error)”. Guru bertindak sebagai penunjuk jalan membantu siswa agar mempergunakan ide, konsep, dan keterampilan yang sudah mereka pelajari  sebelumnya untuk mendapatkan pengetahuan yang baru. Pengajuan pertanyaan yang tepat oleh guru akan merangsang kreativitas siswa dan membantu mereka dalam menemukan pengetahuan yang baru tersebut. Metode ini memerlukan waktu yang relatif banyak dalam pelaksanaannya, akan tetapi hasil belajar yang dicapai tentunya sebanding dengan waktu yang digunakan. Pengetahuan yang baru akan melekat lebih lama apabila siswa dilibatkan secara langsung dalam proses pemahaman dan mengkonstruksi sendiri konsep atau pengetahuan tersebut. Metode ini bisa dilakukan baik secara perseorangan maupun kelompok. Beberapa materi seperti menemukan rumus luas lingkaran, dalil phytagoras, volume tabung, dan sebagainya sangat terbantu dalam menanamkan konsep matematika. Dengan metode Inkuiri guru bisa meminimalisir bentuk-bentuk pengumuman saja dari rumus tersebut, tetapi lebih pada upaya siswa yang diarahkan menemukan konsep itu dibawah bimbingan guru.

Agar pelaksanaan metode inkuiri ini berjalan dengan efektif, beberapa langkah yang mesti ditempuh oleh guru adalah sebagai berikut.

1)      Merumuskan masalah yang akan diberikan kepada siswa dengan data secukupnya. Perumusannya harus jelas, hindari pernyataan yang menimbulkan salah tafsir sehingga arah yang ditempuh siswa tidak salah.

2)      Dari data yang diberikan guru, siswa menyusun, memproses, mengorganisir, dan menganalisis data tersebut. Dalam hal ini, bimbingan guru dapat diberikan sejauh yang diperlukan saja. Bimbingan ini sebaiknya mengarahkan siswa untuk melangkah ke arah yang hendak dituju, melalui pertanyaan-pertanyaan, atau LKS.

3)      Siswa menyusun konjektur (prakiraan) dari hasil analisis yang dilakukannya.

4)      Bila dipandang perlu, konjektur (prakiraan) yang telah dibuat oleh siswa tersebut diperiksa oleh guru. Hal ini penting dilakukan untuk meyakinkan kebenaran prakiraan siswa, sehingga akan menuju arah yang hendak dicapai.

5)      Apabila telah diperoleh kepastian tentang kebenaran konjektur tersebut, maka verbalisasi konjektur sebaiknya diserahkan kepada siswa untuk menyusunnya. Di samping itu perlu diingat pula bahwa induksi tidak menjamin 100% kebenaran konjektur.

6)       Sesudah siswa menemukan apa yang dicari, hendaknya guru menyediakan soal latihan atau soal tambahan untuk menguji hasil penemuan .

Metode inkuiri juga mempunyai kelebihan dan kekurangan. Adapun kelebihan dan kekurang dari metode inkuiri adalah:

1) Kelebihan Metode Inkuiri

Menurut suryobroto (2002:201), ada bebrapa kelebihan inkuiri antara lain:

(a)        Membantu siswa mengembangkan atau memperbanyak persediaan dan penguasaan keterampilan dan proses kognitif siswa.

(b)       Membangkitkan gairah pada siswa misalkan siswa merasakan jerih payah penyelidikannya, menemukan keberhasilan dan kadang-kadang kegagalan.

(c)        Memberi kesempatan pada siswa untuk bergerak maju sesuai dengan kemampuan.

(d)       Membantu memperkuat pribadi siswa dengan bertambahnya kepercayaan pada diri sendiri melalui proses-proses penemuan.

(e)        Siswa terlibat langsung dalam  belajar sehingga termotivasi untuk belajar.

(f)        Strategi ini berpusat pada siswa, misalkan memberi kesempatan kepada mereka dan guru berpartisipasi sebagai teman belajar, terutama dalam situasi penemuan yang jawabanya belum diketahui.

2) Kelemahan Metode Inkuiri

Kelemahan inkuiri menurut Suryobroto (2002:201) adalah sebagai berikut.

(a)        Dipersyaratkan keharusan ada persiapan mental untuk cara belajar ini.

(b)       Pembelajaran ini kurang berhasil dalam kelas besar, misalnya sebagian waktu hilang karena membantu siswa menemukan teori-teori atau menemukan bagaimana ejaan dari bentuk kata-kata tertentu.

(c)        Harapan yang ditumpahkan pada metode ini mungkin mengecewakan siswa yang sudah biasa dengan perencanaan dan pembelajaran secara tradisional jika guru tidak menguasai pembelajaran inkuiri.


METODE PEMBELAJARAN INKUIRI


Metode  Inkuiri

Untuk mengetahui secara jelas mengenai pengertian metode inkuiri, maka di bawah ini telah dirumuskan oleh beberapa ahli mengenai definisi metode inkuiri sabagai berikut.

Sumantri (1998:164) menarik kesimpulan sebagai berikut,

Metode inkuiri atau metode penemuan adalah cara penyajian pelajaran yang memberi kesempadan kepada peserta didik untuk menemukan informasi dengan atau tanpa bantuan guru. Metode penemuan melibatkan peserta didik dalam proses-proses mental dalam rangka penemuan memungkinkan para peserta didik menemukan sendiri informasi-informasi yang diperlukan untuk mencapai tujuan belajarnya.

Ahli lain seperti Nurhadi (2004:122) berpendapat bahwa “dalam pembelajaran dengan penemuan/inkuiri, siswa didorong untuk belajar sebagaian besar melalui keterlibatan aktif dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip, dan guru mendorong siswa untuk memiliki pengalaman dan melakukan percobaan yang memungkinkan mereka menemukan prinsip-prinsip untuk diri mereka”.

Phillips (dalam Arnyana, 2007:39) mengemukakan “inkuiri merupakan pendekatan pembelajaran yang dapat diterapkan pada semua jenjang pendidikan. Pembelajaran dengan pendekatan ini sangat terintegrasi meliputi penerapan proses sains yang menerapkan proses berpikir logis dan berpikir kritis”. Ahli lain seperti Sanjaya (2008:196) berpendapat bahwa “strategi pembelajaran inkuiri adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan”.

Menyimak pendapat para ahli tersebut  mengenai metode inkuiri, meskipun dengan rumusan yang berbeda-beda namun dari segi makna tidak saling bertentangan karena sama-sama memberikan tekanan bahwa metode inkuiri itu adalah kegiatan pembelajaran yang melibatkan seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki sesuatu masalah secara kritis, logis, dan analis sehingga siswa dapat menemukan jawaban atau pemecahan dari masalah tersebut.

Joyce (dalam Gulo, 2005:194) menyatakan bahwa kondisi-kondisi umum yang merupakan syarat timbulnya kegiatan inkuiri bagi siswa adalah: (1) aspek sosial di dalam kelas dan suasana bebas terbuka dan permisif yang mengundang siswa berdiskusi, (2) berfokus pada hipotesis yang perlu diuji kebenarannya, dan (3) penggunaan fakta sebagai evidensi dan di dalam proses pembelajaran dibicarakan validitas dan reliabilitas tentang fakta, sebagaimana lazimnya dalam pengujian hipotesis

Sudrajat, (2008:1) menyatakan, “proses inkuiri dilakukan melalui tahapan-tahapan sebagai berikut. (1) merumuskan masalah, (2) mengembangkan hipotesis, (3) menguji jawaban tentative, (4) menarik kesimpulan, (5) menerapkan kesimpulan dan generalisasi”.

Tahapan-tahapan dalan Proses menerapkan metode inkuiri tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.

1)      Merumuskan masalah

Kemampuan yang dituntut adalah: (a) kesadaran terhadap masalah, (b) melihat pentingnya masalah, dan (c) merumuskan masalah.

2)      Mengembangkan hipotesis

Kemampuan yang dituntut dalam mengembangkan hipotesis ini adalah: (a) menguji dan menggolongkan data yang dapat diperoleh, (b) melihat dan merumuskan hubungan yang ada secara logis, dan merumuskan hipotesis.

3) Menguji jawaban tentative

Kemampuan yang dituntut adalah: (a) menyusun peristiwa, terdiri dari: mengidentifikasi peristiwa yang dibutuhkan, mengumpulkan data, dan mengevaluasi data,  (b) menyusun data, terdiri dari: mentranslasikan data, menginterpretasikan data, dan mengklasifikasikan data, (c) analisis data, terdiri dari: melihat hubungan, mencatat persamaan dan perbedaan, dan mengidentifikasikan datan, konsekuensi, dan keteraturan.

4) Menarik kesimpulan

Kemampuan yang dituntut adalah: (a) mencari pola dan makna hubungan, dan (b) merumuskan kesimpulan

5)      Menerapkan kesimpulan dan generalisasi

Guru dalam mengembangkan sikap inkuiri di kelas mempunyai peranan sebagai konselor, konsultan, teman yang kritis dan fasilitator. Guru harus dapat membimbing dan merefleksikan pengalaman kelompok, serta memberi kemudahan bagi kerja kelompok.


Pembelajaran kooperatif tipe TAI (Team Assited Individualization atau Team Accelarated Instruction)


Pembelajaran kooperatif tipe TAI (Team Assited Individualization atau Team Accelarated Instruction)

Pembelajaran  kooperatif  tipe  TAI  ini  dikembangkan  oleh  Slavin.  Team Accelerated Instruction atau Team Assisted Individuallization memiliki persamaan dengan STAD dan TGT dalam penggunaan tim-tim pembelajaran empat anggota berkemampuan heterogen dan pemberian sertifikat untuk tim yang berkinerja tinggi. Bedanya bila STAD dan TGT menggunakan sebuah tatanan pengajaran tunggal untuk kelas, TAI menggabungkan pembelajaran kooperatif dengan pengajaran individual. Disamping itu, bila STAD dan TGT diterapkan pada hampir semua kelas 3-4.

Pada TAI, siswa masuk dalam sebuah urutan kemampuan individual sesuai dengan hasil tes penempatan dan kemudian maju sesuai dengan kecepatannya sendiri. Pada umumnya, anggota tim bekerja pada unit-unit bahan ajar yang berbeda. Siswa saling memeriksa pekerjaan teman sesama tim dengan dipandu oleh lembar jawaban dan saling membantu dalam memecahkan setiap masalah. Tes unit akhir dikerjakan tanpa bantuan teman sesama tim dan diskor segera.

Karena siswa memiliki tanggung jawab untuk saling memeriksa pekerjaan mereka dan mengelola aliran bahan ajar, guru dapat menggunakan sebagian besar waktu pelajaran untuk mempresentasikan pelajaran kepada kelompok-kelompok kecil siswa yang berasal, dari berbagai tim yang sedang bekerja pada pokok bahasan yang sama pada urutan pelajaran matematika. Misalnya, guru dapat memanggil siswa-siswa yang sedang bekerja pada pokok bahasan desimal, mempresentasikan sebuah pelajaran tentang desimal, dan kemudian meminta siswa-siswa tersebut kembali ketim mereka untuk mengerjakan masalah desimal. Kemudian guru dapat memanggil siswa yang sedang bekerja pada pokok bahasan pecahan, dan seterusnya.

TAI memiliki dinamika motivasi sebanyak yang memiliki STAD dan TGT. Siswa terdorong dan saling membantu satu sama lain agar berhasil karena mereka ingin tim mereka berhasil. Tanggung jawab individual terjamin karena satu-satunya skor yang diperhitungkan adalah skor tes final, dan siswa mengerjakan tes tersebut tanpa bantuan teman sesama tim. Siswa memiliki kesempatan yang sama untuk berhasil karena semua siswa telah ditempatkan sesuai dengan tingkat pengetahuan awal mereka.

Bagaimana pun juga, individualisasi yang merupakan bagian dari TAI tersebut membuat TAI jelas berbeda dari STAD dan TGT. Dalam pelajaran hampir seluruh konsep dibangun diatas konsep sebelumnya. Bila konsep-konsep sebelumnya tersebut belum dikuasai, konsep-konsep berikutnya akan sulit atau tidak mungkin dipelajari seorang siswa yang tidak dapat mengurangi atau mengalilkan akan gagal memahami pembagian panjang,seorang siswa yang tidak memahami konsep-konsep pecahan akan gagal untuk memahami apakah suatu desimal itu,dan seterusnya. Dalam TAI, siswa bekerja pada kecepatan mereka sendiri, sehingga apabila mereka lemah dalam keterampilan-keterampilan prasyarat mereka, mereka terlebih dahulu dapat membangun sebuah landasan kuat berupa keterampilan prasyarat tersebut sebelum mereka belajar pokok bahasan lebih tinggi.

Komponen-komponen TAI

Model pembelajaran kooperatif  Team Assisted Individualization (TAI) memiliki delapan komponen sebagai berikut.

  1. Teams, yaitu pembentukan kelompok heterogen yang terdiri atas 4 sampai 5 peserta didik,
  2. Placement Test, yaitu pemberian pre-tes kepada peserta didik atau melihat rata-rata nilai harian  peserta didik agar guru mengetahui kelemahan peserta didik pada bidang tertentu,
  3. Student Creative, melaksanakan tugas dalam suatu kelompok dengan menciptakan situasi dimana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya,
  4. Team Study, yaitu tahapan tindakan belajar yang yang harus dilaksanakan oleh kelompok dan guru memberikan bantuan secara individual kepada peserta didik yang membutuhkan.
  5. Team Scores and Team Recognition, yaitu pemberian skor terhadap hasil kerja kelompok dan memberikan kriteria penghargaan terhadap kelompok yang berhasil secara cemerlang dan kelompok yang dipandang kurang berhasil dalam menyelesaikan tugas,
  6. Teaching Group, yakni pemberian materi secara singkat dari guru menjelang pemberian tugas kelompok,
  7. Fact Test, yaitu pelaksanaan tes-tes kecil berdasarkan fakta yang diperoleh peserta didik,
  8. Whole-Class Units, yaitu pemberian materi oleh guru kembali diakhir waktu pembelajaran dengan strategi pemecahan masalah.

Unsur-unsur yang perlu diperhatikan dalam  Team Assisted Individualization, Robert E. Slavin (dalam Kurniati 2007:25) adalah sebagai berikut.

  1. Team (kelompok) Peserta didik dikelompokkan dalam kelompok-kelompok yang terdiri dari 4 sampai 5 orang peserta didik dengan kemampuan yang berbeda.
  2. Tes Penempatan Peserta didik diberi  tes di awal pertemuan, kemudian peserta didik ditempatkan sesuai dengan nilai yang didapatkan dalam tes, sehingga didapatkan anggota yang heterogen (memiliki kemampuan berbeda) dalam kelompok.
  3. Langkah-langkah Pembelajaran.

1)     Diawali dengan pengenalan konsep oleh guru dalam mengajar secara kelompok (diskusi singkat) dan memberikan langkah-langkah cara menyelesaikan masalah atau soal.

2)     Pemberian tes keterampilan yang terdiri dari 10 soal.

3)     Pemberian tes formatif yang terdiri dari dua paket soal, tes formatif A dan tes formatif B, masing-masing terdiri dari 8 soal.

4)     Pemberian tes keseluruhan yang terdiri dari 10 soal.

5)     Pembahasan untuk tes keterampilan, tes formatif, dan tes keseluruhan.

  1. Belajar Kelompok   Berdasarkan tes penempatan, guru mengajarkan pelajaran pertama, kemudian peserta didik bekerja pada kelompok mereka masing-masing. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut.

1)      Peserta didik berpasangan atau bertiga dengan anggota kelompok mereka.

2)      Peserta didik diberi LKS pempelajaran yang disiapkan guru untuk bahan diskusi sebagai pemahaman konsep materi yang akan dipelajari. Peserta didik diberi kesempatan bertanya pada teman sekelompok atau guru untuk minta bantuan jika mengalami kesulitan. Selanjutnya dimulai  dengan tes pertama yaitu tes keterampilan.

3)      Masing-masing peserta didik dengan kemampuannya sendiri mengerjakan 3 soal tes keterampilan yang pertama, bila sudah selesai, peserta didik boleh melanjutkan 3 soal berikutnya. Begitu sudah selesai baru melanjutkan 4 soal terakhir. Peserta didik yang mengalami kesulitan bisa meminta bantuan pada teman sekelompoknya sebelum meminta bantuan guru.

4)      Apabila sudah bisa menyelesaikan soal tes keterampilan dengan benar, peserta didik bisa melanjutkan mengerjakan tes formatif A yang terdiri dari 8 soal. Dalam tes ini peserta didik juga bekerja sendiri-sendiri dulu sampai selesai. Jika peserta didik dapat mengerjakan 6 soal dengan benar, maka peserta didik tersebut bisa mengambil soal tes keseluruhan.  Jika peserta didik tidak bisa menjawab 6 soal dengan benar, guru merespon dan menampung semua masalah yang dimiliki peserta didik. Guru boleh menyuruh peserta didik untuk bekerja kembali pada nomor-nomor soal tes keterampilan dan kemudian mengambil soal tes formatif B, yaitu 8 soal kedua yang isi dan tingkat kesulitannya sebanding dengan tes formatif A. Selanjutnya peserta didik boleh melanjutkan ke tes keseluruhan. Peserta didik tidak boleh mengambil soal tes keseluruhan sebelum dia bisa menyelesaikan tes formatif dengan kelompoknya.

5)      Peserta didik kemudian mengikuti tes keseluruhan. Tes ini merupakan tes terakhir dalam model pembelajaran kooperatif Team Assisted Individualization (TAI), yang terdiri dari 10 soal. Di sini peserta didik juga bekerja secara individu dulu sampai selesai. Setelah selesai baru bisa berdiskusi dengan kelompoknya. Setelah tes keseluruhan ini selesai kemudian dilakukan pembahasan dan penilaian bersama antara guru dan peserta didik.

6)      Penilaian kelompok

Pada akhir pertemuan, guru menghitung nilai dari masing-masing kelompok. Nilai ini berdasarkan pada jumlah rata-rata dari anggota masing-masing kelompok dan ketelitian dari tes keseluruhan. Kriteria pemberian predikat berdasarkan kemampuan kelompok. Kelompok dengan kemampuan bagus diberi predikat Super Team, kelompok dengan kemampuan sedang diberi predikat Great Team, kelompok dengan kemampuan kurang diberi predikat Good Team. Pemberian predikat ini bertujuan untuk memotivasi dan memberi semangat kepada masing-masing kelompokagar pada pada pembelajaran selanjutnya mau  berusaha untuk melakukan yang lebih baik lagi.

7)      Mengajar kelompok

Setiap pertemuan guru mengajar 10 sampai 15 menit untuk dua atau tiga kelompok yang mempunyai nilai yang sama. Guru menggunakan konsep belajar yang diprogramkan atau direncanakan sebelumnya.  Tujuannya adalah untuk memperkenalkan konsep utama pada peserta didik. Pembelajaran dibuat untuk membantu peserta didik agar mengerti dan memahami hubungan antara matematika yang mereka pelajari dengan masalah kehidupan nyata. Ketika guru sedang mengajardalam suatu kelompok, peserta didik lain melanjutkan bekerja dalam kelompok mereka sendiri dengan kemampuan individu masing-masing.

Langkah-langkah Pembelajaran TAI

Langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe TAI sebagai berikut.

a. Guru memberikan tugas kepada siswa untuk mempelajari materi pembelajaran secara individual yang sudah dipersiapkan oleh guru.

b. Guru memberikan kuis secara individual kepada siswa untuk mendapatkan skor dasar atau skor awal.

c. Guru membentuk beberapa  kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 4 – 5 siswa  dengan  kemampuan  yang  berbeda-beda  baik  tingkat kemampuan (tinggi, sedang dan rendah) Jika mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta kesetaraan jender.

d. Hasil belajar siswa secara individual  didiskusikan dalam kelompok. Dalam diskusi kelompok, setiap anggota kelompok  saling memeriksa jawaban teman satu kelompok.

e. Guru  memfasilitasi  siswa  dalam  membuat  rangkuman, mengarahkan,  dan memberikan penegasan pada materi pembelajaran yang telah dipelajari.

f.  Guru memberikan kuis kepada siswa secara individual.

g. Guru  memberi  penghargaan  pada  kelompok  berdasarkan  perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari skor dasar ke skor kuis berikutnya (terkini).

Daftar Pustaka

Kurniati, Ana. 2007. Efektivitas Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Assisted Individualization (TAI) Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Peserta Didik  Kelas VIII SMP N 1 Ngadirejo Temanggung. Skripsi (tidak diterbitkan). Semarang: Univesitas Negeri Semarang.

Nur, Muhamad. 2005. Pembelajaran kooperatif. Surabaya: Pusat Sains dan Matematika Sokolah UNESA.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: