APLIKASI PENYUSUNAN SASARAN KERJA PEGAWAI (SKP)


APLIKASI EXCEL UNTUK MEMPERMUDAH MENYUSUN SKP DAN PPKP KUSUS GURU DAN KEPALA SEKOLAH

8

Sudah lama tidak posting worpress, kali ini untuk mengisi liburan saya posting Aplikasi untuk menyusun SKP dan PPKP untuk guru dan, guru dengan tugas tambahan kepala sekolah. SILAHKAN DI DOWLOAD KELIK SAJA, ==> SKP GURU dan ==> SKP KEPSEK. Dan berikut saya sertakan contoh yang sudah jadi CONTOH

Sebelumnya saya sampaikan bahwa saya aplikasi ini saya dapat dari sumber ( http://www.kedaiscript.com/download.php)  namun karena masih ada yg kurang pas jadi saya edit lagi agar lebih mudah dipakai dan memperbaiki sedikit pada bagian rumusnya karena ada yg kurang pas. Langsung saja ke cara penyusunan SKP dengan aplikasi ini.

Pada apikasi ini ada 3 bagian yaitu : 1. SKP, 2. Penilaian, 3. PPKP/DP3.  Sebelum ke langkan penyusunan SKP isi pilih terlebih dahulu: Pangkat/ Golongan, Target Persentase PKG/PKKS, dan Realisasi Persentase PKG/PKKS.

1

  1. Menyusun SKP. Kelik Formulir SKP

Pertama isikan identitas kita dan idntitas pengawas pada bagian atas tabel

2

Pada formulir SKP sudah di seting / disusun sesuai angka keridit yang akan dibutuhkan. Sekarang kita tinggal pilih max 10 poin pada kolom KEGIATAN TUGAS TAMBAHAN yang akan di targetkan apabila kalimatnya tidak sesuai bias di rubah sesuai yg diingnkan. Sekarang tingal mengisikan jumlah pada kolom KUANTITAS/OUTPUT, KUALITAS/MUTU disi dengan persentase, dan kolom WAKTU  yang akan kita targetkan. Angka Keredit AK sudak langsung otomati terisi bias suadk disi pada kolom kuantitas output

 

setelah memilih dan mengisi target KEGIATAN TUGAS TAMBAHAN yang di targetkan. Untuk Poin yg tidak digunakan di HIDE (sembunyikan)  saja jangan di DELETE karena bias merubah rumus. Jadi setelah di HIDE tingal ada point-point yang kita targetkan saja. Bila ada kesalahan tingal kita UNHIDE

cara HIDE Blok baris yang akan di sembunyikan. kelik kanan dan kelik HIDE,untuk menampilkan yang disebunyikan caranya sama cuma klik unhide

3

Hide/ sembunyikan semua yang tidak di perlukan

Setelah selesai mengisi kita kembali ke halaman depan dengan menekan tombol KE DEPAN dan lanjutkan ketahap penilaian dng menekan tombol KE DEPAN untuk kembali kemudian lanjutkan tekan PENILAIAN

CONTOH SKP JADI

 

4

  1. Peniaian SKP.

Pada penilaian ini kita menilai di akhir tahun untuk menentukan hasil realisai SKP dan untuk mendapatkan nilai SKP. Langsung saja caranya kita HIDE dulu yang tidak kita gunakan agar tidak menggaggu (HIDE sesuaikan/ samakan dengan  SKP).

Baru kita nilai isi nilai realisi pada kolom REALISASI. Pada bagian kolom KUANTITAS/OUTPUT, KUALITAS/MUTU, dan WAKTU. Untuk niai capaiannya akan otomatis terisi sendiri. Apabila telah terisi semua kita sudah mendapat Nilai SKP

5

Dilanjutkan ke PPKP/DP3 dengan menekan tombol ke Depan, dan klik tombol PPKP

6

  1. PPKP

dalam sudah kita tingal mengisi nilai Perilaku kerja. Dan edit tangal, nama pejabat dan sebagainya..

7

Demikian ulasan APLIKASI SKP ini saya sampaikan semoga bias digunakan dan bermanfaat. saya yakin aplikasi ini masih ada kelemahan-kelemahan atau kekurang  disini saya mohon komentar/saran untuk bias memperbaiki (email : yatmoko21@gmail.com)


RPP Kurikulum 2013


silahkan di dowload RPP Kurikulum 2013 untuk kelas IV semester pertama

klik di sini


PENDAPAT TENTANG MMM ( Mavrodi Mondial Money Box )


imagesMavrodi Mondial Money Box atau sering disingkat dengan MMM.

apa itu MMM ….? MMM adalah sebuah komunitas /sebuah sistem berasal dari rusia dan berkembang di beberapa nega termasuk indonesia.

MMM merupakan sistem yang melakukan kegiatan Jual dan beli uang Mavro (uang virtual) dan uang mavro itu akan berbunga setiap hasi senin dan kamis. contoh sederhananya kita sekarang beli mavro 1 jt selama satu bulan (lewat selasa dan kamis 5x) mavro 1 jt tersebut berkembang menjadi 1,3 jt. setelah satu bulan itu mavro bisa kita jual jadi 1,3 jt.

selama sebulan dana bertambah 30 %

1 jt selama sebualn menjadi = 1,3 jt

2 jt selama sebulan menjadi = 2,6 jt

10 jt selama sebulan menjadi = 13 jt

namuan dalam peroses jual beli uang movro tersebut sudah di atur oleh sistem tanpa perlu repot-repot menawarkan mavro kita secara manual. jadi seolah2 kita tidak melakukan apa bisa menghasilkan.

lebih jelasnya akan saya jelaskan bertahap…

1. cara daftar di MMM daftar cukup dengan . email. nomer hp aktif. no rekening dan atm

2.  setelah daftar  kita akan bisa login  ke web MMM lk.sergey-mavrodi-mmm.net  dengan email yg didaftarkan

3. dalam web tersebut pertama kali kita akan mengajukan permintaan membeli Mavro atau istilahnya PH. nanti dalam beberapa waktu sistem melalui web akan mepertemukan ke penjual mavro. maka kita akan melakukan kegiatan pembelian dangan terasper sejumlah uang sesuai permintaan pembelian kita saat daftar.

4 setelah teransaksi pembelian mavro.. sekarang kitapunya mavro sesuai dengan yg kita beli sekarang kita tinggal tunggu mavro kita nik selama 1 bulan (lewat selasa n kamis 5x) mavro akan meningkat 30 %.. jadi seandainya 1 jt setelah sebulan 1,3 jt

5. setalah satu bulan gantian kita yg menjadi penjual mavro yg  sudah naik menjadi 1,3 jt . cara jualnya sama semua di ataur didalam web kita tinggal mengajukan menjual mavro (GH istilahnya). dalam beberapa waktu sistem akan mepertemukan dengan pembeli mavro kita. jadi sama kita tinggal tunggu si pembeli terasper dana ke rekening kita..

6. setelah seleai satu bulan itu kita tidak ada ikatan lg dalam MMM. mau beli lagi atau gak itu terserah kita tanpa ada paksaan sama sekali

ini gambaran secara singkat apa yg dilakukan atau dikerjakan dalam sistem MMM ( jadi seolah2 kita tidak berbuat apa bisa menghasilkan)

 

KEUNIKAN SISTEM MMM

1. Dalam MMM kegiatan jual beli Mavro semua di lakukan oleh sistem dalam web jadi tidak usah susah2 jual beli secara manual

2. tidak terasper ke admin. namun teransaksi langsung anta penjual dan pembeli melalui ATM. dan sudah disertai kontak penjual dan pembeli untuk bisa saling berhubungan langsung

3. MMM tidak ada kantor atau menghimpun dana masyarakat.. MMM cuma mengelola angka/uang virtual. ini menjadi sebuah nilai lebih sehingga MMM tidak terkena pajak seperti MLM, BO, Koprasi, Bank yang banyak bangkrut karena terbelit pajak

4. dana yg di pergunakan juga dibatasi antra 100 Rb – 10 Jt.. hal ini dilakukan untuk menghindari terjadina sistem itu di boom oleh dana besar dan di tarik sekaligus

5 dalam mmm ditak menyarankan mavro itu disimpan lebih dari 1-3 bulan. hal ini dilakukan agar sistem tetap berjalan anta proses jual dan beli mavro .

6. tidak ada istilah anggota baru atau lama.. karena di MMM setelah menjual dan ingin membeli mavro lg kita sama dengan anggota baru lg.. jadi tidak ada istilah yg diatas tetap di atas. tapi yag di atas akn pernah dibawah lagi

 

HAL PENTING YANG PERLU DI INGAT ada untung pasti ada resiko

MMM memberi bukti selama 1 bulan mendapatkan pemasukan 30 %. namun dalam semua hal itu pasti ada yg namanya RESIKO  berani berhasil harus berani beresiko. jgan berani berhasil saja…

dalam MMM sudah jelas dijelaskan bahwa :

1.tidak ada jaminan untuk dana yg kita gunakan bila terjadi sesuatu. karena MMM tidak ada kontornya. MMM adalah sistem piramid adalah manygame ini sudah dijelaskan semua oleh MMM… cuma sistemnya baik

2. MMM bisa restard = namanya jual beli hal ini terjadi bial tidak ada yg mau membeli dan semua menjual mavronya. sama seperti bank  bayangkan apa yg terjadi bila nasabah mengambil uangnya dan tidak ada yg menabung lg…

3. disarankan dalam MMM gunakanlah dana yg memang free atau dana yang memang sudah siap/iklas bila terjadi sesuatu.. karena tidak ada jaminannya

4. Pro dan kontra dalam MMM itu pasti ada dan itu wajar…

 

INTINYA BERANI BERESIKO DAN MELANGKAH

RUBAH PEMIKIRAN KITA SEKARANG

JANGAN DI PERBUDAK OLEH UANG

TAPI DENGAN MMM MARI KITA MANFAATKAN UANG UNTUK BEKERJA UNTUK KITA

Mau daftar

 atau mau tanya2 lebih jelasnya

 silahkan hubungi saya

PIN: 75B06CD

hp : 081915664054 

 

 


Kumpulan Abstrak PTK SD


PENERAPAN METODE BELAJAR TUNTAS

DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR

MENGARANG BAHASA INDONESIA PADA SISWA KELAS IV

SDN 2 PENGAMBENGANPADA SEMESTER II

TAHUN PELAJARAN 2013/2014

Oleh:

 NAMA          : Anshori,S.Pd

 NIP               : 196304031984041004

ABSTRAK

 

            Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk: Mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa setelah diterapkannya metode Belajar Tuntas pada siswa  kelas IV SDN 2 Pengambengan Semester II Tahun Pelajaran 2013/2014. Terutama pada materi mengarang

            Penelitian ini dilakukan dengan metode penelitian tindakan kelas yang dilakukan di kelas IV SD Negeri 2 Pengambengan tahun pelajaran 2013/2014 dengn jumlah siswa sebanyak 40. Tindakan yang dilakukan dengan menerapkan metode Belajar Tuntas dalam pembelajaran mengarang mata pelajaran Bahasa Indonesia. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus.

Berdasarkan hasil yang diperoleh selama pelaksanaan penelitian tindakan kelas, dapat di jelaskan bahwa: hasil peningkatan pretasi belajar siswa dari prasiklus/tes awal prestasi siswa masih rendah karena di bawah KKM yaitu rata-rata kelas mencapai nilai 53,6. Pada siklus I setelah diterapkan metode belajar tuntas  rata-rata kelas mengalami peningkatan menjadi 65,30 sudah mencapai KKM namun masih pada keriteria sedang dan ketuntasan belajar masih 67,5 % belum mencapai 70% maka dilanjutkan ke siklus II. Pada siklus II rata-rata kelas mencapi nilai 73,5 sudah termasuk keriteria baik. Dan ketuntasan belajar siswa jg sudah tutas dengan persentase ketuntasan 87,5 % melebihi keritria ketuntasan minimum yaitu 70%. Maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis alternatif dapat diterima, maka dapat disimpulkan bahwa: penerapan metode belajar tuntas dapat meningkatkan prestasi belajar mengarang bahasa Indonesia siswa Kelas IV  SDN 2 Pengambengan semester II tahun pelajaran 2013/2014.

Kata-kata kunci: Metode belajar tuntas, dan prestasi belajar siswa

MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA

 DENGAN MENGUNAKAN MEDIA BENDA KONKRET

PADA SISWA KELAS IV SDN 2 PENGAMBENGAN

 SEMESTER II TAHUN PELAJARAN 2013/2014

 

Oleh:

NAMA           : KARYONO, S.Pd

NIP                 : 196304031984041004

 

ABSTRAK

            Matematika sebagai salah satu mata pelajaran yang diajarkan di SD bertujuan untuk melatih cara berfikir secara sistematis, logis, kritis, kreatif dan konsisten. Anak diharapkan terampil menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, tetapi kenyataan dilapangan anak-anak banyak mengalami kesulitan terutama kemampuan menghitung luas permukaan bangun ruang. Agar kemampuan menghitung luas di SD dapat ditingkatkan maka dapat memanfaatkan sumber belajar sekitar siswa yang berupa benda-benda konkret. Dengan menggunakan benda-benda konkret anak mampu melakukan aktivitas logis dalam memecahkan masalah, hal itulah sebagai cara untuk mengatasi permasalahan pembelajaran di SDN 2 Pengambengan.

            Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk Untuk mengetahui Apakah ada peningkatkan prestasi belajar matematika dalam menghitung luas bangun ruang setelah mengunakan  media benda konkret pada siswa kelas IV SDN 2 Pengambengan. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus.

            Berdasarkan analisi data prestasi belajar siswa, pemberian tindakan pada siklus I cukup berhasil untuk meningkatkan prestasi belajar. Hal ini ditunjukkan adanya peningkatan dari nilai rata-rata kelas tes awal yang bernilai 48,63 dan mengalami peningkatan setelah dilakukan tindakan siklus I dengan nilai rata-rata kelas menjadi 59 namun nilai ini masih tergolong kategori cukup. Hasil analisis data prestasi belajar siswa pada siklus II menunjukkan peningkatan yang sangat baik ini ditunjukkan dari perbandingan siklus I yang nilai rata-rata kelas 59 dan meningkat pada siklus II nilai rata-rata kelas menjadi 66,38. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa prestasi belajar pada siklus II sudah memenuhi target. Dapat disimpulkan dengan mengunakan media benda konkret, perestasi belajar matematika siswa kelas IV SDN 2 Pengambengan dalam menghitung luas bangun ruang mengalami peningkatan

Kata-kata kunci: Media benda konkret, dan prestasi belajar matematika

UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR

ILMU PENGETAHUAN ALAM DENGAN MENGGUNAKAN

MEDIA GAMBAR MELALUI MODEL PEMBELAJARAN TERPADU SISWA KELAS V SDN 2 PENGAMBENGAN

 

Oleh:

NAMA            : MUJAHIDIN, S.Pd

NIP                  : 195704081980101004

 

ABSTRAK

            Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk: mengetahuipeningkatan prestasi belajar siswa  setelah mengunakan media gambar melalui model pembelajaran terpadu pada mata pelajaran  IPA pada materi makhluk hidup dan proses kehidupannya.

            Penelitian ini dilakukan dengan metode penelitian tindakan kelas yang dilakukan di kelas V SD Negeri 2 Pengambengan tahun pelajaran 2013/2014 dengn jumlah siswa sebanyak 47. Tindakan yang mengunakan media gambar melalui model pembelajaran terpadudalam pembelajaran IPA. Penelitian ini dilaksanakan dalam tiga siklus.

Berdasarkan hasil yang diperoleh selama pelaksanaan program perbaikan pembelajaran, diperoleh hasil bahwa pada tindakan prasiklus nilai rata – rata kelas adalah 45,83, pada tindakan siklus I nilai rata-rata kelas adalah 68,75, pada tindakan siklus II meningkat menjadi 85,42, sedangkan pada tindakan siklus III, nilai rata-rata yang diperoleh siswa meningkat menjadi 92,71. Dari aspek jumlah siswa yang tuntas dalam pembelajaran, pada kegiatan pembelajaran normal, jumlah siswa yang tuntas hanyalah berjumlah 15 orang atau 31,25%. Pada tindakan siklus I, jumlah siswa yang tuntas meningkat menjadi 29 orang atau 60,42%, pada tindakan siklus II meningkat menjadi 42 orang atau 87,50, dan pada tindakan siklus III seluruh siswa, sebanyak 48 orang atau 100% tuntas dalam pembelajaran. Dapan disimpulan bahwa adanya peningkatan prestasi belajar terhadap mata pelajaran IPA siswa kelas V SDN 2 Pengambengan dengan menggunakan media gambar melalui model pembelajaran terpadukususnya pada materi makhluk hidup dan proses kehidupannya

Kata-kata kunci: model pembelajaran terpadu, dan prestasi belajar IPA

IMPLEMENTASI PENDEKATAN KONTEKSTUAL

UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA

SISWA KELAS V SDN 3 PENGAMBENGAN,

KABUPATEN JEMBRANA TAHUN PELAJARAN 2013/2014

 

Oleh:

NAMA            : MUKSIN, S.Pd

  NIP               : 195610261980101001

 

ABSTRAK

            Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk: mengetahuipeningkatan prestasi belajar siswa  setelah menerapkan pendekatan kontekstual pada mata pelajaran  matematika pada materi pecahan.

            Penelitian ini dilakukan dengan metode penelitian tindakan kelas yang dilakukan di kelas V SD Negeri 3 Pengambengan tahun pelajaran 2013/2014 dengn jumlah siswa sebanyak 27. Tindakan yang dilakukan berupa implementansi pendekatan kontekstual dalam pembelajaran matematika. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus.

Hasil Penelitian menunjukkan bahwa: Nilai rata-rata kelas mengalami peningkatan yaitu dari 43,7 pada pra siklus menjadi 56,11 pada siklus I dan mengalami peningkatan sebesar 71,3 pada siklus II. Ketuntasan belajar siswa secara kelasikal mengalami peningkatan yaitu dari 14,81% pada pra siklus menjadi 62,92% pada siklus I dan mengalami peningkatan menjadi 88,89% pada siklus II. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan terhadap hasil-hasil penelitian yang telah dibahas dalam bab IV di atas dapat disimpulkan bahwa hipotesis alternatif dapat diterima, maka implementasi pendekatan kontekstual efektif dan dapat meningkatkan hasil belajar Matematika siswa kelas V  SDN 3 Pengambengan.

 

Kata-kata kunci: kontekstual, dan prestasi belajar matematika

MENINGKATAN PEMBELAJARAN AGAMA ISLAM MELALUI METODE PEMBERIAN TUGAS BELAJAR DAN RESITASI PADA SISWA KELAS IV SDN SDN 3 LELATENG

 SEMESTER II TAHUN PELAJARAN 2013/2014

 

Oleh:

NAMA           : Abdul Hakim, S.Pd

NIP                 : 195807101981021004

 

ABSTRAK

Peneliti ingin mencoba melakukan penelitian dengan judul “ Meningkatan Pembelajaran Agama Islam Melalui metode pemberian tugas belajar dan resitasi Pada Siswa Kelas IV SDN SDN 3 Lelateng”. Sesuai dengan permasalahan penelitian ini bertujuan untuk: Ingin mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa setelah diterapkannya metode pemberian tugas belajar dan resitasi. Dan Ingin mengetahui pengaruh motivasi belajar siswa setelah diterapkan metode pemberian tugas belajar dan resitasi.

            Tempat penelitian adalah tempat yang digunakan dalam melakukan penelitian untuk memperoleh data yang diinginkan. Penelitian ini bertempat di SDN 3 Lelateng Kecamatan Negara Kabupaten Jembrana Tahun Pelajaran 2013/2014

            Melalui hasil peneilitian ini menunjukkan bahwa metode pemberian tugas belajar dan resitasi memiliki dampak positif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari semakin mantapnya pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan guru (ketuntasan belajar meningkat dari sklus I, II, dan II) yaitu masing-masing 68,18%, 75%, dan 83,3%. Pada siklus III ketuntasan belajar siswa secara klasikal telah tercapai. Dari hasil kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan selama tiga siklus, dan berdasarkan seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan. Penerapan metode metode pemberian tugas belajar dan resitasi mempunyai pengaruh positif, yaitu dapat meningkatkan motivasi belajar siswa yang ditunjukan dengan hasil wawancara dengan sebagian siswa, rata-rata jawaban siswa menyatakan bahwa siswa tertarik dan berminat dengan metode metode pemberian tugas belajar dan resitasi sehingga mereka menjadi termotivasi untuk belajar

Kata-kata kunci: metode pemberian tugas belajar dan resitasi, dan pembelajaran agama islam

 

MENINGKATAN AKTIVITAS DAN KEMAMPUAN

DALAM MELAKUKAN SHOLAT WAJIB MELALUI

STRATEGI MODELLING THE WAY

PADA SISWA KELAS IV SDN 2 BANJAR TENGAH

SEMESTER II TAHUN PELAJARAN 2013/2014

 

Oleh:

NAMA           : HALIMI, S.Pd

NIP                 : 195612311981121022

 

ABSTRAK

Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan peningkatan aktivitas dan kemampuan melakukan sholat wajib melalui strategi modelling the way pada siswa kelas IV SDN 2 Banjar Tengah, Semester II tahun pelajaran 2013/2014.

Penelitian ini dilakukan kepada siswa kelas IV SDN 2 Banjar Tengah Semester II tahun pelajaran 2013/2014 dengan jumlah siswa 13 siswa.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian tindakan kelas, pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan tes atau penugasan, sedangkan analisis data dilakukan dengan model interaktif. Sedangkan aktifitas dilakukan dalam bentuk interaktif dengan proses pengumpulan data sebagai proses siklus.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui strategi modelling the way dapat meningkatkan aktivitas dan kemampuan melakukan sholat wajib pada siswa Kelas IV SDN 2 Banjar Tengah Semester II tahun pelajaran 2013/2014. Aktivitas belajar dari siklus I ke siklus II terdapat peningkatan: aspek membaca rukun sholat (nilai rata-rata meningkat 1,1; persentase naik 21,8%; dari kategori baik menjadi amat baik), aspek membaca syarat sholat (nilai rata-rata naik 0,7; prosentase naik 14,8%; dari kategori baik menjadi amat baik); aspek membaca hal yang membatalkan sholat (nilai rata-rata meningkat 0,7; persentase naik 15,7%; dari kategori baik menjadi amat baik), dan aspek praktek sholat (nilai rata-rata naik 0,9; prosentase naik 18,3%; dari kategori baik menjadi amat baik). Hasil belajar siswa dari kondisi awal ke siklus II mengalami peningkatan, yaitu dari 4 siswa (30%) yang mendapat nilai tuntas menjadi 13 siswa (100%). Terjadi peningkatan sebanyak 9 siswa (70%) dan nilai rata-rata kelas dari 60,4 menjadi 87,6, meningkat sebesar 24,8.

 

Kata kunci : Aktivitas.  Kemampuan melakukan sholat wajib, Strategi modelling the way.

 

berminat sofecopy file PTK diatas  monggo PIN : 75B06C4D


Pendidik yang Kehilangan Jati Dirinya


Pendidik yang Kehilangan Jati Dirinya

Pendidik atau yang disebut dengan Guru, saat ini guru sudah Bukan bertugas untuk mengajar atau memnyalurak ilmu kepada peserta didik. saat ini pendidik terlalu di bebankan kepada kelengkapan administrasi dan sistem-sistem pendidikan, sistem-sitem profesi, dan lain-lain yank membut pendidik sangat terbebani dengan hal tersebut. hal ini ber akibat pada kosen trasi untuk memajukan peserta didikpun menjadi berkurang.

pendididik terutama pada tingkat sekolah dasar saat ini tidak bisa penuh memperhatikan kemajuan pesertadidiknya dengan baik.  ini disebabkan oleh beberapa hal yaitu:

pertama : minimnya jumlah tenaga pendidik disekolah ini ditunjukkan dengan perbandingan peserta didik yang terlalu banya tidak sebanding dengan julah pendidiknya. contohnya di tempat kami dengan jumlah siswa 130 terdiri dari 6 kelas hanya ada 4 tenaga pendidik dan 1 kepala sekolah. dari sisni saja sudah dapat dilihat bahwa ada beberapa kelas yang tidak penuh mendapat perhatian dari guru. dan masih banyak sekolah sekolah yang kondisinya hampir sama dengan ini. biasanya dari pihak sekolah hanya bisa mencarikan guru abdi untuk membantu proses pembelajaran tapi saya rasa itu belum cukup karena bagaimana pun guru abdi kesejahteraannya masih kurang sehingga sedikit banyak mempengaruhi semangat untuk melaksanakan proses pembelajaran. disini dapat disimpulkan secara kusus pendidikan disekolah tidak bisa b erjalan maxsimal. secara umum mengakibatkan rendahnya sumber daya manusia di Indonesia pada masa yang akan datang. jadi untuk solusi hal tersebut peserta didik harus lebih aktif untuk belajar di luar jam sekolah seperti mengikuti les, privat, bimbel, kelompok belajar yank pastinya mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, biaya ini amat terasa berat bagi orangtua dengan penghasilan menengah kebawah demi meningkatkan prestasi anaknya. disini secara tidak langsung sudah menunjukkan bahwa sekolah sudah tidak bisa dipercaya penuh terhadap prestasi siswa

Kedua : banyaknya tuntutan administrasi keguruan, seperti pendidik diwajibkan membuat RPP, Silabus, program semester, program tahunan dan masih banyak lainnya. memang sebenarnya administrasi itu penting karena cara menilai yang paling mudah adalah dengan cara melihat bukti kelengkapan administasi tersebut. secara gampang guru dinilai baik jika administrasi sudah lengkap guru dinggap kurang baik jika administrasi belum lengkap. padahal saat ini administrasi tersebut banyak yang memperjual belikannya kelengkapan administrasi tersebut, memperjual belikan kelengkapan administrasi itu juga tidak salah karena, jika pendidik membuat administrasinya sendiri entah kapan selesai administrasinya dan banyak waktu yang terbuang  jadi pendidik palinggampang membeli semua kelengkapan administrasi tersebut sehingga tidak banya juga yang merogoh dompetnya sendiri untuk membeli kelengkapan administrasi. disini dapat disimpulnya sebenarnya Rugi Besar semua administrasi tersebut karana pada kenyataannya tak ada gunanya, administrasi itu semua akan menjadi tumpukan yang tak da artinya dan berguna saat ada pemeriksaan saja. padahal disisi lain yang menjadi tujuan sekolah adalah mencetak peserta didik yang berprestasi menjadi tak mendapat perhatian.

ke tiga : hai ini adalah hal yg sangat memprihatinkan, yaitu tidak adanya dan jarangnya tenaga TU di masing- masing sekolah. banyaknya tuntutan administrasi sekolah dari atas yang harus segera di kerjakan dan dikirim. tidak adanya tenaga TU bukan berarti sekolah bisa tidak membuat atau mengirim administrasi tersebut jadi dengan sangat penuh tanggug jawab guru yang tugas awalnya sebagai pendidik harus merangkap menjadi TU. masalahnya administasi itu sangat banya jadi guru tidak jarang untuk meninggalkan kelas untuk menyelesaikan administrasi tersebut. sinkatnya guru lebih banyak membuat administrasi dari pada mengajar

Ke empat : adanya dana BOS. dana Bos memang sangat membantu berlangsungnya proses belajar mengajar. namun dana BOS tersebut harus disertai denganpertanggung jawaban yang sangat banyak dan membutuhkan tenaga yang bisa mengolah dan mempertanggung jawabkannya. lagi-lagi guru menjadi korban untuk mengelola dana tersebut. pengelolaan ini sunggu sangat sulit dan banyak memakan waktu mengajar. dana BOS ini saya anggap sebagai dilema terutama di tingkat Sekolah dasar yang tidak mempunyai tenaga dibidangnya, dana Bos sangat perlu untuk kemajuan siswa tapi mengorbankan kebutuhan peserta didik terhadap pendidik di dalam kelas.

mau – gak mau pendidik harus mengerjakan semua pekerjaan bahkan sampai mengorbankan tugasnya utuk mendidik peserta didiknya.. guru telah kehilang jati dirinya sebagai pendidik. saat ini guru sebagai pembuat administrasi bukan pencetak peserta didik yang berprestasi lagi. sapa yang salah dan siapa yang harus disalahkan …?


Menanamkan Konsep Kurang bertemu Negatip menjadi Positif (- – = +)


Menanamkan Konsep Kurang bertemu Negatip menjadi Positif (- – = +)

dengan bantuan alat peraga kartu bilangan

Kartu bilangan bulat ini adalah alat bantu untuk memperaktekkan penjumlahan dan pengurangan pada bilangan bulat. Dengan menggunakan alat yang sederhana ini siswa dapat memperaktekkan langsung secara kongkrit sehinggsa membatu siswa memahami konsep penjumlahan dan pengurangan pada bilangan bulat.

Dengan media ini siswa tidak terlalu banyak berfikir dan cepat mendapatkan hasilnya. Dalam peroses belajar mengajar dengan media yang sederhana ini hendaknya didemontrasikan dilakukan oleh siswa dan guru pembibing dan menjelaskan konsep yang perlu dipahami oleh siswa dengan bantuan alat ini ada 2 peranan penting yaitu

  • agar siswa terampil menggunakan suatu alat atau media yang ada diligkungan agar bisa memanfaatkan kekayaan alam yang ada disekitarnya untuk bisa membantu  memecahkan  masalah sehari-hari.
  • untuk mengetahui tehnik penjumlahan bilangan bulat dengan media dengan konsep ini siswa bisa menemukan  rumus  sendiri .

            Media ini terdiri dari:

  1. Sebuah Toples, toples ini digunakan sebagai tempat melakukan pengurangan dan penjumlahan bilangan bulat
  2. Beberapa Kartu Negatif, kartu negatif ini adalah sebagai bilangan negatif yang akan di oprasikan untuk dijumlah atau dikurang
  3. Kartu Positif, kartu positif ini adalah sebagai bilangan positif yang akan di oprasikan untuk dijumlah atau dikurang

Cara menggunakan

Pada oprasi penjumlahan tambah diartikan dengan menambahkan yaitu menambahkan kartu sesuai dengan soal kedalam toples. Pada oprasi pengurangan kurang diartikan mengambil / keluarkan yaitu mengeluarkan kartu sesuai dengan soal dari toples.

Syarat lainnya adalah kartu dapat dipasangkan, yaitu kartu positif berpasangan dengan kartu negatif. Saat oprasi penjumlahan kartu yang berpasangan dikeluarkan dari toples sampai tersisa kartu yang tidak mendapatkan pasangan, sisa kartu itulah hasil dari oprasi penjumlahannya. Saat oprasi pengurangan apabila kartu yang dikurang itu tidak mencukupi bisa menambahkan kartu dengan syarat menambahkannya secara berpasangan positif dengan negative sehingga penguranga kartu dapat dilakukan dan sisa kartu yang ada di toples itulah hasilnya

untuk lebih jelasnya silahkan download di sini;


MENCORET WAJAH SISWA UNTUK MEMOTIVASI


MENCORET WAJAH SISWA UNTUK MEMOTIVASI

sudah lama tidak menulis diBlog karena tidak punya ide… baru-baru ini terlintas dalam pikiran ingin berbagi trik-trk mengajar yang saya terapkan di kelas terutama siswa SD jadi kali ini saya akan menuliskannya untuk sekedar berbagi dan bertukar pikiran. lebih lengkapnya sebagai berikut.

BERMAIN MATEMATIKA DENGAN MENCORET WAJAH

awal mulanya perihatin dengan melihat anak didik saya yang sudah klas IV (empat) SD belum terlalu hapal perkalian dan pembagian. Dan ditambah siswa tidak ada motivasi untuk belajar perkalian. Setiap dikasi pertanyaan perkalian siswa menjawannya masi terlalu lama bahkan jawabannya salah.

Sudah berkali-kali siswa di himbau untuk menghapalkan kembali perkalian tapi masi tetap di acuhkan. Padahal perkelian adalah pelajaran yang paling mendasar apa bila siswa tidak bisa perkalian siswa akan mengalami kesulitan dalam menangkap atau menerima pelajaran yang tingkat materinya lebih sulit. Secara sederhana apabila siswa tidak bisa perkalian atau lama dalam perkalian siswa akan merasakan kesulitan dalam materi perkalian susun, pembagian susun, dan materi lainnya. Dan bila siswa tidak bisa memahami materi yang diterangkan guru akan menimbulkan perasaan pada siswa bahwa matematika itu suli dan sangat membosankan. Padahal ini semua disebabkan siswa tidak memegang salah satu kunci dasar pelajaran matematika yaitu PERKALIAN. Apa lagi siswa itu sudah duduk di kelas IV ke atas ma siswa yang tidak bisa perkalian dijamin tidak akan bisa mengerjakan soal matematika karna pada tingkatan kelas ini siswa tidak akan lagi pada menghafal perkalian. Maka dari itu saya punya ide unik dengan cara mengajak siswa bermain (CORET WAJAH) adapun caranya dalah sebagai berikut:

  1. Permainan ini bisa dilakukan pada saat awal jam pelajaran atau akir jam pelajaran. Siswa duduk di bangkunya masing-masing. Siswa akan diberikan pertanyaan secara berurut berdasarkan tempat duduk siswa.
  2. Pada awal guru memberikan pertanyan perkalian kepada siswa yang duduk di bangku paling awal. Aturannya BAGI YANG SALAH MENJAWAB /LAMA DALAM MENJAWAB WAJAHNYA AKAN DICORET.
  3. Apabila siswa benar menjawab siswa yang benar menjawab diberi kesempatan memberi pertanyaan perkalian ke teman se belahnya. Apabiala teman nya salah menjawab maka siswa yang memberi pertanyaan tadi berhak mencoret wajahnya dengan kapu,pupur/tepung,
  4. Setelah siswa yang salah menjawab di coret wajahnya siswa tersebut di persilahkan ke luar kelas untuk bertanya jawabannya pada adik kelas mereka dengan coretan diwajahnya tidak boleh di hapus.
  5. Sambil menunggu siswa yang mencari jawaban keluar siswa yang menjawab benar tadi melanjutkan permainan dengan memberi pertanyaan lagi kepada siswa berikutnya
  6. Dan ini dilakukan berulang2 sapai siswa semua mendapat gilran dan ini bisa dilakukan berkali-kali

Inti permainan ini adalah yang salah menjawab wajahnya dicoret oleh yang memberikan pertanyaan dan dengan coretan diwajah siswa di suruh untuk bertanya kepada adik kelasnya sampai jawabannya ketemu dan coretan diwajah tak boleh hilang.

Yang mendasari pemikiran saya melakukan permainan ini adalah siswa akan merasa malu saat bertanya perkalian kepada adik kelasnya dengan wajah yang penuh coretan sehingga ti tertawai oleh adik kelasnya. Sehingga karna rasa MALU itu siswa akan termotivasi untuk belajar perkalian kembali. Dan bagi yang sudah bisa perkalian akan lebih mengasah perkaliannya dan merasa rasa senang dengan bisa mencoret wajah temannya.

dengan permainan ini pembelajaran akan menyenangkan dan siswa akan lebih terpacu untuk belajar. Demikian lah yang dapat saya bagi di kesempatan ini. Semoga bermanfaat bagi pembaca.


Pengertian Landasan Psikologis dalam Pendidikan


2.1 Pengertian Landasan Psikologis dalam Pendidikan

Secara etimologis, istilah psikologis berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari kata psyche berarti ”jiwa”, dan logos yang berarti ilmu. Jadi secara harfiah psikologi berarti ilmu jiwa, atau ilmu yang mempelajari tentang gejala-gejala kejiwaan. Namun apabila mengacu pada salah satu syarat ilmu yaitu adanya objek yang dipelajari maka tidaklah tepat mengartikan psikologi sebagai ilmu jiwa karena jiwa bersifat abstrak.  Oleh karena itu yang sangat mungkin dikaji adalah manifestasi dari jiwa itu sendiri yaitu dalam wujud perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Dengan dasar ini maka psikologi dapat diartikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya.

Menurut Whiterington (1982:10) bahwa pendidikan adalah proses pertumbuhan yang berlangsung melalui tindakan-tindakan belajar. Itu artinya bahwa tindakan-tindakan belajar yang berlangsung secara terus menerus akan menghasilkan pertumbuhan pengetahuan dan perilaku sesuai dengan tingkatan pembelajaran yang dilalui oleh individu sendiri melalui proses belajar-mengajar. Karena itu untuk mencapai hasil yang diharapkan, metode dan pendekatan yang benar dalam proses pendidikan sangat diperlukan.

Kalau kita berbicara tentang individu yaitu manusia, maka kita akan bertemu dengan beberapa keunikan perilaku/jiwa (psyche), dan faktor ini akan berhubungan erat bahkan menentukan dalam keberhasilan proses belajar. Didasari pada begitu eratnya antara tugas psikologi (jiwa) dan ilmu pendidikan, kemudian lahirlah suatu subdisiplin yaitu psikologi pendidikan (educational psychology).

Psikologi pendidikan adalah studi yang sistematis terhadap proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan. Sedangkan pendidikan adalah proses pertumbuhan yang berlangsung melalui tindakan-tindakan belajar. Dari dua definisi ini maka jelas fokus dari psikologi pendidikan adalah proses belajar mengajar.

Pemahaman peserta didik yang berkaitan dengan aspek kejiwaan merupakan salah satu kunci keberhasilan pendidikan. Oleh karena itu, hasil kajian dan penemuan psiologis sangat diperlukan penerapannya dalam bidang pendidikan. Misalnya pengetahuan tentang aspek-aspek pribadi, urutan, dan ciriciri pertumbuhan setiap aspek, dan konsep tentang caracara paling tepat untuk mengembangkannya. Untuk itu psikologi menyediakan sejumlah informasi tentang kehidupan pribadi manusia pada umumnya serta berkaitan dengan aspek pribadi.

Individu memiliki bakat, kemampuan, minat, kekuatan serta tempo, dan irama perkembangan yang berbeda satu dengan yang lain. Sebagai implikasinya pendidik tidak mungkin memperlakukan sama kepada setiap peserta didik, sekalipun mereka mungkin memiliki beberapa persamaan. Penyusunan kurikulum perlu berhatihati dalam menentukan jenjang pengalaman belajar yang akan dijadikan garisgaris besar program pengajaran serta tingkat keterincian bahan belajar yang digariskan.

Landasan psikologis pendidikan adalah suatu landasan dalam proses pendidikan yang membahas berbagai informasi tentang kehidupan manusia pada umumnya serta gejalagejala yang berkaitan dengan aspek pribadi manusia pada setiap tahapan usia perkembangan tertentu untuk mengenali dan menyikapi manusia sesuai dengan tahapan usia perkembangannya yang bertujuan untuk memudahkan proses pendidikan. Kajian psikologi yang erat hubungannya dengan pendidikan adalah yang berkaitan dengan kecerdasan, berpikit, dan belajar (Tirtarahardja, 2005: 106).

DOWNLOAD SELENGKAPNYA ISINI


Filsafat Pendidikan


FILSAFAT PENDIDIKAN

Filsafat diakui sebagai induk ilmu pengetahuan (the mother of science) yang mampu menjawab segala pertanyaan tentang berbagai masalah yang berhubungan dengan alam semesta, manusia dengan segala problematikanya dalam kehidupan. Kemudian karena semakin berkembangya pemikiran manusia, banyak problema yang tidak bisa dijawab, maka lahirlah ilmu pengetahuan dalam bentuk disiplin ilmu dengan keterkhususannya masing-masing sehingga sanggup menjawab atas problematika perkembangan metodologi yang semakin pesat (Abdullah dalam Arifin 2009).

Setiap disiplin ilmu memiliki obyek dan sasaran yang berbeda-beda, disiplin ilmu mengurus dan mengembangkan bidang garapan tersendiri. Akibatnya terjadi pemisahan antara berbagai macam bidang ilmu, maka lahirlah cabang ilmu yang lain untuk membantu menjawab segala macam permasalahan-permasalahan yang timbul, termasuk permasalah-permasalahan di bidang pendidikan. John Dewey, menyatakan bahwa filsafat itu adalah teori umum dari pendidiakan, landasan dari semua pemikiran mengenai pendidikan.

 Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa yang melatar belakangi munculnya filsafat pendidikan adalah banyaknya perubahan-perubahan dan permasalahan yang timbul di lapangan pendidikan, yang tidak mampu dijawab sendiri oleh filsafat saja, banyaknya ide-ide yang baru di dunia pendidikan.

2.1.2 Pengertian filsafat pendidikan

Filsafat pendidikan menurut Al-syaibany dalam Sadulloh, (2008:71) adalah: “Pelaksanaan pandangan falsafah dan kaidah falsafah dalam bidang pendidikan. Filsafat itu menceritakan satu segi dari segi pelaksanaan falsafah umum dan menitikberatkan kepada pelaksanaan prinsip-prinsip dan kepercayaan-kepercayaan yang menjadi dasar sari falsafah umum dalam menyelesikan masalh-masalah pendidikan secara praktis”

John Dewey dalam sumadi (2007:3) memandang pendidikan sebagai suatu proses pembentukan kemampuan dasar yang fundamental, baik menyangkut daya pikir (intelektual) maupun daya perasaan (emotional) menuju ke arah tabi’at manusia, maka filsafat juga dapat diartikan sebagai teori umum pendidikan.

Van Cleve Morris dalam sumadi (2007:3) menyatakan : “Secara ringkas kita mengatakan bahwa pendidikan adalah studi filosofis, karena ia pada dasarnya, bukan alat social semata untuk mengalihkan cara hidup secara menyeluruh kepada setiap generasi, akan tetapi ia juga menjadi agen (lembaga) yang melayani hati nurani masyarakat dalam perjuangan mencapai hari depan lebih baik).

Pendidikan adalah bimbingan secara sadar dari pendidikan terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak-didik menuju terbentuknya manusia memiliki keperibadian yang utama dan ideal.

Dalam pengertian yang singkat Filsafat pendidikan adalah suatu aktivitas yang teratur yang menjadikan filsafat itu sebagai jalan mengatur, menyelaraskan dan memadukan proses pendidikan. Dengan demikian jelaslah bahwa filsafat pendidikan itu adalah filsafat yang memikirkan tentang masalah kependidikan. Oleh karena itu ada kaitan dengan pendidikan, maka filsafat diartikan sebagai teori pendidikan dalam segala tingkat.

2.1.3 Ruang Lingkup Pemikiran Filsafat

Dalam memahami dan mengembangkan pemikiran kefilsafatan pendidikan perlu dipahami pola dan system pemikiran kefilsafatan pada umumnya. Pola dan system pemikiran kefilsafatan sebagai suatu ilmu adalah :

  1. Pemikiran kefilsafatan harus bersifat sistematis, dalam arti dalam berpikirnya logis dan rasional tentang hakikat masalah yang dihadapi;
  2. Tinjauan permasalahan yang dipikirkan bersifat radikal artinya menyangkut persoalan-persoalan mendasar samapai keakar-akarnya.
  3. Ruang lingkup pemikirannya bersifat universal artinya persoalan-persoalan yang dipikirkannya bersifat menyeluruh;
  4. Meskipun pemikiran-pemikiran yang dilakukan lebih bersifat spekulatif, namun didasari oleh nilai-nilai yang obyektif.

Pola dan system berpikir filosofis demikian dilaksanakan dalam ruang lingkup yang menyangkut bidang-bidang sebagai berikut:

  1. Cosmologi yaitu suatu pemikiran dalam permasalahan yang berhubungan dengan alam semesta, ruang, dan waktu. Serta kenyataan manusia sebagai ciptaan manusia;
  2. Ontologi: yaitu tentang pemikiran asal usul kejadian alam semesta, darimana dan ke arah mana proses kejadiannya.
  3. Philosophy of main: yaitu pemikiran filosofis tentang “jiwa” dan bagaimana hubungannya dengan jasmani serta bagaimana dengan kebebasan kehendak dari manusia (free will);
  4. Efistimologi : yaitu suatu pemikiran yang menyatakan apa dan bagaimana sumber pengetahuan diperoleh; apakah dari akal pikiran (rationalisme) atau dari pendalaman panca indra (empirisme) atau dari ide-ide (aliran Idealisme) atau aliran dari Tuhan (Theologisme);
  5. Axiologi : yaitu pemikiran tentang nilai-nilai tinggi dari Tuhan. Misalnya, nilai moral, nilai agama, nilai keindahan, (Sumadi. 2007:1-2).

2.2  ALIRAN-ALIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN MODERN

Dalam filsafat pendidikan modern dikenal beberapa aliran, antara lain progresivisme, esensialisme, perenialisme, dan rekonstruksionisme.

2.2.1 Aliran Progresivisme

Aliran progresivisme mengakui dan berusaha mengembangkan asas progesivisme dalam sebuah realita kehidupan, agar manusia bisa survive menghadapi semua tantangan hidup. Dinamakan instrumentalisme, karena aliran ini beranggapan bahwa kemampuan intelegensi manusia sebagai alat untuk hidup, untuk kesejahteraan dan untuk mengembangkan kepribadiaan manusia. Dinamakan eksperimentalisme, karena aliran ini menyadari dan mempraktikkan asas eksperimen untuk menguji kebenaran suatu teori. Dan dinamakan environmentalisme, Karena aliran ini menganggap lingkungan hidup itu memengaruhi pembinaan kepribadiaan (Noor Syam, 1987: 228-229)

Aliran progesivisme telah memberikan sumbangan yang besar di dunia pendidikan saat ini. Aliran ini telah meletakkan dasar-dasar kemerdekaan dan kebebasan kepada anak didik. Anak didik diberikan kebaikan baik secara fisik maupun cara berpikir, guna mengembangkan bakat dan kemampuan yang terpendam dalam dirinya tanpa terhambat oleh rintangan yang dibuat oleh orang lain Oleh karena itu, filsafat progesivisme tidak menyetujui pendidikan yang otoriter.

John Dewey memandang bahwa pendidikan sebagai proses dan sosialisasi Maksudnya sebagai proses pertumbuhan anak didik dapat mengambil kejadian-kejadian dari pengalaman lingkungan sekitarnya. Maka dari itu, dinding pemisah antara sekolah dan masyarakat perlu dihapuskan, sebab belajar yang baik tidak cukup di sekolah saja.

Dengan demikian, sekolah yang ideal adalah sekolah yang isi pendidikannya berintegrasi dengan lingkungan sekitar. Karena sekolah adalah bagian dari masyarakat. Dan untuk itu, sekolah harus dapat mengupyakan pelestarian karakteristik atau kekhasan lingkungan sekolah sekitar atau daerah di mana sekolah itu berada. Untuk dapat melestarikan usaha ini, sekolah harus menyajikan program pendidikan yang dapat memberikan wawasan kepada anak didik tentang apa yang menjadi karakteristik atau kekhususan daerah itu. Untuk itulah, fisafat progesivisme menghendaki sis pendidikan dengan bentuk belajar “sekolah sambil berbuat” atau learning by doing.

Dengan kata lain akal dan kecerdasan anak didik harus dikembangkan dengan baik. Perlu diketahui pula bahwa sekolah tidak hanya berfungsi sebagai pemindahan pengetahuan (transfer of knowledge), melainkan juga berfungsi sebagai pemindahan nilai-nilai (transfer of value), sehingga anak menjadi terampildan berintelektual baik secara fisik maupun psikis. Untuk itulah sekat antara sekolah dengan masyarakat harus dihilangkan.


2.2.2 Aliran Esensialisme

Aliran esensialisme merupakan aliran pendidikan yang didasarkan pada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia. Esensialisme muncul pada zaman Renaisance dengan cirri-cirinya yang berbeda dengan progesivisme. Dasar pijakan aliran ini lebih fleksibel dan terbuka untuk perubahan, toleran, dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu. Esensiliasme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama, yang meberikan kestabilan dan nilai-nilai terpilih yang mempunyai tata yang jelas.

Idealisme, sebagai filsafat hidup, memulai tinjauannya mengenai pribadi individu dengan menitikberatkan pada aku. Menurut idealisme, pada tarap permulaan seseorang belajar memahami akunya sendiri, kemudian ke luar untuk memahami dunia objektif. Dari mikrokosmos menuju ke makrokosmos. Menurut Immanuel Kant, segala pengetahuan yang dicapai manusia melalui indera memerlukan unsure apriori, yang tidak didahului oleh pengalaman lebih dahulu.

Bila orang berhadapan dengan benda-benda, bukan berarti semua itu sudah mempunayi bentuk, ruang, dan ikatan waktu. Bentuk, ruang , dan waktu sudah ada pada budi manusia sebelum ada pengalaman atu pengamatan. Jadi, apriori yang terarah buikanlah budi pada benda, tetapi benda-benda itu yang terarah pada budi. Budi membentuk dan mengatur dalam ruang dan waktu. Dengan mengambil landasan pikir tersebut, belajar dapat didefinisikan sebagai substansi spiritual yang membina dan menciptakan diri sendiri.

Roose L. finney, seorang ahli sosiologi dan filosof , menerangkan tentang hakikat social dari hidup mental. Dikatakan bahwa mental adalah keadaan ruhani yang pasif, hal ini berarti bahwa manusia pada umumnya menerima apa saja Yng telah ditentukan dan diatur oleh alam social. Jadi, belajar adalah menerima dan mengenal secara sungguh-sungguh nilai-nilai social angkatan baru yang timbul untuk ditambah, dikurangi dan diteruskan pada angkatan berikutnya.

2.2.3 Aliran Perenialisme

Perenialisme memandang pendidikan sebagai jalan kembali atau proses mengembalikan keadaan sekarang. Perenialisme memberikan sumbangan yang berpengaruh baik teori maupun praktik bagi kebudayaan dan pendidikan zaman sekarang (Noor Syam, 1986: 154). Dari pendapat ini diketahui bahwa perenialisme merupakan hasil pemikiran yang memberikan kemungkinan bagi sseorang untukk bersikap tegas dan lurus. Karena itulah, perenialisme berpendapat bahwa mencari dan menemukan arah arsah tujuan yang jelas merupakan tugas yang utama dari filsafat, khususnya filsafat pendidikan.

Menurut perenialisme, ilmu pengetahuan merupakan filsafat yang tertinggi, karena dengan ilmu pengetahuanlah seseorang dapat berpikir secara induktif. Jadi, dengan berpikir maka kebenaran itu akan dapat dihasilkan. Penguasaan pengetahuan mengenai prinsip-prinsip pertama adalah modal bagi seseorang untuk mengembangkan pikiran dan kecerdasan. Dengan pengetahuan, bahan penerangan yang cukup, orang akan mampu mengenal dan memahami factor-faktor dan problema yang perlu diselesaikan dan berusaha mengadakan penyelesaian masalahnya.

Diharapkan anak didik mampu mengenal dan mengembangkan karya-karya yang menjadi landasan pengembangan disiplin mental. Karya-karya ini merupakan buah pikiran besar pada masa lampau. Berbagai buah pikiran mereka yang oleh zaman telah dicatat menonjol seperti bahasa, sastra, sejarah, filsafat, politik, ekonomi, matematika, ilmu pengetahuan alam, dan lain-lainnya, yang telah banyak memberikan sumbangan kepadaperkembangan zaman dulu.

Tugas utama pendidiakn adalah mempersiapkan anak didik kea rah kematangan. Matang dalam arti hiodup akalnya. Jadi, akl inilah yang perlu mendapat tuntunan kea rah kematangan tersebut. Sekolah rendah memberikan pendidikan dan pengetahuan serba dasar. Dengan pengetahuan yang tradisional seperti membaca, menulis, dan berhitung, anak didik memperoleh dasar penting bagi pengetahuan-pengetahuan yang lain.

Sekolah, sebagai tempat utama dalam pendidikan, mempesiapkan anak didik ke arah kematangan akal dengan memberikan pengetahuan. Sedangkan tugas utama guru adalah memberikan pendidikan dan pengajaran (pengetahuan) kepada anak didik. Dengan kata lain, keberhasilan anak dalam nidang akalnya sangat tergantung kepada guru, dalam arti orang yang telah mendidik dan mengajarkan.

2.2.4 Aliran Rekonstruksionisme

Kata Rekonstruksionisme bersal dari bahasa Inggris reconstruct, yang berarti menyusun kembali. Dalam konteks filsafat pendidikan, rekonstruksionisme merupakan suatu aliran yang berusaha merombak tata susunan hidup kebudayaan yang bercorak modern. Aliran rekonstruksionisme pada prinsipnya sepaham dengan aliran perenialisme, yaitu berawal dari krisis kebudayaan modern. Menurut Noor Syam (1985: 340), kedua aliran tersebut memandang bahwa keadaan sekarang merupakan zaman yang mempumyai kebudayaan yang terganggu oleh kehancuran, kebingungan, dan kesimpangsiuran.

Aliran rekonstruksionisme berkeyakinan bahwa tugas penyelamatan dunia merupakan tugas semua umat manusia. Karenanya, pembinaan kembali daya intelektual dan spiritual yang sehat melalui pendidikan yang tepat akan membina kembali manusia dengan nilai dan norma yang benar pula demi generasi yang akan datang, sehingga terbentuk dunia baru dalam pengawasan umat manusia.

Di samping itu, aliran ini memiliki persepsi bahwa masa depan suatu bangsa merupakan suatu dunia yang diatur dan diperintah oleh rakyat secara demokratis, bukan dunia yang dikuasai oleh golongan tertentu. Cita-cita demokrasi yang sesungguhnya tidak hanya teori, tetapi mesti diwujudkan menjadi kenyataan, sehingga mampu meningkatkan kualitas kesehatan, kesejahteraan dan kemakmuran serta keamanan masyarakat tanpa membedakan warna kulit,, keturunan, nasionalisme, agama (kepercayaan) dan masyarakat bersangkutan.

2.3    HUBUNGAN ANTARA FILSAFAT, MANUSIA DAN PENDIDIKAN

2.3.1 Manusia dan Filsafat

Manusia dan Filsafat mempunyai kaitan yang cukup erat dalam suatu kehidupan. Manusia memiliki akal pikiran dan berbagai kebutuhan untuk suatu hal yang diinginkan yang akan melahirkan suatu pemikiran filsafati. filsafat juga merupakan suatu sikap atau pandangan hidup manusia, karena filsafat seseorang ialah keseluruhan jumlah kepercayaan atau keyakinannya, jadi setiap manusia cenderung mempunyai suatu filsafat hidup atau pedoman hidup.

Menurut Alfiandry (2010:7-8) Filsafat bukan semata-mata permainan alam pikiran yang hanya untuk memenuhi hasrat keingintahuan manusia, tetapi filsafat mempunyai fungsi dalam kehidupan manusia. Ada beberapa alasan mengapa kita memerlukan filsafat, yaitu bahwa :

  1. filsafat membantu manusia dalam mengambil keputusan dan tindakan dalam kehidupannya.
  2. filsafat sedikit banyaknya dapat mengurangi kesalahpahaman dan konflik dalam hidup.
  3. untuk dasar menghadapi banyak kesimpangsiuran banyak hal dalam dunia yang selalu berubah

2.3.2  Filsafat dan Pendidikan

Tidak semua masalah kependidikan dapat dipecahkan dengan menggunakan metode ilmiah. Karena banyak di antara masalah-masalah kependidikan tersebut yang merupakan pertanyaan filosofis, yang memerlukan pendekatan filosofis pula dalam pemecahannya. Analisa filsafat terhadap masalah-masalah kependidikan tersebut, akan dapat menghasilkan pandangan pandangan tertentu mengenai masalah-masalah kependidikan tersebut, dan atas dasar itu bisa disusun secara sistematis teori-teori pendidikan. Disinilah bisa kita lihat salah satu keterkaitan antara keduanya.

Filsafat juga berfungsi mengarahkan agar teori-teori dan pandangan filsafat pendidikan yang telah dikembangkan tersebut bisa diterapkan dalam praktek kependidikan sesuai dengan kenyataan dan kebutuhan hidup yang juga berkembang dalam masyarakat (Alfiandry, 2010:8).

Merupakan kenyataan bahwa setiap masyarakat hidup dengan pandangan dan filsafat hidupnya sendiri-sendiri yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Filsafat juga merumuskan sistem atau teori pendidikan (science of education) yang meliputi politik pendidikan, kepemimpinen pendidikan atau organisasi pendidikan, metodologi pendidikan dan pengajaran termasuk pola-pola akulturasi dan peranan pendidikan dalam pembangunan masyarakat dan negara.

2.3.3 Hubungan antara Manusia,Filsafat, dan Pendidikan

Filsafat adalah induk dari ilmu pengetahuan yang melahirkan banyak ilmu pengetahuan yang membahas sesuai dengan apa yang telah dikaji dan diteliti didalamnya. Dalam ilmu pengetahuan, filsafat mempunyai kedudukan sentral, asal, atau pokok. Karena filsafat satu-satunya yan telah mencapai kebenaran atau pengetahuan. Filsafat akan memberikan alternatif mana yang paling baik untuk dijadikan pegangan manusia.

Filsafat memberikan dasar-dasar yang umum bagi semua ilmu pengetahuan, Di samping itu filsafat juga memberikan dasar-dasar yang khusus yang digunakan dalam tiap-tiap ilmu pengetahuan. Dasar yang diberikan oleh filsafat yaitu mengenai sifat-sifat ilmu dari semua ilmu pengetahuan. Filsafat juga  memberikan metode atau cara kepada setiap ilmu pengetahuan.

Filsafat berarti cinta akan kebijaksanaan. Jadi seorang filosof adalah orang yang mencintai kebijaksanaan dan hikmat yang mendorong manusia itu sendiri untuk menjadi orang yang bijaksana dalam menjalani hidup. Filsafat memberikan pedoman hidup kepada manusia, Dengan akal, filsafat memberikan pedoman hidup untuk berpikir guna memperoleh pengetahuan. Dengan rasa dan kehendak maka filsafat memberikan pedoman tentang kesusilaan mengenai baik dan buruk

Antara ketiga komponen, yaitu manusia, filsafat, dan pendidikan sangat erat hubungannya. Manusia dilahirkan sebagai bayi yang tidak bisa melakukan tanpa bantuan orang lain. Dalam proses kehidupan, manusia akan dihadapkan dengan berbagai masalah kehidupan. Untuk dapat memilih dan melaksanakan cara hidup yang baik. Manusia memerlukan pendidikan. Dengan pendidikan manusia akan menjadi lebih dewasa dan bertanggung jawab (Alfiandry, 2010:12).

Peran filsafat dalam kehidupan manusia disini yaitu sebagai pola piker manusia yang yang bijaksana, arif dalam menjalani suatu kehidupan. Sesuai dengan pengertiannya dari segi etimologi. Filsafat akan mengajarkan dan melatih manusia untuk bersikap yang bijaksana dalam hidup. Terkadang dengan berfikir filsafat, sseorang akan mempunyai suatu filsafat hidup atau pandangan atau pedoman hidup yang baik. Dengan keterkaitan itu manusia akan menjadi manusia yang lebih dewasa, percaya diri, arif, bijkasana dan bertanggu ngjawab dalam menjalani kehidupan.

2.4  FILSAFAT PENDIDIKAN PANCASILA

2.4.1  Pengertian  Filsafat  Pancasila

Pancasila yang dibahas secara filosofis disini adalah Pancasila yang butir-butirnya termuat dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang tertulis dalam alinia ke empat. Dijelaskan bahwa Negara Indonesia didasarkan atas Pancasila. Pernyataan tersebut menegaskan hubungan yang erat antara eksistensi negara Indonesia dengan Pancasila. Lahir, tumbuh dan berkembangnya negara Indonesia ditumpukan pada Pancasila sebagai dasarnya. Secara filosofis ini dapat diinterpretasikan sebagai pernyataan mengenai kedudukan Pancasila sebagai jati diri bangsa (Putra, 1988:43)

Melihat dari beragamnya  kebudayaan yang terdapat dalam bangsa Indonesia maka proses kesinambungan dari kehidupan bangsa merupakan tantangan yang besar. Demi perkembangan kebudayaan Indonesia selanjutnya dituntut adanya rumusan yang jelas yang mampu  berperan sebagai pemersatu bangsa sehingga cirri khas bangsa Indonesia menjadi nyata.

Jadi, Pancasila mengarahkan seluruh kehidupan bersama bangsa, pergaulannya dengan bangsa-bangsa lain dan seluruh perkembangan bangsa Indonesia dari waktu kewaktu. Namun dengan diangkatnya Pancasila sebagai jati diri bangsa Indonesia tidak berati bahwa Pancasila dengan nilai-nilai yang termuat didalamnya sudah terumus dengan teliti dan jelas, juga tidak berarti pancasila telah merupakan kenyataan didalm kehidupan bangsa Indonesia. Pancasila adalah pernyataan tentang jati diri bangsa Indonesia.

2.4.2 Muatan  Filsafat Dalam Pancasila Dan Hubungannya Dengan Pendidikan

Dalam Filsafat Pancasila terdapat banyak nilai-nilai luhur yang menjadi ciri khas dan perekat bangsa Indonesia. Filsafat yang terkandung didalam pancasila harus disoroti dari titik tolak pandangan yang holistic mengenai kenyataan  kehidupan bangsa yang beranekaragam. Ini menekankan pada semangat Bhineka Tunggal Ika, semangat ini diharapkan mendasari seluruh kehidupan bangsa Indonesia. Yaitu adanya kesatuan didalam keaneka ragaman yang ada.

Dari penjelasan itu dapat dinyatakan bahwa Bhineka Tunggal Ika adalah inti Filsafat Pancasila. Kerinduan bangsa Indonesia akan terwujudnya kesatuan didalam pengalaman akan kepelbagaian tersebut merupakan cerminan kerinduan umat manusia sepanjang zaman.

Menurut Drijarkara dalam Putra (1988:32)  Pancasila adalah inheren (melekat) kepada eksistensi manusia sebagai manusia, lepas dari keadaan  yang terntu pada kongretnya. Sebab itu dengan memandang kodrat manusia “qua valis’ (sebagai manusia), kita juga akan sampai ke Pancasila.

Hal ini digambarkan melalui sila-sila dalam Pancasila. Notonagoro (dalam noor, 1987:153) dalam kaitannya menyebutkan “ kalau dilihat dari segi intisarinya, urut-urutan lima sila Pancasila menunjukkan suatu rangkaian tingkat dalam luasnya isi, tiap-tiap sila yang lima sila dianggap maksud demikian, maka diantara lima sila ada hubungannya yang mengikat yang satu kpada yang lain, sehingga Pancasila merupakan satukesatuan yang bulat.

Adapun hubungannya dengan pendidikan bahwa bagi bangsa Indonesia keyakinan atau pandangan hidup bangsa, dasar negara Republik Indonesia ialah Pancasila. Karenanya system pendidikan nasional wajarlah dijiwai, didasari, dan mencerminkan identitas Pancasila itu. Sistem pendidikan nasional dan system filsafat pendidikan  Pancasila adalah sub system dari system negara Pancasila. Dengan kata lain system negara Pancasila wajar tercermin dan dilaksanakan di dalam berbagai subsistem kehidupan nasional bangsa Indonesia secara keseluruhan.

Tegasnya tiada system pendidikan nasional tanpa filsafat pendidikan. Jadi, jelas bahwa  tidak mungkin system pendidikan nasional Pancasila dijiwai dan didasari oleh system pendidikan yang lain, kecuali Filsafat Pendidikan Pancasila.

2.5 HUBUNGAN FILSAFAT PENDIDIKAN DENGAN PEMBANGUNAN SUMBER DAYA MANUSIA

            Menurut Hadawi Nawawi Sumber daya manusia (SDM) adalah daya yang bersumber dari manusia, yang berbentuk tenaga atau kekuatan (energi atau power). Sumber daya manusia mempunyai dua ciri, yaitu : (1) Ciri-ciri pribadi berupa pengetahuan, perasaan dan keterampilan (2) Ciri-ciri interpersonal yaitu hubungan antar manusia dengan lingkungannya. Sementara Emil Salim menyatakan bahwa yang dimaksud dengan SDM adalah kekuatan daya pikir atau daya cipta manusia yang tersimpan dan tidak dapat diketahui dengan pasti kapasitasnya. Beliau juga menambahkan bahwa SDM dapat diartikan sebagai nilai dari perilaku seseorang dalam mempertanggungjawabkan semua perbuatannya, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat dan berbangsa. Dengan demikian kualitas SDM ditentukan oleh sikap mental manusia (ady, 2009).

            T. Zahara Djaafar menyatakan bahwa bila kualitas SDM tinggi, yaitu menguasai ilmu dan teknologi dan mempunyai rasa tanggung jawab terhadap kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya dan merasa bahwa manusia mempunyai hubungan fungsional dengan sistem sosial, nampaknya pembangunan dapat terlaksana dengan baik seperti yang telah negara-negara maju, dalam pembangunan bangsa dan telah berorientasi ke masa depan. Tidak jarang di antara negara-negara maju yang telah berhasil meningkatkan kesejahteraan bangsanya adalah bangsa yang pada mulanya miskin namun memiliki SDM yang berkualitas.

            Manusia terdiri dua potensi yang harus dibangun, yaitu lahiriah sebagai tubuh itu sendiri dan ruhaniyah sebagai pengendali tubuh. Pembangunan manusia tentunya harus memperhatikan kedua potensi ini. Jika dilihat dari tujuan pembangunan manusia Indonesia yaitu menjadikan manusia seutuhnya, maka tujuan tersebut harus memperhatikan kedua potensi yang ada pada manusia.

            Kualitas SDM menyangkut banyak aspek, yaitu aspek sikap mental, perilaku, aspek kemampuan, aspek intelegensi, aspek agama, aspek hukum, aspek kesehatan dan sebagainya Kesemua aspek ini merupakan dua potensi yang masing-masing dimiliki oleh tiap individu, yaitu jasmaniah dan ruhaniah. Tidak dapat dipungkiri bahwa aspek jasmaniah selalu ditentukan oleh ruhaniah yang bertindak sebagai pendorong dari dalam diri manusia. Untuk mencapai SDM berkualitas, usaha yang paling utama sebenarnya adalah memperbaiki potensi dari dalam manusia itu sendiri, hal ini dapat diambil contoh seperti kepatuhan masyarakat terhadap hukum ditentukan oleh aspek ruhaniyah ini. Dalam hal ini pendidikan memiliki peran utama untuk mewujudkannya.

            Untuk mencerdaskan dan memajukan kehidupan suatu bangsa dan negara sesuai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan maka di adakan suatu proses pendidikan atau suatu prosen belajar yang akan memberikan pengertian, pandangan, dan penyesuayan bagi seseorang atau si terdidik kearah kedewasaan dan kematangan,dengan proses ini maka akan terpengaruh terhadap perkembangan jiwa seseorang anak didik atau peserta dan atau subjek didik kearah yang lebih dinamis baik kearah bakat atau pengalaman, moral, intelektual maupun fisik (jasmani) menuju kedewasaan dan kematangan.Tujuan akhir pendidikan akan terwujud untuk menumbuhkan dan mengembangkan semua potensi si terdidik secara teratur, apa bila prakondisi alamiah dan social manusia memungkinkan, seperti: iklim,makanan, kesehatan, keamanan dan lain sebagainya yang relatif sesuai dengan kebutuhan manusia

            Untuk memberikan makna yang lebih jelas dan tegas tentang kedewasaan dan kematangan yang ingin di tuju dalam pendidikan apakah kedewasaan yang bersifat biologis, pisikologis, dan sosiologis, maka masalah ini merupakan bidang garapan yang akan dirumuskan oleh filsafat pendidikan (Nuka, 2010).

            Disamping itu juga dari pengalaman menunjukan bahwa tidak semua manusia baik potensi jasmaninya maupun potensi rohaninya (pikir, karsa, dan rasa) berkembang sebagai mana yang diharapkan. Oleh karena itu lahirlah pemikiran manusia untuk memberikan afternatif pemecahan masalah terhadap perkembangan manusia.

            Apakah yang mempengaruhi perkembangan potensi manusia, dan mana yang paling menentukan dan dengan adanya lembaga-lembaga pendidikan dengan berbagai aktivitasnya telah mampu menumbuhkandan mengembangkan potensi peserta didik sehingga bermanfaat bagikehidupan peribadi dan masyarakat sekitar
Dari urayan tadi jelaslah bahwa pendidikan adalah sebagai pelaksanaan dari ide-ide filsapat. Atau dengan perkataan lain bahwa ide filsafat telah memberikan asas sistem nilai dan atou normatif bagi peranan pendidikan yang telahmelahirkan, lembaga-lembaga pendidikan dan dengan segala aktivitasnya, sehingga dapat dikatakan bahwa filsafat pendidikan sebagai jiwa, pendoman, dan sumber pendorong adanya pendidikan. Inilah antara lain peranan filsafat pendidikan

UTUK LEBIH LENGKAP SILAHKAN DOWNLOAD DISINI


Sistem Pendidikan Indonesia Memprihatinkan


Sistem Pendidikan Indonesia Memprihatinkan


Sistem pendidikan di Indonesia masih membutuhkan perbaikan. Kebolongan implementasi yang belum tertambal sempurna menyebabkan keseluruhan sistem tidak totalitas. Analoginya seperti sistem tubuh manusia. Sistem tubuh manusia memiliki tujuan pula dan setiap organ berperan penting dalam melaksanakan sistem. Jika satu organ saja tidak befungsi dengan baik atau macet, maka keseluruhan sistem akan menjadi kacau.

Menurut Guru Besar Ilmu Manajemen Universitas Indonesia, Rhenald Kasali. Beliau berujar bahwa sistem pendidikan di Indonesia kurang memperhatikan motorik. Ilmuwan-ilmuwan di Indonesia kurang membentuk konsep diri sehingga cenderung pintar namun sedikit bertindak. Hal ini juga ditandai dengan maraknya plagiat yang turut diaksikan oleh para intelek.

Rhenald mengingatkan bahwa manusia tidak hanya memiliki brain memory (otak) saja, melainkan juga myelin (memori otot). Sejauh ini, pendidikan di Indonesia terlalu mengedapankan pengetahuan dan hanya dibangun melalui jalur otak.

Padahal, bangsa-bangsa besar melarang guru-guru taman kanak-kanak menggenjot memori otak sebelum proses motorik (myelin) menemukan jalurnya. “Bahkan di Jepang, anak-anak dibiasakan melatih myelin dengan merangkai origami sehingga begitu dewasa mereka mampu menjadi engineer yang sangat detail dan sophisticated,” tuturnya.

Rhenald mengungkapkan pengetahuan didapat dengan belajar, sedangkan keterampilan dari latihan. Memisahkan keduanya hanya akan menghasilkan manusia opini yang gemar berwacana, namun tidak melakukan apa-apa.

Selain itu, kelemahan sistem pendidikan di Indonesia adalah bidang studi dan materi yang terlalu luas. Sistem pendidikan di Indonesia seperti lingkaran seta. Kurang lebih 16 bidang studi pada satu tahun ajaran telah membebat para siswa. Belum lagi, dari keenam belas bidang studi teresebut terdapat begitu banyak materi bidang studi yang abstrak, dan sering tidak sesuai dengan kebutuhan siswa.

Sistem pendidikan Indonesia terlalu memaksa peserta didik untuk dapat menguasai sekian banyak bidang studi dengan materi yang sedemikian abstrak, yang selanjutnya membuat anak merasa tertekan/stress yang dampaknya membuat mereka suka bolos, bosan sekolah, tawuran, mencontek, dan lain-lain.

Pada akhirnya mereka tidak dapat mengerjakan ujian dengan baik, nilai mereka kurang padahal sudah dilakukan remidi, dan supaya dianggap bisa mengajar atau karena tidak boleh ada nilai kurang atau karena kasihan beban pelajaran siswa terlalu banyak, guru melakukan manipulasi nilai rapor. Nilai rapor inilah yang kemudian dijadikan dasar untuk memperoleh beasiswa atau melanjutkan kuliah atau ikut PMDK dan lain sebagainya. Bukan, karena UN tidak adil, bahwa kemampuan siswa tidak dapat distandardisasi.

Alasan ketiga mengapa sistem pendidikan Indonesia perlu dibenahi adalah sistem pendidikan nasional sekarang, masih mengedepankan pada pencapaian berbasis nilai bukan pada keterampilan dan kompetensi sehingga kita tidak perlu bertanya dan bingung mengapa banyak sarjana yang menganggur, peserta olimpiade fisika yang tidak lulus Ujian Nasional dan banyak lagi hal-hal yang menggelikan dari sistem pendidikan ini

Sistem pendidikan yang terlalu berorientasi pada nilai ternyata menghasilkan dua produk. Pertama, pembunuhan kreatifitas berpikir dan berkarya serta hanya menciptakan pekerja. Kurikulum dalam sistem pendidikan Indonesia sangat membuat pesera didik menjadi pintar namun tidak menjadi cerdas. Sistem pendidikan nasional yang telah berlangsung hingga saat ini masih cenderung mengeksploitasi pemikiran peserta didik. Hal ini menyesatkan paradigma pendidik yang menurut John Dewey pendidikan adalah untuk hidup, bukan untuk bekerja dan menurut Ki Hajar Dewantara (filosofis keteladanan-substansi pendidikan) bahwa pendidikan berfungsi untuk memanusiakan kembali manusia yang mengalami dehumanisasi. Sementara peserta didik saat ini cenderung menjadi robot sistem pendidikan dan dapat dianalogikan seperti safe deposit box (Paulo Freire).

Produk kedua dari reaktan sistem pendidikan yang terlalu berorientasi pada nilai ialah pengesampingan aspek afektif (merasa) sehingga peserta didik hanya tercetak sebagai generasi-generasi yang pintar tapi tidak memiliki karakter-karakter yang dibutuhkan oleh bangsa ini. Sudah 65 tahun Indonesi merdeka dan setiap tahunnya keluar ribuan hingga jutaan kaum intelektual. Kenyataan pahitnya, hal tersebut tak kuasa mengubah nasib bangsa ini.


%d blogger menyukai ini: