Arsip Kategori: PTK

PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)


MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT)

BERBANTUAN LEMBAR KERJA SISWA (LKS)

DI SEKOLAH DASAR

 

Oleh Luh Juwita Purwati, NIM 0611031069

Jurusan Pendidikan Dasar (S1 PGSD)

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa setelah diterapkannya pembelajaran kooperatif tipe TGT berbantuan LKS dalam mata pelajaran IPA dengan tema Energi dan Perubahannya pada siswa kelas V Semester II di Sekolah Dasar No.3 Anturan Kecamatan Buleleng Tahun Ajaran 2009/2010.

Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahapan, yaitu: (1) rencana tindakan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) observasi dan evaluasi tindakan, dan (4) refleksi. Subjek penelitian adalah siswa kelas V SD No.3 Anturan Tahun Ajaran 2009/2010 dengan jumlah siswa sebanyak 30 orang, terdiri dari 17 orang siswa laki-laki dan 13 orang siswa perempuan. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi, wawancara, dan tes. Data hasil observasi terhadap prilaku siswa selama mengikuti pembelajaran dianalisis menggunakan teknik deskriptif kualitatif, sedangkan data hasil belajar IPA siswa yang didapatkan dari metode tes dianalisis dengan teknik deskriptif kuantitatif.

Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar IPA setelah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) berbantuan LKS dengan nilai ketuntasan belajar siswa secara klasikal pada siklus I 76,66% berada pada kategori tinggi (23 orang siswa yang dapat mencapai KKM) dan pada siklus II 93,3% berada pada kategori sangat tinggi (28 orang siswa yang dapat mencapai KKM). Ini berarti bahwa terjadi peningkatan hasil belajar siswa dari siklus I ke siklus II setelah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) berbantuan LKS sebesar 16,64%. Berdasarkan analisis data dan pembahasan disimpulkan bahwa  model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) berbantuan LKS sangat efektif digunakan untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SD No.3 Anturan tahun ajaran 2009/2010.

Kata-kata kunci: Teams Games Tournament (TGT), hasil belajar IPA, LKS

SILAHKAN DOWNLOAD DISINI


PENINGKATAN HASIL BELAJAR ILMU PENGETAHUAN ALAM (IPA) DENGAN PEMANFAATAN MEDIA GAMBAR


PENINGKATAN HASIL BELAJAR ILMU PENGETAHUAN ALAM (IPA) DENGAN PEMANFAATAN MEDIA GAMBAR

 

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat hasil belajar dengan cara menggunakan media gambar pada siswa kelas VI semester I sekolah dasar Negeri Subuk setelah penggunaan media gambar dalam proses pembelajaran. Subyek penelitian ini terfokus pada siswa kelas VI Sekolah Dasar Negeri Subuk yang beerjumlah 20 orang siswa. Dalam pengumpulan data pada penelitian ini digunakan metode analisis deskriptif kwantitatif. Hasil belajar sebelum tindakan dilaksanakan baru mencapai 60,44 %. Apabila dibandingkan dengan PAP Skala lima berada pada katagori rendah selanjutnya pada siklus I peningkatan hasil belajar siswa kelas VI SD Negeri Subuk kecamatan Busungbiu Kabupaten Buleleng mencapai angka rata-rata persen (M%) = 70,77 %. Bila dibandingkan dengan PAP Skala lima berada pada katagori sedang. Pada Siklus II menunjukkan angka rata-rata persen (M%) = 88,72 % dan berada pada katagori tinggi. Pada proses pembelajaran ini terjadi peningkatan hasil belajar pada Siklus I dan Siklus II.

Kata kunci media gambar, hasil belajar.

 

1. PENDAHULUAN

Pada Era globalisasi yang khususnya tentang masalah pendidikan, pemerintah telah mengupayakan agar mutu pendidikan di Indonesia mencapai jenjang kwalitas yang baik. Hal tersebut bisa tercapai bila seluruh komponen pendidikan terkait dan terpadu, seperti : a) pengadaan buku-buku  pelajaran siswa, b) peningkatan kwalitas / mutu guru, c) sistem pengelolaan kurikulum yang relevan, serta upaya lainnya yang berkaitan dengan kwalitas pendidikan.

Secara formal guru sebagai pengelola pendidikan harus dapat mengupayakan agar terjadi interaksi antara siswa dengan komponen-komponen lainnya seperti : guru, metode, sarana dan prasarana serta lingkungan sekitarnya secara optimal.  Siswa belajar melalui informasi yang diperoleh dapat dipikirkan dan segala informasi tersebut dapat lama diingat serta dapat bertahan pada pikiran siswa. Upaya untuk lebih meningkatkan hasil belajar siswa, diantaranya dapat dilakukan melalui upaya memperbaiki proses pembelajaran.

Hasil temuan dalam pembelajaran bidang studi Ilmu Pengetahuan Alam siswa kelas VI semester I SD Negeri Subuk Kecamatan Busungbiu menunjukkan bahwa rendahnya minat dan keaktifan belajar IPA antara lain tampak pada rendahnya hasil belajar IPA mereka. Hal ini merupakan salah satu indikator bahwa pembelajaran IPA di sekolah belum maksimal.

Penggunaan pendekatan, metode, dan strategi yang tidak tepat serta tidak disertai media pembelajaran dalam suatu proses belajar-mengajar diasumsikan merupakan salah satu faktor penentu kurang maksimalnya pencapaian tujuan belajar di sekolah. Pelatihan-pelatihan yang diberikan oleh guru sebagai pengelola pembelajaran dalam memberikan penjelasan terhadap materi ajar yang terkait cenderung masih menekankan pada metode ceramah. Akibatnya anak tidak memperoleh kesempatan untuk belajar mandiri secara aktif, maka dari itu hasil belajar siswa mengalami penurunan.

Demikian juga halnya yang terjadi pada siswa kelas VI semester I SD Negeri Subuk Kecamatan Busungbiu Kabupaten Buleleng tahun ajaran 2003/2004. dari pengukuran awal diketahui bahwa hasil belajar IPA mereka masih rendah yaitu rata-rata 60,44 %.

Menurut Nochi Nasution (dalam Nurlinggo, 2002:2) terdapat dua faktor yang berpengaruh pada proses pembelajaran dapat dikelompokkan sebagai berikut: a) faktor ekstern (luar) terdiri dari faktor lingkungan, dan b) faktor intern (dalam) terdiri dari kecerdasan, minat, bakat, motivasi dan kemampuan kognitif.

Keberhasilan belajar siswa secara optimal bisa terwujud bila guru menerapkan media gambar dalam pembelajaran. Apabila seorang guru melihat prestasi belajar yang belum mencapai hasil yang optimal maka diperlukan adanya perbaikan sistem pada pembelajaran. Media gambar dapat digunakan sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan prestasi belajar siswa pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. (Dirjen Dikdasmem, 1997/1998:3).

Media gambar dapat diartikan sebagai sesuatu yang melukiskan atau menggambar garis-garis sebagai kata sifat. Gambar Graphies diartikan sebagai penjelasan yang kuat atau penyajian yang efektif. Basuki Wibawa dan Parida Mukti (191 : 28) menyatakan bahwa media gambar memiliki beberapa fungsi, yakni 1) dapat mengembangkan kemampuan visual, 2) mengembangkan imajinasi siswa, 3) membantu meningkatkan penguasaan anak terhadap hal-hal yang abstrak, atau peristiwa yang tidak mungkin dihadirkan didalam kelas, dan 4) dapat mengembangkan segala bentuk kreativitas siswa. (Darsana, 2002:59). Oleh karena itu, media ini dijadikan solusi terbaik untuk meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas VI SD Negeri Subuk Kecamatan Busungbiu.

Berdasarkan hal tersebut diatas, masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah “Apakah dengan penggunaan media gambar dalam pembelajaran IPA pada siswa kelas VI semester I SD Negeri Subuk Kecamatan Busungbiu Kabupaten Buleleng tahun ajaran 2003/2004 dapat meningkatkan hasil belajar siswa ?”. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran IPA dengan cara memanfaatkan media gambar, pada siswa kelas VI semester I SD Negeri Subuk Kecamatan Busungbiu. Dengan demikian, temuan penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang berarti bagi siswa, yakni siswa dapat memperoleh pengalaman belajar yang lebih bermakna, lebih menguasai wawasan dan keterampilan dalam belajar konsep sikap dan nilai serta dapat meningkatkan prestasi belajar khususnya dalam mata pelajaran IPA. Bagi para guru, agar dapat meningkatkan kwalitas proses dan hasil pembelajaran dengan mengupayakan penerapan model pembelajaran berbasis media dalam kegiatan belajar-mengajar serta mampu meningkatkan kinerja dan profesionalisme guru dalam menjalankan tugasnya. Bagi kepala sekolah, hasil penelitian ini dapat digunakan untuk mengambil suatu kebijakan yang tepat dalam kaitannya sebagai upaya dan strategi pembelajaran yang efektif dan efisien di sekolah.

 

2. METODE PENELITIAN

Dalam penelitian ini yang menjadi subjek penelitian adalah siswa kelas VI SD Negeri Subuk Kecamatan Busungbiu Kabupaten Buleleng dengan jumlah siswa sebanyak 20 orang. Pengambilan siswa kelas VI SD Negeri Subuk sebagai subjek penelitian ini disebabkan oleh beberapa hal, yakni 1) siswa selalu bermain-main pada proses pembelajaran, 2) minat anak pada pembelajaran IPA sangat kurang, 3) siswa sering datang terlambat, dan 4) siswa sering mengantuk saat pelajaran berlangsung. Dengan keadaan siswa semacam itu maka dari 20 orang siswa tersebut perlu diberikan bantuan berupa tindakan yang disebut penelitian tindakan kelas (PTK).

Pada proses penelitian ini peneliti menggunakan model penelitian tindakan kelas (PTK) atau dikenal dengan sebutan Classroom Action Research (CAR) Proses penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tersebut agar dapat memperbaiki dan atau meningkatkan praktek pembelajaran di kelas secara profesional.

Model penelitian kelas ini dikembangkan dari model Kemis dan MC Toggart (Nurlinggo, 2002:27). Penelitian tindakan kelas ini dirancang dalam dua Siklus, dan setiap Siklus terdiri dari empat tahap kegiatan yaitu : 1) Perencanaan, meliputi : mengidentifikasi tentang daya serap siswa, menyusun persiapan mengajar dan lembaran observasi, serta menyiapkan tes hasil belajar, 2) Pelaksanaan, yakni melaksanakan proses pembelajaran dengan penggunaan media gambar yang meliputi : (a) Kegiatan awal yaitu guru melakukan apersepsi, (b) Kegiatan inti meliputi : guru memancangkan media gambar di papan, guru menjelaskan pokok bahasan dengan keterkaitan penggunaan media gambar, siswa menyimak, guru melontarkan beberapa pertanyaan kepada siswa terkait penjelasan tadi, siswa menjawab dengan menunjukkan pada media, (c) Kegiatan akhir yakni guru bersama siswa menyimpulkan materi yang telah dipelajari, guru menindak lanjuti, dan guru memberikan evaluasi atau tugas. 3) Pemantauan dan Evaluasi, yakni pemantauan terhadap kesesuaian cara guru dalam penggunaan media gambar  dengan materi ajar dan prilaku anak dalam proses belajar-mengajar, serta melakukan evaluasi dengan tes, dan 4) Refleksi, yakni peneliti menganalisa, mengkaji dan merenungkan hasil tindakan dan evaluasi. Ikthisar model rancangannya seperti berikut :

Gambar Rancangan Penelitian

Metode dan alat pengumpulan data yang digunakan adalah metode tes dan metode analisis deskriptif kwantitatif. Metode tes ini digunakan untuk mengukur prestasi belajar siswa dengan instrumen berupa tes akhir program yang dibuat atau disusun oleh peneliti. Setelah seluruh data dalam penelitian terkumpul maka selanjutnya dilakukan analisis data. Dalam menganalisis data digunakan metode analisis deskriptif kwantitatif. Metode ini dipergunakan untuk menentukan tinggi rendahnya prestasi belajar Ilmu Pengetahuan Alam kelas VI SD Negeri Subuk Kecamatan Busungbiu. Perencanaan metode ini meliputi : 1) menyusun tabel distribusi frekwensi, 2) menghitung Mean (M), 3) membandingkan Mean dengan kriteria PAP skala lima. Ini dimaksudkan untuk memperoleh hasil simpulan yang terpercaya.

UNTUK LEBIH LENGKAPNYA SILAHKAN DOWNLOAD DI SINI

 


Penerapan Metode Demonstrasi Dengan Media Benda Asli Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Siswa Kelas V Semester I


Penerapan Metode Demonstrasi Dengan Media Benda Asli Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Siswa Kelas V Semester I

B. LATAR BELAKANG MASALAH

Peningkatan hasil belajar khususnya di Sekolah Dasar tidak akan terjadi tanpa adanya kerjasama  dari berbagai pihak. Pendidikan dan pengajaran dapat berhasil sesuai dengan harapan dipengaruhi oleh faktor-faktor yang saling berkaitan dan saling menunjang. Faktor yang paling menentukan keberhasilan pendidikan / pengajaran adalah guru, sehingga guru sangat dituntut kemampuannya untuk menyampaikan bahan pengajaran kepada siswa dengan baik, untuk itu guru perlu mendapatkan pengetahuan tentang metode dan media pengajaran yang dapat di gunakan dalam proses belajar mengajar.

Dari hasil pengamatan proses pembelajaran di Sekolah Dasar Negeri 1 Mayong, Kecamatan Seririt, ternyata belum sepenuhnya melibatkan fisik dan mental siswa. Sehingga dalam proses pembelajaran terkesan siswa kurang aktif dan guru-guru, dalam proses pembelajaran kurang memantapkan penggunaan metode yang telah dipelajari dan jarang sekali menggunakan media. Sehingga hasil belajar yang di peroleh siswa sangat rendah mencapai skor 5,2. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata ulangan yang telah dilaksanakan di kelas V semester I. Rendahnya hasil belajar ini tidak jauh berbeda dengan data yang diperoleh pada saat di kelas IV semester I dan II tahun pelajaran 2008-2009. Padahal Sekolah Dasar Negeri 1 Mayong telah menetapkan standar ketuntasan minimal yaitu 60, dari hasil tersebut menandakan siswa kurang memahami materi pelajaran yang diberikan oleh guru.

Berdasarkan hasil observasi diperoleh informasi bahwa rendahnya hasil belajar siswa kelas V tersebut dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam disebabkan oleh beberapa faktor yaitu :

  1. Kurangnya partisipasi siswa dalam pembelajaran di kelas. Kesempatan-kesempatan yang diberikan oleh guru kepada siswa untuk bertanya mengenai materi pelajaran yang belum dimengerti tidak dimanfaatkan dengan baik oleh siwa.
  2. Guru mengajar dengan menggunakan metode yang monoton yaitu metode ceramah, sehingga siswa cenderung bosan dalam pembelajaran.
  3. Aktifitas siswa dalam menjawab, menyelesaikan tugas-tugas masih sangat kurang.

Dengan kondisi seperti itu dipandang perlu diadakan perbaikan pelaksanaan proses pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa, salah satu cara untuk meningkatkan pelaksanaan proses pembelajaran, guru harus mampu memilih dan menggunakan metode yang tepat yaitu metode demonstrasi dan media pengajaran.

Berdasarkan uraian di atas, peneliti ingin melakukan penelitian yang berjudul “ Penerapan Metode Demonstrasi Dengan Media Benda Asli Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Siswa Kelas V Semester I SD Negeri 1 Mayong, Kecamatan Seririt, Tahun Pelajaran 2009-2010”.

C. IDENTIFIKASI MASALAH

Identifikasi masalah sangat erat kaitannya dengan masalah apa yang ingin dikaji. Identifikasi masalah pada  penelitian ini antara lain :

1.      Kurangnya perhatian guru terhadap pentingnya penggunaan penerapan metode demonstrasi dengan media benda asli dalam kegiatan pembelajaran IPA.

2.      Berbagai faktor yang menyebabkan rendahnya prestasi belajar siswa adalah minat siswa rendah dalam belajar IPA, kurangnya sarana dan prasarana belajar, dan siswa tidak memiliki cara belajar yang baik.

D. PEMBATASAN MASALAH

Sejalan dengan hasil identifikasi masalah di atas, maka dalam penelitian ini permasalahan yang akan diteliti adalah; Penerapan Metode Demonstrasi Dengan Media Benda Asli Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas V Semester I SD Negeri 1Mayong.

E. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah, Apakah ada peningkatan hasil belajar setelah diterapkan metode demonstrasi dengan menggunakan media benda asli dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam siswa kelas V semester I Sekolah Dasar Negeri 1 Mayong, Kecamatan Seririt, Tahun Pelajaran 2009-2010?

F. TUJUAN PENELITIAN

Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan penelitian tindakan kelas ini, adalah :

Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar setelah diterapkan metode demonstrasi dengan menggunakan media benda asli dalam mata pelajaran IPA siswa kelas V semester 1 SD Negeri 1 Mayong tahun pelajaran 2009-2010.

G. MANFAAT PENELITIAN

Manfaat penelitian ini terdiri dari manfaat teoritis dan manfaat praktis :

1.      Manfaat Teoritis

Secara teori hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan berharga dalam upaya mengembangkan konsep pembelajaran atau strategi belajar mengajar dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam.

2.      Manfaat Praktis

    1. Bagi siswa kelas V di Sekolah Dasar Negeri 1 Mayong, Kecamatan Seririt, akan terdorong untuk meningkatkan hasil belajar dalam Ilmu Pengetahuan Alam melalui penerapan metode demonstrasi dengan media benda asli.
    2. Bagi guru pengajar Ilmu Pengetahuan Alam kelas V dapat meningkatkan profesionalnya dalam pengelolaan proses pembelajaran dengan bahan pelajarannya.
    3. Bagi sekolah, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi berharga bagi kepala sekolah, untuk mengambil kebijakan yang tepat dalam kegiatan pengajaran dengan memanfaatkan model pembelajaran, guna menciptakan kondisi pembelajaran yang kondusif, efektif dan efesien bagi para guru-guru di Sekolah Dasar.

H. KAJIAN PUSTAKA

1. Hasil Belajar Siswa

Setiap akhir program pembelajaran selalu diadakan evaluasi dengan maksud untuk mengetahui hasil belajar siwa karena hasil belajar yang diperoleh siswa dapat menunjukkan tercapai tidaknya tujuan pembelajaran yang diharapkan. Untuk lebih memahami apa yang dimaksud dengan hasil belajar di bawah ini akan diuraikan mengenai pengertian hasil belajar, ciri-ciri hasil belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar.

a. Pengertian Hasil Belajar

Belajar adalah kegiatan yang dilakukan oleh siswa dalam proses pembelajaran. “Hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak mengajar atau belajar” (Dimyati dan Moedjiono, 1992 : 40). Hasil belajar dapat berupa pengetahuan (kognitif), tingkah laku atau sikap (afektif), dan keterampilan (psikomotor), yang diperoleh siswa dalam proses pembelajaran. Dapat pula dikatakan bahwa hasil belajar merupakan perolehan seseorang dari suatu perbuatan belajar, atau hasil belajar merupakan kecakapan nyata yang dicapai siswa dalam waktu tertentu. Hasil belajar yang utama adalah pola tingkah laku yang bulat yang diperoleh oleh setiap siswa setelah proses belajar. Di dalam proses belajar siswa mengerjakan hal-hal yang akan dipelajari sesuai dengan tujuan dan maksud belajar. “Hasil belajar akan dinyatakan dalam bentuk penguasaan, penggunaan sikap dan nilai, pengetahuan dan kecakapan dasar yang terdapat dalam berbagai bidang studi atau lebih luas lagi dalam berbagai aspek kehidupan atau pengalaman yang terorganisasi” (Tabrani Rusyan, 1989;8).

Dari beberapa pendapat tentang hasil belajar di atas maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah hasil yang diperoleh siswa setelah mengalami interaksi proses pembelajaran melalui evaluasi belajar IPA yang dilakukan dengan tes yang dijadwalkan. Kemajuan yang diperoleh siswa tidak hanya berupa ilmu pengetahuan, tetapi juga berupa sikap dan kecakapan atau keterampilan khususnya dalam mata pelajaran IPA.

b. Ciri-ciri Hasil Belajar

Menurut Karti Soeharto (1995 : 108), belajar ditandai dengan ciri-ciri yaitu : “(1) disengaja dan bertujuan, (2) tahan lama, (3) bukan karena kebetulan, dan (4) bukan karena kematangan dan pertumbuhan”.

Dengan pengalaman yang diperoleh siswa dalam proses pembelajaran, maka akan terjadi perubahan, baik perubahan pada aspek kognitif, aspek afektif maupun aspek psikomotor. Perubahan ketiga aspek tersebut di atas merupakan ciri-ciri hasil belajar yang diperoleh siswa. Hal ini sesuai dengan pendapat A.A. Gede Agung ( 1997 : 78) yang mengatakan bahwa:

Ciri-ciri hasil belajar mengandung tiga hal, yaitu: kognitif, afektif, psikomotor. Hasil belajar kognitif merupakan kemajuan intelektual yang diperoleh siswa melalui kegiatan belajar dengan ciri-ciri sebagai berikut: pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi.

Hasil belajar afektif adalah perubahan sikap atau kecendrungan yang dialami siswa sebagai hasil belajar sebagai berikut: adanya penerimaan atau perhatian adanya respon atau tanggapan dan penghargaan.

Hasil belajar psikomotor merupakan perubahan tingkah laku atau keterampilan yang dialami siswa dengan ciri-ciri: keberanian menampilkan minat dan kebutuhannya, keberanian berpartisifasi di dalam kegiatan penampilan sebagai usaha/ kreatifitas dan kebebasan melakukan hal di atas tanpa tekanan guru atau orang lain.

Berdasarkan cici-ciri hasil belajar di atas maka tugas guru selain mengajar juga mendidik dan melatih siswa agar menjadi siswa yang cerdas, bersikap baik dan memiliki keterampilan-keterampilan yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.

c. Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam ( IPA)

Ilmu Pengetahuan Alam sebagai salah satu mata pelajaran di Sekolah dasar, merupakan program untuk menanamkan dan mengembangkan pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai ilmiah pada siswa serta rasa mencintai dan menghagai Tuhan Yang Masa Esa. Sejalan dengan itu maka hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam di Sekolah Dasar menurut Hidayat (2001 : IV) dapat di uaraikan sebagai berikut:

(1) siswa memiliki pemahaman tentang konsep-konsep IPA dan keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari; (2) Memiliki keterampilan proses untuk mengembangkan pengetahuan, gagasan tentang alam sekitar; (3) Mampu menggunakan teknologi sederhana yang berguna untuk memecahkan suatu masalah yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari; (4) mengenal dan dapat memupuk rasa cinta terhadap alam sekitar.

Dari uraian di atas dapat ditegaskan bahwa hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam di Sekolah Dasar dapat diuraikan sebagai hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam dapat melatih pemahaman siswa terhadap konsep-konsep IPA, melatih keterampilan siswa dalam menggunakan alat teknologi sederhana dalam memecahkan suatu masalah yang berkaitan dengan alam sekitar yang pada akhirnya dapat diterapkan pada kehidupan sehari-hari.

d. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Hasil belajar siswa selalu bervariasi, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor-foktor tersebut adalah faktor dalam dan faktor luar individu. “Faktor dalam meliputi : keadaan, motifasi, minat, intelegensi dan bakat siswa. Foktor luar meliputi : fasilitas belajar, waktu, media belajar, dan cara mengajar” (Soemadi Suryabrata 1981 :7). Selain itu, hasil belajar dapat pula dipengaruhi oleh faktor psikologi seperti kecerdasan, motivasi, perhatian, pengindraan, cita-cita peserta didik, kebugaran fisik dan mental, serta lingkungan yang menunjang ( Tabrani Rusyan, 1993 : 32).

Untuk memperoleh hasil belajar yang lebih baik, dalam proses pembelajaran maka guru harus memahami keadaan siswa, baik keadaan fisik, keadaan psikhis, maupun lingkungan atau latar belakang kehidupan siswa.

2. METODE PENGAJARAN

Metode pengajaran berpengaruh terhadap tercapainya tujuan pengajaran. Di bawah ini diuraikan tentang pengertian metode pengajaran dan macam-macam metode pengajaran.

a. Pengertian Metode

Dalam hal ini metode berasal dari kata “Methodos” yang secara etimologis, berasal dari bahasa latin yaitu “Methodos”. Secara etimologis kata methodos berasal dari kata metha yang artinya dilalui dan hodos yang artinya jalan. Jadi methodos artinya jalan yang dilalui. Secara umum, “metode artinya jalan atau cara yang harus dilalui untuk mencapai tujuan” (A.A. Gede Agung, 1997: 1).

Dalam pembelajaran metode merupakan suatu cara atau tehnik yang di gunakan oleh guru dalam menyampaikan materi pelajaran sehingga dapat mempermudah pencapaian pesan dan mempercepat pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan.

b. Jenis-jenis metode Pengajaran

Ada sejumlah metode pengajaran yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran. Berikut ini akan diuraikan tentang jenis-jenis metode pengajaran yang dikutip dari beberapa sumber.

A. Tabrani Rusyan ( 1993 : 63-117) menyatakan bahwa “Jenis-jenis Metode Pengajaran terdiri dari metode ceramah, tanya jawab, diskusi, dokumentasi, metode AVA, narasumber, wawancara, karyawisata, survei, studi lapangan, proyek pelayanan masyarakat kerja, pengalaman, simulasi, eksperimen, disceoveri, dan penggunaan buku-buku pelajar”.

Pada bagian lain juga diuraikan jenis-jenis metode yang dinyatakan oleh Soetomo (1993 : 147) bahwa “Metode pengajaran terdiri dari metode ceramah, tanya jawab, diskusi, pemberian tugas, demonstrasi, eksperimen dan pemecahan masalah”.

Dari uraian di atas terlihat adanya berbagai jenis metode yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran, akan tetapi harus dipilih sesuai dengan materi yang akan disampaikan. Untuk itu dalam penelitian ini akan digunakan 1 macam metode yaitu metode demonstrasi secara lebih mantap karena metode tersebut sesuai dengan pokok bahasan pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam untuk kelas V Semester I Sekolah Dasar Negeri 1 Mayong.

Disamping itu dalam pengajaran Ilmu Pengetahuan Alam selain berceramah untuk mengimpormasikan konsep, perlu diadakan tanya jawab untuk mengetahui tingkat suatu konsep dan agar pemahaman siswa lebih melekat tentang suatu konsep.

Pada bagian ini akan diuraikan tentang pengertian metode demonstrasi, kelebihan metode demonstrasi, kelemahan metode demontrasi dan penggunaan metode demonstrasi.

1).  Pengertian Metode Demonstrasi

Semua metode pengajaran dapat mewakili pencapaian tujuan pendidikan. Pemakaiannya ditentukan oleh tujuan dan isi materi yang akan di ajarkan. Dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam, metode demonstrasi sering digunakan karena materi-materi dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam sebagaian besar menggunakan media yang harus didemonstrasikan.

Menurut A.Tabrani Rusyan (1993 : 106) mengatakan bahwa “Metode Demonstrasi adalah merupakan pertunjukan tentang proses terjadinya suatu peristiwa atau benda sampai pada penampilan tingkah laku yang dicontohkan”. Dalam hal ini dengan demonstrasi peserta didik berkesempatan mengembangkan kemampuan mengamati segala benda yang sedang terlibat dalam proses serta dapat mengambil kesimpulan-kesimpulan yang sesuai dengan harapan.

Pakar lain mengemukakan bahwa “Demonstrasi adalah cara mengajar dimana seorang guru menunjukkan atau memperlihatkan suatu proses” (Roestyah,N.K, 1991 : 83).

Sehubungan dengan pengertian di atas dapat dinyatakan bahwa metode demonstrasi adalah menunjukkkan proses terjadinya sesuatu, agar pemahaman siswa terhadap pelajaran akan lebih berkesan secara mendalam sehingga membentuk pengertian dengan baik dan sempurna. Dalam demonstrasi siswa dapat mengamati apa yang diperlihatkan guru selama pelajaran berlangsung.

2). Kelebihan Metode Demonstrasi

Metode demonstrasi sering digunakan karena merupakan metode yang sangat baik dan efektif dalam menolong siswa mencari jawaban atas pertanyaan yang sifatnya pemahaman. Metode demonstrasi memiliki kelebihan-kelebihan yaitu :

(1) Siswa akan memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai proses sesuatu yang telah didemonstrasikan; (2) Perhatian siswa akan lebih mudah dipusatkan pada hal-hal yang penting yang sedang dibahas; (3)  Dapat mengurangi kesalahan pengertian antara anak dan guru bila di bandingkan dengan ceramah dan tanya jawab, karena dengan demonstrasi siswa akan dapat mengamati sendiri proses dari sesuatu; (4) Akan dapat memberi kesempatan kepada siswa untuk mendiskusikan apa yang telah di demonstrasikan ( Soetomo, 1993 : 162).

Dengan uraian di atas ditegaskan kembali bahwa dengan demonstrasi akan dapat mengaktifkan siswa, dapat menghindari kesalahan pengertian dari siswa dan guru, dan siswa akan merasa lebih terkesan karena siswa mengalami sendiri. Sehingga akan lebih mendalam dan lebih lama disimpan dalam pikiran tentang sesuatu proses yang terjadi.

3). Kelemahan Metode Demonstrasi

Di samping memiliki beberapa kelebihan, maka metode demonstrasi juga tidak terlepas dari kemungkinan-kemungkinan kurang efektif apabila digunakan. Kemungkinan-kemungkinan yang dapat membuat demonstrasi kurang efektif menurut Soetomo (1993 : 163) antara lain :

(1)   Apabila demonstrasi tidak digunakan secara matang maka bisa terjadi demonstrasi banyak kesulitan; (2)   Kadang-kadang sesuatu yang di bawa ke kelas untuk didemonstrsikan terjadi proses yang berlainan dengan proses yang terjadi dalam situasi yang sebenarnya; (3)  Demonstrasi menjadi kurang efektif bila tidak diikuti secara aktif oleh para siswa untuk mengamati; (4) Demonstrasi akan merupakan metode yang kurang efektif bila alat yang didemonstrasikan itu tidak dapat di amati secara seksama oleh siswa.

Untuk mengatasi kelemahan-kelemahan metode demonstrasi maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan seperti: guru harus mempersiapkan sesuatu yang akan digunakan dalam pelaksanaan demonstrasi, menjelaskan tujuan demonstrasi kepada siswa, memperhatikan situasi dan kondisi yang dapat mempengaruhi jalannya demonstrasi dan selama demonstrasi hendaknya semua siswa dapat memperhatikan jalannya demonstrasi.

4). Penggunaan Metode Demonstrasi

Penggunaan metode demonstrasi ini mempunyai tujuan agar siswa mampu memahami tentang cara mengatur atau menyusun sesuatu. Penggunaan metode demonstrasi menunjang proses interaksi belajar mengajar di kelas karena dapat memusatkan perhatian siswa pada pelajaran, meningkatkan partisipasi aktif siswa untuk mengembangkan kecakapan siswa dan memotvasi siswa untuk belajar lebih giat (Roestyah N.K, 1991 : 84).

Dengan kata lain penggunaan metode demonstrasi bertujuan untuk mewujudkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran, menghindari kesalahan dalam memahami konsep-konsep dan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, serta dapat melatih kecakapan siswa dalam menganalisa sesuatu yang sedang dialami atau didemonstrsikan.

3. MEDIA PENGAJARAN

Media merupakan alat bantu dalam proses pembelajaran yang dapat menciptakan kondisi belajar yang merangsang siswa agar mau belajar, sehingga proses belajar mengajar dapat efektif dan efisien. Di bawah ini akan diuraikan pengertian media pengajaran dan jenis-jenis media pengjaran sebagai berikut :

a. Pengertian Media Pengajaran

Sebagai salah satu komponen yang dapat menentukan keberhasilan proses pembelajaran, adalah media pengajaran, karena media pengajaran merupakan alat bantu menyampaikan informasi.

Arif S. Sadiman (1990 : 6) mengatakan bahwa “media adalah berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang berarti perantara atau pengantar”.

H. Mohamad Ali (1992 : 89) berpendapat bahwa “media pengajaran diartikan sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan untukmenyalurkan pesan, perasaan, perhatian dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong proses belajar”.

Berdasarkan uraian beberapa pendapat di atas dapat dirangkum bahwa media pengajaran adalah sesuatu yang dijadikan sebagai perantara untuk menyampaikan pesan atau informasi yang dapat berupa alat bantu dalam proses pembelajaran yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada diri siswa.

b. Jenis-jenis Media Pengajaran

Jenis media bermacam-macam, untuk itu sebelum menggunakan media tersebut perlu dikenali dan dipahami media mana yang dapat digunakan untuk materi tertentu yang akan dipelajari dalam suatu proses pembelajaran.

Berikut ini akan diuraikan beberapa pendapat yang menyangkut jenis-jenis media.

Nana Sudjana dan Ahmad Rivai (1991 : 3) mengatakan bahwa :

“Media pengajaran terdiri dari : (1) Media grafis atau media dua dimensi yang meliputi gambar/ foto grafis, bagan atau diagram, foster dan komik; (2) Media tiga dimensi dalam bentuk model yaitu model padat, model penampang, model susun, model kerja, mock up, diaroma; (3) Media proyeksi seperti slide, film, strips, penggunaan OHP; (4) lingkungan”.

Selain media-media yang disebutkan di atas masih banyak jenis-jenis media lain yang belum disebutkan. Media-media tersebut adalah:

(1) Alat visual dua dimensi pada bidang yang tidak transparan meliputi gambar yang diproyeksikan, grafis, diagram, bagan, pita, poster, gambar hasil cetak miring, foto gambar sederhana dengan garis dan lengkung; (2) Berbagai visual tiga dimensi yang meliputi benda asli, model barangcontoh, mock up, diorama, pameran dan bak pasir; (3) Berbagai macam papan, papan tulis, papan magnet dan peragaan; (4) Alat-alat audio, tipe recorder dan radio; (5) Alat-alat audio visual, murni, film suara; (6) demonstrasi dan widyawisata (A.Tabrani Rusyan, 1993 : 93).

Disamping itu sebelum digunakan sangat perlu dipahami ciri-ciri bahan media agar tidak mengalami hambatan dalam penerapannya sehingga proses pembelajaran berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Dalam penelitian ini akan digunakan media benda asli sebagai alat perantara dalam penyampaian pesan.

Media Benda Asli

dalam proses pembelajaran, benda asli dapat digunakan sebagai media. Agar lebih memahami tentang media benda asli di bawah ini akan diuraikan tentang pengertian media benda asli, kelebihan media benda asli, kelemahan media benda asli dan penggunaan media benda asli.

1.      Pengertian Media Benda Asli

Menurut Ibrahim dan Nana Syahodih (1992 : 3) mengatakan bahwa “media benda asli termasuk media atau sumber belajar yang secara spesifik dikembangkan sebagai komponen sistem instruksional untuk mempermudah radar belajar yang formal dan direncanakan”. Menurut Mulyani Sumantri dan Johar Permana (1998/1999; 202) menyatakan “media benda asli merupakan benda yang sebenarnya yang membantu pengalaman nyata peserta didik dan menarik minat dan semangat belajar sisiwa”.

Dengan menggunakan media benda asli akan memberikan rangsangan yang amat penting bagi siswa untuk mempelajari berbagai hal terutama menyangkut pengembangan keterampilan tertentu.

2.      Kelebihan Media Benda Asli

Media benda asli memiliki kelebihan atau keunggulan. Kelebihan tersebut antara lain: (1) Dapat membantu guru dalam menjelaskan sesuatu kepada peserta didik; (2) Dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempelajari situasi yang nyata; (3) Dapat melatih keterampilan siswa menggunakan alat indra (A.Tabrani, Rusyan, 1993:199).

Berdasarkan uraian di atas dipertegas kembali bahwa kelebihan media benda asli dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempelajari sesuatu menggunakan obyek-obyek nyata.

3.      Kelemahan Media Benda Asli

Media benda asli selain memiliki kelebihan juga memiliki kelemahan-kelemahan. Kelemahan-kelemahan media benda asli yaitu :

(1) Membawa siswa ke berbagai tempat di luar sekolah, kadang-kadang      mengandung resiko dalam bentuk kecelakaan dan sejenisnya; (2) Biaya yang diperlukan untuk mengadakan berbagai obyek nyata kadang-kadang tidak sedikit apalagi kemungkinan kerusakan dalam menggunakannya; (3)  Tidak selalu memberikan gambaran dari obyek yang seharusnya (R.Ibrahim dan Nana Syahodih, 1992/1993 : 82).

Kelemahan-kelemahan yang diuraikan di atas hendaknya dapat diatasi dengan cara menggunakan media benda asli yang ada di sekitar lokasi sekolah yang dapat dijadikan penunjang dalam proses pembelajaran, di sesuaikan dengan pelajaran dan berusaha membawa benda asli ke kelas yang dapat digunakan untuk menjelaskan materi dalam lingkup kelas.

4.      Penggunaan Media Benda Asli

Salah satu komponen yang juga dapat menunjang keberhasilan proses pembelajaran adalah media pembelajaran. Karena media pembelajaran mampu menyampaikan pesan atau informasi, baik dari guru kepada siswa maupun media itu sendiri kepada guru maupun siswa. Media benda asli mempunyai kegunaan sebagai berikut :

(1)   Memperjelas perjanjian pesan agar tidak selalu bersifat verbalitas; (2) Mengawasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indra; (3) Dengan menggunakan media secara tepat mengatasi sikap positif  anak didik; (4) Media dapat memberikan perangsang yang sama, mempersamakan pengalaman dan menimbulkan persepsi yang sama pada anak didik (Arief  S. Sadiman, 1990 : 16).

Dari uraian di atas dapat ditegaskan bahwa penggunaan media pada saat proses pembelajaran berlangsung, akan lebih baik dari pada berceramah saja karena media pendidikan/ pengajaran dapat membantu untuk memperjelas pesan yang kita sampaikan, merangsang siswa untuk memperoleh pengalaman yang sama dan dapat menarik minat siswa untuk belajar. Sehingga dengan penggunaan media tersebut siswa menjadi lebih giat belajar dan mempunyai pengalaman serta persepsi yang sama tentang suatu konsep yang dipelajari.

4. KERANGKA BERPIKIR

Berdasarkan landasan teori yang dikemukakan, maka kerangka berpikir dapat dirumuskan sebagai berikut :

1.      Hubungan penerapan metode demonstrasi dengan menggunakan media benda asli pada mata pelajaran IPA.

Penerapan metode demonstrasi dengan menggunakan media benda asli sangat cocok digunakan untuk menyampaikan informasi tentang konsep-konsep IPA dan untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa tentang suatu konsep perlu dilakukan tanya jawab, agar tidak terjadi kesalahan konsep maka diperlukan suatu pembuktian dengan suatu proses melalui demonstrasi dengan menggunakan media benda asli yang sesuai dengan pokok bahasan yang akan didemonstrasikan.

2.      Hubungan penerapan metode demonstrasi dengan menggunakan media benda asli untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA.

Banyak pengaruh sikap terhadap kegiatan keberhasilan belajar salah satunya adalah metode dan model pembelajaran yang digunakan. Hubungan penerapan metode demonstrasi dan media benda asli dengan hasil belajar sangat erat dalam artian, dengan penerapan metode demonstrasi dan media benda asli dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam akan dapat meningkatkan hasil belajar siswa, jika dalam proses penerapan metode demonstrasi dan media benda asli betul-betul dapat diterapkan sesuai dengan langkah-langkah dari penerapan masing-masing metode tersebut. Selain itu sikap dapat menentukan prestasi belajar seseorang memuaskan atau tidak. Sikap yang dimaksud adalah minat, keterbukaan pikiran, prasangka dan kesetiaan. Sikap yang positif terhadap mata pelajaran merangsang cepatnya berlangsung kegiatan belajar. Sikap berarti memperoleh kecenderungan untuk menerima dan menolak suatu objek sebagai sesuatu yang berguna. Sikap merupakan sesuatu yang sangat rumit yang mengandung komponen yaitu aspek kognitif, afektif dan psikomotor.

5. HIPOTESIS

Berdasarkan teori dan kerangka pemikiran di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis / dugaan sementara sebagai berikut :

Jika penerapan metode demonstrasi dengan media benda asli dalam pembelajaran IPA dapat berjalan dengan efektif dan efesien, maka diduga atau ditafsirkan hasil belajar siswa akan cenderung meningkat.

I.  METODELOGI PENELITIAN

1. Jenis Penelitian

Penelitian yang dilaksanakan adalah penelitian tindakan kelas ( PTK ). Rangkaian kegiatan dalam Penelitian Tindakan Kelas ini mengacu pada pedoman PTK dari Stephen Kemmis dan Robin MC. PTK sangat erat hubungannya dengan praktek pembelajaran yang dihadapi guru. Tujuan melakukan PTK yaitu untuk meningkatkan dan memperbaiki praktek yang seharusnya dilakukan oleh guru, sehingga guru akan lebih banyak berlatih mengaplikasikan berbagai tindakan alternatif sebagai upaya untuk meningkatkan layanan pembelajaran dari pada perolehan pengetahuan umum dalam bidang pendidikan yang dapat digeneralisasikan.

Ada beberapa keunggulan, ketika seorang guru melakukan penelitian dengan menggunakan metode tindakan, yaitu sebagai berikut :

1.      Mereka tidak harus meninggalkan tempat kerjanya.

2.      Mereka dapat merasakan hasil dari tindakan yang telah direncanakan.

  1. Bila treatment ( perlakuan ) dilakukan pada responden maka responden dapat merasakan hasil treatment ( perlakuan ) dari penelitian tindakan kelas. Tiga keunggulan dari penelitian tindakan kelas ini, tidak dimiliki oleh penelitian dengan metode penelitian lain.

2. Karakteristik Subyek Penelitian

Penelitian ini mengambil lokasi di SD No.1 Mayong Kecamatan Seririt pada siswa kelas V yang berjumlah 20 orang, yang terdiri dari 11 orang siswa laki-laki dan 9 orang siswa perempuan.

3. DEFINISI OPERASIONAL

  1. Metode demonstrasi adalah menunjukkkan proses terjadinya sesuatu, agar pemahaman siswa terhadap pelajaran akan lebih berkesan secara mendalam sehingga membentuk pengertian dengan baik dan sempurna. Dalam demonstrasi siswa dapat mengamati apa yang diperlihatkan guru selama pelajaran berlangsung.
  2. Hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam merupakan suatu tindakan atau proses untuk menentukan nilai keberhasilan belajar seseorang setelah mengalami interaksi proses pembelajaran melalui evaluasi belajar selama satu periode tertentu, dan melatih pemahaman siswa terhadap konsep-konsep IPA, melatih keterampilan siswa dalam menggunakan alat teknologi sederhana dalam memecahkan suatu masalah yang berkaitan dengan alam sekitar yang pada akhirnya dapat diterapkan pada kehidupan sehari-hari. Hasil belajar dapat berupa pengetahuan (kognitif), tingkah laku atau sikap (afektif), dan keterampilan (psikomotor), yang diperoleh siswa dalam proses pembelajaran. Dapat pula dikatakan bahwa hasil belajar merupakan perolehan seseorang dari suatu perbuatan belajar, atau hasil belajar merupakan kecakapan nyata yang dicapai siswa dalam waktu tertentu.

4.   Rancangan Pelaksanaan Penelitian

“Penelitian tindakan kelas ini adalah penelitian yang dimaksud untuk memperbaiki pembelajaran” (Kasihani Kasbolah, 1998; 12). Penelitian tindakan kelas ini direncanakan akan dilaksanakan dalam dua siklus, dimana masing-masing siklus terdiri dari empat tahap, meliputi; 1)tahap perencanaan, 2) tahap pelaksanaan, 3) tahap evalasi/observasi, dan 4)tahap refleksi.

Masing-masing tahapan ini secara umum dapat dijelaskan sebagai berikut:

Siklus ke n

keterangan:

1.    Rencana tindakan

2.    Pelaksanaan tindakan

3.    Pemantauan dan Evaluasi

4.    Refleksi dan Revisi

 

a. Rencana Penelitian Tindakan Kelas Siklus I

1. Rencana Penelitian

Hal-hal yang perlu disampaikan adalah; 1) menyusun persiapan mengajar sesuai dengan pokok bahasan yang disajikan dalam setiap pertemuan, 2) menyiapkan media sesuai dengan pokok bahasan, 3) menentukan metode mengajar, dan 4) menyiapkan alat penelitian.

2. Tindakan

Paada tahap ini, penelitian melaksanakan pembelajaran sesuai dengan alokasi waktu yang telah ditentukan. Struktur waktu diatur sebagai berikut; apersepsi 5 menit, kegiatan inti 45 menit, evaluasi 20 menit, dan tindak lanjut 5 menit. Maka waktu keseluruhan menjadi 75 menit yang dilaksanakan pada satu kali pertemuan.

3. Evaluasi

Pada setiap akhir pertemuan/ akhir siklus dilakukan evaluasi dengan pemberian tes akhir untuk mengetahui hasil belajar siswa sebanyak 3 kali tes yaitu: tes pertama materi pertemuan I-II, tes kedua materi pertemuan III dan tes katiga materi pertemuan IV dan V.

4. Refleksi

Refleksi ini dilakukan untuk mengkaji hasil tindakan pada siklus I mengenai hasil belajar IPA. Hasil kajian tindakan siklus I selanjutnya untuk dipikirkan serta ditetapkan beberapa alternative tindakan baru yang diduga lebih efektif untuk meningkatkan hasil belajar IPA. Tindakan ini ditetapkan menjadi tindakan baru pada siklus II.

b. Rancangan Penelitian Tindakan Kelas Siklus II

1. Rencana Penelitian

Beberapa hal yang perlu disiapkan yaitu; 1) menyusun persiapan mengajar sesuai dengan pokok bahasan yang disajikan, 2) menyiapkan media sesuai dengan pokok bahasan, 3) menentukan metode mengajar, dan 4) menyiapkan alat penelitian.

2. Tindakan

Penelitian melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan jadwal dan merencanakan alokasi waktu seperti; apersepsi 5 menit, kegiatan inti 45 menit, evaluasi 20 menit, dan tindak lanjut 5 menit. Maka keseluruhan waktu menjadi 75 menit yang dilaksanakan pada satu kali pertemuan.

3. Evaluasi

Pada setiap akhir pertemuan/ akhir siklus dilakukan evaluasi dengan pemberian tes akhir untuk mengetahui hasil belajar siswa sebanyak 3 kali yang rinciannya sebagai berikut: tes pertama materi dalam pertemuan I-II, tes kedua materi pertemuan III –IV,tes katiga materi dalam pertemuan V.

4. Refleksi

Penelitian hasil observasi atau evaluasi penellitian tindakan kelas pada siklus II mendapat hasil yang sesuai dengan tujuan yang diharapkan yaitu meningkatkan hasil belajar siswa.

5. Metode dan Instrumen Pengumpulan Data

Secara fungsional kegunaan instrumen penelitian adalah untuk memperoleh data yang diperlukan ketika peneliti sudah menginjak pada langkah pengumpulan informasi di lapangan. Pada penelitian PTK ini data dikumpulkan dengan menggunakan metode Tes.

Metode Tes

Metode tes adalah cara memperoleh data yang berbentuk tugas yang harus dikerjakan oleh seseorang atau kelompok orang yang dites. Dari tes dapat menghasilkan skor yang nantinya dibandingkan dengan kriteria tertentu sehingga memperoleh nilai (A.A. Gede Agung,1997 : 75).

Metode tes ini digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa dengan alat pengumpul data berupa butir-butir tes yang sesuai dengan pokok bahasan yang sudah diajarkan.

6. Metode Analisis Data

Setelah semua data sudah didapat maka peneliti akan melakukan analisis data secara analisis statistik deskriftif  dan metode analisis deskriptif kuantitatif sebagai berikut :

  1. Metode Analisis Statistik Deskriptif

Metode analisis statistik deskriptif yaitu : suatu cara pengolahan data yang dilakukan dengan jalan menerapkan rumus-rumus seperti distribusi frekuensi, grafik, mean, median, strandar deviasi untuk menggambarkan suatu obyek atau variable tertentu sehingga diperoleh kesimpulan umum ( A.A. Gede Agung, 1999 : 76).

 

a.       Tabel Distribusi Frekuensi

Data yang telah terkumpul di olah dan disajikan ke dalam table distribusi frekuensi dengan menentukan kelas interval terlebih dahulu, dengan cara menghitung rentangan (R) dengan rumus :

R = Xt –Xr

Jika hasilnya < 15, maka dibuat tabel distribusi frekuensi dengan data tunggal.

Sedangkan jika R >15, maka di gunakan tabel distribusi frekuensi dengan data bergolong.

Contoh tabel distribusi frekuensi

Distribusi Frekuensi Tingkat Hasil Belajar

Skor X F Fk Fx

( Nurkancana, 1986 : 145)

Keterangan :

X   : Skor                                       Fk        : Frekuensi komulatif

F    : Frekuensi                               Fx        : Frekuensi x skor

Adapun rumus-rumus yang dipergumakan dalam analisis statistik deskriftif yaitu :

b.      Menghitung Mean ( Rata-rata)

Σfx

M =                      ( Sujana, 1975 : 38)

N

Keterangan :

M         : Rata-rata

Σfx     : Jumlah skor seluruh siswa

N         :  Jumlah siswa

c.       Menghitung Median (Me)

Untuk menghitung Median yang datanya tunggal menggunakan skor yang mengandung frekuensi komulatif setengah N. Median adalah skor yang membatasi 50% distribusi sebelah bawah.

Untuk menghitung median datanya bergolong di gunakan rumus :

½ N – fkb

Me =  B-:    ──────                  ( Sutrisno, 1997 : 44)

fm

Keterangan  :

Me       : Median

B         : Batas Bawah

I           : Panjang interval

N         : Banyak data

Fkb      : Frekuensi komulatif bawah median

Fm       : Frekuensi pada daerah median

d.      Menghitung Modus

Untuk menghitung modus jika datanya tunggal adalah skor yang memiliki frekuensi tinggi.

Untuk menghitung modus yang datanya bergolong digunakan rumus :

b1

Mo = B + i  ─────                     ( Sujana, 1975: 43)

b1 + b2

Keterangan :

B         : Batas kelas bawah interval Modus

I           : Kelas interval

b1        : Frekuensi Mo- frekuensi kelas interval yang lebih rendah

b2        : Frekuensi Mo- frekuensi kelas interval yang lebih tinggi

  1. Metode Analisis Statistik Deskriptif Kuantitatif

Metode analisis statistik deskriptif kuantitatif adalah : suatu cara pengolahan data yang dilakukan dengan jalan menyusun secara sistematik dalambentuk angka-angka atau presentase mengenai suatu objek sehingga diperoleh kesimpulan umum ( A.A. Gede Agung, 1996 : 76).

Metode ini digunakan untuk menentukan tinggkat hasil belajar yang dikonversikan ke dalam Penilaian Acuan Patokan (PAP) skala 5.

a.       Menghitung Hasil Belajar

Untuk menghitung tingkat hasil belajar digunakan rumus :

M

M ( % ) =     ─── x 100 % ……………………….( A.A. Agung, 1997 : 78 )

SMI

Keterangan :

M ( % )            = Rata – rata Persen

M                     = Rata – rata Skor (Mean)

SMI                 = Skor Maksimal Ideal

b.      Konversi Kreteria PAP Skala 5

Kreteria PAP Skala 5 Tingkat Hasil Belajar Siswa

PERSENTASE KRITERIA
90-10080-89

65-79

55-64

0-54

Sangat BaikBaik

Cukup Baik

Kurang Baik

Sangat Kurang Baik

(A.A. Gede Agung, 1997 : 76).

DAFTAR PUSTAKA

Agung, A. A. Gede, 1997. Pengantar Evaluasi Pengajaran, Singaraja : STKIP. …………….1999. Metodologi Penelitian Pendidikan, Singaraja : STKIP Singaraja.

Ali, H. Mohamad, 1992. Guru Dalam Proses Belajar Mengajar, Bandung : Sinar Baru.

Dimyati dan Moedjono, 1992/1993. Strategi Belajar Mengajar, Jakarta : Depdikbud.

Hadiat, 2001. Alam Sekitar Kita 4. IPA Untuk Sekolah Dasar Kelas 6, Jakarta : Depdikbud.

Ibrahim dan Nana Syahodih, 1992/ 1993. Perencanaan Pengajaran Depdikbud.

Roestyah, N. K, 1991. Strategi Belajar Mengajar, Jakarta : Reneka Cipta.

Rusyan Tabarin, 1993. Proses Belajar Mengajar Yang Efektif tingkat Pendidikan Dasar, Bandung : Bina Budhaya.

Sadia I Wayan, 1998. Penelitian Tingkat Konsep Dasar dan Penerapan (terjemahan), Singaraja : STKIP Singaraja.

Sadiman, Arif S., 1990. Media Pendidikan, Jakarta : Raya Grafindo Persada.

Soeharto, Karni, 1995.Teknologi Pembelajaran, Surabaya : Intelek Club.

Soetomo, 1993. Dasar-Dasar Interaksi Belajar Mengajar, Surabaya : Usaha Nasional.

Sujana Nana dan Ahmad Rivai, 1991. Media Pengajaran, Bandung : Sinar Baru.

Suryabrata, Soemadi, 1981. Psikologi Pendidikan, Bandung : Angka

 

SILAHKAN DOWNLOAD FILE DI SINI

 

 

 

 

 


Penerapan metode tugas dan latihan untuk meningkatkan hasil belajar IPS Bagi Siswa kelas IV semester I SD Negeri Munduk Bestala Tahun 2009/2010


A. Judul Penelitian:

Penerapan  metode tugas dan latihan untuk meningkatkan hasil belajar IPS Bagi Siswa kelas IV semester I SD Negeri Munduk Bestala Tahun  2009/2010

B. Latar Belakang Masalah

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Dalam Undang-Undang No.20 tahun 2003, Bab II pasal 3 disebutkan bahwa ;

Tujuan pendidikan nasional adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. (Undang-Undang RI No.20 tahun 2003: 3)

Berkaitan dengan tujuan pendidikan nasional tersebut di atas, maka sangatlah diperlukan peningkatan sumber daya manusia yang berkualitas tinggi. Hal ini dikarenakan kualitas sumber daya manusia  merupakan kekuatan utama dalam menggerakkan roda pembangunan. Sejalan dengan upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia dan menyiapkan peserta didik dalam sistem persekolahan, maka peserta didik perlu dibantu dalam memecahkan masalah belajar. Guru diharapkan dapat membantu siswa dalam memecahkan masalah tersebut agar tujuan pendidikan nasional dapat tercapai sesuai dengan yang diharapkan

Perhatian guru hendaknya ditujukan kepada  usaha menciptakan kondisi belajar yang kondusif, sehingga merangsang siswa untuk melakukan kegiatan belajar.

Dalam kegiatan belajar mengajar, guru merupakan salah satu komponen yang sangat berpengaruh terhadap murid, karena guru merupakan ujung tombak tercapainya tujuan pendidikan.

Tujuan pendidikan ini akan dapat tercapai dengan baik apabila metode mengajar yang dipilih dapat diterapkan dengan sungguh-sungguh dan siswa lebih mudah memahami materi pelajaran yang disajikan, siswa lebih bergairah serta senang dalam belajar. Diantara berbagai metode yang ada, peneliti memilih metode tugas dan latihan untuk digunakan dalam penelitian tindakan kelas.

Dari observasi awal peneliti, menunjukkan bahwa dewasa ini para guru Sekolah Dasar belum sepenuhnya memahami penerapan metode tugas dan latihan dengan baik. Keluhan-keluhan guru sering terlontar karena hanya masalah kekurangan waktu, sedangkan materi pelajaran masih banyak khususnya di SD Negeri Munduk Bestala tempat kami mengadakan penelitian. Hal ini akan berdampak juga terhadap  hasil belajar siswa, guru jarang memberikan tugas dan latihan karena harus dituntut untuk menghabiskan materi pelajaran. Hasil observasi menunjukan bahwa nilai pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas IV Semester I SD Negeri  Munduk Bestala rendah dengan angka rata-rata 5 (lima). Hal ini kiranya tidak perlu terjadi karena usaha yang dapat dilakukan masih terbuka lebar, salah satu caranya adalah dengan menerapkan metode tugas dan latihan dengan baik.

Pada akhirnya, peneliti berharap dengan diterapkannya metode tugas dan latihan bisa membantu meningkatkan hasil belajar siswa. Apabila  masalah tersebut telah dapat dipecahkan, diharapkan hasil belajar siswa dapat meningkat sesuai dengan harapan sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai, khususnya bagi siswa kelas IV   Semester I SD Negeri Munduk Bestala pada tahun 2009/2010.

C. Perumusan Masalah

Atas dasar latar belakang masalah tersebut, maka dapat diajukan perumusan masalah sebagai berikut :

“Apakah terdapat peningkatan hasil belajar siswa setelah diterapkan metode tugas dan latihan dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di kelas IV Semester I SD Negeri Munduk Bestala  2009/2010?”.

 

 

D. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan permasalahan yang diungkapkan, maka tujuan penelitian yang dilakukan adalah :

“Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa setelah diterapkan metode tugas dan latihan dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di kelas IV Semester I SD  Negeri Munduk Bestala”.

E. Manfaat Penelitian

Setelah diadakan penelitian, di harapkan agar hasil penelitian ini bermanfaat sebagai berikut :

a.       Bagi guru dapat termotivasi untuk mengajar, dengan cara ini proses belajar mengajar berjalan dengan baik sehingga dapat memperjelas konsep serta dapat meningkatkan professional guru

b.      Bagi siswa diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar terutama mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di kelas IV Semester I SD Negeri Munduk Bestala.

c.       Bagi Kepala Sekolah, hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sumber informasi berharga terutama dalam usaha meningkatkan hasil belajar siswa

d.      Bagi peneliti lain, hasil penelitian ini dapat dijadikan tolok ukur dalam langkah-langkah melakukan penelitian selanjutnya.

F. Kajian Pustaka

1. Metode Mengajar

  1. Pengertian Metode Mengajar

A.A. Gede Agung (1999 : 1) mengatakan “metode berasal dari kata methodos. Secara etimologis metodos berasal dari  kata metha artinya dilalui dan thodos artinya jalan. Metode adalah jalan atau cara yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan”.

Metode merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam proses belajar mengajar. Di dalam dunia pendidikan terdapat berbagai jenis metode yang dapat dimanfaatkan untuk mencapai tujuan di dalam kegiatan belajar mengajar

“Metode mengajar adalah kegiaran guru untuk mencapai tujuan tertentu” (Nasution, 1982 : 43). Dalam proses pembelajaran guru melaksanakan kegiatan yang telah direncanakan untuk mencapai tujuan yang  telah ditetapkan. Pendapat tersebut juga didukung oleh Syaiful Bahri Djamalah dan Aswan Zain (1995 : 53) yang mengatakan bahwa metode mengajar adalah ”strategi pengajaran sebagai alat untuk mencapai tujuan yang diharapkan”.

Menurut Nana Sudjana (1989 : 76) metode mengajar adalah “cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pelajaran” Guru dan siswa mengadakan hubungan pada saat pembelajaran. Hendaknya guru menggunakan cara-cara yang tepat supaya terjadi hubungan yang kondusif sehingga tujuan tercapai.

Dari beberapa pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa metode mengajar adalah suatu cara yang harus ditempuh atau dilalui di dalam menyampaikan suatu materi untuk mencapai tujuan instruksional yang telah ditetapkan. Proses belajar mengajar merupakan interaksi yang dilakukan antara guru dengan peserta didik dalam suatu situasi pendidikan atau pengajaran untuk mewujudkan tujuan yang ditetapkan. Wujud interaksi pengajaran melalui beberapa pendekatan menghendaki adanya pertimbangan yang kuat atas keunikan dan keragaman peserta didik. Seorang  guru sudah barang tentu dituntut kemampuannya untuk menggunakan berbagai metode mengajar secara bervariasi. Metode mengajar merupakan cara-cara yang ditempuh guru unuk menciptakan situasi pengajaran yang benar-benar menyenangkan dan mendukung bagi kelancaran proses belajar dan tercapainya prestasi belajar anak yang memuaskan.

  1. Jenis-Jenis Metode Mengajar

Jenis-jenis metode mengajar menurut Syaiful Bahri Jamarah dan Aswan Zain (1995 : 93) adalah 1) Metode Proyek yaitu metode pengajaran yang bertitik tolak dari suatu masalah dan dipecahkan secara keseluruhan dan bermakna, 2) metode eksprimen yaitu cara penyajian pelajaran melalui percobaan, 3) metode tugas, yaitu cara penyajian pelajaran melalui percobaan, 4) metode diskusi yaitu memberian pertanyaan problematic kepada siswa untuk dibahas dan dipecahkan bersama, 5) metode sosiodrama yang dilakukan dengan cara mendramatisasikan  tingkah laku dalam hubungannya dengan masalah sosial, 6) metode demonstrasi yaitu cara penyajian pelajaran dengan cara meragakan kepada siswa tentang suatu proses disertai penjelasan lisan, 7) metode problem solving dimana siswa mencari jalan keluar dari suatu masalah, 8) metode karyawisata dengan mengajak siswa meninjau obyek tertentu, 9) metode tanya jawab dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab, 10) metode latihan yang digunakan untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu, 11) metode ceramah yang digunakan untuk menyampaikan keterangan/informasi/uraian tentang sesuatu secara lisan.

Nana Sudjana (1987 : 76) menambahkan lagi 5 jenis metode mengajar yaitu 1) metode simulasi yang dilakukan melalui perbuatan yang bersifat pura-pura, 2) metode survai masyarakat yaitu cara memperoleh informasi dengan jalan observasi dan komunikasi langsung, 3) metode piersource person (manusia sumber) yaitu dengan mendatangkan orang luar yang mempunyai keahlian sumber, 4) metode sistem regu yaitu cara mengajar dimana sebuah kelompok siswa diajar oleh 2 orang guru atau lebih, 5) metode kerja kelompok yaitu guru memberikan tugas kepada siswa untuk dikerjakan secara berkelompok.

“Diantara sekian banyak metode mengajar yang dikenal guru, ada 10 metode mengajar yaitu “metode ceramah, Tanya jawab, diskusi, kerja kelompok pemberian tugas, demonstrasi, ekperimen, simulasi, inkuiri dan metode pengajaran unit/ pembelajaran teroadu” (Mulyani Sumantri dan Johan Permana, 1998/1999 : 134).

Dari beberapa jenis metode tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan akan dapat tercapai dengan baik sangatlah tergantung pada tepat tidaknya guru tersebut menggunakan metode pada mata pelajaran tertentu. Tujuan-tujuan pendidikan pembelajaran dan jenis mata pelajaran menentukan metode apa sebaiknya digunakan. Setiap mata pelajaran tertentu mempunyai metode tertentu sesuai dengan kekhususan mata pelajaran tersebut. Oleh sebab itu guru hendaknya dapat menentukan metode apa yang paling efisien bagi pelajarannya sehingga tujuan pengajaran tercapai secara baik

Perlu diketahui bahwa tidak ada satupun metode yang dapat dianggap lebih sempurna dari pada yang lain. Masing-masing metode memunyai keunggulan dan kekurangannya. Karena itu dalam proses pembelajaran dapat digunakan lebih dari satu metode. Dalam penelitian ini metode yang dikaji dibatasi hanya pada metode tugas dan latihan.

 

d. Metode Tugas dan Latihan

1.      Metode Tugas

Metode ini sangat cocok diberikan untuk mengimbangi bahan pelajaran yang sangat banyak  sementara waktu sedikit.

Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (1995 : 96) mengatakan bahwa “metode tugas adalah cara penyajian bahan dimana guru memberikan tugas tertentu agar bisa melakukan kegiatan belajar”. Masalah tugas yang dilakukan oleh siswa dapat dilakukan di dalam kelas, halaman sekolah di perpustakaan, di bengkel, di Laboratorium, di rumah siswa atau dimana saja asal tugas itu dapat dikerjakan.

Tugas tidak sama dengan pekerjaan rumah, tetapi jauh lebih luas dari itu. Tugas merangsang anak untuk aktif belajar baik secara individual maupun secara berkelompok

Tugas yang dapat diberikan kepada anak didik ada berbagai jenis, karena itu tugas sangat banyak macamnya, tergantung pada tujuan yang akan dicapai, seperti tugas meneliti, menyusun laporan (lisan/tulisan), tugas di laboratorium dan lain-lain. Menurut Nana Sudjana (1987 : 81) mengatakan ada beberapa langkah-langkah yang harus diikuti dalam penggunaan metode tugas yaitu :

a.       Fase Pemberian Tugas

Tugas yang diberikan kepada siswa hendaknya mempertimbang-kan

1.      Tujuan yang akan dicapai

2.      Jenis tugas yang jelas dan tepat sehingga anak mengerti apa yang ditugaskan tersebt

3.      Sesuai dengan kemampuan siswa

4.      Ada petunjuk/sumber yang dapat membantu pekerjaan siswa

5.      Sediakan waktu yang cukup untuk mengerjakan tugas tersebut

 

b.      Langkah Pelaksanaan Tugas

1.      Diberikan bimbingan/pengawasan oleh guru

2.      Diberikan dorongan sehingga anak mau bekerja

3.      Diusahakan / dikerjakan oleh siswa sendiri tidak menyuruh orang lain

4.      Dianjurkan agar siswa mencatat hasil-hasil yang ia peroleh dengan baik dan sistematik

 

c.       Mempertanggungjawabkan tugas

Hal yang harus dikerjakan adalah :

1.      Laporan siswa baik lisan/tertulis dari apad yang telah dikerjakannya

2.      Ada Tanya jawab/diskusi kelas

3.      Penilaian hasil pekerjaan siswa baik dengan tes maupun non tes atau cara lainnya.

Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (1995 : 98) mengatakan metode tugas mempunyai kelebihan dan kekurangan adalah sebagai berikut :

1.      Kelebihannya :

a.       Lebih merangsang siswa dalam melakukan aktivitas belajar individual/ kelompok

b.      Dapat mengembangkan kemandirian siswa di luar penugasan guru

c.       Dapat membina tanggung jawab dan disiplin siswa

d.      Dapat mengembangkan kreativitas siswa

2.      Kekuranganya

a.       Siswa sulit dikontrol apakah benar ia yang mengerjakan tugas ataukah orang lain

b.      Khusus untuk tugas kelompok yang aktif mengerjakan dan menyelesaian adalah anggota tertentu saja. Sedangkan anggota lainnya tidak berpartisipasi dengan baik

c.       Tidak mudah memberikan tugas yang sesuai dengan perbedaan individu siswa

d.      Sering memberikan tugas yang monoton dapat menimbulkan kebosanan siswa

Melihat kelebihan dan kekurangan dari metode tugas tersebut, bila dikaitkan dengan   hasil belajar siswa sangatlah mendukung. Dengan metode tugas akan bisa membangkitkan semangat belajar siswa, mandiri, bertanggung jawab dan penuh kreatif, hal ini akan bisa memcapai hasil belajar yang baik. Menurut Mulyani Sumantri dan Johar Permana (1998/1999 :151) mengatakan ”metode tugas mempunyai kekuatan dan keterbatasan, yaitu sebagai berikut”.

1.      Kekuatan metode tugas :

a.       Membuat peserta didik aktif belajar

b.      Merangsang peserta didik belajar lebih banyak, baik dekat dengan guru maupun pada saat jauh dari guru di dalam sekolah maupun di luar sekolah

c.       Mengembangkan kemandirian peserta didik

d.      Lebih memperdalam, memperkaya atau memperluas pandangan tentang apa yang dipelajari

e.       Membina kebiasaan peserta didik untuk mencari mengolah sendiri informasi dan komunikasi

f.       Membuat peserta didik dan bergairah belajar karena dapat dilakukan dengan bervariasi

g.      Membina tanggung jawab dan disiplin siswa

h.      Mengembangkan kreativitas peserta didik

2.      Keterbatasan metode tugas

a.       Sulit mengontrol peserta didik apakah belajar sendiri atau dikerjakan orang lain

b.      Sulit memberikan tugas yang sesuai dengan perbedaan individu peserta didik

c.       Tugas yang monoton dapat membosankan peserta didik

d.      Tugas yang banyak sering dapat membuat beban dan keluhan peserda didik

e.       Tugas kelompok dikerjakan oleh orang tertentu atau peserta didik yang rajin dan pintar.

Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan dari penggunaan metode penugasan adalah untuk merangsang anak untuk aktif belajar baik secara individual maupun kelompok

Setelah Tanya jawab atau ceramah diketahui bahan-bahan yang perlu mendapatkan penekanan dan harus dikuasai peserta didik oleh karena itu guru memberikan tugas dengan alasan agar peserta didik dapat belajar sendiri atau berkelompok mencari pengayaan atau sebagai tindak lanjut dari kegiatan sebelumnya. Metode penugasan menjadi salah satu cara penyampaian pengajaran untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban-jawaban atau tugas yang diberikan guru.

2. Metode Latihan

Metode latihan yang disebut juga metode training, merupakan suatu cara mengajar  yang baik untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu. Juga sebagai sarana untuk memelihara kebiasaan-kebiasaan yang baik. Selain itu, metode ini dapat juga digunakan untuk memperoleh suatu ketangkasan, ketepatan, kesempatan dan keterampilan.

Sebagai suatu metode yang diakui banyak mempunyai kelebihan, juga tidak dapat disangkal bahwa metode latihan mempunyai beberapa kelemahan.

Maka dari itu, guru yang ingin mempergunakan metode latihan  ini kiranya tidak salah bila memahami karakteritik metode ini

Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (1995 : 108) mengatakan kelebihan dan kekurangan metode latihan adalah sebagai berikut :

a.       Kelebihan Metode Latihan

1.      Untuk memperoleh kecakapan motoris seperti menulis, melafalkan huruf, kata-kata atau kalimat, membuat alat-alat dan terampil menggunakan alat olahraga

2.      Untuk memperoleh kecakapan mental, seperti dalam perkalian menjumlahkan, pengurangan, pembagian, tanda-tanda dll.

3.      Untuk memperoleh kecakapan dalam bentuk asosiasi yang dibuat, seperti hubungan huruf-huruf dalam ejaan, penggunaan symbol membaca peta dan sebagainya

4.      Pembentukan kebiasaan yang dilakukan dan menambah  ketepatan serta kecepatan pelaksanaan

5.      Pemanfaatan kebiasaan-kebiasaan yang tidak memerlukan konsentrasi dalam pelaksanaannya

6.      Pembentukan kebiasaan-kebiasaan membuat gerakan-gerakan yang komplek, rumit, menjadi lebih otomatis

b.      Kelemahan Metode Latihan

1.      Menghambat bakat dan inisiatif siswa karena siswa lebih banyak dibawa kepada penyesuaian dan diarahkan jauh dari pengertian

2.      Menimbulkan penyesuaian secara statis kepada lingkungan

3.      Kadang-kadang latihan yang dilaksanakan secara berulang-ulang merupakan hal yang monoton, mudah dan membosankan

4.      Membentuk kebiasaan yang kaku, karena bersifat otomatis

5.      Dapat menimbulkan verbalisme

Melihat kelebihan dan kekurangan dari metode latihan tersebut , bila dikaitkan dengan keaktifan dan hasil belajar siswa sangatlah mendukung. Dengan metode  latihan akan tertanam kebiasaan-kebiasaan yang baik pada diri siswa.

3.      Penerapan Metode Tugas dan Latihan

Penggunaan metode tugas biasanya diberikan pada saat guru selesai memberikan materi pelajaran kepada siswa, ada kalanya timbul suatu persoalan/ masalah yang tidak dapat diselesaikan dengan hanya penjelasan secara lisan melalui ceramah. Untuk itu guru perlu menggunakan metode tugas sebagai jalan keluarnya baik tugas-tugas individu maupun tugas kelompok, sehingga siswa dapat melakukan kegiatan belajar dengan baik.

2. Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial

Untuk memperjelas pemahaman tentang hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial maka akan dibahas mengenai : a. Pengertian hasil belajar ilmu pengetahuan sosial, b. Faktor-faktor yang mepengaruhi hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial, c. Ciri-ciri hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial.

a.       Pengertian Hasil Beajar ilmu Pengetahuan Sosial

Kata hasil mempunyai arti “pendapatan atau perolehan” (W.J.S Poerwadarminta. 1994 : 384). Dalam penelitian ini hasil diartikan sebagai pendapatan atau perolehan dari seseorang dengan menunjukkan kecakapan dan kemampuannya. Hasil belajar ini biasanya ditunjukkan melalui perolehan nilai, keterrampilan, prilaku dan lain sebagainya.

Ilmu Pengetahuan sosial adalah “ pelajaran yang mempelajari kehidupan sosial yang didasari pada bahan kajian geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi, tata Negara dan sejarah” (Depdikbud, 1993 : 151)

Dengan demikian hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial mengandung pengertian sebagai pendapatan atau perolehan berupa kecakapan dan kemampuan terhadap ruang lingkup pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.

b.      Ciri-ciri Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial

Dalam GBPP Ilmu Pengetahuan Sosial (1994 : 150) disebutkan ciri-ciri hasil belajar IPS sebagai berikut.

1.      Mampu mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dasar untuk kenyataan sosial yang dihadapi siswa dalam kehidupan sehari-hari memiliki kemampuan mengembangkan pemahaman tentang rasa kebangsaan.

2.      Memiliki kebanggaan sebagai bangsa Indonesia dan cinta tanah air.

Ciri-ciri belajar Ilmu Pengetahuan Sosial yang lain, secara implicit tercermin dalam tujuan khusus pengajaran Ilmu Pengetahuan Sosial yang meliputi penguasaan dan kemampuan siswa tentang berbagai hal seperti :

1.      Mampu memahami hubungan antara manusia dengan lingkungan budayanya.

2.      Mampu memahami peristiwa-peristiwa serta perubahan-perubahan yang terjadi di sekitarnya.

3.      Mampu mengenal kebutuhan-kebutuhannya serta menyadari bahwa manusia lainnya memiliki kebutuhan.

4.      Menghargai budaya masyarakat sekitarnya, bangsa an juga budaya bangsa lain.

5.      Dapat menerapkan prinsip-prinsip ekonomi yang bertalian dengan dirinya sendiri.

6.      Mempunyai tanggung jawab dalam pemeliharaan dan pengelolaan sumber daya manusia dan alam.

7.      Mampu menghargai sejarah bangsanya serta hak-haknya sebagai manusia yang hidup di suatu Negara yang merdeka (Depdikbud, 1993/1994 : 2).

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan apabila mampu menunjukkan sikap atau prilaku seperti yang diuraikan di atas, itulah hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial.

c.       Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial.

Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama, yakni faktor dari dalam diri siswa dan faktor dari luar diri siswa atau faktor lingkungan. Faktor yang datang dari diri siswa terutama kemampuan yang dimiliki siswa. Faktor kemampuan siswa besar sekali pengaruhnya terhadap hasil belajar yang dicapai. Seperti yang dikemukakan oleh Richard Clark (1981 : 12) bahwa : hasil belajar siswa disekolah 70% dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan 30% dipengaruhi oleh lingkungan”.

Adanya faktor pengaruh dari dalam diri siswa, merupakan hal yang logis dan wajar, sebab hakikat perbuatan belajar adalah perubahan tingkah laku individu yang disadarinya. Kualitas pengajaran juga sangat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa.

G. Kerangka Berpikir

Sesuai kajian pustaka yang telah diuraikan di atas, selanjutnya dapat diajukan kerangka berpikir sebagai berikut :

a.       Metode tugas dan latihan yang merupakan dua diantara sekian banyak metode yang ada sangat diperlukan dalam proses belajar mengajar Ilmu Pengetahuan Sosial untuk menghindari kekurangan waktu dalam proses belajar mengajar.

b.      Melalui metode tugas dan latihan siswa akan dapat lebih memahami suatu proses, karena siswa dirangsang untuk aktif belajar baik secara individual maupun kelompok. Dengan aktif belajar sendiri akan dapat tertanam kebiasaan-kebiasaan positif baik dalam ketangkasan, ketetapan, kesempatan dan keterampilan, sehingga berpengaruh pada peningkatan hasil belajar.

H. Hipotesis Tindakan

Jika penerapan metode tugas dan latihan dapat berjalan dengan baik, maka hasil belajar siswa dalam Ilmu Pengetahuan sosial  akan cenderung meningkat.

UNTUK LEBIH JELAS DAN LENGKAP SILAHKAN DOWNLOAD FILE DI SINI


Metode Pengumpulan Data


Metode Pengumpulan Data

Adapun metode yang digunakan dalam menyusun laporan ini adalah sebagai berikut :

a.   Metode Observasi

Metode observasi adalah suatu metode pengumpulan data yang dilaksanakan melaui pengamatan secara langsung seluruh kegiatan yang dilaksanakan di SD LAB Singaraja

b.   Metode Wawancara (Interview)

Metode wawancara adalah suatu metode pengumpulan data yang dilaksankan melalui wawancara baik terhadap kepala sekolah, guru, pegawai dan siswa untuk mengetahui keadaan sekolah tersebut.

c.    Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data diperoleh dengan diskusi-diskusi atau pertukaran informasi yang disertai analisis dan argumentasi untuk memperoleh kebenaran data dan informasi.

SILAHKAN DOWNLOAD FILE DISINI


ARTIKEL SEKRIPSI PTK


PENERAPAN TEKNIK PERMAINAN – MATEMATIKA DALAM PEMBELAJARAN SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS V SD NO. 1 SINABUN TAHUN PELAJARAN 2003/2004 PADA POKOK BAHASAN BILANGAN BULAT

 

Abstrak

Secara jujur harus diakui, pembelajaran Matematika di SD No. 1 Sinabun kelas V belum berlangsung seperti yang diharapkan. Guru cenderung masih konvensional menggunakan teknik pembelajaran yang bercorak teoretis dan hafalan sehingga kegiatan pembelajaran berlangsung kaku, monoton, dan membosankan. Mata pelajaran matematika belum mampu melekat pada diri siswa sebagai sesuatu yang kurang menarik, rasional, kognitif, emosional, dan afektif. Berdasarkan uraian diatas memberikan dampak bahwa dalam kegiatan pembelajaran matetaika kurang  aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Hal ini mempengaruhi menurunnya keaktifan siswa secara mental dalam memahami konsep matemetika dalam pembelajaran dan akan berpengaruh pada prestasi belajar siswa, dan mata pelajaran matemtika belum mampu menjadi mata pelajaran yang disenangi dan dirindukan oleh siswa.Untuk menjawab permasalahan tersebut, penulis mengusulkan sebuah teknik pembelajaran dengan menggunakan permainan- matematika dalam upaya meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar siswa pada pokok bahasan bilangan bulat. teknik tersebut digunakan karena pada jenjang SD siswa sangat membutuhkan objek konkret di dalam memahami suatu konsep. Siswa akan lebih mudah memahami sesuatu jika dihadapkan pada objek yang konkret, slain itu siswa SD umumnya senang bermain. Karena itu permainan matematika dapat menjadi daya tarik bagi siswa karena dalam suasana bermain umumnya siswategang dalam menerima mata pelajaran matematika.

Kata Kunci :

Teknik permainan-matematika pada pokok bahasan bilangan bulat, aktivitas dan prestasi belajar siswa.

 

Pendahuluan

Saat ini metode pembelajaran matematika yang banyak dilaksanakan di SD No.1 Sinabun adalah masih konvensional yaitu dengan menjelaskan, memberi contoh, memberi soal latihan,dan memberikan PR, dan tidak ada aplikasi pada kehidupan sehari-hari. Pembelajaran matematika di kelas siswa sering merasa tidak senang terhadap mata pelajaran karena guru cenderung mendominasi kelas. Berdasarkan hal tersebut maka penulis mencoba menerapkan teknik permainan matematika dalam pembelajaran, Hudoyo (1989), mengatakan bahwa prinsip dari permainan matematika adalah peserta didik belajar sambil bermain, belajar sambil mengobservasi, dan dimulai dari konkret ke abstrak. Siswa belajar dengan cara memanipulasi benda-benda konkret (nyata) untuk memahami suatu konsep atau keterampilan tertentu.

Permainan matematika menyebabkan siswa tidak merasa tegang di dalam belajar matematika. Selain itu guru juga dapat membuat siswa merasa ikut ambil bagian di dalam kegiatan yang menyebabkan siswa senang dan asik dalam mempelajari matematika. Salah satu kegiatn yang membuat siswa berprilaku dan berada dalam suasana di atas adalah melalui permainan matematika khususnya bilangan bulat. Sehingga aktifitas siswa dalam pembelajaran menjadi aktif dan memotivasi siswa untuk meningkatkan prestasi belajar siswa.

Jean Peaget (Srinivasa, 2002), mengatakan bahwa ada empat perkembangan kognitif, antara lain : tahap sensori motor (umur 0-2 tahun), tahap praoperasi (umar 2-7), tahap operasi konkret (umur 7-11/12 tahun), dan tahap operasi formal (umur 11/12 tahun ke atas). Dilihat dari umur siswa sekolah dasar (SD), yaitu antara 6-12 tahun, maka siswa SD berada pada tahap operasi konkret, yaitu pada umumnya hanya mampu berfikir dengan logika bila hal-hal yang dihadapi bersifat konkret atau nyata, yaitu dengan cara mengamati atau melakukan sesuatu yang berkaitan dengan hal tersebut. Siswa SD tidak akan dapat memahami operasi (logis) dalam konsep matematika tanpa dibantu melalui kegiatan-kegiatan yang bersifat konkret, maka pembelajaran Matematika diarahkan melalui kegiatan permainan dengan melibatkan obyek atau alat bantu.

Rusgianto (Sukarman, 1989), berpendapat bahwa fungsi dari alat bantu perm ainan adalah : (1) merupakan alat bantu bagi guru dalam proses pembelajaran matematika, sehingga diharapkan dapat memperjelas penanaman konsep pada siswa. (2) meningkatkan sfisiensi waktu dalam proses pembelajaran matematika. (3) meningkatkan motivasi siswa dalam proses pembelajaran matematika. Guru dituntut untuk menciptakan kegiatan-kegiatan yang menyebabkan siswa senang dan asyik dalam mempelajari matematika. Salah satu kegiatan yang dapat membuat siswa berfikir dan berada dalam suasana itu adalah permainan matematika.

Ditegaskan oleh Ruseffendi (1980), bahwa permainan adalah suatu kegiatan yang dapat menyenangkan dan menunjang tercapainya suatu tujuan. Sehingga di dalam menentukan suatu permainan seorang guru harus menyesuaikan tujuan yang inggin dicapai dalam pembelajarn matematika, agar lebih mudah dalam menanamkan suatu konsep pada siswa. Melalui permaianan matematika, guru dapat membuat siswa merasa ikut ambil bagian di dalam kegiatan pembelajaran yang diprogramkan guru. Dalam hal ini guru perlu mengetahui berbagai jenis permainan matematika, dan bisa memilih permainan yang cocok digunakan untuk mempermudah menanamkan suatu konsep seperti: Permainan jawab-tepat, permainan cepat-tepat, permainan saku dan permainan kotak. Adapun kesempatan berkompetisi dapat menjadi daya tarik tersendiri dalam permainan matematika, dan ini menyebabkan siswa akan berusaha bermain maksimal dalam permainan matematika tersebut.

Dengan demikian dapat dikatan bahwa melalui permainan matematiaka yaitu Permainan jawab-tepat, permainan cepat-tepat, permainan saku dan permainan kotak dalam menanamkan konsep bilangan bulat memiliki kelebihan yang dapat menghasilkan pemahaman lebih dalam tentang konsep bilangan bulat dan pembelajaran menjadi aktif sehingga diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

Meskipun demikian, metode permainan matematika dalam pembelajaran bilangan bulat yang digunakan : (1) Apakah dengan penggunaan teknik permainan matematika dalam pembelajaran bilangan bulat dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa Kelas V SD No. 1 Sinabun ? (2)  Apakah dengan penggunaan teknik permainan matematika dalam pembelajaran bilangan bulat dapat meningkatkan prestasi belajar siswa Kelas V SD No. 1 Sinabun? Berdasarkan permasalahan yang ditemukan, diperlukan pembelajarn matematika yang benar-benar dapat menciptakan suasana pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan

Adapun tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah untuk: (1) mengetahui seberapa jauh peningkatan aktivitas belajar siswa melalui penerapan teknik permainan-matematika dalam pemelajaran bilangan bulat. (2) mengetahuai seberapa jauh peningkatan prestasi belajar siswa melalui penerapan teknik permainan-matematika dalam pembelajaran bilangan bulat. Secara garis besar manfaat dari penelitian ini adalah : (1) dapat membangkitkan rasa ingin tahu siswa terhadap mata pelajaran matematika. (2) mendapatkan pengalaman dalam belajar matematika. (3) dapat meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar siswa. Selainitu menfaat yang didapat oleh guru yaitu sebagai bahan masukan bagi guru bersangkutan maupun guru-guru yang lain dalam meningkatkan kualitas proses pembelajaran selanjutnya.

 

Metode

Subyek penelitian ini adalah siswa kelas V SD No. 1 Sinabun tahun pelajaran 2003/2004 sebanyak 37 orang.  Sebagai pelaku dalam penelitian ini adalah penerapan teknik permainan matematika dalam pembelajaran pada pokok bahasan bilangan bulat. Penelitian ini dilaksanakan dalam tiga siklus. Setiap siklus terdiri atas tahapan perencanaan tindakanan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi.

Data yang dikumpulakan dalam penelitian ini terdiri dari data tentang aktivitas siswa dan data tentang prestasi belajar siswa. Data tentang aktivitas belajar siswa dikumpulkan dengam metode observasi selama penelitian dan data tentang prestasi belajar siswa dikumpulkan dengan menggunakan tes prestasi belajar yang berupa soal essay sesuai dengan materi yang diajarkan.

dianalisis secara deskriptif.

DOWLOAD ARTIKEL DI SINI


Penerapan Metode Jigsaw untuk Meningkatkan Prestasi Belajar IPA Siswa Kelas IV Sifat dan Perubahan Wujud Benda


A. JUDUL PTK :

Penerapan Metode Jigsaw untuk Meningkatkan Prestasi Belajar IPA Siswa Kelas IV Semester I Pada Pokok Bahasan  Sifat dan Perubahan Wujud Benda di SD Negeri 3 Pohsanten Tahun Pelajaran 2009/2010

B. LATAR BELAKANG

Pendidikan IPA di sekolah dasar  merupakan salah satu program pembelejaran yang diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar  menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan IPA diarahkan untuk inkuiri  dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar. (Depdiknas 2006).

Keberhasilan pembelajaran IPA ditentukan oleh bagaimana guru dalam perencanaan. Pelaksanaan dan menilai sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Pembelajaran IPA di sekolah dasar masih ditemukan berbagai masalah antara lain bahwa hasil pembelajaran IPA masih kurang baik sebagai akibat kurang baiknya sistim evaluasi dan metode pembelajaran yang monoton tidak bervariasi, membosankan yang menekankan pada mengingat dan memahami saja. Sehubungan dengan hal tersebut pembelajaran IPA Pada umumnya hanya pada pemberian pengetahuan (Kognitip) belum pada apektif dan psikomotor siswa. Kurang optimalnya pembelajaran IPA ini juga terjadi di SD Negeri 3 Pohsanten kelas IV tempat penulis melakukan penelitian.

Berdasarkan observasi dan wawancara dengan guru kelas IV SD Negeri 3 Pohsanten yaitu Sutrisno, S.Pd. , Secara umum siswa kalau ditanya yang bersifat hafalan mereka cepat sekali bisa menjawab. Tetapi kalau pertanyaan yang bersifat pemahaman dan ketrampilan siswa lama sekali menjawab bahkan tidak bisa.  Siswa tidak begitu antusias mengikuti pelajaran, hal ini bisa dilihat dari 17 siswa kelas IV SD Negeri 3 Pohsanten hanya 2 siswa yang mau berinteraksi secara aktip.  Prestasi belajar siswa dalam pelajaran IPA masih rendah. Pada tahun pelajaran 2008/2009 nilai rata-rata ulangan harian siswa untuk  pokok bahasan sifat dan perubahan wujud benda adalah 5,70.

Rendahnya prestasi belajar siswa pada pelajaran IPA untuk pokok bahasan sifat dan perubahan wujud benda dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain : a) Kurang aktifnya siswa mengikuti pelajaran, karena siswa kurang tertarik pada cara penyajian materi yang banyak berpusat pada guru yang menggunakan metode ceramah. b) Kurangnya kesempatan berinteraksi antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa, Dalam pembelajaran guru banyak memberikan penjelasan. Hal ini menyebabkan siswa kurang mendapatkan pengalaman belajar dari temannya. Kepada guru kurang berani menyampaikan, sedangkan dengan temannya belum ada pembiasaan, sehingga menyebabkan sulitnya berinteraksi. c) Kurangnya motivasi siswa dalam menyampaikan gagasan, karena guru kurang memberi penguatan kepada siswa yang berani mengungkapkan pendapatnya. d) Informasi yang disampaikan guru saat pembelajaran terlalu cepat sehingga siswa kurang bisa memaknai dan memahami. e) Kurangnnya waktu yang diberikan kepada siswa untuk berinteraksi dengan media / sumber belajar / alat peraga.

Berdasarkan faktor-faktor tersebut memberikan dampak pembelajaran IPA  menjadi kurang menarik, hal ini mempengaruhi menurunnya keaktifan siswa dalam memahami konsep IPA dalam pembelajaran dan akan berpengaruh pada prestasi belajar siswa.

Proses pembelajaran dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menuntut adanya partisipasi aktif dari seluruh siswa. Jadi, kegiatan belajar berpusat pada siswa, guru sebagai motivator dan fasilitator di dalamnya agar suasana kelas lebih hidup. Pembelajaran kooperatif terutama teknik Jigsaw dianggap cocok diterapkan dalam pendidikan di Indonesia karena sesuai dengan budaya bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi nilai gotong royong. Upaya peningkatan prestasi belajar siswa tidak terlepas dari berbagai faktor yang mempengaruhinya. Dalam hal ini, diperlukan guru kreatif yang dapat membuat pembelajaran menjadi lebih menarik dan disukai oleh peserta didik. Suasana kelas perlu direncanakan dan dibangun sedemikian rupa dengan menggunakan model pembelajaran yang tepat agar siswa dapat memperoleh kesempatan untuk berinteraksi satu sama lain sehingga pada gilirannya dapat diperoleh prestasi belajar yang optimal, (Emildadiany 2008).

Berdasarkan uraian di atas agar prestasi belajar siswa dapat meningkat maka penulis tertarik melakukan penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan menerapkan atau menerapkan metode JIGSAW dalam pembelajaran IPA pada pokok bahasan sifat dan perubahan wujud benda di kelas IV SD Negeri 3 Pohsanten. Untuk menerapkan metode JIGSAW  ini penulis meminta bantuan Guru kelas VI maupun Kepala Sekolah SD Negeri 3 Pohsanten menganalisis dan menindaklanjuti agar pembelajaran IPA menjadi lebih baik sehingga prestasi belajar siswa kelas VI semester I SD Negeri 3 pohsanten meningkat.

B . RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang maka penelitian ini dilakukan dengan rumusan masalah sebagai berikut :

  1. Apakah penerapan metode JIGSAW dapat meningkatkan prestasi belajar IPA Siswa Kelas IV semester I pada pokok bahasan  sifat dan perubahan wujud benda di SD Negeri 3 Pohsanten Tahun Pelajaran 2009/2010 ?

C.  TUJUAN PENELITIAN

Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan penelitian ini adalah:

  1. Untuk mengetahui apakah penerapan metode JIGSAW dapat meningkatkan prestasi belajar IPA Siswa Kelas IV semester I pada pokok bahasan  sifat dan perubahan wujud benda di SD Negeri 3 Pohsanten Tahun Pelajaran 2009/201

D. MANFAAT PENELITIAN

  1. Siswa

Bagi siswa, penelitain ini melatih siswa untuk berpartisipasi dan berinteraksi secara aktip dalam peroses pembelajaran baik antara siswa denang siswa maupun siswa dengan guru, dan meningkatkan prestasi belajar siswa

  1. Peneliti

Menambah wawasan dan pengetahuan dalam meningkatkan kualitas pendidikan mata pelajaran IPA Siswa Kelas IV semester I pada pokok bahasan  sifat dan perubahan wujud benda di SD Negeri 3 Pohsanten Tahun Pelajaran 2009/2010 dengan strategi pembelajaran teknik jigsaw, dan pada Sekolah Dasar pada umumnya.

  1. Guru Sekolah Dasar

Penelitian ini dapat dijadikan pedoman dalam mengajarkan dan menambah pengetahuan dan wawasan guru dalam upaya meningkatkan prestasi belajar mata pelajaran  IPA Siswa Kelas IV semester I pada pokok bahasan  sifat dan perubahan wujud benda di SD Negeri 3 Pohsanten dengan strategi pembelajaran model jigsaw.

  1. Sekolah Dasar

intuisi yang diperoleh dari hasil penelitian dapat dijadikan masukan dalam upaya meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan melalui penerapan metode Jigsaw dalam mata pelajaran IPA.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A.  PRESTASI BELAJAR

  1. 1. Pengertian Prestasi belajar

Menurut the Liang Gia ( 1989, hal. 15 ) Mengatakan bahwa: Prestasi belajar adalah hasil yang dicapai aktifitas yang menghasilkan perubahan-perubahan tingkah laku dalam individu, baik secara aktual maupun profesional “.

Sedangkan Purwodarminto ( 1987,hal. 254 ), mengatakan bahwa : “ prestasi belajar adalah suatu hasil yang dicapai atau dikerjakan siswa dalam belajar atau usaha untuk memperoleh suatu kepandaian “.

Belajar sangat erat hubungannya dengan prestasi belajar.Karena prestasi itu sendiri merupakan hasil belajar itu biasanya dinyatakan dengan nilai. Menurut Winarno Surahmad (1997 : 88) sebagai berikut: “Hasil belajar adalah hasil dimana guru melihat bentuk akhir dari pengalaman interaksi edukatif yang diperhatikan adalah menempatkan tingkah laku”. Dapat diartikan bahwa hasil belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau Perubahan diri seseorang yang dinyatakan dengan cara bertingkah laku baru berkatpengalaman baru.

Dari pengertian tersebut diatas dapat disimpulkan, bahwa prestasi belajar adalah suatu hasil belajar yang dicapai dalam aktifitas untuk mendapat suatu kepandaian atau sebuah tingkah laku yang lebih baik.

  1. 2. Faktor-faktor yang dapat mempengarui prestasi belajar

Telah dikatakan bahwa Prestasi belajar adalah suatu hal atau proses yang menimbulkan suatu perubahan tingkah laku atau kecakapan belajar sebagai suatu proses yang aktifitasnya dibebani oleh banyak sekali hal-hal yang berkaitan dengan perstasi belajar tersebut. Karena itu untuk memudahkan pembicaraan penulis akan mengklasifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar, sebagai berikut A) Faktor dari dalam individu (Fisik) a) Pusat susunan saraf tidak berkembang secara sempurna b) Panca indra tidak berfungsi atau sakit c) Kurang seimbang dalam perkembangan dan reproduksi d) Berfungsinya kelenjar tubuh membawa kelainan tingkah laku e) Cacat atau perkembangan kurang sempurna f) Penyakit menahun (Kelemahan secara mental) Seperti a)Taraf kecerdasannya atau intelegensinya kurang b) Kurang minat dan bakat, kurang usaha, kurang kreatifitas c) Kurang menguasai pelajaran d) Kebutuhan kurang terpenuhi (Kelemahan emosional) a) Suasana hati tadak tentram. b) Tedak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan c) Tercekam rasa pobia (rasa takut), benci dan antipati (Kelemahan sikap dan kebiasaan yang salah) a) Kurang minat dalam kegiatan sekolah b) Menghindari tanggung jawab c) Bersifat malas belajar dan kurang disiplin (Faktor dari luar individu) antara lain a) Lingkungan sekolah dan lingkungan sosial b) Buku sumber tidak sesuai dengan kurikulum c) Sistem pemgajaran, penilaian tidak sesuai d) Terlalu berat beban belajar  e) populasi kelas terlalu banyak f) masalah teman sebaya g) Kelemahan kondisi keluarga h) Terlalu banyak kegiatan di luar  i) keterbatasan tenaga guru j) Motifasi external kurang

 

B.  METODE  JIGSAW

1. Definisi jigsaw

Modal jigsaw adalah suatu teknik belajar kelompok yang digambarkan sebagai berikut : (a) satu kelas dibagi dalam kelompok-kelompok kecil banyaknya anggota kelompok disesuaikan dengan banyaknya masalah / problem yang ditawarkan guru. Kelompok-kelompok ini disebut dengan home group, (b) setiap anggota home group diberi problem yang berbeda-beda, tapi masing-masing home group diberi persoalan yang sama. Dengan batasan waktu tertentu masing-masing anggota menyelesaikan problem secara individu, (c) anggota home group akan berpencar dan membentuk kelompok baru yang membawa persoalan sama. Kelompok ini disebut expert group ( kelompok ahli ). Di kelompok inilah mereka berdiskusi untuk menyamakan persepsi atas jawaban mereka, dan (d) setelah selesai mereka kembali ke home group dan anggota-anggota akan mensosialisasikan hasil / jawaban dari kelompok ahli.

Teknik jigsaw merupakan salah satu strategi pembelajaran kooperatif yang dilaksanakan di sekolah-sekolah. Menurut suryanto (1999) pembelajaran kooperatif adalah salah satu jenis belajar kelompok dengan kekhususan sebagai berikut: (a) kelompok terdiri atas anggota yang heterogen, (b) ada ketergantungan positif diantara  anggota kelompok, karena masing-masing individu memiliki rasa tanggung jawab, (c) kepemimpinan dipegang bersama, (d) giri mengamati kerja kelompok dan melakukan interversi bila perlu, dan, (e) setiap anggota kelompok harus siap menyajikan hasil kerja kelompok. Dari kelima kekhususnya tersebut, juga dimiliki oleh karakteristik dari teknik jigsaw.

2. Karakteristik Pelaksanaan Teknik jigsaw
a. Tinjaun Kurikulum

Tujuan Teknik jigsaw Relevansi pada kurikulum
A Memperkaya variasi teknik 

pembelajaran

Pemilihan pendekatan/ metode, 

Media dan simber belajar hendaknya disesuaikandengan karakteristikmateri

B Memupuk rasa ketergantungan positif dalam kelompok Strategi yang melibatkan siswa aktif belajar baik secara mental, fisik ataupun sosial.
C Memberi kesempatan berlatih memahami konsep dengan teman-temannya
D Berlatih menyampaikan informasi kepada temannya Sikap kritis, terbuka dan konsisen

  1. b. Tinjauan Praktik

Secara pratek keberhasilan dan kegagalan belajar dapat dilihat dari nilai yang diperoleh siswa. Ditijau dari komponen-komponen penilaian, hampir seluruhnya diambil dari faktor kognitif siswa. Sebaiknya penerapan jigsaw bertujuan tidak hanya melatih kognitif saja, tetapi juga afektif dan psikomotor.

Menurut Ibrahim (2000) bahwa manfaat pembelajar kooperatif termasuk teknik jigsaw:(1) meningkatkan pencurahan waktu pada tugas,(2) menghargai diri menjadi lebih tinggi,(3) memperbaiki sikap terhadap metematika.(4) meperbaiki kehadiran,(5) penerimaan terhadap perbedaan individu menjadi lebih besar,(6) prilaku mengganggu lebih kecil,(7) konflik antar pribadi berkurang dan (8) meningkatkan kebaikan budi, kepekaan dan toleransi.

Untuk mengukur kemajuan belajar siswa tersebut, tampaknya pedoman penilaian untuk rapot belumdapat mencakup semua aspek secara keseluruan satu-satunya peluang untuk memasukkan nilai kemajuan belajar siswa dari hasil pengamatan teknikjigsaw adalah nilai tugas. Bila diperhatikan rumus-rumus tadi, peranan nilai tugas sangat kecil,sehingga kemajuan-kemajuan belajar yang bukan bersifat kegnitif cenderung diabaikan pada penilaian rapot.

c. Tinjauan Pengalaman

Pelaksanaan teknik jigsaw pada tahap ini sangat sukar. Tidak semua pokok bahasa dapat dengan mudah disajikan dengan menggunakan teknik ini, sebab,pokok bahasa tersebut dapat dibagi-bagi menjadi beberapa bagian yang setara, padahal materi, Matematika kebanyakan bersifat hierarki. Beberapa prilaku siswa yang menjadi pada saat prosespembelajaran antara lain:(a) motivasi belajar lebih tinggi,(b) kepedulian terhadap teman meningkat,(c) memperbaiki kehadiran,(d) berusaha sampai dapat memahami tugasnya,dan(e)sedikit demi sedikit mau membuka diri. Setelah akhir pembelajaran dilakukan ulangan,harian yang ternyata hasilnya menunjukkan nampak pada peningkatan yang signfikan jika dibanding dengan pembelajaran klasikal.

3. Tahap Pemantapan / Drill

Pada tahap ini, pelaksanaan jisaw lebih sering dilakukan karena guru lebih mudah merencanakan problem-problem (kuis). Siswa memiliki informasi selain itu, motifasi siswa cukup tinggi karena mereka akan manghadapi ulangan harian. Pelasanaan teknik jigsaw pada tahap ini siswa lebih aktif, hal ini dapat dilihat dari meningkatkan  frekuensi siswa yang berinteraksi dengan sesamaketerbukaan siswa juga semakin meningkat, misalnya ada siswa yang mengetahui bahwa dirinya salah. Meningkatnya kepercayaan dirisiswa juga ada. Hal ini terbukti dengan adanya siswa yang berani menyalahkan hasil kerja siswa lain. Suasana kerjasama betul-betul tampak saling membantu dan hasil ulangan harian terbukti ada peningkatan

Sifat dan perubahan wujud benda
D. TINJAUAN HASIL PENELITIAN TERDAHULU

Dalam penelitian ini peneliti merujuk pada penelitian yang sudah dilakukan oleh beberapa tenaga pendidikan yang menggunakan metode JIGSAW dalam perbaikan pembelajaran salah satunya adalah Martiningsih (2006) di SMA Negeri 1 Padang Panjang Kelas XI, dalam penelitian tindakan kelas tersebut disimpulkan bahwa Penggunaan metode JIGSAW akan meningkatkan minat dan motivasi belajar sehingga akan meningkatkan prestasi belajar.

E. KERANGKA BERFIKIR

Proses belajar mengajar pada bidang studi IPA merupakan transformasi pengetahuan yang memerlukan strategi khusus sehingga, proses tranformasi pengetahuan bisa berhasil dengan baik. Pembelajaran bidang studi IPA  memerlukan analisis yang lebih di bandingkan dengan bidang studi lain sehingga strategi pembelajarannya harus sesuai.

Berdasarkan logika seperti itu maka, sangatlah sesuai jika dalam pembelajaran ini menggunakan Metode JIGSAW. Yaitu sebuah metode yang merupakan bagian dari Cooperatif learning.

BAB III

PELAKSANAAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN

A.  SUBJEK PENELITIAN

Penelitian Tindakan Kelas untuk pelajaran IPA dilaksanakan pada siswa kelas IV SDN Banjarwungu 02 Kec.Tarik, Kab.Sidoarjo.

Jadwal pelaksanaan pelajaran untuk setiap mata pelajaran adalah sebagai berikut :

No Hari/Tgl Jam Waktu Siklus Pengamat
1 Selasa 

15 April 2008

I, II 07.00-08.10 I M. Hadi Sartono, S.Pd
2 Selasa 

22 April 2008

I, II 07.00-08.10 II M. Hadi Sartono, S.Pd
3 Selasa 

29 April 2008

I, II 07.00-08.10 III M. Hadi Sartono, S.Pd

 

Terlaksananya siklus 1,2 dan 3 dengan bantuan teman sejawat yang berasal dari temuan pengamat berada di kelas saat proses pembelajaran berlangsung dengan tujuan untuk mengetahui proses KBM yang telah direncanakan bersama sebelumnya.

Dengan banyak metode yang digunakan guru terlihat perubahan yang sangat baik. Adanya peningkatan dari materi pribadi siswa hingga rata-rata kelasnya.

B.  PROSEDUR PENELITIAN

Rencana perbaikan pembelajaran ini adalah penelitian tindakan kelas dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Pendekatan kualitatif digunakan untuk melihat rancangan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran, sedangkan pendekatan kuantitatif untuk melihat kemampuan siswa setelah mengikuti pembelajaran.

Rencana perbaikan pembelajaran pada laporan ini meliputi 3 siklus. Rencana perbaikan pembelajaran IPA yang dimaksud adalah penggunaan alat peraga IPA dalam meningkatkan pembelajaran tentang Energi dan Perubahannya melalui metode bervariasi. Kegiatan ini dimulai dengan menyusun skenario peningkatan pembelajaran tentang Energi dan Perubahannya melalui metode bervariasi. Adapun perencanaan langkah-langkah pembelajaran yang ditempuh sebagai berikut :

1.   Siklus I

a.   Perencanaan

Tabel 3.1. Rencana Pelaksanaan Tindakan Perbaikan.

Tahap Fokus Kegaitan Guru Kegiatan Siswa
Kegiatan awal Memotivasi siswa dan apersepsi
  1. Membuka pelajaran
  2. Mengaitkan topik dengan pengetahuan. Awal siswa dengan cara tanya-jawab
  3. Menyampaikan tujuan dan langkah-langkah pembelajaran
  4. Menyampaikan gambaran inti pembelajaran
  • Merespon apa yang disampaikan guru
  • Menjawab pertanyaan guru
  • Memperhatikan penjelasan guru
  • Memperhatikan penjelasan
Kegiatan Inti pembelaja-ran Meningkatkan kemampuan tentang energi dan perubahannya
  1. Siswa menyimak penjelasan guru tentang energi dengan alat peraga.
  2. Memberi kesempatan siswa untuk bertanya dan menjawab
  3. Secara kelompok siswa mengamati alat peraga IPA yang sesuai dengan materi dengan mengerjakan LKS.
  4. Guru membimbing siswa untuk menyamakan persepsi
  5. Secara individual siswa mengerjakan LKS
  • Memperhatikan penjelasan guru
  • Siswa bertanya dan dijawab atau direspon siswa yang lain
  • Siswa berkelompok mengerjakan LKS sambil mengamati alat peraga.
  • Secara kelompok menyampaikan hasil diskusi dan ditanggapi kelompok lain.
  • Siswa melaksanakan tugas dari guru
  • Siswa memperhatikan
Kegiatan akhir Memantapkan pemahaman siswa
  1. Mengevaluasi kemampuan siswa
  2. Menugasi siswa membuat alat peraga tiruan sesuai materi
  • Secara individu siswa mengerjakan tes formatif
  • Menilai sendiri hasil tes pemahaman-nya dengan dibimbing guru
  • Siswa membuat

b.   Pelaksanaan

Dalam tahap pelaksanaan pada siklus I sampai dengan siklus III diamati oleh seorang supervisor dan dua (2) orang pengamat sebagai mitra atau teman sejawat. Dipilihnya dua orang pengamat ini karena keduanya sama-sama melaksanakan perbaikan pembelajaran sehingga sudah saling memahami tugasnya sebagai pengamat. Selama pelaksanaan tindakan teman sejawat melakukan pengamatan mulai perencanaan, pelaksanaan awal sampai akhir pembelajaran dan hasil pembelajaran setiap siklusnya. Pengamat melakukan pencatatan dan pengamatan pada pelaksanaan tindakan, dibagi menjadi tiga tahap yakni tahap awal. Tahap inti, dan tahap akhir pembelajaran. Pencatatan dilakukan pada lembar observasi yang sudah dipersiapkan sebelumnya.

Pelaksanaan yang ditempuh dalam perbaikan pembelajaran IPA tentang Energi dan Perubahannya pada siklus I adalah sebagai berikut ini.

Kegiatan guru pada tahap awal, adalah : (1) Membuka pelajaran. (2) Mengaitkan topik dengan pengetahuan awal siswa dengan cara tanya jawab. (3) Menyampaikan tujuan dan langkah-langkah pembelajaran. (4) Menyampaikan gambaran inti pembelajaran. Adapun kegiatan siswa adalah : (1) Merespon apa yang disampaikan guru. (2) Menjawab pertanyaan guru. (3) Memperhatikan penjelasan tentang tujuan dan langkah-langkah pembelajaran yang akan diikuti. (4) Memperhatikan penjelasan gurumenyampaikan gambaran inti pembelajaran.

Tindakan guru pada kegiatan inti adalah : (1) Mendemontrasikan alat peraga sesuai dengan materi. (2) Menugasi siswa menyimak penjelasan guru tentang Energi / gaya tarikan dan dorongan dapat merubah gerak. (3) Memberi kesempatan siswa untuk bertanya dan menjawab. (4) Secara kelompok siswa mengamati alat peraga terus mengerjakan LKS. (5) Guru membimbing siswa untuk menyamakan persepsi hasil pekerjaan LKS nya. (6) Secara individual siswa menunjukkan bahwa gaya tarikan dan dorongan dapat mengubah gerak. (7) Guru menyimpulkan materi pelajaran. Sebaliknya, kegiatan siswa

Pada tahap inti adalah : (1) Siswa memperhatikan guru dalam memperagakan gerak. (2) Menyimak penjelasan guru. (3) Siswa bertanya dan dijawab atau direspon siswa yang lain. (4) Siswa berkelompok mengerjakan LKS sambil mengamati peraga IPA. (5) Secara kelompok menyampaikan hasil diskusi dan ditanggapi kelompok lain. (6) Secara individu siswa melaksanakan tugas guru. (7) Siswa memperhatikan

Tindakan guru pada kegiatan akhir adalah : (1) Mengevaluasi kemampuan siswa. (2) Menugasi siswa membuat peraga yang sederhana sesuai materi. Sebaliknya kegiatan siswa pada tahap akhir adalah : (1) Secar individu siswa mengerjakan tes formatif. (2) Dengan bimbingan guru siswa menilai sendiri hasil tes pemahamannya tentang gaya, tarikan dan gaya dorongan dapat merubah arah gerak. (3) Membuat peraga sederhana sesuai materi sebagai tindak lanjut. Penerapan metode bervariasi pada kegiatan awal tampak pada saat guru mengadakan aperpepsi dengan cara bertanya jawab mengaitkan topik dengan pengetahuan awal siswa dengan pertanyaan “Siapa yang pernah mendorong gerobak?, Siapa yang pernah menarik pohon?” Siswa nampak antusias menjawab, hanya tiga orang yang tidak menjawab. Siswa yang mengajungkan tangannya hampir semua kegiatan berikutnya guru menjelaskan tujuan dan langkah-langkah pembelajaran guru belum disampaikan dan menyampaikan gambaran inti pembelajaran. Siswa tampak memperhatikan dan antusias.

Pelaksanaan tindakan pada kegiatan inti ini waktunya kurang. Dimulai dengan memasang alat peraga. Anak sangat antusias sehingga banyak yang maju menggerombol didepan untuk mengamati sambil bertanya-tanya pada guru. Semua siswa diberi kesempatan untuk mengamati alat peraga setelah siswa kembali ke tempat duduk barulah penulis melanjutkan dengan menugasi siswa untuk menyimak penjelasan guru tentang materi. Tindakan berikutnya adalah memberi kesempatan pada siswa untuk bertanya dan menjawab pertanyaan temannya, namun sampai kurang lebih lima menit hanya dua anak yang bertanya. Sebelum guru menjawab, pertanyaan disuruh menjawab temannya yang bisa, namun hanya beberapa anak yang mau menjawabnya.

Pada saat berkelompok rmengerjakan LKS sambil mengamati alat peraga siswa tampak masih canggung bekerjasama dengan temannya. Masih malu-malu dan tidak bermusyawarah dalam mengerjakan tugas. Pada saat penyampaian hasil diskusi kelompok siswa belum berinteraksi,    belum   ada    pembagian   tugas   siapa   yang   bertugas menyampaikan hasil pengerjaan LKS, mereka saling menunjuk sehingga memakan waktu yang lama. Pada kegiatan siswa secara individual ditugasi menyebutkan pengaruh dorongan dan tarikan semakin memakan waktu yang banyak karena siswa tampak rnalu-malu untuk ke depan. Kegiatan inti diakhiri dengan menyimpulkan materi pembelajaran, di sini siswa memperhatikan.

Pelaksanaan tindakan pada kegiatan akhir, siswa secara individu mengerjakan tes formatif. Siswa tampak tergesa-gesa karena karena waktunya memang sudah habis, dan menginjak waktu istirahat. Sehingga kegiatan menilai pekerjaan sendiri belum terlaksana.

 

c.   Pengumpulan data

Keberhasilan tindakan ini berdasarkan hasil pengamatan selama pelaksanaan tindakan dan sesudah tindakan dilaksanakan. Teman sejawat mengamati perilaku guru dan siswa. Adapun aspek yang diperhati adalah keterlibatan guru dan siswa selama proses pembelajaran yang meliputi kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir. Sebagaimana yang dijelaskan di depan bahwa hasil pengamatan pada tahap kegiatan awal yang belum berhasil adalah pelaksanaan tanya jawab penjelasan langkah-langkah pembelajaran perlu disampaikan.

Pada tahap kegiatan inti indikator yang belum berhasil adalah kegiatan mendemontrasikan alat peraga kegiatan bcrtanya jawab, diskusi kelompok,    kegiatan    penyamaan    persepsi,   dan    kegiatan individual menunjuk gaya dorong dan tarik  indikator tersebut sudah terlaksana namun belum berhasil.

Untuk kegiatan akhir menilai pekerjaan sendiri dan mmebuat daftar gerak benda sebagai tindak lanjut belum terlaksana karena waktunya habis. Dari hasil diskusi ada 9  indikator yang  belum berhasil.  Sehingga dapat  dikatakan bahwa keberhasilan guru baru 4 indikator dari 13 indikator yang direncanakan atau 37%,

Adapun  keberhasilan  siswa   dalam tes formatif sebagaimana dipaparkanberikut ini.

 

Tabel 3.2. Hasil Tes Formatif Siklus I

No Nama Siswa Nilai Siklus I Kemampuan Nilai Tertinggi/ Terendah

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

Yulianah 

Aris Muhartono

Bagus Saputro

Eko Siyamkuwari S.

Eko Siyamkuwari B.

Francisca Brazillia

Ferina Aiyus Z.

Khoirotun Nisa

M. Yunus Abdi W.

M. Yacob Ariyono

Mursanti

Mia Anggraeni

Moch Nur Rochman

Nur Fardhatilla

Nur Oktaviana

Nurulia azizah

Ulfa Dwi Anggaini

Winda Priatiningsih

Dwi Wahyu R.

Sapto Agung M

6

5

2

2

7

7

8

5

5

7

9

8

9

8

4

7

7

9

7

+

+

-

-

+

-

+

+

+

+

+

-

+

+

-

+

+

+

Terendah 

Terendah

Tertinggi

Tertinggi

Jumlah 

Rata-rata

124 

6,2

 

Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa nilai rata-rata yang dicapai siswa adalah 6,2. Nilai tertinggi yang dicapai siswa adalah 9, sedangkan nilai terendah yang dicapai siswa adalah 2. Siswa yang mendapatkan nilai dibawah 6 sejumlah 7 Orang yakni 36,7%, yang mencapai nilai 6 ke atas sejumlah 63,3%.

d.   Refleksi Tindakan siklus pertama

Agar semua siswa mau menjawab pertanyaan, guru perlu memberi penguatan dan memberi saran pada siswa untuk berlatih mengungkapkan gagasannya, jika pertanyaannya salah akan dibantu memperbaikinya. Bila perlu siswa diberi kesempatan menuliskan pertanyaan sebelum dilisankan. Demikian juga penjelasan langkah-langkah pembelajaran perlu disampaikan, karena siswa akan tahu kegiatan berikutnya tanpa menunggu informasi dari guru.

Pada kegiatan inti pembelajaran ada beberapa indikator yang belum berhasil yakni: kegiatan membuat daftar gerak benda. Agar siswa   tidak ramai berbicara sendiri   guru   sebaiknya menyediakan fotokopi lembar kerja yang memuat daftar gerak benda bagi yang belum punya sehingga sebelum ditugasi siswa memperagaka, siswa bisa mengamati di tempat duduknya. Demikian juga pada saat anak diberi kesempatan bertanya dan menjawab pertanyaan temannya kurang berhasil, karena hanya beberapa anak yang mau bertanya. Agar semua siswa mau bertanya atau menjawab pertanyaan temannya karena belum terbiasa, sebaiknya diberi kesempatan untuk menuliskan pertanyaan atau jawaban pertanyaan teman. Pada saat kerja kelompok sebaiknya sebelum mulai dijelaskan perlunya kerja kelompok dan pembagian tugas dari masing-masing anggota kelompok. Saat siswa ditugasi menunjuk agar siswa siap menunjuk pada peta di papan tulis, siswa diberi kesempatan mengamati LKS yang dibagikan sebelumnya sehingga siswa tidak takut salah.

Untuk kegiatan akhir menilai sendiri hasil tes perlu dilaksanakan karena selain melatih kejujuran siswa juga akan mengurang tugas guru apabila siswa sudah terlatih.

Siklus 2

a.   Perencanaan

Berdasarkan refleksi siklus pertama dilaksanakan tindakan perbaikan pembelajaran IPA tentang pengaruh gaya dorong dan tarikan pada gerak suatu benda pada siklus II. Kegiatannya adalah sebagai berikut ini. Kegiatan guru pada tahap awal, adalah 1)  Membuka pelajaran. 2)  Mengaitkan topik dengan pengetahuan awal siswa dengan tanya jawab. 3)  Menyampaikan tujuan dan langkah-langkah pembelajaran. 4)  Menyampaikan gambaran inti pembelajaran. Adapun kegiatan awal siswa adalah: 1)  Merespon apa yang disampaikan guru. 2) Menjawab pertanyaan guru. 3)  Memperhatikan penjelasan tentang tujuan dan langkah-langkah pembelajaran yang akan diikuti. 4)  Memperhatikan penjelasan guru menyampaikan gambaran inti pembelajaran.

Tindakan perbaikan pada kegiatan inti adalah 1)  Mendemontrasikan dengan alat peraga hal gaya. 2)  Menugasi siswa menyimak penjelasan guru tentang pengaruh gaya dorong dan tarikan pada gerak benda pada alat peraga. 3)  Memberi kesempatan siswa untuk bertanya dan menjawab.4)  Secara kelompok siswa mengamati alat peraga / demontrasi guru mengerjakan LKS. 5)  Guru membimbing siswa untuk menyamakan persepsi hasil pekerjaan LKS nya. 6)  Secara individual siswa menunjukkan hasil pekerjaannya. 7)  Guru menyimpulkan materi pelajaran. Sebaliknya, kegiatan siswa pada tahap inti adalah : 1)  Siswa memperhatikan demontrasi guru dengan alat peraga. 2) Menyimak penjelasan guru. 3) Siswa bertanya dan dijawab atau direspon siswa lain. 4) Siswa berkelompok mengerjakan LKS sambil mengamati alat peraga. 5)  Secara kelompok menyampaikan hasil diskusi dan ditanggapi kelompok lain. 6) Secara individu siswa melaksanakan tugas guru. 7) Siswa memperhatikan.

Tindakan guru pada kegiatan akhir adalah : 1)  Mengevaluasi kemampuan siswa. 2)  Menugasi siswa untuk mendemontrasikan gaya dengan alat peraga. Sebaliknya kegiatan siswa pada tahap akhir adalah: 1) Secara individu siswa mengerjakan tes formatif. 2) Dengan bimbingan guru siswa menilai sendiri hasil tes pemahamannya tentang pengaruh gaya dorongan dan gaya tarikan dapat merubah gerak benda. 3) Mengerjakan LKS / tugas yang diberikan guru.

 

b.   Pelaksanaan

Penerapan metode bervariasi pada kegiatan awal tampak pada saat guru mengadakan apersepsi dengan cara bertanya jawab mengaitkan topik dengan pengetahuan awal siswa dengan pertanyaan. “Kalian tentunya masih ingat inti pembelajaran minggu lalu. Jawablah pertanyaan berikut ini, dengan cara mengacungkan tangan. Bila bola ditendang apa yang terjadi pada bola tersebut? Apa nama gerakannya? Siswa tampak berebut akan menjawab, saya, saya sambil mengacungkan tangan. Guru menunjuk siswa yang akan mengacungan tangan paling awal. Guru tampak mengamati siswa yang mengacungkan tangan lebih dahulu. Guru mengacungkan ibu jarinya ketika siswa menjawab benar, untuk penguatan, dan tampaknya memotivasi siswa untuk menjawab pertanyaan secara lisan. Kegiatan berikutnya guru menjelaskan tujuan dan langkah-langkah pembelajaran dan menyampaikan gambaran inti pembelajaran. Siswa tampak memperhatikan, terlihat dari komentar anak setelah ini diskusi untuk mengerjakan LKS, ya Bu?

Pelaksanaan tindakan pada kegiatan inti dimulai oleh guru dengan membagikan lembar LKS kepada semua siswa. Kemudian guru mendemonstrasikan alat peraga sesuai materi sambil mengatakan bahwa LKS itu nanti dikerjakan tapi perhatikan dulu alat peraga ini. Sambil mengamati ada anak yang pekerjaannya kepada temannya serta memperhatikan guru. Setelah waktu yang diberikan habis siswa disuruh memperhatikan guru menjelaskan tentang nama gerak suatu benda dan gaya dorong / tarik Tindakan berikutnya adalah memberi kesempatan pada siswa untuk bertanya dan menjawab pertanyaan temannya. Mula-mula ada lima anak yang bertanya. Guru menawarkan kepada anak lain untuk menjawabnya sebelum guru memantapkan jawaban. Guru menyarankan agar tidak khawatir salah bertanya, pertanyaan ditulis dulu di buku. Saran guru diperhatikan, hal itu terlihat ada lagi siswa yang bertanya dengan membaca dari buku. Sebelum kerja kelompok mengerjakan LKS, guru menjelaskan gunanya kerja kelompok. cara kerja kelompkok yang baik, pembagian tugas masing-masing anggota kelompok namun siswa masih malu-malu. Hal ini tampak pada saat penyampaian hasil diskusi kelompok belum ada pembagian tugas siapa yang bertugas menyampaikan hasil pengerjaan LKS, mereka masih saling menunjuk. Saat kerja kelompok mereka sudah mulai berinteraksi. Pada kegiatan siswa secara individual ditugasi menunjuk gaya dorong itu yang bagaimana, siswa sudah tampak berani. Hal ini guru menggunakan strategi pertanyaan dibacakan, siswa mengamati alat peraga yang  dipegangnya, bila sudah ketemu mengacungkan tangan. Kegiatan inti diakhiri dengan menyimpulkan materi pembelajaran, di sini siswa memperhatikan.

Pelaksanaan tindakan pada kegiatan akhir siswa secara individu mengerjakan tes formatif. Siswa tampak aktif sesuai dengan waktu yang direncanakan. Selanjutnya siswa dibimbing untuk menilai sendiri hasil tesnya. Di sini siswa ramai karena belum terbiasa dan setiap ada perbedaan jawaban meskipun maksudnya sama selalu ditanyakan kepada guru, sehingga belum tuntas dan guru masih harus memeriksa lagi. Sebagai tindak lanjut guru menugasi untuk mengerjakan LKS.

c.   pengumpulan data

Keberhasilan tindakan ini berdasarkan. hasil pengamatan selama pelaksanaan tindakan dan sesudah tindakan dilaksanakan. Teman sejawat mengamati perilaku guru dan siswa. Adapun aspek yang diamati adalah keterlibatan guru dan siswa selama proses pembelajaran yang meliputi kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir.

Berdasarkan diskusi hasil pengamatan, tindakan pada tahap kegiatan awal ini yang belum berhasil adalah penjelasan langkah-langkah pembelajaran. Penjelasan langkah-langkah pembelajaran belum disampaikan secara rinci dan jelas. Ini tampak setiap kali selesai satu langkah kegiatan siswa masih diam menunggu perintah dari guru.

Pada tahap kegiatan inti indikator yang belum berhasil adalah kegiatan bertanyajawab, baru sekitar 50% siswa yang aktif terlibat diskusi kelompok, kegiatan penyamaan persepsi.

Untuk kegiatan akhir tindakan yang belum berhasil adalah kegiatan siswa menilai pekerjaan sendiri. Dari hasil diskusi ada 5 indikator yang belum berhasil. Sehingga dapat dikatakan bahwa keberhasilan guru baru 9 indikator dari 13 indikator yang direncanakan, atau 69,2%.

Adapun keberhasilan siswa dalam tes formatif sebagaimana dipaparkan berikut ini.

Tabel 3.3. Hasil Tes Formatif Siklus II

No Nama Siswa Nilai Siklus II Kemampuan Nilai Tertinggi/ Terendah

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

Yulianah 

Aris Muhartono

Bagus Saputro

Eko Siyamkuwari S.

Eko Siyamkuwari B.

Francisca Brazillia

Ferina Aiyus Z.

Khoirotun Nisa

M. Yunus Abdi W.

M. Yacob Ariyono

Mursanti

Mia Anggraeni

Moch Nur Rochman

Nur Fardhatilla

Nur Oktaviana

Nurulia azizah

Ulfa Dwi Anggaini

Winda Priatiningsih

Dwi Wahyu R.

Sapto Agung M

7

6

4

4

7

7

8

6

7

7

9

9

9

8

6

7

8

9

9

+

+

-

-

+

-

+

+

+

+

+

-

+

+

-

+

+

+

+

Terendah 

Terendah

Terendah

Tertinggi

Tertinggi

Tertinggi

Tertinggi

Tertinggi

Jumlah 

Rata-rata

140 

7

 

Dari tabel diatas dapat dijelaskan bahwa nilai rata-rata yang dicapai siswa adalah 7. Nilai tertinggi yang dicapai siswa adalah 9, sedangkan nilai terendah yang dicapai siswa adalah 4. Siswa yang mendapatkan nilai dibawah 6 sejumlah 3 orang yakni 6,9% yang mencapai nilai 6 ke atas sejumlah 17 atau 93,1%.

 

d.   Refleksi Tindakan siklus kedua

Agar semua siswa aktif dan tidak selalu menunggu perintah guru, penjelasan langkah-langkah pembelajaran perlu disampaikan, agar siswa tahu kegiatan berikutnya tanpa menunggu informasi dari guru.

Pada kegiatan inti pembelajaran ada beberapa indikator yang belum berhasil yakni: pada saat anak diberi kesempatnn bertanya dan menjawab pertanyaan temannya. belum semua anak aktif. Agar semua aktif sebaiknya bagi anak yang sulit mengungkapkan pertanyaan secara langsung disarankan bagi yang tidak bertanya, tugasnya menjawab pertanyaan temannya. Pada saat kerja kelompok pembagian tugas dari masing-masing anggota kelompok perlu ditegaskan. Yang menjadi ketua perlu dicatat oleh guru sehingga saat melaporkan hasil tidak saling menunjuk sehingga langkah ini waktunya panjang.

Untuk kegiatan akhir menilai sendiri hasil tes perlu dilaksanakan karena selain melatih kejujuran siswa juga akan mengurangi tugas guru apabila siswa sudah terbiasa melakukannya. Waktu yang dipakai untuk tindakan siklus kedua sudah sesuai dengan rancangan tepat 70 menit.

3.  Siklus 3

a. Perencanaan

Dengan memperhatikan refleksi siklus kedua penulis melakukan tindakan perbaikan pembelajaranIPA tentang gaya dorongan dan gaya tarikan dapat merubah gerak suatu benda pada siklus ketiga. Adapun pelaksanaannya sebagaimana terurai berikut ini. Kegiatan guru pada tahap awal, adalah: 1) Membuka pelajaran. 2) Mengaitkan topik dengan pengetahuan awal siswa dengan cara tanya jawab. 3). Menyampaikan tujuan dan langkah-langkah pembelajaran. 4). Menyampaikan gambaran inti pembelajaran. Adapun kegiatan siswa adalah : 1) Merespon apa yang disampaikan guru. 2) Menjawab pertanyaan guru 3) Memperhatikan penjelasan tentang tujuan dan langkah-langkah pembelajaran yang akan diikuti. 4) Memperhatikan penjelasan guru menyampaikan gambaran inti pembelajaran.

Tindakan perbaikan pada kegiatan inti adalah: 1) memperlihatkan alat peraga yang sesuai dengan materi. 2) Menugasi siswa menyimak penjelasan guru tentang alat peraga yang akan di demontrasikan. 3)Memberi kesempatan siswa untuk bertanya dan menjawab.4) Secara kelompok siswa mengamati alat perga dengan mengerjakan LKS. 5) Guru membimbing siswa untuk rnenyamakan persepsi hasil pekerjaan LKS nya. 6) Secara individual siswa menunjukkan nama gaya dorongan dan gaya tarikan secara lisan. 7) Guru menyimpulkan materi pelajaran. Sebaliknya, kegiatan siswa pada tahap inti adalah: l)Siswa memperhatikan penjelasan guru. 2) Menyimak penjelasan guru. 3) Siswa bertanya dan dijawab atau direspon siswa yang lain. 4) Siswa berkelompok mengerjakan LKS sambil mengamati alat peraga. 5) Secara kelompok menyampaikan hasil diskusi dan ditanggapi kelompok lain. 6) Secara individu siswa melaksanakan tugas guru. 7) Siswa memperhatikan.

Tindakan guru pada kegiatan akhir    adalah :  1) Mengevaluasi kemampuan  siswa. 2)  Menugasi siswa mengerjakan LKS. Sebaliknya kegiatan siswa pada tahap akhir adalah; 1) Secara individu siswa mengerjakan tes formatif. 2) Dengan bimbingan guru siswa menilai sendiri hasil tes pemahamannya tentang gaya dorongan dan gaya tarikan 3) Mengerjakan tugas  sebagai tindak lanjut.

Penerapan metode bervariasi pada kegiatan awal tampak pada saat guru mengadakan apersepsi dengan cara bertanya jawab mengaitkan topik dengan pengetahuan awal siswa dengan pertanyaan. Guru menunjuk siswa yang mengacungkan tangan paling awal. Guru memberi penguatan dengan mengatakan bagus, pinter, sebagai penguatan Siswa tampak termotivasi dan sebagian besar aktif untuk menjawab pertanyaan. Kegiatan berikutnya guru menjelaskan tujuan dan langkah-langkah pembelajaran Penjelasan langkah-langkah ini disampaikan secara tegas dan tampak murid memahami. Menyampaikan gambaran inti pembelajaran terlaksana dengan baik.

 

b.   Pelaksanaan

Pelaksanaan tindakan pada kegiatan inti dimulai oleh guru dengan membagikan lembar LKS kepada semua siswa. Kemudian guru meragakan dengan alat peraga anak sudah tahu bahwa alat peraga yang dipegangnya sama dengan yang di ibu guru. Hal tersebut tampak, setelah menerima langsung diamati tidak ada yang mau menjawab. Setelah waktu yang diberikan habis siswa   memperhatikan guru menjelaskan gaya dengan menggunakan alat peraga. Tindakan berikutnya adalah memberi kesempatan pada siswa untuk bertanya dan menjawab pertanyaan temannya. Anak-anak tampaknya sudah    mulai    hafal    langkah-langkah   pembelajaran.    Guru    belum menawarkan,   hampir    semua    anak    mengacungkan   tangan    sambil mengucapkan “tanya Bu!, saya Bu!, saya dulu Bu!” Anak yang tidak mengacungkan tangan juga mau menjawab. Barulah guru memantapkan jawaban pertanyaan. Saran guru agar tidak khawatir salah bertanya, pertanyaan ditulis dulu di buku. Saran guru diperhatikan, hal itu terlihat siswa yang bertanya semakin banyak dan yang tidak bertanya juga mau menjawab. Sebelum kerja kelompok mengerjakan LKS, guru menjelaskan gunanya kerja kelompok, cara kerja kelompok yang baik, pembagian tugas masing-masing anggota kelompok. Namun belum semua siswa aktif dalam  diskusi. Anak yang pandai  tampak tidak sabar.  Belum ada kesadaran menyampaikan pengalaman belajar kepada temannya yang kurang. Tetapi pada saat menyampaikan hasil kerja kelompok masing-masing kelompok sudah siap  wakilnya.  Pada kegiatan  siswa secara individual ditugasi menunjuk gaya dorong dan tarikan, siswa sudah tampak berani. Hal ini guru menggunakan strategi pertanyaan dibacakan, siswa mengamati alat peraga yang    dipegangnya,    bila    sudah   ketemu mengacungkan  tangan. Kegiatan  inti diakhiri dengan  menyimpulkan materi pembelajaran, di sini siswa memperhatikan.

Pelaksanaan tindakan pada kegiatan akhir, siswa secara individu mengerjakan tes formatif. Siswa tampak aktif sesuai dengan waktu yang direncanakan. Selanjutnya siswa dibimbing untuk menilai sendiri hasil tesnya. Di sini siswa ramai karena ada yang melaporkan temannya., jawaban salah dibetulkan. Sehingga belum tuntas dan guru masih harus memeriksa lagi. Sebagai tindak lanjut guru mengumpulkan hasil pekerjaan dari anak-anak  dan belum  dikomentari,  masih akan diperiksa.

c.   Pengumpulan Data .

Keberhasilan tindakan ini berdasarkan hasil pengamatan selama pelaksanaan tindakan dan sesudah tindakan dilaksanakan.Teman sejawat mengamati perilaku guru dan siswa. Adapun aspek yang diamati adalah keterlibatan guru dan siswa selama proses pembelajaran yang meliputi kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir.

Berdasarkan diskusi    hasil pengamatan,   tindakan    pada tahap kegiatan awal ini sudah terlaksana dengan baik. Tiga indikator terlaksana, pada tahap kegiatan inti indikator yang belum berhasil adalah kegiatan diskusi kelompok dan penyamaan persepsi hasil diskusi belum terlaksana dengan baik. Untuk kegiatan akhir tindakan yang belum berhasil adalah kegiatan siswa menilai pekerjaan sendiri.

Tabel 3.4  Hasil Tes Formatif Suklus III

No Nama Siswa Nilai Siklus III Kemampuan Nilai Tertinggi/ Terendah

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

Yulianah 

Aris Muhartono

Bagus Saputro

Eko Siyamkuwari S.

Eko Siyamkuwari B.

Francisca Brazillia

Ferina Aiyus Z.

Khoirotun Nisa

M. Yunus Abdi W.

M. Yacob Ariyono

Mursanti

Mia Anggraeni

Moch Nur Rochman

Nur Fardhatilla

Nur Oktaviana

Nurulia azizah

Ulfa Dwi Anggaini

Winda Priatiningsih

Dwi Wahyu R.

Sapto Agung M

7

7

4

4

7

8

8

7

7

7

10

10

10

8

7

7

8

9

9

+

+

-

-

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

Terendah 

Terendah

Tertinggi

Tertinggi

Tertinggi

Jumlah 

Rata-rata

148 

7,4

 

Dari tabel di atas dapat djelaskan bahwa nilai nta-rata yang dicapai siswa adalah 7,4. Nilai tertinggi yang dicapai siswa adalah 10, sedangkan nilai terendah yang dicapai siswa adalah 4. Siswa yang mendapatkan nilai dibawah

6 sejumlah 3 orang yakni  6,9%, yang mencapai nilai 6 ke atas sejumlah 17 atau 93,1%. Waktu yang digunakan pada siklus ketiga ini 70 menit, dan sisa waktu yang ada digunakan siswa untuk memperbaiki pekerjaannya yang telah dibuat sebagai tindak lanjut.

d.   Refleksi Tindakan Siklus III

Dalam tahap ini penulis bersama teman sejawat guru melakukan analisis terhadap hasil-hasil yang telah dicapai, kendala dan dampak perbaikan pemebelajaran terhadap guru dan siswa pada siklus III.

Refleksi dilakukan berdasarkan data yang diperoleh penulis bersama teman sejawat guru dari : catatan-catatan hasil observasi, hasil evaluasi dalam proses dan akhir perbaikan pembelajaran. Hasil refleksi III selanjutnya penulis bersama teman sejawat gunakan sebagai dasar bagi penyusunan RPP untuk ujian PKP.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  1. A. HASIL PENELITIAN

1.   Siklus 1

Berdasarkan hasil penelitian maka didapatkan data prestasi belajar siswa Siklus I sebagai berikut :

Tabel 4.1 Prestasi Belajar siswa Siklus I

No Nama Siswa Nilai Siklus I Kemampuan Nilai Tertinggi/ Terendah

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

Yulianah 

Aris Muhartono

Bagus Saputro

Eko Siyamkuwari S.

Eko Siyamkuwari B.

Francisca Brazillia

Ferina Aiyus Z.

Khoirotun Nisa

M. Yunus Abdi W.

M. Yacob Ariyono

Mursanti

Mia Anggraeni

Moch Nur Rochman

Nur Fardhatilla

Nur Oktaviana

Nurulia azizah

Ulfa Dwi Anggaini

Winda Priatiningsih

Dwi Wahyu R.

Sapto Agung M

6

5

2

2

7

7

8

5

5

7

9

8

9

8

4

7

7

9

7

+

+

-

-

+

+

+

-

-

+

+

+

+

+

-

+

+

+

+

Terendah 

Terendah

Tertinggi

Tertinggi

Jumlah 

Rata-rata

124 

6,2

 

Dari data yang ada didapatkan bahwa nilai rata rata prestasi siswa adalah 6,2 dengan nilai tertinggi adalah  9 dan nilai terendah 2  sedangkan nilai yang  dibawah 7 adalah 6 siswa atau 30 persen. Sedangkan jumlah siswa yang mendapatkan 7 ke atas sebesar 14 siswa atau 70 %.

 

2. Siklus 2

Berdasarkan hasil penelitian maka didapatkan data prestasi belajar siswa Siklus II sebagai berikut :

Tabel 4.2 Prestasi Belajar siswa Siklus II

No Nama Siswa Nilai Siklus II Kemampuan Nilai Tertinggi/ Terendah

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

Yulianah 

Aris Muhartono

Bagus Saputro

Eko Siyamkuwari S.

Eko Siyamkuwari B.

Francisca Brazillia

Ferina Aiyus Z.

Khoirotun Nisa

M. Yunus Abdi W.

M. Yacob Ariyono

Mursanti

Mia Anggraeni

Moch Nur Rochman

Nur Fardhatilla

Nur Oktaviana

Nurulia azizah

Ulfa Dwi Anggaini

Winda Priatiningsih

Dwi Wahyu R.

Sapto Agung M

7

6

4

4

7

7

8

6

7

7

9

9

9

8

7

7

8

9

9

+

+

-

-

+

-

+

+

+

+

+

-

+

+

-

+

+

+

+

Terendah 

Terendah

Terendah

Tertinggi

Tertinggi

Tertinggi

Tertinggi

Tertinggi

Jumlah 

Rata-rata

140 

7

 

Dari data yang ada didapatkan bahwa nilai rata rata prestasi siswa adalah 7,00 dengan nilai tertinggi adalah  9 dan nilai terendah 4  sedangkan nilai yang  dibawah 7 adalah 7 siswa atau 35 persen. Sedangkan jumlah siswa yang mendapatkan 7 ke atas sebesar 14 siswa atau 65 %.

 

  1. 3. Siklus 3

Berdasarkan hasil penelitian maka didapatkan data prestasi belajar siswa Siklus II sebagai berikut :

 

Tabel 4.3 Prestasi Belajar siswa Siklus III

No Nama Siswa Nilai Siklus III Kemampuan Nilai Tertinggi/ Terendah

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

Yulianah 

Aris Muhartono

Bagus Saputro

Eko Siyamkuwari S.

Eko Siyamkuwari B.

Francisca Brazillia

Ferina Aiyus Z.

Khoirotun Nisa

M. Yunus Abdi W.

M. Yacob Ariyono

Mursanti

Mia Anggraeni

Moch Nur Rochman

Nur Fardhatilla

Nur Oktaviana

Nurulia azizah

Ulfa Dwi Anggaini

Winda Priatiningsih

Dwi Wahyu R.

Sapto Agung M

7

7

4

4

7

8

8

7

7

7

10

10

10

8

7

7

8

9

9

+

+

-

-

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

Terendah 

Terendah

Tertinggi

Tertinggi

Tertinggi

Jumlah 

Rata-rata

148 

7,4

 

Dari data yang ada didapatkan bahwa nilai rata rata prestasi siswa adalah 7,40 dengan nilai tertinggi adalah 10 dan nilai terendah 4  sedangkan nilai yang  dibawah 7 adalah 2 siswa atau 10 persen. Sedangkan jumlah siswa yang mendapatkan 7 ke atas sebesar 18 siswa atau 90 %.

UNTUK LEBIH LENGKAP DAN JELAS SILAHKAN DOWNLOAD FILE DI SINI

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


DAFTAR PUSTAKA

Kemp,Jerrold E. 1985. Proses Perancangan Pengajaran. Terjemahan oleh Asril Marjihan. 1994. Bandung : ITB.

 

Usman, Moh Uzer & Lilis Setiyawati. 1993 Upaya Optimalisasi kegiatan Belajar Mengajar. Bandung : Remaja Rosdakarya.

 

Wardani, Wihardit, Noehi Nasoetion. 2003. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Universitas Terbuka.

 

Winata putra, Udin. Dkk. 1998. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Depdikbud. Hasan, yusman Basri. 1998. Petunjuk Guru IP. Jakarta ; Depdikbud.

 

Djahiri, KA. Dan Daniel E. 1997. Petunjuk Guru Iimu Pengetahuan Sosial 3 Untuk Sd Kelas 5, Jakarta : Balai pustaka.

 

Poppy K. Dewi. Yayat Ibati, ” Tangkas Iimu pengetahuan Alam 4” Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

 

Sumantri, Mulyani, syoodiq, nana 2002 Perkembangan Peserta Didik Jakarta, Universitas terbuka.

 

Syamsudin, Abin, Budiman, Nandang, 2002 Profesi Keguruan 2, Jakarta, Universitas Terbuka.

 

Wardani, I.G.A.K Wihardi, kusmaya, nasution nochi 2002. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta, Universitar terbuka.

 

Wardani, I.G.P.K siti julaeha, M.A Pemantapan Kemampuan Profesional, Jakarta, Universitas Terbuka.

 

 


Peningkatan Aktivitas dan Prestasi Belajar Siswa Dalam Pembelajaran Matematika Pada Pokok Bahasan Bilangan Bulat Dengan Menggunakan Teknik Permainan Matematika


JUDUL SEKRIPSI :

“Peningkatan Aktivitas dan Prestasi Belajar Siswa Dalam Pembelajaran Matematika Pada Pokok Bahasan Bilangan Bulat Dengan Menggunakan Teknik Permainan Matematika Di Kelas V SD ………..”

LATAR BELAKANG :

Pendidikan di Sekolah Dasar (SD) merupakan hal yang sangat penting karena pendidikan di SD akan menjadi dasar bagi pendidikan selanjutnya. Untuk itu setiap pembeljaran yang diberikan di SD perlu diarahkan kepada pembentukan fondasi yang kokoh yaitu terbentuknya konsep dasar yang kuat pada diri siswa sehingga siswa siap untuk mempelajari materi selanjutnya. Matematika sebagai salah satu mata pelajar di SD perlu mendapatkan perhatian khusus sebab Matematika mendasari beberapa bidang ilmu lainya seperti Fisika, Biologi, Kimia, farmasi, dan Ekonomi. Mengingat sangat pentingnya Matematika baik dalam ilmu – ilmu yang lain maupun dalam kehidupan sehari-hari maka pemerintah telah menetpkan tujuan pembelajaran matematika pada jenjang pendidikan dasar yaitu : Agar siswamemiliki kemampuan yang dapat dialihgunakan melalui kegiatan Matematika, memiliki pengetahuan matematika sebagi bekal untuk melanjutkan pendidikan dijenjang berikutnya, memiliki keterampilan matematika untu dapat digunkan dalam kehidupan sehari-hari, memiliki pandangan yang cukup luas, memiliki sikap logis, kritis, cermat dan disiplin serta menghargai kegunaan matematika. (Depdikbud, 1993) Berbagai upaya telah dan dilakukan pemerintah untuk mencapai tujuan tersebut yaitu dengan melaksanakan penataran-penataran bagi para guru untuk mengikuti pendidikan lanjut dan penyempurnaan kurikulum. Tetapi untuk mewujudkan tercitapnya peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan tidaklah mudah, banyak hambatan yang dialami khusunya di dalam kegiatan pembelajaran. Hambatan-hambatan yang dialami mengakibatkan prestasi belajar siswa belum mencapai tuntutan kurikulum, terutama pada mata pelajaran Matematika (Srinivasa, 2002). Salah satu hal yang mempengaruhi prestasi belajar siswa adalah pengalaman siswa, dimana pengalaman siswa belajar Matematika sangat dipengaruhi oleh teknik yang digunakan oleh guru dalam pembelajaran. Sejalan dengan uraian di atas maka guru dituntut agar mampu menyiasati dan mencermikan keadaan tersebut sehingga dalam pembelajaran di kelas menjadi efektif. Salah satunya dengan pemilihan teknik yang sesuai dengan materi yang akan disampaikan. Berdasarkan observasi dan wawancara dengan guru Kelas V SD No…………… yaitu ……………………., terungkap bahwa aktiviatas belajar siswa sangat kurang dan prestasi belajar siswa masih rendah. Pada tahun pelajaran 2001/2002 dan 2002/2003, rata-rata nilai ulangan harian siswa untuk pokok bahasan bilangan bulat berturut-turut adalah 5.50 dan 5,70. Dari hasil ulangan yang rendah, siswa beranggapan bahwa matematika adalah pelajaran yang sulit dan akhirnya siswa tidak berminat untuk mempelajarinya. Demikian juga pembelajaran matematika yang bisa dilakukan yang biasa dilakukan oleh guru: 1. Masih konvensional yaitu dengan menjelaskan, memberi contoh, memberi soal latihan dan PR, yang semuanya hanya berupa aplikasi konsep atau rumus kedalam bilangan-bilangan serta tidak ada aplikasi dalam kehidupan sehari-hari. 2. Dalam pembelajaran Matematika di kelas siswa sering merasa tidak senang terhadap mata pelajaran matematika, karena guru dalam mengajar cenderung mendominasi kelas, yaitu tidak memberikan kesempatan bagi siswa untuk bertanya. 3. Kurang bergairahnya siswa dalam mengerjakan soal latihan yang deberikan oleh guru, karena guru kurang memperhatikan siswa yang masih berada dalam tahap operasi konkret dan tidak memanfaatkan kognitif siswa dalam usia bermain untuk kegiatan pembelajaran, sehingga siswa kelihatan jenuh terhadap mata pelajaran Matematika. 4. Masih adanya siswa yang bermain-main sendiri / sesama teman di dalam kelas saat pembelajaran berlangsung, disebabkan karena siswa SD memang sebenarnya masih dalam usia bermain. Berdasarkan uraian di atas memberikan dampak bahwa pembelajaran Matematika menjadi kurang menarik, hal ini mempengaruhi menurunnya keaktifan siswa secara mental dalam memahami konsep matematika dalam pembelajaran dan akan berpengaruh pada prestasi belajar siswa, dan mata pelajaran matematika dianggap sukar. Siswa SD yang tahap berpikirnya berbeda pada tahap operasi knkret, dalam memahami konsep matematika masih memerlukan bantuan benda-benda konkret. Salah satu karakteristik dari tahap operasi konkret yaitu, pada permulaan tahap ini egoisme mengurang. Mereka mulai bersedia bermain dengan anak-anak lain, mengijinkan anak-anak lain menggabungkan dari bermain dalam permainan pribadinya. Berdasarkan uraian di atas maka penulis akam mencoba menerapkan teknik permainan- matematika ke dalam pembelajaran. Hudoyo (1989), mengatakan bahwa prinsip dari permainan-Matematika adalah peserta didik belajar sambil bermain, belajar sambil mngobservasi, dan dimulai dari konkret ke abstrak. Siswa belajar dengan cara memanipulasi benda-benda konkret (nyata) untuk memahami suatu konsep atau keterampilan tertentu. Permainan-matematika menyebabkan tidak merasa tegang di dalam belajar Matematika. Melalui permainan-matematika, guru juga dapat membuat siswa merasa ikut ambil bagian di dalam kegiatan pembelajaran yang diprogramkan guru. Untuk itu guru dituntut menciptakan kegiatan yang menyebabkan siswa senang dan asyik dalam mempelajari matematika. Salah satu kegiatan yang membuat siswa berprilaku dan berada dalam suasana di atas adalah melalui permainan-matematika khususnya bilangan bulat. Kesempatan berkompetisi juga dapat menjadi daya tarik tersendiridalam permainan-matematika, dan ini menyebabkan siswa akan bersaing untuk menguasai konsep maupunketerampilan yang dituntut dalam permainan tersebut, dengan tujuan agar mereka dapat keluar sebagai pemenangnya. Pada tahap operasi konkret ini siswa sangat menyenangi permainan sehingga aktivitas siswa dalam pembelajaran menjadi aktif. Permainan – matematika merupakan selingan untuk memotivasi siswa yang kemampuan kognitifnya berada pada tahap operasi konkret agar dapat lebih mudah memahami pelajaran sehingga diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

SILAHKAN DOWNLOAD FILE DI SINI


Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Dalam Pembelajaran Kosakata Dengan Menggunakan Media Gambar Di Kelas IV SD


A. JUDUL PENELITIAN

Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Dalam Pembelajaran Kosakata Dengan Menggunakan Media Gambar Di Kelas IV SD Negeri 3 Pohsanten Tahun Pelajaran 2008/2009

B. LATAR BELAKANG

Pelajaran kosakata sangat memegang peranan penting dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan, pengajaran kosakata diajarkan sacara implisit artinya pengajaran kosa kata diajarkan bersama dengan wawancara yang muncul pada saat pembelajaran pada saat itu, atau tidak secara mandiri. Pengajaran kosakata diajarkan secara kontekstual dan integrative. (diknas, 2003 : 26).

Setelah diadakan wawancara dengan guru-guru yang berpengalaman mengajar Bahasa Indonesia yang diobservasi, dapat disimpulkan bahwa pada umumnya siswa kelas IV SD Negeri 3 Pohsanten tahun ajaran 2008/2009 pengusaan kosakata anak-anak sangat rendah. Nilai rata-rata siswa dalam pengusaan kosakata sebesar 54. Data in diperoleh dari hasil tes formatif pada daftar nilai dari hasil wawancara rekan-rekan guru Bahasa Indonesia terdahulu.

Rendahnya penguasaan kosakata siswa dalam Bahasa Indonesia dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain : (1) Minimnya pengetahuan siswa, (2) Rendahnya kemauan siswa terhadap bacaan. (3) Kurangnya media dalam pengajaran kosakata. (4) Rendahnya kualitas tugas-tugas siswa dan, (5) Kurang tepatnya teknik dan pendekatan yang dipergunakan oleh guru dalam proses belajar mengajar.

Di antara faktor yang telah diuraikan diatas dalam pengajaran kosakata dalam Bahasa Indonesia, penggunaan media yang kurang tepat adalah faktor paling dominan. Guru secara terus-menerus memperkenalkan kosakata secara verbal tanpa melalui konteks dan diimbangi dengan media pembelajaran. Siswa tidak pernah tertarik dengan penjelasan guru dalam peroses belajar mengajar. Guru secara monoton menjelaskan tanpa menyesuaikan dengan kondisi dan situasi siswa. Kegiatan interaksi antara siswa maupun terhadap gurusangat kurang. Oleh karena itu peningkatan penguasaan pengetahuan kosa kata siswa tidak optimal.

Untuk mengatasi hal tersebut perlu penggunaan media pembelajaran yang menyenangkan, praktis, mudah diperoleh, komunikatif, kentekstual dan sesuai dengan makna ajar. Sehingga pengajaran kosakata dengan mengunakan media pembelajaran, terbuka peluang bagi siswa untuk berinteraksi, berlatih menganalisi, dan menyimpulkan penggunaan dari pada kosakata yang dipelajari.

C. PERUMUSAN MASALAH

Mengacu pada gejala yang ditemukan di lapangan maka penelitian ini dilakukan dengan rumusan masalah sebagai berikut.

  1. Bagaimana meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran kosakata dengan menggunakan media gambar di kels IV SD Negeri 3 Pohsanten ?

D. TUJUAN PENELITIAN

Pada sub ini akan dibahas tentang tujuan penelitian secara singkat sebagai berikut :

  1. Meningkatkan hasil belajar siswa Kelas IV Semester Ganjil Sekolah Dasar Negeri 3 Pohsanten Tahun Pelajaran 2008/2009dalam pelajaran Kosakat dengan menggunakan Media Gambar

E. MANFAAT PENELITIAN

Pada sub bab ini akan diuraiakan mengenai manfaat dari hasil penelitian sebagai beriku :

  1. Bagi guru, penelitian ini dapat dijadikan pedoman dalam mengajarkan pembelajaran kosakata bahasa Indonesia untuk merancang pembelajaran kosakata yang inofatif dan sebagai suatu alaternatif dalam mengoptimalkan waktu belajar siswa sehingga pembelajaran lebih bermanfaat .
  2. Bagi siswa, penelitain ini melatih siswa untuk berpartisipasi dan berinteraksi secara aktip dalam peroses pembelajaran baik antara siswa denang siswa maupun siswa dengan guru, dan
  3. Bagi sekolah, intuisi yang diperoleh dari hasil penelitian dapat dijadikan masukan dalam upaya meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan melalui penggunaan media gambar dalam pelajaran kosakata dalam Bahasa Indonesia.

F. HIPOTESIS TINDAKAN

Melalui Media Gambar dalam pembelajaran kosakata dalam Bahasa Indonesia kelas IV semester ganjil SD Negeri 3 Pohsanten Tahun pelajaran 2008/2009 hasil belajar dapat ditingktkan.

G. KAJIAN PUSTAK

  1. 1. Pengerian Kosakata

Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, yang disebut dengan Kosakata ialah arti kata, pembendaharaan kata atau kata yang sama artinya. (W.J.S.Poerwadarminto, 1982 : 524) Imam Syafi`ie dan Imam Machfudz memberikan penjelasan tentang kosakata bahwa yang disebut dengan kosakata ialah kta-kata yang mempunnyai persamaan arti atau perbendaharan kata (1993 : 4)

Dari kedua penjelasan di atas penulis berpendapat bahwa kedua pendapat tersebut sama, hanya cara pengungkapan sedikit agak berbeda namun intinya mempunnyai pengertian yang sama.

Kosa kata terbatas ialah kosakata yang muncul dan diajarkan sesuai dengan tema teks pada pembelajaran berlangsung misalnya :

-          Bangun-bangunan umum ; rumah sakit, kantor pos, pura, gereja, masjid, pagoda dan bank.

-          Kosakata terbatas tentang nama-nama pekerjaan ; guru, dokter, soppir, dan perawat.

-          Kosakata terbatas tentang alat-alat transportasi di udara dan di air ; kapal terbang, helikopter, kapal layar, kapal mesin. (Imam Syafi`I dan Imam Machfudz : 28)

2. Pengertian Media Pembelajaran

Istilah media pembelajaran berasal dari bahasa latin yang merupakan bentuk jamak dari “medium” yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Makna umumnya adalah segala sesuatu yang dapt menyallurkan informasi dari sumber informasi kepada penerima informasi. Proses belajar mengajar pada darasnya juga merupakan proses komunikasi, sehingga media yang digunakan dalam pembelajaran disebut media pembelajaran . (Aristo Rahadi, 2003 ; 9 )

Gagne ( dalam Diknas, 2003 : 9 ) mengartikan media sebagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang mereka untuk belajar. Sanada itu, Briggs (dalam Dikans , 2003 : 9 ) mengartikan media sebagai alat untuk memberikan perangsangan bagi siswa agar terjadi proses belajar.

Jenis-jenis Media pembelajaran

Menurut Rudy Bretz ( 1971 ) (dalam Diknas, 2003 : 19 ) mengidentifikasikan jenis-jenis media pembelajaran berdasarkan 3 unsur pokok, yaitu : suara, fisual dan gerak. Berdasarkan 3 unsur tersebut, Bretz mengkelasifikasikan media pembelajaran kedalam 7 kelompok, yaitu :

  1. Media audio
  2. Media cetak
  3. Media visual diam
  4. Media visual gerak
  5. Media audio semi gerak
  6. Media semi gerak
  7. Media audia visual diam

Terkait dengan jenis-jenis media pembelajaran yang diidentifikasi menjadi 3 unsur pokok dan dikelasifikasikan menjadi 7 kelompok media pembelajaran oleh Rudy Bretz, maka oleh Berlo (1960) dal buku teks universitas terbuka (2000 : 5.4 ) media pembelajaran secara singkat diidentifikasi menjadi 3 unsur pokok yaitu : Media Visual, Media Audio, Media audio Visual

1)      Media visual yaitu :

Media yang hanya dapat dilihat dengan menggunakan indera penggelihatan. Jenis media inilah yang sering digunakan guru-guru untuk membantu isi atau materi ajaran. Media visual ini terdiri dari media yang tidak dapat diproyeksikan (non-projected visual). Media yang dapat diproyeksikan ini dapat berupa gambar diam (still pictures ) atau bergerak (motion pictures). Media visual terdiri dari 3 kelompok

  1. media visual yang tidak diproyeksikan yaitu : media visual berupa gambar diam atau mati (still Pictures ). Gambar diam atau mati adalah gambar-gambar yang disajikan secara foto gerafik misalnya gambar tentang manusia, binatang, tempat, atau obyek lainnya yang ada hubungannya dengan materi pembelajaran yang akan disajikan pa da siswa. Gambar diam ini ada yang tunggal dan ada pula yang berseri, yaitu sekumpulan gambar diam yang saling berhubungan dengan gambar yang lainnya.
  2. Media grafis yaitu  : media pandang 2 dimensi (bukan foto grafik) yang dirancang secara kuhusu untuk mengkomunikasikan pesan pembelajaran. Unsur unsur yang terdapat media grafis ini adalah gambar dan tulisan. Media ini dapat digunakan untuk menggungkapkan fakta atau gagasan melalui penggunaan kata-kata, angka serta bentuk simbul (lambang). Karakteristik daripada media grafis ini adalah sederhana, dapat menarik perhatian, murah, dan mudah disimpan atau di bawa.
  3. Media relia dan model yaitu : media yang merupakan alat bantu visual dalam pembelajaran yang berfungsi memberikan pengalaman langsung kepada para siswa. Realia merupakan model dan obyek nyata dari suatu benda, mata uang, tumbuhan, dan binatang. Model adalah media 3 dimensi yang sering digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Media ini merupakan tiruan dari beberapa obyek nyata, seperti obyek yang terlalu besar, yang terlalu jauh, terlalu kecil, dan terlalu mahal yang terlalu sulit dibawa   kedalam kelas dan yang sulit dipelajari siswa wujud aslinya.

2)      Media audio yaitu :

media yang mengandung pesan dalam bentuk aoditif (hanya dapat didengar) yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian,dan kemauan para siswa untuk mempelajari bahan ajar. Media audio melipputi : program kaset suara dan program audio .Penggunaan media audio dalam kegiatan pembelajaran pada umumnya untuk melatih keterampilan yang berhubungan dengan asfek-aspek keterampilan medengarkan.

3)      Media aodia visual ialah :

media yang merupakan kombinasi audio dengan visual atau yang biasa disebut media pandang dengar. Suara barang tentu kalau mempergunakan media ini akan semakin lengkap dan optimal penyajian bahan ajar pada siswa, selain dari itu media ini dalam batas-batas tertentu dapat menggantikan peran atau tugas guru. Dalam hal ini guru tidak selalu perperan sebagai penyaji tetapi karena penyajian materi bisa diganti oleh media, peran guru bisa beralih menjadi fasilitaor belajar yaitu memberikan kemudahan bagi para siswa untuk belajar. Contoh dari media audio visual diantaranya :program vidio atau televisi pendidikan, vidio/televisi instruksional, dan program slide suara (sound slide).

Dalam penelitian tindakan kelas (PTK) ini penelitian menggunakan media gambar yang tidak diproyeksikan (non-projected visual).dalm media visual ini penelitian menggunakan gambar-gambar yang disajikan secara fotografik yang disesuaikan dengan IPA yang disajikan.

Adapun IPA yang disajikan dalam penelitian tindakan kelas (PTK) ini yaitu IPA tentang fungsinya struktur kerangka tubuh manusia dengan kerangka beberapa macam bagian kerangka tubuh manusia dalam fungsinya.

Pemilihan media visual yang tidak diproyeksikan dalam penelitian ini karena media gambar memiliki karakteristik sederhana dan mudah diproleh dengan keunggukan/keuntungan yang dapat diperoleh dalam emnggunakan media visual (media gambar diam) antara lain :

-       Media ini dapat menerjemahkan ide/gagasan yang sifatnya abstrak menjadi realistik.

-       Banyak tersedia dalam buku-buku (termasuk buku teks), majalah, surat kabar, kalender, dan sebagainya

-       Mudah menggunkannya dan tidak memerlukan peralatan lain

-       Tidak mahal bahkan mungkin tenpa mengeluarkan biaya untuk mengadakannya, dan

-       Dapat digunakan pada setiap tahap pembelajaran dan semua pelajaran/disiplin ilmu.

3. Hasil Belajar

Menurut Aristo Rahadi (2003 : 4), yang disebut dengan hasil belajar ialah hasil dari kegiatan belajar yang berupa perubahan perilaku yang relatif permanen dalam diri orang (siswa) yang belajar. Tentu saja perubahanyang diharapkan adalah perubehan kearah positif. Jadi sebagai pertanda bahwa seseorang telah melakukan proses belajar adalah terjadinya perubahan perilaku pada diri orang(siswa) tersebut. Perubahan tersebut dapat berupa : dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bisa menjadi terampil, dan pembohong menjadi terampil.

Safari, dkk. (2004 : 80 menjelaskan bahwa yang disebut dengan hasil belajar ialah suatu hasil yang diperoleh dari hasil tes yang diproleh siswa setelah berakhirnya proses belajar mengajar. Tujuan dari hasil belajar ini bagi siswa adalah sebagai butir-butir otntik, akurat, dan konsisten. Tujuan secara umum adalah untuk memberikan penghargaan terhadap pencapaian belajar siswa dalam memperbaiki program kegiatan pembelajaran untuk meningkatkan kualitas siswa dan guru terhadap pencapaian kompetensi yang telah ditetapkan.

Sumadi Surya Subrata (1990 : 320) memberikan penjelasan tambahan bahwa yang disebut dengan hasil belajar ialah suatu hasil yang diproleh oleh siswa setelah proses belajar itu pada saat evaluasi adalah untuk mengetahui sudah sejauh mana kemajuan anak didik itu.

Dari ketiga pendapat yang telah diuraikan di atas, penulis mempergunakan 2 pendapat diatas antara lain : pendapatnya Aristo Rahadi (2003 : 4) dan Safari, Dkk. (2004 : 8). Pertimbangan penulis adalah karena kedua pendapat tersebut yang paling cocok untuk mengkaji hasil belajar siswa.

4. Strategi Pembelajaran Dengan Media Gambar

Strategi pembelajaran dalam penggunan media visual ini bertitik tolak pada azas-azas didaktik dan penerapannya yaitu ; azas peragaan. Dalam penyajian kosakata ini peneliti memeragakan dengan mempergunakan gambar-gambar, foto, lukisan-lukisan yang sesuai dengan kosakata yang disajikannya.

Azas peragaan ini dikumandangkan oleh Prof> Bruner seorang penganut psikologi kognitif (dalam Harry Sukarman, 2003 : 14) menyatakan bahwa untuk mengajarkan konsep yang abstrak harus dimulai dari tahap konkrit ke semi konkrit, kemudian baru ke abstrak.

Penulis sangat sependapat dengan teori Burner dalam mengajarkan konsp-konsep benda abstrak dalam pembelajaran kosakata dalam Bahasa Indonesia maupun pelajaran lainnya. Terutama sekali bahan-bahan ajar yang sulit diperoleh dan bahan-bahan ajar yang sulit dibawa kwdalam kelas.

5. Langkah-Langkah penggunaan Media Gambar dalam Pembelajaran kosakata

Langkah-langkah penggunaan Media Gambar (visual) dalam pembelajaran Kosakat adalah seperti berikut.

  1. Guru menunjukkan gambar-gambar secara acak yang berhubungan dengan bangunan-bangunan umum, alat-alat transportasi udara, laut, darat dan gambar-gambar yang ada hubungannya dengan pekerjaan seseorang.
  2. Para siswa disuruh menebak gambar-gambar yang diperlihatkan oleh guru,
  3. Apabila siswa tidak bisa menjawab guru memberikan penjelasan tentang gambar-gambar yang telah diperlihatkannya untuk menuntun siswa ke arah jawaban.

6. Kerangka Berfikir

Telah dijelaskan di atas bahwa kelas IV semester Ganjil SD Negeri 3 Pohsanten tahun pelajran 2008/2009 nilai penguasaan kosakata terbatas bidang : bangunan umum, alat-alat transportasi udara, laut, darat dan kosakata terbatas tentang nama-nama pekerjaan seseorang sangat rendah yaitu 54. Hal ini disebabkan karena guru tidak pernah menggunakan media pembelajaran dalam menyajikan nama-nama benda/konsep-konsep bahan ajar yang absrak. Berdasarkan teori di atas, pelajaran dengan menggunakan media gambar diduga bahwa prosesakan lebbih sistematis, integratif, kontekstual, dan komunikatif, sehingga penguasaan siswa terhadap kosakata dapat ditingkatkan.

H. METODOLOGI PENELITIAN

  1. 1. Karakteristik Subjek Penelian

Subjek penelian ini adalah semua siswa Kelas IV Semester ganjil SD Negeri 3 Pohsanten tahun Pelajaran 2008/2009. Adapun jumlah siswa yang dijadikan subyek penelian berjumlah 11 orang.

  1. 2. Rancangan Pelaksanaan penelitian

Penelian ini merupakan penelian tindakan kelas, yang dilaksanakan dalam dua siklus pembelajaran.

Adapun rincian pembelajaran yang aakan dilaksanakan dalam penelitia tindakan kelas ini berlangsung selama 2 siklus pembelajaran seperti pada tabil berikut .

Tabel. 1.  Rincian materi pembelajaran kosakata dengan penggunaan media gambar selama dua siklus pembelajaran

siklus Topik/Materi/Judul Bacaan Waktu
I
  1. Kosakata tentang bangunan umum
  2. Kosakata Alat-alat transportasi udara, laut, dan darat,
  3. Kosakata bidang pekerjaan seseorang
2 x 40 menit (2 jam) pelajaran dibagi menjadi 2 tahap ; tahap pertama dipakai untuk kegiatan tes awal (40 menit), dan tahap kedua dipergunakan untuk memberikan arahan penggunaan media visual yang akan digunakan untuk siklus II
II
  1. Kosakata tentang bangunan umum
  2. Kosakata Alat-alat transportasi udara, laut, dan darat,
  3. Kosakata bidang pekerjaan seseorang
2 x 40 menit (2 jam pelajaran dibagi menjadi 2 tahap yaitu ; tahap pertama digunakan untuk pelaksanaan digunakan untuk pelaksanaan tes ( 40 menit ) dan tahap kedua digunakan untuk pelaksanaan tes angket terhadap pembelajaran yang dilaksanakannya dan pemberian arahan terhadap siswa yang penguasaannya masih kurang dan pemberian puji terhadap siswa prestasinya sudah baik.

1) Siklus I

Tahap Perencanaan

Berdasarkan hasil refleksi awal, maka direncanakan dan selanjutnya diadakan kegiatan awal berupates awal tentang kosakata terbatas yang erat hubungannya dengan bangunan umum, ala-alat trasportasi (udara, darat, air) dan nama-nama pekerjaan seseorang, namun tidak dijelaskan terlebih dahulu, karena tes ini diberikan dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan siswa dalam penguasaan kosakata terbatas yang meiputi : bangunan umum, alat-alat trasportasi (udara, darat, air) maupun kosakata terbatas mengenai nama-nama pekerjaan seseorang. Tes ini berfungsi sebagai umpan balik untuk memotifasi keseriusan siswa dalam pelajaran bahasa Indonesia, Khususnya kosakata.

Setelah kegiatan awal selesai siswa diberikan arahan tentang pembelajaran yang akan diterapkan pada siklus berikutnya yaitu siklus II. Kegiatan awal (siklus I) ini juga berfungsi sebagai jembatan untuk menuju judulkarya tulis penelitan tindakan kelas yang diangkat oleh penulis denggan judul “Meningkatan Hasil Belajar Siswa dalam Pembelajaran Kosakata dengan Menggunakan media Gambar Siswa kelas IV di SD Negeri 3 Pohsanten tahun Pelajaran 2008/2009.

Agar tindakan tersebut belajar dengan baik dan sesuai dengan tujuan penelitian yang dirumuskan, ada beberapa komponen penting yang disiapkan oleh peneliti meliputi:

  1. Menyiapkan materi paket soal tentang kosakata terbatas yang meliputi : bangunan umum, alat-alat trasportasi (udara, darat, air) maupun kosakata terbatas mengenai nama-nama pekerjaan seseorang
  2. Menyiapkan lembar kerja siswa dan
  3. Menyiapkan lembar observasi

Tahap Pelaksanaan Tindakan

Pada siklus I ini, tindakan yang dilakukan dibagi menjadi 2 tahap. Tahap pertama memberikan tes kosakata terbatas sesuai rencana selama 40 menit (1 jam pelajaran), dan tahap kedua memberikan arahan kepada siswa mengenai pembelajaran yang akan dilaksanakan untuk siklus berikutnya (siklus II).

Model tes yang dipergunakan ialah tes menjodohkan. Jumlah item tes sebanyak 10 butir soal.

Tahap Observasi

Observasi dilaksanakan selama pelaksanaan tindakan dengan mengamati prilaku aktivitas siswa yang tampak. Pada tahap ini peneliti hasil-hasil ang diperoleh dengan memperhatikan deskriptor-deskriptor yang tampak dan dicatat pada lember obsrvasi.

Tahap Refleksi

Refleksi diberikan dengan tujuan untuk melihat hasil observasi pada siklus I. berdasarkan hasil observasi pada siklus I, siswa terlihat antusias siswa dan aktif mengikuti pembelajaran namun ada beberapa orang siswa yang kebingungan mencari jawaban secara cepat, merka kebingungan menebak gambar-gambar. Ada siswa yang berkomentar gambar-gambar yang dilihat aneh, tak pernah dilihat sama sekali. Hal ini disebabkan karena guru dalam mengajar kosakata sifatnya verbal, tidak diimbangi dengan media pembelajaran secara interaktif, komunikatif dan tematis.

Penulis mengakui bahwa tingkat penguasaan kosakata siswa masih sangat rendah. Maka dengan demikian peneliti berusaha menciptakan situasi dan kondisi yang menyenangkan.

2) Siklus II

Pelaksanan siklus II didasarkan atas refleksi siklus I. adapun tindakan yang akan dilaksanakan dalam siklusi II ini berbeda tahapannya dengan siklus I. dalam siklus II ini diadakan selama 2 x 40 menit (2 jam pelajaran), dibagi menjadi 3 tahap, yaitu : tahap pertama selama 20 dipergunakan untuk menjelaskan pembelajaran yang disajikan, 40 menit dipergunakan untuk menjawab angket respon siswa terhadap pembelajaran yang dipergunakan untuk menjawab angket respon siswa diberikan saran-saran dan pujian-pujian untuk belajar lebih baik terutama bagi siswa yang penguasaan kosakatanya yang masih rendah.

Tahap Perencanaan

Hal-hal yang perlu diisikan dalam perencanaan ini antara lain :

  1. Menyiapkan materi paket soal tentang kosakata terbatas bidang bangunan umum, alat-alat trasportasi (udara, darat, air) maupun kosakata terbatas mengenai nama-nama pekerjaan seseorang.
  2. Menyiapkan lembar kerja siswa
  3. Menyiapkan lembar observasi, dan
  4. Lembar kuesioner untuk respon siswa terhadap pembelajaran yang dilaksanakan oleh peneliti.

Tahap Tindakan

Pada siklus II ini, tindakan dilakukan selama 2 jam pelajaran, yang dibagi menjadi 3 tahap yaitu : tahap pertama selama 20 menit dipergunakan untuk menjelaskan pembelajaran yang akan disajikan, 40 menit dipergunakan untuk melaksanakan tes, dan sisa waktu sebanyak 20 menit dipergunakan untuk menjadi angket respon siswa terhadap pembelajaran yang dilaksanakan oleh peneliti. Hal-hal yang dilakukan dalam pelaksanaan tindakan ini antara lain :

  1. Membagikan bacaan dengan paket soal,
  2. Membagikan lember kerja siswa
  3. Membagikan lembar observasi , dan
  4. Mebagikan soal angket sebagai respon siswa terhadap penerapan model pembelajaran yang diterapkan oleh peneliti

Tes yang diberikan pada siklus II ini adalah dipergunakan untuk mencari ketuntasan hasil belajar siswa selama 2 siklus pembelajaran.

Tahap Observai

Pelaksanaan observasi pada siklus II ini sama seperti siklus I, yaitu ; mengadakan observasi terhadap aktivitas belajar siswa selama mengikuti kegiatan pembelajaran, baik interaksi terhadap guru dengan siswa maupun interaksi siswa dengan siswa.

Aktivitas diamati dengan mempergunakan lembar observasi.

Tahap Refleksi

Pada tahap ini peneliti mengadakan refleksi kembali terhadap tindakan yang telah dilakukan.

Pada akhir siklus II ini, peneliti memberikan angket kepada seluruh siswa kelas IV. Dalam rangka untuk mengetahui resppon dari siswa terhadap pembelajaran yang telah dilaksanakan.

3. Instrumen dan cara pengumpulan data

Data yang dikumpulkan untuk dianalisis dalam penelitian tindakan kelas ini meliputi data : (1) Data aktivitas belajar siswa, (2) data respon siswa, dan (4) data hasil belajar siswa.

Data aktivitas siswa diambil dengan mengunakan lembar observasi, berisikan deskriptor-deskriptor dalam indikator perilaku siswa yang sudah dimodifikasi yang diamati selama proses pembelajaran berlangsung adapun indikator siswa yang dimaksud adalah sebagai berikut :

1)      Antusiasme siswa dalam mengikuti pembelajaran,

2)      Aktivitas siswa dalam melaksanakan pembelajaran,

3)      Interaksi siswa dengan guru,

4)      Interaksi siswa dengan siswa, dan

5)      Aktivitas siswa dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam pelaksanaan pembelajaran.

Setiap deskriptor pada masing-masing indikator yang tampak selama observasi, dicata pada daftar obserfasi dan diberi nilai.

Data hasil belajar siswa diambil dengan mengunakan item tes menjodohkan, dengan jumlah item 10 buutir soal. Untuk  menghemat waktu dan biaya. Yes yang disusun adalah mengenai kosakata terbatas bidang ; bangunan umum, alat-alat trasportasi, dan pekerjaan seseorang.

Data respon siswa terhadap pembelajaran kosakata menggunakan media visual gambar tidak diproyeksikan. Jumlah sebanyak 10 item. Pemberian skor siswa (X) menggunakan sekala sikap tipe Likert skala 5.


1) Data Aktivitas belajar siswa

Untuk mengetahui kualitas belajar siswa dalam proses pembelajaran, maka data hasil observasi yang berupa skor diolah dengan menggunakan rumus :

(n1 x 1 ) + (n2 x 2 ) + (n3 x 3 ) + (n4 x 4 ) + (n5 x 5 )

Skor (X)      =

(banyaknya siswa) x (banyaknya item)

Keterangan :

n1            = banyaknya siswa yang mendapatkan skor ke 1 (untuk 1= 1, 2, 3, 4, 5),

Kemudian hasilnya dibandingkan dengan keriteria seperti tabel 2

Tabel. 2. Kriteria Aktivitas Belajar Siswa

Skor Kriteria
X ≥M1 + 1,5 SD1 Sangat senang
M1 + 0,5 SD1 < X ≤ M1 + 1,5 SD1 Senang
M1 - 0,5 SD1 < X ≤ M1 + 0,5 SD1 Cukup senang
M1 - 0,5 SD1 < X ≤ M1 - 0,5 SD1 Kuarang senang
X < M1 - 1,5 SD1 Sangat kurang senang

( Nurkencana, sumartana, 1992 : 100 )

Rmusan untum M1 dan SD1 adalah :

MI = ½ (Skor tertinggi ideal + Skor terendah Ideal )

SD1 = 1/6 (Skor tertinggi ideal – Skor terendah ideal )

Untuk aktivitas siswa skor tertinggi ideal adalah 5 dan terendah ideal adalah 1  Dengan demikian dapat dihitung MI dan SDI Yaitu :

MI = 1/2 (5 + 1) = 3

SDI = 1/6 (5 – 1) = 0.67

Sehingga penggolongan aktivitas diatas menjadi seperti tabel 3

Tabel. 3. Kriteria aktivitas Belajar Siswa

Skor Kriteria
X ≥ 0.67 Sangat aktif
3.335 < X ≤ 4,005 Aktif
2,665 < X ≤ 3,335 Cukup aktif
1,995 < X ≤ 2,665 Kuarang aktif
X < 1,995 Sangat kurang aktif

( Nurkencana, sumartana, 1992 : 100 )

Keriteria keberhasilan tindakan yang dilakukan dilihat dari peningkatan aktivitas belajar siswa klasikal terhadap seluruh aspek yang diamati secara menyeluruh. Dari seluruh skor mentah didalm proses pembelajaran kosakata terbatas meliputi ; bangunan umum, alat-alat trasportasi, dan pekerjaan seseorang. Media gambar diam yang tidak diproyeksikan.

Penelitian akan berhasil jika tingkataktivitas belajar siswa dalam proses belajar mengajar minimal mencapai kategoi cukup aktif.

2) Data respon siswa

Untuk data respon siswa dikumpulkan melalui angket. Angket yang digunakan dalam penelitian ini terdiri 10 item. Untuk pernyataan item positif, paling sangat setuju (SS) mendapat sekor 5, setuju (S) memperoleh sekor 4, ragu-ragu (R) mendapat sekor 3, tidak setuju memperoleh sekor 2, dan untuk respon sangat tidak setuju (STS) diberi skor 1. Sedang untuk pernyataan item negatif pemberian skornya terbalik dengan item positif. Untuk respon sangat tidak setuju (STS) mendapat sekor 5, tidak setuju memperoleh sekor 4, ragu-ragu (R) mendapat sekor 3,  setuju (S) memperoleh sekor 2, paling  sangat setuju ( SS ) mendapat sekor 1.

Pemberian skor siswa (X) menggunakan skala sikap tipe Liker 1-5 yang dihitung dengan rumus seperi yang dipaparkan di atas. Berdasarkan skor tersebut maka skor siswa dibandingkan dengan kriteria seperti tabel 4

Tabel. 3. Kriteria Aktivitas Belajar Siswa

Skor Kriteria
X ≥M1 + 1,5 SD1 Sangat senang
M1 + 0,5 SD1 < X ≤ M1 + 1,5 SD1 Senang
M1 - 0,5 SD1 < X ≤ M1 + 0,5 SD1 Cukup senang
M1 - 0,5 SD1 < X ≤ M1 - 0,5 SD1 Kuarang senang
X < M1 - 1,5 SD1 Sangat kurang senang

( Nurkencana, sumartana, 1992 : 100 )

Rmusan untum M1 dan SD1 adalah :

MI = ½ (Skor tertinggi ideal + Skor terendah Ideal )

SD1 = 1/6 (Skor tertinggi ideal – Skor terendah ideal )

Untuk aktivitas siswa skor tertinggi ideal adalah 5 dan terendah ideal adalah 1. Dengan demikian dapat dihitung MI dan SDI Yaitu :

MI = 1/2 (5 + 1) = 3

SDI = 1/6 (5 – 1) = 0.67

Sehingga penggolongan aktivitas diatas menjadi seperti tabel 3

Tabel. 3. Kriteria aktivitas Belajar Siswa

Skor Kriteria
X ≥ 0.67 Sangat aktif
3.335 < X ≤ 4,005 Aktif
2,665 < X ≤ 3,335 Cukup aktif
1,995 < X ≤ 2,665 Kuarang aktif
X < 1,995 Sangat kurang aktif

( Nurkencana, sumartana, 1992 : 100 )

Keriteria keberhasilan adalah jika respon siswa mencapai katagori senang

3) Data hasil belajar siswa

Untuk mengetahui hasil belajar siswa, hasil tes belajar dianalisis secara deskriptif, yaitu dengan menggunakan skor rata-rata hasil tes (M) dan ketuntasan klasikal (KK) dengan rumus :

∑X

M =

N

Keterangan :

M         = Skor rata-rata

∑X      = Jumlah total skor siswa

N         = Jumlah siswa

Banyak siswa yang memperoleh nilai ≥ 65

KK =                                                                           X 100%

Banyak Siswa yang ikut tes

Pedoman yang dipakai untuk menafsirkan terhadap hasil belajar siswa adalah berdasarkan kurikulum pendidikan dasar untuk sekolah dasar yaitu hasil belajar siswa telah optimal apabila rata-rata kelas dan ketentuan klasikal minimal 65 dan 85%. Selain melihat peningkatan, penurunan, dan hasil belajar tetap siswa. Dimana akan dilihat beberapa persen siswa yang mengalami peningkatan, penurunan, dan belajar siswa tetap. Dimana akan dilihat beberapa persen siswa yang mengalami penurunan hasil belajar hasil belajar dari masing-masing siklus.

DAFTAR  PUSTAKA

Aristo rahadi, 2003. Media Pembelajaran. Direktorat Tenaga kependidikan Direktorat Jendral Pendidikan dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta

H,Abu ahmadi dan widodo Supriyono. 2004. Psikologi Belajar. PT Renika .Jakarta

H, Udin. S Winata pura. 2000. Strategi Belajar Mengajar. Materi Pokok, PGSD 2201/4SKS/modul 1-12. Universitas Terbuka. Jakarta

Imam, Syafi`ie dan Imam Machfudz. 1993. Pandai Berbaha Indonesia dan Pengajaran Kosakata. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Balai Pustaka. Jakarta.

Nurkancana dan Sunartana. 1992.  Evaluasi Hasil Belajar. Surabaya Usaha Nasional

Poerwadarminta. 1982. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. PN. Balai Pustaka. Jakarta

 

SILAHKAN DOWNLOAD FILE DISINI


Penelitian Tindakan Kelas (PTK)


MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT)

BERBANTUAN LEMBAR KERJA SISWA (LKS)

DI SEKOLAH DASAR

Oleh Luh Juwita Purwati, NIM 0611031069

Jurusan Pendidikan Dasar (S1 PGSD)

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa setelah diterapkannya pembelajaran kooperatif tipe TGT berbantuan LKS dalam mata pelajaran IPA dengan tema Energi dan Perubahannya pada siswa kelas V Semester II di Sekolah Dasar No.3 Anturan Kecamatan Buleleng Tahun Ajaran 2009/2010.

Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahapan, yaitu: (1) rencana tindakan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) observasi dan evaluasi tindakan, dan (4) refleksi. Subjek penelitian adalah siswa kelas V SD No.3 Anturan Tahun Ajaran 2009/2010 dengan jumlah siswa sebanyak 30 orang, terdiri dari 17 orang siswa laki-laki dan 13 orang siswa perempuan. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi, wawancara, dan tes. Data hasil observasi terhadap prilaku siswa selama mengikuti pembelajaran dianalisis menggunakan teknik deskriptif kualitatif, sedangkan data hasil belajar IPA siswa yang didapatkan dari metode tes dianalisis dengan teknik deskriptif kuantitatif.

Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar IPA setelah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) berbantuan LKS dengan nilai ketuntasan belajar siswa secara klasikal pada siklus I 76,66% berada pada kategori tinggi (23 orang siswa yang dapat mencapai KKM) dan pada siklus II 93,3% berada pada kategori sangat tinggi (28 orang siswa yang dapat mencapai KKM). Ini berarti bahwa terjadi peningkatan hasil belajar siswa dari siklus I ke siklus II setelah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) berbantuan LKS sebesar 16,64%. Berdasarkan analisis data dan pembahasan disimpulkan bahwa  model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) berbantuan LKS sangat efektif digunakan untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SD No.3 Anturan tahun ajaran 2009/2010.

Kata-kata kunci: Teams Games Tournament (TGT), hasil belajar IPA, LKS


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: